Ad 5. Sumpah
3. Sumber Hukum Internasional Perdata di Indonesia dan Asas Hukumnya
Beberapa sumber hukum perdata internasional di Indonesia antara lain terdapat pada Algemene Bepalingen van Wetgeving (A.B) yang pada dasarnya tercantum dalam Pasal 16, 17 dan 18. Sumber hukum ini memuat asas-asas hukum yang penting dalam konteks hukum internasional perdata. Mereka di antaranya adalah :76
a.Asas Nasionalitas
Dalam Pasal 16 Algemene Bepalingen van Wetgeving dinyatakan bahwa:
76Sudargo Gautama, 1987, Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Cet Kelima, Binacipta, Bandung, hal 68-73.
134
“Ketentuan-ketentuan perundangan tentang kedudukan hukum dan kewenangan individu untuk bertindak, tetap mengikat warga negara Indonesia walaupun berada di luar negeri”.
Ketentuan pasal ini berpendirian bahwa di bidang status personal (kedudukan dan kewenangan hukum), hukum Indonesia akan berlaku bagi warga negara Indonesia ke mana pun mereka beradaa di luar negeri (berlaku secara ekstra territorial). Pendirian inilah yang kemudian dikenal juga dengan asas personalitas (lex personalitae) atau statute personalia.77
Cakupan perbuatan atau peristiwa hukum yang termasuk bidang status personil dalam bidang hukum pribadi dan hukum keluarga, misalnya kapan seseorang dinyatakan dewasa atau pembuatan testamen (surat wasiat). Contoh lainnya dalam menentukan kemampuan untuk melakukan suatu perbuatan hukum seperti dalam kegiatan pewarisan atau perkawinan.
Di samping itu, ada satu asas lain sesungguhnya bertitik tolak dari asas nasionalitas yakni asas timbal balik (resiprositas). Asas ini artinya secara timbal balik, bagi setiap orang asing berada di Indonesia, mengenai status personelnya (kedudukan hukum dan kewenanangannya), juga harus dianggap diberlakukan hukum nasional orang tersebut. Maksudnya, kalau ada orang asing hendak melakukan tindakan hukum di bidang status personil, maka hukum yang berlaku terhadap dirinya adalah hukum nasionalnya sendiri.78
b. Asas Statuta Realita
Dalam pasal 17 Algemene Bepalingen van Wetgeving, dinyatakan bahwa;
“Mengenai benda tetap (tidak bergerak) berlaku hukum dari negara tempat benda itu terletak”.79
Pengaturan dalam pasal ini dikenal sebagai asas hukum setempat (lex situs) atau disebut juga statuta realita
Berlakunya asas ini dapat digambarkan demikian. Ada warga negara Indonesia menyewa tanah di Australia, maka hukum yang berlaku adalah hukum Australia (tempat letak benda), atau sebaliknya, seandainya seorang warga negara asing memiliki sebidang tanah di Indonesia, maka hukum yang berlaku terhadap tanah tersebut adalah hukum Indonesia, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1960 tentang Agraria.
77 Ibid
78Sudargo Gautama, 1985, Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional;
Himpunan Karangan Hukum Perdata Internasional, Alumni, Bandung, hal 283.
79 Ibid
135 c. Asas Statuta Mixta
Dalam Pasal 18 Algemene Bepalingen van Wetgeving, dinyatakan bahwa :
“Bentuk (tatacara/formalitas) suatu tindakan hukum mengikuti bentuk hukum mengikuti bentuk hukum yang berlaku di negara tempat dilakukannya tindakan itu”.
Dalam pengaturan pasal di atas, terdapat asas yang dikenal dengan sebutan locus regit actum atau lex loci celebrationis atau juga disebut statute mixta.80
Asas ini, dapat dicontohkan; Apabila seorang wanita warga negara Indonesia menikah dengan laki-laki warga negara Belanda, dan itu dilaksanakan di Den Haag. Agar perkawinan tersebut sah, harus dipenuhi dua syarat yakni syarat formal dan syarat materiel, yang artinya, secara formal, tata cara perkawinan mereka di Den Haag harus dilaksanalam sesuai dengan hukum tata cara perkawinan yang berlaku di Den Haag (Belanda). Lalu, agar syarat materilnya terpenuhi, syarat materiel perkawinan, seperti batas usia menikah, larangan perkawinan, izin orang tua, izin istri terdahulu bagi suami yang akan menikah lagi dan sebagainya, harus tunduk pada hukum nasionalnya masing-masing. Dengan demikian, meskipun perkawinan dilaksanakan di luar negeri, tetapi bagi mempelai wanita, hukum materiel yang berlaku adalah hukum perkawinan Indonesia (dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan), dan bagi mempelai laki-laki hukum meteriel yang berlaku adalah hukum perkawinan Belanda.
80 Ibid
136 Daftar Pustaka
Achmad Ichsan, 1987, Hukum Dagang, Pradnya Paramita, Jakarta,Hal.35 Abdoel Djamali, 1996, Pengantar Hukum Indonesia, Rajawali Press, Jakarta,Hal.87
A.Siti Sutami, 1995, Pengantar Tata Hukum Indonesia, Eresco, Bandung.Hal.14
Andi Hamzah, 1984, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta,Hal.13
Andi Hamzah, 1993, Hukum Acara Pidana Indonesia, Arikha Media Cipta, Jakarta,Hal.219
Ali Achmad Chomzah, 2004, Hukum Agraria (Pertanahan Indonesia), Jilid 1, Prestasi Pustaka, Jakarta,Hal.2
Bachasan Mustofa, 2003, Sistem Hukum Indonesia Terpadu, Citra Aditya Bakti, Bandung,Hal.162
Boer Mauna, 2003, Hukum Internasional, Alumni, Bandung.Hal.34
Boedi Harsono, 2005, Hukum Agraria Indonesia; Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya ,Djambatan, Jakarta,Hal.2
C.S.T Kansil, 1985, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia,
Balai Pustaka, Jakarta,Hal.10
Hartono Hadisoeprapto,1982, Pengantar Tata Hukum Indonesia, Edisi 4, Liberty, Yogyakarta. Hal.6
HMN Purwosutjipto, 2000, Pengertian Pokok Hukum Dagang, buku ke-1, Djambatan, Jakarta,Hal.13
Ishaq, 2008, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta.Hal.8 J.B Daliyo, 2001, Pengantar Hukum Indonesia, Prenhallindo, Jakarta,Hal.45 Jeddawi Murtir, 2012, Hukum Adminsitrasi Negara, Total Media,
Yokjakarta,Hal.13
Jimmly Asshidiqqie, 2006, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan, Jakarta. Hal.23
Kusumadi Pudjosewojo, 2005, Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia, Cet 10, Sinar Grafika, Jakarta Hal.86
Kuntjoro Purbanto, 1981, Perkembangan Hukum Adminstrasi Negara,Cet 1 Bina Cipta, Jakarta,Hal.45
Marwan Mas, 2004, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Hal.16-18
Muzakir Iskandar Syah, 2008, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Sagung Seno, Jakarta. Hal.23-24
Muchsan, 1998, Pengantar Hukum Administrasi Negara, Liberty, Yogyakarta,Hal. 15
137
Mukhammad Najih, dan Soimin, 2012, Pengantar Hukum Indonesia Sejarah, Konsep Tata Hukum & Politik Hukum Indonesia, Setara Press, Malang. Hal.48
Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, 1980, Pengantar Hukum Tata Hukum Indonesia, Pusat Studi Hukum Tata Negara Indonesia Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan CV Sinar Bakti, Jakarta,Hal. 140-153
Moelyatno, 1993, Asas –Asas Hukum Pidana, Bina Cipta, Jakarta,Hal.34 M.Hadjon et.al.1993, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gajah Mada
University Press, Yokyakarta
Mochtar Kusumaatmadja, 1989, Pengantar Hukum Internasional, tanpa tempat, Bina Cipta Hal.18
Philipus M.Hadjon et.al.1993, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gajah Mada University Press, Yokyakarta, Hal.23
R. Abdoel Djamali, 1999, Pengantar Hukum Indonesia, Raja Grafindo, Jakarta,
R. Abdoel Djamali, 2012, Pengantar Hukum Indonesia, RajaGrafindo Persada, Jakarta.Hal.8
Rachmat Sumitro, 1992, Pengantar Singkat Hukum Pajak, Eresca, Bandung,Hal.12
Ridwan Khairandi, 1999, Pengantar Hukum Internasional Indonesia, Cet Pertama, Gama Media, Yogyakarta Hal.1
R. Soeroso, 2013, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta.Hal.11-12 R. Soekardono, 1991, Hukum Dagang Indonesia, Rajawali Press,
Jakarta,Hal.12
Soerjono Soekanto,1993,Sendi-Sendi Hukum Pidana dan Tata Hukum, Cet VI, Alumni, Bandung,Hal.87-88
Sri Harini Dwiyanti, 2006, Pengantar Hukum Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, Hal.3
Sri Setianingsih Suwardi, 1986, Inti Sari Hukum Internasional Publik, Alumni, Bandung, Hal.15
Sudargo Gautama, 1985, Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional;
Himpunan Karangan Hukum Perdata Internasional, Alumni, Bandung,Hal. 283
Sudargo Gautama, 1987, Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Cet Kelima, Binacipta, Bandung
Suwardi, 2002, Hukum Dagang Suatu Pengantar, Deepublish, Jakarta,Hal.8 Soediman Kartohadiprodjo,1984, Pengatar Tata Hukum di Indonesia, Ghalia
Indonesia, Jakarta
Soedikno Mertokusumo, 1999, Mengenal Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta,Hal 50
Soedikno Mertokusumo, 1999, Mengenal Hukum ; Suatu Pengantar, Cet Kedua, Liberty, Yogjakarta,Hal.33