• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Multikulturalisme dalam Materi PAI di SMA

2. Aspek Akidah

clvii

diperlukan untuk dijadikan pijakan dalam membangun dan menjaga hubungan harmonis antar agama. Banyak permasalahan dalam agama (khususnya Islam) tentang perbedaan pendapat ini, misalnya saja bagaimana cara mengucapkan salam kepada non-muslim, pada umumnya ulama berpendapat hal tersebut hukumnya haram. Dulu dalam konteks nabi melarang mengucapkan, Pertama: karena salam yang diucapkan oleh kaum yahudi adalah salam penghinaan, Kedua, sikap para Yahudi terhadap Nabi adalah sikap permusuhan dan kebencian bukan sikap perdamaian dan persahabatan. Pada dasarnya tidak masalah mengucapkan ―selamat‖ kepada siapapun untuk alasan persahabatan dan persaudaraan. Nurcholish Madjid berpendapat; ―salah satu keunggulan konsep-konsep Al-Qur‘an yang membuktikan bahwa Islam benar-benar merupakan ajaran yang pertama kali memperkenalkan tentang toleransi dan kebebasan beragama kepada umat manusia‖. (Nurcholish Madjid, 2000:59 & 72).

clviii

pertama dibahas iman kepada Rasul-rasul Allah. Semester kedua iman kepada kitab-kitab Allah. Sedangkan pada kelas XII (duabelas) pada semester awal yang dipelajari adalah iman kepada Hari Akhir, dan semester kedua iman kepada Qada dan Qadar.

Permasalahan teologi (akidah) diawal pertumbuhan dan perkembangannya. Islam berhadapan dengan budaya dan peradaban masyarakat arab jahiliyah yang menganut kepercayaan paganisme. Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah (pesan) dan ajaran Allah berusaha meluruskan dan membenahi akidah masyarakat Arab dengan tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Walaupun fakta sejarah tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat benturan dalam perjalanan menyampaikan dakwanya.

Khususnya pemikiran tentang tauhid dalam konteks pendidikan di Indonesia masih sangat terbatas, dikalangan masyarakat muslim Indonesia terkesan masih kuatnya faham teologis yang cenderung bersifat fatalistic (jabariyah). Paham ini lebih menekankan kekuasaan mutlak Tuhan, sementara mengabaikan kemampuan dan ikhtiar manusia.

Berangkat dari kesadaran inilah, selain diperlukan pemahaman yang benar tentang tauhid, juga mendesak dikembangkannya pemkiran alternatif dibidang teologi yang tidak terjebak pada pengkotakan mazhab seperti Asy‘ariyah, Jabariyah, Qadariyah, Mu‘tazilah, Maturidiyah, atau Syi‘ah.

clix

Beberapa penjabaran tentang teologi dalam buku teks PAI di SMA, seperti dalam pembahsan materi tentang iman kepada Allah. Materi yang diusung adalah sifat-sifat Allah. Dalam Asmaul Husna, diantaranya sifat Allah yang dibahas dan berkaitan dengan nilai multikultural yaitu; Al- Hakim (Maha Bijaksana). Bukti dan kebijaksanaan-nya dalam penciptaan alam semesta diciptakan matahari, bumi planet dan bintang berjalan sesuai dengan orbitnya masing-masing sesuai dengan firma-Nya (QS;

Azh-Zhukhruf:48). Penjelasan ayat di atas hanya secara sepintas saja.

Padahal banyak hikmah yang dapat diambil dari ayat ini dalam kaitan dengan cara menempatkan orang sesuai dengan posisi dan kemampuan (propesinya). Juga harus menghormati dan menghargai keberadaan seseorang, baik dari segi kedudukan sosialnya dan terlebih sebagai sesama hamba Allah.

Sifat Allah yang lain dalam kajian materi Asmaul Husna yang juga terkait permasalahan di atas adalah; Al-Adlu (Maha Adil). Ini tercermin dalam firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 90 ―sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan‖. Keadilan yang mesti ditegakkan dalam ayat di atas adalah keadilan yang bersumber dari Allah. (Al-Qur‘anul Karim), karena keabsahan, kebenaran, dan bobot bahasanya tidak diragukan lagi. Keimanan bukan hanya dengan hati melainkan juga harus dibuktikan dengan perbuatan, seperti mengimani sifat-sifat Allah dan Asmaul Husna dengan baik dan benar akan sangat berpengaruh pada tingkah laku seseorang. Hal ini dengan mencerminkan

clx

sikap baik kepada sesama manusia, tanpa membedakan warna kulit, suku bangsa dan agama. Allah tidak pernah sekalipun membedakan makhluk ciptaan-Nya.

Dalam pembahasan aspek akidah yang diajarkan pada kelas XI semester pertama tentang iman kepada Rasul-rasul Allah, hampir tidak menyentuh pembahasan yang berkaitan dengan isu-isu multikultural.

Disini hanya dibahas pengertian iman kepada Rasul-rasul Allah dengan menceritakan berapa banyak jumlah nabi dan rasul dengan segala mukjizatnya, mulai dari Nabi Ibrahin dengan Raja Namrud, kemudian cerita perjuangan Nabi Musa dalam menghadapi kekejaman Raja Fir‘aun, serta Nabi Isa AS yang mampu menghidupkan orang yang telah mati.

Pada Sub bab pembahasan ―Tanda-tanda beriman kepada Rasul-rasul Allah‖, sedikit menyinggung masalah multikultural yakni bagaimana sifat- sifat mulia yang dimiliki oleh para rasul dan nabi yaitu;

Pertama, Sidiq yang berarti benar atau jujur. Rasul mustahil bersifat sebaliknya Kizib (dusta), yang tentunya ajaran yang disampaikannya penuh dengan kedustaan yang dapat menyesatkan dan menyensarakan umat. Kedua, Amanah artinya dapat dipercaya, yang mustahil bagi seorang Rasul besifat khianat (penipu). Karena jika Rasul seorang penipu maka sudah tentu umat yang dibimbingnya akan menjadi penipu pula. Ketiga, Tablig artinya menyampaikan, maksudnya dari risalah yang diajarkan oleh rasul yang bersumber/diterima dari ajaran Allah, mustahil para rasul menyembunyikan atau bersifat khitan dan tidak

clxi

menyampaikan kepada umatnya, sehingga mereka (umat) tidak mempunyai pedoman hidup dan akan mengalami kehancuran dan kebinasaan. Keempat, fatanah. Artinya cerdik (pintar), dengan sifat ini para rasul dapat berhujjah, berdialog, terutama dengan penentangnya, oleh karena itu mustahil para Rasul bersifat balada (bodoh).

Pembahasan di atas secara eksplisit ada dalam konsep/nilai pendidikan multikultur misalnya sifat rasul yang amanah menunjukkan suatu yang dapat dipercaya dalam memegang amanah. Sifat Tablig yang dimiliki seorang Rasul sangat penting, ini kelanjutan dari sifat amanah tadi, bagaimana dalam menyampaikan sesuatu tidak ada yang disembunyikan yang dalam konsep pendidikan multikultural dikenal dengan proses pendidikan yang transparansi, tidak menutupi kejadian yang sebenarnya. Kita ketahui sampai sekarang pendidikan kita masih sarat dengan kebohongan publik yang tidak amanah dalam melaksanakannya baik oleh pengambil kebijakan maupun pelaksana pendidikan itu sendiri misalnya bagaimana pemerintah belum bisa mengemban amanah Undang-undang Dasar tentang alokasi dana pendidilkan belum mencapai 20% seta kebijaksanaan ujian Akhir Nasional (UAN) yang dipandang sarat dengan diskriminasi dan muatan politis.

Materi akidah pada semester kedua, dalam pelajaran PAI kelas XI, dengan menjelaskan pengertian iman kepada Kitab-Kitab Allah. Untuk materi hanya dijelaskan beberapa kitab-kitab Allah yang diwahyukan sebelum turunnya wahyu Al-Qur‘an kepada Nabi Muhammad Saw

clxii

sebagaimana tercantum dalam Al-Qur‘an adalah; kitab Taurat yang diturungkan kepada Nabi Musa As, Zabur diturunkan pada Nabi Daud As, Injil diturunkan kepada Nabi Isa As. Selain materi tersebut selebihnya hanya menjelaskan tentang keterkaitan hikmah beriman kepada Allah dengan ayat-ayat yang berhubungan dengan iptek, seperti ilmu jiwa (psikologi), astronomi, dan ayat-ayat yang berhubungan dengan pencitraan alam semesta. Pada hal banyak kejadian di bumi ini yang berasal dari klaim kebenaran terhadap kitab (teks Suci), yang masing- masing umat terkadang salah dalam memahaminya (multitafsir).

Aspek Akidah (Iman) tentang iman kepada Hari Akhir yang dipelajari di kelas XII hanya menampilkan penjelasan tentang apa yang disebut kiamat sugra dan kiamat Kubra, dan kejadian yang menimpa umat manusia ketika hari kiamat itu tiba. Nilai multikultural yang diterangkan dalam pembahasan ini ada dalam sub bahasan tentang Surga dan Neraka, bahwa sebelum manusia ditentukan untuk masuk jalur mana, maka harus dihisab dulu atau dihitung amalnya. Nilai yang terkandung dalam pengadilan akhirat adalah bagaimana Allah berlaku seadil-adilnya terhadap apa yang pernah dilakukan oleh manusia di atas dunia. Dalam buku teks PAI juga ditampilkan gambar seorang yang duduk di kursi terdakwa dalam pengadilan dunia. Dimana di dunia orang diadili berdasarkan bukti-bukti yang bisa ditampilkan sehingga orang yang andai menutupi kesalahannya dan menyembunyikan bukti akan bebas dari hukuman, apakah pengadilan dunia benar-benar adil ? Fakta dalam

clxiii

banyak peristiwa di Negara kita masih banyak para koruptor yang sudah divonis bersalah tapi masih bebas dan menikmati hasil korupsinya.

Pendidikan multikultur menghendaki adanya kesetaraan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pembahasan selanjutnya dalam asfek akidah pada semester kedua kelas XII, yakni tentang iman kepada qada dan qadar. Dalam memberikan defenisi tentang qada dan qadar yang hanya menampilkan satu tokoh yaitu Ulama Asy‘ariyah yang dipelopori oleh Abu Hasan Al-Asy‘ari.

Penjelasan tentang qada dan qadar dalam teks ini hanya mewakili salah satu aliran teologi dalam Islam. Padahal ada tafsir lain tentang makna qada dan qadar dalam aliran seperti Mu‘tazilah. Pada titik ini sesungguhnya buku teks PAI di SMA masih terkesan bisa karena hanya menampilkan pendapat salah satu dari aliran kalam tanpa memberikan perbandingan. Dengan demikian dapat dikatakan buku teks tersebut belum mengapresiasi konsep mltikultural dalam konteks bangsa Indonesia yang berpenduduk plural. Perbedaan pada tingkat pemahaman tidak bervariasi, sehingga masyarakat bisa membedakan secara lebih rinci tentang pemahaman tersebut. Lebih jauh lagi materi yang ada dalam buku teks ini sedikit menonjolkan doktrin Asy‘ariah ketimbang yang lain.

Padahal untuk Indonesia walaupun kebanyakan menganut teologi ini, tetapi pada realitasnya ada sebagian umat Islam Indonesia yang menganut teologi lain selain dari Asy‘ariah, misalnya Mu‘tazilah atau Syi‘ah. Menurut Azyumardi Azra, walaupun tidak ada bukti yang kuat

clxiv

tentang adanya pengaruh paham teologi Syi‘ah, tapi sejak keberhasilan revolusi Islam Iran pempinan Ayatullah Khomeini, ajaran dan teologi Syi‘ah mulai menanamkan pengaruhnya di kalangan tertentu kaum Muslim Indonesia. (Azyumardi Azra, 1999:45).

Pada tataran ini buku teks cendrung eksklusif, bahkan tidak multikultural dengan hanya menampilkan satu sisi pandangan teologis saja yang memang paham Asy‘ariah begitu mengkristal dalam pandangan masyarakat Indonesia (khususnya pada masyarakat awan/tradisional).

Dalam doktrin yang sering ditemui dalam masyarakat paham Mu‘tazilah dianggap paham yang tidak sesuai dengan konteks Islam yang sebenarnya.