• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daya Tarik

Dalam dokumen PENILAIAN POTENSI OBYEK DAN DAYA TARIK (Halaman 34-41)

E. Pengolahan Data

A.1. Kriteria Penilaian ODTWA

A.1.1. Daya Tarik

Daya tarik merupakan faktor yang membuat orang berkeinginan untuk mengunjungi dan melihat secara langsung ke tempat yang mempunyai daya tarik tersebut. Pengkajian komponen daya tarik ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bentuk-bentuk kegiatan rekreasi yang sesuai dengan daya tarik dan sumberdaya yang tersedia. Menurut PHKA (2003a) daya tarik merupakan modal utama yang memungkinkan datangnya pengunjung. Unsur -unsur yang dinilai pada kriteria daya tarik ini yaitu keunikan, kepekaan, variasi kegiatan, jenis sumberdaya yang menonjol, kebersihan obyek, keamanan, dan kenyamanan.

Unsur-unsur daya tarik yang terdapat pada masing-masing obyek wisata alam di TNBD disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Daya tarik obyek wisata alam di TNBD

No. Obyek Wisata Alam Daya Tarik

1. Gua Kelelawar Gua alam berbatu

Fauna : kelelawar, ular dan landak

Flora : kedundung tunjuk, sebalik sumpah, bambu, rotan

Kegiatan : menikmati keindahan, tracking, berkemah, penelitian/pendidikan, hiking

2. Demplot Tanaman Obat Demplot berisi sekitar 52 jenis tanaman obat yang berasal dari Bukit Duabelas

Flora : meranti, bambu, rotan

Fauna : berbagai jenis burung, simpai, bajing, monyet ekor panjang

Kegiatan : menikmati keindahan, tracking, berkemah, penelitian/pendidikan, hiking

3. A e k M anitik Air terjun setinggi 5 m, di sebelah kanan air terjun terdapat gua sarang kelelawar (lebar 6 m, 1.5 m dan dalam 4 m)

Pada dinding air terjun juga terdapat lubang berdiameter 2.5 m

Kegiatan : menikmati keindahan, tracking, memancing, berenang, berkemah, penelitian/pendidikan, hiking

Flora : bulian, kempas, meranti, rotan, bambu

Fauna : burung gagak, simpai, monyet ekor panjang, bajing

4. Air Terjun Talon Air terjun bertingkat tiga dengantinggi sekitar 7 m, 4 m dan 2 m

Kegiatan : menikmati keindahan, memancing, tracking, berenang, berkemah, penelitian/pendidikan, hiking

Flora : pisang hutan, bernai, kasai, bayas, dan harendong bulu

Fauna : kupu-kupu, burung elang, simpai, monyet ekor panjang, dan ikan hias yang terdapat di sungai

5. Air Terjun Lubuk Jering

Air terjun setinggi ± 20 m

Kegiatan : menikmati keindahan, memancing, tracking, berenang, berkemah, penelitian/pendidikan, hiking

Flora : durian, meranti, bulian

Fauna : berba gai jenis burung, simpai, monyet ekor panjang, bajing, katak

Hasil pengamatan terhadap daya tarik yang dimiliki masing-masing obyek wisata alam di TNBD dapat diketahui penilaian kriteria daya tariknya (Tabel 5).

Tabel 5. Penilaian kriteria daya tarik wisata alam di TNBD

Obyek Wisata Alam No. Unsur-unsur

Penilaian Gua

Kelelawar

Demplot Tanaman

Obat

Aek Manitik

Air Terjun

Talon

Air Terjun Lubuk Jering 1. Keunikan sumberdaya

alam

15 10 10 15 10

2. Kepekaan sumberdaya alam

20 25 10 10 10

3. Variasi kegiatan 25 25 30 30 30

4. Jenis sumberdaya alam yang menonjol

20 15 25 25 25

5. Kebersihan lokasi 30 30 30 30 30

6. Keamanan 20 25 25 25 20

7. Kenyamanan 25 30 30 30 30

Jumlah (nilai x bobot (6)) 930 960 960 990 930

Penilaian kriteria daya tar ik pada obyek wisata alam di TNBD terlihat bahwa Air Terjun Talon memiliki nilai daya tarik tertinggi yaitu sebesar 990 kemudian Demplot Tanaman Obat dan Aek Manitik memiliki nilai daya tarik yang sama yaitu 960 selanjutnya Gua Kelelawar dan Air Terjun Lubuk Jering mendapat nilai paling rendah yaitu sebesar 930.

• Gua Kelelawar

Daya tarik Gua Kelelawar adalah keunikan berupa gua berbatu besar. Gua ini terletak di Bukit Punai Banyak. Gua ini sangat gelap karena tidak ada lubang yang dapat ditembus cahaya kecuali dari mulut gua. Mulut gua berada diantara dua buah batu besar dan tidak terlalu lebar hanya bisa dimasuki orang secara satu persatu dengan posisi badan miring dan sedikit membungkuk. Namun ruang di bagian dalam gua cukup luas. Di dalam gua ini banyak sekali terdapat kelelawar sehingga Orang Rimba menyebutnya Gua Kelelawar. Menurut kepercayaan Orang Rimba gua ini merupakan gua setan yang apabila kita masuk ke dalamnya maka akan membuat kita menjadi sakit.

Variasi kegiatan yang dapat dilakukan pada obyek ini antara lain menikmati keindahan alam hutan Bukit Punai Banyak, tracking, berkemah, penelitian, dan hiking. Jenis sumberdaya alam yang menonjol adalah batuan yang menyusun gua.

Flora yang terdapat disekitar gua antara lain kedundung tunjuk (sala h satu ‘pohon sialang’ pohon yang terdapat sarang lebah madu milik Orang Rimba), ‘sebalik sumpah’ (sejenis jambu-jambuan yang bijinya digunakan untuk kalung dan gelang

yang dipercaya dapat menangkal sumpah serapah orang), bambu dan rotan. Fauna yang dapat dijumpai selama perjalanan menuju Gua Kelelawar antara lain siamang, burung gagak, burung pelatuk, kangkareng, dan katak bertanduk. Selain itu di dalam gua juga terdapat fauna antara lain kelelawar, ular dan landak.

Kebersihan lokasi Gua Kelelawar ini sangat baik, bebas dari pengaruh industri, jalan ramai, pemukiman penduduk, sampah, vandalisme dan pencemaran lain.

Keamanannya cukup baik meskipun ada kepercayaan Orang Rimba mengenai gua ini namun cukup aman karena tidak ada arus sungai yang berbahaya, tidak ada penebangan dan perambahan serta tidak ada pencurian. Gua Kelelawar juga cukup nyaman walaupun ada bau yang cukup mengganggu berasal dari kotoran kelelawar namun udaranya sejuk, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu. Gua Kelelawar ini sama sekali belum dikelola. Pengunjung yang datang pun belum ada. Diperlukan perencanaan yang matang dan pengkajian secara mendalam tentang gua ini sehingga dapat menarik minat pengunjung untuk datang.

Gambar 2. Pintu masuk Gua Kelelawar

• Demplot Tanaman Obat

Ekspedisi biota medika tahun 1998 telah menemukan biota obat hutan di kawasan TNBD yang sudah dimanfaatkan oleh Komunitas Orang Rimba.

Temuan-temuan ini diperoleh melalui pengamatan dan wawancara dengan Tumenggung Ngamat, Tumenggung Kecik, Pagar Alam, Ngunci Lidah dan Istri Tumenggung Kecik di Kejasung Kecil, Tumenggung Jelitai di Pasir Putih, Tumenggung Tarip dan istri di Air Hitam. Jenis biota medika yang ditemukan meliputi 137 jenis yang terdiri dari 101 jenis tumbuhan obat, 27 jenis cendawan obat dan 9 jenis hewan obat. Sebagian besar tumbuhan obat tersebut masih tergolong tumbuhan liar/belum dibudidayakan (BKSDA, 2004).

Tumbuhan-tumbuhan obat tersebut dikumpulkan dan ditanam di satu lokasi yang disebut demplot. Demplot tanaman obat ini dibuat sekitar tahun 2001. Di dalam demplot seluas 0.5 Ha ini terdapat sekitar 101 jenis tanaman obat yang berasal dari Bukit Duabelas namun saat ini hanya terdapat sekitar 52 jenis tanaman obat saja. Tanaman obat tersebut telah diberi la bel berisi keterangan mengenai nama lokal, khasiat, bagian yang digunakan dan cara penggunaannya.

Demplot Tanaman Obat ini memiliki nilai pengetahuan mengenai berbagai jenis, khasiat, bagian yang digunakan dan penggunaan tumbuhan obat yang terdapat di TNBD, nilai budayanya berupa penggunaan tumbuhan obat oleh Orang Rimba untuk ritual-ritual adat dan nilai pengobatan secara tradisional oleh Orang Rimba.

Kegiatan yang dapat dilakukan pada obyek ini antara lain menikmati keindahan alam, tracking, berkemah, pendidikan/penelitian mengenai tumbuhan obat, dan hiking. Flora yang terdapat disekitar demplot antara lain meranti, bambu dan rotan. Fauna yang dapat dijumpai selama perjalanan menuju demplot antara lain berbagai jenis burung, monyet ekor panjang, bajing dan simpai. Lokasi obyek ini sangat bersih tidak ada pengaruh dari industri, jalan ramai, pemukiman, sampah, vandalisme dan pencemaran lain. Keamanannya pun baik tidak ada arus sungai yang berbahaya, tidak ada penebangan dan perambahan, tidak ada pencur ian dan tidak ada kepercayaan yang mengganggu. Demplot Tanaman Obat ini sangat nyaman, udaranya sejuk, bebas bau yang mengganggu, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu.

Dok. BKSDA Prov. Jambi Dok. BKSDA Prov. Jambi

(a) (b)

Gambar 3. (a) Demplot Tanaman Obat dan (b) salah satu jenis tanaman obat yang terdapat di demplot

Pengunjung yang datang umumnya para peneliti yang bertujuan untuk penelitian dan menambah pengetahuan mengenai tumbuhan obat yang biasa digunakan oleh Orang Rimba. Demplot Tanaman Obat ini belum dikelola secara

optimal. Hal ini terlihat dari kondisi demplot yang kurang terawat dan berkurangnya jenis tanaman obat di dalam demplot.

• Aek Manitik

Aek Manitik merupakan air terjun dengan ketinggian sekitar 5 m. Air terjun ini berada di dalam kawasan TNBD secara geografis terletak pada 01055’21” LS dan 102034’58” BT. Disebut “aek manitik” berasal dari kata aek titek (bahasa rimba) yang artinya air yang jatuh. Air ini berasal dari aliran Sungai Paku Aji dengan debit sekitar 20 liter/detik. Di sebelah kanan air terjun terdapat gua sarang kelelawar (lebar 6 m x 1.5 m x dalam 4 m). Pada dinding air terjun juga terdapat lubang berdiameter 2.5 m (Tim Identifikasi Obyek Wisata Alam Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Wisata Bukit Sari, 2002).

Kegiatan yang dapat dilakukan di lokasi ini antara lain menikmati keindahan alam, memancing, trecking, berenang, berkemah dan hiking. Jenis sumberdaya yang menonjol adalah batuan yang terdapat di Sungai Paku Aji, air terjun yang jernih dan belum tercemar. Flora di sekitar Aek Manitik antara lain bulian, meranti, bambu dan rotan. Fauna yang dapat dijumpai sepanjang perjalanan menuju Aek Manitik antara lain burung gagak, bajing, simpai, dan monyet ekor panjang. Obyek Aek Manitik ini sangat bersih, tidak ada pengaruh dari industri, jalan ramai, pemukiman, sampah, vandalisme dan pencemaran lain.

Keamanannya baik, tidak ada arus berbahaya, tidak ada penebangan dan perambahan, tidak ada pencurian dan tidak ada kepercayaan yang mengganggu.

Aek Manitik juga dinilai sangat nyaman, udaranya sejuk, bebas bau yang mengganggu, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu.

Pengunjung yang datang ke lokasi ini masih sangat jarang. Obyek ini cukup potensial untuk dikembangkan karena lokasinya yang tidak begitu jauh dengan Demplot Tanaman Obat.

• Air Terjun Talon

Secara geografis Air Terjun Talon terletak pada 01058’08” LS dan 1020 43’18” BT. Air Terjun Talon tidak terlalu tinggi namun memiliki tiga tingkat dengan tinggi masing-masing tingkat sekitar 7 m, 4 m dan 2 m. Debit air 60 liter/detik berasal dari Sungai Karang mengalir ke hulu Sungai Jernih. Air yang

mengalir pada air terjun ini sangat jernih. Terdapat kolam di bawah air terjun dengan kedalaman ± 4 m (Tim Identifikasi Obyek Wisata Alam Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Wisata Bukit Sari, 2002) . Kolam ini dapat digunakan untuk berenang/mandi, kegiatan lain yang dapat dilakukan di lokasi ini yaitu memancing, trecking, berkemah, dan hiking.

(a) (b)

Gambar 4. Air Terjun Talon : (a) tingkat satu setinggi 7 m, (b) tingkat dua setinggi 4 m.

Jenis sumberdaya alam yang menonjol yaitu air sungai yang jernih, batuan yang terdapat di sungai, flora yang terdapat di sekitar air terjun antara lain pisang hutan, bernai (buahnya enak dan bisa dimakan), kasai (buah seperti buah enau dan bisa dimakan), bayas, dan harendong bulu. Fauna yang dapat dijumpai antara lain kupu-kupu, burung elang, simpai, monyet ekor panjang, dan ikan hias.

Kebersihan Air Terjun Talon sangat baik, tidak ada pengaruh dari industri, jalan ramai, pemukiman, sampah, vandalisme dan pencemaran lain. Keamanannya cukup baik, tidak ada arus sungai yang berbahaya, tidak ada penebangan dan perambahan, tidak ada pencurian dan tidak ada kepercayaan yang mengganggu.

Namun di lokasi ini sangat rawan pohon tumbang karena kondisi pohon yang sudah tua. Air Terjun Talon juga sangat nyaman, udaranya sejuk, bebas bau yang mengganggu, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu.

Umumnya masyarakat Desa Jernih sudah ada yang mengetahui keberadaan Air Terjun Talon ini meskipun belum banyak yang datang mengunjunginya. Obyek ini sama sekali belum dikelola padahal daya tarik Air Terjun Talon memiliki nilai yang tertinggi dari obyek lain. Hal ini perlu diperhatikan untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan wisata alam di TNBD.

• Air Terjun Lubuk Jering

Air terjun ini berada di dalam kawasan TNBD secara geografis terletak pada 01056’28” LS dan 102040’33” BT. Air terjun Lubuk Jering ini mempunyai tinggi sekitar 20 m. Airnya berasal dari sungai kecil yang mengalir ke Sungai Telentam dengan debit air ± 10 liter/detik (Tim Identifikasi Obyek Wisata Alam Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Wisata Bukit Sari, 2002). Flora yang terdapat disekitar jalur menuju air terjun ini antara lain durian hutan, bulian dan meranti. Fauna yang dapat dijumpai ketika menuju air terjun ini antara lain simpai, monyet ekor panjang, bajing, katak dan berbagai je nis burung.

Kebersihan Air Terjun Lubuk Jering sangat baik, tidak ada pengaruh dari industri, jalan ramai, pemukiman, sampah, vandalisme dan pencemaran lain.

Keamanannya dinilai cukup baik meskipun rawan perambahan namun tidak ada arus sungai yang berbaha ya, tidak ada pencurian dan tidak ada kepercayaan yang mengganggu. Air Terjun Lubuk Jering juga sangat nyaman, udaranya sejuk, bebas bau yang mengganggu, bebas kebisingan dan tidak ada lalu lintas umum yang mengganggu. Masyarakat Desa Lubuk Jering belum banyak yang mengetahui keberadaan air terjun ini hanya sebagian kecil saja yang sudah mengetahuinya. Pengelolaan dan pemanfaatan Air Terjun Lubuk Jering ini sama sekali belum dilakukan.

Dalam dokumen PENILAIAN POTENSI OBYEK DAN DAYA TARIK (Halaman 34-41)

Dokumen terkait