E. Pengolahan Data
A.1. Kriteria Penilaian ODTWA
A.1.2. Aksesibilitas
• Air Terjun Lubuk Jering
Air terjun ini berada di dalam kawasan TNBD secara geografis terletak pada 01056’28” LS dan 102040’33” BT. Air terjun Lubuk Jering ini mempunyai tinggi sekitar 20 m. Airnya berasal dari sungai kecil yang mengalir ke Sungai Telentam dengan debit air ± 10 liter/detik (Tim Identifikasi Obyek Wisata Alam Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Wisata Bukit Sari, 2002). Flora yang terdapat disekitar jalur menuju air terjun ini antara lain durian hutan, bulian dan meranti. Fauna yang dapat dijumpai ketika menuju air terjun ini antara lain simpai, monyet ekor panjang, bajing, katak dan berbagai je nis burung.
Kebersihan Air Terjun Lubuk Jering sangat baik, tidak ada pengaruh dari industri, jalan ramai, pemukiman, sampah, vandalisme dan pencemaran lain.
Keamanannya dinilai cukup baik meskipun rawan perambahan namun tidak ada arus sungai yang berbaha ya, tidak ada pencurian dan tidak ada kepercayaan yang mengganggu. Air Terjun Lubuk Jering juga sangat nyaman, udaranya sejuk, bebas bau yang mengganggu, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu. Masyarakat Desa Lubuk Jering belum banyak yang mengetahui keberadaan air terjun ini hanya sebagian kecil saja yang sudah mengetahuinya. Pengelolaan dan pemanfaatan Air Terjun Lubuk Jering ini sama sekali belum dilakukan.
empat/roda dua dalam waktu sekitar 3 jam sedangkan dari ibukota provinsi (Jambi) TNBD berjarak sekitar 220 km dapat ditempuh dalam waktu ± 5 jam (BKSDA Jambi, 2004). Aksesibilitas me nuju TNBD meliputi :
1. Akses Regional
Letak geografis kawasan TNBD yang berada di bagian tengah wilayah Provinsi Jambi memberikan kemudahan pencapaian darat Lintas Tengah Sumatera. Jalur ini terhubung langsung dengan sejumlah pintu masuk regional/internasional perhubungan udara dan laut yaitu :
• Bagian Utara Sumatera : Banda Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru
• Bagian Selatan Sumatera : Bakauheni dan Bandar Lampung.
2. Akses Pencapaian Kawasan
Kawasan TNBD perwilayahan kabupaten dapat diakses dari masing-masing ibukota kabupaten. Kawasan TNBD dapat dicapai melalui :
• Wilayah Kabupaten Sarolangun
ü Sarolangun => 75 km => Bangko => 62 km => Air Hitam (Pematang Kabau)
ü Sarolangun => 24 km => Pauh => 60 km => Air Hitam (Pematang Kabau)
• Wilayah Kabupaten Tebo
ü Muara Tebo => 47.5 km => Tebo Ilir =>35.5 km => Sungai Jernih
• Wilayah Kabupaten Batanghari
ü Muara Bulian => 84 km => Pauh => 60 km => Air Hitam (Pematang Kabau)
Dok. BKSDA Prov. Jambi
Gambar 5. Kondisi jalan kabupaten menuju TNBD
Penilaian komponen aksesibilitas meliputi beberapa unsur yaitu kondisi dan jarak jalan darat, tipe jalan dan waktu tempuh dari pusat kota. Tipe jalan menuju obyek memiliki nilai terbesar yaitu 30 untuk tipe jalan yang terbuat dari tanah.
Tipe jalan tersebut diberi nilai tertinggi karena obyek berada di dalam kawasan taman nasional yang memang tidak dianjurkan untuk dilakukan pengerasan jalan.
Kondisi jalan yang bagus (pengerasan jalan) menuju obyek wisata di kawasan taman nasional bukanlah merupakan sesuatu yang menyebabkan aksesibilitas menjadi tinggi. Hal yang terpenting adalah kemudahan dalam mencapai dan menemukan obyek wisata yang dituju. Pengunjung yang diharapkan datang adalah pengunjung ekowisata yang tidak membutuhkan fasilitas yang lengkap yang terpenting adalah ada jalan yang jelas menuju obyek. Hasil penilaian aksesibilitas disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Penilaian kriteria aksesibilitas obyek di TNBD
Obyek Wisata Alam No. Unsur-unsur
Penilaian Gua Kelelawar
Demplot Tanaman
Obat
Aek Manitik
Air Terjun
Talon
Air Terjun Lubuk Jering Kondisi dan jarak
jalan darat:
<5 km 20 60 60 40 20
5-10 km 25 25 25 25 25
10-15 km 15 15 15 15 15
1.
> 15 km 5 5 5 5 5
2. Tipe jalan 30 30 30 30 30
3. Waktu tempuh dari pusat kota
10 10 10 10 10
Jumlah (nilaix bobot (5)) 525 725 725 625 525
Berdasarkan hasil penilaian kriteria aksesibilitas masing-masing obyek dapat dilihat bahwa obyek Demplot Tanaman Obat dan Aek Manitik memiliki nilai terbesar yaitu 725 kemudian Air Terjun Talon sebesar 625 diikuti oleh Gua Kelelawar dan Air Terjun Lubuk Jering. Untuk mencapai lokasi Demplot Tanaman Obat dapat ditempuh dari Pauh maupun dari Bangko menuju Desa Pematang Kabau berhenti pada Km 43. Jarak demplot ini sekitar 500 m dari jalan kabupaten Desa Pematang Kabau. Jalan menuju Demplot Tanaman Obat berupa jalan tanah dengan lebar jalan sekitar 3 meter dan sangat licin jika dilalui pada saat atau setelah hujan. Jalur menuju lokasi ini sudah cukup jelas meskipun belum terdapat papan petunjuk arah. Untuk menuju lokasi demplot dapat
menggunakan kendaraan roda dua/empat kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter melewati jalan setapak.
Jalan menuju lokasi Aek Manitik dapat ditempuh dengan melewati jalur menuju Demplot Tanaman Obat di lanjutkan dengan berjalan kaki selama ± 2 jam ke arah Timur melewati Kelompok Tumenggung Tarip. Jalan menuju obyek ini berupa jalan setapak dan melewati beberapa anak sungai. Jalur menuju Aek Manitik kurang begitu jelas sehingga dibutuhkan pemandu untuk dapat menemukan lokasi ini.
Dok. BKSDA Prov. Jambi Dok. BKSDA Prov. Jambi
(a) (b)
Dok. BKSDA Prov. Jambi
(c)
Gambar 6. Kondisi jalan menuju obyek (a) Demplot Tanaman Obat, (b) Aek Manitik dan (c) Air Terjun Lubuk Jering
Air Terjun Talon dapat ditempuh melalui Pauh atau Bangko menuju Desa Jernih berhenti pada Km 25 di Desa Jernih (pasar jernih) kemudian menyusuri jalan setapak ke arah Timur dengan menggunakan kendaraan roda dua sekitar 1.5 km dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh ± 750 m atau dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Kondisi jalan menuju obyek Air Terjun Talon akan menjadi sulit ditempuh pada saat hujan karena tanahnya menjadi licin dan berbahaya untuk dilewati. Jalur yang ada sudah cukup jelas meskipun belum terdapat papan petunjuk arah namun untuk menemukan letak air terjun masih diperlukan
pemandu yang dapat menunjukkan lokasinya karena jalan untuk menemukan letak air terjun masih kurang jelas karena tertutup tumbuhan bawah.
Air Terjun Lubuk Jering ini dapat ditempuh dari Pauh dan Bangko menuju Desa Lubuk Jering pada Km 33 dilanjutkan dengan kendaraan roda dua atau berjalan kaki melewati jalan setapak ke arah Timur melewati perkebunan karet milik penduduk Desa Lubuk Jering sejauh ± 3.5 km kemudian berjalan kaki naik- turun bukit sejauh 1.5 km. Jalur menuju Air Terjun Lubuk Jering saat ini dalam kondisi yang buruk karena sudah tidak dapat diketahui secara jelas jalur yang ada akibat penutupan oleh tumbuhan bawah (semak belukar) dan belum ada papan petunjuk arah sehingga obyek ini sulit ditemukan. Sama halnya dengan kondisi jalur pada Air Terjun Lubuk Jering jalur menuju Gua Kelelawar juga tidak begitu jelas akibat penutupan tumbuhan bawah. Untuk menemukan lokasi gua harus menggunakan pemandu dari Orang Rimba karena pihak pengelola sendiri belum mengetahui adanya obyek Gua Kelelawar ini.