• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sosialisasi dan Internalisasi Hukum Waris Islam

BAB IV PEMBAGIAN HARTA

E. Sosialisasi dan Internalisasi Hukum Waris Islam

124 | Asni Zubair

tersebut. Pada umumnya, pola pembagian ini dihasilkan dari musyawarah antarahli waris dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing ahli waris.242 Misalnya, pembagian harta warisan yang tadinya dilaksanakan dengan berpedoman kepada pola anak laki-laki mendapat dua kali bagian seorang anak perempuan. Namun setelah anak laki-laki ini memperoleh bagiannya, dia melihat kondisi ekonomi dan kebutuhan adik perempuannya yang tidak seimbang, maka dia pun menyerahkan sebagian besar perolehannya kepada adik perempuan itu. Pada tataran ini, anak laki-laki tersebut menghibahkan sebagian perolehannya sebagai bentuk tanggung jawab untuk menafkahi saudara perempuannya yang memang masih membutuhkan uluran tangannya.

individu yang satu kepada individu lain. Upaya melakukan sosialisasi hukum waris Islam kepada masyarakat dilakukan melalui dakwah dan pengajian-pengajian serta penyuluhan hukum secara menyeluruh.

Selain itu, hukum waris Islam disebarluaskan melalui pranata pendidikan seperti pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan agama lainnya. Sosialisasi dan institusionalisasi hukum waris Islam juga telah berlangsung dalam waktu yang panjang, hal ini berhubungan secara timbal balik dan mengalami proses penyelarasan dengan struktur dan pola budaya masyarakat setempat.245 Pada masyarakat Indonesia yang mempunyai corak yang majemuk (pluralistic), institusionalisasi hukum waris Islam mengalami penyelarasan dengan sistem waris yang berdasarkan pada sistem kekerabatan (kinship) yang majemuk juga. Ada sistem kekerabatan yang menganut garis kebapakan (patrilineal), garis keibuan (matrilineal), dan garis keibu-bapakan (parental atau bilateral).246

Di masyarakat Bugis di Bone, upaya sosialisasi ajaran hukum waris Islam pada umumnya dilakukan oleh para imam di kampung yang oleh masyarakat dikenal dengan nama puang imang. Mereka ini adalah tokoh masyarakat di bidang agama yang selalu menjadi ikutan masyarakat dan menjadi orang terdepan dalam melakukan sosialisasi ajaran Islam, termasuk hukum waris Islam di masyarakat. Hal ini dibuktikan misalnya apabila ada masyarakat yang hendak melakukan pembagian harta warisan, maka mereka akan datang menemui puang imang untuk meminta bantuan dalam menyelesaikan

245Cik Hasan Bisri, ―Pergumulan Hukum Islam dengan Kaidah Lokal dalam Pembagian Harta‖, dalam Cik Hasan Bisri (peny.), Hukum Islam dalam Tatanan Masyarakat Indonesia (Jakarta: Logos, 1998), h. 160.

246Lihat Hazairin, Kewarisan Bilateral, h. 11.

126 | Asni Zubair

pembagian harta warisan. ―... Ko maẽloni nabagẽ, laoni mẽllau tulung ri puang imang.247 Artinya ... sewaktu hendak membagi harta warisan, maka mereka meminta tolong/bantuan kepada puang imang. Hal ini dapat dimaklumi, sebab dalam pandangan masyarakat puang imang sebagai orang yang ditokohkan dipercaya mengetahui seluk beluk pembagian harta warisan berdasarkan hukum waris Islam.

Dalam hal ini, masyarakat menjalankan pembagian harta warisan berdasarkan ketentuan ajaran hukum waris Islam melalui proses sugesti.248 Hal ini dapat dilihat ketika mereka cenderung untuk menerima pandangan puang imang sebagai orang yang dianggap ahli dalam pembagian harta warisan berdasarkan ketentuan hukum waris Islam. Di samping itu, masyarakat juga melaksanakan pembagian harta warisan berdasarkan ketentuan hukum waris Islam melalui proses/cara identifikasi.249 Karena mereka memiliki kecenderungan atau keinginan dalam dirinya untuk menjadi ―sama‖ tanpa disadari lebih dulu, maka mereka terdorong mengikuti jejak orang lain.

Hal ini dapat dilihat dari seorang warga masyarakat Bugis di Bone250 yang mengikuti saja apa kata pamannya karena terdorong untuk mengikuti jejak dan mencontoh ketika sang paman membantu dalam menyelesaikan pembagian harta warisan--berdasarkan ketentuan hukum waris Islam--orang tua

247Wawancara dengan Ibu Hajjah Disa pada tanggal 12 Agustus 2008 di Kecamatan Palakka.

248Lihat Gerungan, Psikologi, h. 69-70. Sugesti berlangsung apabila seseorang memberikan suatu pandangan atau sesuatu sikap yang kemudian diterima oleh pihak lain. Proses sugesti terjadi apabila orang yang memberikan pandangan adalah orang yang berwibawa. Soerjono Soekanto, Sosiologi, h. 69.

249Lihat Gerungan, Psikologi, h. 72-74. Proses identifikasi berlangsung dalam suatu keadaan di mana seseorang yang beridentifikasi benar-benar mengenal pihak yang menjadi idealnya. Soerjono Soekanto, Sosiologi, h. 70.

250Seperti yang dialami dalam pelaksanaan pembagian harta warisan keluarga Ibu Suriati di Kecamatan Tanete Riattang.

keponakannya.

Faktor penghambat sosialisasi hukum waris Islam antara lain karena kurangnya orang yang mau mensosialisasikannya.

Sosialisasi hukum waris Islam di masyarakat menjadi terhambat, karena tidak banyak sumber daya manusia yang memahami dengan baik hukum waris Islam. Selain itu, menyampaikan ceramah dengan materi hukum waris Islam dianggap kurang menarik karena penjelasannya cukup rumit dan berliku, terutama ketika membicarakan bagian masing- masing ahli waris. Apalagi bila membahas bagian ahli waris żawī al-furūd. yang dapat berubah jika ada ahli waris lain yang menghalanginya secara keseluruhan atau mengurangi bagian perolehannya.

Adapun faktor pendukung berlangsungnya sosialisasi hukum waris Islam adalah adanya mahasiswa dan dai/penceramah yang dapat mensosialisasikannya kepada masyarakat. ―Kalau yang mendukung pelaksanaan sosialisasi itu ya, karena ada mahasiswa dan juga penceramah yang menyampaikannya.‖251 Mahasiswa perguruan tinggi agama yang telah mempelajari hukum waris Islam sering berkonsultasi apabila menemukan kasus di lingkungan keluarga dan kampungnya. Ini dilakukan karena mereka dijadikan tempat bertanya jika masyarakat menghadapi persoalan dalam pembagian harta warisannya. Apalagi masyarakat sudah menganggap mahasiswa tersebut memahami dengan baik hukum waris Islam. Belakangan ini sudah ada sosialisasi melalui media elektronik dengan interaktif bersama pendengar radio yang dilakukan setiap pekan khusus membahas pembagian harta warisan menurut ketentuan hukum waris Islam. Respons masyarakat cukup menggembirakan yang ditandai dengan banyaknya penelepon dan pengirim pesan

251Seperti dikemukakan oleh Bapak Iskandar pada tanggal 22 Oktober 2008 di Watampone, Kecamatan Tanete Riattang.

128 | Asni Zubair

singkat meminta penjelasan yang lebih mendalam.

BAB V