INFORIAL
9 PEMENANG KJSA 2014
NO. JUDUL KARYA NAMA SEKOLAH
1 Alat Penyunggi Modifi kasi Seto Bayu Aji Langlang Jagad & Ridwan
Kuasa Samudra Singajaya SDN Kebon Pedes 1, Bogor
2 Almami Kucingku Maghfi ra Wahyu Febrianty SDN Jember Lor 01
3 lmplementasi Gaya Gesek dan Tekanan dalam
Pembuatan Robot Pemanjat Tiang Farrel Hung Robo Buddy Robotic School,
Bandung 4 Lengan Peniru Najiyah Nurul Faizah & Nur Alfi a Rahmah SD Insan Kamil, Bogor
5 Pelapis Helm Herbal Edward Pandji & David SD Intan Permata Hati (IPH),
Surabaya
6 SDS (Sajadah Detektor Shalat) Eveline Maghfi ryani Azzahra SD Islam Al Azhar 29 BSB, Semarang
7 Sikat Gigi Ajaib Berindikator Gerakan Menyikat Laurentia Holly & Chelsea Victoria Sekolah Kuntum Cemerlang, Bandung
8 Sistem Otomatis Pemberi Tekanan Pada Alat
Tugal Pebri Kristian Yafet & Minarti SDN 09 Nanga Lungu, Kapuas
Hulu, Kalimantan Barat
9 Toilet Flush Indikator Tomoji Hamay Kusuma & Dhafi n Fadhlan Kamal
Sekolah Kuntum Cemerlang, Bandung
N
GENG, bagi Gregorius Gen- ding Djaduk Ferianto, ada- lah istilah yang tak terdefi - nisikan. Hanya kritikus dan pengamat musik yang men- coba mendefi nisikan konsep ngeng yang ia lontarkan. Demi ngeng itulah Djaduk ber- karya. Ngeng adalah suatu prasyarat seka- ligus tujuan Djaduk bermusik. Suatu titik kulminasi yang terasa saat bermain-main dengan nada. Tanggapan hati atas apa yang ditangkap indra. ”Ngeng itu muatan- nya pada rasa,” kata Djaduk kepada Tempo, beberapa hari lalu.Ngeng pula yang hendak dicapai dalam konser Djaduk dan Kua Etnika bertajuk
”Gending Djaduk: 50 Tahun Djaduk Ferianto” yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 13 Agustus lalu. Repertoarnya berisi tem- bang-tembang anyar yang menunjukkan gaya terbaru Djaduk di Kua Etnika. Ada
sembilan lagu yang dimainkan, yakni Pic- nik ke Cibulan, Jawa Dwipa, Bethari, Pesisir, Angop, Swarnadwipa, Barong, Molukken (Kole-kole), dan Ritma Khatulistiwa.
Dalam konser itu, bisa kita lihat bagai- mana Djaduk membaurkan instrumen tradisional dengan alat yang bersifat kekinian. Rupa-rupa instrumen ditata di atas panggung, dari suling Bali, gamelan, bonang, renong, kendang Sunda, beduk, ceng-ceng, gong Cina, pamade, sampai klentongan sapi, dan dibaurkan dengan instrumen elektrik, seperti gitar, bas lima senar, dan keyboard, serta drum.
Djaduk cs konsisten mengeksplorasi bebunyian instrumen akustik Nusantara, menyampaikannya dengan bahasa keki- nian menggunakan dialek yang berbeda- beda. Di pentas konser, Djaduk konsisten mempertahankan semangat komunal di antara para pemain. Tak satu pun terlihat lebih menonjol daripada yang lain. Djaduk
bersama Purwanto (bonang, reog), Sukoco (kendang), Benny Fuad (drum), Dhanny Eriawan (bas), dan Indra Gunawan (key- board) tampak seperti kawanan sedang riang bermain di atas panggung.
Dialek musik Djaduk di Kua Etnika bisa ditelaah dengan mengamati perkembang- an album-albumnya. Perbedaan dialek dan warna dari satu album dengan yang lain menunjukkan Djaduk sebagai seorang seniman yang gelisah. Ia terus mencari cara baru membahasakan kegelisahannya itu. Musik dalam pergelaran ”Gending Djaduk” amat berbeda jika dibandingkan dengan musik album pertama Djaduk dan Kua Etnika, Nang Ning Nong Orkes Sumpeg (1997).
Pada album itu, Djaduk cs memberi por- si amat banyak pada bebunyian perkusi tradisional Nusantara. Bahkan satu-satu- nya instrumen elektrik yang digunakan adalah keyboard. Semua lagu dibangun di atas fondasi nada yang dihasilkan perkusi akustik. Jarang ditemukan repetisi tema pada lagu-lagu Djaduk di album pertama.
Lagu-lagu pada Nang Ning Nong umumnya berdurasi di atas lima menit.
Pendekatan lebih ekstrem dilakukan Djaduk dan Kua Etnika pada album keti-
ga, Many Skins One Rhythm (2003). Pada album ini, mereka bekerja sama dengan musikus asal Malaysia, M. Kamrulbahri Hussin, dan pemain perkusi dari India, Kirubakaran. Djaduk cs hanya meng- andalkan alat tabuh pada album
ini. Delapan lagu dalam Many
Djaduk dan
Perjalanan Ngeng
ANTARA/NOVERADIKA
Djaduk Ferianto bersama Kua Etnika tampil dalam konser ”Gending Djaduk:
50 Tahun Djaduk Ferianto” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 13 Agustus 2014.
Djaduk menjelajahi segala rupa musik.
Memilih membuang teori dan berpatokan pada ngeng .
Djaduk Ferianto
31 AGUSTUS 2014 | | 57 Skins adalah rentetan dentang-dentum dan
ketipak-ketipung bunyi perkusi tradisional.
Djaduk, Hussin, dan Kirubakaran meracik tabuh-tabuhan itu menjadi musik yang megah, ibarat musik pengantar pasukan kuda Gengis Khan bertempur di medan perang.
Dalam ”Gending Djaduk”, Djaduk ter- lihat lebih konservatif. Mudah menemu- kan pengaruh fusion jazz pada lagu-lagu terbarunya. Barangkali kesibukan Djaduk mengorganisasi beberapa perhelatan jazz, seperti Ngayogjazz dan Jazz Bromo, berpengaruh dalam proses pembuatan karyanya kini.
Alat-alat elektrik, seperti bas, gitar, dan keyboard, diberi peran lebih besar daripa- da di album sebelum-sebelumnya. Lagu seperti Picnik ke Cibulan dan Jawa Dwipa menunjukkan musik yang bertumpu pada tema yang telah ditentukan. Dan tema itu mengalami pengulangan beberapa kali. Kendati ada repetisi, Djaduk tetap menghadirkan peralihan-peralihan yang mengejutkan pendengar, seperti yang ter- dengar dalam Pesisir dan Barong.
Tapi Djaduk dan Kua Etnika memang bukan semata-mata soal musiknya saja.
Sebagaimana dikatakan Djaduk, apa yang mereka tampilkan adalah sebuah pertun- jukan yang mencakup segala sesuatu yang terjadi dari mulai hingga habisnya acara.
Melalui pertunjukan itulah ia berkomuni- kasi menyampaikan pesan kepada penon- ton.
Pada akhirnya, para pemainlah yang membuat sebuah komposisi menjadi hi- dup. Dan itu bisa dilakukan dengan cara apa saja. Bisa melalui musik, bisa juga me- lalui banyolan spontan yang disampaikan di sela-sela lagu. Dengan cara seperti itu- lah Djaduk membangun suasana yang cair
antara penonton dan pemain.
”Djaduk bukan sekadar musikus. Salah kalau menilai dia hanya dari musiknya.
Djaduk itu komunikator. Menilai Djaduk tak bisa sepotong-potong. Harus dilihat dari awal kariernya sampai kini,” ujar pengamat musik Suka Hardjana kepada Tempo. Suka menambahkan bahwa kita tak bisa menilai Djaduk hanya dengan mengamati satu-dua albumnya. Musik Djaduk sudah tak lagi membedakan Barat- Timur. ”Di dalam Djaduk, semua sudah melebur,” kata Suka.
Dan pada pertunjukan malam itu, men- jelang akhir pentas, kakak Djaduk, Butet Kartaredjasa, ikut naik ke atas panggung dan mulai berceloteh seenaknya. Di pang- gung ”Gending Djaduk”, Butet memberi selamat kepada adiknya yang ia sebut se- bagai calon penyandang diabetes dan se- bentar lagi tak bisa mak teng, sembari me- nyentilkan jari ke udara. Hal itu membuat tawa berderai di barisan penonton. ”Pada intinya, yang kami lakukan adalah sebuah upaya berkomunikasi,” ucap Djaduk.
Disiplin seni pertunjukan yang ditam- pilkan dalam setiap konser Djaduk tak lepas dari tradisi nyeni yang ia pelajari sejak lahir. Djaduk, yang lahir pada 19 Juli 1964, tumbuh dalam atmosfer kesenian.
Ayahnya, Bagong Kussudiardja, adalah penari dan pelukis pendiri Padepokan Seni Bagong K. Di sanalah Djaduk kecil menjadi akrab dengan kesenian. Pada usia enam tahun, ia aktif menari di Pusat La- tihan Tari Bagong K. Djaduk juga pernah menjadi cantrik (murid) dan pembina di padepokan ayahnya.
Dari padepokan Bagong K. itu pula Dja- duk belajar soal disiplin. Di balik pertun- jukan yang cair, ada proses latihan yang ketat dan berat. ”Kami latihan berdarah- darah,” ujar Djaduk. Pertunjukan ”Gen- ding Djaduk” yang berlangsung dua jam disiapkan selama delapan bulan. Tak ada kata terlambat kala Kua Etnika berlatih.
Setiap hari kerja, mereka berlatih mulai pukul 15.00 hingga 18.00. ”Pukul setengah tiga, semua sudah harus hadir,”
tutur Djaduk. Pada sesi latihan itulah me- reka menggarap komposisi hingga tuntas.
Hingga terasa ngeng-nya. Disiplin latih- an serupa diterapkan dalam grup-grup Djaduk yang lain di samping Kua Etnika.
”Sudah sejak 1970-an kami berlatih seperti itu,” katanya.
Jejak bermusik Djaduk bermula jauh sebelum Kua Etnika, yang dibentuk pada 1996. Kala duduk di sekolah menengah atas, Djaduk punya satu grup musik yang
terdiri atas sembilan orang bernama RHEZE. Suatu kali pada 1978-an, setelah lolos penyaringan tingkat regional, RHEZE terpilih menjadi peserta Kejuaraan Musik Humor Nasional yang digelar di Taman Ismail Marzuki.
Berbondong-bondong menggunakan kereta, mereka memboyong instrumen yang digunakan RHEZE untuk mentas di Jakarta. Instrumennya antara lain tam- pah padi, butiran jagung, klakson angin towet-towet, dan beberapa gentong tanah liat yang ditutup kertas sak semen pada lubang-lubangnya.
Saat pentas, ”instrumen-instrumen” itu dimainkan. ”Ada polanya dan kami main- kan ritmik,” kata Djaduk. Jagung di dalam tampah, misalnya, dilempar-lempar hing- ga menghasilkan bunyi esrek-esrek. Gen- tong ditabuh seumpama gendang. Klakson dipencet berkali-kali mengeluarkan bunyi klakson. Itulah musik yang dimainkan RHEZE dan membawa mereka menjadi juara Kejuaraan Musik Humor mengalah- kan peserta lain, di antaranya Iwan Fals dan Tom Slepe. ”Kebetulan hanya kami yang bermain dengan alat musik seperti itu,” ucap Djaduk.
Tak berapa lama, setelah kemenang- an itu, RHEZE bubar. Djaduk kemudian membuat grup bernama Wathathitha dan mementaskan Unen-unen pada 1980-1983.
Pada 1985, ia bergabung dengan Teater Gandrik. Di sinilah Djaduk memperuncing ilmunya membangun sebuah pertunjukan.
Dia belajar bahwa bermusik tak ubahnya pertunjukan teater, ketika seorang aktor mempunyai tugas menghidupkan naskah.
”Dalam musik pun seperti itu. Pemain bertugas menghidupkan musik yang ia mainkan,” katanya.
Djaduk juga mengeksplorasi musik ke- roncong melalui grup Orkes Ngamen Sin- ten Remen, yang dibentuk pada 1997. Di grup ini, ia memainkan keroncong dengan bahasa kekinian tanpa meninggalkan as- pek teatrikal dan melawaknya yang khas.
Sepanjang 50 tahun, Djaduk, yang lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Insti- tut Seni Indonesia Yogyakarta, mengaku mempelajari banyak teori soal musik.
Toh, ketika bermusik, teori-teori itu ia tinggalkan. ”Teori membelenggu saya da- lam berkarya,” ujarnya. Sebagai gantinya, ia menetapkan ngeng sebagai patokan.
”Opo jenis musik yang dimainkan saya ndak dhuong (enggak ngerti). Yang lebih penting adalah adanya ngeng itu,” kata Djaduk.
● ANANDA BADUDU
TEMPO/IFA NAHDI
atau gambar tertuduh masuk-keluar kan- tor pemeriksaan, atau tertangkap dan digi- ring masuk mobil tahanan. Negeri tanpa Te- linga memaparkan lebih banyak, termasuk adegan sebelum penangkapan yang lebih seru: perbincangan rahasia mereka yang diselingi ucapan-ucapan keagamaan; ta- war-menawar jumlah suap; serah-terima uang suap; mereka masuk kamar hotel dan bercinta dengan perempuan panggilan; se- belum disergap petugas negara.
Negeri tanpa Telinga merupakan teri- ak makian terhadap elite politik dan selu- ruh pranata politik yang korup di negeri ini. Juga pada manipulasi keislaman dalam politik-ekonomi pada tingkat tidak-tahu- malu. Kemarahan itu bisa dipahami kare- na praktek tersebut sering dibiarkan nega- ra. Laporan jurnalis terbukti tidak berdaya membuat elite politik malu dan jera.
Film ini menelanjangi semua itu lebih dra- matik dan memakinya lebih geram ketimbang karya jur- nalistik. Tapi, karena meng- gebu marah, penokohan da- lam fi lm ini mentah dan tam- pil karikatural. Semua tokoh politik dalam fi lm ini korup dan brengsek. Seorang tokoh jelata (Rifnu Wikana) yang
apolitis ditampilkan serba baik. Alih-alih mendewasa- kan publik dalam politik, ia berisiko mengajak orang jadi anti-politik. Beda tapi mirip depolitisasi Orde Baru.
Gaya bertutur fi lm ini mi- rip Teater Koma di masa Orde Baru: lihai mengolok-olok penguasa, dengan humor segar dan karikatural hitam-putih. Skena- rio Negeri tanpa Telinga ditulis Indra Trang- gono, yang kaya pengalaman berteater di Yogya. Beberapa aktor dari Yogya juga tam- pil dalam fi lm ini.
Tapi waktu itu Teater Koma berjaya kare- na media massa dan parlemen tidak berku- tik ditekan teror-negara. Kritik politik diha- ramkan. Politik negeri sudah berubah be- sar. Film ini akan jauh lebih menggigit sean- dainya diedarkan sebelum ada ledakan gai- rah politik massa nonpartai di Pemilihan Presiden 2014.
● ARIEL HERYANTO
*)PENGAJAR DI AUSTRALIAN NATIONAL UNIVERSITY, BUKUNYA YANG TERBARU IDENTITY AND PLEASURE: THE POLITICS OF INDONESIAN SCREEN CULTURE (NUS PRESS
2014) DOK
.NEGERI TANPA TELINGA
Kemarahan Menghibur yang Salah Waktu
Sebuah fi lm terbaru sutradara Lola Amaria yang berbicara tentang korupsi. Mengolok-olok dengan gaya Teater Koma di masa Orde Baru.
SINEMA
NEGERI TANPA TELINGA SUTRADARA: LOLA AMARIA SKENARIO: INDRA TRANGGONO
PEMAIN: LUKMAN SARDI, RAY SAHETAPY, T. RIFNU WIKANA
K
ETUA Partai Martobat, Piton Wangsalaba (Ray Sahetapy), ber- ambisi menjadi presiden. Ambi- si itu berakhir di penjara gara- gara ia terlibat kasus korupsi. Sebelumnya, ia bersumpah siap dipanah di depan istana bila terbukti menerima uang haram.Ustad Etawa (Lukman Sardi), ketua se- buah partai berdasarkan agama, juga di- penjara karena terlibat korupsi impor da- ging domba. Sebelumnya, anak buahnya tertangkap basah oleh KAPAK (sebuah lem- baga pemberantasan korupsi) di hotel ber- sama seorang perempuan panggilan dan sekoper uang tunai.
Semua itu bagian terpenting dari kisah Negeri tanpa Telinga. Ibarat cermin, semua- nya berpadan pada sejumlah skandal ko- rupsi di negeri ini yang sudah berlimpah di- beritakan di media massa. Buat apa kisah itu dinyatakan kembali dalam fi lm? Seba- iknya jawaban tidak dicari dari pernyataan resmi pembuat fi lm.
Membicarakan karya seni apa pun, ter- masuk fi lm, sebaiknya tidak bergantung pada pernyataan verbal sang seniman di luar karya itu. Kita amati saja karya mere- ka secermat mungkin dan konteksnya. Bu- kan kata-kata penjelasan seniman di luar karya itu.
Walau berkisah mirip berita jurnalistik yang terbilang mulai basi, Negeri tanpa Teli- nga tetap menarik ditonton, dan jadi bahan bahasan tentang dua perkara. Pertama, tentang perbedaan dan kaitan antara dua
medium bertutur: fi lm dan jurnalisme. Kedua, perubah- an politik di negeri ini.
Berita jurnalistik tentang korupsi nyaris jenuh dan ke- hilangan daya tariknya. Bu- kan hanya karena isinya itu- itu saja, melainkan juga volu- me, modus produksi, sirku- lasi dan konsumsi informa- sinya. Ia bertebaran seper- ti debu yang mengganggu di berbagai tempat dan saat ke- tika kita mengerjakan aktivi- tas lain.
Ketika ditampilkan dalam bentuk fi lm fi k- si di gedung bioskop, kisah korupsi bisa ber- beda. Orang perlu datang khusus ke tempat pertunjukan di waktu yang dijadwalkan. Ke- tika pintu ruang ditutup, lampu dipadam- kan, dan fi lm mulai diputar, seluruh perha- tian dan indra kita terpusat pada gambar-ge- rak dan suara padu. Materi yang tersaji pun berbeda dengan berita yang disusun jurna- lis, yang serba terburu-buru. Gambar dan suara fi lm disusun berbulan-bulan kalau bu- kan bertahun-tahun.
Yang layak dipuji dari Negeri tanpa Teli- nga adalah pengambilan gambar Nur Hida- yat. Bukan isi dan jalannya cerita. Juga layak dipuji dua aktor utama, yaitu Ray Sahetapy dan Lukman Sardi. Sebagai sutradara, Lola tampil lebih fasih bertutur dengan medium fi lm daripada karya-karya sebelumnya.
Dari berita korupsi di televisi dan media
9 0 T A H U N A L I A U D A H
31 AGUSTUS 2014 | | 61
TEMPO/SUBEKTI
D
IKARUNIAI usia panjang, Ali Audah dijuluki oleh penulis Ger- son Poyk sebagai ”Sastrawan Kesayangan Tuhan”. Gerson meng- ucapkan itu dalam acara Perayaan 90 Tahun Ali Audah sekaligus peluncuran buku 90 Tahun Ali Audah: Yang Berjalan Menyalakan Cahaya: Legenda Zaman Kita di Komunitas Salihara, Jakarta Sela- tan, pada 14 Agustus lalu, tepat sebulan setelah Ali berulang tahun ke-90.Tak ada gelar akademis yang bersanding dengan nama Ali. Sastrawan, kolum- nis, dan penerjemah ini mengenyam pendidikan formal hanya sampai kelas I madrasah ibtidaiyah. Berkat ketekunan yang luar biasa, Ali berkembang menja- di penulis andal, bahkan menjadi dosen luar biasa. Ia menguasai empat bahasa asing: Arab, Inggris, Prancis, dan Jerman. Semua dipelajarinya secara otodidak.
Sepanjang hidupnya, Ali telah menerjemahkan tafsir Quran, biografi Nabi Mu- hammad, dan karya-karya sastra kelas dunia. Kualitas terjemahan Ali membuat dia menjadi panutan tokoh-tokoh sastra Tanah Air. Berikut ini penuturan Ali Au- dah tentang riwayat hidupnya kepada Tempo.
Sastrawan
Kesayangan Tuhan
Ali Audah di rumahnya,
23 Juli lalu. FOTO: TEMPO/WISNU AGUNG PRASETYO
A
DA yang berbeda di rumah baru sastrawan dan penerjemah terke- muka Ali Audah di Pe- rumahan Bogor Baru, Kota Bogor, Jawa Ba- rat. Dinding-dindingnya yang bercat putih bersih bisa terlihat jelas. ”Di rumah yang dulu, dindingnya tak terlihat karena tertu- tup buku,” kata Ali ketika ditemui Tempo, Senin awal Agustus lalu. Di rumah asri itu- lah Ali tinggal bersama istrinya, Maryam Audah, 78 tahun, yang dinikahinya pada 1952. ”Kami baru dua bulan tinggal di sini,”ujar Ali.
Pada usia yang hampir seabad itu, Ali masih leluasa berjalan ke sana-kemari tan- pa tongkat. Tiga kali sepekan, Selasa, Ka- mis, dan Sabtu, ia menyempatkan diri ber- jalan kaki keliling kompleks selama 40 me- nit untuk membuatnya tetap bugar. Kese- hatan ia jaga dengan cara sederhana: ba- nyak makan buah dan sayur. ”WHO mere- komendasikan makan sayur dan buah 180 gram, saya 350 gram,” katanya bangga.
Walhasil, ia tak perlu tongkat untuk mem- bantunya berjalan. Asalkan tak ada tang- ga, Ali bisa berjalan meski perlahan-lahan.
Persoalan tangga itulah yang membuat Ali pindah ke rumah baru. Di rumah lama, yang terletak sekitar 200 meter dari ru- mahnya kini, ruang kerja Ali terletak di lo- teng. Untuk ke sana, ia harus menaiki ba- nyak anak tangga. ”Dulu masih bisa, seka- rang sudah agak sulit,” ujar Ali. Selain per- soalan tangga, fi sik Ali baik-baik saja. Bica- ranya lantang. Pendengarannya baik. Bah- kan wajahnya masih kinclong. ”Banyak orang yang mengira usia saya 70 atau 80 tahun,” katanya. Penulis Gerson Poyk me- nyebutnya ”Sastrawan Kesayangan Tu- han” karena umurnya yang amat panjang.
Tempo menemui Ali dalam empat ke- sempatan sepanjang Juli-Agustus 2014.
Tiga kali di rumahnya dan pertemuan ter- akhir terjadi di Komunitas Salihara, keti- ka sastrawan dan penulis sahabat-saha- batnya, Leon Agusta, Gerson Poyk, Sapar- di Djoko Damono, Toeti Heraty, Benny H.
Hoed, Taufi k Abdullah, Ahmad Syafi i Maa- rif, Rahayu Surtiati Hidayat, Remy Sylado, Goenawan Mohamad, dan lain-lain, ber- kumpul merayakan ulang tahunnya yang
ke-90.
”Saya sudah 30 tahun tidak berjumpa dengan Goenawan Mohamad,” ujarnya.
Dia bercerita bagaimana Goenawan tatka- la berumur 22 tahun bersama Taufi q Isma- il membantu penerjemahan karya pemikir Pakistan, Muhammad Iqbal, The Recon- struction of Religious Thought in Islam.
Goenawan sampai berminggu-minggu ha- rus tinggal kos di Bogor. ”Pemikiran Iqbal sangat mempengaruhi orientasi keagama- an saya,” ia mengungkapkan.
Di kalangan penulis, Ali dikenal sebagai pribadi bersahaja yang tak suka menyan- jung diri. Ali mengaku tak pandai membu- at catatan tentang pribadinya. Satu oto- biografi singkat pernah ia tulis untuk Balai Pustaka pada 1962. Otobiografi sebanyak lima lembar ketikan itu tersimpan di Pu- sat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakar- ta. Berikut ini cerita hidup sastrawan yang menerjemahkan tafsir Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, setebal 1.862 halaman;
biografi Muhammad karya Husain Haikal, yang dicetak ulang puluhan kali; dan Kon- kordansi Quran (879 halaman) itu.
■ ■ ■
SAYA dilahirkan pada 14 Juli 1924 di Bondowoso, sebuah kota kecil yang di- lingkungi Pegunungan Argapura di Jawa Timur. Ayah saya, Salim Audah, peda- gang kecil yang lebih banyak menggu- nakan waktunya untuk membaca. Ter- kadang ia juga mengarang dan menggu- bah syair. Ia juga kerap menjadi khatib di masjid besar Kota Bondowoso. Saya anak bungsu dari lima bersaudara. Ayah me- ninggal ketika usia saya tujuh tahun. Jadi- lah ibu saya, Aisyah Djubran, yang mem- besarkan kami. Ia banting tulang dengan membuka usaha menyewakan delman, juga membuka warung makan.
Saat berumur enam tahun, saya masuk madrasah ibtidaiyah di Jalan Imam Bon- jol. Tanpa diketahui sebabnya, sekolah sama sekali tidak menarik hati saya. Ka- rena itu, saya sering membolos hanya un- tuk main koboi-koboian di sawah, berma- in layangan, atau main gundu. Yang mem- buat saya benar-benar berhenti dari seko- lah adalah pengalaman buruk dengan te- man di sekolah. Ketika itu, saya baru du-
duk di kelas II. Ada murid lebih tua yang selalu mengganggu saya. Anak ini bodoh karena tiga tahun tidak naik kelas. Sering sekali dia menggetok kepala saya.
Pada mulanya saya tidak berani mem- balas karena badannya lebih besar. Lam- TEMPO/ NITA DIAN