pulau vulkanik kecil yang terletak di barat laut Pulau Sumatera. Pulau ini terletak sekitar 22,5 km dari Ibu kota Provinsi Aceh dan dapat ditempuh selama 2,5 jam dengan fery atau 45 menit dengan kapal cepat. Pulau ini terkenal dengan ekosistemnya, Pulau Weh memiliki dua teluk yang dalam dan terlindung, yaitu Sabang dan Balo- han, sebagai pusat bisnis diantaranya pelabuhan alam dan wisata bahari.
Pulau Weh memiliki keanekara- gaman sosial dan budaya yang tinggi.
Pada umumnya, masyarakat Sabang adalah pendatang, yang terdiri dari beberapa suku dan etnis di Indonesia, antara lain suku Aceh, Batak, Jawa, dan lain-lain, ditambah etnis Cina yang ba- nyak menetap di Sabang.
Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Dr. Sudirman Saad, mengemukakan bahwa, Pulau Weh laksana segenggam tanah dari surga yang diletakkan di ujung barat Nusantara. Kekayaan sumberdaya alamnya dapat menjadi basis pengem- bangan pusat pertumbuhan ekonomi baru pada koridor Sumatera. Posisi strategisnya sebagai pintu gerbang Se- lat Malaka dan titik dasar batas wilayah Negara seyogiyanya menjadi basis pertahanan penopang ekonomi nasio- nal. Sementara kekayaan ekologisnya selain sebagai destinasi wisata bahari juga menjadi etalase pengelolaan kon- servasi laut nasional.
Segenap potensi tersebut menuntut kontribusi yang sinergi, baik antara sektor pemerintah, antar pemerintah pusat dan daerah, serta antar pemerin- tah dan dunia usaha. Melalui sinergitas yang efektif, Sudirman yakin akselerasi pembangunan di pulau perbatasan ini akan meningkat signifi kan.
Wali Kota Sabang, Zulkifl i H. Adam menyambut baik upaya pemerintah dalam mempercepat pembangunan pulau-pulau kecil terluar seperti Pulau Weh. Apalagi Pulau Weh memiliki potensi besar di bidang perikanan dan wisata yang tidak kalah indahnya dengan pulau-pulau lain di Indonesia.
“Kami berharap agar pembangunan infrastruktur yang mendukung sek- tor pariwisata di Pulau Weh dapat terus dikembangkan,” ucap Zulkifl i berharap. z
Akselerasi Pembangunan Pulau Weh
Dr. Sharif C. Sutardjo
(Menteri Kelautan dan Perikanan)
Mendadak Budek
Sudden deafness atau tuli mendadak kini mulai menyerang usia muda.
Bisa permanen jika tak
segera diobati. S
ERANGAN itu terjadi pada sebuah pagi, pertengahan Juni lalu. Begitu Gagah, 33 tahun, tiba di tempat parkir kantornya di Jakarta Selatan dan membuka helm, pop!, telinga kanan- nya mendadak tuli. Suara orang yang ber- diri dua meter di dekatnya lantas terdengar seperti gumaman. Semula dia cuek saja.Apalagi telinganya tidak nyeri ataupun me-
ngeluarkan cairan, hanya berdenging. Na- mun, hingga siang, pendengaran telinga kanan Gagah tak kunjung membaik.
Gagah pun mencoba merunut kondisi kesehatannya beberapa hari terakhir, tapi ia merasa baik-baik saja. Sebelum telinga kanannya tiba-tiba tak berfungsi, dia juga tak mengalami pusing, mual, fl u, ataupun demam. “Budek-nya seperti coming from nowhere. Mendadak saja telinga kanan se- perti mati rasa. Enggak sakit sih, tapi kalau budek kan mengganggu juga,” ujar Gagah, yang tinggal di Matraman, Jakarta Timur, Rabu sore pekan lalu.
Emoh berlama-lama budek, malam itu juga Gagah merujuk ke dokter spesialis te- linga, hidung, dan tenggorokan. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, ia di- diagnosis dokter mengalami sudden deaf- ness atau tuli mendadak. Pun dokter spesia- lis THT kedua yang disambangi Gagah me- neken vonis yang sama. Menurut dokter, kualitas pendengaran telinga kanan Gagah rendah untuk suara berfrekuensi tinggi.
Sudden deafness adalah gangguan pen- dengaran yang 90 persen kasusnya terjadi
Gangguan
di Rumah Siput
DEFINISI
Sudden deafness adalah gangguan pendengaran yang 90 persen kasusnya terjadi pada satu telinga saja.
T U L I mendadak bukanlah penyakit, tapi bisa menjadi petunjuk keberadaan banyak penyakit. Misalnya diabetes atau kadar gula tinggi dalam darah, autoimun, autotoksik, kolesterol tinggi, trigelserid tinggi, tekanan darah tinggi atau hipertensi, in amasi, infeksi virus, juga gangguan metabolisme.
1. Telinga bagian luar 2. Telinga bagian tengah 3. Telinga bagian dalam
AREA YANG TERGANGGU
1
2
3
31 AGUSTUS 2014 | | 93 pada satu telinga saja. Tuli mendadak bu-
kanlah penyakit, tapi bisa menjadi petun- juk keberadaan banyak penyakit. Di Indo- nesia, prevalensi tuli mendadak adalah 5- 20 orang per 100 ribu penduduk per tahun.
Gangguan tersebut kebanyakan dialami orang berusia 43-53 tahun, dengan kompo- sisi seimbang antara perempuan dan laki- laki.
Namun kini, kata dokter spesialis THT Brastho Bramantyo, makin banyak pasien- nya yang berumur 20-an tahun mengalami tuli mendadak. Pemicunya karena gaya hidup, seperti terlalu banyak bekerja, se- ring lembur dan kurang istirahat, terlam- bat makan, serta sering menyantap ma- kanan tak sehat. “Sekarang makin banyak pasien berusia muda yang sudah kena sud- den deafness karena faktor tuntutan gaya hidup dan pekerjaan,” ujarnya Kamis pe- tang lalu.
Dokter spesialis THT Trimartani menje- laskan, tuli mendadak terjadi ketika telinga kehilangan pendengaran 30 desibel—satu- an kekerasan bunyi—pada minimal tiga fre- kuensi, yaitu rendah, sedang, dan tinggi.
Proses mandeknya kemampuan dengar itu terjadi kurang dari 72 jam. Saking menda- daknya proses menjadi tuli, banyak yang menyebut sudden deafness sebagai stroke telinga.
Menurunnya kemampuan dengar teli- nga disebabkan oleh adanya gangguan pa- sokan pembuluh darah dan oksigen pada bagian koklea atau rumah siput di telinga bagian dalam. Gangguan tersebut bisa di- sebabkan oleh sejumlah hal. Contohnya te- kanan darah tinggi atau hipertensi, trom- bus atau pembekuan di pembuluh darah, dan kekentalan darah. Padahal koklea, yang terdiri atas sel-sel saraf mirip rambut, berfungsi merespons berbagai frekuensi getaran.
Selama ini, menurut Trimartani, ba- nyak orang tak sadar mengalami ganggu- an tersebut karena telinga yang budek bia- sanya hanya sebelah. Gejalanya pun mi- rip dengan tuba katar atau pekak karena pilek dan gangguan pendengaran karena timbunan kotoran telinga. “Bedanya, tuba
katar dan gangguan pendengaran karena kotoran telinga mudah teridentifi kasi. Se- dangkan pada pasien dengan sudden deaf- ness, semua terlihat baik-baik saja. Gen- dang telinganya pun normal, tapi tiba-tiba tuli.”
Kendati bukan merupakan penyakit, kata Trimartani, tuli mendadak bisa jadi merupakan pertanda keberadaan penya- kit dalam tubuh. Misalnya diabetes atau ka- dar gula tinggi dalam darah, autoimun, au- totoksik, kolesterol tinggi, trigelserid ting- gi, tekanan darah tinggi atau hipertensi, in- fl amasi, infeksi virus, juga gangguan meta- bolisme.
Adapun pada kalangan pekerja, tuli mendadak bisa terjadi jika seseorang mengalami stres, kurang istirahat, kelelah- an, dehidrasi, atau kurang minum, ditam- bah merokok. Kondisi itu membuat seseo- rang mengalami autoimun. Seperti halnya Gagah, yang mengalami tuli mendadak ka- rena terlalu lelah bekerja. “Menurut dok- ter, kemungkinan besar penyebab saya tuli mendadak adalah karena sehari sebelum- nya saya lembur sampai dinihari,” ujarnya.
“Apalagi, setelah dicek, tensi, kolesterol, dan gula darah saya normal semua. Saya pun tidak merokok.”
Rokok, Trimartani mengungkapkan, memang bisa jadi faktor yang mempersu- lit penyembuhan tuli mendadak karena menghambat pasokan oksigen. Menurut penelitian, tingkat keberhasilan penyem- buhan tuli mendadak pada perokok hanya 40 persen. Sedangkan pada pasien non-pe- rokok, tingkat kesembuhannya sebesar 60 persen.
Keberhasilan penyembuhan tuli menda- dak juga dipengaruhi seberapa cepat per- tolongan diberikan kepada pasien. Trimar- tani mengatakan tuli mendadak sebaiknya diperiksakan paling lambat 14 hari setelah gangguan dialami. Sebab, jika segera men- dapat penanganan, persentase kesembuh- annya bisa mencapai 80 persen.
Sedangkan jika lewat dua pekan tak men- dapat pertolongan medis, tuli yang dialami bisa menjadi permanen. “Tuli mendadak memang kadang fl uktuatif, sehingga seba-
PREVALENSI
Di Indonesia, prevalensi tuli mendadak adalah 5-20 orang per 100 ribu penduduk per tahun.
Gangguan tersebut kebanyakan dialami orang berusia 43-53 tahun, dengan komposisi seimbang antara perempuan dan laki-laki.
PENYEBAB Gangguan pasokan pembuluh darah dan oksigen pada bagian koklea atau rumah siput di telinga bagian dalam.
PEMICU
Terlalu banyak bekerja, sering lembur dan kurang istirahat, terlambat makan, sering menyantap makanan tak sehat, kurang minum, serta merokok.
gian pasien menunda memeriksakan diri ke dokter. Padahal, kalau penyembuhan- nya tertunda, tulinya bisa tidak ada perba- ikan,” kata Trimartani.
Penanganan medis tuli mendadak mela- lui sejumlah tahap. Begitu menyambangi klinik, pasien akan menjalani tes pende- ngaran untuk membandingkan kemampu- an telinga kanan dan kiri, lewat pengecek- an desibel. Setelah itu, pasien akan mela- lui pemeriksaan BERA untuk mengetahui apakah ketulian terjadi di dalam atau bela- kang koklea. Jika dibutuhkan, pasien juga diminta menjalani tes audiometri, ENG un- tuk tuli yang disertai pusing dan vertigo, serta CT scan.
Pada beberapa kasus, dokter juga akan meminta pasien mengecek kadar koleste- rol, gula darah, dan tekanan darah untuk menelusuri penyebab tuli mendadak. Pe- nyebab tuli mendadak sebaiknya diketahui agar di kemudian hari pasien tak lagi meng- alami gangguan pendengaran. “Sebab, ka- lau tidak hati-hati, bukan tidak mungkin seseorang mengalami tuli mendadak dua- tiga kali,” ujar Brastho.
Pengobatan untuk tuli mendadak sendi- ri kini lebih praktis. Beberapa tahun lalu, kata Trimartani, penanganan tuli membu- tuhkan sejumlah obat, di antaranya anti- infl amasi dan antikoagulan. Sedangkan kini pasien dengan tuli mendadak akan di- beri kostikosteroid dosis tinggi dalam se- bulan, yang perlahan-lahan akan diturun- kan dosisnya. Fungsi kostikosteroid adalah memperbaiki aliran darah mikrovaskuler di koklea.
Pemberian obat tersebut disertai terapi oksigen hiperbarik, yang biasa digunakan penyelam untuk mengeluarkan gelembung udara dari dalam tubuh. Terapi hiperbarik yang bertujuan menyusupkan oksigen ke tubuh disarankan Trimartani dilakukan 15-20 kali, masing-masing selama satu jam.
Gagah sendiri belum sampai 15 kali menja- lani terapi hiperbarik, tapi tuli mendadak- nya sudah beranjak sembuh. “Tiga kali te- rapi, telinga sudah kembali normal,” kata- nya.
● ISMA SAVITRI
ILUSTRASI: YUDHA AF