Dr. Subakri, M.Pd.I Anas Ma’ruf A nnizar, M.Pd
Budaya Mutu
Kepemimpinan
Pendidikan
Editor: Ayu Chinintya Lestari Proofreader: Sofiah, M.E
Diterbitkan & dicetak oleh:
IAIN Jember Press
Budaya Mutu Kepemimpinan Pendidikan
Penulis
Dr. Subakri, M.Pd.I Anas Ma’ruf Annizar, M.Pd
Editor:
Ayu Chinintya Lestari
© Hak Cipta dilindungi undang-undang All rights reserved
Cetakan I: September 2021 (viii + 320 hlm. 145 mm x 210 mm)
ISBN: 978-602-414-099-1
Diterbitkan oleh: IAIN Jember Press
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Jl. Mataram No. 1 Mangli Kaliwates Jember
E-mail: [email protected]
Perancang Sampul dan Tata Layout : Khairuddin
© Copyright 2021
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini ke dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit/penulis
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah- Nya sehingga buku referensi ini dapat disusun sebagai pondasi dan penambah pengetahuan mengenai bagaimana manajemen kepemimpinan pembelajaran yang baik. Buku yang berjudul Budaya Mutu Kepemimpinan Pendidkan ini diharapkan dapat meluruskan dan memberikan pandangan mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang baik dalam menentukan arah pembelajaran. Buku ini dilengkapi dengan teori-teori kepemimpinan, peningkatan mutu pendidikan, kepemimpinan demokratis transformative, aktualisasi manajemen peningkatan mutu, dan penilaian kinerja guru.
Disadari bahwa masih banyak hal yang perlu dikritisi dalam buku ini, dan diharapkan ada masukan dari pembaca. Pada edisi berikutnya diharapkan dihasilkan revisi buku yang lebih baik.
Penyusun
Halaman Depan i Kata Pengantar iii Daftar Isi iv Daftar Tabel x Daftar Gambar xi BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II PEMBELAJARAN 11 A. Pengertian Belajar 11
B. Prinsip-Prinsip Pembelajaran 17
BAB III KEPEMIMPINAN & BUDAYA ORGANISASI 51 A. Kajian tentang Budaya Organisasi 51
1. Artikulasi Budaya 51 2. Definisi Organisasi 53
B. Dimensi, Karakteristik, dan Fungsi Budaya Organisasi
56
1. Dimensi Budaya Organisasi 56 2. Karakteristik Budaya Organisasi 57 3. Fungsi Budaya Organisasi 59
4. Terbentuknya Budaya Organisasi 61 5. Isi Budaya Organisasi 64
6. Sumber Budaya Organisasi 79 7. Manfaat Budaya Organisasi 82
C. Kajian tentang Mutu Pendidikan 83 1. Artikulasi Mutu 83
2. Prinsip dan Unsur Pokok Manajemen Mutu Terpadu 84
3. Langkah-Langkah Peningkatan Mutu 88
4. Artikulasi Pendidikan dalam Peningkatan Mutu 89
5. Karakteristik Mutu Pendidikan 92 6. Ukuran Mutu dalam Pendidikan 94 7. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan 95
BAB IV KEBIJAKAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN 103
A. Pengantar 103
B. Kualitas Pendidikan 105
C. Indikator Peningkatan Kualitas Pendidikan 109 D. Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan 111 E. Kendala dan Solusi Peningkatan Kualitas
Pendidikan 114
1. Hambatan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan 115
2. Solusi dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan 117
F. Kebijakan dalam Meningkatkan Kualitas, Relevansi, serta Daya Saing Lulusan 108
BAB V KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS TRANSFORMATIF
129
A. Demokratisasi Kepemimpinan Politik Lokal
129
B. Transformasi Kepemimpinan 141
C. Perspektif Teori Kepemimpinan 148 1. Tipe Kepemimpinan Karismatik 150 2. Tipe Kepemimpinan Tradisional 152 3. Tipe Kepemimpinan Rasional 153 D. Pendekatan Kepemimpinan 160
E. Perilaku Kepemimpinan Pendidikan 164 F. Kepemimpinan dalam Perspektif Islam 165
1. Syarat-syarat Pemimpin dalam Islam 167 2. Aktualisasi Nilai-Nilai dalam Kepemimpinan
Islam 172 Daftar Pustaka 173 Biodata Penulis 183
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 1. Ukuran Kedewasaan Oleh Pheagan ...52
Tabel 2. Perbedaan Kepercayaan dan Asumsi ...63
Tabel 3. Jenis dan Fungsi Simbol Organisasi ...78
Tabel 4. Model Pembinaan Guru ... 165
DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 1. Karakteristik Organisasi ... 53
Gambar 2. Dimensi Budaya Organisasi ... 56
Gambar 3. Proses Terbentuknya Budaya Organisasi .. 62
Gambar 4. Nilai-nilai Kegiatan ... 67
Gambar 5. Faktor Budaya Organisasi ... 80
Gambar 6. Budaya Organisasi ... 83
Gambar 7. Konsep PDCA ... 86
alam suatu organisasi, norma atau aturan serta kebiasaan selalu diterima dan dibenarkan oleh seluruh peserta atau anggota yang menjadi bagian dari suatu organisasi. Norma- norma dan kebiasaan tersebut terbentuk terbentuk atas dasar visi misi organisasi atau kepentingan pendiri organisasi. Hal inilah yang dinamakan dengan organizational culture atau budaya organisasi.
Karena kebudayaan dalam suatu organisasi mencakup penerimaan dan persetujuan secara utuh oleh seluruh peserta atau anggota organisasi terhadap norma atau aturan serta kebiasaan yang terdapat di dalamnya.1 Kebudayaan dalam suatu organisasi juga dapat dijadikan tolak ukur ikatan antar manusia dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa organizational culture atau kebudayaan dalam organisasi merupakan kebiasaan yang dilakukan agar antar manusia memiliki ikatan dalam bekerja bersama-sama untuk menciptakan
1 Wibowo, Manajemen Perubahan ( Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2006 ), hal 377.
D
keselarasan hubungan manusia.2 Setiap kebudayaan dalam suatu organisasi tentu memiliki idiosinkratis atau ciri khas yang berbeda- beda walaupun kebudayaan tersebut terus bergerak secara dinamis karena selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Sehingga memang selalu perlu adanya perubahan-perubahan dalam kebudayaan suatu organisasi agar organisasi tersebut tetap bertahan dan tetap eksis dalam meningkatkan prestasi, pola pikir anggota, serta menjaga suatu komitmen dan kepercayaan yang terdapat pada organisasi. Sebagai mana firman Allah SWT :
...
ن ِا ه ٰ للّا ا ه ُرِ ي هغُي ل م ْو ه ا هم
قِب ىٰت هح ا ْو ُرِ ي هغُي ْم ِه ِس ُ ا هم
فْن ه اِب ....
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Arra’du Ayat : 11).3
Berdasarkan ayat tersebut, maka dapat dikatakan bahwa lembaga pendidikan akan lebih bermutu apabila pihak lembaga terus intens dalam melakukan perubahan-perubahan baik dari segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasinya.
Pertumbuhan dan perkembangan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang terdapat pada suatu organisasi, sebab organisasi dapat dikatakan tumbuh dan berkembang hanya apabila kebudayaan yang terdapat dalam organisasi tersebut dapat memicu timbulnya semangat yang membara dalam menyelesaikan suatu pekerjaan secara bersama-sama sehingga dapat meningkatkan prestasi dan performa kerja anggota yang terdapat dalam organisasi tersebut. Di samping itu kebudayaan dalam suatu
2 Wibowo, Manajemen …..hal., 377.
3Depag RI, Alquran Tarjamah, (Jakarta : Depag RI, 2005), hal 250.
organisasi pertama, dapat berperan dalam menentukan dan menetapkan batasan-batasan, maksudnya adalah suatu organisasi mampu melahirkan ciri khas yang dapat membedakannya dengan organisasi-organisasi lainnya.
Kedua, kebudayaan dalam suatu organisasi dapat membentuk dan mewariskan jati diri bagi peserta atau anggota yang menjadi bagian dari suatu organisasi. Ketiga, kebudayaan dalam suatu organisasi dapat merangsang tumbuhnya kepercayaan dan komitmen secara mendalam serta mengikis sikap individual anggota organisasi. Keempat, kebudayaan dalam suatu organisasi dapat meningkatkan dan mengembangkan interaksi dan ikatan sosial antar anggota organisasi. Kelima, kebudayaan suatu organisasi juga berperan sebagai sistem pengendali yang mengarahkan serta membangun sikap dan perilaku anggota organisasi.4
Kebudayaan dalam organisasi bersumber dari: filosofi yang melekat pada suatu organisasi, pendiri atau penggagas suatu organisasi, pemimpin atau ketua suatu organisasi, yang memegang saham suatu organisasi, penasihat atau konsultan suatu organisasi, anggota atau peserta organisasi, norma dan kebiasaan masyarakat, serta afiliasi oleh tokoh yang profesional.5 Sumber budaya organisasi merupakan cikal bakal budaya organisasi terbentuk dan bahkan dipertahankan serta dikembangkan. Kehidupan masyarakat secara terus-menerus mengalami perubahan yang signifikan, agar sebuah organisasi tetap survive, maka budaya yang dianut sebuah organisasi harus terus dijaga, dilestarikan, dan
4 Veithzal Rivai, Kepemimpinan Dan Prilaku Organisasi (Jakarta: PT. Rajawali Pers), hal. 432.
5 Wirawan, Budaya Dan Iklim Organisasi Teori Aplikasi Dan Penelitian (Jakarta:
Salemba Empat, 2008), hal. 71-77.
tentunya sesuai kebutuhan atau perubahan yang ada di masyarakat.
Yang harus diperhatikan dalam membentuk kebudayaan kebudayaan dalam suatu organisasi diantaranya : (1) result oriented oriented yang berarti berorientasi pada tujuan akhir maupun hasil hasil akhir, (2) respect yang berarti saling menghargai atau menghormati (3) innovation yang berarti terus berinovasi, (4) fairness yang berarti menjunjung keadilan serta kejujuran, (5) accountability yang berarti pertanggungjawaban, (6) superior customer service yang berarti mengutamakan pelayanan terbaik kepada klien, (7) change responsive yang berarti selalu tanggap saat terjadi perubahan-perubahan, (8) serta passion yang berarti minat atau ketertarikan.6 Result oriented merupakan proses manajerial yang lebih menekankan produk, bahan mentah dikelola sedemikian rupa untuk menghasilkan hasil yang berkualitas. Superior customer service merupakan kegiatan organisasi memberi pelayanan yang berkualitas kepada konsumen. Selain itu juga menerapkan dan mengimplementasikan kebudayaan yang berprestasi dengan cara mencari tahu dari berbagai informasi terkait pengintegrasian teknologi maupun ilmu pengetahuan terapan, tahapan-tahapan, serta cara atau metode agar jasa dan produk yang ditawarkan dapat dipercaya dan dihargai dengan harga yang tinggi oleh klien atau pelanggan. Pelayanan terhadap klien atau pelanggan dapat dikatakan unggul apabila memenuhi empat kualitas sebagai berikut, yakni : (1) dapat diandalkan atau reliable dengan belajar dari pengalaman secara terus menerus atau konsisten, (2) tidak berhenti berusaha atau relentlesseffort , (3) menciptakan pembeda atau differientiated, (4) valuable (berharga), dihargai tinggi oleh pelanggan.
Berikutnya dalam budaya organisasi yang harus diperhatikan
6 Wibowo, Manajemen Perubahan (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006), hal. 395.
yaitu innovation atau inovasi yang merupakan usaha dalam melahirkan suatu hal yang sebelumnya tidak atau belum ada. Dalam konteks ini adalah ketua atau pemimpin.
harus berani dalam melakukan pengambilan resiko dan menerima serta terbuka apabila terjadi kesalahan. Keadilan atau fairness merupakan budaya untuk mengedepankan kejujuran di segala bidang dan tidak terjadinya diskriminasi antara anggota organisasi. Respect merupakan penghargaan yang diberikan oleh pemimpin kepada anggota organisasi baik individual maupun kelompok karena kualitas kerja.
Change responsive yaitu usaha suatu organisasi dalam menanggapi perubahan-perubahan internal maupun eksternal yang terjadi seperti bertambahnya pesaing, berkembangnya teknologi yang semakin canggih, serta peraturan-peraturan dan persyaratan klien yang perlu diubah lagi, sehingga hal tersebut perlu penyelarasan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Accountability yaitu penerimaan dan keterbukaan terhadap berbagai masalah yang datang serta yakin masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Pemimpin suatu organisasi juga harus mendukung seluruh anggota untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi secara terbuka terkait hasil yang didapatkan guna meningkatkan mutu atau kualitas organisasi tersebut. Minat atau passion yang diharapkan pemimpin harus dikomunikasikan agar seluruh anggota organisasi bergerak bersama-sama merealisasikan tujuan utama organisasi yang hendak dicapai.
Dari beberapa faktor diatas hal terpenting yang harus diketahui dan dilakukan oleh anggota organisasi adalah menjaga mutu. Menjaga mutu baik itu produk maupun jasa harus terus ditingkatkan, karena mutu erat kaitannya dengan
selera, minat serta kebanggaan diri manusia.7 Mutu adalah falsafah dan strategi berupa perencanaan dan pengaturan suatu perubahan suatu agenda dalam menangani hambatan-hambatan eksternal ataupun hal-hal yang tidak diinginkan.8
Secara umum mutu dibedakan menjadi dua bagian : Pertama, mutu absolut yaitu mutu dalam arti suatu hal yang sangat baik dan tidak ada yang menandinginya lagi. Selain tidak ada yang menandingi lagi, mutu juga diartikan sebagai : (1) suatu hal yang sangan baik dan bersifat statis dan tahan lama, (2) yang dapat memperolehnya hanya orang-orang tertentu dan orang-orang pilihan (3) khusus atau eksklusif karena berhubungan dengan kebutuhan khusus, dan bukan diproduksi untuk kebutuhan umum.
Kedua, mutu relatif adalah kualitas suatu jasa atau produk yang selaras dengan pemenuhan kebutuhan klien atau pelanggan secara umum. Mutu yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu mutu relatif, dan lembaga pendidikan dapat memenuhi pelanggan secara umum.
Dapat diambil pengertian budaya organisasi bermutu merupakan nilai-nilai atau norma-norma dalam menyediakan kebutuhan-kebutuhan klien atau pelanggan pada suatu lembaga atau institusi organisasi. Adapun keterkaitannnya dengan PT atau Perguruan Tinggi adalah sebagai berikut:
1) Research atau penelitian yang bertujuan meningkatkan serta mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan untuk dijadikan bahan ajar maupun pelayanan untuk masyarakat.
2) Metode dan strategi yang digunakan saat KBM atau Kegiatan Belajar Mengajar yang efisien dan efektif.
3) Kondisi atau suasana pembelajaran Suasana atau iklim belajar
7 Tom Peters dan Nancy Austin, A Passion For Excellence , 1995 dalam Edward Sallis, Total Quality Management in Education (Jogjakarta:IRCiSoD, 2010 ), hal. 29.
8 Tom Peters dan Nancy Austin, A Passion For Excellence,hal.33.
– mengajar yang men-support kegiatan pembelajaran di dalam dan di luar lembaga pendidikan atau kampus.9
Maraknya perguruan tinggi telah menambah ketatnya kompetensi di tingkatan pengelola dalam memasarkan tentu masing – masing lembaga mengharapkan agar memiliki jumlah konsumen yang banyak sebagai dasar mempertahankan keberadaan lembaganya. Perlu kita ketahui dengan ketatnya kompetensi salah satu faktor yang penting adalah mutu yang ada dalam suatu lembaga tersebut. Dalam rangka peningkatan mutu di Perguruan Tinggi kedepan, analisis situasi untuk memahami lingkungan lembaga baik internal maupun eksternal secara komprehensif dan holistik dalam rangka kesiapan menuju konversi kelembagaan, karena program dan kebijakan merupakan arah yang akan dicapai maupun upaya-upaya yang akan dilakukan oleh pihak Perguruan Tinggi dalam rangka peningkatan kualitas yang dijadikan sebagai justifikasi perubahan status kelembagaan.
Untuk dapat mengembangkan serangkaian pendidikan, diperlukan tata laksana yang dapat menghubungkan aspek tujuan dikehendaki, kurikulum, tenaga pengajar, mahasiswa, dan sarana prasarana. Di Perguruan Tinggi mahasiswa diantar tiba dipintu gerbang keputusan atas tiga hal : (1) lapangan kerja yang harus dikerjakan, (2) keluarga yang diidam – idamkannya, (3) pandangan hidup yang akan dijalaninya.10 Dengan manajemen yang berkualitas, Perguruan Tinggi dapat menghasilkan lulusan berkualitas juga , sehingga mahasiswa mampu memenuhi pasar/lapangan pekerjaan, memenuhi harapan keluarga,
9 Taliziduhu Ndraha, Manajemen Perguruan Tinggi (Jakarta : PT. Bina Aksara, 1988), hal. 47.
10 Taliziduhu Ndraha, Manajemen ……hal., 47.
mempunyai pandangan hidup yang akan dijalaninya.
Manajer dalam hal ini ( ketua, rektor, direktur ) yang mempunyai wewenang untuk mengendalikan jalannya proses manajemen dalam pencapaian mutu pendidikan. Seorang manajer harus memiliki jiwa inovatif , kreatif, dan berwawasan luas. Manajer yang demikian merupakan manajer yang mampu membuat terobosan, bias membaca dan memanfaatkan peluang dan dapat menciptakan gagasan dan pasar.
Berkenaan dengan sistem dan manajemen Perguruan Tinggi, ada empat aspek yang dikembangkan Sistem Pendidikan Tinggi, yakni:
1) Stratifikasi pendidikan yang meliputi D1, D2, D3, D4 (Diploma), S1, S2, S3, (Strata).
2) SKS atau Satuan kredit semester yang dijadikan sebagai acuan bobot studi.
3) Pola ilmiah pokok.
4) Sistem tunggal pendidikan tinggi yang merupakan kesatuan pengelolaan PTS atau Perguruan Tinggi Swasta serta PTN atau Perguruan Tinggi Negeri.
5) Organisasi PT atau Perguruan Tinggi, antara lain mencakup : 1) Penataan fakultas, lembaga, dan unit-unit teknis.
2) Penataan program studi.
3) Sistem kepangkatan dosen.
4) Peningkatan kualitas dosen.
a. Organisasi mahasiswa
1) Pelaksanaan normalisasi kehidupan kampus b. Pengerahan Sumber Daya
1) Penetapan beban kerja dosen.
2) Pemanfaatan sumber daya secara maksimal.
3) Penggunaan sarana bersama.11
Pemerintah terus berupaya agar selalu berbagai pendidikan mengalami peningkatan mutu, khususnya pada Perguruan Tinggi. Menurut Undang - Undang Sisdiknas No.
20 Tahun 2003 Standar Mutu Pendidikan meliputi: Standar isi, Standar proses, Kompetensi lulusan, Tenaga kependidikan, Sarana prasarana, Pengelolaan, Pembiayaan, Penilaian.12 Akan tetapi pada kenyataannya berbagai macam parameter mutu pendidikan masih belum mengindikasikan meratanya mutu pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu sangat perlu adanya kerja nyata dan realisasi di lingkungan PT atau Perguruan Tinggi. Adapun cara utama yang perlu ditindaklanjuti agar terjadi peningkatan mutu pada PT atau Perguruan Tinggi, yaitu dimensi sistematis serta dimensi kebudayaan dengan menekankan pada suatu perubahan perilaku dan tindakan yang nyata.
Sedangkan pendidikan merupakan yang dilakukan secara sadar dan usaha penuh perencanaan dalam suatu proses belajar mengajar guna meningkatkan dan mengembangkan bakat dan minat peserta didik, kemampuan spiritual, kepribadian, pengontrolan diri, keterampilan, kecerdasan, serta akhlakul karimah dalam lingkungan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.13 Selain itu pendidikan juga diartikan sebagai usaha untuk
11Daulat Purnama Tampubolon, Perguruan Tinggi Bermutu Paradigma Baru Manajemen Pendidikan Tinggi Menghadapi Tantangan Abad 21 ( Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001 ), hal.20-21.
12 UU No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,hal.22.
13 UU No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan…,hal.3.
memanusiakan manusia.14 Dan pendidikan juga merupakan upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja dengan tujuan membimbing dan mengarahkan peserta didik menjadi pribadi yang lebih baik sehingga kehidupan mereka pun juga menjadi lebih baik.
14Immanuel Kant dalam Suparlan, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dari Konsepsi sampai dengan Implementasi ( Jogjakarta: HIKAYAT Publising, 2004 ), hal.26.
A. Pengertian Belajar
Belajar adalah perihal yang merupakan keharusan bagi manusia, sebab faktanya manusia dapat dikatakan insan yang eksis dalam menjalani kehidupan apabila ia selalu selalu belajar setiap hari dimana pun tempatnya dan kapan pun waktunya. Salah satu bagian dari belajar adalah menuntut ilmu, oleh sebab itu perubahan karena proses belajar merupakan hal yang lumrah karena manusia akan terus selalu belajar dari lahir hingga mati, bak pepatah
“tuntutlah ilmu dari buaian (lahir) hingga ke liang lahat (mati) ”.
Proses belajar telah dilakukan sejak zaman dulu, dan apabila proses belajar dilakukan secara terus menerus dan selalu berkelanjutan, maka akan menciptakan suatu inovasi yang baru dan akan terus terjadi perkembangan dan perubahan terhadap peradaban manusia.
Berdasarkan buku Psikologi Pengajaran yang ditulis WS.
Winkel, belajar merupakan kegiatan interaksi aktif dalam suatu lingkungan yang berkaitan dengan psikis ataupun mental sehingga dari proses tersebut menghasilkan pemahaman, perubahan sikap dan nilai, peningkatan pengetahuan serta keterampilan yang
sifatnya membekas dan konsisten.15 Proses belajar juga berkaitan dengan pengalaman yang memodifikasi sikap dan tindakan atau yang biasa dikatakan learning can be defined as modification or strengthening of behavior through experience. Dalam artian proses belajar bukan merupakan suatu tujuan ataupun hasil, namun berisi tahapan-tahapan atau proses dari suatu kegiatan yang tidak hanya membayangkan dan merenungkan, akan tetapi juga perlu mengalami.
Dari proses belajar yang dilakukan akan menghasilkan suatu perubahan tindakan dan bukan menghasilkan pemahaman dan kemahiran terhadap hasil belajar dan latihan,sehingga seseorang dapat dikatakan telah belajar hanya apabila terdapat perubahan pola pikir serta perubahan berupa tindakan atau perilaku secara sadar. Menurut Elizabeth Hurlock belajar merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari usaha serta latihan sehingga menghasilkan suatu perkembangan.16 Dengan proses belajar mengakibatkan seseorang mendapat kemampuan dalam memperoleh dan memanfaatkan sumber yang telah ada dan diwariskan, sehingga belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perantara atau media dalam mendapatkan pengetahuan dan pemahaman. Belajar juga merupakan kegiatan yang berisi latihan secara terus menerus sehingga dapat membentuk suatu kebiasaan.
Untuk memperoleh hasil yang optimal dan efektif dalam belajar, maka seseorang perlu menggunakan panca indra yang dimiliki saat belajar. Misalnya seperti saat siswa hendak belajar mata pelajaran sejarah, maka hal yang perlu ia lakukan agar belajarnya menjadi efektif adalah dengan menggunakan indra matanya untuk membaca dan mengamati tulisan dan ilustrasi
15Winkel WS, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta: Media Abadi, 1998), 59.
16 Elizabeth Hurlock, Psikologi Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1997), 28.
gambar yang disediakan, menggunakan indra mulut untuk melisankan dan mengulang-ulang bacaan, menggunakan telinga untuk mendengarkan, menggunakan tangan untuk menulis, merangkum dengan bahasa dan kalimatnya sendiri, dan mengerjakan latihan-latihan soal pada materi yang sedang ia pelajari sehingga setelah melakukan hal-hal tersebut, siswa dapat lebih mudah dalam memahami , dan ilmu yang didapat bersifat tahan lama, tidak seperti metode hafalan yang akan membuat siswa mudah lupa dengan apa yang telah ia pelajari. Sebab salah indikator hasil dari belajar adalah siswa dapat merumuskan dan merepresentasikan ulang ilmu pengetahuan yang telah ia peroleh dengan bahasa dan kalimatnya sendiri. Sebagaimana faktanya bahwa saat belajar, siswa akan mendapat 30% dari yang ia lihat, 10% dari yang ia baca, 70% dari apa yang ia lisankan, 20% dari yang ia dengar, 50% dari yang ia dengarkan dan ia lihat atau amati, dan 90% dari apa yang ia lisankan dan ia lakukan atau implementasikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa definisi dari belajar adalah memiliki prinsip dan tujuan utama yang sama dan selaras, yaitu adanya perubahan sikap dan tingkah laku walaupun usaha dan caranya untuk mencapai berbeda. Sedangkan definisi yang kedua adalah mengacu dan memfokuskan pada jalinan interaksi atau hubungan sosial seseorang dengan lingkungan sekitarnya, yang mana dalam diri individu dan objek pembelajarannya terdapat rentetan pengalaman-pengalaman belajar saat berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks ini, salah seorang peneliti berargumen bahwa a good learning situation consist of adaily activity plan and buried series of learning experiences unified around a vigorous purpose, and carried on in interaction with others, varried and provocative environment. Selain itu Sarbana dan Diana dalam Andreas Harefa
menyampaikan bahwa proses dalam menemukan dan mendapatkan ilmu pengetahuan yang baru, konstan, serta permanen merupakan definisi dari memberikan batas dalam belajar. Adapun pengklasifikasian belajar meliputi : 1) Belajar tentang, maksudnya adalah belajar yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan seperti tentang ilmu komputer yang mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan komputer seperti software, hardware, pemograman, dan lain sebagainya. 2) Belajar dengan, maksudnya adalah belajar yang berkaitan dengan kreativitas dan keterampilan, misalnya seperti saat belajar komputer, siswa dapat memanfaatkan komputer sebagai alat dan fasilitas belajar.17
Selain itu, berdasarkan Cronbach, Spears, serta Geoch yang diuraikan oleh Sardiman AM terkait batasan-batasan dalam belajar yakni:18
1. Menurut Cronbach “learning is a result of experience that shown by a change in behavior ” yang artinya adalah belajar merupakan sebuah hasil suatu pengalaman yang ditunjukkan melalui perubahan tingkah laku. Sehingga batasan yang dimaksud oleh Cronbach adalah adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari belajar.
2. Spears berpendapat bahwa “learning is to initiate, to listen, to read, to observe, to follow direction, and to try something themselves”, yang artinya belajar merupakan berinisiasi, mendengar, membaca, mengobservasi, mengikuti petunjuk, dan mencoba sesuatu sendiri.
3. “learning is a result of practice that changed in performance, yang artinya belajar merupakan sebuah hasil latihan atau
17 Baban Sarbana dan Dina Diana, Ampuh Menjadi Cerdas Tanpa Batas, (Jakarta:
PT. Elex Media Komputindo, 2002), 4.
18 Sardiman AM, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 2007), 20.
praktik yang mengubah performa atau penampilan.
Berdasarkan tiga definisi dari Cronbach, Spears, serta Geoch, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses dengan rentetan kegiatan-kegiatan guna mengubah tingkah laku dan performa atau penampilan seperti kegiatan mengamati, membaca, mendengarkan, latihan, dan lain sebagainya. Belajar juga akan lebih efektif apabila dilakukan dengan komprehensif, mendalam, detail, dan aplikatif, sehingga tidak hanya secara verbal.
Belajar dapat dikatakan sebagai aktivitas yang memancing stimulus seseorang terhadap lingkungannya yang dilakukan secara berkelanjutan, dan sistematis. Oleh sebab itu seseorang dapat dikatakan belajar apabila ia dapat menjelaskan dan merumuskan kembali pengetahuan dari lingkungannya dengan detail dan interaktif.
Dalam konteks ini, Zainudin Arif menyampaikan dengan detail bahwa belajar adalah proses yang melibatkan individu secara pribadi seperti emosional, fisik, kognitif yang dimilikinya serta dikendalikan langsung oleh dirinya sendiri.19 Dalam artian siswa yang sedang belajar akan melibatkan dirinya sendiri secara utuh serta aspek psikis yang dikendalikan oleh dirinya sendiri. Sehingga melalui pengalaman pribadinya terhadap lingkungan, tingkah laku dan sikap siswa dapat ditransformasikan secara intelektual dari rancangan sederhana ke rancangan yang lebih rumit atau kompleks. Wasty Soemanto dalam James Wittaker menyampaikan bahwa pengertian belajar adalah suatu proses perubahan sikap dan perilaku yang timbul akibat suatu pengalaman dan latihan yang dilakukan.20
Berubahnya sikap dan tingkah laku karena aktivitas belajar bersifat infinit atau kekal dan tahan lama sehingga
19 Zainudin Arif, Andragogi, (Bandung: Angkasa, 1998), 7.
20 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), 99.
kemampuan dan ilmu pengetahuan yang didapat tidak akan musnah ataupun lenyap. Dari uraian tersebut dapat juga dikatakan dikatakan bahwa belajar merupakan upaya yang dilakukan oleh oleh seseorang melalui pengalaman pribadi dan interaksi atau hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya secara bertahap dan berproses guna mengubah sikap dan perilaku secara utuh. Di samping itu belajar adalah aktivitas psikis yang terjadi di dalam diri seseorang dan tidak dapat terlihat secara nyata dari luar apabila hanya diamati tanpa adanya perubahan tingkah laku yang ditampakkan sebagai hasil dari belajar.
Selain itu, belajar juga menciptakan perubahan-perubahan yang sifatnya internal dan eksternal. Adapun perubahan internal yakni perilaku dan pemahaman yang utuh sehingga perubahan internal tidak terlihat secara kasat mata. Sedangkan perubahan yang eksternal dapat meliputi psikomotorik dan berkemampuan dalam verba seperti fasih menggunakan bahasa asing dan perubahan ini dapat terlihat secara nyata. Oleh sebab itu belajar adalah berubahnya tingkah laku seseorang melalui proses yang ditandai dengan meningkatnya mutu serta kuantitas perilaku meliputi meningkatnya pengetahuan, pemahaman, pola pikir, keterampilan, kebiasaan, dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa meningkatnya mutu serta kuantitas perilaku individu ditandai dengan meningkatnya kemampuan dan keterampilan dalam bermacam-macam aspek dan bidang.
Seseorang dapat dikatakan gagal dalam proses belajar atau belum/tidak belajar jika mutu serta kuantitas keterampilan dan kemampuan yang ia miliki tidak meningkat tidak mengalami.
Dengan demikian, seseorang yang belajar tentu akan mengalami peningkatan mutu dan kuantitas terhadap kemampuan dan keterampilannya seperti pengetahuan, sikap dan perilaku yang lebih positif dari sebelumnya.
B. Prinsip-Prinsip dalam Pembelajaran21
Dalam sub bab ini, akan dideskripsikan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru tenaga kependidikan dalam menjalankan proses pembelajaran. Dalam artian, prinsip yang dimaksud adalah etika dasar dalam mengajar yang perlu diperhatikan dengan baik agar dapat menciptakan kondisi yang stabil dalam proses pembelajaran. Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud yakni : korelasi dalam mengajar, aktivitas dan kegiatan, globalisasi, kebebasan, lingkungan, individualitas, sumber bakat dan minat, serta motivasi. Prinsip-prinsip yang telah disebutkan itu tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi saling melengkapi satu dengan yang lain, seperti prinsip korelasi dan lingkungan akan memicu timbulnya motivasi (prinsip motivasi), selain itu prinsip kebebasan juga akan melengkapi prinsip aktivitas dan sumber minat.
1. Individualitas
Individu merupakan orang perseorang atau bagian terkecil dari masyarakat yang terdiri dari jiwa dan raga itu sendiri.
Kekhasan jiwa setiap insan atau pribadi manusia menyebabkan terjadinya perbedaan tiap-tiap individu. Secara umum faktor penyebab berbedanya setiap individu meliputi faktor internal (dari dalam individu) dan faktor eksternal (dari luar individu). Setiap individu tentu memiliki cipta, karsa, dan rasa sejak ia lahir. Cipta merupakan kemampuan seseorang dalam berpikir, karsa merupakan keinginan atau kemauan seseorang, serta rasa merupakan kemampuan spiritual yang menghubungkan manusia
21 Sukarno, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: Elkaf, 2012), khususnya bab IV terutama 88-124.
dengan Tuhan-Nya.22 Kemampuan-kemampuan yang dimiliki tentu akan berbeda antara individu satu dengan individu yang lain.
Sedangkan faktor eksternal yang yang berasal dari luar individu meliputi kesempatan belajar, kurikulum, metode belajar, pengaruh dari keluarganya, dan lain sebagainya yang meningkatkan adanya perbedaan pada siswa atau peserta didik. Secara detail dan terperinci akan diuraikan sebagai berikut:
a. Perbedaan Usia (Usia berdasarkan kalender)
Dalam menentukan tingkat kelas siswa, sejak dulu menggunakan acuan usia, seperti siswa kelas 1 SD/MI ditentukan dari usia enam hingga tujuh tahun. Sehingga seluruh siswa yang sesuai dengan kriteria umur yang telah ditentukan akan mendapatkan keuntungan dan hak yang sama saat proses pembelajaran seperti memberikan dan menyajikan strategi dan metode belajar yang sama. Oleh sebab itu apabila ada siswa yang
22 Hal ini bisa dilihat dari kenyataan substansi manusia itu sendiri. Artinya, secara struktural-generalis, manusia terdiri dari dua substansi; pertama, substansi jasad/materi yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti sunnatullah (aturan, ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta), kedua, substansi immateri/nonjasadi, yaitu peniupan ruh ke dalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakekat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah. Kedua substansi tersebut, yang paling esensial adalah substansi immateri atau ruhnya. Manusia yang terdiri dari dua substansi itu telah dilengkapi dengan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar yang harus diaktualkan atau ditumbuh-kembangkan dalam kehidupan nyata di dunia ini melalui proses pendidikan untuk selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak di akherat. Potensi-potensi dasar manusia yang paling agung adalah akal (reason) yang merupakan suatu anugerah yang diberikan Tuhan untuk membedakan antara manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Kelebihan tersebut pernah disinggung dalam al-Qur’an yang menceritakan tentang “drama kosmis” awal mula Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) antara Tuhan sebagai “Guru Universal” dengan Adam sebagai peserta didiknya dengan mengajarkan nama-nama suatu benda –inilah peran akal--, sehingga Malaikat pun tunduk dan “sujud” pada manusia atas perintah Tuhan.
kurang memahami materi yang disampaikan akan dianggap hal yang sederhana karena faktor kemalasan. Jadi dalam proses pembelajaran kemampuan siswa atau peserta didik tidak lagi dipertimbangkan oleh pendidik walaupun pada faktanya kemampuan yang dimiliki peserta didik tentu berbeda sebab setiap peserta didik atau siswa mempunyai tingkat kesiapan dan kemampuan yang berbeda-beda dalam menerima pembelajaran.
b. Integrasi yang Berbeda
Apabila membandingkan peserta didik diatas rata-rata dengan peserta didik rata-rata atau di bawah rata-rata, secara umum akan terlihat sebagai berikut:
1) Peserta didik di atas rata-rata:
a) Mudah dalam memahami isi pelajaran.
b) Sangat fokus pada saat berjalannya proses pembelajaran c) Sangat kritis dan selalu ingin tahu banyak hal, memiliki
banyak perencanaan, solusi, dan inisiatif.
d) Dapat memahami kemampuan diri sendiri (sejauh mana kemampuan yang ia miliki), dapat mengevaluasi diri sendiri.
e) Mempunyai banyak minat
2) Sedangkan peserta didik rata-rata atau di bawah rata-rata : a) Susah dalam memahami pelajaran yang disampaikan.
b) Kurang/tidak fokus dalam pembelajaran.
c) Kurang/ tidak kritis, tidak solutif, tidak memiliki inisiatif.
d) Dan lain sebagainya.
c. Perbedaan Kemampuan dan Kecakapan
Kemampuan dan Kecakapan setiap peserta didik berbeda- beda saat melakukan aktivitas sekolah. Peserta didik yang pandai akan lebih mudah hitung-menghitung sehingga tugasnya terselesaikan dengan cepat dibandingkan dengan peserta didik yang kurang pandai. Sehingga dapat dikatakan kemampuan tiap
peserta didik berbeda dalam berbagai aspek dan bidang. Oleh sebab itu sering dijumpai peserta didik yang pandai dan terampil dalam hal suatu hal, namun kurang pandai dalam hal yang lain, dan jarang sekali ditemukan peserta didik yang pandai Namun demikian dan terampil dalam berbagai bidang atau tidak mampu (bodoh) dalam berbagai bidang.
Dari fakta tersebut, maka perlu adanya cara atau strategi dalam mengorganisir dan mengelola pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan peserta didik. Dalam artian bagaimana cara atau strategi agar mata pelajaran yang diemban peserta didik dapat sesuai dengan situasi serta kebutuhan peserta didik. Oleh sebab itu guna mengembangkan diri peserta didik yang selaras dengan kecakapannya, maka peserta didik perlu diberikan kesempatan.
2. Kebebasan
Kebebasan yang dimaksud dalam hal ini, bukan berarti kebebasan menyeluruh yang tidak memiliki batasan pada saat proses pembelajaran di kelas karena dalam proses pembelajaran harus tetap memiliki aturan-aturan terikat yang baik dan bersifat positif. Adapun prinsip kebebasan meliputi : Self-control, Self- dicipline, and Self-directedness.
Metode Motosari mengharuskan setiap anak perlu kebebasan dalam mengembangkan dirinya. Oleh sebab itu agar keaktifan dan kebebasan setiap anak dapat berjalan dengan baik, perlu adanya arahan dan bimbingan sehingga mereka mampu untuk berdiri sendiri. Sehingga apabila pendidik memaksakan kehendaknya pada peserta didik, maka akan menyebabkan peserta didik yang kurang aktif, tidak memiliki inisiatif, serta selalu bergantung pada pendidik dan orang lain.
3. Lingkungan
Setiap insan yang dilahirkan ke dunia tentu dengan pembawaan masing-masing dalam lingkungannya. Pembawaan yang tersembunyi tersebut bersifat general tidak spesifik sehingga dapat dikembangkan menjadi berbagai macam kenyataan sesuai interaksi dan hubungan sosial dengan lingkungannya. Dalam kenyataan, batas-batas yang akan dicapai ditentukan pembawaan seseorang itu sendiri. Henry E. Garret berpendapat terkait fungsi pembawaan dari suatu lingkungan seperti berikut: “…it appears to be true that heredity determines what man can do, environment what he does do within the limite imsed by heredity”.23 Lingkungan dan pembawaan saling melengkapi satu dengan yang lain, tidak berdiri sendiri-sendiri.
Lingkungan yang baik tidak dapat mempengaruhi pembawaan yang baik, namun lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi pembawaan yang baik. Ahli psikologi menyelidiki terkait hal tersebut dan memperoleh indikasi bahwa faktor gen atau pembawaan akan lebih mengindikasikan tingkat kognitif, indrawi, serta fisik seseorang, namun faktor lingkungan akan lebih mempengaruhi kepribadian, kebiasaan, aturan serta nilai-nilai.
Sedangkan training atau latihan atau belajar akan mempengaruhi sikap jujur, bahagia, sedih atau muram, serta mudah bergantung kepada orang lain.
4. Globalisasi24
23 E. Garret, General Psychology, (New York: American Book Company, 1961), 62.
24Globalisasi sebagai sebuah proses bergerak amat cepat dan meresap kesegala aspek kehidupan kita baik aspek ekonomi, politik, sosial budaya maupun pendidikan. Gejala khas dari proses globalisasi ini adalah kemajuan- kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi komunikasi-informasi dan teknologi transportasi. Kemajuan-kemajuan teknologi rupanya mempengaruhi begitu kuat struktur –struktur ekonomi, politik, sosial budaya dan pendidikan, sehingga globalisasi menjadi realita yang tak terelakkan dan menantang.
Pengaruh psikologi totalitas dan psikologi Gestalt mengakibatkan diterapkannya prinsip globalisasi dalam pengajaran. Kata “Gestalt” bermakna rupa atau bentuk yang merupakan sebuah kata dari bahasa. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan “whole”, dan “Blobaal” dalam istilah bahasa Belanda. Menurut psikologi jumlah unsur-unsur lebih sedikit dibanding bentuk, dalam artian bentuk menentukan kedudukan tiap-tiap unsur. Sedangkan psikologi Totalitas berpendapat terkait observasi pada anak-anak yakni : gambaran secara global, utuh dan menyeluruh namun terdapat bagian-bagian yang buram atau kabur tidak jelas saat seorang anak pertama kali melakukan pengamatan.
Apabila pengamatan mereka lakukan secara berulang-ulang maka ilustrasi atau gambar yang sebelumnya buram dan tidak jelas tersebut akan semakin terlihat jelas.
Dengan demikian dapat disimpulkan berdasarkan prinsip psikologi totalitas dan psikologi gestalt bahwa hendaknya memberikan bahan atau materi spiritual dan keagamaan dengan kesatuan hiburan dan bermain, tidak dilepaskan sendiri-sendiri.
Begitu juga dengan cipta, rasa, serta karsa yang merupakan aspek
Namun, Globalisasi sebagai suatu proses bersifat ambivalen. I. Aria Dewanta, Upaya Merumuskan Etika Ekologi Global,(Basis No. 01-02 Tahun Ke-52, Januari-Februari 2003), 20. Satu sisi membuka peluang besar untuk perkembangan manusia dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan tetapi sisi lain peradaban modern yang semakin dikuasai oleh budaya ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini tampak semakin lepas dari kendali dan pertimbangan etis. A. Sudiarja SJ., Pendahuluan, dalam Budi Susanto, dkk., Nilai-Nilai Etis dan Kekuasaan Utopis: Panorama Praksis Etika Indonesia Modern, (Yogyakarta : Kanisius, 1992), 6. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kemajuan manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akibat globalisasi tidak selalu sebanding dengan peningkatan di bidang moral. Dalam satu sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang membuat manusia lebih mudah menyelesaikan persoalan hidup, namun disisi lain berdampak negatif ketika ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lagi berfungsi sebagai pembebas manusia, melainkan justru membelenggu dan menguasai manusia.
pribadi seorang anak juga perlu diperhatikan dengan baik.
5. Sumber Minat
Pada kenyataannya, minat dan perhatian sering disamakan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda. Minat dan perhatian sangat berkaitan satu dengan lain. Seseorang yang memiliki minat terhadap seni, tentu akan memiliki perhatian lebih terhadap seni tersebut. Minat merupakan sesuatu yang bersifat condong terhadap suatu hal yang bernilai dan berharga yang berasal dari jiwa dan hati setiap manusia. Dan sesuatu berharga dan bernilai yang dimaksud akan selaras dengan kebutuhannya.
Ovide Decroly berpendapat bahwa “Minat merupakan tidak terpenuhinya suatu pernyataan dalam pemenuhan kebutuhan”.25 Kebutuhan sendiri muncul karena dukungan untuk memberikan rasa puas terhadap insting. Pengalaman, pendidikan, kebiasaan, fungsi kognitif, perkembangan hasrat, pengaruh dari lingkungan, dan lain sebagainya merupakan sumber-sumber yang dapat menimbulkan minat seseorang terhadap benda atau suatu hal.
Ovide Decroly juga menyampaikan terkait kebutuhan terpenting secara umum meliputi :
a. Kebutuhan makan;
b. Kebutuhan terlindungi dari perubahan iklim dan cuaca;
c. Kebutuhan mempertahankan dan menyelamatkan diri dari berbagai masalah dan hal-hal yang merugikan seperti bencana, musuh, dan lain sebagainya.
d. Kebutuhan untuk bekerja bersama-sama dalam olahraga ataupun bermain.
Empat kebutuhan itulah yang menjadi sumber minat bagi
25 Dirjen Binbaga Islam, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta:
Departemen Agama Islam, 1985), 102.
anak. (Ovide Decroly menyebutnya dengan pusat-pusat atau sumber minat).
Oleh sebab itu bahan atau pelajaran dapat dikumpulkan berdasarkan sumber minat.
Meskipun pendapat Ovide Decroly mendapat banyak kritikan seiring perkembangan zaman, akan tetapi tetap membawa pengaruh yang cukup besar terhadap praktik pengajaran di era modern. Sebab ada yang beranggapan bahwa pendapat Ovide Decroly kurang menyeluruh, sehingga ada yang mengembangkannya menjadi :
a. Anak dengan dunianya
b. Anak dengan pekerjaan dan tugasnya c. Anak dengan alam sekitarnya
d. Anak dan pemeliharaannya e. Anak dengan lingkungannya
Ovide Decroly berprinsip menciptakan syarat agar dapat membangun jiwa dan raga menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai saat bermasyarakat serta menyiapkan mental anak agar dapat menyelesaikan tugas dan kewajiban yang harus diemban dalam kehidupan.
Perhatian sangatlah penting dalam proses pembelajaran.
Thomas M. Risk mengungkapkan bahwa: “without attention, so no learning takes place”.26 Proses pembelajaran secara otomatis akan berjalan dengan optimal apabila sumber minat peserta didik dijadikan sebagai bahan atau materi pelajaran. Sedangkan prinsip dari sumber minat sendiri terdiri dari ekspresi, observasi yang aktif, serta asosiasi. Sehingga dengan mengacu pada observasi yang aktif dalam berbagai bidang pelajaran tentu secara umum akan memiliki pola yang berbeda dengan pola pada sekolah lainnya.
26 Thomas M. Risk, Principles and Practices of Teaching, (New York: American Book Companny, 1958), 321.
Adapun observasi aktif yang perlu dilakukan pendidik adalah sebagai berikut: pendidik menceritakan suatu hal tentang benda, dan peserta didik duduk dengan mengamati dan mendengarkan dengan tenang. Secara umum, alat indra yang digunakan pada proses pembelajaran adalah mata dan telinga. Namun di sekolah Derocly mengharuskan peserta didik menggunakan seluruh alat indra sehingga kepribadian peserta didik pun juga ikut bekerja.
Oleh sebab itu perlu dilakukannya latihan-latihan praktis yang berkelanjutan.
Selanjutnya adalah sumber minat asosiasi. Hasil dari observasi berupa pengalaman-pengalaman yang selanjutnya masih perlu diolah lagi. Pada fase observasi pengumpulan bahan atau materi yang nyata akan membentuk definisi dan asumsi baru yang tidak dapat terlihat secara gamblang. Definisi dan asumsi tersebut sangatlah berkaitan dengan ruang serta waktu seperti keyakinan orang-orang pada zaman dahulu.
Tahap selanjutnya adalah sumber minat ekspresi. Pada fase ekspresi, pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan perasaannya secara lisan ataupun tulisan, dapat melalui lagu atau nyanyian, ilustrasi gambar, kerajinan tangan, drama dan sebagainya.
6. Aktivitas
Para ahli psikologi setelah mempelajari proses belajar menyampaikan fakta bahwa individu merupakan seseorang yang bereaksi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi belajar merupakan suatu hal yang kompleks dan terdiri dari stimulus bekerja yang banyak. Kemudian dititikberatkan pula bahwa suatu individu merupakan seseorang yang memiliki kecerdasan dan tujuan dalam hidup.
Setiap insan memiliki sesuatu yang luar biasa dari makhluk
hidup yang lain. Allah menciptakan manusia dengan sangat sempurna agar manusia dapat meningkatkan kehidupannya.
Menalar dan berpikir merupakan salah satu kegiatan yang bersumber dari akal pikiran manusia melalui pengolahan alat-alat panca indra dan akan menghasilkan suatu ilmu pengetahuan yang tepat, benar, dan bermanfaat. Akan tetapi penalaran dan berpikir sangat perlu dibatasi dengan spiritual, moral, aturan, serta norma- norma yang berlaku. Jadi kegiatan dalam berpikir adalah perenungan, analisis, pertimbangan, percakapan dengan diri sendiri pembuktian suatu hal, perbandingan, penggolongan, memberikan alasan, menemukan kausalitas, menyelidiki jalan pikiran, berkesimpulan, dan lain sebagainya.27
Maka dari itu Thomas M Risk menyampaikan terkait belajar bahwa “the guidance of learning experience is teaching for us”.28 Sedangkan proses dalam membimbing seseorang belajar atau dari pengalaman belajar disebut dengan definisi mengajar. Peserta didik yang kreatif dan aktif terhadap lingkungannya akan menciptakan suatu pengalaman belajar bagi dirinya sendiri. Seorang pendidik tidak dapat belajar untuk peserta didiknya, akan tetapi pendidik bisa membantu dan membimbing peserta didik belajar. Peserta didik akan dapat menguasai keterampilan apabila ia terus mengkoordinasikan dan melatih ototnya. Apabila peserta didik menginginkan sikap dan perilaku tertentu, maka mereka harus memiliki beberapa pengalaman, dan apabila mereka juga ingin dapat memecahkan dan menyelesaikan masalah dengan baik, maka mereka perlu memikirkan berdasarkan tahapan-tahapan tertentu.
Dengan demikian belajar bukanlah suatu proses pertumbuhan fisik, melainkan hasil dari suatu pengalaman
27 Jalaluddin & Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 125-126.
28 Thomas M. Risk, Principles and Practices … Op. Cit., 7.
seseorang melalui proses yang membuat seseorang tersebut mengalami perubahan. Wahyudin Nur Nasution mengutip dari Chance bahwa pengalaman yang menyebabkan perubahan perilaku disebut dengan belajar.29 Adapun Sardiman AM berpendapat bahwa definisi belajar adalah perubahan tingkah laku memerlukan suatu usaha.30 Belajar juga sering diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang tetap atau statis akibat suatu pengalaman atau latihan-latihan yang dilakukan. Wahyudin Nur Nasution dalam Anderson menyampaikan bahwa belajar merupakan suatu pengalaman yang menghasilkan tingkah laku tersembunyi yang terbilang tetap.31
Ada beberapa definisi belajar yang dikumpulkan oleh M.
Ngalim Purwanto, yakni sebagai berikut :
a. Dalam buku Hilgard dan Bower yang berjudul “theoris of learning” menyatakan bahwa belajar berkaitan dengan berubahnya perilaku individu yang diakibatkan oleh pengalaman-pengalamannya yang berkelanjutan dan terus menerus terhadap kondisi tertentu. Adapun perubahan perilaku yang terjadi tidak dapat terlihat dengan kasat mata karena pembawaan dan situasi dan kondisi individu tersebut, seperti merasa lelah, efek obat dan lain-lain.
b. Dalam bukunya yang berjudul “The conditions of learning”, Gagne menyampaikan bahwa belajar merupakan usaha peserta didik yang dipengaruhi oleh suatu rangsangan yang bekerja sama dengan ingatan yang mengakibatkan berubahnya perilaku seiring berjalannya waktu, yakni waktu sebelum dan sesudah terjadinya kondisi tersebut.
c. Dalam bukunya yang berjudul “introduction to psychology”,
29 http://litagama.org/jurnal/Edisi5/StrategiPemb.htm
30 Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi … Op. Cit., 21.
31 Ibid.
Morgan menyampaikan bahwa belajar merupakan pengalaman dan latihan yang menghasilkan suatu perubahan perilaku yang tetap.
d. Dalam bukunya “educational pschology”, Witherington menyampaikan bahwa belajar didefinisikan sebagai suatu pola yang baru dalam perubahan perilaku dan kepribadian seseorang yang meliputi kebiasaan, kecerdasan, kecakapan, serta sikap.32
Selain itu ada yang mengartikan belajar dengan suatu pengalaman yang mengalami transformasi dan dimodifikasi yakni learning is experience that transformating and modificating also strengthening of behavior.33 Definisi ini bertolak belakang dengan beberapa definisi di atas yang menyatakan bahwa belajar bukanlah suatu tujuan atau hasil melainkan suatu usaha melalui proses dan kegiatan-kegaiatan. Sebab belajar adalah melakoni, tidak hanya mengingat. Belajar menghasilkan suatu perubahan, dalam artian menitikberatkan pada perubahan perilaku peserta didik, tidak hanya penguasaan hasil pengalaman dan latihan-latihan. Hal ini selaras dengan Slameto yang menyatakan bahwa belajar merupakan usaha yang memerlukan suatu proses guna mendapatkan perubahan perilaku baru secara utuh berdasarkan pengalaman dan hubungan sosialnya dengan lingkungan sekitarnya.34
Wittrock juga berpendapat hal yang sama terkait belajar merupakan suatu proses yang memiliki hasil akhir yakni "learning is the term to changed behavior through the process involve of experiences. It’s the process of acquiring relatively permanent change in attitude, ability, understanding, information, skill through
32 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan … Op. Cit., 84.
33 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), 27.
34 Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2003), 2.
experience, and knowledge, ".35
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa dalam belajar terdapat tiga komponen utama.
Yang pertama yakni akibat dari belajar adalah adanya perubahan perilaku, yang kedua adalah belajar akan mengakibatkan perubahan yang statis dan permanen. Dan yang ketiga adalah perubahan yang terjadi bukan diakibatkan oleh proses tumbuh dan berkembang ataupun perubahan situasi fisik, melainkan diakibatkan oleh pengalaman-pengalaman serta latihan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, belajar yang dimaksud adalah belajar yang dapat mengubah manusia menjadi lebih baik dan ke arah yang lebih positif dengan memanusiakan setiap manusia secara aktif, berkelanjutan, fungsional, dan disadari. Dalam artian proses belajar harus menghasilkan sebab-akibat yang sangat selaras dengan makhluk Tuhan yang merupakan fitrah setiap insan serta sebagai pemimpin atau khalifah di Bumi.
Berdasarkan uraian dan contoh-contoh tersebut, maka dapat diklasifikasikan menjadi 2, yakni keaktifan jiwa dan keaktifan raga.
Keaktifan raga adalah seperti bekerja, bermain, dan sebagainya, sehingga siswa yang memiliki keaktifan jiwa cenderung akan melakukan semua hal dengan optimal seperti mengamati, menyelidiki, mendengarkan, mengingat, memaparkan dan menguraikan, serta mengintegrasikan aturan satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu untuk mencapai hasil yang diinginkan, perlu mengerahkan secara optimal semua daya dan rasa yang dimiliki.
Hal ini akan berdampak terhadap keaktifan jiwa atau rohani manusia apabila raganya pada suatu waktu aktif. Maka dari itu keaktifan jiwa dan keaktifan raga sangat berkaitan dan saling melengkapi satu dengan yang lain.
35 http://litagama.org/jurnal/Edisi5/StrategiPemb.htm
Paul B Diedrch melakukan penelitian terkait aktifitas- aktivitas jiwa atau rohandi dan raga atau jasmani pada suatu sekolah dengan hasil sebagai berikut :
a. Kegiatan menulis atau writing activities, yang meliputi kegiatan menulis atau menyalin karangan, cerita, angket dan lain-lain.
b. Kegiatan Emosi/Perasaan atau Emotional activities, meliputi kegiatan yang fokus terhadap minat, emosional seperti rasa bahagia, berani, takut, kagum, marah, sedih, dan lain-lain.
c. Kegiatan Mendengar atau Listening activities, meliputi kegiatan mendengarkan pidato, tausiyah atau ceramah spiritual, diskusi percakapan, mendengarkan musik, dan lain-lain.
d. Kegiatan Melihat atau Visual activity, meliputi mengamati ilustrasi gambar, membaca, mencoba setelah memperhatikan, dan lain-lain.
e. Kegiatan Berpikir atau Mental activities, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan menganalisis, menentukan suatu keputusan, memberi tanggapan, mengingat, , dan lain-lain.
f. Kegiatan Motorik atau Motor activities, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan berkebun atau bercocok tanam, bermain, mereparasi, memelihara dan merawat hewan, dan lain-lain.
g. Kegiatan Linguistik atau Oral activities, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan menyampaikan ide dan pendapat, wawancara, memberikan saran atau wejangan, berdiskusi, dan lain-lain.
h. Kegiatan Menggambar atau Drawing activities, meliputi kegiatan yang berkaitan dengan menggambar peta, ilustrasi, grafik, dan lain-lain.36
Kegiatan-kegiatan tersebut tentu saling melengkapi dan berkaitan antar yang satu dengan lainnya, misalnya seperti kegiatan emosi/perasaan dan berpikir/mental juga menjadi bagian kegiatan
36 Dirjen Binbaga Islam, Metodik Khusus Pengajaran … Op. Cit., 106.
motorik. Berdasarkan sisi kelebihan dan penerapan prinsip-prinsip setiap kegiatan ditandai dengan ketanggapan seseorang terhadap sesuatu atau masalah yang ia selesaikan dan ia atas dengan baik secara berulang, sehingga dapat menciptakan sifat-sifat positif yang meliputi rajin, percaya diri, mudah beradaptasi dan sosialisasi, berhati-hati, teliti, dan lain-lain.
Pada mata pelajaran spiritual agama pun, kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan seperti prinsip mata pelajaran yang lain, namun yang harus diingat oleh pendidik adalah jadwal atau waktu mengajar. Karena seorang pendidik harus memberikan waktu dan kesempatan bagi peserta didik secara individu ataupun kelompok untuk aktif dalam kegiatan jasmani maupun rohani. Oleh sebab itu, seorang pendidik perlu mempertimbangkan metode pembelajaran yang tepat agar peserta didik menjadi aktif, seperti memberikan kuis, metode ceramah, tanya jawab, metode diskusi, memberikan kesempatan peserta didik berargumen, presentasi, merangkum, dan lain-lain. Adapun metode-metode yang menunjang dan sesuai adalah seperti metode proyek yang dilakukan secara individu ataupun kelompok, sosiodrama, metode diskusi, dan lain sebagainya.
7. Motivasi37
Setiap peserta didik tentu mempunyai suatu dukungan yang berkaitan dengan kebutuhan psikologis maupun kebutuhan biologis. Selain itu peserta didik juga minat, keinginan, sikap, hasrat dan lainnya yang dapat memotivasi dirinya untuk menggapai semua tujuan dan impian-impian tertentu meski mungkin tidak selalu berkaitan langsung dengan tujuan belajar sesuai kondisi sekolah. Maka dari itu kewajiban dan tugas seorang pendidik
37 Dalam deskripsi ini, lebih detailnya lihat dalam Suari, Kepemimpinan Kiai &
Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Interpena, 2012), 162.
adalah menciptakan pola yang dapat mendukung peserta didik dalam menggapai tujuan-tujuan dalam belajar.
Dalam perspektif hierarki kebutuhan Maslow berpendapat dalam sudut pandang hirearki bahwa kebutuhan manusia akan terus meningkat seiring berjalannya waktu, sehingga perlu memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan pokok dan utama. Selain itu, pada prinsipnya setiap manusia menginginkan kemampuan diri dan target-target dalam hidup dapat tercapai dan terwujud sesuai dengan harapannya. Hal Inilah yang disebut dengan istilah hirearki kebutuhan manusia.
Pernyataan tersebut timbul karena sudut pandang manusia yang terikat dengan kebutuhan-kebutuhan dalam hidup, baik berupa kebutuhan spiritual maupun kebutuhan material. Oleh sebab itu perilaku-perilaku manusia yang berbeda dilatarbelakangi oleh kebutuhan-kebutuhan yang harus terpenuhi. Kebanyakan manusia tidak pernah merasa puas terhadap kebutuhan dan keinginannya, apabila ia telah memenuhi satu kebutuhan maka ia akan melihat kebutuhan yang lain dan merasa kurang sehingga mereka akan terus berupaya memenuhi kebutuhan dan keinginannya hidupnya. Begitu pula dalam pendidikan bahwa manusia menjadi objek dan subjek pendidikan yang berkaitan dengan berbagai kebutuhan pula.
Berdasarkan sudut pandang Maslow terkait hierarki kebutuhan manusia adalah seseorang pada waktu tertentu telah memenuhi satu kebutuhannya, maka kebutuhan dan keinginannya akan meningkat lebih luas lagi dan lagi.38 Kebutuhan-kebutuhan manusia yang bervariasi dan bertingkat mendorong Maslow untuk merancang teori motivasi manusia. Setiap tingkatan kebutuhan dapat dikatakan terpenuhi hanya apabila kebutuhan pada tingkat
38 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), 40-41.
sebelumnya telah terpenuhi dengan rasa puas yang bersifat relatif.
Dalam artian terdapat empat tingkatan kebutuhan yakni meliputi tingkatan growth need atau metaneeds, dan tingkatan deviciency need atau basic need. Kebutuhan dengan tingkatan yang rendah perlu terpuaskan dan terpenuhi terlebih dahulu sebelum individu tersebut terdorong dan termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya. Jadi sebelum timbul rasa tenang dan aman, maka kebutuhan fisiologi harus terpuaskan terlebih dahulu.
Dan setelah kebutuhan rasa tenang dan aman serta kebutuhan fisiologis telah terpenuhi dan terpuaskan, maka akan timbul kebutuhan baru yakni kebutuhan kasih sayang dan seterusnya hingga kebutuhan tingkat rendah terpenuhi satu per satu. Hal ini dapat dikatakan bahwa tingkatan motivasi sifatnya mengikat.
Adapun kelima tingkatan tersebut dapat diuraikan pada tabel sebagai berikut :
Tingkatan Uraian
Kebutuhan Berkembang (Metaneeds)
Metaneeds (Self Actualization
Needs)
Kebutuhan individu yang perlu disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya. Kebutuhan
pengembangan diri, realisasi diri, serta kreativitas.
Kebutuhan harkat dan martabat manusia guna mewujudkan tujuan terus menjadi lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya.. Being- values atau ni;ai-nilai -> 17 kebutuhan yang berhubungan dengan kecerdasan dan kognitif seseorang, pemahaman, ilmu pengetahuan, pencarian arti
bahagia dan menjauhi penderitaan dan kesedihan. Setiap kebutuhan memiliki potensi yang selaras dan sama, sehingga dapat saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Kebutuhan Karena Kekurangan (Basic Needs)
Esteem Needs
Kebutuhan kemampuan, daya, kemandirian, rasa percaya diri yang tinggi, kompetensi, serta kekuasaan dan kewenangan.
Kebutuhan harga diri,
penghormatan, prestise, dominasi atau mayor, menjadi tokoh yang penting, pengenalan diri, status, dan famous.
Love Needs/Belonging
Ness
Kebutuhan keluarga, cinta kasih, teman, sahabat, kekasih,
memperbanyak keturunan, anak.
Kebutuhan guna menjadi anggota dari suatu kelompok masyarakat dan sekitar.
Maslow menyatakan bahwa kebutuhan cinta atau love needs yang gagal, akan membentuk pribadi yang psikopatologis.
Sefety Needs
Kebutuhan terhadap rasa damai, tenang, rasa takut, aman,
sistematis, teratur, struktural dan bebas.
Psychological Kebutuhan istirahat, makanan,
Needs minuman, garam, vitamin, gula, protein, kesehatan, dan seks yang disebut dengan nomeostatik
Pengklasifikasian kebutuhan-kebutuhan di atas dapat mengakibatkan bekerja secara bersamaan sekaligus, tidak selalu bekerja secara eksklusif. Dalam artian bahwa setiap manusia tidak selalu eksklusif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan bisa saja dalam suatu waktu tertentu memerlukan dua atau lebih kebutuhan yang berbeda.
Menurut Abraham Harold Maslow, secara umum teori kebutuhan manusia bersifat behaviorisme. Oleh sebab itu teori motivasi manusia dibuat dan disusun oleh Maslow memandang kebutuhan manusia yang beragam dan bervariasi sesuai tingkatannya.39 Terpenuhinya setiap tingkatan kebutuhan manusia ditandai dengan pemuasan yang relatif pada setiap individu.40 Berdasarkan kuantitatif dan kualitatif, Maslow memperkirakan kesehatan setiap individu yang berbeda-beda, bahkan saat
39 Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.
40 Yang agak sama teori motivasi adalah dari Vroom yaitu tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang d