BAB II MASYARAKAT BUGIS DI
E. Tradisi Hukum Waris yang Hidup dalam Masyarakat Bugis
52 | Asni Zubair
Selanjutnya, ada juga kepemilikan harta yang berasal dari bagian harta warisan (maanaa). Status kepemilikan harta seperti ini cukup kuat, apabila berhadapan dengan orang lain yang bukan kerabat, tetapi dapat menjadi lemah dan digugat apabila berhadapan dengan kerabat dekat yang berkedudukan sama sebagai ahli waris dari asal harta tersebut. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk memperkuat status kepemilikan harta yang diperoleh dari bagian harta warisan, baik berhadapan dengan ahli waris lain maupun orang lain dengan menerbitkan sertifikat hak milik.
E. Tradisi Hukum Waris yang Hidup dalam Masyarakat
terjadi setelah orang yang diperebutkan hartanya itu meninggal dunia. Oleh karena itu, bakal pewaris merasa lebih tenang setelah membagi hartanya kepada anak-anaknya.
Kadang kala orang tua semasa hidup membagi rata harta kepada semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa membeda-bedakan mereka satu sama lain. Hal itu seperti dikatakan oleh Hasanuddin, ―Kalau calon pewaris membagi hartanya, maka yang diberikan hanya kepada anak-anaknya saja dan menyamaratakan bagian mereka, karena orang tua harus adil.‖130 Keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan menyamakan bagian yang harus diperoleh antara anak laki-laki dan anak perempuan.
Biasanya, hal ini dilakukan dengan cara mengumpulkan semua anaknya untuk duduk bersama lalu mulai membagi harta kepada mereka. Misalnya, jika bakal pewaris itu memiliki lima orang anak, maka kelima anaknya itu dikumpulkan untuk kemudian masing-masing diserahkan bagian-bagiannya.
Kalimat penyerahan harta orang tua kepada anak perempuan berbunyi, ―Iko Beccẽ‟ iyyẽ muakkatenning.‖ Adapun kalimat penyerahan harta orang tua kepada anak laki-laki berbunyi,
―Iko Baco‟ iyyẽ muakkatenning.‖131 Kalimat penyerahan seperti itu menegaskan bahwa anak perempuan dan anak laki- laki berkedudukan sama dalam keluarga. Mereka dapat memiliki dan menguasai harta secara individual.
130Wawancara dengan Bapak Hasanuddin pada tanggal 23 Januari 2009 di Palakka.
131Wawancara dengan Bapak Andi Muhammad Ridwan Petta Rani, pada tanggal 8 Mei 2008 di Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang. Iko Baco‟ iyyẽ muakkatenning, iko Beccẽ‟ iyyẽ muakkatenning, artinya kau Baco‟ ini yang kau pegang, kau Beccẽ ini yang kau pegang/kuasai, merupakan perkataan penyerahan harta orang tua kepada anak-anaknya untuk dikuasai dan dimanfaatkan.
54 | Asni Zubair
Pada umumnya, pemberian orang tua tersebut diserahkan kepada anaknya yang telah menikah karena apabila anak tersebut belum menikah berarti masih tinggal bersama orang tua. Apabila anak tidak menikah sampai orang tuanya meninggal, maka bagiannya baru dikuasai setelah orang tua meninggal. Hal ini dikenal dengan hibah wasiat. Ada juga bakal pewaris yang membagi hartanya tidak secara keseluruhan, tetapi hanya membagi harta tertentu, seperti membagi harta yang berupa sawah. Meskipun pembagian telah dilakukan kepada bakal ahli warisnya, namun mereka belum dapat menguasai bagian harta tersebut. Bakal ahli waris baru dapat memiliki harta itu setelah orang tuanya meninggal dunia, karena orang tua masih mengambil manfaat berupa hasil panen dari sawah tersebut untuk dijadikan sebagai jaminan hidup mereka (Bugis: akkinanrẽngeng) sepanjang sisa hidupnya. Hal ini seperti dituturkan oleh Hajjah Menuna, ―Iyya‟ tomatowakku ndi‟ nawẽrẽng manekki gaalung, naẽkkiya dẽpa riakkatenningngi nasaba‟ maẽlomupi nakkinanrẽngi. Maatẽpi maatu‟ nappa wedding riakkatenning.‖132 Artinya, orang tua saya memberikan kepada kami semua sawah, tetapi belum dikuasai, karena masih dijadikan jaminan hidup. Setelah mereka meninggal dunia, barulah sawah tersebut dapat dikuasai. Pemberian harta oleh bakal pewaris kepada calon ahli waris, terutama anak-anaknya, masih sebatas wacana, tetapi pemberian tersebut baru berpindah kepada anak-anaknya setelah bakal pewaris meninggal dunia. Hal semacam ini dalam hukum Islam dikenal sebagai wasiat. Kemudian orang tua (bakal pewaris) masih berhak mengambil manfaat dari harta yang telah diberikannya itu selagi mereka hidup. Kalau pun salah seorang di antara mereka telah meninggal, maka harta itu beralih penguasaannya kepada yang masih hidup. Hal ini
132Wawancara dengan Ibu Hajjah Menuna pada tanggal 10 Agustus 2008 di Desa Bainang, Kecamatan Palakka.
tampaknya ada pengaruh dari hukum adat masyarakat yang tidak memberikan harta warisan kepada salah seorang dari pasangan suami istri yang ditinggal mati.
Dilakukannya pembagian harta oleh bakal pewaris (biasanya orang tua) kepada bakal ahli waris (anak-anaknya) secara hibah wasiat, pada dasarnya bertujuan untuk:
1. Mewajibkan para ahli waris untuk dapat membagi-bagi harta warisan dengan cara yang layak menurut anggapan pewaris, 2. Mencegah terjadinya perselisihan di antara ahli waris,
3. Pewaris menyatakan secara mengikat sifat-sifat dari barang yang ditinggalkan, seperti barang-barang pusaka, barang- barang yang dipegang dengan hak gadai, barang-barang yang disewa, dan sebagainya.133
Selain itu, ada pembagian harta yang dilakukan orang tua semasa hidup dengan cara seperti ini, anaknya ada empat orang yang terdiri atas tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Hartanya berupa kebun yang luas dibagi empat petak, lalu masing-masing anak diberi satu petak. Namun, untuk anak perempuan, selain memperoleh satu petak kebun juga diberi sebuah rumah beserta perabotnya. Jadi, tampaknya anak perempuan diberi harta yang lebih banyak daripada anak laki-laki. Adapun pertimbangan orang tua memberikan harta yang tampak lebih banyak kepada anak perempuan, karena umumnya anak perempuanlah yang merawat (mattungka) orang tua. ―Pemberian semacam ini memang lazim diberikan kepada mereka yang merawat (mattungka) pewaris.‖134 Pemberian kepada mereka yang mattungka seperti ini dapat merupakan balas jasa kepadanya,
133Soerjono Soekanto, Hukum Adat, h. 271.
134Wawancara dengan Bapak Syafriadi pada tanggal 14 Januari 2009 di Kecamatan Palakka.
56 | Asni Zubair
karena anak perempuan tersebut telah merawat bakal pewaris.
Sementara itu, anak laki-laki biasanya setelah menikah tinggal di tempat istrinya (rumah mertua). Lagipula anak laki- laki dianggap mampu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini, orang tua tidak membagi habis hartanya kepada anak-anak, tetapi ada harta yang disisakan khusus untuk penghidupan mereka sendiri (ampi kaalẽ), bahkan harta tersebut juga dipersiapkan untuk biaya penyelenggaraan jenazah mereka kelak. Kalau ternyata harta tersebut tidak habis untuk keperluan itu, maka sisanya jatuh ke tangan anak perempuan yang merawatnya. Hal ini seperti diceritakan oleh Mendasari:
―Tomatowaẽ riwettu tuwona engka dare‟na maloang, engka eppaa wijanna, nabagẽni eppa pẽta‟ iyaro dare‟na nainappa nawẽrẽnni tassipẽta‟na. Ana‟
makkunrainna nawẽrẽittoi bola sibawa pakkakkasa‟na.
Nasaba‟ ana‟ makkunraiyyẽ biasa mattungka tomatowa, koana‟ orowanẽ kopurani botting laoni monro ribainẽna ribola matuanna, nappa ana‟ orowanẽ malessimua massappa.‖135
Artinya, orang tua ketika hidupnya memiliki kebun yang luas, memiliki empat orang anak. Kebun tersebut dibagi empat petak, kemudian diserahkan kepada keempat anaknya masing-masing satu petak. Kepada anak perempuannya diberikan pula sebuah rumah beserta perabotannya karena anak perempuan yang biasa merawat (mattungka) orang tua, sedangkan anak laki-laki setelah menikah tinggal bersama istri di rumah mertuanya, kemudian anak laki-laki memiliki kemampuan mencari nafkah.
135Wawancara dengan Ibu Mendasari pada tanggal 27 Agustus 2008 di Desa Barebbo, Kecamatan Barebbo.
Meskipun tampaknya secara kasat mata bagian anak perempuan lebih banyak dari anak laki-laki, namun apabila dicermati dengan baik, maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya bagian harta untuk anak laki-laki tetap lebih besar karena ketika anak laki-laki akan menikah, maka orang tua mempersiapkan mahar atau dalam budaya Bugis dikenal dengan sompa.136 Pada umumnya, sompa berupa tanah sawah, kebun, ataupun tanah perumahan.137 Selain itu, pihak laki-laki ataupun keluarga laki-laki menyediakan biaya perkawinan yang diserahkan kepada keluarga perempuan yang akan menjadi istrinya berupa sejumlah uang (doi mẽnrẽ‟)138 yang besarnya mencapai puluhan juta rupiah, tergantung kesepakatan pihak keluarga perempuan dan pihak
136Sompa adalah pemberian calon suami kepada calon istri, biasanya berupa tanah sawah atau kebun. Pemberian ini diserahkan pada hari akad nikah yang disimbolkan dengan bungkusan berwarna putih dengan simpul diikat/digantungkan di pundak seorang laki-laki, sementara bungkusannya diletakkan di depan dada seperti menggendong bayi. Bungkusan ini berisi segenggam tanah, pecahan wajan, kunyit, serta sepasang boneka laki-laki dan perempuan yang terbuat dari daun lontar. Pengamatan dilakukan pada pesta pernikahan saudara sepupu tanggal 13 Juli 2008 di Watampone, Kecamatan Tanene Riattang.
137Seiring dengan perkembangan zaman dan situasi, sompa kemudian disesuaikan dengan kemampuan calon suami, apalagi bila calon suami tersebut berasal dari daerah (pulau) lain. Kadang kala sompa yang diberikan berupa uang atau emas dan benda berharga lainnya.
138Doi mẽnrẽ‟ (doi balanca) adalah sejumlah uang yang diserahkan oleh keluarga calon suami kepada keluarga calon istri untuk biaya penyelenggaraan pesta perkawinan. Doi balanca (uang belanja) diserahkan pada acara khusus sebelum puncak acara akad nikah. Sejumlah uang yang diserahkan kepada keluarga calon mempelai perempuan ditempatkan pada sebuah kotak yang di dalamnya juga diisi beras, rempah buah pala dan kayu manis serta bunga penno- penno. Pengamatan dilakukan pada acara mappasiarekeng/mappẽnrẽ‟ doi sebelum pernikahan saudara sepupu pada tanggal 10 Juni 2008 di Watampone, Kecamatan Tanete Riattang. Berkaitan dengan hal ini, adat melarang perbuatan tidak berguna seperti pesta besar yang menelan biaya yang banyak. Andi Zainal Abidin, Persepsi Orang Bugis Makassar Tentang Hukum, Negara, dan Dunia Luar (Bandung: Alumni, 1983), h. 160.
58 | Asni Zubair
keluarga laki-laki. Tidak jarang hal itu belum cukup, ditambah lagi dengan barang-barang lain seperti beras, gula, terigu, dan satu stel perhiasan emas sesuai kemampuan pihak keluarga laki-laki.
Ketika perkawinan telah dilakukan, laki-laki meninggalkan rumah orang tua dan biasanya menetap bersama orang tua istrinya. Setelah pernikahan berjalan dan mendapat keturunan yang menjadi cucu orang tua laki-laki dan perempuan, maka biasanya cucu tersebut dibawa ke rumah kakek (orang tua ayahnya) dan saat itu si kakek kembali memberikan harta untuk cucunya. Pemberian seperti ini menurut adat tidak boleh ditarik kembali oleh si pemberi139 karena sudah ada perantara antara si kakek dengan cucunya (yaitu ayah si cucu), berbeda halnya dengan pemberian orang tua kepada anaknya yang dapat ditarik kapan saja jika orang tua menghendaki.
Terkadang terjadi orang tua membagi hartanya sebelum meninggal, dalam hal ini hasil pemberian orang tua tidak boleh diganggu gugat (natudangeng ade‟)140 dalam beberapa
139Wawancara dengan Bapak Haji Muhammad Jafar pada tanggal 11 Oktober 2008 di Desa Sugiale‘, Kecamatan Barebbo. Pemberian kakek kepada cucunya yang dilakukan di depan ahli waris adalah lebih kuat kedudukannya daripada pemberian kepada anak kandung, bahkan pemberian seperti ini tidak boleh dibatalkan. Hal ini merupakan salah satu kaidah hukum yang tercantum di dalam lontara‟ yang masih berlaku. Andi Zainal Abidin, Persepsi, h. 106 dan 135.
140Wawancara dengan Bapak Haji Muhammad Jafar tanggal 11 Oktober 2008 di Desa Sugiale‘, Kecamatan Barebbo. Natudangeng ade‟ artinya suatu hal yang sudah menjadi ketetapan ade‟. Pabbẽrẽ pattampa artinya pemberian dalam rangka mengundang/memanggil orang yang diberi kepada yang dikehendaki oleh pemberi, misalnya oto‟no mabbedda‟ warẽkko galung, artinya bangkitlah untuk berdandan/didandani, saya beri engkau sawah. Hal ini terjadi ketika ada orang tua yang hendak menikahkan anaknya dengan pilihannya, sedangkan si anak ogah-ogahan dalam menjalani pernikahan, olehnya itu salah satu cara yang sering dilakukan orang tua, yaitu memanggil si anak untuk segera mempersiapkan diri untuk menikah dengan memberikan harta yang bernilai.
Natudangeng gau‟ artinya sudah menjadi ketetapan perbuatan. Hai malessiko
keadaan tertentu seperti pabbẽrẽ pattampa. Pabbẽrẽ pattampa misalnya seseorang yang memanggil ataupun menyuruh seorang calon pengantin agar segera bangkit bersiap-siap untuk didandani dengan berkata kepada calon pengantin itu, ―Oto‟no mabbedda‟ warẽkko galung.‖
Pemberian seperti ini pun tidak boleh ditarik/diganggu karena natudangeng gau‟, begitu pula pemberian ketika seseorang yang sedang sakit lalu dikatakan kepadanya, ―Hai malessiko gatti warẽkko dare‟, tuoko malampẽ sunge‟mu.‖141 Pemberian seperti ini bukan termasuk bagian dari harta warisan, tetapi dapat menjadi berat dalam pembagian harta warisan dalam arti mungkin bagiannya tidak seperti yang lain karena dia telah mendapat pemberian dari bakal pewaris semasa hidupnya.
Selain itu, seorang bapak semasa hidupnya telah membagi hartanya kepada anak-anak dengan dua bagian untuk anak laki-laki dan satu bagian untuk anak perempuan.
Akan tetapi, dalam pembagian yang dilakukan oleh bapak tersebut, ibu (istri pewaris) tidak diberi bagian apa-apa. Jadi, harta yang telah dibagi itu baru dapat berpindah ke tangan anak-anak apabila ibu (istri pewaris) juga telah meninggal dunia. Jadi, hasil pembagian baru berupa tulisan di atas kertas dengan persetujuan semua ahli waris tentang bagian masing-masing yang ditandatangani oleh mereka dengan
gatti warẽkko dare‟, tuoko malampẽ sunge‟mu artinya hai fulan, cepatlah sembuh, saya beri engkau kebun, hiduplah engkau dengan umur yang panjang.
Hal ini biasanya dilakukan oleh seseorang kepada anak atau cucunya yang sedang sakit, lalu kepada si sakit diberi sesuatu yang bernilai untuk membangkitkan semangat hidupnya agar segera sembuh. Pemberian seperti ini juga menjadi semacam doa dari orang yang memberi kepada yang diberi.
141Sebagaimana dituturkan oleh Bapak Haji Muhammad Jafar tanggal 11 Oktober 2008 di Desa Sugiale‘, Kecamatan Barebbo.
60 | Asni Zubair
persaksian lurah dan camat (pemerintah) setempat.142 Istri pewaris tidak diberi bagian apa-apa menandakan bahwa ada pengaruh hukum waris adat yang memang tidak memberikan bagian harta warisan kepada janda atau duda pewaris. Anak perempuan mendapatkan bagian berupa rumah beserta isi/perabotan, sementara anak laki-laki mendapatkan bagian berupa sawah dan kebun. Selain itu, pengaruh dari hukum waris Islam terlihat ketika sang bapak memberikan dua bagian harta kepada anak laki-laki dan satu bagian harta kepada anak perempuannya.
Di samping sistem pembagian harta seperti yang dikemukakan di atas, terjadi pula pembagian harta warisan yang sesungguhnya. Pembagian harta warisan dikatakan yang sesungguhnya karena dilakukan setelah pewaris meninggal dunia. Dalam hal ini, pelaksanaannya dilakukan oleh ahli waris laki-laki tertua sebagai pengemban tanggung jawab utama atau yang ditunjuk oleh sebagian besar ahli waris apabila ahli waris laki-laki tertua tidak bersedia menjadi pelaksana pembagi harta warisan.
Sebagai konsekuensi adanya sistem pembagian harta tersebut, pada kenyataannya mengalami beberapa hambatan dalam pelaksanaannya,143 yaitu:
1. Pada waktu bakal pewaris membagikan harta tersebut kepada bakal ahli warisnya, dia tidak mempersaksikannya kepada orang lain atau kepada pemerintah setempat, maka ahli waris saling mengklaim bagian harta setelah pewaris meninggal. Pembagian atau penghibahannya itu tidak dituangkan secara tertulis dalam suatu surat akta hibah, tetapi hanya dilakukan dalam bentuk lisan sehingga menimbulkan permasalahan setelah pewaris meninggal
142Wawancara dengan Bapak Jamaluddin pada tanggal 19 April 2008 di Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang.
143Seperti dituturkan oleh Bapak Andi Amrullah Zubair pada tanggal 10 Mei 2008 di Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang.
dunia, karena salah satu pihak tidak mengakui adanya pembagian atau penghibahan yang dilakukan oleh pewaris semasa hidupnya.
2. Pembagian harta warisan yang dilaksanakan oleh ahli waris yang tertua terkadang dalam pelaksanaannya tidak mencerminkan rasa keadilan sehingga sebagian ahli waris tidak setuju dengan cara pembagian tersebut. Oleh karena itu, meskipun sudah diupayakan untuk menghindari timbulnya perasaan tidak puas dari sebagian ahli waris dengan menentukan bagian masing-masing secara rinci bentuk dan letaknya, tetapi objek yang akan dibagi itu berupa tanah perumahan, kebun, dan sawah yang terdiri atas beberapa tempat. Hal ini menyebabkan tingkat produktivitasnya berbeda sehingga sering kali ahli waris tidak rela karena merasa bagiannya tidak produktif ataupun tidak strategis dibanding dengan bagian ahli waris lain.
Mengenai terhalangnya seseorang untuk memperoleh harta warisan, seperti seorang anak yang meninggal dengan meninggalkan anak sementara orang tuanya (pewaris) belum meninggal (Bugis: polo alẽtẽng144 atau dikenal dengan mpalai mana),145 maka anaknya tidak berhak mewaris harta warisan kakeknya. Kalaupun anak tersebut diberi bagian dari harta warisan, tentu tidak sama dengan bagian yang diterima pamannya (anak pewaris yang masih hidup). Akan tetapi, adakalanya anak yang orang tuanya
144Wawancara dengan Bapak Haji Hattas pada tanggal 15 Oktober 2008 di Desa Kading, Kecamatan Barebbo.
145Dalam hal ini anak tersebut dapat meminta haknya melalui lembaga ahli waris pengganti dengan menggantikan kedudukan ayah/ibunya untuk mendapatkan harta kakek/neneknya. Lihat Kompilasi Hukum Islam pasal 185 bahwa ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada si pewaris, maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya. Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Akademika Pressindo, 1992), h. 158.
62 | Asni Zubair
telah meninggal lebih dahulu diberi bagian yang sama dengan pamannya, tergantung kesepakatan dari hasil musyawarah. Dengan demikian, keputusan yang diperoleh dari hasil musyawarah lebih kuat dan dapat berbeda dengan ketentuan yang sudah ada.
Apabila terjadi perbedaan pendapat di antara ahli waris, masalah ini tidak dibiarkan ditangani oleh orang lain.
Dalam setiap rumpun keluarga selalu ada yang dituakan (riakkitaangi/riẽlloi tangngaa)146 meskipun usianya masih muda, namun pandangannya dipatuhi. Apabila terjadi perselisihan, maka tentu ada yang dapat menengahi, yakni orang yang dituakan dalam rumpun keluarga tersebut.147 Jika tidak ada seseorang yang dituakan dalam suatu rumpun keluarga, maka sering terjadi perselisihan yang berujung ke kantor pengadilan, sebab tidak ada seseorang yang mengarahkan untuk diselesaikan secara kekeluargaan.
Musyawarah harus selalu dikedepankan apabila terjadi perselisihan dalam pembagian harta warisan, meskipun ada aturan majjujung mallẽmpa, tetapi itu harus disepakati oleh seluruh ahli waris. Sekiranya tidak ditemukan kesepakatan dalam musyawarah, maka pembagian harta warisan mereka dibawa ke pengadilan agama yang akan diputuskan berdasarkan ketentuan farāid . Hal demikian oleh masyarakat dianggap siabbiang masselessureng,148 artinya terjadi pemutusan tali silaturahim. Dikatakan demikian, karena membawa persengketaan ke kantor pengadilan
146Riakkitaangi/riẽlloi tangngaa sebagai tokoh, disegani, dan sebagai pemimpin formal ataupun informal. Hal ini disebabkan kebijaksanaannya, kejujurannya, dan mampu memberikan jalan keluar (solusi) yang tepat.
147Wawancara dengan Bapak Haji Muhammad Jafar pada tanggal 11 Oktober 2008 di Desa Sugiale‘, Kecamatan Barebbo.
148Seperti dituturkan oleh Bapak Haji Muhammad Jafar pada tanggal 11 Oktober 2008 di Desa Sugiale‘, Kecamatan Barebbo.
berarti tidak menyelesaikan dengan cara kekeluargaan, sebab para pihak tidak mencoba membicarakannya sebagai sebuah keluarga. Selama para pihak masih mau berdialog satu sama lain, berarti mereka masih dianggap satu keluarga. Namun, apabila jalan yang ditempuh melalui pengadilan, berarti tidak mau lagi berdialog/bertegur sapa sebagai keluarga. Dengan demikian, mereka telah menjadi lawan satu sama lain dan menanggalkan status keluarga di antara mereka yang berselisih.
64 | Asni Zubair