لميِم
B. Kualitas Pendidikan
Belakangan ini, kualitas pendidikan merupakan pembicaraan yang masih hangat. Sebab kualitas pendidikan berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, seperti pemerintahan, bisnis, sistem pendidika, dan lain sebagainya. Berdasarkan KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, kualitas merupakan mutu, tolak ukur suatu hal yang baik dan buruk, kemampuan, derajat, taraf, pengetahuan, kognitif dan lain sebagainya.117
Selain itu definisi lain terkait kualitas adalah derajat atau tingkat atau pangkat yang lebih unggul usaha atau hasil kerjanya, dan didefiisikan sebagai suatu barang atau jasa, serta aset terhitung
117Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hal 667
dan tidak terhitung (tangible atau intangible).118
Kualitas pada aspek pendidikan berhubungan dengan pelayanan yang diberikan dengan sempurna dan optimal agar pemakai atau pengguna jasa pendidikan dapat merasa puas dan kebutuhan pendidikannya terpenuhi dengan baik. Kualitas pendidikan tentu akan berhubungan dengan proses pelaksanaan pendidikan, memasukkan data siswa, hasil kelulusan yang merupakan output lembaga pendidikan dalam sitem penyelenggaraan pendidikan.
Kebanyakan menyampaikan bahwa kualitas suatu pendidikan merupakan ilustrasi gambar dan pelayanan secara internal dan eksternal yang menyeluruh terkait karakteristik dan mengindikasikan potensi dan kebutuhan yang diinginkan secara tersirat meliputi output, proses, serta input pendidikan.119 Lembaga pendidikan bukan hanya satu-satunya yang menentukan kualitas suatu pendidikan, akan tetapi juga menyesuaikan dengan harapan, keinginan, serta perspektif masyarakat yang terus bergerak dinamis sesuai perkembangan zaman. Bertumpu pada kecondongan tersebut, seiring berjalannya waktu masyarakat tentu akan terus menilai terkait kualitas pendidikan yang terdapat pada sekolah, seperti melihat input dan output yang dihasilkan. Oleh sebab itu sekolah perlu terus menyesuaikan tuntutan masyarakat yang terus berkembang dnegan meningkatkan kualitas output yakni kelulusan siswa sehingga kualitas pendiidkan sekolah tetap sesuai dengan dasar pendiidkan yang ideal.
Oleh sebab itu sekolah perlu memprioritaskan peserta didik dalam proses pembelajaran dan kegiatan atau program sekolah ke
118 B. Suryobroto, Menejemen Pendidikan Di Sekolah ( Jakarta: Reneka Cipta, 2004), hal, 210
119 Syaiful Sagala, Menejemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan:
Pembuka Ruang Kreatifitas, Inovasi, Dan Pemberdayaan Potensi Sekolah Dalam Sistem Otonomi Sekolah (Bandung: Alfabeta 2009), hal 170
arah perbaikan yang konstruktif dan lebih kreatif.120 Kualitas dalam suatu pendidikan difokuskan terhadap peserta didik serta proses dalam pembelajarannya. Sebab apabila proses pembelajaran kurang baik, tentu akan mengakibatkan kualitas pendidikan yang sulit untuk dicapai dan diwujudkan. Keadaan kualitas pendidikan juga disampaikan oleh Prof. Suryadi dalam bukunya, yang menyatakan bahwa :121
Reading Literacy atau kemampuan literasi membaca siswa Indonesia jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya ataupun wilayah ASEAN terbilang sangat rendah. IEA atau International Association For Evaluation Of Educational dalam suatu penelitian pada tahun 1992 mengungkapkan bahwa kemampuan literasi siswa tingkat Sekolah Dasar yaitu kelas IV menduduki urutan ke 2 dari belakang setelah Venezuel (yang menduduki peringkat terakhir yakni 30), dalam artian urutan ke 29 dari 30 negara yang ikut serta.122
120Syafaruddin, menejemen mutu terpadu dalam pendidikan: konsep, Strategi dan Aplikasi (Jakarta: PT Grasindo, 2002), hal 35
121Ace Suryadi. Mewujudkan Masyarakat Pembelajar.(Bandung : Widya Aksara Press,2009), hal 151
122Data diatas relevan dengan hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah laporan pendidikan “Education in Indonesia from Crisis to Recovery” tahun 1998. Hasil studi tersebut menunjukan bahwa rata-rata kemampuan membaca anak-anak kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina yang memperoleh nilai 52,6 dan Thailand dengan nilai 65,1 serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh nilai 75,5.Buruknya kemampuan membaca anak-anak kita sebagaimana data diatas berdampak pada kekurang mampuan mereka dalam penguasaan bidang ilmu pengetahuan dan Matematika. Hasil tes yang dilakukan oleh Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dalam tahun 2003 pada 50 negara di dunia terhadap para siswa kelas II SLTP, menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia yang hanya mampu meraih peringkat ke-34 dengan nilai 420 dalam kemampuan bidang Matematika dengan nilai 411 dibawah nilai rata-rata Internasional 467.Hasil test bidang ilmu pengetahuan mereka harus mampu menduduki peringkat ke-
Hasil data tersebut mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan di indonesia sangat rendah. Agar kualitas pendidikan dapat diperbaiki, maka perlu memaami konsep kualitas dalam dunia pendidikan. Edward Salliss menyampaikan bahwa kualitas adalah suatu cara atau strategi yang dapat menentukan dan menyesuaikan produk atau hasil akhir (output) dengan standar yang telah ditentukan.123 Undang-undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan “ Fungsi pendidikan nasional yakni mengembangkan potensi, kemampuan, karakter serta peradaban nusa dan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, mandiri, cakap sehat, berilmu, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.124 Namun pada faktanya, keadaan dalam proses dan output (hasil akhir) dari pendidikan sangat memprihatinkan, sehingga perlu adanya aksi nyata dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.
Menurut Beeby, kualitas pendidikan dibagi menjadi tiga sudut pandang yang meliputi : sudut pandang pendidikan, sosiologi, serta ekonomi. Dari sudut pandang ekonomi, pendidikan dikatakan berkualitas apabila pendidikan tersebut dapat berkontribusi secara
36 dengan nilai 420 di bawah nilai rata-rata Internasional 474.
Dibandingkan dengan anak-anak Malaysia mereka telah berhasil menduduki nilai 508 diatas nilai Internasioanl. Dan dalam bidang ilmu pengetahuan mereka menduduki peringkat ke-20 dengan nilai 510 diatas nilai rata-rata Internasional. Dengan demikian tampak jelas bahwa kecerdasan bangsa kita sangat jauh ketinggalan dibawah negara-negara berkembang lainnya.
123Edward Sallis. Total Quality Management in Education. (Yogyakarta : IRCISOD, 2006), hal. 53
124Undang-undang RI no. 20 th 2003 tentang Sisdiknas. Dephukum RI. (Jakarta : Sinar Grafika). hal 5
maksimal terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi.
Output sekolah yang meliputi kelulusan siswa harus dapat sesuai dan memenuhi angkatan kerja di seluruh aspek ekonomi secara langsung. Sebab pertumbuhan dan perkembangan ekonomi akan meningkat drastis apabila siswa lulusan sekolah langsung mendapatkan pekerjaan. Berd sarkan sudut pandang sosiologi, pendidikan dapat dikatakan berkualitas apabila pendidikan dapat membawa keuntungan dan manfaat terhadap seluruh kebutuhan masyarakat yang meliputi akomodasi sosial, menurunnya tingkat kebodohan di masyarakat, tumbuh dan berkembangnya kesejahteraan, serta berkembangnya kebudayaan. Berdasarkan topik yang terdapat di sekolah, kualitas dianggap sebagai potensi atau kemampuan suatu sekolah dalam menaggapi dan melayani keutuhan peserta didik dan masyarakat. Hal ini selaras dengan Phillip yang menyatakan bahwa : “Quality In School Is, Defined By The School’ Ability To Respon And Satisfy These Needs In Part Least,.”
Lalu disampaikan lagi bahwa : “ school must meet the needs of society as well, so school not only about meeting the needs of children”.
Sementara sudut pandang pendidikan memandang kualitas pendidikan dari segi richness atau pengayaan pada proses pembelajaran , kemampuan berpikir kritis siswa, dan potensi kelulusan siswa.125