• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkawinan (Familierecht)

Dalam dokumen PTHI FINISH.pdf - Repository UHN (Halaman 51-55)

Hukum keluarga adalah rangkaian peraturan hukum yang timbul untuk mengatur pergaulan hidup kekeluargaan.

a. Perkawinan

Mengenai perkawinan diatur dalam bab IV dari buku I KUHPerdata.

Menurut hukum perdata (BW) perkawinan adalah hubungan keperdataan pria dan wanita dalam hidup bersama sebagai suami-istri. Menurut hukum perdata suatu perkawinan sah apabila memenuhi syarat-syarat sebagi berikut ;

1. Calon suami dan istri berada dalam keadaan tidak kawin atau tidak terikat dengan suatu perkawinan lain

51

2. Calon suami berumur 18 tahun dan calon istri berumur 15 tahun

3. Tidak ada pertalian darah yang terlarang diantara kedua calon mempelai 4. Perkawinan dilakukan dihadapan pegawai catatan sipil (Burgerliyke Stand) 5. Perkawinan didasarkan atas kemauan bebas dari calon mempelai.

Dalam pasal 34 KUHPerdata disebut bahwa seorang wanita tidak boleh kawin sebelum lewat waktu 300 hari sejak putusannya perkawinan baik karena suami meninggal ataupun karena perceraian. Hal ini diatur adalah dengan maksud menghindari timbulnya permasalahan kelak tentang anak siapa yang lahir dan juga menyangkut pewarisan. Setelah perkawinan terjadi maka timbul hak dan kewajiban suami istri. Hak dan kewajiban tersebut adalah sebagai berikut ;

1. Kekuasaan marital dari suami, yaitu bahwa suami menjadi kepala keluarga dan bertanggungjawab atas istri dan anaknya

2. Wajib memberi nafkah, memelihara, mendidik (kewajiban alimentasi) 3. Istri mengikuti kewarganegaraan suaminya

4. Istri mengikuti tempat tinggal (Domisili) suaminya

5. Istri menjadi tidak cakap bertindak, dalam hal melakukan perbutan hukum ia memerlukan bantuan suami kecuali tidak diatur dalam undang-undang

Suatu perkawinan dapat putus dengan alasan ; 1. Karena kematian salah satu pihak atau kedua- duanya

2. Kepergian suami /istri selama 10 tahun berturut –turut tanpa pemberitahuan

3. Akibat perpisahan meja makan dan tempat tidur (Scheiding Van Tafl en Bed)

4. Perceraian

Perceraian terjadi karena ; 1. Zina

2. Meninggalkan tempat tinggal dengan sengaja 3. Hukuman selama 5 tahun

4. Penganiayaan yang menyebabkan luka berat.

Perceraian sah sesuadah diumumkan dan didaftarkan pada kantor pegawai pencatatan sipil di tempat perkawinan itu berlangsung. Setelah perceraian terjadi, segala hak dan kewajiban yang berhubungan dengan perkawinan tidak ada lagi. Perceraian juga membawa akibat hukum bagi anak- anak yang masih dibawah umur dan terhadap harta kekayaan.

Setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan (selanjutnya disebut UUP), maka ketentuan perkawinan yang diatur dalam Buku I KUHPerdata sebagian besar tidak berlaku lagi, oleh karena itu

52

mengenai pegertian perkawinan, syarat-syarat perkawinan, hak dan kewajiban suami- istri, putusnya perkawinan dan alasan–alasan perceraian diatur menurut UUP dan peraturan pelaksananya.

Selanjutnya dalam pasal 7 UUP ditegaskan hal- hal sebagi berikut ;

1. Perkawinan hanya diizinkan jika pria berumur 19 tahun dan wanita berumur 16 tahun

2. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat I pasal ini dapat meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditujukan oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita

3. Ketentuan–ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam pasal 6 ayat 3 dan 4 Undang- Undang ini berlaku jiga dalam hal permintaan dispensasi tersebut ayat 2 pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam pasal 6 ayat 6.

Suatu perkawinan dilarang dalam hal sebagai berikut ;

a. Masih berhubungan darah dalam garis keturunan lurus keatas dan kebawah.

b. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping antara saudara, antara seorang dengan saudara orangtua dan antara seorang dengan saudara neneknya.

c. Berhubungan semenda yaitu mertua, anak tiri, menentu dan ibu/bapak tiri.

d. Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemanakan dan istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang.

e. Berhubungan susuan yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan

f. Yang mempunayai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.

Menurut undang undang ini pada asasnya suatu perkawinan berasaskan monogami, dalam hal suami berkehendak untuk mempunyai istri lebih dari seorang, maka ia wajib mengajukan permohonan izin pengadilan di wilayah hukum dimana ia bertempat tinggal.

Dalam Pasal 35 UUP dinyatakan bahwa semua harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan adalah menjadi harta bersama antara suami dan istri, sedangkan harta bawaan masing-masing tetap dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak (suami dan istri) tidak menentukan lain.

Dalam hal ini suatu perkawinan yang dilangsungkan diluar Indonesia antara dua orang warga negara Indonesia atau seorang warga negara Indonesia dengan warga negara asing adalah sah dilakukan bila menurut hukum yang berlaku di negara dimana perkawinan dilangsungkan dan bagi warga negara Indonesia tidak melanggar ketentuan-ketentuan undang-undang ini. Dan dalam

53

waktu satu tahun setelah suami istri kembali ke wilayah Indonesia, surat bukti perkawinan mereka harus didaftarkan di Kantor Catatan Perkawinan tempat tinggal mereka (pasal 66 UUP)

Dalam UUP dikenal tentang perkawianan campur yaitu ; Perkawinan antara seorang pria dan wanita yang berlainan status hukumnya karena perbedaan kewarganegaraan.

Perkawinan campur dapat dilangsungkan bilamana masing- masing telah memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditentukan dalam hukum masing-masing.

Melalui perkawinan campuran seorang WNA dapat memperoleh kewarganegaraan Indonesia atau kehilangan kewarganegaraan Indonesia berdasarkan undang-undang sebagaimana diatur oleh Undang-undang kewarganegaraan Indonesia.

a. Kekuasaan orangtua ( Onderlijk Macht)

Menurut pasal 298 ayat 1 KUHPerdata bahwa setiap anak wajib hormat dan patuh kepada orang tua dan pihak orang tua wajib memelihara dan memberi nafkah kepada anak-anaknya yang belum dewasa (kewajiban alimentasi ).

Sebaliknya anak yang telah dewasa wajib untuk memelihara orangtua dan keluarganya menurut garis lurus keatas yang berada dalam keadaan tidak mampu untuk mencari nafkah .

Dalam melakukan kekuasaan orangtua/Bapak/Ibu mempunyai hak menguasai kekayaan anaknya dan berhak menikmati hasil kekayaan itu.

Kekuasaan orangtua berakhir apabila ;

1. Anak telah dewasa atau telah kawin 2. Perkawinan orangtua putus

3. Kekuasaan orangtua dicabut hakim, karena alasan tertentu misalnya pemboros, pendidikannya tidak baik

4. Anak dibebaskan dari kekuasaan orang tua akibat ketidakmampuan menguasai anak, karena terlalu nakal hingga orang tua tidak mampu menguasai dan mendidik anak.

b. Perwalian

Ketentuan tentang perwalian diatur dalam KUHPerdata, Mulai pasal 331 sampai dengan pasal 344 KUHPerdata dan pasal 50 sampai dengan pasal 54 Undang-Undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Perwalian adalah pengawasan terhadap anak yang dibawah umur yang tidak berda dibawah kekuasaan orangtua serta pengurusan benda dan kekayaan anak tersebut sebagaimana diatur dalam undang-undang. Maka dengan demikian perwalian itu adalah suatu upaya hukum untuk mengawasi dan memelihara anak yatim

54

piatu atau anak-anak atau yang belum dewasa dan tidak dibawah kekuasaan orangtuannya. Dalam perwalian harus ditunjuk yang menjadi wali mereka yaitu dengan menunjuk seseorang suatu badan hukum atau suatu perkumpulan yang dapat memelihara serta memenuhi kebutuhan anak-anak tersebut.

Pengangkatan seorang wali ditetapkan oleh hakim atau ditunjuk berdasarkan wasiat orangtuanya. Wali diangkat dari seorang yang masih mempunyai ikatan kekeluargaan yang terdekat dengan sianak serta dianggap cakap untuk itu. Suatu perwalian dapat terjadi disebabkan ;

1. Perkawinan orangtua putus, karena perceraian atau meninggal dunia 2. Kekuasaan orangtua dicabut atau dibebaskan oleh hakim karena suatu

alasan tertentu

Setiap orang yang ditunjuk sebagai wali akan diawasi oleh wali pengawas (BHP) Balai Harta Peninggalan dengan maksud wali tersebut benar- benar menjalankan tugasnya sebagi wali.

c. Pengampuan (Curatele)

Pengampuan diatur dalam pasal 433 sampai pasal 462 KUHPerdata.

Pengampuan adalah orang yang telah dewasa akan tetapi karena suatu hal menyebabkan ia tidak cakap bertindak dalam hukum harus diangkat seorang pengampu (Curator) yang akan melakukan pengawasan/ pemeliharaan atas dirinya. Dalam pasal 3 KUHPerdata alasan tentang pengampuan yaitu karena

1. Keborosan (Verkwisting)

2. Lemah pikiran ( Zwakheid Van Vermogens )

3. Kurang daya pikiran ; ( Krankzinnigheid), dungu ( Onnozeiheid) dan razmih ( dunggu disertai dengan mengamuk )

Yang dapat diangkat sebagai pengampu (curator), ialah si suami atau si istri secara timbal balik atau dapat juga diangkat orang lain atau suatu badan (perkumpulan) berdasrkan suatu penetapan hakim. Penetapan hakim untuk menetapkan sesorang dalam pengawasan dapat dilakukan atas permohonan dan si suami atau si istri atau instansi kejaksaan, sedangkan karena alasan daya lemah, hanya boleh atas permintaan dari yang bersangkutan. Setiap orang yang ditempatkan dibawah pengawasan orang lain disebut dengan curandus yang membawa akibat ia tidak cakap bertindak dalam hukum. Pengampu (curator) juga diawasi oleh BHP yang berperan sebagai pengampu pengawas dan setiap pengampuan akan berakhir bilamana alasan alasan tersebut sudah tidak ada lagi.

Dalam dokumen PTHI FINISH.pdf - Repository UHN (Halaman 51-55)