• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Pihak yang

BAB III ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PIHAK YANG

B. Analisis Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Pihak yang

60

B. Analisis Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Pihak yang Beri’tikad Baik

61

Dari kutipan ayat Al-Quran diatas dapat kita pahami manusia di dalam masyarakat hidup di dunia ini tidak bisa sendiri tanpa bantuan orang lain. masyarakat beraktivitas sehari-hari itu memerlukan orang lain untuk membantu sesama individu yang satu dengan individu yang lain dari segi kebutuhan, dari segi untuk mengerjakan kebun atau pertanian dan untuk menggarap kebun yang tidak di kelola dari pada di biyarin tidak di manfaatin.

Kerjasama bagi hasil merupakan kerjasama yang di lakukan antara kedua orang atau lebih dalam melakukan pekerjaan dimana hasil akan dibagi berdasarkan kesepakatan yang telah ditentukan bersama, yang memiliki nilai keadilan antara keduanya. Karena keadilan yang harusnya menjadi dasar utama dalam kehidupan sehari-hari untuk menonjolkan rasa jujur kepada orang lain atau hubungan timbal balik saat melakukan kerjasama ini.

Semua yang disebut di atas merupakan sistem pengolahan yang sederhana yang membentuk kerjasama antara pihak pemilik lahan kepada pihak penggarap yang di dasari atas dasar kepedulian persahabatan dan saling bantu antara kedua belah pihak.

Merupakan perjanjian secara persaudaraan antara dua rekan, seorang yang memberikan tanahnya dan yang lebih penting modal, sementara lainnya memberikan tenaga- tenaganya.

Islam dengan tegas melarang kebohongan dan penipuan dalam bentuk apa pun.

Nilai kebenaran ini memberikan pengaruh pada pihak yang melakukan perjanjian untuk tidak berdusta, tidak menipu dan melakukan kecurangan. Perjanjian dalam hukum Islam pada dasarnya dapat dilakukan dalam segala perbuatan yang dapat menimbulkan akibat hukum (penyebab munculnya hak dan kewajiban) bagi pihak-pihak yang terkait.

62

Bentuk perjanjian yang terjadi antara kedua belah pihak yang melakukan perjanjian adalah tergantung pada bentuk atau jenis obyek perjanjian yang dilakukan. Perjanjian merupakan suatu akad yang sangat penting bagi orang yang membuat atau yang mengucapkannya, baik itu janji kepada Allah SWT., orang lain, lingkungan atau institusi, maupun janji kepada dirinya sendiri. Dalam hukum Islam suatu perjanjian dianggap begitu penting oleh kalangan masyarakat Indonesia khsusnya umat Islam.

Mengingat dengan adanya sebuah hukum perjanjian hukum Islam akan menimbulkan sebuah transaksi-transaksi bisnis yang terbebas dari sebuah unsur yang dilarang oleh syariat Islam.75

Pada zaman sekarang sistem bagi hasil dapat berjalan dengan baik antara pihak pemilik lahan maupun pihak penggarap, kemudian akan mendapatkan bagian dari hasil tanahnya tersebut dan pembagiannya tersebut sesuai memperoleh hasil panennya.

Namun dalam observasi yang dilakukan peneliti, kerjasama yang dilakukan ini tidak sesuai dengan tidak terpenuhi dari syarat sahnya perjanjian yaitu adanya ada sepakat antara kedua belah pihak dalam perubahan perjanjian ini.

Berdasarkan masalah yang ada dilapangan tentang mudharabah atau perjanjian bagi hasil dengan dasar hukum Al-Quran dan Hadist dapat diartikan bahwa dalam sistem bagi hasil atau kerjasama yang dilakukan masyarakat di Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah tidak sesuai dengan ketentuan oleh hukum Islam, akan tetapi kerjasama disini harus ada keterbukaan antara pihak pemilik lahan dan pihak penggarap supaya tidak ada saling dirugikan.

75 Imam Mahmudi, “Perlindungan Hukum Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Akad Murobahah Perspektif Hukum Islam dan KUHperdata (Studi Kasus BMT Istiqomah Tulungagung)”, Al-Muttaqin Jurnal Studi, Sosial, dan Ekonomi, Vol. 2, Nomor 1, Januari 2021, hlm. 110.

63

Kemudian kaitannya dengan apa yang telah menjadi kesepakatan dalam perjanjian, masing-masing pihak hendaknya saling menghormati hak dan kewajibannya masing- masing, sebagaimana ketentuan hukum yang diatur dalam Al-Qur‟an surat Al-Ma‟idah ayat 1:

















































Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”.76

Dari penjelasan surat diatas sangatlah wajar dan amat sesuai bila surat ini dimulai dengan tuntunan kepada orang beriman untuk memenhui akad dan ketentuan yang ada sambil mengingatkan nikmat-Nya menyangkut dihalalkannya binatang ternak buat mereka. Allah memulai tuntunan-Nya ini dengan menyeru: “Hai orang-orang yang beriman”, untuk membuktikan kebenaran iman kalian, “penuhilah akad-akad itu”,

yakni baik akad antara kamu dan Allah yang terjalin melalui pengakuan kamu dengan beriman kepada Nabi-Nya ataupun melalui nalar yang dianugerahkan-Nya kepada kamu, demikian juga perjanjian yang terjalin antara kamu dan sesama manusia, perjanjian antara kamu dan diri kamu sendiri, bahkan semua perjanjian selama tidak mengandung pengharaman yang halal atau penghalalan yang haram.

Sedemikian tegasnya Al-Qur‟an dalam kewajiban memenuhi akad sehingga setiap Muslim diwajibkan memenuhinya walaupun hal tersebut merugikannya, hal ini dikarenakan rasa aman masyarakat akan terusik jika melepaskan ikatan perjanjian itu dibenarkan. Sekalipun itu merugikan seseorang untuk memenuhi akad perjanjian,

76 QS. Al-Ma‟idah [5]: 1.

64

pemenuhan akad tersebut harus tetap diwajibkan demi memelihara rasa aman dan ketenangan seluruh anggota masyarakat, dan memang kepentingan umum harus lebih didahulukan atas kepentingan pribadi.77

Sebenarnya prinsip kerja sama khususnya dalam bidang perekonomian ini sudah di terapkan oleh Nabi Muhammad SAW sebelum di angkat menjadi rasul. Ketika Rasullulah mengawali pembangunan di Madinah dengan tidak ada ekonomi yang menunjang, lalu rasullulah mendorong kerja sama untuk usaha diantara masyarakat sehingga terjadi produktivitas.

Pada akad mudharabah asas keadilan benar-benar akan dapat diwujudkan dalam dunia nyata, yang demikian itu dikarenakan kedua belah pihak yang terkait sama-sama merasakan keuntungan yang diperoleh. Sebagaimana mereka semua menanggung kerugian bila terjadi secara bersama-sama pemodal menanggung kerugian materi (modal) sedangkan pelaku usaha menanggung kerugian non materi (tenaga dan pikiran), sehingga pada akad mudharabah tidak ada seorangpun yang dibenarkan untuk mengeruk keuntungan tanpa harus menanggung resiko usaha.

Akad mudharabah merupakan suatu transaksi pendanaan atau investasi yang berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan merupakan unsur terpenting dalam akad mudharabah, yaitu kepercayaan dari pihak pemilik lahan kepada pihak penggarap. Oleh karena kepercayaan merupakan unsur terpenting maka mudharabah dalam istilah bahasa Inggris disebut trust financing. Pihak pemilik lahan yang merupakan investor disebut beneficial ownership atau sleeping partner, dan pihak penggarap disebut managing trustee atau labour partner.

77 Bhismoadi Tri Wahyu Faizal, Ibid, hlm. 118-121.

65

Sedangkan menurut istilah mudharabah menurut kalangan fuqaha mempunyai redaksi yang bermacam-macam sebagai berikut:

Menurut Ulama Hanafiyah yaitu sebuah akad perkongsian dalam keuangan, satu pihak menjadi pemilik harta (pemodal) dan pihak lain menjadi pemilik jasa.

Menurut Ulama Malikiyah yaitu sebuah akad perwakilan, di mana pemodal mengeluarkan harta kepada orang lain untuk diperdagangkan dengan pembayaran yang ditentukan.

Menurut Ulama Syafi„iyah yaitu sebuah akad yang menentukan seseorang memberikan hartanya (pemodal) untuk diperdagangkan dan pembagian keuntungan berdasarkan kesepakatan bersama.

Menurut Ulama Hanabilah yaitu pemodal menyerahkan modalnya dengan takaran tertentu kepada pedagang dan pembagian keuntungan diketahui. Mudharabah juga merupakan sebuah barang yang diserahkan dengan jumlah yang jelas kepada orang lain untuk dikembangkan serta mendapat keuntungan.

Berdasarkan pengertian yang diberikan oleh mayoritas Fuqaha di atas, mudharabah yaitu akad yang dilakukan oleh dua pihak dan saling menanggung, salah satu menjadi pemodal dan menyerahkan hartanya untuk diperdagangkan dan keuntungan akan dibagi sesuai yang telah ditentukan, misalnya setengahnya atau sepertiga sesuai dengan syarat yang telah ditentukan.78

Kemudian berakhirnya akad mudharabah ini seperti yang dijelaskan dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah Pasal 250 bahwasanya berakhirnya akad mudharabah yaitu apabila waktu kerja sama yang dilakukan dan disepakati telah berakhir maka berakhir pula akad mudharabah. Dan Pasal 253 menjelaskan bahwa akad

78 Dena Ayu, dkk. “Pandangan Ulama Mazhab (Fuqaha) terhadap Akad Mudharabah dalam Ilmu Fikih dan Penerapannya dalam Perbankan Syariah”, Muqaranah, Vol. 6, Nomor 1, Juni 2022, hlm. 4-7.

66

mudharabah berakhir dengan sendirinya apabila pemilik modal atau mudharib meninggal dunia, atau tidak cakap melakukan perbuatan hukum.79

Sebagai landasan hukum bahwa dalam melakukan perubahan dan pengalihan yang dapat menjadikan seseorang merasa terdzalimi dan tidak boleh atas kehendak salah satu pihak, tetapi harus atas kedua belah pihak. Dalam akad mudharabah telah dijelaskan dalam Al-Qur‟an surat An-Nisaa ayat 29:

















































Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu.

Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.80

Kemudian dijelasakan bahwa motif ekonomi adalah keberuntungan di dunia dan akhirat. Dalam persoalan motif ekonomi menurut pandangan Islam yang terdapat dalam ketentuan Al-Qur‟an surat Al-Qasas ayat 77:























































Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.81

79 Buku II Kompilsi Hukum Ekonomi Syariah, Pasal 250 & 253.

80 QS. An-Nisa‟ [4]: 29.

81 Suhrawardi K. Lubis dan Farid Wajdi, Hukum Ekonomi Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hlm.

17.

67

Adapun kaidah fiqh yang menjelaskan tentang hukum bermuamalah, yaitu:

ر د هق اع تا اب هها م ز ت ل أ ا م هه ت ج ي ت ه و ن ي د قا ع ته لا ي ض ر د ق ع لا ي ف هل ص الْا

Artinya: “Hukum asal semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”.

ما عه لا ي ف هل ص الْ

ة ل ا ه م ي ر ح ت ي ل ع ٌل ي ل د لهد ي ن ا اِلّ ة ح اب الْ

Artinya: “Hukum asal transaksi adalah keridhaan kedua belah pihak yang berakad, hasilnya adalah berlaku sahnya yang dilakukan”.

Menurut kaidah diatas diperlukan keridhaan kedua belah pihak dalam melakukan akad, karena tidak sah akad tersebut apabila salah satu pihak dalam keadaan terpaksa atau dipaksa dalam melakukan akad tersebut. Hal tersebut juga bisa terjadi apabila telah alih meridhai tetapi kemudian salah satu pihak merasa tertipu, maka hilanglah keridhaan tersebut dan akad tersebut bisa batal. Dalam melakukan akad kerja sama bagi hasil diperlukan keridhaan kedua belah pihak, tidak boleh mandzalimi pihak lain. Dalam melakukan kerja sama bagi hasil harus bersikap adil dan larangan berbuat dzalim serta memperhatikan kemaslahatan kedua belah pihak dan menghilangkan kemudharatan.82

82 Sutan Remi Sjahdeini, Perbankan Syariah: Produk-produk dan Aspek-aspek Hukumnya, (Jakarta: PT Adhitya Andrebina Agung, 2014), hlm. 56.

68

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan oleh peneliti, maka peneliti dapat mengaambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Pelaksanaan praktik perjanjian bagi hasil lahan pertanian di Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah yaitu perjanjian secara lisan dengan pihak pemilik lahan menyerahkan lahannya kepada pihak penggarap dengan kesepakatan yang sudah dibuat dari awal adalah perjanjian bagi hasil, akan tetapi terjadi perubahan perjanjian setelah perjanjian awal yang dilakukan oleh pihak penggarap terhadap pihak pemilik lahan dengan menyewakan lahan pertanian yang bukan miliknya kepada pihak yang lain tanpa sepengetahuan pihak pemilik lahan. Namun karena sudah ada perjanjian lebih lanjut maka secara tidak langsung pihak pemilik lahan akhirnya mengikhlaskan dan menyetujui perubahan perjanjian tersebut.

2. Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Pihak yang Beri‟tikad Baik dalam Perubahan Perjanjian Bagi Hasil Lahan Pertanian di Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah, bahwa perjanjian ini tetap dikatakan sah karena telah memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian, namun ada prinsip-prinsip yang dilanggar sehingga terjadi perubahan tersebut. Namun disini diperlukan keridhaan antara kedua belah pihak dalam melakukan perjanjian karena tidak sah suatu perjanjian tersebut apabila salah satu pihak dalam keadaan terpaksa atau dipaksa dalam melakukan perjanjian tersebut, oleh karena itu dalam melakukan kerjasama bagi hasil haruslah bersikap adil dan dilarang berbuat dzalim serta memperhatikan kemaslahatan kedua belah pihak dan menghilangkan kemudharatan.

69 B. Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan yang dijelaskan, maka yang menjadi saran dalam penelitian ini adalah diharapkan kepada kedua belah pihak baik pihak pemilik lahan maupun pihak penggarap hendaknya lebih memperhatikan lagi prinsip-prinsip hukum ekonomi syariah, sehingga tidak melakukan perubahan-perubahan perjanjian tanpa sepengetahuan pihak pertama dan juga dapat memenuhi asas keadilan, amanah, kejujuran, kemaslahatan sehingga tidak merugikan para pihak. Kemudian hak dan kewajiban masing-masing para pihak harus sesuai dengan porsinya, selain itu juga sebaiknya hak dan kewajiban antara kedua belah pihak dituangkan dalam bentuk tulisan, agar memiliki kekuatan hukum yang kuat jika terjadi sesuatu wanprestasi dikemudian hari.

70

DAFTAR PUSTAKA Buku/Jurnal/Skripsi

Abdin Zainal Amirudin, Pengantar Metode dan Penelitian Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.

Abdul Aziz Muahmmad Amzah, Fiqh Muamalah. Jakarta: Amzah, 2014.

Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah. Kencana, Jakarta2012.

Abdul Rahman, Sistem Bagi Hasil Antara Nelayan Dan Pemilik Modal Perspektif Fiqh Muamalah. (Skripsi, Universitas Islam Negeri Mataram, 2019).

Achmad Rifqi Firdaus Hidayat, Perlindungan Hukum Terhadap Petani Akibatalih Fungsi Lahan Pertanian Di Desa Grenden Kecamatan Puger (Perspektif Undang-Undang No 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Dan Maqasyid Syariah). (Skripsi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Ahmad Shiddiq Jember, 2021).

Achmad Badarus Syamsi Galuh Widitya Qomaro, Perlindungan Hukum Perjanjian bagi Hasil Petani Garam di Kabupaten Pamekasan dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Perdata. Al-Manāhij: Jurnal Kajian Hukum Islam, Vol. 14, Nomor 1, Juni 2020, hlm. 39-40.

Aenun Pratiwi, Perlindungan Hukum Terhadap Petani Penggarap Ditinjau Dari Perspektif Hukum Islam (Study Objek Masyarakat Petani Desa Pao Kecamatan Tombolo Pao). (Skripsi Universitas Muhammadiyah Makassar, 2021).

Ahmad Mujahidin, Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Indonesia. Ghalia Indonesia, Jakarta 2010.

Ahmad Wardhi Muslihc, Fiqih Muamalah. Jakarata: Amzah, 2010.

Akhmad Farroh Hasan, Fiqh Muammalah dari Klasik hingga Kontemporer (Teori dan Praktek). UIN-Maliki Malang Press, 2018.

71

Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmum Hukum. Jakarta: Sinar Grafika, 2015.

Beni Ahmad Saebani, Hukum Ekonomi Syariah & Akad Syariah di Indonesia. Bandung:

CV Pustaka Setia, 2018.

Bhismoadi Tri Wahyu Faizal, Konsep Hukum Perjanjian di Indonesia. Jurnal Voice Justisia Vol. 1, Nomor 2, September 2017, hlm. 116-117.

Bosna Trimanta, dkk. Perjanjian Bagi Hasil Tanah Pertanian Antara Pemilik Sawah Dan Pengelola (Studi Di Desa Timbang Lawan Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat).

Jurnal Hukum dan Kemasyarakatan Al-Hikmah Vol. 3, Nomor. 2, Juni 2022, hlm, 373.

Buku II Kompilsi Hukum Ekonomi Syariah, Pasal 250 & 253.

CH. Medi Suharyono, Tinjauan Yuridis Sosiologis Terhadap Meningkatnya Kekerasan dengan Menggunakan Senjata Api. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM, Vol. 19, Nomor 4, Oktober 2012, hlm. 630.

Chapra dalam M. Sholahuddin, Asas-asas Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.

Chasanah Novambar Andiyansari, Akad Mudharabah dalam Perspektif Fikih dan Perbankan Syariah. Jurnal Pendidikan dan Agama Islam, Vol. 3, Nomor 2, Juli 2020, hlm. 45-46.

Dena Ayu, dkk. Pandangan Ulama Mazhab (Fuqaha) terhadap Akad Mudharabah dalam Ilmu Fikih dan Penerapannya dalam Perbankan Syariah. Muqaranah, Vol. 6, Nomor 1, Juni 2022, hlm. 4-7.

Djama‟an Satori, dkk. Metode Peneltian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2014.

72

Dyah Permata Budi Asri, Perlindungan Hukum Preventif Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Di Daerah Istimewa Yogyakarta Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Journal of Intellectual Property Vol. 1, Nomor 1, Agustus 2018, hlm. 16-18.

Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian Dalam Transaski Di Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Sinar Grafika, 2012.

Fathurrahman Djamil, Hukum Perjanjian Syariah dalam Kompilasi Hukum Perikatan.

Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001.

H.A. Khumedi Ja‟far, Hukum Perdata Islam di Indonesia. Lampung: Permatanet Publishinng,

2016.

Huala Adolf, Dasar-dasar Hukum Kontrak Internasional. Bandung: Refika Aditama, 2006.

Imam Mahmudi, Perlindungan Hukum Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Akad Murobahah Perspektif Hukum Islam dan KUHperdata (Studi Kasus BMT Istiqomah Tulungagung). Al-Muttaqin Jurnal Studi, Sosial, dan Ekonomi, Vol. 2, Nomor. 1 Januari 2021, hlm. 110.

Ibrahim, Khudari, Penerapan Prinsip Mudharabah Dalam Perbankan Syariah. Jurnal ius, Vol. 2, Nomor 4, April 2014, hlm. 42.

Istiqamah, Hukum Perdata: Hukum Orang dan Keluarga, Makassar: Alauddin University Press, 2014.

Lexy J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.

M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003.

Marilang, Hukum Perikatan; Perikatan yang Lahir dari Perjanjian. Makassar: Alauddin University Press, 2013.

73

Nanik Trihastuti, Hukum Kontrak Karya-Pola Kerjasama Pengusaha Pertambangan Indonesia. Malang: Setara Press, 2013.

Nurtini, Pemahaman Masyarakat Terhadap Praktik Bagi Hasil Pada Perjanjian Mudharabah Di Desa Batu Putih Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat.

(Skripsi, Universitas Islam Negeri Mataram, 2020).

Nurul hak, Ekonomi Islam Hukum Bisnis Syariah. Teras, Yogyakarta 2011.

Profil Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2019 di kutip pada hari Kamis tanggal 8 Desember 2022.

R.Subekti, Hukum Perjanjian. Jakarta: Intermasa, 2005.

Rahman Ambo Masse, Konsep Mudharabah Antara Kajian Fiqh Dan Penerapan Perbankan. Jurnal Hukum Diktum. Vol. 8, Nomor 1, Januari 2010, hlm. 78.

Ridwan Khairandy, I’tikad Baik dalam Kontrak di Berbagai Sistem Hukum. Jakarta: FH UII, 2017.

Rizal Darwis, Sistem Bagi Hasil Pertanian Pada Masyarakat Petani Penggarap Di Kabupaten Gorontalo Perspektif Hukum Ekonomi Islam. Jurnal Al-Mizan: Vol. 12, Nomor 1, Juni 2016, hlm. 13-14.

Samsul Arisandi, Farrah Syamala Rosyda, Penyelesaian Sengketa Dalam Akad Mudharabah Oleh Pihak Pengusaha (Mudharib)”. Az-Zarqa‟: Jurnal Hukum Bisnis Islam Vol. 13, No. 2, Desember 2021, hlm. 255-257.

Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000.

Sitti Nurjannah, Lembaga Jaminan Fidusia Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen.

Jurisprudentie: Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Vol. 3, Nomor 1, 2016, hlm. 119-125.

Sofhian, Fiqh Understanding On Mudharabah (Implementation Of Islamic Banking Finance). Jurnal Al-„Adl. Vol. 9, Nomor 2, Juli 2016, hlm. 79.

74

Soemantoro dalam Neni Sri Imaniyati, Hukum Ekonomi dan Ekonomi Islam”. Bandung:

Mandar Maju, 2002.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta, cv: Jl. Gekerkalog Hilir No.

84, 2018.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2008.

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, CV, 2015.

Suharnoko, Hukum Perjanjian, Teori dan Analisa Kasus. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007.

Suhrawardi K. Lubis dan Farid Wajdi, Hukum Ekonomi Islam. Jakarta: Sinar Grafika, 2012.

Sutan Remi Sjahdeini, Perbankan Syariah: Produk-produk dan Aspekaspek Hukumnya.

Jakarta: PT Adhitya Andrebina Agung, 2014.

Sutan Remi Sjahdeini, Perbankan Syariah: Produk-produk dan Aspek-aspek Hukumnya.

Jakarta: PT. Adhitya Andrebina Agung, 2014.

Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syari’ah: Studi tentang Teori Akad dalam Fikih Muamalat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.

Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

Umrotul Khasanah, Sistem Bagi Hasil Dalam Syariat Islam. de Jure, Jurnal Syariah dan Hukum: Vol. I, Nomor 2, Januari 2010, hlm. 124-126.

Wahyu Simon Tampubolon, Upaya Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Ditinjau Dari Undang Undang Perlindungan Konsumen. Jurnal Ilmiah “Advokasi”, Vol. 04, Nomor 01, Maret 2016, hlm. 53.

Wawan Andriawan, The Existence Of The Abuse Of Circumstances Doctrine In Agreement Law. Syiah Kuala Law Journal, Vol. 6, Nomor 1, April 2022, hlm. 67.

75

Zennia Almaida & Moch. Najib Imanullah, Perlindungan Hukum Preventif Dan Represif Bagi Pengguna Uang Elektronik Dalam Melakukan Transaksi Tol Nontunai. Privat Law, Vol. 9, Nomor 1, Januari-Juni 2021, hlm. 222-223.

Zainnuddin Ali, Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Sinar Grafika, 2015.

QS Al-Isra‟ [17]: 7.

QS. An-Nahl [16]: 91.

QS. Huud [11]: 85.

QS. As-Saff [61]: 2-3.

QS. Al-Baqarah [2]: 198.

QS. Al-Mu‟minun [23]: 8.

QS. Al-Ma‟idah [5]: 2.

QS. Al-Ma‟idah [5]: 1.

QS. An-Nisa‟ [4]: 29.

Website

Sukoharjo, “Pengertian Perlindungan Hukum dan Cara Memperolehnya”, https://jdih.sukoharjokab.go.id/informasi/detail/90, diakses tanggal 14 Desember 2022,

pukul 19.50.

Wawancara

Bapak H. Ahmad Nursana, Mujur, 9 Desember 2022.

Amak Selamat, Mujur, 10 Desember 2022.

Amak Marjan, Wawancara, Mujur, 10 Desember 2022.

Amak Budiman dan Amak Rahmat, Wawancara, Mujur, 10 Desember 2022.

Bapak H. Muhammad Amin, Mujur, 11 Desember 2022.

Ustadz Mahyun, Mujur, 12 Desember 2022.

76

LAMPIRAN

77 Lampiran 1

Wawancara dengan pemilik lahan, Bapak H. Ahmad Nursana.

Wawancara dengan tokoh masyarakat sekaligus pegawai dilahan pertanian tersebut, Amak Selamat.

78

Wawancara dengan petani penggarap, Amak Marjan

Wawancara dengan petani penggarap, Amak Budiman.

Wawancara dengan petani penggarap, Amak Rahmat.

79

Wawancara dengan tokoh agama Bapak H. Muhammad Amin.

Wawancara dengan tokoh agama Ustadz Mahyun.

80 Lampiran 2

81 Lampiran 3

82 Lampiran 4

83

84

87 Lampiran 6

88 Lampiran 7

Dokumen terkait