Judul Skripsi: PENDIDIKAN PLURALIS-MULTIKULTURAL DALAM BUKU PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA DI INDONESIA. Skripsi ini berjudul PENDIDIKAN PLURALIS-MULTIKULTURAL DALAM BUKU PELAJARAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN ISLAM DI SMA DI INDONESIA.
Rumusan Masalah
Dari sinilah menurut penulis diperlukan upaya untuk membangun wacana multikulturalisme dengan melakukan penelitian yang mendalam dan merambah ke bidang pendidikan, khususnya penelitian ini difokuskan pada implementasinya dalam buku teks Pendidikan Agama Islam di tingkat sekolah menengah. (SMA).
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Jenis penelitian
Untuk mengungkap penerapan dan muatan pendidikan multikultural dalam pendidikan agama Islam di SMA dilakukan pengumpulan data dengan bantuan studi kepustakaan, observasi data mengenai materi buku pendidikan pluralistik-multikultural yang terdapat dalam banyak karya tulis, jenis penulisan yang menggunakan jenis tulisan yang bersifat kualitatif tetapi juga dapat melakukan pengumpulan data kuantitatif di sekolah khususnya yang berkaitan dengan kurikulum, bahan ajar dan metode pembelajaran, merupakan prosedur penulisan yang menghasilkan data deskriptif untuk memahami objek secara keseluruhan. Mengumpulkan dokumen-dokumen penting merupakan salah satu cara untuk menemukan data-data penting dalam suatu penelitian, baik itu materi maupun materi sekunder.
Konstruksi Teori
Landasan Aksiologis: Menanyakan untuk apa pengetahuan itu berupa ilmu, bagaimana hubungan antara metode penggunaan dan prinsip-prinsip moral, bagaimana penentuan objek yang dipelajari berdasarkan pilihan moral, apa hubungan antara teknik prosedural, yang mana adalah operasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral atau profesional. Selain landasan filosofis ilmu ini, dalam memperoleh kebenaran gagasan juga diperlukan tiga komponen utama penyusun teori.
Sistematika Tesis
Kedua, landasan normatif-teologis adalah landasan yang didasarkan pada al-qur an tentang pentingnya pluralisme dengan menghadirkan beberapa ayat terkait beserta penjelasannya. , pentingnya membangun pendidikan pluralistik multikulturalisme digunakan dalam pendidikan agama Islam. Penjelasan hasil penelitian yang meliputi analisis dan perbandingan yang dirumuskan sebagai kesimpulan dan usulan.
Kerangka pikir
Batasan Istilah
Pengertian Pendidikan
Pengertian Pluralis
Maka pengakuan hak-hak agama lain dengan sendirinya menjadi dasar untuk memahami pluralisme sosial budaya dan agama sebagai hukum Tuhan yang tidak berubah (QS, Al-Maidah; 44-50). Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa solusi terakhir yang diberikan Islam, sebagai agama tertinggi, untuk masalah agama ini adalah doktrin pengakuan hak agama-agama ini untuk hidup dan menjalankannya.
Pengertian Multikultur
Pendidikan yang ditujukan pada proses penyadaran yang berwawasan pluralistik agama serta berwawasan multikultural, seperti ini disebut “pendidikan pluralistik multikultural”. Pendidikan multikultural didefinisikan sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial dan ekonomi yang dialami setiap individu dalam perjumpaan manusia yang kompleks dan beragam secara budaya, dan mencerminkan pentingnya budaya, ras, jenis kelamin, etnis, agama, status sosial dan ekonomi.
Sejarah
Gorski memperjuangkan pentingnya pendidikan multikultural pada 1980-an dan menolak sekolah yang hanya melayani kelompok tertentu. Beberapa ahli di Indonesia telah menulis tentang Pendidikan Multikultural dan judul bukunya, antara lain: Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural.
Konsep Dasar
Dalam hal ini, Fazlur Rahman menawarkan salah satu pendekatan untuk mengubah pendidikan Islam, yaitu dengan menerima pendidikan sekuler modern sebagaimana yang umumnya berkembang di Barat dan mencoba mengislamkannya, yaitu dengan menanamkannya pada konsep-konsep kunci tertentu dari Islam. Sejalan dengan itu, Ismail Raji al-Faruqi juga menyampaikan pandangan yang sama, yaitu bahwa sistem pendidikan Islam harus digabungkan dengan sistem sekuler. Fakta inilah yang menuntut pentingnya menghadirkan paradigma baru dalam pendidikan Islam sebagai jawaban, nampaknya kita berpikir bahwa “pendidikan konvensional tidak lagi cukup untuk mengakomodir kepentingan ruang dan waktu yang semakin tidak mengenal batas” .
Dalam hal ini perlu mempertimbangkan perubahan mendasar dalam pendidikan Islam yang pada umumnya masih eksklusif menjadi pendidikan inklusif dan pluralistik guna mencapai tujuan tersebut, selain mempertimbangkan kerangka teoritik yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman dan Ismail Raji al- Faruqi, juga perlu mengubah paradigma pendidikan Islam, dengan merumuskan kerangka dasar filosofis dan teologis pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam, kemudian mengembangkan landasan “empiris” penerapannya dalam konteks sosial dan budaya. Arah baru pendidikan Islam pluralistik-multikultural hanya dapat dicapai dengan kembali kepada konsep dan landasan filosofis dasar.
Persfektif Filsafat Perenial
Di dalam Al-Qur'an juga tidak ada ya ayyuha al-ladzina aslamu (hai muslim), tapi ya, ayyuha al-ladzina amanu (hai orang yang beriman). Jika hal ini terjadi, berarti umat Islam telah mengebiri prinsip persamaan agama dan wahyu Allah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Penjelasan di atas menegaskan bahwa makna Islam dalam al-Qur'an bukanlah makna khusus bagi agama tertentu.
Ahli Kitab” (Ahl al-Kitab), yang merupakan istilah Alquran untuk mereka – yaitu, pengikut ajaran kitab suci. Mengingat landasan teologis-normatif dalam al-Qur'an sangat penting dalam mengembangkan konsep pendidikan Islam yang pluralistik-multikultural.
Kegagalan Pendidikan Agama Islam
Dalam konteks reformasi pendidikan Islam menuju masyarakat yang berwawasan pendidikan multikultural keagamaan. Kedua, pendidikan Islam dapat mengembangkan sikap toleransi dan saling pengertian dalam proses pembelajaran. Pendidikan Islam dapat menyiapkan kurikulum dan proses pembelajaran yang dapat menghasilkan keluaran yang siap memasuki era globalisasi.
Metode pendidikan Islam didasarkan pada pandangan bahwa manusia dilahirkan dengan potensi bawaan tertentu dan mereka mampu untuk berkembang. Metode pengajaran Islam didasarkan pada kompetensi belajar, yaitu peserta didik memiliki seperangkat pengetahuan, keterampilan, sikap, wawasan dan penerapannya sesuai dengan kriteria atau tujuan pembelajaran.
Tema-tema Multikultural dalam Materi PAI DI SMA
- Persaudaraan dan Nilai Kemanusiaan
- Pluralisme dan Universalisme
- Demokrasi dan Kebebasan
- Persatuan dan Kerukunan
Karena turunnya ayat ini berkaitan dengan perdebatan antara Rasulullah SAW. dan orang Islam dengan orang Yahudi. Sementara itu, dalam buku pedoman pengajaran PAI di SMA kelas XI yang ditulis Syamsuri secara eksklusif menjelaskan dan memberikan asumsi bahwa tujuan mengubah arah kiblat adalah cara bijak bagi orang beriman untuk menaati semua yang diperintahkan Allah, termasuk menaati arah kiblat. . dalam doa, yaitu ke Ka'bah di Mekkah. Siswa harus diajarkan untuk berbuat baik tidak hanya kepada umat Islam tetapi juga kepada non-Muslim, seperti yang dicontohkan oleh Nabi ketika memimpin kota Madinah.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan urusan orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan mereka kepada Allah, oleh para ulama dan pendeta mereka, kerana mereka diperintahkan untuk menjaga kitab-kitab Allah dan mereka menjadi Perbincangan ini boleh didapati dalam Bahan PAI di SMA, subjek Iman Kepada Kitab Allah.
Bentuk Penyajian Materi Dalam Buku Teks PAI
Buku ajar PAI SMA ini juga dikembangkan dengan model penyajian berdasarkan konsep pembelajaran agama Islam sebagai bagian dari pembelajaran kecakapan hidup. Penyajian materi dalam buku-buku pendidikan agama Islam juga menekankan agar peserta didik memiliki tingkat keberhasilan pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan, antara lain. Penyajian materi ajar Islam di sekolah menengah (SMA) agak berbeda dengan materi yang dipelajari di sekolah Madrasah Aliyah (MA).
Dimana pelajaran PAI di Sekolah Menengah Atas (SMA) sedunia dipelajari dengan materi yang sederhana dan terpadu (seragam), hal ini terlihat dalam bentuk materi yang terintegrasi dalam satu teks pendidikan agama Islam. Dalam buku Pendidikan Agama Islam untuk SMA yang ditulis oleh Husni Thoyar, yang pertama didasarkan pada peta konsep, yang berisi rangkaian konsep yang dikemukakan dalam bab-bab.
Multikulturalisme dalam Materi PAI di SMA
Aspek Al-Qur’an
Penjelasan eksklusif dapat ditemukan dalam penjelasan Husni Thoyar Kelas X Bab VII bahwa ayat ini tidak lain adalah peringatan kepada Nabi Muhammad. Pembahasan multikulturalisme juga dapat dilihat pada bab I kelas XI pada aspek al-Qur’an yaitu surah Al-Baqarah ayat 148: pada ayat ini disimpulkan bahwa setiap masyarakat, umat atau bangsa memiliki arahnya masing-masing yaitu syariah. dan aturan hidup, apa yang mereka hatii. Ayat ini juga merupakan manifestasi dari nilai-nilai pendidikan multikultural yang humanis, yaitu memanusiakan manusia, artinya masing-masing memiliki kewajiban untuk saling membantu.
Namun sayang penjelasan yang lebih rinci dari ayat ini tidak begitu jelas, apalagi terkait dengan pendidikan multikultural. Begitu pula dalam kitab Husni Thoyar dijelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan kebiasaan atau kecenderungan orang-orang Arab yang jahil untuk menimbun kekayaan yang diperoleh melalui rampasan perang, penjarahan dan perampokan.
Aspek Akidah
Sedangkan di kelas XII (dua belas) pada semester pertama iman pada hari akhir dipelajari, dan pada semester kedua iman pada Qada dan Qadar. Beberapa penjelasan teologi dalam buku pelajaran PAI SMA, seperti pada pembahasan materi Ketuhanan. Ketika membahas aspek keimanan yang diajarkan di kelas XI semester I tentang beriman kepada Rasul Allah, pembahasan yang berkaitan dengan isu multikultural nyaris tidak ada.
Materi akidah semester genap, di kelas XI pelajaran PAI, dengan menjelaskan pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah. Pembahasan selanjutnya adalah pada aspek akidah semester genap kelas XII yaitu tentang akidah qada dan qadar.
Aspek Akhlak
Namun, jika dilihat dari materi dan ruang lingkup ijtihad dengan ditemukannya kerangka teoritis pengembangan pemikiran hukum Islam oleh para ulama tersebut, sebenarnya masih banyak yang relevan dengan kondisi saat ini. Seperti pemaparan tentang Ijtihad di atas, sebenarnya dalam aspek Fiqh banyak hal yang sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai multikultural yang harus dipelajari siswa di kelas, namun sangat disayangkan buku teks pendidikan agama Islam tidak memiliki ruang untuk itu. dalam hal ini ini. secara komprehensif, dirinci dengan menghadirkan beberapa kajian tentang perdebatan dalam hukum Islam, yang akan membantu mahasiswa untuk keluar dari rasa ingin tahu dan kebingungannya tentang posisi suatu masalah tertentu dalam hukum Islam. Materi Fiqh untuk kelas XI SMA semester 1, mata pelajaran yang dipelajari adalah hukum Islam tentang Muamalah, masalah yang dibahas dalam muamalah ini berkaitan dengan prinsip-prinsip transaksi dalam Islam, termasuk prinsip-prinsip dasar transaksi yang berlaku syara yaitu, semua transaksi dilakukan secara sukarela tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
Aspek materi Fiqh di kelas XII PAI SMA, pada semester pertama pembahasannya tentang munakahat, dengan pembahasan meliputi ketentuan hukum Islam tentang perkawinan. Larangan perkawinan beda agama di Indonesia dirumuskan dalam Keputusan Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berisi tentang hukum perkawinan, waris dan hibah.
Aspek Tarik dan Kebudayaan Islam
Aspek sejarah kelas XII (dua belas) semester satu, materi yang dipelajari adalah tentang perkembangan Islam di Indonesia. Justeru dalam Buku XII. kelas Husni Thoyar, XII. bab penyebaran Islam ke seluruh dunia. Pautan langsung kepada nilai pelbagai budaya dalam bahan pendidikan agama Islam sekolah menengah boleh didapati dalam buku Husni Thoyar, Kelas XII, Bab XII dalam ruangan ―Hayya Na'mal‖.
Setelah menganalisis huraian bahan ajar agama Islam dalam pelbagai aspek (Aspek Al-Qu'an, Akidah, Etika, Fikih, serta Sejarah dan Kebudayaan Islam) di atas, dapat disimpulkan bahawa bahan PAI untuk sekolah menengah secara keseluruhannya. tidak dimuatkan dengan nilai tidak. Setelah diteliti sama ada pendidikan pelbagai budaya luar bandar dimasukkan ke dalam bahan pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah menengah (SMA), dapat disimpulkan bahawa buku teks Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA masih berat sebelah.
Saran-saran
2011. Pendidikan Islam Gus Durdan; Upaya membangun hakikat pendidikan di era global. Yogyakarta: Media Ar-Ruzz.