AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG
E. Akuntansi Penjualan Barang Dagangan
Harga katalog Rp1,250 box x @ Rp1.240 Rp1.550.000
-/- Potongan dagang I (15% x Rp1.550.000) Rp232.500 Harga setelah dikurangi potongan dagang I Rp1.317.500
-/- Potongan dagang II (10% x Rp1.317.500) Rp131.750 Harga setelah dikurangi potongan dagang I
dan potongan dagang II Rp1.185.750
6. Persediaan Barang Dagangan Akhir
Persediaan barang dagangan akhir berdasarkan sistem periodik adalah jumlah barang dagangan yang masih tersedia di gudang pada akhir periode. Persediaan barang dagangan akhir dihitung dengan cara menghitungnya secara fisik. Hasil perhitungan fisik kemudian dikalikan dengan harga pokok per unit, diperoleh nilai persediaan akhir dalam bentuk rupiah. Sementara pada sistem perpetual yang dimaksud dengan persediaan akhir adalah besarnya saldo akun persediaan barang dagangan pada akhir periode. Pada sistem perpetual perhitungan fisik barang dagangan di gudang tetap dilakukan untuk keperluan penyesuaian nilai persediaan pada akhir periode. Sebagai contoh akan di bahas pada sub bab selanjutnya.
metode perpetual, transaksi penjualan barang dagangan secara tunai tersebut dicatat dengan mendebit kas dan harga pokok penjualan serta penjualan dan persediaan barang dagangan di sisi kredit.
SISTEM PERIODIK
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp000)
Debit Kredit
2020
Januari 4 Kas 600.900
Penjualan 600.900
Penjualan tunai barang dagangan
SISTEM PERPETUAL
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp000)
Debit Kredit
2020
Januari 4 Kas 600.900
Penjualan 600.900
Harga Pokok Penjualan 400.100
Persediaan barang dagangan 400.100
Penjualan barang dagangan secara kredit
Seiring kemajuan teknologi, saat ini seringkali pelanggan membayar penjualan menggunakan kartu debit atau kartu kredit yang diterbitkan oleh bank seperti Master Card dan Visa. Perusahaan mengakuinya sebagai penjualan tunai. Penjual menyetor slip kartu kredit atas penjualan tersebut langsung ke rekening bank. Umumnya bank akan membebani service charge untuk penanganan penjualan yang menggunakan kartu kredit. Penjual mendebit service charge tersebut ke akun beban. Sebagai ilustrasi, selama bulan Pebruari 2020 beban yang diterima akibat penjualan yang dibayarkan menggunakan kartu kredit adalah Rp125.700. Ayat jurnal yang dibutuhkan pada akhir periode untuk mencatat pembayaran service charge atas penjualan dengan kartu kredit sebagai berikut.
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Pebruari 29 Beban kartu kredit 125.700
Kas 125.700
Service charge penjualan tunai barang
dagangan menggunakan kartu kredit Penjualan Kredit
Untuk meningkatkan volume penjualan adakalanya perusahaan melakukan penjualan secara kredit. Sebagai ilustrasi, tanggal 29 Pebruari dilakukan penjualan secara kredit sejumlah Rp300.300 dengan credit term 1/10 n/20. Atas transaksi tersebut, jurnal yg dilakukan jika perusahaan menggunakan metode periodik adalah piutang dagang di debit dan penjualan di sisi kredit. Namun jika menggunakan metode perpetual, transaksi tersebut dicatat dengan mendebit piutang dagang dan harga pokok penjualan serta penjualan dan persediaan barang dagangan di sisi kredit.
SISTEM PERIODIK
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Pebruari 29 Piutang usaha 300.300
Penjualan 300.300
Penjualan kredit barang dagangan
SISTEM PERPETUAL
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Pebruari 29 Piutang usaha 300.300
Penjualan 300.300
Harga Pokok Penjualan 200.200
Persediaan barang dagangan 200.200
Penjualan barang dagangan secara
kredit
2. Potongan Penjualan
Transaksi penjualan mungkin menawarkan syarat pembayaran kepada pembeli, salah satunya adalah potongan. Potongan semacam ini disebut sales discount (potongan penjualan), yang merupakan pengurang terhadap pendapatan penjualan. Akuntan dapat mendebit akun penjualan akibat adanya potongan penjualan, akan tetapi manajer mungkin berkepentingan untuk mengetahui jumlah potongan penjualan (sales discount) dalam satu periode guna memutuskan apakah kebijakan yang diambil sudah tepat, jika tidak maka akan mengubah syarat penjualan sehingga akuntan mencatat potongan penjualan pada akun tersendiri.
Akun potongan penjualan adalah kontra akun penjualan.
Sebagai contoh pada kasus sebelumnya, tanggal 8 Maret diterima kas akibat penjualan kredit tanggal 29 Pebruari syarat 1/10 n/20. Credit term memiliki pengertian bahwa potongan sebesar 1% dari harga jual akan diberikan kepada pelanggan apabila pembayaran dilakukan dalam waktu kurang sampai dengan 10 hari setelah tanggal penjualan. Tetapi setelah lebih dari 10 hari, pelanggan harus membayar penuh. Tanggal jatuh tempo pembayaran adalah 20 hari setelah tanggal faktur. Pencatatan potongan penjualan pada sistem periodik dan perpetual dilakukan dengan mendebit akun potongan penjualan dan diperlakukan sebagai pengurang akun penjualan. Pelunasan piutang ini masih pada periode potongan (9 hari dari penjualan kredit) sebesar 1% dari jumlah piutang Rp300.300.
Akuntan akan mencatat penerimaan kas sebagai berikut.
SISTEM PERIODIK DAN SISTEM PERPETUAL
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Januari 20 Kas 297.297
Potongan penjualan 3.003
Piutang usaha 300.300 Pelunasan piutang usaha pada periode
potongan
3. Retur Penjualan
Pada saat perusahaan telah melakukan penjualan, suatu saat pelanggan dapat saja mengembalikan barang dagangan karena terdapat salah pengiriman pesanan atau barang dagangan tersebut rusak. Hal ini disebut dengan retur penjualan. Keadaan ini membuat penjual dapat mengurangi harga jual dari semula. Jika retur penjualan tersebut awalnya merupakan penjualan yang telah memperoleh potongan penjualan, maka akan berpengaruh juga terhadap akun potongan penjualan. Pada retur penjualan barang dagangan penjualan biasanya mengirimkan kepada pembeli memorandum kredit (credit memorandum), atau biasa di sebut kedit nota. Kredit nota ini memperlihatkan jumlah dan alasan dilakukannya pengkreditan oleh penjual ke piutang usaha seperti terlihat pada contoh berikut.
Gambar 7. Contoh Nota Kredit
Retur penjualan dan potongan penjualan akan memperkecil pendapatan penjualan. Retur penjualan akan menyebabkan tambahan ongkos angkut dan beban lain akibat pengembalian barang dagangan tersebut. Manajer selalu ingin mengetahui jumlah retur penjualan untuk satu periode, hal ini menyebabkan perusahaan harus mencatat
retur pada akun terpisah. Sebagai contoh, tanggal 11 Januari diterima retur dari pelanggan sejumlah Rp800.000. Atas retur tersebut PD. Sri Rezeki mencatat memo kredit pada seperti pada gambar 7 dan kemudian melakukan pencatatan ke dalam jurnal sebagai berikut.
SISTEM PERIODIK
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Januari 11 Retur penjualan 800.000
Piutang usaha 800.000
Retur penjualan dari penjualan kredit
SISTEM PERPETUAL
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Januari 11 Retur penjualan 800.000
Piutang usaha 800.000
Persediaan barang dagangan 480.700
Harga Pokok Penjualan 480.700
Retur penjualan dari penjualan kredit 4. Pajak Penjualan
Pada sistem perpajakan Indonesia setiap penyerahan barang kena pajak dipungut pajak pertambahan nilai (PPn), dimana besarannya 10%
dari nilai barang. Pajak pertambahan nilai ini diperhitungkan pada saat penjualan barang dagangan, tanpa memandang bentuk syarat penjualan.
Pajak yang dipungut merupakan utang pajak kepada Dirjen pajak yang harus disetor bulan berikutnya. Oleh karena itu pada saat penjualan, penjual harus mencatat pajak yang dipungut dari pelanggan ke akun utang PPn.
Sebagai contoh misalnya penjualan barang dagangan yang dilakukan oleh PD Sri Rezeki tanggal 29 Pebruari terutang PPn 10% sehingga
besarnya piutang dagang yang diakui adalah senilai harga faktur ditambah dengan pajak pertambahan nilai (PPn) yang dipungut, yaitu sebesar Rp30.030 yang harus dibuat pada saat penjualan tersebut adalah
SISTEM PERIODIK
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Januari 11 Piutang usaha 330.330
Penjualan 300.300
Utang PPn 30.030
Penjualan kredit barang dagangan +
PPN
SISTEM PERPETUAL
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Januari 11 Piutang usaha 330.330
Penjualan 300.300
Utang PPN 30.030
Harga Pokok Penjualan 200.200
Persediaan barang dagangan 200.200
Penjualan kredit barang dagangan +
PPN
Jika pembeli membayar barang dagangan atau pun piutang usaha, kemudian terjadi retur terhadap barang dagangan tersebut dalam hal ini penjual dapat melakukan pendebitan terhadap utang PPN.
5. Beban Angkut Penjualan
Sama hal nya dengan pembelian, syarat penjualan juga harus menyebutkan saat kepemilikan atau hak atas barang tersebut berpindah tangan dari penjual kepada pembeli. Hal ini menentukan pihak mana
(di antara penjual dan pembeli) yang harus menanggung beban angkut.
Hak milik atas barang dagangan bisa beralih kepada pembeli saat penjual menyerahkan barang dagangan tersebut ke perusahaan pengangkutan.
Dalam hal ini syarat penjualan tersebut adalah FOB destination yaitu penjual memiliki tanggung jawab terhadap biaya transportasi sampai ke gudang pembeli.
Pada sistem periodik maupun sistem perpetual beban angkut penjualan tersebut diberlakukan sebagai beban operasi yang akan dikurangkan terhadap laba kotor penjualan pada akhir periode akuntansi.
Sebagai ilistrasi dalam penjualan oleh PD. Sri Rejeki harus menanggung beban angkut penjualan sebesar Rp225.500. Jurnal yang dilakukan pada saat pembayaran beban menurut kedua sistem ditunjukkan sebagai berikut.
SISTEM PERIODIK DAN SISTEM PERPETUAL
JURNAL UMUM JU: 1
Tanggal Uraian Ref Jumlah (Rp)
Debit Kredit
2020
Januari 11 Beban angkut penjualan 225.500
Kas 225.500
Pembayaran beban angkut penjualan
secara tunai
6. Potongan Dagang
Potongan dagang (rabat) umumnya dilakukan oleh grosir. Grosir atau pedagang besar adalah perusahaan yang menjual barang dagangan ke perusahaan lain (reseller) dan bukan ke konsumen langsung/masyarakat umum. Jika pedagang besar menerbitkan katalog terus-menerus akan memakan biaya, sehingga pedagang grosir seringkali menerbitkan daftar harga yang mungkin merupakan penurunan harga yang sangat besar bila dibandingkan dengan harga dalam katalog. Disamping pedagang grosir bisa juga menawarkan diskon khusus kepada pembeli tertentu, misalnya pemerintah atau perusahaan yang memesan dalam jumlah besar potongan semacam ini disebut rabat atau potongan dagang penjual dan pembeli lazimnya tidak mencatat daftar harga barang dagangan dan rabat
dalam akun-akun. Misalnya suatu barang dagangan mempunyai harga Rp1.000.000 dan rabat 40%, penjual akan mencatat penjualan barang dagangan tersebut senilai Rp600.000 (Rp1.000.000,- dikurangi rabat 40% dari Rp1.000.000). Pembeli juga akan mencatat pembelian tersebut sebesar Rp600.000.