• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Penerapan Studi Kelayakan Bisnis

BAB III: PEMBAHASAN

B. Analisis Penerapan Studi Kelayakan Bisnis

Jadi, dalam aspek ekonomi dan sosial yang perlu ditelaah apakah jika usaha atau proyek dijalankan akan memberikan manfaat secara ekonomi dan sosial kepada berbagai pihak atau sebaliknya. Oleh karena itu, aspek ekonomi dan sosial ini perlu dipertimbangkan, karena dampak yang akan ditimbulkan nantinya sangat luas apabila salah melakuka penilaian.101

Dari hasil peneliti mengenai aspek ekonomi dan sosial dampak yang didapatkan oleh masyarakat yaitu masyarakat terbantu dengan adanya Koperasi Tani Syariah Bina Usaha, keuangan terjaga dengan menabung dan masyarakat yang menjadi anggota dari Koperasi Tani Syariah Bina Usaha bisa mengajukan permohonan pembiayaan kepada koperasi. Disini penulis melihat Koperasi Tani Syariah Bina Usaha sudah mampu untuk memberikan dampak yang positif untuk masyarakat setempat.

B. Analisis Penerapan Studi Kelayakan Bisnis dalam Meminimalisir Resiko

yang menyebabkan terjadinya suatu kejadian adalah penting dalam analisis resiko.102

Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan di koperasi Tani Syariah Bina Usaha didapat beberapa analisis penerapan studi kelayakan bisnis dalam meminimalisisr resiko usaha koperasi diantaranya sebagai berikut:

1. Resiko Bisnis

Resiko bisnis di koperasi Tani Syariah Bina Usaha ini kerap terjadi pada mesin-mesin yang digunakan dalam usaha seperti, mesin jahit, mesin penetas dan yang lainnya. Hal ini akan berdampak pada hasil produksi koperasi yang akan mengalami penurunan karena disebabkan mesin yang digunakan sudah tidak optimal, sehingga hasil yang diproleh juga berkurang dan secara tidak langsung akan membuat pendapatan atau laba yang diperoleh oleh koperasi akan menurun.

Dalam hal ini pengurus koperasi menerapkan studi kelayakan bisnis dalam aspek teknis dimana pengurus akan menganti mesin yang sudah bekerja tidak optimal dengan mesin yang baru dengan cara menjual mesin yang lama dengan setengah harga untuk membeli mesin yang baru. Pengurus melakukan ini karena tidak ingin mengambil resiko jika mesin yang sudah rusak tidak bisa digunakan total sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut pengurus mengambil langkah menjual yang lama dan menggantinya dengan yang baru.

102Kasidi, Manajemen Risiko (Bogor : Ghalia Iindonesia, 2014), hlm. 5.

2. Resiko Keuangan

Setiap lembaga keuangan baik Bank ataupun non Bank baik yang konvensional ataupun yang syariah tidak lepas dari resiko keuangan dalam bentuk pembiayaan bermasalah. Begitu juga di koprasi Tani Syariah Bina Usaha.

Dalam menanggulangi pembiayaan bermasalah pengurus melakukan tindakan seperti menghubungi nasabah melalui telepon, jika tidak ada tanggapan dari nasabah lewat panggilan telepon maka pengurus akan mendatangi rumah nasah dan kalau langkah tersebut juga tidak membuahkan hasil maka pengurus akan mengadakan RAT dalam pengambilan keputusan untuk nasabah yang melakukan pembiayaan bermasalah.

3. Resiko Pasar

Setiap menjalankan usaha keuangan baik bank maupun non bank mempunyai resiko pasar yang tidak jauh-jauh dari persaingan. Contohnya yang dialami oleh koperasi Tani Syariah Bina Usaha.

Disini koperasi Tani Syariah Bina Usaha bersaing dengan lembaga keuangan bank dan non bank yaitu Pegadaian dan bank BRI yang sekarang sudah memasuki pedesaan. Adapun hal yang dilakukan untuk tetap menjaga eksistensi koperasi Tani Syariah Bian Usaha dengan cara mempromosikan koerasi Tani syariah Bina Usaha itu sendiri dan mempromosikan produk-produk yang dimiliki.

4. Resiko Murni

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa akibat dari resiko murni ini sendiri hanya menimbulkan satu kemungkinan, yaitu kemungkina rugi saja yang disebabkan oleh bencana alam. Hal ini juga dirasakan oleh koperasi Tani Syariah Bina Usaha.

Disini resiko yang dirasakan oleh koperasi Tani Syariah Bina Usaha adalah turunnya pendapatan dalam unit usaha ayam petelur yang disebabkan oleh cuaca buruk sehinngga menyebabkan ayam petelelur yang hidup di hawa yang panas tiba-tiba dilanda hawa dingin atau cuaca buruk mengalami penurunan produksi telur.

5. Resiko Dinamis

Dalam era globalisasi teknologi sudah sangat berkembang pesat.

Tidak terkecuali dalam lembaga keuangan bank yang sudah memanfaatkan teknologi yang maju dengan mengeluarkan produk ATM dan Mobile Banking.

Karena kemajuan teknologi yang dimanfaatkan oleh lembaga keuangan bank mengakibatkan peminat untuk lembaga keuangan non bank menurun, khusunya pada koperasi Tani Syariah Bina Usaha.

6. Resiko Operasional

Kredit macet merupakan salah satu resiko yang sangat dihindari oleh setiap lembaga keuangan baik bank maupun non bank. Setiap lembaga keuangan harus berhati-hati dalam memberikan pembiayaan kepada nasabah untuk menghindari terjadinya resiko perkreditan.

Pada Koperasi Tani Syariah Bina Usaha seperti yang sudah dijelaskan pada BAB II sebelumnya dimana Sumber Daya Manusia Dari koptan ini kurang teliti dalam mengamati nasabah yang akan diberikan pembiayaan. Sehingga banyak dari anggota yang di berikan pembiayaan terlibat masalah kredit macet.

Oleh sebab itu sebisa mungkin Para pengurus Koperasi Tani Syariah Bina Usaha memperhatikan apa saja yang harus di amati pada anggota yang mengajukan pembiayaan agar tidak terjadi hal yang sama yaitu kredit bermasalah.

7. Resiko Spekulatif

Setiap lembaga usaha tak terkecuali lembaga keuangan tujuan utamanya tidak lain adalah untuk mencari profit atau keuntungan.

Dengan cara yang berbeda-beda perusahan atau lembaga keuangan melakukan spekulatif semaksimal mungkin untuk mendapatkan profit sesuai dengan target yang telah ditetapkan ataubahakn melebihi dari target tersebut. Namun tidak semua spekulatif yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga keuangan mengalami keuntungan, kerugian bisa terjadi disetiap spekulatif yang dilakukan jika tidak dianalisis dengan teapat sasaran ataupun tujuan dari spekulatif yang dilakukan.

Pada Koperasi Tani Bina Usaha ini pengurus melakuakan spekulatif dengan cara mendirikan rumah makan yang akan diramalakan bisa memberikan keuntungan. Namun karena kurangnya perencanaan dari pihak pengurus sehingga letak dari rumah makan tidak strategis

sehingga kurangnya pengunjung yang datang, sehingga dari waktu ke waktu rumah makan menjadi sepi, banyak peralatan yang mengalami kerusakan sehingga yang pada awalnya rumah makan yang diharapkan bisa memberikan keuntungan namun malah sebaliknya rumah makan mengalami kerugian dan pada akhirnya ditutup.

Jika Koperasi Bina Usaha ingin melakukan spekulatif harusnya bisa lebih direncanakan dengan matang lagi sehingga tujuan dari spekulatif tersebut bisa sesuai dengan rencana.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Beredasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Penerapan studi kelayakan bisnis pada koperasi Tani Syariah Bina Usaha dilihat dari beberapa aspek, seperti: (a) aspek hukum dimana koperasi ini sudah memiliki SIUP resmi, (b) aspek pasar dan pemasaran koperasi Tani Syariah Bina Usaha hanya memainkan harga untuk menarik minat anggota dan calon anggota, (c) aspek keuangan koperasi dari anggota dan pemilik dan biaya-biaya yang dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan- kebutuhan koperasi, (d) aspek teknis/operasi lokasi koperasi ini tidak terlalu ramai dan operasionalnya sudah menggunakan teknologi, (e) aspek manajemen/organisasi koperasi diawasi oleh DPS dan jika terjadi penyimpangan baik dari internal ataupun eksternal kantor maka akan diadakan RAT, (f) aspek ekonomi sosial masyarakat di sekitar koperasi terbantu dan keuangan masyarakat bisa lebih aman dengan adanya koperasi Tani Syariah Bina Usaha ini.

2. Penerapan studi kelayakan bisnis dalam meminimalisir resiko usaha pada koperasi Tani Syariah Bina Usaha untuk mengetahui resiko usaha apa saja yang tengah terjadi dan langkah apa yang diambil untuk meminimalisir resiko tersebut. Adapun resiko-resiko usaha yang kerap terjadi di koperasi Tani Syariah Bina Usaha seperti: (a) resiko bisnis

68

dimana mesin jahit dan mesin penetas yang rusak dijual dengan setengah harga dan membeli mesin yang baru. (b) resiko keuangan disini sering terjadi pembiayaan bermasalah. (c) resiko pasar yang dihadapi oleh koperasi Tani Syariah Bina Usaha disini yaitu banyaknya pesaing dari lembaga keuagan bank ataupun non bank. (d) resiko murni dimana unit usaha ayam petelur yang menurun pendapatannya ketika musim hujan dan dingin. (e) resiko dinamis di era global ini LKS non Bank kurang diminati sebab Lembaga keuangan Bank yang masyarakat anggap lebih mempermudah ruang gerak mereka dengan meluncurkan Produk ATM danMobile Banking.(f) resiko operasional dimana SDM yang dimiliki oleh Koperasi Tani Syariah Bina usaha kurang cermat mengamati anggota yang mengajukan pembiayaan sehingga mengakibatkan terjadinya kredit bermasalah. (g) resiko spekulatif dimana unit usaha rumah makan yang di ramalkan akan memberikan untung untuk koptan berakhir ditutup karena jarangnya di datangi pengunjung, hal ini disebabkan oleh letak rumah makan tersebut kurang strategis dan sepi penduduk.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut:

1. Penerapan studi kelayakan bisnis pada Koperasi Tani Syariah Bina Usaha di Desa Pendem Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah, antara lain meliputi:

a. Pengurus koperasi agar lebih memperhatikan beberapa aspek yang kurang diterapakan seperti aspek pasar yang bentuk promosinya hanya melalui dor to dor dan penyesuaian harga. Jika pengurus lebih memperluas atau mengembangkan bentuk promosinya seperti promosi lewat media sosial, media cetak seperti brosur dan pamplet.

Dengan menggunakan promosi seperti itu akan membuat masyarakat luas tahu keberadaan koperasi Tani Syariah Bina Usaha dan berminat bergabung atau mendaftar menjadi anggota koperasi.

b. Pengurus koperasi agar lebih memperhatikan aspek teknis/ operasi dimana lokasi dan tata letak dari koperasi. Karena, jika pengurus memilih tempat yang strategis dan memperhatikan layout ruangan, hal kecil tersebut bisa membuat atau mempengaruhi minat nasabah untuk bergabung menjadi anggota pada koperasi Tani Syariah.

2. Penerapan Studi Kelayakan Bisnis Dalam Meminimalisir Resiko Pada Koperasi Tani Syariah Bina Usaha Di Desa Pendem Kecamatan Janpria Kabupaten Lombok Tengah, antara lain meliputi:

a. Ketika terjadi kerusakan mesin seperti mesin jahit dan mesin penetas. Jika bisa pengurus tidak menjual mesin yang rusak tersebut karena dalam menjalankan usaha aset yang dimiliki oleh perusahaan tidak untuk dijual tetapi dipertahankan dengan cara memperbaiki kerusakan mesin tersebut agar bisa beroperasi kembali dan menambah aset dengan membeli mesin yang baru untuk membantu produksi mesin yang rusak untuk meminimalisir kerusakan mesin yang sudah diperbaiki tersebut.

b. Untuk menarik minat nasabah agar melirik lembaga keuangan non bank khususnya koperasi Tani Syariah Bina Usaha pengurus bisa mengembangkan ide misalnya menjemput tabungan ke rumah anggota atau calon anggota untuk menyaingi lembaga keuangan bank yang meilki layanan ATM dan Mobile Banking. Dengan adanya ide ini bisa membuat masyarakat tertarik untuk bergabung dengan koperasi Tani Syariah Bina Usaha.

c. Untuk menghindari resiko terjadinya kredit bermasalah, seharusnya Pengurus koperasi syariah dalam menjalankan operasionalnya memilih sumber daya manusia yang benar-benar mengerti dalam hal memberikan pembiayaan. Karena dalam memberikan nasabah atau anggota pembiayaan ada hal-hal yang perlu diperhatikan atau dinilai

pada calon penerima pembiayaan seperti dalam dunia perbankan syariah prinsip penilaian di kenal dengan 5C + 1S dan 7P.

DAFTAR PUSTAKA

Abdad, M. Zaidi. Lembaga Perekonomian Ummat di Dunia Islam. Bandung:

Angkasa, 2003.

Bashith, Abdul. Islam dan Manajemen Koperasi: Prinsip dan Strategi Pengembangan Koperasi di Indonesia. Malang: UIN-MALANG PRESS, 2008.

Purwana, Dedi & Nurdin Hidayat. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2016.

Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara, 2016.

http://kicknews.today/2017/08/26/Setelah-koperasi-polda-kini-gerakan -bebas- riba-meluas-di-ntb/. Diambil tanggal 30 Oktober 2018 Pukul 11.11 WITA.

Hubaibi Asikin, “Prospek Pengembangan Usaha Air Tawa, Perspektif Ekonomi Islam” (Studi Kasus di Desa Sigerongan kecamatan Lingsar).

(Skripsi,FSEI UIN Mataram, Mataram, 2013.

Hasan, M. Ali. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2004.

Jumingan. Studi Kelayakan Bisnis: Teori dan Pembuatan Proposal Kelayakan.

Jakarta: Bumi Aksara, 2014.

Kasmir dan Jakfar. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Kencana, 2012.

Kasidi. Manajemen Risiko. Bogor: Ghalia Indonesia, 2014.

Listriyani, “Analisi Kelayakan Nasabah dalam Pembiayaan di BPRS Insan Karimah Bekasi”. Skripsi, Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Purwokerto, 2015.

M. Afiful Ummam, “Analisis Faktor Studi Kelayakan Bisinis pada Pengembangan UMKM (Studi Kasus pada Industri Kecil Unit Pengelolaan dan Pemasaran Ikan “Fatimah Az-Zahra” Borobudur Kab.

Magelang)”. Skripsi, Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang, 2016.

Muhammad. Metodologi Penelitian Ekonomi Islam: Pendekatan Kuantitatif.

Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008.

QS Al-Qamar [54] : 44. 73

Rizky Sanjaya Putra, “Analisis Kelayakan Usaha GerabahAnggota Koperasi Kasongan Usaha Bersama (KUB)”. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, 2016.

Ruslan, Rosdy. Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2013.

Soemitra, Adi. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana, 2009.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:

Alfabeta, 2014.

Sugiyono. Metode Penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta, 2014.

Sandy Makruf, “Pengertian Resiko Usaha, Jenis- jenis dan Contohnya”, dalam www.akuntansilengkap.com/manajemen/pengertian-resiko-usaha-jenis- dan-contohnya/, diakses tanggal 10 Desember 2018, pukul 21.37 WITA.

Khan, Tariqullah & Habib Ahmed. Manajemen Risiko Lembaga Keuangan Syariah. Terj. Ikhwan A. Basri. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

PEDOMAN WAWANCARA

Komponen wawancara: Aspek Hukum, Aspek Pasar, Aspek Keuangan, Aspek Teknis/ Operasi, Aspek Manajemen/ Organisasi Dan Ekonomi Sosial.

Narasumber:

1. Pak Mulhakim 2. Pak Zulkarnain 3. Ibu Ella

4. Ibu Is

5. Humidat Basri 6. Abdusy Syukur 7. Bapak Rudi 8. Nana

NO. Landasan

Teori

pertanyaan

1. Aspek Hukum a. Apakah Koperasi Tani Syariah Bina Usaha sudah memiliki SIUP atau belum?

b. Adakah penghargaan yang yang sudah di raih oleh Koperasi Tani Syariah Bina Usaha?

c. Apakah ada sertifikat kepemilikan

gedung baik di sewa/ kepemilikan sendiri?

2. Aspek Pasar dan Pemasaran

a. Apa saja produk-produk yang ditawarkan oleh Koperasi Tani Syariah Bina Usaha?

b. Apakah pengurus membuat ide baru unruk pengembangan produk tiap tahunnya di tengah banyaknya para pesaing?

c. Apa saja bentuk promosi yajg dilakukan pengurus dalam mempromosikan koperasi/ produk- produk Koperasi Tani Syariah Bina Usaha?

d. Saat usaha dirasa menurun. Apa yang akan dilakukan pengurus untuk menstabilkan kembali usaha Koperasi Tani Syariah Bina Usaha?

3 Aspek Keuangan a. Dari mana saja sumber modal awal Koperasi Tani Syariah Bina Usaha?

b. Apa saja biaya-biaya yang dikeluarkan untuk usaha Koperasi?

c. Berapa pendapatan yang didapatkan

oleh Koperasi Tani Syariah Bina Usaha satu tahun ini (2018)?

4 Aspek Teknis/

Operasi

a. Kenapa pengurus memilih lokasi disini untuk tempat berdirinya Koperasi?

b. Apakah proses usaha sudah sepenuhmya menggunakan tekonologi atau masih manual?

5 Aspek Manajemen/

Organisasi

a. Siapa yang mengawasi jalannya usaha pada Koperasi Tani Syariah Bina Usaha?

b. Saat terjadi penyimpangan. Apa yamg akan dilakukan pengurus?

6 Ekonomi Sosial Dari awal perjalanan usaha, dampak apa saja yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya Koperasi Tani Syariah Bina Usaha ini?

Dokumen terkait