لميِم
B. Transformasi Kepemimpinan
beberapa pemimpin atau kepala daerah sebagai akibat dari kurangnya kemampuan tokoh pemerintahan dalam berpolitik. Oleh sebab itu dalam sudut pandang ini, budaya politik tokoh-tokoh elit daerah prlu didesak dan diubah.
Kepemimpinan transformasi atau Transformational Leadership menurut Bass dan Avolio (1994)167 memiliki beberapa komponen tingkah laku, diantaranya : 168 Yang pertama yakni sikap kepercayaan dalam diri seorang pemimpin transformasi yang besar yang disebut dengan istilah idealized influence. Seorang pemimpin transformasi selalu menjunjung tinggi serta meneguhkan nilai-nilai, dan mereka juga selalu ada dan hadir di situasi sesulit apa pun.
Langkah dan perjalanan pemimpin ini selalu diiringi dengan komitmen tinggi, sehingga menumbuh kembangkan rasa bangga dalam diri anggotanya. Para pemimpin transformasi memiliki tujuan serta visi-misi yang jelas dan pasti dalam setiap langkah- langkah yang mereka lakukan, serta merupakan sosok yang selalu tekun, ulet, dan rajin.
Yang kedua adalah perilaku dalam perenungan, pengidentifikasian serta pemikiran para pemimpin transformasional terhadap kebutuhan para anggota atau karyawannya yang disebut dengan individualized consideration.
Selain itu peranan seorang pemimpin transformasi adalah memberikan peluang yang sebesar-besarnya kepada para karyawan untuk belajar, membangkitkan semangat para karyawan untuk belajar dan berkarya, menjadi pelatih dan tauladan baik bagi para karyawan, terus berupaya dalam mengenali dan memahami kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh para karyawannya, serta menjadi pendengar yang baik bagi para karyawannya.
Pemimpin transformasional tidak takut wewenangnya
166 Burn, J.M. 1978.Laedership dalam new York: harper and Row dalam Jacqueline N Hood:”The Relationship of leadership style and CEO Values to Ethical Paractice in Organizations”.Journal
of Businees Ethics. Dordrecth
167Bass, BM.& Avolio, BJ.1994.Improving Organizational” effectiveness through transformational leadership. Thousand Oaks, CA: sage
168 Ibid hal 23
didelegasikan, sebab ia menyadari bahwa ia tidak bisa bekerja sendirian, sehingga perlu memberdayakan para karyawannya untuk berkarya meraih kesuksesan.
Yang ketiga adalah pemberian gagasan dan inspirasi kepada para karyawan guna mengatasi dan memecahkan sesuatu yang tidak terduga sebagai bentuk upaya dan usaha pemimpin transformasional. Hal ini disebut dengan inspirational motivation.
Pemimpin transformasional juga memberikan tantangan kepada para karyawan agar standar yang tinggi dapat merek capai, yakni dengan cara memberikan kesempata kepada para karyawan untuk belajar, berkarya, dan berprestasi melalui keterbukaan dalam menerima masukan dan solusi terhadap berbagai masalah serta ancaman yang dapat terjadi. Oleh sebab itu, terciptalah kebudayaan berani berbuat salah serta berani mengambil resiko, sebab suatu kesalahan merupakan langkah utama dari pengalaman dalam mempelajari segala hal. Menurutnya suatu kata merupakan senjata utama yang dapat membangunkan semangat kinerja para karyawannya. Untuk memberikan motivasi kepada para karyawannya, pemimpin transformasional menggunakan metafora serta berbagai simbol.ta
Maka tak heran bahwa pemimpin transformasional selalu berbicara dengan optimis dan antusias. Selain itu, pemimpin ini hrus dapat memposisikan dirinya sebagai tauladan yang baik bagi para karyawannya, mengajak para karyawan untuk menemukan esensi dalam suatu pekerjaan agar para karyawan memiliki tokoh tauladan serta memiliki sikap ikhlas dan suka rela dalam berbagai hal.
Yang keempat yakni memberikan kesempatan kepada para karyawan untuk memandang suatu hal dengan sudut pandang yang baru dan berbeda. Hal ini disebut dengan intellectual stimulation, yang merupakan senjata atau alat utama bagi pemimpin
transformasional. Pemimpin transformasional juga mengawal logika dalam berimajinasi yang satu padukan dengan intuisi untuk mendorong para karyawan dalam berkreasi, berkarya, dan berprestasi. Selain itu, pemimpin transformasional juga selalu merisaukan status quo dengan mempertanyakan alasan organisasinya harus berada di dalam status quo tersebut. Para karyawan juga selalu diajak untuk berani berpendapat terkait asumsi lama dan tradisi uang yang dapat dipertanyakan, ditentang, dikaji, dikritisi, serta diteliti oleh para karyawan, sebab pemimpin ini menyadari bahwa keyakinan tersebut dapat menghambat dan memperlambat pola pikir para karyawannya.
Menurut Dwi (2007)169 pemberian standar inspirasi, penampilan kerja, serta prestasi yang baik perlu dilakukan guna mewujudkan standar tersebut sebagai bentuk implementasi kepemimpinan transformasional atau Transformational leader di lapangan. Adapun komponen yang terlibat dalam proses transformasional meliputi : yang pertama, secara umum pendakian terhadap kebutuhan perlu dilibatkan, agar para karyawan memiliki kemampuan dalam memperkokoh diri atau self reinforcing, serta memiliki kemampuan dalam mengarahkan diri atau self directing.
Yang kedua yakni dengan meningkatkan dan membimbing para karyawan agar meiliki kemampuan dalam mengendalikan diri atau self controlling, mengembangkan diri atau self actualizing , serta kemampuan dalam mengatur diri atau self regulating.
1. Tranformational Leadership
Transformational Leader atau kepemimpinan transformasional memiliki instrumen transformasional yang meliputi
169 Dwi Suryanto.2007. Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.Total Data.
Bandung
keterampilan, sikap, dan nilai-nilai, yakni;170Sudut pandang seorang pemimpin terhadap dirinya adalah berperan sebagai agen perubahan atau agent of change yang dipercaya oleh banyak orang, yang memiliki kepedulian yang tinggi, memiliki keberanian dalam mengambil keputusan yang tepat dan berani menghadapi resiko yang akan terjadi, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan para karyawan, fleksibel, meneguhkan nilai-nilai dan perilaku yang baik, terampil, terbuka, berintelektual, selalu belajar dari kesalahan dan pengalaman, memiliki konsep berpikir yang sistematis, memiliki impian atau dreams, mampu menganalisis berbagai masalah dengan teliti dan hati-hati, serta memiliki keyakinan dalam berintuisi.
2. Transactional Leadership
Bass171 mendefinisikan kepemimpinan transaksional atau transactional leadership sebagai proses memberikan imbalan terhadap kinerja yang telah dilakukan dan dikerjakan oleh para karyawan sebagai bentuk upaya dalam memotivasi para karyawan untuk kepentingan dan tujuan utama.
Proses pertukaran yang dilakukan berlandaskan nilai-nilai yang sesuai dan relevan seperti nilai tanggung jawab, kejujuran, kesesuaian, serta unsur timbal balik. Pemimpin transaksional atau transactional leader berdasarkan kewenangan birokratis yang menitikberatkan pada kekuasaan yang resmi dan menghargai nilai- nilai serta tradisi, memiliki ciri-ciri yang meliputi:172 Kebutuhan manusia yang dimanfaatkan sebaik mungkin dalam menumbuh
170Bass, BM.& Avolio, BJ.1994.”Improving Organizational” effectiveness through transformational leadership. Thousand Oaks, CA: sage
171 Ibid hal 49
172 Dwi Suryanto.2007. Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul.Total Data.
Bandung
kembangkan para karyawan agar meningkatkan kinerja untuk mendapatkan imbalan, selalu berpikir tentang kegiatan rutin, posisi dalam politik, kewenangan dan kekuasaan, mempersatukan sebab dan akibat, serta berlandaskan tujuan-tujuan terdekat. Pemimpin transaksional selalu fokus terhadap isu-isu taktis, berorientasi pada hubungan manusia atau human relations untuk memenuhi harapan serta sistem secara efektif dan efisien, memperlancar hubungan antar karyawan, memberikan jaminan jangka pendek terhadap keuntungan yang diperoleh, serta meningkatkan hasil secara menyeluruh dengan mendorong sistem dan struktur. Dalam artian, pemimpin transaksional tidak berfokus pada upaya dalam pencegahan terhadap masalah-masalah, melainkan lebih berupaya dalam menangani berbagai masalah dengan menjalankan berbagai tindakan yang nyata.
Transformational Leadership bisa dimiliki oleh siapapun dalam organisasi, baik bawahan maupun atasan. Ia hanya dimiliki oleh seorang pemimpin dan belum tentu dimiliki oleh seorang pimpinan. Ada perbedaan antara pemimpin dan pimpinan.
Seseorang disebut pimpinan berkaitan dengan status yang dimilikinya sehingga dia memiliki legitimasi power untuk melakukan perubahan. Karena ia seorang direktur, manajer, ketua, presiden, bupati dan sebagainya. Namun, dalam setting sosial organisasi yang menentukan siapa pemimpinnya adalah siapa yang paling berpengaruh di sana. Dan itulah Sang Pemimpin.
Oleh karena itu transformational leadership yang dimiliki oleh atasan dan bawahan akan menghasilkan proses saling meningkatkan dan saling mendukung satu sama lain.Beberapa studi tentang efektifitas kepemimpinan mempelajari bagaimana tingkah laku kepemimpinan efektif terjadi. Tingkah laku transformational leadership biasanya dikorelasikan lebih kuat membangun efektifitas dibandingkan dengan dengan transactional
leadership. Namun, beberapa tingkah laku transactional leadership juga relevan dengan keefektifan pemimpin. Kesimpulan bahwa pemimpin yang efektif menggunakan gabungan tingkah laku transactional dan transformational.
Tema kepemimpinan demokrasi prespektif Joseph Schumpeter oleh Gerry Mackie (2009)173. Schumpeter mendefinisikan demokrasi sebagai kompetisi leadership atau kepemimpin setelah perang dalam dunia politik serta menentang bahwa kepentingan dan keperluan umum serta subjek individu memiliki peranan penting di dalam demokrasi. Schumpeter juga berpendapat bahwa demokrasi tidak memiliki nilai intrinsik, namun hanya berisi metode. Kebanyakan yang terjadi adalah seorang pemimpin yang ambis terhadap perspektifnya, sedangkan pemilih tidak dapat mengendalikannya. Sedangkan Gerry menyatakan bahwa secara perspektif dan deskriptif, kepemimpinan dalam sistem demokrasi sangatlah tidak mungkin dan tidak dapat dinalar. Pilar-pilar demokrasi tidak dapat dibangun dengan mudah, walaupun pemilihan dilakukan secara kompetitif. Sebab makna dari demokrasi ialah menciptakan nilai-nilai serta kepentingan bersama secara universal.
Martin Clarke174 dengan studi tentang pengaruh dari kepemimpinan organisasi terhadap kemajuan demokrasi. Saat ini muncul anggapan negatif di masyarakat mengenai hubungan masyarakat yang mulai mengalami tingkat pluralisme dan aspek- aspek tertentu dalam demokrasi di organisasi. Secara spesifik model kepemimpinan yang diberlakukan banyak mengalami ketidak sesuaian dalam birokrasi dan organisasi. Dalam artikel ini
173 Gerry, Mackie (2009). Schumpeter’s Leadership Democracy. Political Theory, Vol.37, No.1, hal. 128- 153.
174 Martin, Clarke. A Study of the Role of ‘Representative’ Leadership in Stimulating Organization Democracy. Laedership, Vol.2, No.4, 427-450 (2006).
menawarkan cara terbaik menjadi pemimpin yang baik dalam organisasi. Dalam organisasi politik diperlukan karakter kepemimpinan yang bisa menghargai pluratitas, representasi anggota atau bawahan yang berbeda, dengan memusatkan roda organisasi pada anggota. model kepemimpinan ini dieksplorasi dari data yang diperoleh dari 31 manajer senior di lima organisasi komersial yang berbeda. Pengamatan dilakukan hubungan kalusal antara konteks organisasi, manajerial kognisi akan keneragaman, kepentingan pribadi, kekuasaan dan politik. Kepemimpinan adalah kekuatan masa depan dalam membentuk pemerintahan yang lebih demokratis.
Kajian tentang memelihara demokrasi ditulis oleh Philip A.
Woods dan Peter Gronn.175 Dia menulis adanya pengaruh kepemimpinan terhadap terbentukya organisasi atau pemerintahan yang demokratis. Sangat memprihatinkan apabila ada pemimpin bersifat ortodoksi untuk bisa mengontrol atau membuat anggota organisasi patuh. Seorang pemimpin diharapkan mampu melahirkan gagasan bagus untuk bisa mempengaruhi etos kerja para anggota atau pengurus sebuah organisasi sehingga bisa terwujud organisasi yang demokratis. Jadi kesimpulan dan saran dari artikel yang ditulis oleh Philip dan Gronn, bahwa perlu di munculkan berbagai pendekatan oleh pemimpin atau pembuat kebijakan untuk memajukan organisasi, artinya kepemimpinan yang demokratis akan melahirkan organisasi yang demokratis pula.