• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 51-82)

Zakiyatul Ulya

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya E-mail: [email protected] / [email protected]

Pendahuluan

Pernikahan adalah sebuah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan adanya pernikahan, rumah tangga akan dapat dtegakkan sesuai dengan norma agama dan tata kehidupan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam sebuah rumah tangga terkumpul dua insan yang berbeda jenis sebagai suami istri dan membentuk sebuah keluarga dimana keduanya saling berhubungan dengan salah satu tujuannya adalah memperoleh keturunan sebagai penerus generasi.1

Dalam pandangan Islam sendiri, pernikahan merupakan sunnatullah, yang terbukti dengan penjelasan dari beberapa ayat- Nya dengan rincian berikut:

1. Allah telah menciptakan makhluk-Nya dengan berpasang-pasangan agar selalu mengingat akan kebesaran-Nya (Q.S. Al-Dzariyat: 49)

2. Secara khusus, pasangan tersebut disebut dengan menggunakan istilah laki-laki dan perempuan (Q.S. Al- Najm: 45)

1 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, cet. 3 (Jakarta: Kencana, 2012), 1.

35

Zakiyatul Ulya – Dinamika Ketentuan Pencatatan Pernikahan...

3. Laki-laki dan perempuan itu kemudian dijadikan saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain untuk menghasilkan banyak keturunan (Q.S. Al-Nisa’: 1)

4. Perkawinan/pernikahan dijadikan sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya yang dengannya akan didapatkan rasa tentram, rasa kasih dan rasa sayang (Q.S. Al-Ruum:

21).

Selain merupakan sunnatullah sebagaimana yang dijelaskan di atas, perkawinan/pernikahan juga merupakan sunnah Rasul-Nya yang pernah dilaksanakan semasa hidupnya dan menghendaki umatnya untuk berbuat hal yang sama, sebagaimana tertera dalam hadis yang berasal dari Anas bin Malik dengan arti berikut:

“Tetapi aku pribadi melaksanakan shalat, tidur, berpuasa dan juga berbuka serta menikahi perempuan. Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan bagian dari kelompokku”.2 Dalam mendefiniskan pernikahan, ulama fikih berbeda pendapat. Akan tetapi dapat diketahui bahwa pendefinisian ulama klasik hanya mengarah pada kebolehan hubungan kelamin setelah adanya akad pernikahan. Hal ini tentu berbeda dengan pendefinisian yang dilakukan oleh kebanyakan ulama kontemporer yang tidak hanya memandang pernikahan sebagai sarana penghalalan hubungan kelamin saja, tetapi juga pergaulan dalam arti yang lebih luas sehingga akan melahirkan hak dan kewajiban di antara keduanya.3

Definisi yang dimunculkan oleh ulama kontemporer sepertinya sejalan dengan definisi yang dipaparkan dalam pasal 1 Undang-undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan menggunakan istilah perkawinan. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa: “Perkawinan merupakan ikatan lahir batin

2 Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh, cet. 4 (Jakarta: Kencana, 2013), 76-78.

3 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan Undang-undang Perkawinan, cet. 3 ( Jakarta: Kencana, 2009), 37-39.

antara seorang pria dan wanita sebagai suami dan istri dengan tujuan membentuk keluarga/rumah tangga yang bahagia serta kekal berdasarkan Ketuhanan YME”.4 Definisi ini kembali dikuatkan dengan pasal 2 dan 3 Kompilasi Hukum Islam yang juga menyebutkan istilah pernikahan di samping perkawinan. Dalam pasal tersebut dipaparkan bahwa: “Perkawinan yang menurut hukum Islam adalah pernikahan merupakan suatu akad yang sangat kuat/mitssaqan ghalidzan guna mentaati perintah Allah yang mana melaksanakannya termasuk ibadah dengan tujuan untuk mewujudkan kehidupan berumah tangga yang Sakinah, mawaddah dan rahmah”.5

Dari kedua peraturan di atas, semakin jelas bahwa tujuan dari pernikahan tidak hanya sebagai penghalalan hubungan kelamin tetapi lebih dari itu, yaitu untuk membentuk keluarga yang kekal dan bahagia berdasarkan Ketuhanan YME (sakinah, mawaddah dan rahmah). Untuk mewujudkan tujuan ini, perkawinan/

pernikahan tidak hanya harus dilakukan sesuai dengan hukum Islam tetapi juga harus dicatat agar terjaminnya ketertiban suatu pernikahan dalam masyarakat.6

Ketentuan mengenai pencatatan pernikahan sebenarnya telah ada sebelum Undang-undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu dapat ditemukan dalam Undang-undang RI No. 22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk jo Undang-undang RI No. 32 Tahun 1954 tentang Penetapan Berlakunya Undang-undang RI No. 22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk di Seluruh Daerah Luar Jawa dan Madura. Dalam pasal 1 ayat (1) Undang-undang RI No. 22 Tahun 1946 tersebut dipaparkan bahwa: “Nikah yang dilakukan menurut Islam diawasi oleh PPN atau pejabat lain yang diangkat/

4 Undang-undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

5 Kompilasi Hukum Islam.

6 Ibid.

37

Zakiyatul Ulya – Dinamika Ketentuan Pencatatan Pernikahan...

ditunjuk oleh Menteri Agama serta harus diberitahukannya talak dan rujuk yang dilakukan menurut Islam kepada PPN”.7

Aturan mengenai pencatatan pernikahan semakin jelas dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah RI No. 9 Tahun 1945 tentang Pelaksana Undang-undang RI No. 1 Tah un 1974 tentang Perkawinan meskipun dengan menggunakan istilah perkawinan.

Di dalamnya dijelaskan lebih rinci mengenai gambaran pencatatan perkawinan beserta tata caranya termasuk di dalamnya terdapat penjelasan mengenai persyaratan pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan, pemeriksaan, pengumuman, pelaksanaan perkawinan sampai dokumen akhir yang akan diberikan kepada pasangan suami istri yaitu berupa akta nikah.8

Lebih lanjut, ketentuan mengenai pencatatan pernikahan secara khusus dapat ditemukan dalam Peraturan Menteri Agama, telah terbit Peraturan Menteri Agama yang mengatur tentang pencatatan pernikahan tersebut meskipun dengan menggunakan istilah yang berbeda-beda. Adapun dalam perkembangannya, yaitu PMA RI No. 11 Tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah yang ditetapkan pada tanggal 25 Juni 2007, kemudian dirubah menjadi PMA RI No. 19 Tahun 2018 tentang Pencatatan Perkawinan yang diterbitkan pada tanggal 27 Agustus 2018 dan terakhir dengan waktu yang singkat dirubah lagi menjadi PMA RI No. 20 Tahun 2019 tentang Pencatatan Pernikahan yang diterbitkan pada tanggal 30 September 2019.

Adapun dengan beberapa kali perubahan PMA tersebut, tentunya berimplikasi juga terhadap perubahan atas beberapa ketentuan mengenai pencatatan pernikahan di dalamnya. Yang menjadi menarik juga, jika perubahan pertama membutuhkan waktu lebih dari 11 tahun, perubahan kedua terjadi hanya dalam rentang waktu 1 tahun lebih sedikit. Lantas apa saja dinamika yang terjadi dengan adanya ketiga PMA tersebut akan menjadi

7 Undang-undang No. 22 Tahun 1946 Tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk.

8 Peraturan Pemerintah RI No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksana Undang- undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

pokok pembahasan dalam tulisan ini dengan menggunakan metode perbandingan. Ini penting dilakukan karena hasil dari perbandingan ini ke depannya dapat dianalisis lebih jauh untuk mengetahui ketepatan perubahan yang dilakukan dengan beberapa teori yang mendukung tentunya.

Perbandingan Ketentuan Pencatatan Pernikahan dalam Peraturan Menteri Agama

Sebagaimana yang telah disampaikan pada uraian sebelumnya, bahwa Peraturan Menteri Agama yang mengatur tentang Pencatatan Pernikahan telah mengalami perubahan sebanyak dua kali, yang diawali dengan PMA RI No. 11 Tahun 2007 kemudian PMA RI No. 19 Tahun 2018 dan terakhir menjadi PMA RI No. 20 Tahun 2019. Adapun jika ketiga PMA tersebut dibandingkan, maka berikut hasil perbandingannya:

1. Adanya Perubahan, Penambahan dan Penghapusan Ketentuan dalam Bab Ketentuan Umum

Jika dilihat ketentuan umum pada PMA RI No. 11 Tahun 2007, PMA RI No. 19 Tahun 2018 dan PMA No. 20 Tahun 2019 dapat diketahui beberapa hal:

a. Dalam hal pendefinisian istilah

1) Adanya perubahan pendefinisian terhadap beberapa istilah

Dalam mendefinisikan istilah yang ada, ketiga PMA tersebut cenderung berbeda tetapi meskipun kebanyakan di antaranya tidak sampai menyebabkan perbedaan subtansi. Adapun jika dilihat, pendefinisian pada PMA RI No. 20 Tahun 2019 dilakukan secara lebih rinci, misalnya saja dalam mendendefinisikan istilah Kantor Urusan Agama dan penghulu.

2) Adanya perubahan beberapa istilah yang didefinisikan

39

Zakiyatul Ulya – Dinamika Ketentuan Pencatatan Pernikahan...

Jika ketiga PMA tersebut disandingkan, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa istilah yang ada di PMA RI No. 11 Tahun 2017 dirubah di PMA RI No.

19 Tahun 2018 kemudian dikembalikan ke istilah sebelumnya pada PMA RI No. 20 Tahun 2019. Dalam hal ini, PMA RI No. 11 Tahun 2017 dan PMA RI No.

20 Tahun 2019 lebih menggunakan istilah nikah, misalnya akta nikah dan buku nikah, sedangkan PMA RI No. 19 Tahun 2018 lebih menggunakan istilah perkawinan, misalnya akta perkawinan dan buku pencatatan perkawinan.

3) Adanya penambahan beberapa istilah untuk didefinisikan

Ada beberapa istilah yang sebelumnya tidak ada di PMA RI No. 11 Tahun 2007 kemudian ada di kedua PMA setelahnya, misalnya Kepala KUA Kecamatan, kartu perkawinan/nikah dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Ada juga yang di kedua PMA sebelumnya tidak ada namun di PMA terakhir ada, misalnya Pencatatan Perkawinan, Pegawai Pencatat Nikah dan Pegawai Pencatat Nikah di Luar Negeri serta Sistem Informasi Manajemen Nikah.9 4) Adanya penghapusan beberapa istilah yang

didefinisikan

Istilah kepala seksi, Buku Pendaftaran Cerai Talak dan Cerai Gugat yang ada di PMA RI No. 11 Tahun 2017 tidak ditemukan lagi baik di PMA RI No. 19 Tahun 2018 maupun di PMA RI No. 20 Tahun 2019. Istilah pengadilan ada di PMA RI No. 11 Tahun 2017 dan PMA RI No. 20 Tahun 2019 tetapi tidak dicantumkan di PMA RI No. 19 Tahun 2018.

9 PMA RI No. 11 Tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah; PMA RI No.

19 Tahun 2018 tentang Pencatatan Perkawinan; PMA RI No. 20 Tahun 2019 tentang Pencatatan Pernikahan.

Istilah Pembantu Pegawai Pencatat Nikah juga tidak dicantumkan di PMA terakhir meskipun pada PMA kedua ada dengan istilah yang berbeda.

b. Dalam hal kenjelasan mengenai pencatatan perkawinan Penjelasan mengenai pencatatan perkawinan baru ditemukan di PMA No. 19 Tahun 2018 dan PMA RI No.

20 Tahun 2019, meskipun ada yang berbeda di antara keduanya. Perbedaan tersebut terletak pada tahapan pencatatan perkawinan/nikah, yang mana pada PMA RI No. 19 Tahun 2018 tahapannya meliputi: pendaftaran kehendak perkawinan, pengumuman kehendak perkawinan, pelaksanaan pencatatan perkawinan dan penyerahan Buku Pencatatan Perkawinan, sedangkan dalam PMA RI No. 20 Tahun 2019 meliputi keempat tahapan yang disebutkan dalam PMA sebelumnya namun dengan penggantian istilah perrkawinan menjadi nikah ditambah dengan tahap pemeriksaan nikah sesudah tahap pendaftaran perkawinan/nikah. Perbedaan pengelompokkan ini bukan berarti pemeriksaan nikah tidak tercantum dalam PMA RI No. 19 Tahun 2018, karena dalam PMA tersebut pemerikasaan nikah dimasukkan ke dalam Bab Pendaftaran Perkawinan.

2. Adanya Penghapusan Bab Pegawai Pencatat Nikah

Bab tentang Pegawai Pencatat nikah yang hanya dapat ditemukan di PMA RI No. 11 Tahun 2017 karena di PMA setelahnya bab ini tidak dihilangkan. Bab yang dimaksud tidak lain berisikan tentang pengertiannya, siapa yang menjabatnya, tugasnya ditambah dengan penjelasan mengenai pembantu PPN sebagai wakilnya. Hal ini kemungkinan besar karena pembahasan mengenai PPN dan Pembantu PPN LN telah dibahas pada ketentuan umum sehingga tidak membutuhkan bab tersendiri.10

10 Ibid.

41

Zakiyatul Ulya – Dinamika Ketentuan Pencatatan Pernikahan...

3. Adanya Perubahan, Penambahan dan Penghapusan Ketentuan dalam Bab Pemberitahuan Kehendak Menikah Pemberitahuan kehendak menikah dalam PMA RI No. 19 Tahun 2018 dikenal dengan istilah pendaftaran kehendak perkawinan dengan tiga bagian, yaitu permohonan, persyaratan administratif dan pemeriksaan dokumen serta pendaftaran kehendak nikah dalam PMA RI No. 20 Tahun 2019 dengan dua bagian saja karena pemerikasaan dokumen menjadi bab tersendiri. Beberapa perubahan lain yang dimaksud adalah:

a. Pemberitahuan/pendaftaran yang awalnya disampaikan kepada PPN tempat tinggal istri berubah menjadi dilakukan di KUA Kecamatan tempat akad pada PMA RI No. 19 Tahun 2018 dan PMA RI No. 20 Tahun 2019.

b. Adanya penambahan terkait waktu pendaftaran nikah yang belum ditemukan di PMA RI No. 11 Tahun 2007 yaitu minimal 10 hari kerja sebelum akad atau harus adanya dispensai dari camat jika kurang dari waktu yang ditentukan (Pada PMA RI No. 20 Tahun 2019 dispensai juga dapat diperoleh dari Kepala Perwakilan RI di luar negeri).

c. Adanya perubahan, penambahan maupun pengalihan persyaratan administratif yang jika dirinci surat keterangan nikah dan surat keterangan orang tua di PMA RI No. 11 Tahun 2017 menjadi surat pengantar nikah dan KK, berlakunya kembali surat keterangan kelahiran di samping akte kelahiran di PMA RI No. 20 Tahun 2019, ditambahkannya KTP di PMA RI 19 Tahun 2018 dan diperluas di PMA terakhir, ditambahkannya surat rekomendasi perkawinan/nikah dan izin dari wali lain jika walinya telah meninggal dunia atau tidak mampu yang belum ditetapkan di PMA RI No. 11 Tahun 2017 (dalam PMA terakhir ditambahkan pengampu di samping wali lainnya).

Adanya penghapusan mengenai penggantian buku pendaftaran talak/cerai di PMA No. 11 Tahun 2007 dan pengalihan mengenai penerjemahan izin nikah serta dihilangkannya poin izin menikah dari kedutaan atau perwakilannya bagi WNA kerena poin ini dialihkan dipembahasan tentang perkawinan/pernikahan WNA.

Selain itu, hanya disebutkannya dispensasi pengadilan bagi calon suami dan tidak untuk calon istri pada PMA terakhir.11 Hal ini kemungkinan besar karena judicial review mengenai usia nikah masih proses dan baru diputuskan dengan terbitnya Undang-undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang No.

1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang disahkan pada tanggal 14 Oktober 2019.12

d. Adanya tambahan pembahasan khusus mengenai persyaratan administrasi bagi WNI yang tinggal di luar negeri dan sama sekali tidak memiliki dokumen kependudukan yang tentunya lebih sederhana daripada persyaratan administrasi umumnya.

4. Adanya Perubahan, Penambahan dan Penghapusan Ketentuan dalam Bab Pengumuman Kehendak Nikah

Istilah pengumuman kehendak nikah digunakan dalam PMA RI No. 11 Tahun 2007 dan PMA RI No. 20 Tahun 2019, sedangkan dalam PMA No. 19 Tahun 2018 digunakan istilah pengumuman kehendak perkawinan. Adapun pada PMA RI No. 11 Tahun 2007 yang mengumumkan adalah PPN di tempat tertentu KUA Kecamatan setempat atau tempat lain yang mudah diketahui dalam waktu sepuluh hari kerja, sedangkan pada PMA RI 19 Tahun 2018 yang mengumumkan adalah Kepala KUA atau penghulu di KUA Kecamatan atau media lain yang mudah diakses dalam waktu sepuluh hari

11 Ibid.

12 Undang-undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang- undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

43

Zakiyatul Ulya – Dinamika Ketentuan Pencatatan Pernikahan...

kerja sejak pendartaran atau setelah mendapat dispensasi dari camat, serta adanya penambahan PPN LN sebagai pemeriksa dan Kantor Perwakilan RI di luar negeri serta penghapusan waktu pengumuman dalam PMA terakhir.

5. Adanya Penghapusan Bab Persetujuan dan Dispensasi Usia Nikah

Bab mengenai Persetujuan dan Dispensasi Usia Nikah ini hanya ditemukan di PMA RI No. 11 Tahun 2007 dan tidak ditemukan lagi di dua PMA setelahnya. Hal ini kemungkinan besar karena isi dari bab tersebut sudah terwakili dalam pembahasan persyaratan administrasi sebelumnya.

6. Adanya Penghapusan Bab Pencegahan Pernikahan

Bab Pencegahan Pernikahan yang ada di PMA RI No. 11 Tahun 2007 dihilangkan pada PMA RI No. 19 Tahun 2018 maupun pada PMA RI No. 20 Tahun 2019. Adapun dalam bab tersebut dijelaskan mengenai siapa saja yang dapat mengajukan pencegahan pernikahan beserta sebab dan kemana pencegahan tersebut diajukan. Selain itu, dijelaskan pula beberapa larangan untuk PPN terkait pencatatan nikah.

7. Adanya Perubahan, Penambahan dan Penghapusan Ketentuan dalam Pemeriksaan Nikah.

Beberapa perubahan yang dimaksud yaitu:

a. Istilah pemeriksaan nikah pada PMA RI No. 11 Tahun 2007 diganti dengan istilah pemeriksaan dokumen pada kedua PMA yang terbit setelahnya.

b. Jika pada PMA No. 11 Tahun 2007 pemeriksaan dilakukan olah adalah PPN atau Pembantu PPN, sedangkan pada PMA No. 19 Tahun 2018 adalah Kepala KUA atau Penghulu dan ditambah dengan PPN LN pada PMA terakhir.13

13 PMA RI No. 11 Tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah; PMA RI No.

19 Tahun 2018 tentang Pencatatan Perkawinan; PMA RI No. 20 Tahun 2019 tentang Pencatatan Pernikahan.

c. Adanya penyebutan dengan jelas mengenai tempat pemeriksaan dalam PMA RI No. 19 Tahun 2018 yaitu di wilayah kecamatan tempat akad dan ditambah di Kantor Perwakilan di luar negeri pada PMA terakhir serta tidak adanya pemeriksaan di luar wilayah kecamatan sebagaimana yang tertuang dalam PMA No. 11 Tahun 2007.

d. Adanya ketentuan batasan waktu untuk melengkapi kekurangan dokumen yang disebutkan dalam PMA No.

19 Tahun 2018 dan PMA No. 18 Tahun 2019, yaitu paling lambat satu hari kerja sebelum nikah dilaksanakan.

e. Jika penolakan kehendak nikah di PMA RI No. 11 Tahun 2007 menjadi bab tersendiri, namun di PMA No.

19 Tahun 2018 dimasukkan dalam Bab Pendaftaran Kehendak Nikah dan dimasukkan Bab Pemeriksaan Dokumen dalam PMA No. 20 Tahun 2019. Selain itu, penjelasan mengenai pengajuan keberatan pada pengadilan dan kelanjutannya yang disebutkan di PMA RI No. 11 Tahun 2007 juga dihilangkan oleh kedua PMA setelahnya.

8. Adanya Perubahan, Penambahan serta Penghapusan Ketentuan dalam Bab Akad Nikah dan Pencatatan Nikah Bab Akad Nikah dan Pencatatan Nikah di PMA RI No. 11 Tahun 2007 dijadikan satu menjadi Pelaksanaan Pencatatan Perkawinan di PMA RI No. 19 Tahun 2018 dan Pelaksanaan Pencatatan Nikah di PMA RI No. 20 Tahun 2019. Adapun beberapa perubahan yang dapat ditemukan adalah:

a. Penghapusan larangan akad nikah dilakukan sebelum masa pengumuman berakhir kecuali jika ada dispensasi dari camat yang kemungkinan besar karena hal ini cukup dipahami dengan adanya Bab Pengumuman Kehendak Perkawinan/Nikah.

b. Dalam PMA RI No. 19 Tahun 2018 dan PMA RI No.

20 Tahun 2019 disebutkan rukun perkawinan/nikah yang meliputi: calon suami, calon istri, wali, dua orang

45

Zakiyatul Ulya – Dinamika Ketentuan Pencatatan Pernikahan...

saksi dan ijab qabul. Penjelasannya pun lebih rinci dan sistematis dibandingkan dengan yang ada di PMA RI No.

11 Tahun 2007.

c. Dihilangkannya persyaratan merdeka untuk wakil calon mempelai di PMA RI No. 11 Tahun 2017 dan digantinya minimal usia wakil dari 19 tahun menjadi 21 tahun sehingga di PMA RI No. 19 Tahun 2018 dan PMA RI No. 20 Tahun 2019 persyaratan wali meliputi: laki-laki, Islam, minimal usia 21 tahun, berakal dan adil. Selain itu ada tambahan materai dalam surat kuasa yang awalnya hanya disahkan oleh PPN atau Kantor Perwakilan RI diberikan peluang kepada Kepala KUA Kecamatan dan penghulu sebagai pengganti dari PPN.14

d. Dihilangkannya syarat merdeka dan usia wali nasab yang ada di PMA RI No. 11 Tahun 2007 sehingga pada kedua PMA setelahnya persyaratan wali nasab meliputi: laki- laki, Islam, baligh, berakal dan adil. Urutan wali nasabpun dipaparkan dengan jelas di PMA No. 19 Tahun 2018 yang dimulai dari bapak kandung, bapak dari bapak, bapak dari kakek, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki saudara laki-laki kandung, anak laki-laki saudara laki-laki sebapak, paman sekandung, paman sebapak, anak paman sekandung, anak paman sebapak, cucu paman sekandung, cucu paman sebapak, paman bapak sekandung, paman bapak sebapak, anak paman bapak sekandung, anak paman bapak sebapak, saudara laki-laki kakek sekandung, saudara laki-laki kakek sebapak, anak kandung saudara kandung kakek sampai anak saudara laki-laki kakek sebapak. Akan tetapi, urutan wali nasab hanya sampai pada anak paman bapak sebapak dalam PMA RI No. 20 Tahun 2019.

e. Jika pada PMA RI No. 11 Tahun 2007yang mewakili wali adalah PPN, penghulu, Pembantu PPN atau orang lain yang memenuhi syarat dan dalam PMA RI No. 19 Tahun

14 Ibid.

2018 disebutkan Kepala KUA Kecamatan, penghulu, P4 atau juga orang lain yang memenuhi syarat, maka ditambahkan PPN LN dan digantinya istilah P4 menjadi PPPN di PMA RI No. 20 Tahun 2019.

f. Surat taukil wali yang belum ada dalam PMA RI No. 11 Tahun 2007, dijelaskan dalam kedua PMA setelahnya dengan penggantian bahasa “diketahui” dalam PMA RI No.19 Tahun 2018 menjadi “dihadapan” pada PMA RI No. 20 Tahun 2019 yang memperlihatkan adanya penegasan prosesnya. Selain itu, surat taukil wali tidak hanya dapat dibuat dihadapan Kepala KUA Kecamatan tetapi juga dihadapan penghulu atau PPN LN yang disesuaikan dengan domisili wali.

g. Dirincikannya persoalan wali hakim dalam PMA RI No. 19 Tahun 2018 dan PMA RI No. 20 Tahun 2019.

Pada PMA RI No. 19 Tahun 2018, penyebab wali hakim dapat bertindak sebagai wali meliputi: wali nasabnya tidak ada, adhal, tidak diketahui keberadaannya, tidak dapat dihadiran karena dalam masa tahanan, dan tidak ada yang Islam. Adapun dalam PMA RI No. 20 Tahun 2019 ditambahkan dua penyebab lainnya, yaitu walinya dalam keadaan ihram atau menjadi pengantin sendiri.

Selain itu, dalam pembuktian wali yang tidak diketahui keberadaannya ditambahkan persyaratan adanya dua orang saksi dalam pembuatan surat pernyataan. 15

h. Dihilangkannya syarat usia dan merdeka pada saksi yang ada di PMA RI No. 11 Tahun 2007 sehingga di kedua PMA setelahnya syarat saksi hanya laki-laki, Islam, baligh, berakal dan adil. Selain itu, juga dihilangkannya keterangan tentang “PPN, Penghulu dan/atau Pembantu PPN dapat diterima menjadi saksi”.

i. Adanya penegasan bahwa ijab dapat dilakukan oleh orang yang mewakili. Dalam PMA RI No. 19 Tahun 2018 hanya dinyatakan bahwa: “Ijab dalam Akad dilakukan oleh

15 Ibid.

47

Zakiyatul Ulya – Dinamika Ketentuan Pencatatan Pernikahan...

wali”, sedangkan point ini ditambahkan dengan kalimat

“atau yang mewakili” pada PMA RI No. 20 Tahun 2019.

Dikatakan hanya penegasan karena meskipun belum ada penyebutan “yang mewakili” pada PMA RI No.

2018 namun sebenarnya sudah tercakup dengan adanya konsep taukil wali di dalam peraturan tersebut. Adapun dalam PMA RI No. 11 Tahun 2017 tidak ada perincian mengenai siapa yang melakukan ijab dan qabul dalam pernikahan.

j. Dihilangkannya ketentuan dalam PMA No. 11 Tahun 2007 yang menjelaskan bahwa akad nikah pada dasarnya dilaksanakan di wilayah tempat tinggal calon istri dan harus mendapatkan surat rekomendasi nikah jika di luar wilayah tersebut. Peruntukan surat rekomendasi ini berubah pada PMA RI No. 19 Tahun 2018 dan PMA RI No. 20 Tahun 2019 yaitu untuk pernikahan yang dilakukan di luar tempat tinggal calon suami dan calon istri.

k. Dalam PMA RI No. 11 Tahun 2007 pada dasarnya akad nikah dilaksanakan dihadapan PPN/penghulu/Pembantu PPN di tempat tinggal calon istri, sedangkan dalam PMA RI No. 19 Tahun 2018 dilaksanakan dihadapan Kepala KUA Kecamatan atau penghulu di wilayah tempat akad dan adanya tembahan PPN LN di PMA RI No. 20 Tahun 2019.

l. Perubahan mengenai tempat akad yang awalnya hanya disebutkan di KUA Kecamatan maupun luar KUA Kecamatan sebagaimana yang dipaparkan dalam PMA RI No. 11 Tahun 2007 kemudian ada tambahan pada jam kerja di PMA RI No. 19 Tahun 2018 serta ada tambahan di Kantor Perwakilan RI di luar negeri pada PMA RI No.

20 Tahun 2019. Selain itu yang awalnya atas permintaan calon pengantin dan persetujuan PPN menjadi atas permintaan calon pengantin saja kemudian berubah lagi

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 51-82)