• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak-Hak Atas Tanah dalam UUPA

Dalam dokumen PTHI FINISH.pdf - Repository UHN (Halaman 124-128)

Ad 5. Sumpah

E. Hak-Hak Atas Tanah dalam UUPA

Hak-hak atas tanah menurut pasal 16 UUPA ada bermacam–macam jenis tanah ulayat antara lain ;

1. Hak Milik

Hak Milik adalah hak turun temurun, terpenuh dan terkuat yang dapat dimiliki orang dengan tanpa meluapakan bahwa setiap hak itu mempunyai fungsi sosial (Pasal 20 UUPA). Istilah turun temurun, artinya bahwa pemegang hak milik dapat mewariskannya kepada keturunannya atau kepada yang dikehendakinya. Hak milik atas tanah dapat dipunyai setiap warga negara Indonesia atau badan hukum tertentu.

Terpenuh artinya bahwa pemegang Hak milik itu dapat berbuat apa saja terhadap haknya asal tidak merugikan orang lain.

Terkuat artinya bahwa hak milik adalah hak yang paling kuat dibandingkan dengan hak-hak yang lainnya seperti Hak guna Usaha, Hak Guna Bagunan. Hak Milik dapat dimilikinya tanpa batas waktu oleh seseorang atau badan hukum yang memenuhi syarat untuk itu, asalkan hak tersebut belum dialihkan kepada orang lain atau badan hukum yang lain.

Hak Milik dapat diperoleh dengan berbagai cara yaitu sebagai berikut ;

a. Dengan peralihan hak, misalnya dengan jual beli, pewarisan, dan penghibahan.

b. Dengan ketentuan menurut hukum adat. Hak milik yang diperoleh dengan cara ini adalah hak milik yang ada kaitannya dengan hak ulayat. Seseorang yang membuka hutan pada wilayah masyarakat hukum tertentu dapat memperoleh hak setelah lama–kelamaan statusnya menjadi Hak Milik orang yang membuka hutan tersebut . c. Dengan penetapan pemerintah, seseorang atau badan hukum yang

mengajukan permohonan Hak Milik kepada pemerintah, jika permohonan itu dikabulkan maka dasar Penetapan Pemerintah maka orang atau badan hukum akan memperoleh hak milik.

124

d. Dengan ketentuan Undang-Undang artinya undang- undang menetukan tentang konversi hak atas tanah tertentu menjadi hak milik.

e. Dicabut

f. Dengan sukarela diserahkan pemegangnya kepada orang lain g. Ditelantarkan

h. Jatuh pada orang asing yang berkewarganegaaran rangkap atau i. Tanahnya musnah.

2. Hak Guna usaha

Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yng dikuasai langsung oleh negara (tanah negara) dalam waktu tertentu, paling lama 25 tahun sampai 35 tahun menurut jenis usahanya yang masih dapat diperpanjang lagi selama 25 tahun apabila diperlukan.

Tanah berstatus HGU digunakan untuk pertanian, perikanan, dan peternakan dengan luas minimal 5 ha (pasal 28 ayat I dan (2) dan pasal 29 UUPA).

3. Hak Guna Bagunan

Hak Guna Bagunan adalah hak untuk mendirikan dan bangunan- bangunan di atas tanah terbuka milik sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun dan bila perlu dapat diperpanjang 20 tahun lagi (Pasal 35 ayat (1) dan (2) UUPA.

Hak Guna Usaha dan Hak Guna bagunan dapat dimiliki oleh seorang WNA dan badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia tetapi pendirinya adalah warga negara asing. Hak Guna Usaha dan Hak Guna Bagunan dapat hapus karena ;

a. Jangka waktunya berakhir

b. Dihentikan sebelum waktunya karena sudah tidak memenuhi syarat- syarat yang harus dipenuhi

c. Dilepaskan oleh pemegang hak yang bersangkutan sebelum jangka waktunya

d. Dicabut oleh pemerintah untuk kepentingan umum e. Tanahnya ditelantarkan

f. Tanahnya musnah 4. Hak Pakai

Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tttanah yang langsung dikuasai negara atau tanah mlik orang lain, yang memberi wewenang atau kewajiban yang ditentukan dalam

125

keputusan pemberi oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan.

5. Hak Sewa

Hak Sewa adalah hak seseorang atau suatu badan hukum untuk menggunakan tanah milik orang lain untuk keperluan bagunan dengan membayar sejumlah uang tertentu sebagi sewa kepada pemilik tanah yang bersangkutan (Pasal 41 UUPA).

Hak sewa mempunyai sifat khusus antara lain ;

a. Adanya kewajiban penyewa untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada pemiliknya

b. Bersifat sementara

Hak pakai dan Hak Sewa jika tanahnya adalah tanah negara, biasanya berjangka waktu 10 tahun, jika pemiliknya seseorang jangka waktunya menurut kesepakatan penyewa dan pemilikatau para pihak yang bersangkutan. Hak pakai dan Hak Sewa dapat dimiliki oleh ;

1. Warga Negara Indonesia

2. Orang asing yang berkedudukan di Indonesia

3. Badan-Badan hukum yang didirikan menurut Hukum Indonesia dan berkeddukan di Indonesia

4. Badan hukum Asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia (Pasal 42 dan Pasal 45 UUPA).

6. Hak membuka tanah

Hak membuka tanah adalah hak yang berhubungan dengan hak ulayat, yaitu hak yang dimiliki oleh warga atau anggota masyarakat hukum adat tertentu untuk membuka tanah dalam wilayah masyarakat hukum adat tersebut.

7. Hak Memungut hasil Hutan

Hak memungut Hasil Hutan adalah hak yang dimiliki warga atau anggota masyarakat hukum tertentu untuk memugut hasil hutan yang termasuk wilayah masyarkat hukum tersebut. Orang yang akan memungut hasil hutan harus mendapat izin dan kepala persekutuan hukum yang bersangkutan atau kapala adat dan luas tanah tidak lebih dari 2 ha, jika luas tanah mencap[ai 5 ha harus ada izin dari Bupati setempat.

8. Selain hak hak atas tanah UUPA mengenal pula hak atas air dan ruang angkasa sebagaimana pasal 16 ayat (2)UUPA yaitu ;

a. Hak guna air

126 b. Hak memelihara dan penangkapan ikan c. Hak guna ruang angkasa

Ad.a Hak guna air adalah hak memperoleh air untuk memperoleh air untuk keperluan tertentudan/atau mengalirkan air diatas tanah orang lain.

Ad.b Hak memelihara dan penangkapan ikan adalah hak untuk memperoleh perikanan darat sedangkan Hak penangkapan ikan adalah hak untuk memperoleh perikanan laut ( Undang-undang No 16 tahun 1964)

Ad.c Hak guna ruang angkasa adalah hak yang memberi wewenang untuk menggunakan tenaga dan unsur dalam ruang angkasa untuk usaha memelihara dan mengembangkan kesuburan bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya dan hal-hal lainyang bersangkutan dengan itu

127 BAB XV

HUKUM INTERNASIONAL

Dalam dokumen PTHI FINISH.pdf - Repository UHN (Halaman 124-128)