• Tidak ada hasil yang ditemukan

FIKIH DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 194-200)

Dahlia Haliah Ma’u

Institut Agama Islam Negeri Pontianak Email: [email protected]

Pendahuluan

Pada dasarnya esensi dari sebuah perkawinan adalah menaati perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, yang tentunya tujuan dari setiap perkawinan adalah mendatangkan kemaslahatan bagi setiap pasangan, keturunan, keluarga, maupun masyarakat.

Sebagai suatu ikatan yang kokoh (mitsaqan ghalizhan), setiap perkawinan tidak hanya sekedar penyaluran biologis semata, tapi berkaitan juga dengan pemenuhan hak dan kewajiban masing- masing pihak (suami, istri, maupun anak).

Salah satu syari’at yang ditetapkan Islam dalam konteks hukum keluarga adalah kewajiban memberikan nafkah dari seorang suami kepada istrinya. Pemberian nafkah ini telah diatur juga dalam hukum positif di Indonesia sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Perkawinan (UUP) dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Islam telah mengatur bahwa kewajiban suami terhadap istri dapat dipetakan menjadi dua yaitu kewajiban yang bersifat materi dan non materi. Kewajiban yang bersifat materi sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 233, QS. at-Thalaq: 6-7.

Sedangkan kewajiban yang bersifat non materi terdapat dalam QS.

An-Nisa’: 19 dan QS. At-Tahrim: 6.

Sabiq1 mengemukakan bahwa kewajiban suami dalam pemberian nafkah kepada istri meliputi: makanan, tempat tinggal, pembantu rumah tangga, pengobatan istri, dan memberi dana untuk belanja. Pemberian nafkah tersebut merupakan kewajiban yang diatur dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 233

dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya”.

Hukum positif di Indonesia mengatur tentang kewajiban suami terhadap keluarganya. Pasal 34 ayat 1, UU nomor I tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan: suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam (Inpres I / 1991) pasal 80 ayat 4 dinyatakan bahwa sesuai dengan penghasilannya, maka suami menanggung: nafkah, kiswah, dan tempat kediaman bagi istri, biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak, serta biaya Pendidikan anak. Pada pasal 81 diatur juga tentang kewajiban suami untuk menyiapkan tempat tinggal bagi istrinya.

Fikih dan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia juga telah mengatur tentang kewajiban pemberian nafkah dari suami yang beristri lebih dari seorang, yang hal ini tidak di atur dalam Undang-Undang Perkawinan. Komparasi tentang kewajiban pemberian nafkah dari suami kepada istri maupun istri-istrinya menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut dalam bentuk kajian ilmiah.

1 Sabiq, Sayyid. Fikih Sunnah, jilid 7. Penerjemah: Mohammad Thalib.

(Bandung: al-Ma’arif, 1981: 77).

179

Dahlia Haliah Ma’u – Komparasi Pemberian Nafkah Suami Kepada Istri...

Definisi Nafkah

Kata nafkah berasal dari kata infak yang berarti mengeluarkan.

Kata infak hanya digunakan pada hal-hal kebaikan. Bentuk jamak dari kata nafkah adalah nafaqat yang artinya sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang untuk keperluan keluarganya2. Secara Bahasa, nafkah juga berarti biaya, belanja, pengeluaran uang, biaya hidup3. Secara istilah, nafkah juga berarti segala sesuatu yang dikeluarkan oleh suami dan menjadi kewajibannya kepada istri berupa harta yang digunakan untuk membeli makanan, pakaian, tempat tinggal, dan untuk pemeliharaan anak4.

Fukaha mendefinisikan nafkah adalah beban yang dikeluarkan seseorang terhadap orang lain yang wajib ia nafkahi yakni berupa pakaian, tempat tinggal, roti, lauk pauk, dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti biaya untuk air, minyak, lampu, dan lain-lain5.

Rajafi6 memaparkan bahwa nafkah berarti kewajiban seseorang yang timbul sebagai akibat perbuatannya yang mengandung beban tanggungjawab, berupa pembayaran sejumlah biaya untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, dari sesuatu yang menjadi tanggungannya.

Merujuk pada beberapa sumber di atas, dapat dipahami bahwa nafkah bermakna pemberian wajib dari suami kepada istri atau keluarganya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, baik berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Dengan demikian nafkah yang dimaksud lebih tertuju kepada sesuatu yang bersifat materi.

2 Az-Zuhaily, Wahbah. al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, (Mesir: Dar al-Fikr, Juz. VII. 1405 H / 1985 M: 765).

3 Munawwir, AW. Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997: 1449).

4 Mustafa, Ibrahim. al-Mu’jam al-Wasit, (T.tp: Dar al-Da’wah, t.th: 942).

5 Al-Juzairi, Abdur Rahman. Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, Juz.

IV. (Beirut:Libanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1410 H / 1990 M: 485).

6 Rajafi, Ahmad. Reinterpretasi Makna Nafkah dalam Bingkai Islam Nusantara, (IAIN Madura: jurnal al-Ihkam, Volume 13 Nomor 1, Juni 2018).

Hukum dan Sebab-sebab Wajibnya Pemberian Nafkah

Hukum nafkah bagi orang yang menanggung adalah wajib, misalnya nafkah diwajibkan bagi suami terhadap istrinya, ayah terhadap anak-anaknya. Dasar hukum adanya kewajiban memberikan nafkah tersebut sebagaimana terdapat dalam al- Qur’an, hadis, dan ijmak fukaha. Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang mewajibkan pemberian nafkah, diantaranya QS. Al-Baqarah:

233: “…Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya…”, QS. At-Thalaq: 6 “Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka…”. QS. At-Thalaq: 7 “Hendaknya orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan”.

Hadis Nabi yang berkaitan dengan pemberian nafkah, diantaranya hadis dari Aisyah ra, ia berkata bahwa: “Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan telah menghadap Rasulullah Saw dan berkata wahai Rasululullah sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang kikir, ia tidak mau memberi nafkah yang cukup untuk saya dan anak-anak saya, melainkan dengan harta yang saya ambil tanpa sepengetahuannya, apakah itu dosa? Rasul bersabda: ambillah dari hartanya yang cukup buatmu dan anak-anakmu dengan cara yang patut”.7

Hadis lainnya dari Hakim bin Muawiyah dari ayahnya (Muawiyah bin Haidah) ia berkata: Wahai Rasulullah, apa hak salah seorang istri kami?, Rasul bersabda: kamu memberinya makan ketika kamu makan, memberi pakaian ketika kamu

7 Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1423 H / 2002 M: 1367).

181

Dahlia Haliah Ma’u – Komparasi Pemberian Nafkah Suami Kepada Istri...

berpakaian, tidak memukul wajah, tidak mencela, atau tidak mengasingkannya kecuali di rumah”.8

Telah ijmak fukaha tentang wajibnya pemberian nafkah dan telah disepakati bahwa yang harus diberi nafkah adalah istri, kedua orang tua, dan lainnya, yakni berupa nafkah sandang dan pangan.9

Sebab-sebab wajib menafkahi ada 2 macam yaitu: Pertama, nafkah yang wajib dikeluarkan oleh seseorang untuk dirinya sendiri jika ia mampu. Nafkah bentuk ini harus didahulukan daripada nafkah untuk orang lain, sebagaimana hadis Nabi Saw: “Mulailah dengan dirimu sendiri, selanjutnya kepada orang yang berada dalam tanggunganmu”. Kedua, nafkah yang wajib atas diri seseorang untuk orang lain. Sebab-sebab adanya nafkah jenis kedua ini terbagi atas 3 sebab yaitu sebab nikah, hubungan kekerabatan, dan hak kepemilikan10. Artikel ini lebih fokus mengurai tentang jenis nafkah yang disebabkan karena perkawinan.

Paparan di atas menunjukkan bahwa pemberian nafkah dari suami kepada istrinya adalah hal yang bersifat wajib dan tidak boleh dilalaikan. Kewajiban tersebut merujuk pada sejumlah ayat al-Qur’an, hadis Nabi Saw, dan ijmak para fukaha. Ketiga sumber ini secara tegas menyatakan bahwa menanggung nafkah merupakan kewajiban suami terhadap keluarganya. Kewajiban yang ditetapkan syara’ ini juga disesuaikan dengan kemampuan suami.

Pemberian Nafkah Suami Kepada Istri Perspektif Fikih 1. Syarat diwajibkannya nafkah

Menurut fukaha pemberian nafkah dari suami kepada istri jika perkawinannya telah telah sah dan telah dukhul,

8 Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, ditahqiq oleh Syu’aib al-Amut, Juz 33. (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1999: 217).

9 Abu Habieb, Sa’di, Mausuatul Ijmak (Ensiklopedi Ijmak) , penerjemah:

Ahmad Sahal Mahfudz dan Mustofa Bisri, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006: 518).

10 Az-Zuhaily, Op.cit., 765-766.

dan istri tidak nusyuz (durhaka). Fukaha berbeda pendapat tentang waktu diwajibkannya nafkah.

Mazhab Maliki mengemukakan bahwa nafkah menjadi wajib atas suami jika suami telah men-dukhul atau mengajak dukhul istrinya dan istrinya termasuk orang yang dapat digauli dan suami telah dewasa. Sedangkan mazhab Hanafi dan Syafi’i berpendapat bahwa suami yang belum dewasa wajib memberi nafkah apabila istri telah dewasa. Akan tetapi jika suami telah dewasa dan istri belum dewasa, maka mazhab Syafi’i memiliki dua pendapat pertama; sama dengan pendapat mazhab Maliki, kedua; istri berhak memperoleh nafkah apapun keadaannya.11

Jaih Mubarok mendeskripsikan pendapatnya imam Syafi’i bahwa suami berkewajiban memberikan nafkah kepada istri jika sudah dukhul atau jimak, karena jika pemberian nafkah diwajibkan karena akad perkawinan, maka suami yang menceraikan istrinya sebelum dukhul diwajibkan membayar seluruh mahar yang telah ditentukan.12

Az-Zuhaili13 mengemukakan bahwa syarat-syarat wajibnya nafkah menurut mayoritas ulama ada empat yaitu:

istri menyerahkan dirinya kepada suami dengan sepenuhnya, istri sudah dewasa dan mampu melakukan hubungan suami istri, akad nikah yang dilangsungkan adalah akad nikah yang sah, hak suami tidak hilang dalam hal penahanan istri di sisinya tanpa izin syar’i.

Penjelasan lebih detail tentang syarat wajibnya nafkah perspektif fukaha sebagaimana paparan dari imam al-Juzairi14 berikut ini:

11 Rusyd, Ibnu. Bidayatul Mujtahid wa Nihayah al-Muqthashid, penerjemah Imam Ghazali Said dan Achmad Zaidun, Jilid 2. ( Jakarta: Pustaka Amani, 2007:

519).

12 Mubarok, Jaih. Modifikasi Hukum Islam, Studi tentang Qawl Qadim dan Qawl Jadid. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002: 262).

13 Az-Zuhaili, Op.cit., 789.

14 Al-Juzairi., Op.cit., 495-499.

Dalam dokumen ISLAM KeluargA (Halaman 194-200)