BAB II MASYARAKAT BUGIS DI
C. Kondisi Sosial Budaya
tadinya tidak memperoleh hak dari harta warisan orang tuanya, sudah kembali mempunyai hak untuk mewaris. Namun, kenyataan dalam praktik pembagian harta warisan masyarakat Bugis di Bone kini, mereka telah mengenal bahwa ada beberapa larangan mewaris. Hal ini dapat diketahui sebagaimana diungkapkan bahwa engka eppa tau dẽ‟ naweddingngi mammaana, iyanaritu nauunoi torimanaana, sisaalai agamaana ambo‟na, aatai, nenniya buulẽẽi.109 Artinya, ada empat orang tidak boleh mewarisi, yaitu orang yang membunuh bakal pewarisnya, orang yang berbeda agama dengan pewarisnya, budak, dan anak zina. Mencermati larangan mewaris seperti yang telah dikemukakan itu, tampak adanya pengaruh hukum waris Islam. Sebagaimana telah diketahui, hukum waris Islam menetapkan bahwa larangan mewaris (mawāni‟ al-irś)110 seperti membunuh calon pewarisnya, berbeda agama dengan pewaris, dan berstatus budak.
44 | Asni Zubair
pendidikan agama Islam seperti madrasah, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tertinggi, yakni adanya perguruan tinggi agama, baik negeri maupun swasta.
Sekalipun penduduk Kabupaten Bone mayoritas pemeluk agama Islam, di kota Watampone juga terdapat gereja sebagai tempat ibadah umat Kristiani. Hal ini berarti bahwa pemeluk agama lain cukup leluasa untuk menunaikan ibadahnya sebagai bukti toleransi beragama masyarakat yang berjalan baik. Keadaan seperti ini memberikan dampak positif terhadap kehidupan keagamaan penduduknya karena semua penganut agama saling hormat menghormati dan menghargai.
Di samping itu, peran para pemuka agama terutama ulama sangat dominan dalam kehidupan keagamaan, bahkan ulama tersebut merupakan figur-figur penuh kharismatik yang menjadi panutan dalam masyarakat. Seperti halnya dalam setiap penyelesaian pembagian harta warisan yang dilaksanakan masyarakat hampir selalu meminta pandangan ulama untuk membantu.
Di bidang pendidikan, masyarakat Bone yang agamis menempatkan pendidikan di samping merupakan sebagai kebutuhan, juga sebagai sebuah kewajiban. Melalui pendidikan yang baik, mereka dapat menempati status sosial yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak memiliki pendidikan.
Masyarakat Bone selalu berkeinginan untuk mempunyai generasi yang jauh lebih baik (dalam bahasa Bugis: wija pattola palallo)111 dengan menyekolahkan putra-putrinya hingga ke tingkat perguruan tinggi. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa kalau memiliki pendidikan yang tinggi, maka akan menjamin kehidupan yang lebih baik karena dibarengi dengan pengetahuan dan keterampilan memadai.
111Wija Pattola Palallo berarti keturunan/generasi yang dalam berbagai aspek kehidupannya jauh lebih baik dari keadaan orang tuanya. Wawancara dengan Bapak Andi Muhammad Ridwan Petta Rani tanggal 8 Mei 2008 di Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang.
Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, pemerintah Kabupaten Bone untuk sektor pendidikan diarahkan pada upaya peningkatan mutu pendidikan, dalam hal ini diharapkan pula adanya peningkatan relevansi pendidikan serta mempunyai keterkaitan yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Oleh karena itu, mutu pendidikan selalu ditingkatkan sebagai upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Peningkatan SDM tersebut mempunyai nilai strategis, karena merupakan prasyarat mutlak bagi daerah Kabupaten Bone untuk mampu bersaing seperti halnya daerah lain yang mutu pendidikannya sudah jauh lebih tinggi dalam mengembangkan dan memajukan Kabupaten Bone di Era Otonomi Daerah ini. Adapun mengenai pengembangan kebudayaan, pemerintah Kabupaten Bone telah berupaya untuk senantiasa membina nilai-nilai budaya daerah sebagai unsur budaya nasional dengan berdasarkan pada penerapan nilai-nilai kepribadian bangsa. Untuk memahami pola tingkah laku serta budaya Bugis, perlu dipahami dengan baik konsep mereka tentang pangngaderreng dan siri‟.112 Pangngaderreng, selain meliputi aspek-aspek sistem norma dan aturan adat, yaitu berbagai hal ideal yang mengandung nilai- nilai normatif, juga meliputi hal-hal bagaimana seseorang bertingkah laku sebagai pribadi dan anggota masyarakat.
Pangngaderreng sebagai suatu ikatan utuh sistem nilai yang memberikan kerangka acuan bagi kehidupan bermasyarakat
112Konsepsi siri‟ adalah bagian kesadaran hukum rakyat Bugis- Makassar yang dibuktikan tidak saja fungsi siri‟ sebagai bagian asas-asas hukum dari segenap kaidah hukum (ade‟), tetapi terutama diwujudkan dalam perilaku penilaian serta kepatuhan mereka terhadap hukum. Kepatuhan seseorang terhadap hukum turut menentukan harkat dirinya sebagai manusia. M. Laica Marzuki, Siri‟ Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis-Makassar (Sebuah Telaah Filsafat Hukum) (Ujung Pandang: Hasanuddin University Press, 1995), h. 206. Bandingkan Mattulada, Latoa, h. 339.
46 | Asni Zubair
orang Bugis. Kemudian dilengkapi dengan budaya siri‟113 sebagai sikap hidup yang sangat mementingkan ―harga diri‖
telah mampu melandasi kebudayaan suku Bugis sebagai penghuni sebagian besar Provinsi Sulawesi Selatan.
Pangngaderreng sebagai suatu sistem terdiri atas komponen atau unsur yang saling menyangga dalam membentuk sistem.
Salah satu unsurnya yaitu ade‟, yakni seperangkat adat atau sistem norma, ade‟114 menentukan dan mengatur batas-batas, bentuk, dan kaidah-kaidah. Dengan demikian, ade‟ menjadi salah satu unsur yang mendinamisasi kehidupan masyarakat karena meliputi segala keharusan tingkah laku dalam kegiatan- kegiatan orang Bugis. Seperti ade‟ yang khusus mengatur norma-norma perkawinan dan hubungan kekerabatan dan hal- hal yang berhubungan dengan etika berumah tangga disebut sebagai ade‟ akkalabinẽngeng.115
113Dalam sistem nilai budaya siri‟ terdapat nilai etika hukum (value of legal ethic), seperti halnya nilai malu dan harga diri (martabat) yang menjadi bagian cita-cita, gagasan, dan konsepsi hukum. Siri‟ sebagai pancangan nilai etika hukum merupakan dasar keberlakuan kaidah-kaidah ade‟ (hukum).
Masyarakat mematuhi dan memuliakan ade‟ (hukum) karena meyakini bahwa ade‟ menjaga martabat siri‟ yang dijunjung tinggi. M. Laica Marzuki, Siri‟, h.
140-141.
114Menerjemahkan ade‟ dengan adat telah membawa banyak salah pengertian yang dapat mengelirukan. Lebih keliru lagi apabila ade‟ itu diterjemahkan dengan hukum adat atau hukum kebiasaan. Lebih baik dikatakan bahwa ade‟ meliputi semua usaha manusia dalam memperistiwakan diri dalam kehidupan bersama dalam semua lapangan kebudayaan. Lihat Mattulada, Latoa, h. 345.
115Ade‟ akkalabinẽngeng adalah aturan tentang hal-hal yang berkaitan dengan perkawinan. Sanksi atas pelanggaran aturan ini seperti dipaali (dihukum/dibuang) yang dalam hal ini biasanya dilakukan di dekat Tanjung Pallettẽ, diusir dan tidak diakui sebagai anak (riassakkaarangngi) dengan cara diucapkan secara jelas oleh orang tuanya kemudian ripooppaangi/ripaoppaangi taana (istilah untuk menyatakan bahwa seseorang dianggap telah mati), diusir keluar dari wanua (negeri), dan ditampung (dibuatkan semacam kuburan).
Wawancara dengan Bapak Andi Muhammad Ridwan Petta Rani tanggal 8 Mei 2008 di Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone.
Dalam setiap sendi kehidupan, masyarakat Bugis selalu mengedepankan budaya sipakatau sipakalebbii116 (yakni saling menghargai dan saling menghormati) dengan menghargai hak- hak dan mengangkat derajatnya sebagai seorang manusia.
Budaya sipakatau sipakalebbii adalah bagaimana agar setiap orang bersikap memanusiakan manusia (humanitas) dengan menghargai hak-hak yang melekat pada diri seseorang sebagai manusia. Menghargai hak-hak sebagai manusia berarti memuliakan seseorang yang merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan.
Secara umum, tampaknya budaya masyarakat Bugis itu keras. Akan tetapi, apabila dicermati akan ditemukan kenyataan bahwa mereka itu sebenarnya memiliki budaya lunak dan keras sekaligus.117 Orang Bugis akan sangat lunak dalam menyikapi suatu persoalan dan membangkitkan jiwa sosial dalam dirinya manakala hak-haknya dihormati, derajatnya diangkat sebagai seorang manusia. Sebaliknya, sikap mereka akan menjadi sangat keras jiwa pemberontakannya manakala haknya diinjak atau dirampas oleh orang lain dan harga dirinya direndahkan.
Jiwa pemberontakan yang dimaksud adalah jiwa perjuangan orang Bugis dalam rangka menegakkan atau merebut kembali hak-haknya yang dirampas, bahkan mereka menganggap dirinya ripakasiri‟ (dipermalukan)118 apabila apa yang telah menjadi haknya dirampas oleh orang lain.
116Wawancara dengan Bapak Haji Andi Bahram Sebbu pada tanggal 5 Januari 2009 di Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang.
117Seperti dituturkan oleh Bapak Haji Andi Bahram Sebbu pada tanggal 5 Januari 2009 di Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang.
118Apabila melihat orang lain menderita karena dipermalukan (ripakasiri‟) timbul pacce‟ yang bermakna pedih yang dirasakan meresap dalam kalbu seseorang. Pacce‟ berfungsi sebagai pemersatu, penggalang solidaritas,
48 | Asni Zubair