• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pak Y dan Bu M

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 115-123)

Keluarga di Indonesia)

5. Pak Y dan Bu M

Relasi peran suami istri pada pasangan Pak Y (55 tahun) dan Bu M (50 tahun) mewakili beberapa keluarga di Dusun Pangempon Kidul dengan relasi yang fleksibel antara keduanya.

Pak Y sebagai seorang empu, ia bekerja dengan tekun walaupun pada saat-saat tertentu produksinya terhambat karena sepinya permintaan pasar. Sebagaimana Pak Y, Bu M juga merupakan pekerja yang tekun yang setiap pagi berjualan makanan. Dari pekerjaannya ia dapat membantu mencukupi kebutuhan keluarga.

Sebelum Pak Y berangkat bekerja memproduksi cangkul, ia menyempatkan diri membantu istrinya berjualan. Sejak pukul 03:00 dini hari Bu M dan Pak Y sudah memulai memasak dan menyiapkan makanan yang akan dijajakkan. Kemudian setelah pukul 07:00 pagi Pak Y beralih ke pandai besi. Sementara Bu M melanjutkan menjual dagangannya hingga sekitar jam 09:00 siang. Pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, bersih-

99

Reni Nur Aniroh – Hak dan Kewajiban Suami Istri...

bersih rumah, dan mengurus anak, mereka lakukan bersama- sama. Selain itu Bu M juga masih sempat bekerja sebagai penjahit pada produksi rumahan adiknya (Bu Sn). Di mana pekerjaan ini (menjahit) akan lebih difokuskan ketika bulan puasa. Karena di bulan tersebut Bu M tidak berjualan makanan. Kehidupan keluarga mereka tergolong sederhana dan berkecukupan, bahkan mereka dapat menyekolahkan anaknya sampai tingkat sarjana.

Hal ini karena mereka saling melengkapi dan mencukupi jika salah satunya sedang mengalami kesulitan.

Analisis Pertukaran Peran Suami Istri dari Sudut Teks dan Realitas Kasus-kasus di atas memperlihatkan bahwa antara teks undang-undang, lebih-lebih fiqh, dengan realitas kehidupan di masyarakat sangat jauh berbeda. Aturan undang-undang hanya mengambil satu pola relasi suami istri yang ada di masyarakat (suami sebagai kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga) dan menafikan berbagai pola lain yang ada. Aturan tersebut secara tidak langsung telah mendukung secara tegas pembagian peran berdasar atas jenis kelamin.13 Sehingga undang-undang yang mengatur tentang kewajiban suami istri dalam keluarga hanya sebatas teks yang pada realitasnya jauh berbeda. Apalagi teks fiqh yang mengatakan bahwa suami berkewajiban mencari nafkah dan mengurus segala urusan rumah tangga, istri hanya disuruh taat dan melayani kebutuhan biologis suami. Realitas yang seperti ini agaknya jarang dan mungkin tidak ada sama sekali di Indonesia, tertutama di objek tempat penilitian ini. Adapun aturan undang- undang negara kita yang menyebutkan secara terperinci peran suami istri tersebut, pada realitasnya, jika hal ini dipraktikkan apa adanya justru yang timbul adalah kerusakan dan keterhambatan dalam kelangsungan keluarga.

Contoh riil dari persoalan tersebut, dapat dilihat pada keluarga Pak R dan Bu SR. Nafkah keluarga murni ditanggung oleh suami. Akibatnya ketika suami menghadapi masa-masa

13 Munti, Perempuan Sebagai Kepala Keluarga, 11.

sulit dalam pekerjaannya, istri tidak dapat membantu karena tidak pernah diberdayakan. Pembagian tugas secara kaku, nafkah hanya dipercayakan kepada suami, secara teologis, sosiologis dan antropologis dapat dipertentangkan. Secara teologis, hanya Allah lah yang mempunyai sifat tetap dan paling layak untuk dijadikan sandaran kehidupan. Sedangkan mempercayakan dan menjaminkan nafkah secara penuh kepada seorang suami yang notabenenya adalah manusia yang memiliki sifat tidak tetap, adalah pada saat tertentu merupakan sesuatu yang fatal. Urusan nafkah merupakan kebutuhan primer (wilayah ḍarūriyah) yang jika tidak dapat tercukupi maka dapat menyebabkan kekacauan bahkan kehancuran keluarga. Di sisi lain, secara sosiologis dan antropologis, kehidupan manusia itu sangat rumit dan dinamis, bergerak, berubah, berkembang, bahkan tumbang. Sehingga kerjasama mutlak dibutuhkan dalam mengatasi segala dinamika demi keberlangsungan.

Hal di atas relevan dengan realitas sebagaimana yang ditemui pada keluarga Pak AR dan Bu R. Di mana pada awalnya mereka sama-sama bekerja (urusan nafkah digotong bersama), kemudian karena alasan medis sehingga suami tidak produktif, maka kebutuhan keluarga bisa dicover oleh istri. Dapat dibayangkan jika sebelumnya Bu R tidak bekerja sama sekali, sementara Pak AR berhenti secara total dalam mencari nafkah, tentu keberlangsungan keluarga tergadaikan. Ditambah lagi setiap sebulan sekali, sekarang tiga bulan sekali, Pak AR harus cek kesehatannya dengan biaya yang tidak sedikit. Maka kebersamaan dalam memenuhi kebutuhan keluarga menjadi mutlak diperlukan.

Pertanyaanya kemudian, bagaimana dengan realitas yang ditemui dalam keluarga Pak Y dan Bu SH? di mana nafkah hanya dipercayakan kepada suami tanpa melibatkan istri, namun terlihat baik-baik saja. Saya berargumen bahwa realitas pembagian peran ini tidak dapat digeneral untuk selamanya dan untuk semua keluarga. Ada kalanya karena nasib mereka sedang baik. Tetapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa suami akan selamanya produktif sebagaimana sekarang. Yang menjadi penulis salut di

101

Reni Nur Aniroh – Hak dan Kewajiban Suami Istri...

sini ialah Pak Y masih meluangkan waktu untuk terjun ke ranah domestik bersama istrinya. Dalam hal ini ia menghargai kiprah istrinya yang hanya di ranah domestik dan seolah menyamakan dengan kiprahnya di ranah publik.

Terkait dengan ranah publik dan ranah domestik, sebenarnya merupakan hak bersama antara suami istri. Tidak ada pembedaan peran di kedua ranah tersebut untuk laki-laki atau perempuan.

Sebagaimana dipaparkan pada pembahasan sebelumnya, bahwa kita dapat melihat sejarah bagaimana Rasulullah memberikan kesempatan yang sama untuk suami/laki-laki dan istri/perempuan untuk berkiprah di kedua ranah tersebut tanpa pembedaan sama sekali.14 Kemudian pertanyaannya, bagaimana dengan teks-teks agama yang secara literal jelas-jelas menyebutkan pembagian peran itu?

Memang secara literal Al-Qur’an menyebutkan bahwa perintah memberi nafkah ditujukan kepada para suami, namun teks-teks tersebut hendaknya dipahami secara kontekstual. QS.

Al-Baqarah/2: 23315 dan QS. aṭ-Ṭalāq/65: 616 membicarakan kewajiban nafkah oleh suami dalam kondisi ketika istri sedang

14 Selain Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi) yang peneliti contohkan pada pembahasan sebelumnya, kita juga mengenal para wanita lain yang juga aktif di ranah publik. Beberapa di antaranya ialah Zainab binti Jahsy sebagai penyamak kulit binatang, Ummu Salim binti Malhan bekerja sebagai perias pengantin dan sebagainya. Nasaruddin Umar, Kodrat Perempuan Dalam Islam (Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Jender bekerja sama dengan Perserikatan Solidaritas Perempuan dan The Asia Fondation, 1999), 32.

15 penggalan QS. Al-Baqarah/2: 233 (wa ‘alā al-maulūdi lahū rizquhunna wa kiswatuhunna) “Dan (wajib) atas ayah dari anak yang dilahirkan, untuk menanggung rizki (makanan) dan pakaian kepada ibu anak tersebut dengan baik.”

16 QS. aṭ-Ṭalāq/65: 6 (askinūhunna min ḥaiṡu sakantum min wujdikum wa lātuḍārrūhunna lituḍayyiqū ‘alaihinna wa in kunna ūlāti ḥamlin fa anfiqū alaihinna ḥattā yaḍana ḥamlahunna, fa in arḍa’na alkum fa ātūhunna ujūrahunna, wa’tamirū bainakum bi ma’rūf...) “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu. Dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka melahirkan, kemudian jika mereka menyusui untuk

dalam masa-masa menjalankan kewajiban reproduksinya. Di mana pada masa-masa itu istri sangat membutuhkan kecukupan nafkah dan perlindungan dari suaminya. Karena kewajiban reproduksi bersifat kodrati, sehingga tidak dapat digantikan oleh suami. Sementara kewajiban produksi (mencari nafkah) dapat dilakukan baik oleh laki-laki ataupun perempuan, terutama ketika perempuan sedang tidak menjalankan kewajiban reproduksinya.

Kewajiban reproduksi ini sebenarnya sama pentingnya dengan kewajiban produksi (nafkah) yang keduanya diupayakan demi keberlangsungan hidup manusia. Jadi ayat ini sebenarnya harus dipahami dalam konteksnya di mana kewajiban suami mencukupi nafkah sangat diutamakan dalam kondisi istrinya sedang menjalankan kewajiban reproduksinya. Namun ketika istri sedang tidak menjalankan kewajiban reproduksinya tersebut, maka kewajiban nafkah dan seluruh urusan rumah tangga dapat ditanggung secara fleksibel bersama-sama.17

Sementara QS. an-Nisā’/4: 3418 yang biasanya digunakan sebagai justifikasi kepemimpinan laki-laki atas perempuan karena keunggulan “ar-rijāl/maskulin” atas “an-nisā’/feminin” dan karena pemberian nafkah hendaknya juga dipahami dalam konteksnya.

Sehingga implementasinya tidak boleh tidak mempertimbangkan konteks sosial dan ‘illat yang ada di balik ketentuan normatifnya.19

anak-anakmu maka berikanlah upah kepada mereka; dan musyawarahkanlah di antara kalian (semua hal) dengan ma’ruf …”.

17 Bandingkan dengan Faqihuddin Abdul Kodir, Qirā’ah Mubādalah: Tafsir Progresif Untuk Keadilan Gender Dalam Islam (Yogyakarta: IRCiSoD, 2019), 375.

18 QS. an-Nisā’/4: 34 yang berbunyi: (ar-rijālu qawwāmūna ‘alā an- nisā’i bimā faḍḍalallāhu ba’ḍahum ‘alā ba’ḍin wa bimā anfaqū min amwālihim, faṣṣāliḥātu qānitātun ḥāfiḍātu lilgaibi bimā ḥāfiḍallāh...) Potongan ayat ini biasa dipahami bahwa “Suami adalah pemimpin bagi istri karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri) dan karena para suami menafkahkan harta-harta mereka. Sebab itu perempuan yang ṣāliḥah ialah yang taat, memelihara diri ketika tidak di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka…”

19 Ali Shodiqin, “Nafkah dalam Hadis,” dalam Marhumah dan M. Alfatih Suryadilaga (ed.), Membina Keluarga Mawaddah Wa Rahmah Dalam Bingkai Sunah Nabi, Cet. I (Yogyakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerja sama dengan The Ford Fondation Jakarta, 2003), 191.

103

Reni Nur Aniroh – Hak dan Kewajiban Suami Istri...

Dalam hal ini maskulin dan feminin tidak identik dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, tetapi lebih kepada konstruksi sosial. Sebenarnya dalam diri laki-laki dan perempuan terdapat dua sifat secara bersamaan (maskulin dan feminin) tetapi akan lebih menonjol salah satunya. Jadi ketika yang menonjol itu sifat maskulinitasnya baik pada laki-laki/suami ataupun perempuan/

istri, maka ia sebagai “qawwamūn” (pelindung dengan nafkahnya) kepada yang lainnya. Jadi kelebihan yang dimaksud oleh ayat ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin seseorang.20

Realitas di masyarakat sesungguhnya merupakan ayat- Nya (ayat kawniyah) dan teks Al-Qur’an juga merupakan ayat- Nya yang lain (ayat qur’aniyah). Antar sesama ayat-Nya tidak mungkin saling bertolak belakang. Dalam realitasnya (ayat kawniyah) memperlihatkan bahwa sebagian besar kaum istri tanpa harus diperintah untuk mencari nafkah, mereka secara suka rela mencari nafkah dengan sendirinya. Sehingga sangat logis sekali jika teks linguistiknya (ayat qur’aniyah) kemudian menekankan kepada para suami untuk “bersama-sama” mencari nafkah. Perintah ini lebih ditekankan lagi kepada para suami ketika kondisi istri mereka sedang dalam mengemban kewajiban reproduksi, agar para istri tidak menanggung beban ganda.

Penutup

Pertukaran peran suami istri dalam realitasnya memperlihatkan bahwa pola relasi peran suami istri itu tidak hanya sebatas suami yang mencari nafkah dan istri sebagai ibu rumah tangga saja. Namun pola-pola yang lain di mana istri juga terlibat dalam pencarian nafkah bahkan sebagai tulang punggung keluarga adalah sebuah fakta yang tidak dapat dipungkiri keberadaanya. Bahkan kiprah istri di ranah publik sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang dalam laju kesejahteraan dan keberlangsungan keluarga. Tentunya hal ini juga diimbangi dengan

20 Sinta Nuriyah,dkk., Wajah Baru Relasi Suami-Istri: Telaah Kitab ‘Uqūd al- Lujjayn, Cet. II (Yogyakarta: LKiS bekerja sama dengan FK3, 2003), 12.

peran suami ke ranah domestik. Artinya kedua ranah tersebut adalah garapan bersama yang dapat diterapkan secara fleksibel tanpa memberatkan salah satu pihak, mengingat kehidupan tidak pernah diam dalam dinamika dan fluktuasinya. Sehingga pertukaran peran suami istri secara fleksibel dapat mengatasi keterpurukan ekonomi keluarga. Dan sebaliknya Pembagian peran suami istri secara kaku, menyebabkan kesejahteraan keluarga tergadaikan. Sehingga reformulasi hukum terkait dengan pembagian peran suami istri dalam UUP atapun KHI menjadi sebuah keharusan agar sebuah aturan dapat diterapkan dan mendatangkan kemaslahatan dalam masyarakatnya.

Daftar Pustaka

Al-Bukhārī, Muhammad ibn Isma’il. Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī. Juz 1. t.p.:

Dār Tūq an-Najāh, 1422.

Arifin, Bustanul. Pelembagaan Hukum Islam Di Indonesia: Akar Sejarah, Hambatan Dan Prospeknya. Jakarta: Gema Insani Press, 1996.

Ibn Ḥanbal, Abū ‘Abd Allāh Ahmad Ibn Muḥammad. Musnad Aḥmad. Vol. Juz 41. t.tp.: Mu’asasah ar-Risālah, 2001.

Kodir, Faqihuddin Abdul. Qirā’ah Mubādalah: Tafsir Progresif Untuk Keadilan Gender Dalam Islam. Yogyakarta: IRCiSoD, 2019.

Marhumah dan M. Alfatih Suryadilaga (ed.). Membina Keluarga Mawaddah Wa Rahmah Dalam Bingkai Sunah Nabi. Cet. I.

Yogyakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerja sama dengan The Ford Fondation Jakarta, 2003.

Munti, Ratna Batara. Perempuan Sebagai Kepala Keluarga. Cet.

I. Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Jender bekerja sama dengan Perserikatan Solidaritas Perempuan dan The Asia Fondation, 1999.

105

Reni Nur Aniroh – Hak dan Kewajiban Suami Istri...

Nasution, Khoiruddin. “Islam Membangun Masyarakat Bilateral dan Implikasinya terhadap Hukum Keluarga Islam Indonesia”

17 (2007): 16.

Nuriyah, Sinta, dkk. Wajah Baru Relasi Suami-Istri: Telaah Kitab

‘Uqūd al-Lujjayn. Cet. II. Yogyakarta: LKiS bekerja sama dengan FK3, 2003.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Bahasa Indonesia.

Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.

Umar, Nasaruddin. Kodrat Perempuan Dalam Islam. Jakarta:

Lembaga Kajian Agama dan Jender bekerja sama dengan Perserikatan Solidaritas Perempuan dan The Asia Fondation, 1999.

Wahid, Marzuki. Fiqh Indonesia: Kompilasi Hukum Islam Dan Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam Dalam Bingkai Politik Hukum Indonesia. Cet. I. Bandung: Marja, 2014.

Internet website: Admin Desa Sumberdalem, “Sejarah Desa”, 7 November 2018, diakses 27 Desember 2 0 1 9 . http:sumberdalem-kertek-wonosobokab.go.id.

ANALISIS TERHADAP UU NO. 7 TAHUN

1989, UU NO. 3 TAHUN 2006 DAN

UU NO. 50 TAHUN 2009 TENTANG

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 115-123)