• Tidak ada hasil yang ditemukan

GUE JADI GUBERNUR, BOS

Dalam dokumen Pemerintah Tetapkan Regulasi Aborsi (Halaman 124-128)

Dua tahun bekerja dengan Jokowi, apa kri- tik Anda terhadap dia?

Beliau tidak begitu tepat waktu.

Karena selalu blusukan?

Iya. Jadi tidak bisa dihitung waktunya.

Dia terlalu lambat dalam mengambil kepu- tusan, tapi itu strategi dan ada alasannya.

Dia meyakini itu benar, ya, itu hak dia, dong. Saya terima saja sebagai wakil beli- au. Kalau gue lebih hebat, tentu gue akan nyalon jadi gubernur saja kemarin mela- wan dia (Jokowi). Tapi gue tahu diri, gue kagak laku. Dia dipilih orang jadi presiden, gue kagak, he-he-he….

Ketika nanti menjadi gubernur, apakah style galak Anda tetap dipertahankan?

Itu yang susah, karena kalau kamu me- merankan karakter yang bukan karakter kamu, itu akan capek.

Sebenarnya galak Anda ini pencitraan?

Bukan. Ada juga yang mengatakan ini bagian dari gaya strategi memimpin. Pada- hal bukan juga. Paling enak jadi diri sendi- ri. Ya, sekarang gue lebih jinak. Kata-kata gue sudah lebih halus. Kata-kata ”kam- pret” sudah tidak keluar lagi.

Dengan gaya Anda ini, apa tidak ada re-

sistensi?

Orang tidak suka kepada saya biasanya karena dua hal: kepentingannya tergang- gu dan rasis.

Lebih susah menghadapi yang mana?

Dua-duanya tidak susah, gue hadapi saja. Memangnya negeri ini punya elu? Se- makin rasis sama gue, gue semakin senang.

Partai Keadilan Sejahtera dan Front Pem- bela Islam mempersoalkan Jakarta dipimpin oleh nonmuslim….

Terserah mereka. Kalau Ahok jadi presi- den, lebih stres mereka.

Apa persiapan Anda menjadi Gubernur Ja- karta?

Tidak ada. Kan, sama saja. Dari dulu yang mengurus administrasi juga saya.

Rasanya memimpin Jakarta sendirian, be- ban lebih berat?

Beban tanda tangan iya, karena semua surat masuk ke saya dan harus dibaca.

Apa enaknya menjadi gubernur jika diban- dingkan dengan menjadi wakilnya?

Tidak usah permisi. Hajar saja semaunya.

Selama ini memangnya harus permisi ke Jokowi?

Memindahkan orang harus tanda ta-

ngan Gubernur. Beliau ini feeling-nya ber- beda. Strateginya dia selalu bilang ”jangan dulu” atau ”sebentar”. Kalau saya tidak ada strategi seperti itu.

Untuk berbicara kepada media harus per- misi juga?

Tidak ada. Keputusan di rapat selama ini juga tidak pernah permisi. Tapi saya sudah tahu beliau maunya apa. Pak Jokowi tahu saya memutuskan bukan untuk kepenting- an pribadi atau kelompok.

Jokowi terkesan agak pelan dalam pem- benahan birokrasi.…

Dia bukan pelan. Dia itu berhitung. Ada feeling dia yang tidak bisa saya jelaskan.

Ada wanti-wanti khusus dari Jokowi un- tuk Anda?

Tidak ada. Sejak terpilih, dia tidak ber- ubah sama sekali, cengengesan terus. Mes- ki dia sudah setengah presiden, kami terus berkomunikasi. Dia terkadang meminta pendapat saya tentang kebijakan tertentu.

Kebijakan apa?

Proyek monorel. Dia telepon, minta pen- dapat saya bagaimana hadapi media. Ka- lau saya yang salah bicara, dia kasih tahu ajudan saya. Tidak menegur langsung, dia

❉ ❉ ❉

NAMA:

Basuki Tjahaja Purnama TEMPAT DAN TANGGAL LAHIR:

Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966

PENDIDIKAN:

>> S-2 (magister

manajemen) Jurusan Manajemen Keuangan Universitas Prasetiya Mulya (1993)

>> S-1 (insinyur) Jurusan

Teknik Geologi Fakultas Teknologi Geologi Universitas Trisakti, Jakarta (1989)

>> S-1 (tidak lulus—

sampai semester I) Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (1984)

>> Sekolah Menengah Atas

III Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD), Jakarta (1984)

>> Sekolah Menengah

Pertama Negeri Nomor 1 Gantung, Belitung Timur (1981)

>> Sekolah Dasar Negeri

Nomor 3 Gantung, Belitung Timur (1977)

KARIER:

>> Gubernur Daerah

Khusus Ibu Kota Jakarta (2014)

>> Pelaksana Tugas

Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (2014)

>> Wakil Gubernur Daerah

Khusus Ibu Kota Jakarta (2012-2014)

>> Anggota Komisi II Dewan

Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Golongan Karya (2009-2014)

>> Bupati Belitung Timur,

Provinsi Bangka Belitung (2005-2010)

>> Direktur PT Nurindra

Ekapersada, Belitung Timur (1992-2005)

>> Asisten Presiden

Direktur Bidang Analisa Biaya dan Keuangan PT Simaxindo Primadaya, Jakarta (1994-1995)

31 AGUSTUS 2014 | | 125

orang Jawa.

Banyak orang khawatir dia tidak bisa le- pas dari pengaruh Megawati. Itu tecermin selama dia menjadi gubernur atau hal lain.

Saya bilang ke Pak Jokowi, kalau mente- ri yang ditunjuk nanti dipersepsikan nega- tif oleh orang, dia akan punya beban berat.

Politik itu kan soal kepercayaan. Kayak, misalnya, penunjukan Rini Soemarno dan Hendropriyono.

Jokowi sadar hal itu disorot?

Beliau sadar. Ya, kita tunggu saja mente- rinya seperti apa.

Apa yang Anda tidak sukai dari Jokowi?

Ya, salah satunya itu tadi, gue ingin gan- ti orang buru-buru, dia tahan. Gaya Jokowi itu menerapkan teori membunuh kodok.

Kodok yang dilemparkan ke air panas yang mendidih di kuali tidak akan mati karena kodok berdarah dingin, jadi langsung lon- cat. Tapi Jokowi melempar kodoknya ke air dingin, yang membuat kodok itu berenang dan diam. Setelah itu, kompor dipanaskan pelan-pelan. Sampai mati kodok itu tidak akan loncat karena tidak merasa dibunuh.

Kalau gue, enggak usah lempar kodoknya, langsung gue tembak saja. Selesai.

Menurut Anda, siapa yang cocok menjadi wakil gubernur?

Saya tidak mau pusing. Yang penting dia sudah teruji karakternya. Kalau secara po- litik, saya tidak mau wakil gubernur yang lebih bagus daripada saya, karena nanti sa- ingan sama saya di pemilihan gubernur 2017, ha-ha-ha….

Anda berniat maju lagi?

Harus maju lagi. Kalau tidak, saya tidak punya legitimasi namanya.

Tapi kan Anda berasal dari kelompok mi- noritas, repot lho maju lagi?

Gue tidak mikir minoritas. Lebih repot di Belitung Timur ketimbang Jakarta. Di sana fraksi Partai Bulan Bintang itu mencapai 55 persen.

Anda sepertinya gila jabatan?

Salah, gue enggak gila jabatan. Gue cuma gila doang. Kalau orang sadar bahwa dia gila, artinya orang itu pasti waras. Yang re- pot adalah orang yang sebenarnya gila tapi tidak sadar. Apalagi yang mengira dia me- nang tapi sebenarnya enggak, itu juga re- pot.

Siapa itu?

Gue enggak bilang siapa, lho.

Kembali ke calon wakil gubernur, siapa preferensi Anda?

Kalau mau yang punya mental pekerja dan harus dari PDIP (Partai Demokrasi In- donesia Perjuangan), mending si Djarot be- kas Wali Kota Blitar. Sepuluh tahun menja- bat dan reputasinya jelas.

Anda memiliki andil untuk memilih?

Tidak. Cuma usul dan bisik-bisik saja.

PDIP juga menawarkan Boy Sadikin....

Oke saja. Bagi saya, siapa saja.

Apakah Boy sesuai dengan karakter Anda?

Kita bicara jujur, ya. Lu baca Undang-Un- dang Otonomi Daerah Nomor 32 itu, deh.

Wakil itu tidak ada wewenang. Tugas dan kewajiban lu, ya, bantu gue. Titik. Tidak usah banyak ngoceh.

Bagaimana dengan Wali Kota Surabaya Rismaharini?

Secara karakter, saya pikir belum ten- tu cocok dengan saya. Dia sama Bambang D.H. (bekas Wali Kota Surabaya) saja ribut.

Bisa tidak ketemu dengan saya.

Kalau dari Partai Gerindra menawarkan siapa?

Mereka menawarkan Mohammad Sanu- si (Ketua Fraksi Gerindra Dewan Perwakil- an Rakyat Daerah DKI Jakarta). Tapi, kalau saya perkirakan, bisa saja nanti tidak ada wakil karena dua-duanya (PDIP dan Gerin- dra) tidak mau tanda tangan (setuju). Ba- gaimana?

Pembagian jatahnya?

Sebagian orang Gerindra berpikir wa- kil gubernur tetap jatah Gerindra karena orang PDIP sudah jadi presiden. Salah sen- diri orang PDIP pergi.

Apakah PDIP bakal menerima?

Tidak. Pikiran PDIP lain lagi. Karena me- reka merasa telah memberi DKI-1 ke Gerin- dra, jatah wakil jadi milik mereka.

Ada tidak kemungkinan Anda diajak Joko- wi ke Istana?

Mau ngapain jadi pembantu presiden? Di sini (jadi DKI-1) itu RI-3, Bos.

Tapi pernah ditawari jadi menteri?

Tidak. Dia (Jokowi) sudah tahu gue eng- gak mau juga.

Lho, sudah ditawari?

Makanya enggak ditawari juga, kan? Ka- rena dia sudah tahu.

Selama ini apa yang hilang jika tidak ada Jokowi?

Kalau saya diserang, Pak Jokowi biasanya bela saya. Sekarang sama juga sih, meski nantinya dia jadi presiden. Apalagi jika kebi- jakan saya nanti menguntungkan pusat. Mi- salnya BBM bersubsidi gue cabut di Jakarta.

Di Jakarta saja, kalau kebijakan itu dilaku- kan, bisa hemat sampai Rp 30 triliun.

Kebijakan itu akan Anda lakukan?

Iya.

Kapan?

Per Januari 2015.

Seluruh bahan bakar minyak bersubsidi?

Bensin Premium. Kalau itu saja, saya masih berani.

Bagaimana dengan solar?

Tidak akan dicabut karena solar ada hu- bungannya dengan logistik. Kalau bensin tidak ada pengaruh. Pengaruh di angkutan umum dan Kopami saja.

Kemudian bagaimana nasib angkutan umum?

Mereka harus ubah ke gas.

Memang ada stasiun pengisian bahan ba- kar gasnya?

Kami pakai MRU atau mobile re-fuelling unit atau disebut mobile SPBG’s procure- ment. Itu yang kemarin Pak Jokowi resmi- kan di Waduk Pluit. Nanti akan standby di taman-taman.

Apakah akan cukup jumlah MRU-nya?

Cukup. Gampang itu. PGN (Perusahaan Gas Negara) juga siap. Nanti konverternya bagian dari program Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral).

Selisih harganya bagaimana?

Kalau bensin tak bersubsidi Rp 10 ribu, gas bisa hanya Rp 5.000. Orang pasti ber- alih.

Hitung-hitungan dampaknya bagaimana jika BBM bersubsidi dicabut di Jakarta?

Hampir tidak ada dampak. Lama-lama saya yakin masyarakat akan menyesuai- kan sendiri. Yang penting diyakinkan bah- wa kita punya logistik yang cukup buat ma- syarakat.

Nantinya pekerjaan rumah apa yang Anda prioritaskan?

Semua prioritas, karena jabatan saya tinggal tiga tahun. Transportasi, banjir, dan kemacetan. Kemudian yang tidak ter- pikir orang adalah penataan PKL (peda- gang kaki lima).

Kenapa?

Saya ingin membersihkan kawasan ku- muh. Itu terkait dengan kemacetan dan banjir. Penataan PKL juga akan sejalan de- ngan rumah susun, yang dihubungkan de- ngan pasar terpadu dan PKL juga. Ini ha-

rus dibereskan.

Pembenahan kampung kumuh kan tidak populer dan ditentang?

Dari awal sudah saya katakan kami ini taat terhadap konstitusi, bukan konsti- tuen. Misalnya pembangunan enam ruas jalan tol. Orang ribut, kan?

Jokowi dulu menolak pembangunan ja- lan tol….

Saya juga sama, tidak perlu menambah rasio jalan. Yang perlu ditambah adalah transportasi massal. Tapi saat itu usul dua ruas tol harus dilakukan, untuk angkutan barang logistik.

Oke. Maksud Anda, kalau dua boleh, ke- napa tidak enam?

Tanggung. Gue sadar risiko politiknya.

Gue kalau hajar mengerjakan enam jalan tol sekaligus akan mengakibatkan kema- cetan. Saya berani kehilangan jabatan su- paya Jakarta ada tambahan jalan di atas.

Bukan hanya itu, saya juga menyelesaikan lagi tiga koridor busway. Artinya, kalau ini selesai dalam tiga tahun, kita punya 9 ko- ridor layang busway. Bayangkan, kita pu- nya 12 koridor busway di bawah dan 9 kori- dor di atas.

Muncul tuduhan bahwa keputusan Anda menyetujui pembangunan enam ruas jalan itu menelikung Jokowi, karena keluar saat Jokowi cuti untuk kampanye.

Udah gue laporin ke beliau bahwa enam ruas jalan tol itu penting. Kami juga ber- temu dengan PU, dan setuju bahwa enam ruas itu harus segera dibangun menjelang Asian Games 2019.

Jokowi setuju?

Setuju saja. Gue jelasin konsepnya. Ini ri- siko buat gue, jalan tol belum jadi, gue su- dah berhenti pada 2017 kalau tidak terpilih lagi. Tapi, jika ruas tol selesai, orang Jakar- ta menikmati.

Anda dituduh ingkar janji….

Saya tidak peduli dibilang ingkar janji.

Memang gue ingkar janji, lu mau apa? Ti- dak usah pilih gue lagi. Beres, tokh. Tidak usah banyak berdebat.

Kapan Anda mulai berubah pendapat, ke- mudian menyetujui pembangunan enam ruas jalan tol itu?

Setelah kami berhasil menyambung- kan Jakarta Outer Ring Road. Kalau itu ti- dak nyambung, tidak ada guna. Kami juga berpikir akan membangun light rail transit (LRT)—seperti di Chicago.

Siapa yang bangun?

Patungan. Saya lagi suruh orang ke New York dan Chicago, dia pulang nanti gue mau menenderkannya. Dalam tiga tahun, gue mau semua mal, bandara, dan peru- mahan mewah dilewati LRT.

Ini berbeda dengan monorel?

Beda. Kalau monorel itu keretanya je- pit ke beton jalannya. Kalau mau bikin ca- bang tidak bisa. Kalau kereta api bisa di- sambung.

Nasib proyek monorel bagaimana?

Tergantung. Mereka punya duit tidak bangun monorel? Duitnya tidak bisa di- tunjukkan. Mereka ini memanfaatkan gue karena tahu gue ingin punya transporta- si massal. Gue tahu mereka sebenarnya menginginkan bisnis properti ruang udara di stasiun-stasiun monorel.

Mereka ini siapa?

Ya, PT JM (Jakarta Monorail).

Anda memberi tenggat penandatangan- an perjanjian kerja sama pembangunan mo- norel dengan PT Jakarta Monorail pada Sep- tember.

Kalau tidak, jelas coret.

Seandainya monorel mengubah konsep- nya, yakni meniadakan desain ruang uda- ra tadi di setiap stasiun, apakah Anda akan setuju?

Mereka tidak akan mau.

Sudah pasti?

Berani taruhan berapa lu sama gue? La-

poran keuangan mereka itu sudah jelas, kok, 80 persen pemasukannya dari pro- perti. Mereka ini pebisnis properti yang tahu gue ngebet ingin punya kereta karena mau atasi macet.

Situasi panas pemilihan presiden kemarin membuat posisi Anda terjepit?

Langsung saya selesaikan kejepitnya itu. Langsung gue putusin, gue dan keluar- ga pilih Prabowo. Gue sudah kampanye ke mana-mana. Kalau Jokowi yang menang, ya, memang nasib gue jadi gubernur, Bos.

Lu jangan ribut.

Kalau hati Anda sebenarnya ke mana?

Ingin jadi presiden sendiri saja.

Jadi pada 2019 akan mencalonkan diri jadi presiden?

Tergantung. Kalau Pak Jokowi bagus, ya, tidak usah nyalon.

Tapi pada 2019 kan masih ada inkumben.

Berat sepertinya….

Tergantung juga. Kalau dia jadi penakut dan enggak beres kerjanya, gue nyalon.

Masak, Jokowi takut?

Ya, makanya. Kan, gue tidak tahu. Ka- rakter sejati baru teruji saat dikasih kekua- saan.

Dengan gaya Jokowi yang sudah Anda ke- nal, menurut Anda, apakah dia bisa memim- pin negara?

Kalau tidak bisa, masak terpilih? Biar se- jarah yang membuktikan.

Hubungan Anda dengan Prabowo bagai- mana?

Yang jelas, gue tidak punya nomor tele- pon dia. Kalau bertemu begitu saja. Dihi- tung hanya sepuluh kali.

Terakhir bertemu di Hambalang sebelum pemilihan umum membicarakan apa saja?

Santai-santai saja.

Strategi pemilu?

Enggak. Bawa keluarga, kok.

Dia orang yang menguji loyalitas?

Tidak tahu. Gue tidak merasa diuji. Gue kan orang cabutan.

Tapi Anda pengurus pusat Gerindra?

Tidak pernah ada SK-nya. Tidak pernah diajak rapat.

Artinya, pada 2017, Anda bukan dari Ge- rindra jika maju lagi jadi DKI-1?

Tergantung. Bisa juga gue calon inde- penden. Mana gue tahu.

Bukannya sudah ditaksir PDIP?

Mana gue tahu juga.

Megawati menyukai Anda?

Memang sudah dekat dari dulu. Sebe- lum masuk politik.

Prabowo tidak pernah tanya Jokowi kepa- da Anda?

Tidak.

TEMPO/DIAN TRIYULI HANDOKO

Basuki Tjahaja Purnama di dalam bus Transjakarta di Silang Monas, Jakarta Pusat, Juni lalu.

31 AGUSTUS 2014 | | 127

PEMBAWA acara Caesar Gunawan girang bukan kepalang saat diundang menonton langsung pertandingan klub favoritnya, Liverpool, di markas besar mereka, Stadion Anfi eld, Ing- gris, dua bulan lalu. ”Aku sudah non- ton fi nal Piala Dunia di Afrika Selatan dan fi nal Piala Eropa, tapi justru tim favoritku belum pernah kutonton langsung,” katanya dua pekan lalu.

Sebelum berangkat, Caesar mem- buat daftar semua hal yang wajib ia lakukan di stadion itu, dari sujud di stadion, berfoto, sampai memegang Anfi eld Sign (lambang kebesaran Liverpool, yang biasa disentuh para pemain menjelang pertandingan).

Namun, tak disangka, ia mendapat kesempatan yang amat jarang diberi- kan kepada tetamu Liverpool: meng- injakkan kaki di lapangan rumput

stadion itu, walau hanya selama 10 menit.

Waktu emas yang singkat itu tidak ia sia-siakan. Berfoto dengan berba- gai gaya sudah ia lakukan, meme- gang rumput pun sudah. Caesar pun berpikir hal unik apa yang akan ia ke- nang selama di lapangan yang sangat hijau dan subur itu. ”Spontan aku berpikir mengambil rumputnya.”

Ia pun duduk di pinggir lapangan, berpura-pura memegang sejumput rumput yang tebal, mencabutnya sampai ke akar, lalu memasukkan- nya ke kantong.

Tindakan brutal itu pun baru diakuinya kepada seorang teman setelah berada di dalam pesawat menuju Indonesia. ”Kalau ketahuan di Liverpool, mungkin aku bisa kena masalah hukum,” ujarnya.

Dalam dokumen Pemerintah Tetapkan Regulasi Aborsi (Halaman 124-128)

Dokumen terkait