A. Tema-tema Multikultural dalam Materi PAI DI SMA
1. Persaudaraan dan Nilai Kemanusiaan
Konsep ajaran Islam yang sangat mulia dan terkait erat dengan multikulturalisme dalam materi PAI di SMA kelas X pada Bab XII mengenai dakwah Rasulullah di Madinah adalah nilai-nilai persaudaraan (al-ukhuwah). Rasulullah telah memberikan contoh nilai-nilai persaudaraan ketika di Madinah, dalam buku teks PAI Husni Thoyar menjelaskan; salah satu agenda Rasulullah Saw. adalah mempersatukan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Walaupun kaum Ansar mengetahui bahwa sebagian besar kaum Muhajirin tidak membawa harta bendanya ketika berhijrah, mereka menerima saudara sesama muslim dengan tangan terbuka. Kaum Anshar bersedia berbagi tempat tinggal, pekerjaan, dan pakaian dengan kaum Muhajirin, bahkan Rasulullah menyatakan bahwa kaum Ansar dan Muhajirin saling mewarisi. Dasar persaudaraan yang dibangun oleh Rasulullah adalah Ukhuwah Islamiyah yaitu persaudaraan yang didasarkan kepada agama Islam. (Husni Thoyar, X, 2011:208).
cxxvi
Selain persaudaraan antara umat Islam, juga Rasulullah Saw menciptakan perdamaian antara suku, khususnya suku besar yaitu suku Aus dan Khazraj yang sudah lama bertikai. Di bawah kepemimpinan Rasullullah kedua suku tersebut dapat didamaikan, juga perdamaian terhadap orang Yahudi di Madinah, maka Rasulullah memprakarsai suatu perjanjian yang disebut ―perjanjian madinah‖ diantara pokok-pokok perjanjian tersebut adalah; orang Islam, Yahudi dan seluruh warga Madinah yang lain bebas memeluk agama dan keyakinan masing-masing dan mereka dijamin kebebasannya dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Tidak seorang pun yang diperkenankan mencampuri urusan agama lain. (Husni Thoyar, X, 2011:209).
Terbentuknya Piagam Madinah yang diprakarsai oleh Rasulullah SAW menjadi dasar pentingnya mengembangkan nilai-nilai persaudaraan atas dasar nilai-nilai kemanusian. Dengan contoh sikap persaudaraan yang dicontohkan oleh Rasulullah, maka mengalami makna yang mendalam bagi pentingnya pendidikan pluralis-multukulturalisme diajarkan kepada peserta didik bahwa persaudaraan dalam Islam bukan hanya antara sesama umat Islam, tetapi persaudaraan yang dikembangkan Rasulullah juga dengan non-Muslim.
Landasan historis tersebut, adalah dasar kuat untuk mengembangkan sikap multikulturalisme yang penting bagi guru untuk menjelaskan dan menanamkan sikap kepada siswa SMA dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari untuk saling menghormati
cxxvii
sesama manusia walaupun berbeda suku, keturunan, bahasa, warna kulit, dan agama.
Hal yang sama juga dikemukakan dalam buku yang ditulis oleh Syamsuri Pendidikan Agama Islam di SMA kelas XI tentang Pengakuan Al-Qur‘an terhadap pluralitas dalam (surah Al-Baqarah ayat 148) sebagai berikut:
Terjemahnya:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sebab diturunkannya ayat ini, terkait dengan perdebatan antara Rasulullah Saw. dan kaum muslim dengan orang-orang Yahudi.
Disebabkan karena kaum Yahudi yang merasa tersisihkan dari dominasi kaum Muslimin. Hal ini menyebabkan orang-orang Yahudi tidak suka.
Ketidaksukaan inilah yang menyebabkan mereka berusaha mengecilkan dan merendahkan kedudukan Rasulullah dengan menyatakan bahwa agama Islam hanya agama yang mengekor pada aturan agama mereka.
Perdebatan tersebut dijawab oleh Allah bahwa ―setiap umat memiliki kiblatnya masing-masing‖. Bermakna perdebatan itu tidak prinsip karena
cxxviii
yang prinsip adalah ―berlomba-lomba dalam kebaikan‖. (Husni Thoyar, XI, 2011: 5).
Walaupun ada ahli tafsir yang menyatakan bahwa maksud kebaikan pada ayat tersebut adalah bersegera menganut agama Islam dengan mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai utusan- Nya. (Husni Thoyar,XI,2011:6). Penafsiran ini sangat eksklusif dan tertutup sehingga makna kebaikan yang dimaksud lebih universal bila diartikan ―amal perbuatan manusia‖ atau ―amal saleh‖. Terdapat penekanan yang ekslusif pada materi PAI di SMA. Pada materi tersebut dalam suatu kesimpulan dinyatakan penulis ―orang yang tidak beragama Islam, sebagus apa pun amal yang dilakukan tidak akan diterima oleh Allah Swt. karena tidak masuk Islam‖. (Syamsuri, XI,2007:4)
Ayat tersebut mangandung makna setiap umat, kaum, atau bangsa mempunyai kiblat sendiri-sendiri yaitu syariat dan peraturan-peraturan hidup yang mereka jalani. Ditinjau dari segi kiblatnya atau agama yang dianutnya, umat manusia di dunia terdiri atas berbagai golongan yaitu Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, dan umat yang lain.
Hakikat makna yang terkandung pada penjelasan ayat tersebut sebenarnya sebagai bentuk pengakuan pluralitas ―masing-masing mempunyai kiblat‖ dan hal itu walaupun berbeda agama tetapi yang prinsip adalah ―bagaimana kita berlomba-lomba dalam kebaikan‖, seharusnya hasil belajar atau kompetensi yang ingin dicapai adalah berkompetensi dalam kebaikan berdasarkan silabus standar KTSP lihat Syamsuri, pendidikan agama Islam untuk SMA kelas XI halaman IX.
cxxix
Namun, dalam buku Syamsuri tersebut diartikan dalam makna mencari agama yang benar dan kata kiblat diartikan sebagai syariat, agama dan peraturan-peraturan hidup juga berarti arah yang dituju umat Islam dalam melaksanakan ibadah salat. Bahkan pertanyaan besar dikembangkan pada materi PAI tersebut adalah mengapa agama Islam merupakan satu- satunya agama yang sah dan diridhai Allah?. (Syamsuri, 2007:6) Dengan penjelasan seperti itu peserta didik akan menjadi eksklusif dan menyalahkan bahkan memusuhi agama-agama yang lain.
Nilai-Nilai kemanusian yang lain, terdapat pada materi PAI di SMA adalah perintah untuk menyantuni kaum Duafa sebagaimana firman Allah pada surah Al-Baqarah ayat 177 sebagai berikut :
Terjemahnya:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab- kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada
cxxx
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta;
dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
Asbabun Nuzul ayat ini ketika terjadi perubahan kiblat saat sholat dari Baitul Makdis di Palestina, ke arah Ka‘bah di Mekah. Perubahan kiblat itu menimbulkan keberatan dari kalangan ahli kitab dan sebagian kaum Muslimin. Unsur pluralisme dalam ayat ini sangat kental bahwa Allah melarang kepada kita untuk saling berdebat pada hal-hal yang formal atas perubahan arah kiblat tersebut karena bukan itu yang prinsip untuk diperdebatkan, ada sesuatu yang paling prinsip adalah ―beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab-kitab sebelumnya dan para Nabi‖. Kemudian hal prinsip yang kedua pada ayat tersebut adalah berbuat baik kepada sesama manusia.
Sementara dalam buku teks pengajaran PAI di SMA kelas XI yang ditulis oleh Syamsuri menjelaskan secara eksklusif dan memberikan asumsi bahwa tujuan pengalihan arah kiblat tersebut adalah cara bijaksana agar orang-orang beriman mentaati segala apa yang diperintahkan oleh Allah, termasuk mentaati arah kiblat dalam shalat yaitu menghadap ke ka‘bah di Mekkah. (Syamsuri, 2007:22)
Dalam buku teks PAI oleh Husni Thoyar menjelaskan secara inklusif bahwa yang prinsip dalam Islam bukan arah kiblat tapi kebajikan yang sebenarnya adalah menegakkan iman yang benar dan beramal saleh kepada sesama manusia, penekanannya bukan terhadap arah kiblat
cxxxi
tapi sesuai dalam silabus standar KTSP 2006 penekanannya adalah akhlak mulia untuk menyantuni kaum du‘afa. Islam melarang keras umatnya jika hanya menyibukkan diri beribadah, tetapi tidak memperhatikan hak-hak orang lain yang biasa disebut ukhuwah insaniyah. Pembelajaran multikulturalisme adalah membantu orang lain yang membutuhkan adalah perbuatan yang sangat mulia yang diajarkan oleh Al-Qur‘an walaupun berbeda suku ataupun agama. Siswa seharusnya diajarkan berbuat baik bukan hanya kepada orang-orang Muslim saja tapi juga kepada orang-orang non-Muslim, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saat memimpin kota madinah. Selain merupakan bagian dari strategi Rasulullah, juga persaudaraan sesama manusia untuk saling membantu adalah prinsip penting dalam ajaran Islam.