• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELUARGA

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 34-51)

Khoiruddin Nasution

Dosen Prodi HKI Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Suka Yogyakarta, Program S3 UIN Raden Intan Lampung,

Fakultas Hukum UII & Program Magister (MSI-UII), dan Ketua Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam (ADHKI) Indonesia

Pendahuluan

Salah satu fungsi keluarga dalam kaitan dengan jaminan ketahanan keluarga adalah fungsi ekonomi. Fungsi ekonomi dalam kehidupan keluarga meliputi tiga aspek. Pertama, bagaimana cara memperolah mendapatkan dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga. Kedua, berkaitan dengan bagaimana mengelola keuangan dalam kehidupan keluarga. Ketiga, bagaimana cara menyisihkan sebagian dari pendapatan sebagai simpanan untuk menjamin kehidupan masa depan pasca purna tugas.

Namun demikian, dengan menyebut fungsi ekonomi dalam kehidupan keluarga bukan berarti fungsi-fungsi lain tidak berperan dalam menjamin ketahanan keluarga. Fungsi ekonomi lebih berperan dalam kaitan dengan jaminan pemenuhan kebutuan fisik; sandang, pangan dan papan. Sementara fungsi- fungsi lain berperan memenuhi kebutuhan lain, yang semuanya saling melengkapi dalam menjamin ketahanan keluarga untuk dapat mencapai tujuan perkawinan, yakni terbentuknya keluarga sakinah; suami sakinah, isteri sakinah dan anak atau anak-anak juga sakinah.

Banyak tulisan yang membahas ketahanan keluarga. Di antara yang terlacak dapat dikelompokkan menjadi lima. Pertama, bahasan dari aspek psikologi. Kedua, ketahanan orang tua dalam hubungan dengan ketahanan anak. Kelompok kedua ini boleh juga disebut dampak ketahanan orang tua terhadap ketahanan anak dalam keluarga. Ketiga, model pendidikan keluarga untuk ketahanan keluarga. Keempat, ketahanan pangan dalam kaitannya dengan ketahanan keluarga. Kelima, ketahanan keluarga dalam kaitan dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur.

Adapun tulisan yang masuk kelompok pertama, bahasan ketahanan keluarga dari aspek psikologi adalah tulisan dan hasil penelitian bersama Sri Rezki Utami, Prastiti Laras Nugraheni dan Maya Oktvaiani.1 Tujuan tulisan yang merupakan hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengaruh dukungan sosial keluarga terhadap self-esteem pada ibu primigravida. Tulisan lain di kelompok pertama adalah hasil penelitian Minasochah, Diyah Karmiyati dan Djudiyah.2 Tulisan ini menjelaskan apakah jenis kelamin menjadi faktor penentu atas hubungan keberfungsian keluarga terhadap kontrol diri.

Tulisan di kelompok kedua, ketahanan orang tua dalam hubungan dengan ketahanan anak, adalah hasil penelitian Iris Rengganis, Tarma, Rasha.3 Adapun tujuan penelitian dan tulisan ini merupakan laporanya adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh pengawasan orang tua terhadap hasil pendidikan anak dalam intensitas penggunaan media sosial. Masih di kelompok

1 Sri Rezki Utami, Prastiti Laras Nugraheni, dan Maya Oktaviani,

“Pengaruh Dukungan Sosial Keluarga terhadap Self-Esteem Pada Ibu Primigravida”, Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan, Vol. 7, No. 1, (April 2020), hlm. 1-14. Ibu primigravida adalah ibu yang baru pertama kali mengalami kehamilan.

2 Minasochah, Diyah Karmiyati dan Djudiyah, “Hubungan Keberfungsian Keluarga dengan Kontrol Diri Remaja pada Siswa SMA di Bawean”, Jurnal KELUARGA, Vol. 6 No. 1 (Februari 2020), hlm. 16-24.

3 Iris Rengganis, Tarma, Rasha, “Pengaruh Pengawasan Orang Tua dalam Intensitas Penggunaan Media Sosial terhadap Prokrastinasi Akademik, JKKP:

Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan, Vol. 6, No. 2 (2019), hlm. 126- 132.

19

Khoiruddin Nasution – Energi Dahsyat Zakat, Infak dan Sedekah ...

kedua, Hasil penelitian Ulfiah dan Neng Hannah.4 Tujuan penelitian ini ada dua. Pertama, menjelaskan fakta praktek prostitusi remaja putri di Cianjur dilihat dari tiga aspek, yakni;

1.karakteristik tempat prostitusi, 2.karakteristik pelaku dan korban serta 3.mekanisme prostitusi yang terjadi. Tujuan kedua dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi ketahanan keluarga remaja putri yang menjadi korban praktek prostitusi remaja putri di Cianjur.

Tulisan di kelompok ketiga, model pendidikan keluarga untuk ketahanan keluarga adalah Hasil penelitian Neni Rohaeni, Mirna Purnama Ningsih dan Yoyoh Jubaedah. Tulisan yang merupakan hasil penelitian ini menjelaskan bagaimana model pendidikan kehidupan keluarga berbasis life skill dalam meningkatkan ketahanan keluarga.5

Tulisan di kelompok keempat, ketahanan pangan dalam kaitannya dengan ketahanan keluarga adalah Hasil penelitian Sri Langgeng Ratnasari dan Minda Baharu.6 Tulisan ini menjelaskan dan menawarkan salah satu aspek dari Ketahan keluarga berupa ketahanan pangan.

Tulisan yang masuk kelompok kelima, ketahanan keluarga dalam kaitan dengan peraturan perundang-undangan adalah tulisan Khoiruddin Nasution.7 Tulisan ini merupakan hasil penelitian ini menjelaskan tingkat ketercapaian peraturan dan program yang bertujuan membangun ketahanan keluarga

4 Ulfiah dan Neng Hannah, “Prostitusi Remaja dan Ketahananan Keluarga”, Psikoislamedia Jurnal Psikologi, Vol. 3 No. 2, (2018), hlm. 13-187.

5 Neni Rohaeni, Mirna Purnama Ningsih dan Yoyoh Jubaedah, “Model Pendidikan Kehidupan Keluarga Berbasis Life Skill dalam Meningkatkan Ketahanan Keluarga”, Jurnal FamilyEdu, Vol. IV, No.2 (Oktober 2018), hlm. 63- 68.

6 Sri Langgeng Ratnasari dan Minda Baharu, “Model Implementasi Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Pemberdayaan Masyarakat Menanam Sayuran dengan Metode Hydroponik Di Perumahan Simpang Raya Indah”, Minda Baharu, Vol. 2, No. 2 (Desember 2018), hlm. 179-187.

7 Khoiruddin Nasution, “Peraturan dan Program Membangun Ketahanan Keluarga: Kajian Sejarah Hukum”, dalam Jurnal Asy-Syirah, Jurnal Fak Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol. 51, No. 1, (2017), hlm. 1-23.

Indonesia. Tulisan ini menggunakan kajian sejarah hukum.

Tulisan kedua di kelompok kelima adalah hasil penelitian Khoiruddin Nasution.8 Tulisan ini berusaha menjelaskan bagaimana peran Kursus Pra Nikah dan Kursus Calon Pengantin dalam mempersiapkan pasangan suami dan isteri agar dapat menjalankan fungsi keluarga dengan baik, yang buahnya akan mampu melahirkan keluarga sejahtera/harmonis. Masih tulisan di kelompok kelima adalah tulisan Khoiruddin Nasution.9 Tujuan tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana cara membangun keluarga yang dapat membahagiakan semua anggota keluarga, yang dalam judul tulisan ini disebut keluarga bahagia (smart).

Apa yang dapat disimpulkan dari sejumlah tulisan yang ditelaah di atas, bahwa banyak aspek dalam kehidupan keluarga yang saling melengkapi dan dengan itu ketahanan keluarga dapat terbangun dengan baik, dan dengan itu juga tujuan perkawinan dapat tercapai.

Tulisan ini bermaksud menunjukkan bagaimana energy dahsyat zakat, infak dan sedekah dalam membangun ketahanan keluarga. Sistematika bahasan adalah penjelasan singkat tujuan dan fungsi keluarga, setelah latar belakang. Dengan penjelasan ini dapat dipahami apa yang menjadi tujuan adanya ketahanan keluarga, dan peran apa yang harus dilakukan anggota keluarga untuk mencapai tujuan tersebut. Kemudian bahasan dilanjutkan dengan uraian apa dan bagaimana energy dahsyat zakat, infak dan sedekah dalam membangun ketahanan keluarga. Tulisan dipungkasi dengan catatan kesimpulan pada bagian akhir.

Tujuan dan Fungsi Keluarga

8 Khoiruddin Nasution, “Peran Kursus Nikah Membangun Keluarga Sejahtera”, dalam Ahkam Jurnal Ilmu Syariah, Jurnal Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Vol. XV/No.2 (Juli 2015), hlm. 181-188.

9 Khoiruddin Nasution, “Membangun Keluarga Bahagia (Smart)” dalam al-Ahwal al-Syakhsiyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam, vol. 1, no. 1 ( Januari- Desember 2008), pp. 1-15.

21

Khoiruddin Nasution – Energi Dahsyat Zakat, Infak dan Sedekah ...

Dalam al-Qur’an dan sunnah nabi Muhammad saw., disebutkan tujuan perkawinan (berkeluarga) dan fungsi keluarga.

Adapun tujuan perkawinan menurut al-Qur’an adalah keluarga sakinah. Dengan demikian Keluarga Sakinah (litaskunû ilaihâ) adalah istilah yang digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan tujuan perkawinan.10 Istilah Keluarga Sakinah ini disebut dalam al-Qur’an surah al-Rum (30): 21:

 

 

 

 

 

 

    

 

 

    

  

  

    

 

  

   

  

 

   

{٢١ :} 

 

 

         

 

 

       

 

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan- Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan disebut juga membentuk keluarga sakinah sebagai tujuan perkawainan. Tujuan ini disebutkan dalam definisi perkawinan, pasal 1. Teks pasal dimaksud adalah, “Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa”. Demikian juga disebut dalam Kompilasi Hukum

10 Keluarga adalah sepasang suami isteri beserta anak atau anak-anak mereka yang belum kawin (menikah), tinggal bersama dalam satu rumah.

Mereka ini disebut conjugal family atau sekarang lebih populer dengan sebutan keluarga batih (nuclear family), sebab hubungan mereka didasarkan pada ikatan perkawinan. Endah Prameswari, “Peran Keluarga dalam Pendidikan Taruna di Akademi TNI-AL (AAL)”, dalam T.O Ihromi, Bunga Rampai Sosiologi Keluarga ( Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 67. Maka tujuan perkawinan adalah agar semua anggota dalam keluarga mendapatkan kehidupan yang sakinah; suami sakinah, isteri sakinah, dan anak atau anak-anak juga sakinah.

Islam (KHI), Pasal 3, “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah”.

Untuk mencapai tujuan ini ada beberapa fungsi yang harus berjalan. Namun dalam banyak rujukan/literatur disebut juga tujuan, bahkan secara umum dalam bahasan perkawinan. Fungsi keluarga dimaksud di antaranya adalah;

1. fungsi regenerasi 2. fungsi reproduksi

3. fungsi pemenuhan kebutuhan biologis

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 tahun 1994, tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera, pasal 4 ayat (2) disebutkan 8 fungsi keluarga, yaitu:

a. fungsi keagamaan;

b. fungsi sosial budaya;

c. fungsi cinta kasih;

d. fungsi melindungi;

e. fungsi reproduksi;

f. fungsi sosialisasi dan pendidikan;

g. fungsi ekonomi;

h. fungsi pembinaan lingkungan.

Ada sejumlah nash al-Qur’an dan sunnah nabi Muhammad saw (hadis) yang menjelaskan fungsi perkawinan. Untuk menyebut di antaranya adalah beberapa hadis sebagai berikut:

Hadis nabi; 1.        

Artinya; nikahlah kamu agar kamu banyak, sebab aku bangga dengan umat yang banyak di hari kiamat.

Hadis nabi; 2.        

Artinya; nikahlah dengan pasangan yang penuh kasih dan subur (produktif ), sebab aku bangga kalau nanti jumlah umatku demikian banyak di hari kiamat.

Hadis nabi; 3.            

  

23

Khoiruddin Nasution – Energi Dahsyat Zakat, Infak dan Sedekah ...

Artinya; Dan akan tetapi aku puasa dan berbuka, sholat dan tidur, aku menikahi perempuan, siapa yang benci sunnahku maka dia tidak termasuk umatku.

Hadis nabi; 4 

         

           

Artinya; Hai para pemuda dan pemudi! Siapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan, maka nikahlah, sebab nikah itu dapat memejamkan mata, dan memelihara kemaluan, sedang bagi yang belum mempunyai kemampuan menikah agar menunaikan ibadah puasa, sebab puasa dapat menjadi penawar nafsu sahwat.

Hadis nabi; 5            

Artinya; seseorang yang melakukan perkawinan sama dengan seseorang yang melakukan setengah agama. Maka bertaqwalah kepada Allah untuk memenuhi/menyempurnakan setengahnya.

Isi hadis pertama dan kedua menjelaskan fungsi regenerasi.

Sementara hadis ketiga menjelaskan fungsi pemenuhan kebutuhan biologis. Hadis keempat menjelaskan fungsi psikologi dan pemenuhan kebutuhan biologi. Hadis kelima menjelaskan fungsi agama.

Dengan uraian di atas menjadi jelas ada perbedaan antara tujuan perkawinan/berkeluarga dengan fungsi keluarga.

Tujuan perkawinan merupakan capaian akhir dari berkeluarga.

Sementara fungsi perkawinan boleh jadi disebut dan menjadi tujuan antara atau sebagai sarana untuk dapat mencapai tujuan akhir. Manakala fungsi keluarga ini berjalan dengan baik, seyogiya tujuan perkawinan pun tercapai dengan baik, yakni keluarga sakinah. Karena itu kunci keberhasilan keluarga mencapai tujuan tergantung pada berjalan atau tidaknya fungsi keluarga. Sementara berjalan atau tidaknya fungsi keluarga sangat ditentukan oleh ketahanan keluarga.

Dengan demikian ada tiga (3) aspek yang harus berjalan sinkron dan saling bersinergi untuk dapat mencapai tujuan perkawinan, yakni 2.ketahanan keluarga, 2.fungsi keluarga dan 3.

Tujuan berkeluarga/perkawinan. Di samping tiga aspek ini tentu juga yang harus berjalan adalah prinsip-prinsip perkawinan/

berkeluarga.

Energi Dahsyat Zakat, Infak dan Sedekah

Dalam sub ini dijelaskan apa dan bagaimana energy, potensi dan kekuatan zakat, infak dan sedekah (ZIS) menjamin ketahanan keluarga. Namun sebelumnya perlu dipahami apa yang dimaksud dengan zakat, infak dan sedekah, sekaligus apa perbedaan diantaranya.

Zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Infaq menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemberian (sumbangan) harta dan sebagainya (selain zakat wajib) untuk kebaikan. Sedangkan menurut istilah infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan dalam ajaran Islam. Sedekah (Bahasa Arab transliterasi: sadakah) adalah pemberian seorang [Muslim]

kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu.

Disebutkan juga bahwa infak hanya terbatas pada amalan berupa harta, sementara sedekah mempunyai cakupan yang lebih luas, masuk di dalamnya memberikan senyuman, menyingkirkan batu dari jalan, dan sebagainya. Ungkapan lain, sedekah tidak harus berwujud materi, tetapi setiap amal yang baik, termasuk senyum. Dengan singkat, sedekah mencakup seluruh potensi kebaikan yang disalurkan kepada sesama manusia, bahkan kepada seluruh makhluk di alam semesta. Perlakuan baik kita terhadap hewan, pohon, tumbuh-tumbuhan, semua bernilai sedekah.

Berdasarkan penjelasan singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa sedekah lebih luas dari zakat maupun infak. Karena

25

Khoiruddin Nasution – Energi Dahsyat Zakat, Infak dan Sedekah ...

sedekah tidak hanya harus mengeluarkan atau menyumbangkan harta, namun mencakup segala amal dan/atau perbuatan baik.

Tentang energy, potensi dan kekuatan dahsyat yang ada dalam zakat, infak dan sedekah dalam kaitan dengan membangun ketahanan keluarga dan menjauhkan dari masalah dalam kehidupan keluarga, dapat disimpulkan dari beberapa nash al- Qur’an dan sunnah nabi Muhammad saw.

Nash al-Qur’an dan hadis yang kandungannya menunjukkan energy, potensi dan kekuatan dahsyat yang ada dalam zakat, infak dan sedekah dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama nash yang secara langsung menyebut energy, potensi dan kekuatan dahsyat yang ada dalam zakat, infak dan sedekah. Kedua, nash yang menyebut apa saja yang masuk sedekah. Ketiga, nash yang tidak langsung menyebut energy, potensi dan kekuatan dahsyat yang ada dalam zakat, infak dan sedekah tetapi di dalamnya merupakan bagian dari buahnya.

Nash kelompok pertama, nash yang secara langsung menyebut potensi energy, potensi dan kekuatan dahsyat yang ada dalam sedekah, adalah sejumlah hadis. Hadis-hadis dimaksud di antaranya adalah berikut. Pertama hadis yang berbunyi;

      

Artinya; “Sedekah menolak bala dan memanjangkan umur.”

Hadis kedua berbunyi;

           

  

riwayat lain dengan teks yang mirip;

       

Artinya: “Bersegeralah kalian mengeluarkan sedekah, karena sungguh bencana/bala tak dapat melewati sedekah.”

Hadis ketiga berbunyi;

    

 

 ،   

    ،   

Artinya: “Obatilah orang sakitmu dengan sedekah dan jagalah harta kamu dengan zakat dan tolaklah bala’ dengan doa.”

Nash kelompok kedua, nash yang menyebut apa saja yang masuk sedekah. Nash dimaksud di antaranya adalah hadis;

      

      

    

       

     

          

     

        

Artinya: “Senyum kepada saudaramu adalah sedekah, menyuruh yang baik dan melarang yang munkar adalah sedekah, menunjukkan jalan yang lurus bagi saudaramu yang tersesat adalah sedekah, memandang saudaramu yang sedang memandangmu adalah sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah, dan mengisi ember saudaramu dari air embermu adalah sedekah.”

Memang ada yang menyebut bahwa hadis yang menjelaskan energy (dalam bahasa yang umum dipakai keutamaan sedekah) adalah hadis lemah (dhoif), tetapi secara substansial isinya sejalan dengan isi al-Qur’an yang memerintahkan kita agar membayar (mengeluarkan) zakat, infak dan sedekah, sesuai kemampuan.

Sementara nash kelompok ketiga, nash yang tidak langsung menyebut energy, potensi dan kekuatan dahsyat yang ada dalam zakat, infak dan sedekah tetapi di dalamnya merupakan bagian buahnya, seperti orang taqwa diberikan jalan ke luar, dan diberikan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka, orang yang bertaqwa diberikan kemudahan dalam hidup, orang taqwa

27

Khoiruddin Nasution – Energi Dahsyat Zakat, Infak dan Sedekah ...

dihapus kesalahan-kesalahannya dan akan dilipat gandakan kebaikan baginya. Salah satu syarat seorang taqwa adalah orang yang membayar zakat, berinfak dan/atau bersedekah. Di antaranya disebutkan dalam surah al-Talaq (65); 2-5;

 

  

  

 

   

 

   

  

 

   

 

  

    

 

 

 

     

 

      

   

      

 

  

   

  

  

 

           ۝

٢

     

 

 

  

       

      

 

 

      

 

    

 

     

 

 

   

   

   

   

 

 

 

 

  

   

       

       

         ۝

٣

         

 

    

 

   

  

 

 

 

  

   

    

   

   

   

         

    

 

  

  

    

 

   ۝

٤

 

   

   

 

 

 

 

    

۝

٥

 

  

    

  

Kata-kata kunci dari ayat-ayat di atas adalah  





 

  

 

      (2)  artinya, Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan mengadakan baginya jalan ke luar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka- sangkanya. Kata kunci kedua adalah 

 



  

 







 

  

 

artinya, Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Kata kunci ketiga adalah 

 

  

  

 

  

  artinya, dan

barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Jadi orang taqwa mendapat energy, potensi dan kekuatan dahsyat. Salah satu kriteria atau syarat seorang taqwa adalah

orang yang membayar zakat, berinfak dan/atau bersedekah.

Sehingga tidak berlebihan untuk menyebut orang membayar zakat, berinfak dan bersedekah mendapatkan energy, potensi dan kekuatan dahsyat tersebut.

Konteks ayat ini memang berkaitan dengan talak dan rujuk.

Dari bahasannya dapat disimpulkan bahwa kalau talak dan rujuk dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan, maka orang yang melakukannya masuk kelompok orang taqwa yang akan 1.diberikan jalan keluar, 2.diberikan rejeki dari yang tidak disangka-sangka, 3.diberikan kemudahan, dan 4.dihapus kesalahan-kesalahannya dan 5.dilipat gandakan kebaikannya.

Sehingga ketika dikontekstkan dalam kehidupan keluarga, suami dan/atau isteri dan/atau anak-anak yang gemar berzakat, gemar berinfak dan/atau bersedekah akan mendapatkan energy, potensi dan kekuatan dahsyat tersebut.

Mendapatkan jalan keluar dan kemudahan dari masalah- masalah kehidupan keluarga tentu merupakan energy positif yang luar biasa. Sebab seperti sudah menjadi kesepakatan umum, bahwa tidak ada keluarga yang bebas dari masalah. Setiap keluarga pasti ada masalah; berat, sedang atau ringan. Maka keluarga yang mencapai tujuan perkawinan adalah keluarga yang dapat menyelesaikan masalah. Ternyata energy, potensi dan kekuatan dahsyat yang dapat menyelesaikan masalah tersebut di antaranya ada dalam zakat, infak dan sedekah

Demikian juga mendapat rejeki dari berbagai jalan yang kita tidak sangka-sangka adalah juga energy, potensi dan kekuatan dahsyat yang luar biasa. Sebab di antara masalah kehidupan keluarga adalah masalah ekonomi, rejeki. Dengan diberikan jalan keluar, dengan diberikan kemudahan menyelesaikannya, berarti sumber masalah telah terobati. Sehingga tujuan berkeluarga dapat tercapai, yakni keluarga sakinah.

Dengan demikian, secara tekstual energy dahsyat yang disebutkan hadis sedekah ada tiga. Pertama, terlindung dari bala’.

29

Khoiruddin Nasution – Energi Dahsyat Zakat, Infak dan Sedekah ...

kedua, diberi umur panjang. Ketiga, sedekah adalah obat. Ketika dikontekskan dalam kaitan dengan ketahanan keluarga, tiga energy dahsyat ini tentu pantas dimasukkan di dalamnya segala macam bala’; bencana, bahaya, konflik dan macam-macam bala’

lainnya. Demikian juga konteks umur panjang tentu masuk di dalamnya sehat, bahagian, berkah, dan lain-lain yang terkait.

Demikian juga obat mencakup berbagai jenis obat yang dapat menyembutkan berbagai penyakit.

Ibn Al-Qayyim mengatakan: “Sedekah memiliki efek yang luar biasa dalam menjaga manusia dari berbagai jenis bencana”.

Ada juga yang menyebut, setiap sedekah menciptakan banyak peluang kebaikan, baik terhadap diri maupun lingkungan sosialnya. Kebaikan sedekah akan dipantulkan kembali kepada pelakunya dalam beragam bentuk, apakah itu kesucian jiwa (hatinya bebas dari rasa kikir), sembuh dari penyakit, maupun bertambahnya harta itu sendiri secara fisik.

Lebih dari itu, betapa dahsyat energy infak, zakat dan/atau sedekah, sampai orang yang sedang menghadapi sakaratul maut jika diberi peluang sedikit ditunda kematiannya maka waktu yang sedikit itu akan digunakan untuk bersedehah, sebagaimana diungkapkan dalam al-Qur’an surah al-Munafiqun (63); 10;

 

  

 

 

      

   

   

  

      

         

 

   

    

 

 

     

      

 

  

     

Artinya: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?”

Ayat ini dapat dijadikan isyarat untuk menyatakan bahwa zakat, infak dan/atau sedekah memang mempunyai

energi dahsyat. Dalam konteks pembangunan ketahanan keluarga, energy dahsayat inilah yang dijadikan modal dan energy untuk membangunnya. Sehingga tidak mengherankan ketika disimpulkan perannya luar biasa. Hanya saja untuk pembuktiannya tidak semudah membuktikan energy lainnya, seperti energy komunikasi yang baik, energy kesaling pahaman dan saling melengkapi dan energy-energi lain yang secara rasional dapat dengan mudah dinalar.

Pembuktian energy zakat, infak dan/atau sedekah dalam membangun ketahanan keluarga lebih bersifat kepercayaan (belief) dan pengalaman (experience) daripada rasionalitas.

Sehingga tidak berlebihan ketika ada yang menyatakan, ‘logika manusia mungkin tidak mudah mempercayai, namun pengalaman dan hasil nyata yang akan bisa merasakannya’.

Berdasarkan pengalaman inilah barangkali mengapa ada seorang motivator yang mempunyai teori bahwa jalan keluar bagi seorang yang pailit adalah dengan bersedekah. Demikian juga seorang juru sembuh alternative mempunyai teori yang sama, obat penyakit adalah sedekah. Maka pasien yang datang berobat selalu diminta untuk bersedekah. Pengalaman yang sama oleh orang yang biasa bepergian (travelling). Salah satu Standard Operasional Procedure (SOP) yang harus dilaksanakan menjelang traveling adalah bersedekah. Mereka meyakini dan maminta orang lain melaksanakannya karena merasa buktinya nyata.

Dengan demikian kuat dan dahsyatnya energy zakat, infak dan sedekah, dibuktikan dengan kenyataan bukan logis-rasionalnya.

Penutup

Ada tiga poin yang dapat dicatat sebagai kesimpulan dari bahasan tulisan ini. Pertama, tidak ada nash yang secara khusus menyebut energy, potensi dan kekuatan dahsyat zakat, infak dan sedekah dalam membangun ketahanan keluarga. Namun dari sejumlah nash tersebut jelas menunjukkan energy, potensi dan kekuatan dahsyat diberikan bagi orang yang berzakat, berinfak dan

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 34-51)