• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas Bilateral-Individual

BAB IV PEMBAGIAN HARTA

A. Asas-asas Hukum Waris Adat

1. Asas Bilateral-Individual

Hubungan anak dengan keluarga tergantung dari keadaan sosial dalam masyarakat yang mengitarinya. Di Indonesia terdapat beberapa jenis susunan keturunan, yaitu susunan keturunan pihak ibu-bapak (parental), susunan keturunan pihak bapak (patriarkal), dan susunan keturunan pihak ibu (matriarkal). Dalam susunan keturunan pihak ibu-bapak, hubungan antara anak dengan keluarga bapaknya dan antara anak dengan keluarga ibunya adalah sama. Ini berarti bahwa larangan kawin dan kewajiban memelihara terhadap dua pihak keluarga itu adalah sama derajatnya.209 Bagi masyarakat Bugis, anggota kerabat yang tidak boleh saling mengawini digunakan keterangan tambahan (yaitu kata rialẽ)210 di belakang jenis kerabat seperti ana‟ rialẽ (anak kandung), anaurẽ rialẽ (keponakan/anak dari saudara kandung), amaurẽ rialẽ (paman kandung/saudara laki-laki bapak dan ibu), inaurẽ rialẽ (bibi kandung/ saudara perempuan bapak dan ibu), dan seterusnya. Ini jelas menandakan bahwa masyarakat Bugis menganut kekerabatan yang bilateral, sebab larangan menikah terhadap kerabat dekat disamakan antara kerabat dari pihak ayah dan dari

209Soerjono Soekanto, Meninjau Hukum Adat Indonesia: Suatu Pengantar untuk Mempelajari Hukum Adat, Edisi Ketiga (Jakarta: CV Rajawali, 1985), h. 98.

210Lihat Matulada, Latoa Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis (Ujung Pandang: Hasanuddin University Press, 1995), h. 40.

Kata rialẽ berasal dari ri (di) dan alẽ (badan) berarti berada di badan, dengan kata lain sesuatu yang berada di badan itu berarti sangat dekat. Maka, apabila kata ini dilekatkan di belakang jenis kerabat, itu berarti kerabat tersebut sangat dekat. Hubungan kekerabatan yang sangat dekat itu tidak diperbolehkan untuk saling menikah menurut aturan hukum adat dan agama.

pihak ibu.

Asas bilateral-individual bermakna bahwa di dalam proses peralihan harta warisan, para ahli waris dapat memperoleh hak waris dari garis kekerabatan kedua belah pihak, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan. Adapun hak masing- masing ahli waris yang diperoleh dari harta warisan dikuasai secara pribadi (individual) oleh para ahli waris itu sesuai dengan bagian yang telah ditentukan untuknya.

Masyarakat Bugis di Bone dalam sistem kekerabatannya menempatkan seorang anak itu dihubungkan dengan garis keturunan ayah dan ibu sekaligus sebagaimana sistem kekerabatan yang bersifat bilateral. Begitu pula setiap ahli waris yang memperoleh bagian harta warisan dapat menguasai dan memiliki serta memanfaatkannya sendiri.

Begitu pula dalam penguasaan harta bawaan/ harta asal/waramparang siwali211 juga dikuasai dan dimanfaatkan sendiri oleh si pemilik harta tersebut. Adapun pihak lain dapat ikut serta memanfaatkannya, apabila mendapat izin dari si pemilik. Pemberian izin dari pemilik harta menjadi penting untuk membedakan antara harta pribadi dan harta bersama dari pasangan suami istri. Selain itu, izin pemilik harta menjadi tanda yang mempertegas bahwa dialah yang berhak menentukan segala sesuatu berkenaan dengan hartanya tersebut. Apalagi masyarakat Bugis di Bone sangat memegang prinsip sipakatau sipakalebbii212 (yakni saling menghargai dan saling menghormati) hak-hak orang lain sebagai sesama manusia.

211Waramparang siwali itu harta yang berasal dari keluarga pihak suami atau pihak istri yang dibawa ke dalam perkawinan (harta bawaan).

Wawancara dengan Bapak Juhuri pada tanggal 7 Januari 2009 di Kelurahan Manurungẽ, Kecamatan Tanete Riattang.

212Seperti dituturkan oleh Bapak Haji Andi Bahram Sebbu pada tanggal 5 Januari 2009 di Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang.

104 | Asni Zubair

Dengan demikian, asas hukum waris masyarakat Bugis di Bone dapat dikatakan menganut asas bilateral. Hal ini dikarenakan seorang anak dihubungkan dengan garis keturunan dari dua arah, yaitu garis keturunan dari pihak ayahnya dan garis keturunan dari pihak ibunya. Begitu juga dengan kewarisan seorang anak berasal dari dua arah, yaitu dapat mewarisi harta warisan dari pihak ayahnya dan juga mewarisi harta warisan ibunya. Sebaliknya seorang ayah dan ibu dapat menjadi ahli waris dari anak perempuan ataupun anak laki-lakinya. Meskipun demikian, hubungan antara anak dan orang tua tampak ada jarak karena rasa hormat dan segan. Perasaan hormat dan segan seorang anak terlihat dari cara bertingkah laku dan berkomunikasi terhadap orang tua.

Hal ini juga terjadi pada hubungan antara anak yang lebih tua dengan anak yang lebih muda, anak yang lebih muda akan menaruh rasa hormat dan segan kepada anak yang lebih tua, hal ini disebabkan anak yang lebih tua menjadi pengganti orang tua.

Apabila diperhatikan, sistem kewarisan masyarakat Bugis di Bone bersifat individual, karena masing-masing ahli waris secara pribadi berhak untuk memperoleh bagian harta warisan dan menjadi hak miliknya secara penuh.213 Hal ini dapat diketahui bahwa setiap ahli waris setelah memperoleh bagian masing-masing, maka mereka dapat menguasai dan mengelola apa yang telah menjadi haknya itu. Kalau bagian perolehan harta warisan telah diterima, maka mereka berhak untuk bertindak sesuai dengan keinginannya tanpa tergantung oleh ahli waris lain. Hal ini dibuktikan dengan kalimat penyerahan harta warisan kepada para ahli waris ketika bagiannya diserahkan disertai ucapan iyyẽ

213Ciri kewarisan yang bersifat individual, masing-masing ahli waris berhak untuk memperoleh bagian harta warisan dan menjadi hak miliknya secara penuh. Lihat Khoiruddin Nasution, Pengantar, h. 90.

muakkatenning214 yang bermakna pemberian kekuasaan terhadap sesuatu secara mandiri.

2. Asas Majjujung Makkunraiẽ Mallẽmpa Oroanẽ

Adanya istilah majjujung makkunraiẽ mallẽmpa oroanẽ (perempuan menjunjung, laki-laki memikul) selanjutnya disebut majjujung mallẽmpa erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakat Bugis apabila membawa beban atau barang.

Biasanya untuk kaum perempuan membawa barang dengan cara menjunjung (Bugis: majjujung) di kepala, sedangkan kaum laki-laki membawa barang dengan cara memikul (Bugis: mallẽmpa) di bahunya. ―Yako dibagẽi nadiaccuẽri ade‟ asellengenngẽ, engkana riaseng majjujung makkunraiẽ mallẽmpa oroanẽ215 Artinya, kalau harta warisan dibagi dengan mengikuti hukum waris Islam, maka ada namanya majjujung makkunraiẽ mallẽmpa oroanẽ. Biasanya isi pikulan lebih banyak daripada yang dijunjung karena dilihat dari jumlah wadah seperti baaka216 pikulan ada dua, sedangkan wadah seperti baakuu217 yang dijunjung hanya

214Iyyẽ muakkatenning (ini yang kau pegang). Kata muakkatenning (kau pegang) dari kata mu (kau) dan makkattening bermakna menguasai dan mengelola. Seperti dalam kalimat niga makkateningngi? yang berarti siapa yang menguasai dan mengelola. Pertanyaan seperti ini sering ditanyakan kepada para pihak yang bersengketa ketika mereka dimintai keterangan.

215Wawancara dengan Bapak Andi Najamuddin Petta Ilpada tanggal 13 November 2008 di Kelurahan Ta‘, Kecamatan Tanete Riattang.

216Baaka merupakan salah satu bentuk wadah untuk membawa beban yang terbuat dari anyaman kulit bambu. Wadah seperti ini umumnya dipakai oleh kaum laki-laki ketika membawa beban yang berisi misalnya ikan dengan cara dipikul.

217Baakuu merupakan salah satu bentuk wadah untuk membawa beban yang terbuat dari anyaman daun lontar. Wadah seperti ini umumnya dipakai oleh kaum perempuan ketika membawa beban yang berisi beras, sayuran, dan lain- lain dengan cara dijunjung.

106 | Asni Zubair

satu. Demikian pula beban sepasang wadah pikulan biasanya lebih berat daripada satu wadah yang dijunjung. Maka, pikulan yang memiliki beban lebih berat dilakukan oleh laki- laki karena umumnya laki-laki lebih kuat membawa beban daripada perempuan.

Berkaitan dengan masalah peralihan harta warisan, pengertian majjujung mallẽmpa mengarah kepada besar kecilnya bagian yang diperoleh ahli waris laki-laki dan perempuan, kalau berdasarkan asas ini menunjukkan bahwa bagian laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan bagian perempuan. Apabila dikaitkan dengan hak untuk memperoleh bagian harta warisan, berarti baik laki-laki maupun perempuan sama-sama berhak untuk mewaris meskipun dengan porsi yang berbeda. Ahli waris laki-laki memperoleh bagian harta warisan lebih banyak daripada ahli waris perempuan. Dengan asas majjujung mallẽmpa juga mengandung pengakuan terhadap besarnya tanggung jawab yang semestinya diemban oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan, sehingga meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama memperoleh hak mewaris, akan tetapi mereka mendapatkan bagian yang berbeda sesuai dengan sifat dan tanggung jawab masing-masing.

Asas majjujung mallẽmpa apabila dikaitkan dengan penetapan bagian ahli waris laki-laki dan perempuan, lebih banyak disandarkan pada besar kecilnya yang diperoleh ahli waris tanpa memandang angka-angka sebagaimana yang terdapat pada hukum waris Islam.218 Padahal, asas ini diserap dari hukum waris Islam bahwa anak perempuan mendapat seperdua apabila seorang diri tanpa ada anak laki-laki

218Hal ini sejalan dengan asas sepikul-segendong pada masyarakat Jawa.

Lihat Abdul Ghofur Anshori, ―Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam di Daerah Kotagede Yogyakarta‖, dalam Abdul Ghofur Anshori, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia: Eksistensi dan Adaptabilitas (Yogyakarta: Ekonisia, 2005), h. 125- 126.

bersamanya, tetapi kalau anak perempuan mewaris bersama dengan anak laki-laki, maka bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.219 Namun, dalam pelaksanaan pembagian harta warisan masyarakat Bugis di Bone, bagian seorang anak laki-laki tidaklah mesti sama dengan bagian dua orang anak perempuan, akan tetapi lebih kepada prinsip bahwa anak laki-laki/ahli waris laki-laki memperoleh lebih banyak. Kadang kala bagian anak perempuan misalnya satu hektar tanah lalu anak laki-laki memperoleh bagian satu setengah hektar, atau antara bagian laki-laki dan perempuan disamakan. Tampaknya, masyarakat tidak menerapkan aturan hukum waris Islam secara kaku bahwa bagian ahli waris laki-laki sama dengan bagian dua orang ahli waris perempuan, tetapi membagi harta warisan dengan mempertimbangkan berbagai hal yang terjadi.

Sehingga, ada kalanya anak perempuan memperoleh bagian harta warisan lebih banyak daripada laki-laki apabila anak perempuan tersebutlah yang merawat (mattungka) orang tua hingga akhir hayatnya. Akan tetapi, pada umumnya pembagian harta warisan dalam masyarakat Bugis di Bone menganut asas majjujung mallẽmpa, meskipun tidak harus persis bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.