C. Multikulturalisme dalam Materi PAI di SMA
1. Aspek Al-Qur’an
cxlviii
Pemahaman agama dalam konteks semacan ini tidak hanya memahami ajaran agama sebagai ajaran sakral semata, tetapi juga penting mempelajari aspek yang profan; atau dalam bahasa yang sederhana, tidak hanya mempelajari aspek normatifnya, tetapi juga penting mempelajari aspek historisnya, supaya timbul pemahaman yang holistik, universal tentang Islam sebagai agama ―rahmatan lil alamin‖.
cxlix
Seseorang yang beragama Islam karena memang berasal dari keturunan yang beragama Islam, seseorang yang beragama Kristen lebih banyak dipengaruhi karena memang berasal dari keturunan yang beragama kristen, demikian pula perbedaan suku, warna kulit dan bahasa akibat perbedaan keturunan dan lingkungan yang mempengaruhinya.
Selanjutnya pada semester kedua asfek Al-Qur‘an bab VII, ada beberapa ayat yang dikaji sangat berkaitan dengan pendidikan multikultur diantaranya; Pertama, ayat Al-Qur‘an surah Ali Imran ayat 159 ini tentang musyawarah, konteks ayat ini menjelaskan sikap Rasulullah Swt. yang merupakan sosok pribadi yang berbudi luhur dan berakhlak mulia serta mendatang manfaat pada orang lain, beliau telah memberikan contoh untuk bermusyawarah dalam urusan dunia, penekanan pada ayat ini adalah perintah untuk bermusyawarah. Musyawarah dalam konteks ini pada masalah-masalah kemasyarakatan, yang tidak ada petunjuknya secara tegas dan jelas dalam Al-Qur‘an dan Hadis misalnya masalah ekonomi, keamanan dan ketertiban lingkungan dan masalah berbangsa dan bernegara. (Syamsuri, 2007: 97-98) Namun dalam pembahasan materi ini konteks musyawarah (dialog) hanya kepada permasalahan yang menyangkut internal agama dan sosial kemasyarakatn, dan tidak sampai pada tataran pentingnya dialog antar umat beragama.
Penjelasan yang eksklusif dapat ditemukan pada penjelalan Husni Thoyar kelas X bab VII bahwa ayat ini tidak lain adalah teguran kepada Nabi Muhammad Saw. terhadap peristiwa yang terjadi saat perang uhud.
Rasulullah sebagai pemimpin perang sering mengajak para sahabat untuk
cl
musyawarah dalam rangka mengatur strategi memenangkan perang, menyelesaikan tahanan perang, dan menentukan tempat ibadah. Adapun masalah akidah dan ibadah, Rasulullah Saw. tidak meminta pendapat para sahabat karena telah diatur secara terperinci dari Allah dan harus kita taati sehingga tidak perlu dimusyawarahkan. (Husni Thoyar, 2011:116-117). Namun tidak dapat disangkal bahwa akhir-akhir ini banyak persoalan muncul yang terkait dengan persoalan beda agama misalnya;
mengucapkan natal bagi orang Kristen yang merayakannya, persoalan nikah beda agama dan lain-lain.
Pada umumnya pembahasan buku materi pendidikan agama Islam untuk SMA tersebut hampir semua ketegasan yang muncul bermula dari kepentingan agama sendiri yang dicoba untuk diperjuangkan, tanpa memperdulikan kepentingan agama lain, titik perbenturannya lebih banyak pada kepentingan dakwah atau misi keagamaan saja. Baik dikalangan Kristen maupun Islam, ada kelompok-kelompok yang biasa disebut Inklusif dan Pluralis. Kalangan inklusif mayakini bahwa agama mereka mengandung kebenaran yang harus diikuti jika ingin memperoleh jalan keselamatan, namun demikian mereka tetap mengakui jalan keselamatan pada agama lain. Sementara kalangan pluralis berkeyakinan bahwa setiap agama merupakan jalan keselamatan itu sendiri, tidak boleh ada klaim bahwa jalan keselamatan dalam agama lain hanya sebagai pelengkap dari keselamatan agama sendiri. Kedua pandangan teologi ini lebih maju dalam memperbaiki hubungan antara agama, daripada pandangan
cli
eksklusif yang apriori mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedang yang lain dianggap salah.
Pembahasan tentang multikulturalisme juga dapat dilihat pada bab I kelas XI dalam asfek Al-Qur‘an yaitu surah Al-Baqarah ayat 148: pada ayat ini menyimpulkan bahwa setiap umat, kaum, atau bangsa mempunyai kiblat sendiri-sendiri yaitu syariat dan peraturan-peraturan hidup yang mereka jalani. Setiap umat hendaknya menggunakan akal dan segenap kemampuannya agar berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencari agama yang sempurna (Syamsuri,2011:4). Kesimpulan yang eksklusif dimana kiblat umat Islam saja yang dianggap benar dan umat yang terbaik dibandingkan umat yang lain. Dalam kolom renungkan bahkan dikemukakan suatu pertanyaan ―mengapa agama Islam merupakan satu-satunya agama yang sah dan diridhahi oleh Allah?‖.
Pada tema dapat dijelaskan dalam persfektif multikultural yaitu Tuhan menciptakan manusia secara beragam, dan keragaman itu tidak dimaksudkan agar masing-masing saling menghancurkan satu sama lain, akan tetapi agar manusia saling mengenal dan menghargai eksistensi masing-masing (li ta‘arafu). Bumi diciptakan bukan untuk golongan atau umat tertentu, melainkan seluruh umat manusia. Dengan menurunkan bermacam-macam agama, tidak berarti Tuhan membenarkan diskriminasi satu umat atas umat yang lain, melainkan agar masing-masing berlomba berbuat kebaikan. Agama bukan tujuan, malainkan sarana yang mengantarkan penganut agama menuju Tuhan.
clii
Penjelasan dari ayat di atas ditinjau dari segi kiblatnya atau agama yang dianutnya, umat manusia di dunia terdiri dari berbagai golongan seperti umat Islam, Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, dan umat yang lainnya. Apa yang dijelaskan dalam buku teks PAI tersebut berkaitan dengan pendidikan multikultural yang menghargai adanya perbedaan, tapi pada penjelasan selanjutnya buku teks cenderung eksklusif dengan menegaskan ayat pada surah Ali-Imran ayat 19 :
Terjemahnya:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat- ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Demikian pula dikemukan ayat lain yang menunjukkan sikap eksklusif adalah pada Surah Ali Imran ayat 85:
Terjemahnya:
Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
cliii
Jika ayat ini diajarkan secara parsial, maka yang terjadi peserta didik hanya menerima doktrin kebenaran dari satu sisi, tapi pada sisi lain pembelajaran akan menghasilkan lulusan yang mempunyai kesalehan individual tidak sampai pada kesalehan sosial yang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Akhirnya ia hanya mempunyai solidaritas terhadap saudara seiman dan mereka tidak peduli jika di sekitarnya juga ada orang yang mempunyai keyakinan berbeda yang patut untuk dihargai keyakinan mereka.
Ayat lain yang berkaitan temanya dengan nilai-nilai multikulturalisme yaitu surah Al-Isra‘ ayat 26-27 yaitu anjuran membantu kaum Duafa pada bab II kelas XI. Ayat ini secara rinci menjelaskan bahwa hak merupakan sesuatu yang harus diterima oleh seseorang. Sesuatu tersebut dapat berupa materi atau nonmateri. Para fakir dan miskin selain bentuk memperoleh kasih sayang, juga berhak memperoleh bantuan materi, melalui zakat atau sedekah. Ayat ini juga merupakan manifestasi dari nilai-nilai humanis pendidikan multikultural yang memanusiakan manusia, artinya setiap individu mempunyai kewajiban saling membantu.
Namun sangat disayangkan penjelasan lebih rinci tentang ayat ini tidak begitu jelas, apalagi dikaitkan dengan pendidikan multikultural. Padahal sangat tegas dalam Al-Qur‘an Allah mengecam orang yang tidak menyantuni kelompok kaum dhu‘afa atau mustadhaifin dengan sebutan orang yang mendustakan agama.
Pada buku Syamsuri dijelaskan pemberian bantuan kepada kaum kerabat, para fakir miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan. Tentu
cliv
semuanya harus dilandasi dengan niat ikhlas dan setiap Muslim dilarang bersikap boros dalam hidupnya, sebaliknya disuruh untuk hidup sederhana (Syamsuri,2011:17-18). Sama sekali dalam pembahasan tersebut tidak terkait dengan multikulturalisme. Demikian pula dalam buku Husni Thoyar dijelaskan bahwa ayat ini terkait dengan kebiasaan atau kegemaran bangsa Arab jahiliah menumpuk harta yang mereka peroleh dari rampasan perang, merampok, dan menyamun. Harta-harta itu selajutnya digunakan untuk berfoya-foya, bahkan juga untuk menghalangi dakwah Islam. Ayat tersebut menjelaskan pentingnya dipergunakan untuk memberikan atau membelanjakan harta kepada yang membutuhkan, terutama kepada golongan kaum kerabat, orang miskin, dan ibnu sabil.
(Husni Thoyar, 2011:20-21).
Pembahasan yang sangat terkait dengan konsep multikulturalisme ada pada surah Al-Kafirun, ayat 1-6 tentang pentingnya menghargai perbedaan keyakinan:
Terjemahnya:
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
clv
Bila dilihat dari penegasan ayat ini bahwa dalam menyikapi perbedaan keimanan dan peribadatan, umat Islam dan kaum kafir hendaknya bebas beragama dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya, dan tidak boleh saling mengganggu, Islam melarang mamaksa orang lain untuk menganut suatu agama (QS.Al-Baqarah:256). Ayat ini juga cermin penolakan ajakan kaum musyrikin untuk tukar-menukar pengalaman dalam keimanan dan peribadatan atau untuk keluar dari agama Islam dan menganut agama mereka, dengan tegas dan bijaksana.
Walaupun antara umat Islam dengan umat lain (non-Islam) tidak ada kompromi (toleransi) dalam hal keimanan (akidah) dan peribadatan, namun dalam pergaulan hidup bermasyarakat antara umat Islam dan umat lain (non-Islam). Hendaknya saling menghormati dan menghargai serta bekerja sama dalam urusan dunia demi terwujudnya keamanan, ketertiban, kedamaian, dan kesejahteraan bersama.
Walaupun dalam konteks ayat di atas sangat tegas dalam masalah agama dan peribadatan, namun pendangan mengenai titik temu agama- agama di luar Islam yang memiliki kitab suci, sikap ini tidaklah bermaksud memandang semua agama sama, karena sesuatu hal yang mustahil mengingat agama-agama yang ada berbeda-beda dalam banyak hal yang prinsipil. Akan tetapi, sikap Islam ini memberi pengakuan sebatas hak masing-masing untuk bereksistensi dengan kebebasan menjalankan agama mereka masing-masing.
clvi
Ayat yang lain yang berhubungan dengan multikulturalisme adalah sikap terhadap orang yang berbeda pendapat pada Al-Qur‘an surah Yunus ayat 40-41 :
Terjemahnya:
Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, Maka Katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. kamu berlepas diri terhadap apa yang Aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan".
Perbedaan memang sesuatu yang diciptakan Allah Swt. Terhadap kejadian di alam dunia, namun terkadang hambanya tidak begitu mudah menerima perbedaan yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri sehingga potensi konflik selalu bermunculan. Ayat ini dengan gamblang menjelaskan bagaimana seharusnya seseorang dalam menyikapi perbedaan, terutama perbedaan pendapat, perbedaan merupakan persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia.
Sekalipun semua agama pada intinya sama dan satu, manifestasi sosio-kultural setiap agama secara historis berbeda-beda. Al-Qur‘an menghendaki agar fenomena lahiriyah tersebut tidak menghalangi usaha menuju titik temu antara semuanya. Teologi pluralis sangat sangat
clvii
diperlukan untuk dijadikan pijakan dalam membangun dan menjaga hubungan harmonis antar agama. Banyak permasalahan dalam agama (khususnya Islam) tentang perbedaan pendapat ini, misalnya saja bagaimana cara mengucapkan salam kepada non-muslim, pada umumnya ulama berpendapat hal tersebut hukumnya haram. Dulu dalam konteks nabi melarang mengucapkan, Pertama: karena salam yang diucapkan oleh kaum yahudi adalah salam penghinaan, Kedua, sikap para Yahudi terhadap Nabi adalah sikap permusuhan dan kebencian bukan sikap perdamaian dan persahabatan. Pada dasarnya tidak masalah mengucapkan ―selamat‖ kepada siapapun untuk alasan persahabatan dan persaudaraan. Nurcholish Madjid berpendapat; ―salah satu keunggulan konsep-konsep Al-Qur‘an yang membuktikan bahwa Islam benar-benar merupakan ajaran yang pertama kali memperkenalkan tentang toleransi dan kebebasan beragama kepada umat manusia‖. (Nurcholish Madjid, 2000:59 & 72).