• Tidak ada hasil yang ditemukan

قِبىٰت هح

B. Prinsip-Prinsip dalam Pembelajaran 21

6. Aktivitas

Para ahli psikologi setelah mempelajari proses belajar menyampaikan fakta bahwa individu merupakan seseorang yang bereaksi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi belajar merupakan suatu hal yang kompleks dan terdiri dari stimulus bekerja yang banyak. Kemudian dititikberatkan pula bahwa suatu individu merupakan seseorang yang memiliki kecerdasan dan tujuan dalam hidup.

Setiap insan memiliki sesuatu yang luar biasa dari makhluk

hidup yang lain. Allah menciptakan manusia dengan sangat sempurna agar manusia dapat meningkatkan kehidupannya.

Menalar dan berpikir merupakan salah satu kegiatan yang bersumber dari akal pikiran manusia melalui pengolahan alat-alat panca indra dan akan menghasilkan suatu ilmu pengetahuan yang tepat, benar, dan bermanfaat. Akan tetapi penalaran dan berpikir sangat perlu dibatasi dengan spiritual, moral, aturan, serta norma- norma yang berlaku. Jadi kegiatan dalam berpikir adalah perenungan, analisis, pertimbangan, percakapan dengan diri sendiri pembuktian suatu hal, perbandingan, penggolongan, memberikan alasan, menemukan kausalitas, menyelidiki jalan pikiran, berkesimpulan, dan lain sebagainya.27

Maka dari itu Thomas M Risk menyampaikan terkait belajar bahwa “the guidance of learning experience is teaching for us”.28 Sedangkan proses dalam membimbing seseorang belajar atau dari pengalaman belajar disebut dengan definisi mengajar. Peserta didik yang kreatif dan aktif terhadap lingkungannya akan menciptakan suatu pengalaman belajar bagi dirinya sendiri. Seorang pendidik tidak dapat belajar untuk peserta didiknya, akan tetapi pendidik bisa membantu dan membimbing peserta didik belajar. Peserta didik akan dapat menguasai keterampilan apabila ia terus mengkoordinasikan dan melatih ototnya. Apabila peserta didik menginginkan sikap dan perilaku tertentu, maka mereka harus memiliki beberapa pengalaman, dan apabila mereka juga ingin dapat memecahkan dan menyelesaikan masalah dengan baik, maka mereka perlu memikirkan berdasarkan tahapan-tahapan tertentu.

Dengan demikian belajar bukanlah suatu proses pertumbuhan fisik, melainkan hasil dari suatu pengalaman

27 Jalaluddin & Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 125-126.

28 Thomas M. Risk, Principles and Practices … Op. Cit., 7.

seseorang melalui proses yang membuat seseorang tersebut mengalami perubahan. Wahyudin Nur Nasution mengutip dari Chance bahwa pengalaman yang menyebabkan perubahan perilaku disebut dengan belajar.29 Adapun Sardiman AM berpendapat bahwa definisi belajar adalah perubahan tingkah laku memerlukan suatu usaha.30 Belajar juga sering diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang tetap atau statis akibat suatu pengalaman atau latihan-latihan yang dilakukan. Wahyudin Nur Nasution dalam Anderson menyampaikan bahwa belajar merupakan suatu pengalaman yang menghasilkan tingkah laku tersembunyi yang terbilang tetap.31

Ada beberapa definisi belajar yang dikumpulkan oleh M.

Ngalim Purwanto, yakni sebagai berikut :

a. Dalam buku Hilgard dan Bower yang berjudul “theoris of learning” menyatakan bahwa belajar berkaitan dengan berubahnya perilaku individu yang diakibatkan oleh pengalaman-pengalamannya yang berkelanjutan dan terus menerus terhadap kondisi tertentu. Adapun perubahan perilaku yang terjadi tidak dapat terlihat dengan kasat mata karena pembawaan dan situasi dan kondisi individu tersebut, seperti merasa lelah, efek obat dan lain-lain.

b. Dalam bukunya yang berjudul “The conditions of learning”, Gagne menyampaikan bahwa belajar merupakan usaha peserta didik yang dipengaruhi oleh suatu rangsangan yang bekerja sama dengan ingatan yang mengakibatkan berubahnya perilaku seiring berjalannya waktu, yakni waktu sebelum dan sesudah terjadinya kondisi tersebut.

c. Dalam bukunya yang berjudul “introduction to psychology”,

29 http://litagama.org/jurnal/Edisi5/StrategiPemb.htm

30 Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi … Op. Cit., 21.

31 Ibid.

Morgan menyampaikan bahwa belajar merupakan pengalaman dan latihan yang menghasilkan suatu perubahan perilaku yang tetap.

d. Dalam bukunya “educational pschology”, Witherington menyampaikan bahwa belajar didefinisikan sebagai suatu pola yang baru dalam perubahan perilaku dan kepribadian seseorang yang meliputi kebiasaan, kecerdasan, kecakapan, serta sikap.32

Selain itu ada yang mengartikan belajar dengan suatu pengalaman yang mengalami transformasi dan dimodifikasi yakni learning is experience that transformating and modificating also strengthening of behavior.33 Definisi ini bertolak belakang dengan beberapa definisi di atas yang menyatakan bahwa belajar bukanlah suatu tujuan atau hasil melainkan suatu usaha melalui proses dan kegiatan-kegaiatan. Sebab belajar adalah melakoni, tidak hanya mengingat. Belajar menghasilkan suatu perubahan, dalam artian menitikberatkan pada perubahan perilaku peserta didik, tidak hanya penguasaan hasil pengalaman dan latihan-latihan. Hal ini selaras dengan Slameto yang menyatakan bahwa belajar merupakan usaha yang memerlukan suatu proses guna mendapatkan perubahan perilaku baru secara utuh berdasarkan pengalaman dan hubungan sosialnya dengan lingkungan sekitarnya.34

Wittrock juga berpendapat hal yang sama terkait belajar merupakan suatu proses yang memiliki hasil akhir yakni "learning is the term to changed behavior through the process involve of experiences. It’s the process of acquiring relatively permanent change in attitude, ability, understanding, information, skill through

32 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan … Op. Cit., 84.

33 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), 27.

34 Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT.

Rineka Cipta, 2003), 2.

experience, and knowledge, ".35

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa dalam belajar terdapat tiga komponen utama.

Yang pertama yakni akibat dari belajar adalah adanya perubahan perilaku, yang kedua adalah belajar akan mengakibatkan perubahan yang statis dan permanen. Dan yang ketiga adalah perubahan yang terjadi bukan diakibatkan oleh proses tumbuh dan berkembang ataupun perubahan situasi fisik, melainkan diakibatkan oleh pengalaman-pengalaman serta latihan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, belajar yang dimaksud adalah belajar yang dapat mengubah manusia menjadi lebih baik dan ke arah yang lebih positif dengan memanusiakan setiap manusia secara aktif, berkelanjutan, fungsional, dan disadari. Dalam artian proses belajar harus menghasilkan sebab-akibat yang sangat selaras dengan makhluk Tuhan yang merupakan fitrah setiap insan serta sebagai pemimpin atau khalifah di Bumi.

Berdasarkan uraian dan contoh-contoh tersebut, maka dapat diklasifikasikan menjadi 2, yakni keaktifan jiwa dan keaktifan raga.

Keaktifan raga adalah seperti bekerja, bermain, dan sebagainya, sehingga siswa yang memiliki keaktifan jiwa cenderung akan melakukan semua hal dengan optimal seperti mengamati, menyelidiki, mendengarkan, mengingat, memaparkan dan menguraikan, serta mengintegrasikan aturan satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu untuk mencapai hasil yang diinginkan, perlu mengerahkan secara optimal semua daya dan rasa yang dimiliki.

Hal ini akan berdampak terhadap keaktifan jiwa atau rohani manusia apabila raganya pada suatu waktu aktif. Maka dari itu keaktifan jiwa dan keaktifan raga sangat berkaitan dan saling melengkapi satu dengan yang lain.

35 http://litagama.org/jurnal/Edisi5/StrategiPemb.htm

Paul B Diedrch melakukan penelitian terkait aktifitas- aktivitas jiwa atau rohandi dan raga atau jasmani pada suatu sekolah dengan hasil sebagai berikut :

a. Kegiatan menulis atau writing activities, yang meliputi kegiatan menulis atau menyalin karangan, cerita, angket dan lain-lain.

b. Kegiatan Emosi/Perasaan atau Emotional activities, meliputi kegiatan yang fokus terhadap minat, emosional seperti rasa bahagia, berani, takut, kagum, marah, sedih, dan lain-lain.

c. Kegiatan Mendengar atau Listening activities, meliputi kegiatan mendengarkan pidato, tausiyah atau ceramah spiritual, diskusi percakapan, mendengarkan musik, dan lain-lain.

d. Kegiatan Melihat atau Visual activity, meliputi mengamati ilustrasi gambar, membaca, mencoba setelah memperhatikan, dan lain-lain.

e. Kegiatan Berpikir atau Mental activities, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan menganalisis, menentukan suatu keputusan, memberi tanggapan, mengingat, , dan lain-lain.

f. Kegiatan Motorik atau Motor activities, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan berkebun atau bercocok tanam, bermain, mereparasi, memelihara dan merawat hewan, dan lain-lain.

g. Kegiatan Linguistik atau Oral activities, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan menyampaikan ide dan pendapat, wawancara, memberikan saran atau wejangan, berdiskusi, dan lain-lain.

h. Kegiatan Menggambar atau Drawing activities, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan menggambar peta, ilustrasi, grafik, dan lain-lain.36

Kegiatan-kegiatan tersebut tentu saling melengkapi dan berkaitan antar yang satu dengan lainnya, misalnya seperti kegiatan emosi/perasaan dan berpikir/mental juga menjadi bagian kegiatan

36 Dirjen Binbaga Islam, Metodik Khusus Pengajaran … Op. Cit., 106.

motorik. Berdasarkan sisi kelebihan dan penerapan prinsip-prinsip setiap kegiatan ditandai dengan ketanggapan seseorang terhadap sesuatu atau masalah yang ia selesaikan dan ia atas dengan baik secara berulang, sehingga dapat menciptakan sifat-sifat positif yang meliputi rajin, percaya diri, mudah beradaptasi dan sosialisasi, berhati-hati, teliti, dan lain-lain.

Pada mata pelajaran spiritual agama pun, kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan seperti prinsip mata pelajaran yang lain, namun yang harus diingat oleh pendidik adalah jadwal atau waktu mengajar. Karena seorang pendidik harus memberikan waktu dan kesempatan bagi peserta didik secara individu ataupun kelompok untuk aktif dalam kegiatan jasmani maupun rohani. Oleh sebab itu, seorang pendidik perlu mempertimbangkan metode pembelajaran yang tepat agar peserta didik menjadi aktif, seperti memberikan kuis, metode ceramah, tanya jawab, metode diskusi, memberikan kesempatan peserta didik berargumen, presentasi, merangkum, dan lain-lain. Adapun metode-metode yang menunjang dan sesuai adalah seperti metode proyek yang dilakukan secara individu ataupun kelompok, sosiodrama, metode diskusi, dan lain sebagainya.

Dalam dokumen Budaya Mutu Kepemimpinan Pendidikan (Halaman 34-40)