• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Multikulturalisme dalam Materi PAI di SMA

3. Aspek Akhlak

clxiv

tentang adanya pengaruh paham teologi Syi‘ah, tapi sejak keberhasilan revolusi Islam Iran pempinan Ayatullah Khomeini, ajaran dan teologi Syi‘ah mulai menanamkan pengaruhnya di kalangan tertentu kaum Muslim Indonesia. (Azyumardi Azra, 1999:45).

Pada tataran ini buku teks cendrung eksklusif, bahkan tidak multikultural dengan hanya menampilkan satu sisi pandangan teologis saja yang memang paham Asy‘ariah begitu mengkristal dalam pandangan masyarakat Indonesia (khususnya pada masyarakat awan/tradisional).

Dalam doktrin yang sering ditemui dalam masyarakat paham Mu‘tazilah dianggap paham yang tidak sesuai dengan konteks Islam yang sebenarnya.

clxv

Pembahasan tentang Husnuzhan sebenarnya bila dikaitkan dengan pendidikan multikultural, bagaimana suatu penganut agama perlu ditegaskan bahwa salah satu penyebab tidak harmonisnya hubungan antar individu atau antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya di dalam negara yang multikultural adalah adanya sikap ―prejudis‖

dan ―stereotip‖ diantara mereka. Prejudis biasanya cenderung melakukan generalisasi dalam melihat dan menilai seseorang atau kelompok lainnya tanpa memperdulikan kenyataan bahwa setiap individu mempunyai ciri-ciri dan karakter yang berbeda-beda. Contoh lain yang lebih konkrit adalah adanya prasanka atau anggapan umum dari sebagian masyarakat non- muslim di Barat bahwa orang Islam lebih suka melakukan kekerasan terhadap pengikut agama lain sebagai wujud dari pengamalan ―jihad‖

dalam Islam. Lebih dari itu, ada anggapan dari sebagian masyarakat muslim bahwa orang Nasrani dan Yahudi tidak akan pernah merelakan orang Islam hidup dalam damai dan mencapai kemajuan, karena kemajuan Islam dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Kedua anggapan yang tidak mendasar dari kedua pemeluk agama yang berbeda ini adalah contoh dari prejudis yang sangat menyesatkan.

Di dalam masyarakat multikultur, stereotip dan prejudis dapat dengan mudah tumbuh, keadaan ini bukan tidak mungkin dapat menyebabkan timbulnya diskriminasi dan pertentangan terhadap individu atau kelompok yang satu dengan yang lain. Dalam materi mengenai Husnuzhan ini penjelasannya tidak begitu spesifik menyinggung tema

clxvi

multikulturalisme padahal tema ini menurut penulis bila dijabarkan sedemikian akan terasa lebih bermakna bagi peserta didik sebagai bekal mereka di masa akan datang dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat.

Pada pembahasan materi semester dua dalam aspek akhlak yang dipelajari di kelas X (sepuluh), adalah adab berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan menerima tamu. Dalam penjelasan singkat pengantar meteri dalam sub bab ini disebutkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari tentu kita menemukan strata kehidupan sosial, budaya dan ekonomi yang bermacam-macam. Ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Ada yang berpendidikan rendah, menengah, dan ada pula yang berpendidikan tinggi. Walapun mareka berbeda dalam tingkat sosial, budaya dan ekonomi, namun tata karma atau aturan sopan santun yang disepakati dalam masyarakat sehari-hari akan sama. Tata krama yang dimaksud meliputi tata karma dalam bergaul, bersikap, berpakaian, berhias, bertamu, menerima tamu, dan sebagainya.

Dari pembahasan selain kata pengantar dalam permulaan sub bab di atas yang menurut penulis masih berkaitan dengan tema pendidikan multikultur dengan menghargai perbedaan dari perlakuan sama dalam aturan masyarakat yang tidak membedakan antara kelas sosial, baik yang kaya maupun yang miskin. Namun selanjutnya materi tersebut tadi tidak lagi menyentuh isu-isu tentang multikultural dalam pembahasannya.

clxvii

Akan tetapi dalam pembahasan pada bab 10, tentang perilaku tercela, isu-isu multikultural dapat ditemukan dalam sub bab yaitu; hasad, riya, aniaya dan diskriminasi. Hasad dalam bahasa sederhana berarti dengki atau iri hati, atau perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah Swt. Bahkan berusaha dengan berbagai cara agar nikmat itu hilang dari orang tersebut serta pindah kepadanya.

Dalam pembahasan berikutnya aniaya yang secara bahasa berarti perbuatan bengis dan penyiksaan, perbuatan ini dalam konsep pendidikan multikultural menyangkut hak asasi manusia (HAM). Perbuatan yang melanggar HAM sangat dibenci oleh siapa saja baik secara individu maupun kelompok, bahkan Allah sangat murka jika ada orang kaya menindas orang miskin (lemah), orang pintar menindas orang bodoh, maka Allah tidak akan membiarkannya begitu saja melainkan akan menurunkan musibah yang tidak saja menimpa orang zalim tetapi juga akan menimpa orang-orang baik yang berada di lingkungannya.

Sub bab tentang perilaku tercela juga membahas tentang diskrimansi, yang merujuk kepada pelayanan/perlakuan yang tidak adil terhadap individu tertentu, dimana pelayanan/perlakuan ini dibuat berdasarkan kumpulan yang diwakili oleh individu yang lebih dominan.

Diskriminasi menjadi satu hal yang bisa dijumpai dalam masyarakat.

Diskriminasi bertumpu pada kecenderungan seseorang untuk membeda- bedakan orang lain. Diskriminasi berlaku dalam berbagai konteks. Bisa dilakukan oleh perorangan, institusi, perusahaan, atau bahkan Negara.

clxviii

Diskriminasi dianggap sebagai sesuatu yang tidak adil. Setiap manusia memiliki hak dan peluang yang sama dalam segala hal. Seseorang yang diperlukan secara tidak adil karena karakteristik gender. ras, agama, aliran politik, kondisi pisik, atau karakteristik lain dikatakan telah mengalami tindakan diskriminasi.

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa diskriminasi merupakan perlakuan terhadap atau kelompok yang didasarkan pada golongan atau kategori tertentu. Inti dari diskriminasi adalah perlakuan yang tidak adil yang ditujukan terhadap kumpulan manusia tertentu. Ada beberapa jenis diskriminasi yang dijabarkan dalam buku teks PAI di SMA, yaitu; pertama, diskriminasi umur, misalnya di Indonesia remaja sering dianggap orang yang sering menimbulkan masalah sehingga timbul istilah ―masalah remaja‖. Kedua; diskriminasi gender (jenis kelamin), perlakuan ini sering dilakukan terhadap kaum wanita, misalnya dikantor gaji lelaki lebih tinggi dari wanita padahal jabatan dan beban kerja sama. Ketiga, diskriminasi ras, banyak di negara terutama negara dunia ketiga permasalahan ras menjadi pemicu perbuatan diskriminasi. Keempat, diskriminasi di tempat kerja. Ini terdiri dari berbagai bentuk misalnya sistem penggajian, sistem penerimaan karyawan, promosi kenaikan jabatan. Atasan yang diskriminatif biasanya menyandarkan penilaian kepada pegawainya berdasarkan karakteristik seperti ras, agama, ataupun jenis kelamin.

Materi dalam Aspek Akhlak pada kelas XI, yakni berperilaku sifat- sifat terpuji, dengan sub bab tentang tobat dan raja‘. Dalam pembahasan

clxix

ini materi yang menyangkut nilai multikultural sangat sedikit bahkan tidak berhubungan, padahal sifat terpuji merupakan muatan nilai humanis dalam pendidikan multikultur. Hanya pembahasan dalam buku teks tidak mengarah ke sana pembahasan hanya berkisar bagaimana hukum bertobat, dan lain sebagainya. (Syamsuri, 2007:39)

Pada semester kedua, Kelas XI di SMA, permasalahan sedikit berhubungan dengan wacana multikultural dengan mengetengahkan permasalahan dalam sifat terpuji yakni menghargai karya orang lain, salah satu poin dalam pembahasan tersebut menyatakan bahwa maksud dan tujuan menghargai karya orang lain antara lain; menjalin hubungan tali kasih sayang (silaturrahmi), khususnya antara yang memberi penghargaan dan yang diberi penghargaan. Kemudian menjauhkan diri dari suka menghina dan mencela hasil karya orang lain, karena merupakan perilaku buruk yang akan mendatangkan kerugian. (Syamsuri, 2007:125).

Berikutnya dalam Bab X materi dalam Aspek Akhlak dengan pembahasan perilaku tercela, dalam materi ini pembahasan meliputi pengertian dosa besar, contoh-contoh perbuatan dosa besar dengan memberikan kategori dosa-dosa besar seperti syirik, kufur, nifak, fasik, dengan berbagai defenisinya yang menurut penulis kurang berkaitan dengan muatan pendidikan multikultural yang dikaji dalam tesis ini.

Namun pada sub bab yang menjelaskan dosa besar dalam Kehidupan masyarakat, terhadap poin tentang ―mencuri‖ yang di dalam

clxx

―pojok kisah‖, menceritakan bagaimana seorang bangsawan dari suku Bani Makhzum dituduh melakukan pencurian, setelah tuduhan terbukti, Rasulullah menyuruh agar wanita tersebut dipotong tanganya, sebelum hukum dilaksanakan seorang bernama Usamah Bin Zaid (sahabat dekat nabi) perwakilan dari suku tersebut meminta Nabi Muhammad Saw. agar hukuman tidak dilaksanakan, dengan alasan khawatir nama baik suku mereka tercemar. Namun Nabi Muhammad Saw. menolaknya. Dan menjelaskan pada kaum muslimin bahwa binasalah orang-orang sebelum kamu, karena hanya melaksanakan hukuman terhadap orang-orang rendah yang bersalah. Sedangkan jika yang bersalah itu orang bangsawan, ia terbebas dari hukuman. Lebih lanjut Rasulullah bersabda:

demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah (putri Rasulullah) mencuri niscaya kupotong tangannya. (Syamsuri, XI, 2007:144).

Pendidikan multikultural yang dapat dikembangkan dari prilaku akhlak Rasulullah yaitu tidak diskrimanasi kepada seseorang berdasarkan martabat dan kedudukannya dalam masyarakat, dihadapan hukum Allah semua manusia sama derajatnya. Untuk tercapainya kehidupan yang aman dalam masyarakat diperlukan adanya keadilan kepada siapapun tanpa melihat perbedaan derajat masing-masing.

Pada bab.IV semester I Kelas XII dijelaskan prilaku terpuji antara lain; adil, Rida, Amal Saleh. Dalam pembahasan masalah konsep adil dalam buku Syamsuri tidak menjelaskan asfek yang terkait langsung

clxxi

dengan pendidikan multikultur karena makna keadilan lebih difokuskan kepada keadilan terhadap diri sendiri dan kepada orang tua, tidak termuat aplikasi konsep keadilan dalam bermasyarakat dan berbangsa. Demikian pula dalam konsep ridha dijelaskan pentingnya menerima apa adanya segala bentuk pemberian Allah, terhadap qada dan qadar Allah dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan. Demikian pula pembahasan tentang amal saleh lebih difokuskan pada keikhlasan dalam beramal dan sesuai dengan syariat Islam, tidak sama sekali dijelaskan tentang pentingnya beramal dalam kehidupan bermasyarakat kaitannya dengan pendidikan multikultur.

Pada bab IX semester II Kelas XII, secara khusus dijelaskan masalah yang terkait langsung dengan pendidikan multikultur yaitu dua prilaku terpuji persatuan dan kerukunan. Konsep persatuan dibahas dalam konteks persaudaraan sesama untuk mencapai tujuan dan kesejahteraan bersama, selanjutnya dibahas persatuan dalam konteks kekuatan bersama misalnya persatuan dalam merebut kemerdekaan, meski demikian tidak ada penjelasan yang mengarah kepada pentinya persatuan kebangsaan yang terdiri dari berbagai suku, etnis, adat istiadat, keyakinan dan agama. Pembahasan yang mendekati persoalan multikultural dapat ditemukan pada konsep kerukunan dengan memberikan contoh pergaulan Nabi Muhammad Saw. terhadap umat beragama dicontohkan: ―seorang sahabat Nabi Muhammad Saw yang bernama Ka‘ab bin Ajza r.a., bercerita bahwa dirinya bekerja pada seseorang beragama Yahudi, lalu

clxxii

Nabi Muhammad Saw membolehkan perbuatan tersebut. (Syamsuri, 2007:124).

Pada buku Husni Thoyar, bab IX semester II Kelas XII pembahasan yang sangat terkait dengan pendidikan multikultur adalah contoh warga desa yang bersatu membangun kembali rumah yang roboh akibat dihantam angin putting beliung yang melanda wilayah tersebut. Demikian dilakukan secara bergantian hingga rumah yang roboh dapat kembali seperti sedia kala. Untuk menjaga persatuan agar tetap terjalin antar individu maupun kelompok, diperlukan adanya interaksi itu akan menyebabkan mereka saling mengenal dan selanjtnya saling membutuhkan. Setelah beberapa orang bersatu menjadi sebuah kelompok berhubungan dengan kelompok yang lain, mereka bermain sebagai satu kesatuan yang utuh. (Husni Thoyar, 2011:151-152).

Contoh yang lain yang berkaitan langsung dengan tema pendidikan multikultur dalam materi pendidikan Islam di SMA adalah ketika Abu Thalib seorang paman dari Nabi Muhammad Saw, beliau pernah mengajak pamannya masuk Islam. Tapi ajakan Nabi Muhammad Saw tidak dipenuhinya. Walaupun begitu hubungan antara Nabi Muhammad Saw dengan Abu Thalib. Sebaliknya Abu Thalib juga tetap sayang dan melindungi Nabi Muhammad Saw. dari ganguan orang-orang kafir Quraisy. Contoh lain sikap terpuji Rasulullah terhadap non-Islam beliau yang pernah memberikan hadiah pada Raja Najasyi dan orang-orang Yahudi. (Syamsuri, XI, 2007:125).

clxxiii 4. Aspek Fiqh

Aspek Fiqih yang dipelajari dalam pendidikan Agama Islam di SMA, mulai dari kelas X (sepuluh) sampai dengan kelas XII (duabelas) secara keseluruhan belum mencakup pembahasan mengenai nilai multikultural yang dimasukkan dalam materi Fiqh itu sendiri, namun tidak menutup kemungkinan menurut analisa penulis ada beberapa sub bab yang materinya terintegrasi dengan nilai tersebut diantaranya dalam materi PAI kelas X (sepuluh), pokok bahasan tentang sumber hukum Islam, dengan pembahasan tentang ―Ijtihad‖. Ijtihad dijadikan sebagai sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur‘an dan Hadis.

Namun dalam sejarah perkembangan Islam sebagian ulama berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup, pendapat demikian, karena merasa ada kekhawatiran jika pintu ijtihad dianggap mudah, maka akan banyak terjadi penyimpangan terhadap hukum Islam. Namun jika ditilik dari materi dan cakupan ijtihad dalam menemukan kerangka teori pengembangan pemikiran hukum Islam oleh para ulama tersebut, sesungguhnya masih banyak yang relevan dengan kondisi sekarang ini.

Maka upaya yang harus dilakukan oleh para ulama yang memiliki kemampuan mengembangkan hukum Islam adalah bagaimana agar buah pikiran mereka yang masih relevan dengan masa sekarang dapat diapresiasi dan diaplikasikan dalam bentuk aturan hukum yang ada.

Ijtihad diperlukan karena permasalahan umat terus berkembang dari waktu ke waktu, karena kehidupan manusia selalu berubah seiring perkembangan zaman. Ijtihad merupakan salah satu sistem berfikir ilmiah

clxxiv

Islam, dengan memberikan kemerdekaan berfikir tetapi tidak terlepas dari ikatan disiplin yang diatur Al-Qur‘an dan hadis sebagai dasar asasinya.

Ijtihad sebagai penopang kebudayaan dalam Islam bukan agama atau ibadah, kebudayaan bersifat pembaharuan, sedangkan agama atau ibadah selamanya adalah tetap. Dengan Ijtihad pandangan manusia terhadap dunia, kebudayaan, dan cara hidup selalu akan diperbaharui.

Seperti penjelasan tentang Ijtihad di atas tadi, sebenarnya dalam asfek Fiqih banyak sekali hal-hal yang sangat berkaitan erat dengan nilai- nilai multikuktural yang seharusnya dipelajari oleh siswa di kelas, namun sangat disayangkan dalam hal ini buku teks Pendidikan Agama Islam belum mengakomodasi hal tersebut secara rinci dengan menampilkan beberapa kajian tentang perdebatan dalam hukum Islam yang akan membantu siswa keluar dari rasa penasaran dan kebingungan mereka akan kedudukan suatu masalah tertentu dalam hukum Islam.

Masih banyak persoalan Ijtihad para ulama yang terkadang dalam masyarakat kita awam (termasuk peserta didik di sekolah) yang sangat mebingungkan mereka, walaupun dalam konteks Negara Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam dan menganut paham Syafi‘iyah, tapi terdapat juga banyak penganut agama Islam yang mengikut mazhab iman yang lain (selain Syafi‘i).

Misalnya semester dua pada bab XI, materi pendidikan Agama Islam dalam aspek Fiqh di kelas X, adalah pembahasan tentang zakat, haji, dan wakaf, materi ini juga terlihat sebuah doktrin yang secara tidak

clxxv

langsung menggambarkan pendapat Iman Syafi‘I tentang waktu pengeluaran zakat fitrah, disini Iman Syafi‘i berpendapat bahwa boleh dilakukan (dikeluarkan) zakat fitrah sejak awal ramadhan dan tidak boleh menagguhkan pengeluarannya sampai shalat Idul Fitri.

Materi Fiqh kelas XI di SMA semester pertama, pokok bahasan yang dipelajari adalah hukum Islam tentang Muamalah, permasalahan yang dibahas dalam muamalah ini menyangkut asas-asas transaksi dalam Islam, diantaranya prinsip dasar transaksi yang diterapkan syara yakni, setiap transaksi dilakukan secara sukarela, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Dalam konsep pendidikan multikultural, menganjurkan adanya kebebasan dan tidak ada pemasungan terhadap diri seseorang atau kelompok. Dalam syarat jual beli ada yang disebut Sigat dan Ijab Kabul, ulama fikih sepakat bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena kerelaan itu ada dalam hati, maka harus diwujudkan melalui ijab (dari pihak penjual) dan kabul (dari pihak pembeli).

Pembahasan tersebut di atas kebanyakan dalam buku teks dengan mengambil pendapat iman Syafi‘i, hanya sebagian kecil ada pendapat lain seperti iman Abu Hanifah, Iman Hambali. Pendapat Syafi‘i masih mendominasi buku teks, sehingga ada bias dalam materi yang dipelajari.

Sementara kedua aspek Fiqh kelas XI, dengan mempelajari materi pokok tentang perawatan Jenazah, dengan sub bab pembahasan Tazkiah dan Ziarah Kubur, dan perawatan jenazah. Secara keseluruhan

clxxvi

pembahasan ini dalam kaitannya dengan pendidikan multikultural secara khusus kurang hubungannya, namun pada ―pojok kisah‖ yang ditampilkan, penulis menentukan sebuah cerita yang mengisahkan tentang ―calon penghuni surga‖. Kisah ini terjadi pada masa Rasulullah Saw, yang ketika itu sedang berbincang-bincang dengan para sahabat, tiba-tiba beliau bersabda bahwa sebentar lagi aka nada seorang ahli surga (masuk masjid). Mereka melihat tidak ada keistimewaan dari orang yang disebutkan Nabi, sehingga sahabat marasa biasa-biasa saja. Namun keistimewaan orang tersebut bahwa ia tidak pernah iri terhadap seseorang yang dikaruniai Allah nikmat dan tidak pula melakukan penipuan dalam segala kegiatanya. (Syamsuri, XI, 2007:164).

Materi Aspek Fiqh di kelas XII PAI di SMA, semester pertama pembahasannya tentang munakahat, dengan bahasan meliputi ketentuan hukum Islam tentang pernikahan. Dari analisa penulis pembahasan materi Munakahat sama sekali tidak menyinggung permasalahan yang sedang banyak diperbincangkan, seperi nikah beda agama. Walau sub pokok bahasan ada materi tentang perkawinan menurut Undang-undang di Indonesia, tapi tidak menyebutkan hal tersebut. Pernikahan beda agama yang kita ketahui selama ini diharamkan, ini berdasarkan fatwa MUI pada tanggal 1 juni 1980, disebutkan dalam fatwa tersebut; 1).Perkawinan wanita muslim dengan laki-laki non-muslim diharamkan. 2).Seorang laki- laki muslim diharamkan mengawini wanita bukan muslim.

clxxvii

Permasalahan terhadap perkawinan dengan wanita ahli kitab terdapat perbedaan pendapat, namun setelah mempertimbangkan lebih banyak mudharatnya maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengharamkannya. Pelarangan ini biasanya didasarkan pada kekhawatiran, seorang istri yang Islam akan tunduk dan ikut agama suami yang bukan Islam. Larangan pernikahan beda agama di Indonesia diformulasikan dalam Inpres No.1 tahun 1991 tentang konpilasi Hukum Islam (KHI) yang berisi hukum perkawinan, kewarisan, dan perwakafan.

Pasal 44 KHI dinyatakan ―Seseorang wanita muslim dilarang melangsungkan pernikahan dengan pria yang tidak beragama Islam.

Berdasarkan fatwa MUI, Konpilasi Hukum Indonesia (KHI), serta konteks larangan yang terdapat dalam Al-Qur‘an surah Al-Baqarah ayat 221, maka dalam buku teks PAI di SMA tidak disinggung sama sekali tentang pernikahan beda agama ini, walau sama-sama kita ketahui banyak kejadian di Negara Indonesia yang nikah beda agama tapi tidak ada yang dipasilitasi oleh negara.

Namun, persoalan yang rumit selain nikah beda agama, masalah warisan, juga dibahas di kelas XII semester kedua. Dalam sistem pemikiran fiqih yang sejak awal tidak memberikan ventilasi pemikiran bagi non-Muslim. Hal ini bila dikaitkan dengan agama lain maka kesimpulan hukum yang diambil cenderung kaku dan keras. Menurut ulama fiqih klasik golongan ini diharamkan untuk menerima dan memberi warisan. Ibn Rusyd mengakui bahwa sebagian besar ulama melarang dan

clxxviii

mengharamkan waris beda agama, dan ini merupakan problem mendasar fiqh yang melibatkan agama lain sehingga Fiqh sangat tidak toleran terhadap agama lain. Terdapat perbedaan pendapat ulama, dalam hal ini ada yang menolak mutlak waris beda agama (mashab Syafi‘i termasuk dalam kelompok ini), ada yang membolehkan dengan analogi (qiyas) diperbolehkannya pernikahan seorang Muslim dengan non-Muslim (ahli kitab) berdasarkan surat al-Maidah ayat 5 :























































































Terjemahnya:

Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita- wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah

clxxix

beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.

Dalam pandangan ulama terdahulu sebenarnya masih mencari jalan alternatif dalam kaitannya dengan agama lain, seperti waris beda agama, selalu ada pelbagai pandangan yang tersosialisasi kadang kala hanya pandangan mayoritas, sedangkan pandangan ulama minoritas yang membela ha-hak non-Muslim cenderung dilupakan atau dihilangkan begitu saja.