• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas-Asas Hukum Acara Perdata

Dalam dokumen PTHI FINISH.pdf - Repository UHN (Halaman 69-72)

Ad 4 Hukum Waris

D. Asas-Asas Hukum Acara Perdata

Asas-Asas Hukum Acara Perdata adalah sebagai berikut ; 1. Hakim Bersifat Menunggu

Proses peradilan perdata terjadi apabila ada permintaan dari seseorang atau sekelompok orang yang menuntut haknya, entah karena ada sengketa atau tidak dengan sengketa. Jadi hakim menunggu datangnya permintaan atau tuntutan atau gugatan dari masyarakat. Penyelenggaraan proses peradilan adalah negara.

Hakim tidak diperbolehkan menolak suatu perkara perdata yang diajukan kepadanya untuk diperiksa dan diputuskan (pasal 14 ayat (1) Undang-Undang No 4 Thn 1970), sekarang diatur dalam pasal 16 ayat (1) Undang-Undang No 4

69

tahun 2004. Meskipun hakim belum menemukan hukumnya untuk perkara yang diajukan, hakim harus mencari dan menemukan hukumnya agar perkara dapat diselesaikan.

2. Hakim Bersifat Pasif

Hakim dalam memeriksa perkara perdata bersifat pasif, artinya, bahwa luas pokok sengketa yang diajukan kepada hakim pada asasnya ditentukan para pihak yang berperkara, bukan oleh hakim. Hakim hanya membantu para pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan (pasal 5 UU No 14 Thn 1970), sekarang dalam pasal 5 ayat (2) UU No 4 Thn 2004. Para pihak dapat mempelajari perkaranya sendiri menurut kehendaknya, artinya bahwa bila yang bersengketa mencabut gugatannya karena telah tercapai penyelesaian melalui perdamaian, hakim tidak menghalangi (pasal 130 HIR, 154 RBG).

Hakim hanya dibenaarkan untuk memutuskan apa yang diminta oleh para pihak, tidak boleh lebih dari tuntutan para pihak (pasal 178 ayat (2) dan (3) HIR, pasal 189 ayat (2) dan (3) RBG. Jadi, istilah “Hakim pasif “ diartikan sebagai penentuan luas sempitnya perkara. Hakim dalam hal ini dengan tidak dibenarkan menambah atau mengurangi pokok sengketa yang diajukan oleh para pihak yang berkepentingan. Dalam kenyataannya, hakim dalam memeriksa perkara perdata pun aktif, yaitu dia memimpin persidangan, memberi petunjuk kapada para pihak, berusaha mendamaikan mereka dan mencari jalan penyelesaian perkara yang diperiksanya. Hal ini juga sesuai dengan asas yang dianut oleh HIR.

3. Persidangan Bersifat Terbuka

Pada dasarnya, proses peradilan dalam persidangan bersifat terbuka untuk umum, artinya semua orang boleh menghadiri persidangan asalkan tidak menggangu jalannya persidangan dan berlaku tertib. Hal ini bertujuan agar persidangan berjalan secara fair, objektif, dan hak asasi manusia pun terlindungi, serta diharapkan putusan pengadilan pun fair bagi masyarakat.

Ketentuan tersebut diatur dalam pasal 19 dan 20 Undang-Undang No 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman, didalam ketentuan tersebut dinyatakan setiap pemeriksaan dalam sidang terbuka untuk umum, tetapi dapat pula dilakukan pemeriksaan tertutup apabila undang-undang menentukan lain, misalnya dalam pemeriksaan perceraian atau perkosaan dalam perkara pidana.

Meskipun pemeriksaannya dilakukan secara tertutup, namun pembacaan keputusan hakim harus dilakukan dalam sidang terbuka sesuai dengan pasal 20 Undang-Undang No 4 tahun 2004.

4. Mendengar Kedua Belah Pihak

Dalam Hukum Acara Perdata, kedua belah pihak yang bersengketa harus didengar, diperhatikan, dan diperlakukan sama diatur dalam pasal 5 ayat

70

(1) Undang-Undang Tahun 4 tahun 2004. Proses peradilan dalam Hukum Acara Perdata wajib memberikan kesempatan yang sama kepada para pihak yang bersengketa. Kesempatan yang dimaksud adalah kesempatan menyatakan pendapat bagi kedua belah pihak. Asas bahwa kedua belah pihak harus didengar disebut juga dengan asas audi et elteram partem. Hakim tidak boleh menerima keterangan dari salah satu pihak sebagai keterangan yang benar, sebelum pihak lain memberikan pendapatnya. Dengan demikian, pengajuan alat-alat bukti harus dalam persidangan yang dihadiri oleh kedua pihak yang bersengketa.

5. Putusan Harus Disertai Alasan-Alasan

Jika proses pemeriksaan perkara sudah selesai, maka hakim memutuskan perkara itu dan keputusan hakim ini harus memuat alasan-alasan yang menjadi dasar untuk mengadilinya ( pasal 84 ayat (1) Undang-Undang No 4 Tahun 2004 dan pasal 184 HIR) . Alasan-alasan itu dicantumkan sebagai pertanggungjawaban hakim atas keputusannya kepada para pihak dan kepada masyarakat sehingga oleh karenanya mempunyai nilai objektif. Karena adanya alasan-alasan itulah, maka putusan hakim mempunyai wibawa dan bukan karena hakim tertentu yang menjatuhkannya.

6. Beracara Dikenakan Biaya

Pada asasnya , berperkara dikenakan biaya (pasal 4 (2) Undang-Undang No 4 Tahun 2004, pasal 121 (4),pasal 182, pasal 183 HIR,Pasal 145 (4), pasal 192, pasal 194 RBG. Biaya perkara meliputi biaya kepaniteraan dan biaya untuk panggilan, pemberitahuan kepada para pihak, serta biaya materai. Para pihak yang tidak mampu membayar biaya perkara dapat mengajukan perkara secara cuma-cuma (prodeo), dengan mendapatkan izin untuk dibebaskan dari kewajiban membayar biaya perkara, dengan menagjukan surat keterangan tidak mampu yang dibuat oleh kepala polisi (pasal 137 HIR, 273 Rbg). Dalam praktek,surat keterangan dibuat oleh camat setempat. Permohonan perkara secara prodeo akan ditolak hakim bila ternyata pemohon bukan orang yang tidak mampu.

7. Asas Tidak Keharusan Mewakilkan

HIR tidak mewajibkan para pihak untuk mewakilkan diri kepada orang lain, sehingga pemeriksaan di persidangan terjadi secara langsung terhadap para pihak yang berkepentingan. Akan tetapi para pihak dapat dibantu atau diwakilkan oleh kuasanya apabila dikehendaki (pasal 123 HIR, 147 Rbg).

Dengan pemeriksaan secara langsung di pengadilan para pihak yang berkepentinganlah sebenarnya yang mengetahui seluk beluk peristiwanya.

Biaya beracara secara langsung di pengadilan jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan mengunakan kuasa. Tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa seseorang wakil harus Sarjana hukum, akan tetapi jika

71

ditinjau secara kenyataannya beracara dengan kuasa seorang sarjana hukum lebih lancar daripada kuasa yang bukan seorang sarjana hukum.

8. Asas Objektivitas

Maksud asas ini bahwa hakim tidak boleh bersikap berat sebelah dan memihak . Untuk menjamin dilaksanakannya asas ini para pihak dapat mengajukan keberatan, bila ternyata memang sikap hakim itu tidak objektif.

Dalam dokumen PTHI FINISH.pdf - Repository UHN (Halaman 69-72)