125
Erie Hariyanto – Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga ...
DINAMIKA PENANGANAN PERKARA
Timur Asing juga tunduk pada hukum adatnya masing-masing.
Perbedaan tersebut terutama terdapat pada bidang hukum perdata. Sedemikian beragamnya dalam bidang hukum perdata tersebut, maka terkadang sulit untuk menentukan seseorang tunduk pada suatu hukum tertentu. Apalagi hal tersebut didukung dengan asas dalam hukum perdata, yakni pihak-pihak berhak menentukan secara bebas hukum yang akan dipilihnya termasuk juga dalam pemilihan penyelesaian sengketa di Peradilan atau diluar Peradilan.
Kemandirian Peradilan dimulai sejak bergulirnya Gerakan Reformasi sebagai manifestasi bangsa Indonesia untuk Kembali kepada hakikat dari bangsa/negeri Indonesia, sebagai bangsa yang berlandaskan kepada hukum, Negara yang berlandaskan hukum harus menempatkan hukum sebagai hal yang tertinggi dengan tidak mengabaikan tiga ide hukum yaitu kepastian, keadilan dan kemanfaatan yang salahsatu wujud dari supremasi hukum melalui putusan-putusan Lembaga Peradilan.
Lembaga peradilan dalam suatu negara hukum hal yang sangat strategis dan menentukan karena lembaga peradilan bertindak untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi dalam masyarkat secara damai yang menghindari perbuatan main hakim sendiri (eigenreicthing). Sehingga akan tercipta kedamaian dan keteraturan dalam masyarakat yang pada akhirnya akan menciptakan kesejahteraan pada masyarakat.2
Salahsatu amanat reformasi adalah dilakukannya Amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945, khususnya dalam pelaksanaan kekuasaan Lembaga Peradilan di Indonesia yang sebelumnya masih terdapat dualisme di satu kaki lembaga yudikatif dan kaki yang lain berada diranah eksekutif melalui Menteri kehakiman, setelah amandenen dilaksanakan kekuasaan yudikatif dilakukan oleh dua Lembaga (double jurisdiction) yaitu
2 Eka Susylawati, Kewenagan Pengadilan Agama Dalam Mengadili Perkara Kewarisan Islam Berdasarkan Undang-Undang Peradilan Agama, ed. Erie Hariyanto (Pamekasan: Duta Media, 2018), 45.
127
Erie Hariyanto – Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga ...
Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai sebagaimana disebutkan dalam Pasal 24 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945, yang dilanjutkan dengan memperkuat prinsip kehakiman dengan mereformasi Undang-Undang Pokok-Pokok Kehakiman dengan diundangan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2004 yang dalam penjelasan dinyatakan bahwa terdapat tiga lingkungan peradilan khusus yaitu Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara.
Peradilan agama sebagai lembaga peradilan khusus yang ditujukan kepada umat Muslim dengan lingkup kewenangan yang khusus pula, baik mengenai perkaranya maupun prosedur dalam para pencari keadilannya.3 Sejarah kehadiran peradilan agama di sudah sebelum datangnya penjajah belanda yang memberi pengaruh pada hukum eropah di Nusantara, kehadiran para qhadi (hakim) yang pada umumnya adalah para ulama dimana hak mengadili dan menyelesaikan sengketa keluarga diberikan lansung oleh raja yang berkuasa unutk mengadili perkara-perkara perdata maupun perkara pidana pada masyarakat sekitar.4
Karakteristik Peradilan Agama dibangun dari konsep wahyu (Samawiyah) dmenggunakan hukum Negara sedangkan Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara (TUN) dan Peradilan militer berbasis kepentingan Negara dan hukum positif. Rasio logis berlakunya hukum Islam dan eksistensi Peradilan Agama di Indonesia pertama Seluruh aspek kehidupan masyarakat muslim Indonesia sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam baik pandangan hidup, cita moral dan cita hukum, kedua aktualisasi kebutuhan layanan hukum dan peradilan dengan meng-tahkimkan kepada pemuka agama yang dipandang mampu menjadi hakim (qadi) unutuk memeriksa, mengadili dan menyelesaikan masalah hukum. Ketiga tata hukum kolonial tidak mampu membendung arus tuntutan layanan hukum masyarakat muslim sehingga
3 Abdul Ghofur Anshori, Peradilan Agama Di Indonesia Pasca UU Nomor 3 Tahun 2006 (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2007), 1.
4 Susylawati, Kewenagan Pengadilan Agama Dalam Mengadili Perkara Kewarisan Islam Berdasarkan Undang-Undang Peradilan Agama, 60.
diberikan pengakuan pada Peradilan Agama dalam tata hukum di Indonesia.5
Keberadaan Peradilan agama dalam satu atap peradilan di Mahkamah Agung tidak lepas dari problematika peninggalan zaman sebelumnya seperti putusan yang hakim masih menyandarkan pada fiqh para fuqaha’, untuk eksekusinya masih memerlukan tindaklanjut dengan pengajuan kepada pengadilan Negeri. Pada umumnya hakim-hakim berpendidikan syari’ah tradisional dan tidak berpendidikan hukum, organisasinya masih di bawah Departemen Agama bukan dibawah Mahkamah Agung.
Sehingga kemandirian dan tambahan kewenangan Peradilan Agama selain berwenang menyelesaikan hukum keluarga juga mengadili perkara ekonomi syari’ah yang termaktud dalam Undang-Undang peradilan Agama .6 menjadi peluang sekaligus tantangan karena akan mewarnai dalam penyelesaian kegiatan- kegiatan perekonomian di masyarakat yang didasari oleh penggunaan prinsip-prinsip syari’ah.7
Dalam undang-Undang Peradilan Agama memiliki beberapa Asas dalam implementasinya seperti Asas bebas merdeka, Asas pelaksana kekuasaan kehakiman, Asas ketuhanan, Asas fleksibelitas, Asas upaya perdamain, pada artikel ini penulis lebih mengeksplore pada Asas personalitas keislaman asas ijbari. Asas ijbari lebih banyak di praktekkan dalam masalah peralihan atau pembagian harta waris. Dimana ditentukan bukan sepenuhnya ditentukan oleh pewaris, melainkan dibatasi oleh hukum Islam sehingga dalam hukum kewarisan Islam tidak diperkenankan untuk mewasiatkan mayoritas hartanya kepada salah seorang
5 Anthin Lathifah, “State Marriage and Civil Marriage: The Role of State Policy on Interreligious Marriage in Central Java,” Al-Ihkam: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial 15, no. 1 ( June 27, 2020): 9, https://doi.org/10.19105/AL- IHKAM.V15I1.2689.
6 Rifyal Ka’bah, “Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syari’ah Sebagai Sebuah Kewenangan Baru Peradilan Agama,” Varia Peradilan 21, no. 245 (2006): 12.
7 Mardani, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), 65.
129
Erie Hariyanto – Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga ...
ahli waris saja, terlebih kepada orang yang tidak termasuk dalam golongan ahli waris.
Dalam hukum Islam, maksimal wasiat hanyalah sepertiga dari harta waris, sedangkan dua pertiganya merupakan hak mutlak ahli waris. Hal ini berbeda dalam konsep kewarisan KUH Perdata dimana pemilik harta bebas untuk melakukan apa saja atas hartanya (sebagai akibat dari asas eigendom). Dengan perkataan lain kehendak atau keinginan si mati merupakan yang utama dan hukum baru ikut campur apabila si mati tidak meninggalkan wasit yang sah. Wasiat seperti ini dapat merugikan ahli waris misalnya ketika si mati mewasiatkan mayoritas hartanya kepada orang yang tidak tergolong sebagai ahli waris.
Agama pewaris juga akan menentukan terhadap akan diselesaikan ke pengadilan mana atas suatu perkara waris.
Mengenai pengadilan yang berwenang, biasanya tergantung pada agama pewaris. Apabila pewaris beragama Islam maka perkara kewarisan diajukan ke Pengadilan Agama, sebaliknya apabila beragama lain maka diajukan ke Pengadilan Negeri. Penerapan Asas personalitas keislaman sepintas akan menghalangi ahli waris yang berbeda agama. Dalam waris Pembagian waris karena perbedaan agama memang telah menjadi issue penting dalam dinamika yurisprudensi Indonesia di bidang waris atau hukum keluarga pada umumnya. Kebhinnekaan masyarakat Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya juga tergambar dalam penegakan hukum.
Putusan Mahkamah Agung tersebut dalam tataran di masyarakat masih terdapat pro dan kontra. Pendapat yang kontra berpendapat bahwa apabila pewaris beragama Islam maka tidak ada pilihan lain untuk diterapkan hukum kewarisan Islam. Penerapan wasiat wajibah dinilai sebagai yang tidak tepat karena pewaris tidak meninggalkan wasiat sehingga harta peninggalan dikategorikan sebagai benda waris. Akibatnya karena tergolong sebagai benda waris maka orang yang beda agama tidak memperoleh bagian waris.
Mahkamah Agung memberikan portie waris bagi anak yang beda agama merupakan terobosan dalam menghindari perdebatan tanpa ujung. Mahkamah Agung memperhatikan keanekaragaman hukum kewarisan yang berlaku di Indonesia. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukum kewarisan yang familier di dalam masyarakat saat ini adalah hukum waris adat. Seandainya pewaris yang meninggal bukan beragama Islam maka perkara waris itu menjadi kewenangan Pengadilan Negeri dan apabila perkara kewarisan tersebut terjadi pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan parental maka dalam menentukan kewarisan tidak mendasarkan pada agama yang dianut sehingga semua anak akan memperoleh bagian termasuk anak yang beda agama.
Kewenangan Peradilan Agama dalam bidang perkawinan, waris, wasiat sudah memiliki akar yang kuat baik selain faktor sejarah yang panjang juga pengaturan yang spesifik dalam Undang-Undang No 7 tahun 1987 sampai Undang-Undang 50 tahun 2009, Kompilasi Hukum Islam, PERMA, SEMA dan yurisprudensi yang sudah dijalankan oleh para hakim.
Berbeda dengan kewenangan yang baru Penanganan Ekonomi Syariah, Zakat, Infaq dan shadaqah menjadi tantangan dan peluang karena kebutuhan masyarakat akan jasa-jasa keuangan syariah, karakteristik yang berbeda dengan kegiatan usaha bank konvesional, juga pengaturan mengenai ekonomi Syariah dalam Undang-undang Perbankan dan Peradilan Agama belum spesifik aturan baru muncul dua Peraturan Mahkamah agung (PERMA) No 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) dan PERMA No 14 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah.
Perkembangan lembaga keuangan syariah yang semakin pesat sampai saat ini ada 14 Bank Umum Syariah, 20 unit Usaha Syariah dan 163 BPRS dengan total aset 535,49 triliun perlu perhatian.8
8 Otoritas jasa Keuangan, “Perkembangan Bank Syariah,” 2020, https://
www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Snapshot- Perbankan-Syariah-Indonesia-Maret-2020.aspx.
131
Erie Hariyanto – Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga ...
Dimana hampir semua yang mendasari perikatanya adalah akad/perjanjian sehingga diperlukan lembaga penegak bagi para pihak yang bermasalah terkait dengan ekonomi syari’ah untuk mendapatkan keadilan sepertinya kewenangan dalam Hukum keluarga yang secara kelembagaan dan penagaturanya sudah lebih mapan.9 Sehingga asas personalitas islam bisa dijalankan secara optimal oleh peradilan Agama untuk kepentingan ummat islam.
Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga dan Perkara Ekonomi Syariah di Peradilan Agama di Indonesia
Landasan hukum posistif penerapan hukum Islam diharapkan lebih kokoh dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 ini, karena telah menghapus permasalah pilihan hukum. Undang- undang peradilan agama yang lalu antara lain menyatakan dalam penjelasan umum bahwa: “para pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan hukum apa yang dipergunakan dalam pembagian kewarisan”. Dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 rumusan tersebut dihapus.
Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 merupakan perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989. Status Undang-undang yang lama dinyatakan dalam pasal 106A dengan rumusan sebagai berikut : pada saat Undang-undang ini mulai berlaku, peraturan perundang-undangan pelaksana Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang peradilan Agama masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini.
Pasal-pasal yang mengalami perubahan antara lain pasal 2 sehingga dirumuskan sebagai berikut : “peradilan agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini”. Perubahan terdapat pada kata-kata “perkara tertentu”. Pada Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 disebut dengan “perkara perdata tertentu”
9 Erie Hariyanto, “The Characteristic Settlement of The Syariah Banking Dispute In Religious Judiciary” (Universitas 17 Agustus 1945, 2016), 98.
penghapusan kata “perdata” disini dimaksudkan agar tidak hanya perkara saja yang menjadi kompentensi pengadilan agama.
Perkara pidana yang berdasar syariat Islam seperti yang berlaku di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dapat diadili di Mahkamah Syar’iyah yang merupakan peradilan khusus dari peradilan agama.
Kekuasaan Peradilan Agama berdasarkan Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 lebih luas daripada Undang-undang Nomor 7 tahun 1989. Peradilan Agama sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bertugas menyelenggarakan penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat pencari keadilan perkara tertentu, antara orang islam dengan orang-orang yang agama Islam dalam bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shodaqoh, dan ekonomi syari’ah. Landasan hukum positif penerapan hukum Islam diharapkan lebih kokoh dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 ini, karena telah menghapus permasalahan pilihan hukum.10
Perluasan kewenangan Pengadilan Agama disesuaikan dengan perkembangan hukum dan kebutuhan hukum masyarakat.
Perluasan tersebut antara lain meliputi bidang ekonomi syari’ah.11 Di dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 antara lain diatur tentang pembiayaan berdasarkan prinsip syari’ah.
Peradilan agama semakin mendapatkan kepercayaan masyarakat dan negara Indonesia untuk mengadili dan menyelesaikan perkara-perkara dalam hukum keluarga dan ekonomi syariah juga dimungkinkan unutuk menadili perkara/
sengketa zakat sebagai sumber ekonomi terbesar ummat islam yang belum di optimalkan, Msalah wakaf yang belum diolah dan dimanaafkan olah ummat, infaq jika suatu saat ada institusi keagamaan yang dananya bersumber dari infaq, lalu timbul
10 Afdol, Landasan Hukum Positif Pemberlakuan Hukum Islam Dan Permasalahan Implementasi Hukum Kewarisan Islam (Surabaya: Airlangga University Press, 2003), 46.
11 Mardani, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama, 90.
133
Erie Hariyanto – Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga ...
gugatan ekonomi syari’ah yang lebih luas lagi dari pada zakat dan infaq.
Aktivitas atau kegiatan ummat Islam dalam bidang ekonomi yang dilakukan menurut prinsip syariah yang dalam pelaksanaan tidak menutup kemungkina timbul sengketa karena wanpreatasi, berarti tidak tertutup kemungkinan adanya kasus-kasus dalam bentuk lain dibidang tersebut selain yang disebutkan itu.12
Setelah berlakunya UU Peradilan Agama, pihak-pihak yang melakukan perjanjian berdasarkan prinsip syariah (ekonomi syariah) tidak dapat melakukan pilihan hukum untuk diadili di Pengadilan yang lain. Apalagi, sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Umum UU Peradilan Agama No. 3 Tahun 2006 alenia ke-2, pilihan hukum telah dinyatakan dihapus, walaupun butuh waktu untuk Pengadilan Agama menerima limpahan kewenangan ini, sehingga seharusnya kontrak-kontrak yang dibuat antara nasabah dengan pihak Bank syariah sudah harus mencantumkan kausula apabila terjadi sengketa di selesaikan melalui Pengadilan Agama
Terjadinya sengketa ini pada umumnya, karena adanya penipuan atau ingkar janji oleh pihak-pihak, atau salah satu pihak tidak melakukan apa yang dijanjikan/disepakati untuk dilakukan. Pihak- pihak atau salah satu pihak telah melaksanakan apa yang disepakati akan tetapi tidak sama persis sebagaimana yang dijanjikan. Pihak-pihak atau salah satu pihak melakukan apa yang dijanjikan, tetapi terlambat, dan pihak-pihak atau salah satu pihak melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan. Sehingga tindakan-tindakan tersebut menimbulkan salah satu pihak merasa dirugikan.13 Para pihak mungkin melukai atau wan prestasi terhadap kewajiban-kewajibannya kepada orang lain, sehingga terjadi permasalahan-permasalahan ekonomi baik konvensional atau syari’ah.
12 Mardani, 60.
13 Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum dalam Bisnis (Jakarta. Rineka Cipta. 2003), hlm. 41.
Terdapat 3 sengketa ekonomi syari’ah secara umum yang terjadi yaitu: pertama Sengketa antara lembaga ekonomi syari’ah dan pembiyaan syari’ah dengan nasabahnya ini yg berbeda dengan hukum keluarga dalam bidang muamalah dimungkinkan terjadi akad dengan pihak non muslim, kedua Sengketa ekonomi syari’ah antara lembaga-lembaga keuangan syari’ah dimungkinkan adanya sharing pembiayaan oleh lembaga pembiayaan syari’ah kepada satu nasabah yang memungkinkan timbul sengketa . Ketiga Sengketa ekonomi syari’ah antara orang-orang yang beragama islam, hal ini menyangkut kewenangan personalitas islam seperti pada perkara dalam hukum keluarga yang mana akad perjanjiannya diucapkan dengan tegas bahwa kegiatan usaha yang dilakukan adalah berdasar prinsip-prinsip syari’ah. Dimana sengketa-sengketa tersebut apabila tidak bisa diselsaikan secara damai (non litigasi) maka harus melalaui Pengadilan Agama14
Dari beberapa sengketa ekonomi syari’ah tersebut sebenarnya penyelesaiannya banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang bersengketa, namun untuk sengketa tertentu yang mana penyelesaiannya sulit dilakukan oleh pihak yang bersengketa, oleh karena itu dibutuhkan penyelesaian oleh pihak ketiga agar lebih efisien dan tidak terjadi sengketa yang lain setelahnya dan mempunyai kekutan hokum yang dilindungi oleh Negara dan undang-undang. Dalam konteks Indonesia, penyelesaian sengketa ekonomi yang berbasis syari’ah tersebut diselesaikan di pengadilan agama. Sebagai Lembaga peradilan yang melaksanakan tugasnya diberikan oleh undang-undang yang dikhususkan bagi orang beragama Islam atau yang menundukan diri pada hukum Islam secara sukarela menurut Undang-Undang Peradilan Agama.
Namun dalam undang-undang no. 50 tahun 2009 tersebut tidak diatur bagaimana tatacara berperkara dalam hukum keluarga apalagi yang berkaitan dengan sengketa ekonomi
14 Norjihan Ab Aziz and Nasimah Hussin, “The Application of Mediation (Sulḫ) in Islamic Criminal Law,” Shariah Journal 24, no. 1 (March 2016): 44, http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=awr&AN=11513757 5&site=ehost-live.
135
Erie Hariyanto – Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga ...
syari’ah, pada pasal tersebut hanya dijelaskan bahwa lembaga peradilan agama dapat membentuk badan peradilan husus agar terdapat difrensiasi atau spesialisasi terhadap masalah-masalah syari’ah yang terjadi di masyarakat yang tertuang dalam pasal 3A ayat 1 UU no. 50 tahun 2009. Oleh karenanya dengan semakin maraknya sengketa-sengketa ekonomi syariah yang terjadi di masyarakat mahkamah agung segera melengkapi tatacara (hukum acara) dalam berperkara tentang masalah sengketa ekonomi syari’ah di lingkungan peradilan agama yang sebelumnya mengadopsi hukum acara hukum perdata yang tertuang dalam peraturan Mahkamah Agung No. 14 tahun 2016.
Dalam kaitannya dengan kewenangan Peradilan Agama dalam sengketa hukum keluarga dan ekonomi Syariah Lawrence M. Friedman menjelaskan “ada tiga unsur atau komponen dalam sistem hukum, atau biasa disebut Three Elemens of Legal Sistem, yang merupakan faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, yaitu komponen struktur, komponen substansi, dan komponen kultur atau budaya hukum”.15 Ketiga komponen tersebut membentuk satu kesatuan yang utuh dan bulat, serta saling berhubungan, atau biasa disebut dengan sistem.
Dengan demikian dalam penyelesaian sengketa perbankan syariah harus diajukan ke Pengadilan Agama. Choice of forum dinyatakan tidak berlaku dengan adanya putusan MK Putusan MK Nomor 93/PUU-X/2012 tentang Penjelasan pasal 52 Ayat (2) UU Perbankan Syariah. Tidak berwenangnya Pengadilan Negeri dalam mengadili perkara perbankan syariah apabila dihubungkan dengan teori sistem hukum yang diajukan oleh Friedman menyatakan bahwa efektif tidaknya suatu peraturan perundang- undangan tergantung pada tiga hal yaitu legal stucture, legal substance dan legal culture. Teori ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan keefektifan norma kewenangan absolut
15 Lawrenc M. Friedman, American Law: An Introduction (New York: WW Norton & Company, 1998), 92.
Pengadilan Agama dalam penyelesaian sengketa perbankan syariah.
Legal structure dalam konsep teori sistem hukum diibaratkan sebagai mesin. Dalam legal structure, keefektifan penerapan kewenangan absolut Pengadilan Agama dalam perkara ekonomi syariah terletak pada citra pranata peradilan dan hakim yang memutus perkara. Apabila pengadilan baik Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama memahami akan kewenangannya sebagaimana yang diatur dalam perundang-undangan maka penerapan kewenangan Pengadilan Agama dalam sengketa hukum keluarga dan ekonomi syariah akan efektif. Dalam kaitannya dengan legal structure, hakim merupakan komponen terpenting karena hakim merupakan person yang akan menjalankan fungsi peradilan dan sekaligus menjaga ke-kaffah-an dari prinsip-prinsip syariah yang diamanatkan dalam UU Perkawinan maupun UU Perbankan Syariah dalam melalui putusan hakim yang membawa keadilan dan kemaslhatan .
Legal substance sebagai upaya untuk mengembalikan hukum pada akar moralitasnya, akar kulturnya dan akar religiusnya.
Sebab dengan konsep ini dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan merasakan hukum itu cocok dengan nilai-nilai intrinsik yang dianut yang bersumber dari Agama Islam. Sepanjang aturan hukum tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, maka ketaatan hukum yang muncul hanyalah sekedar ketaatan yang bersifat compliance (taat karena takut akan sanksi).
16 Dalam bidang hukum keluarga ini sudah berjalan dengan baik sedangkan dalam perbankan syariah melakukan aktivitas yang berdasarkan syariah dimana penduduk Indonesia 85 % adalah muslim, sehingga dengan ada perbankan syariah dan peradilan agama, umat islam lebih dekat kepada hukum agamanya sehingga akan menimbulkan rasa ketenangan dan keteramanan, begitu juga kalau seandainya terjadi perselisihan diantara nasabah dan pihak
16 Afdol, Landasan Hukum Positif Pemberlakuan Hukum Islam Dan Permasalahan Implementasi Hukum Kewarisan Islam, 65.
137
Erie Hariyanto – Dinamika Penanganan Perkara Hukum Keluarga ...
bank juga dapat diselesaikan dengan mengunakan prinsip-prinsip syariah. Legal culture suasana pikiran sosial dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan, Masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam sehingga idealnya dalam penyelesaian hukum keluarga dan ekonomi syariah ke Pengadilan Agama.
Dengan demikian, efektif tidaknya penerapan kewenangan Pengadilan Agama dalam penyelesaian sengketa syariah berkait dengan tiga unsur hukum tersebut. Apabila ketiga unsur hukum tersebut berjalan efektif maka supremasi hukum dan keadilan akan mudah direalisasikan. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah mendekatkan hukum Islam kepada masyarakat yaitu upaya yang mengarah pada pembentukan teori keadilan kontekstual perlu dilakukan oleh Pengadilan Agama agar tingkat keberdayaan Pengadilan Agama terus meningkat sampai pada posisi yang ideal sebagai lembaga peradilan yang mempunyai kewenagan absolut dalam penangangan sengketa hukum keluarga dan ekonomi syariah sesuai dengan UU Peradilan Agama dan UU Perbankan syariah.”
Kesimpulan
Peradilan Agama sudah menjalankan kewenangannya dalam menyelesaikan sengketa di bidang hukum keluarga dan ekonomi syariah sesuai Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 jo Undang- Undang No 50 Tahun 2009 karena sudah memiliki rekam sejarah yang Panjang penanganan perkara hukum keluarga dan ekonomi Syariah sejak sebelum masukkan kolonial Belanda, apalagi pasca putusan Mahkamah Konstitusi yang menegasakan kewenangan absolut dalam penyelesaian sengketa ekonomi Syariah begitu juga dalam sengketa keluarga khususnya waris sudah tidak ada lagi muncul pilihan hukum semuanya harus melalui Pengadilan Agama.
Optimalisasi Pengadilan Agama dalam mengemban amanat dalam menyelesaikan sengketa hukum keluarga dan sengketa