• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPIRING GEOPARK KALIMANTAN UTARA

Dalam dokumen POTENSI PARIWISATA JAWA BARAT (Halaman 145-150)

1 R. Willy Ananta Permadi , 2 Sapari

Magister Pariwisata Berkelanjutan, Sekolah Pascasarjana, Universitas Padjadjaran E-mail : [email protected]

PENDAHULUAN

Bentuk dan konfigurasi bumi nusantara mencerminkan suatu proses panjang interaksi antara gaya-gaya endogen dan eksogen yang mendistribusikan potensi sumberdaya mineral, energi, dan kebencanaan seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini. Hal tersebut dikarenakan Indonesia merupakan negara yang secara geologis memiliki posisi unik yaitu berada pada pusat tumbukan Lempeng Hindia Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian Utara, dan Lempeng Pasifik di bagian Timur laut yang mengakibatkan Indonesia mempunyai tatanan tektonik yang kompleks yang meninggalkan jejak-jejak perubahan berupa bentangalam, fosil, batuan, dan aspek- aspek geologi lainnya yang mempunyai nilai historis dan ilmiah sangat tinggi serta menjadi bagian dari sejarah pembentukan bumi hingga yang terjadi saat ini sebagai Warisan Geologi baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional yang dikenal sebagai Natural World Heritage.

Sumberdaya geologi di Indonesia selain berupa bahan energi seperti minyak bumi dan gas bumi, batubara, panas bumi, serta aneka ragam mineral, terdapat pula sumberdaya geologi berupa fenomena alam geologi yang indah, unik, langka, dan bernilai tinggi yang mungkin tidak dimiliki oleh negara lain. Hal itu harus dijaga dengan baik sesuai dengan prinsip-prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang sebelumnya menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Timur merupakan provinsi termuda di Indonesia yang diresmikan pada tahun 2012. Kaltara sangat kaya akan potensi budayany. Untuk membangun ekonomi lokal Kaltara melalui penyusunan Masterplan geopark Kaltara, dilakukan beberapa aktifitas yang berkenaan dengan perencanaan geodiversity dan culture diversity. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mengenai perencanaan induk geopark Kaltara yang mencakup geodiversity dan culture diversity.

Menurut UNESCO (2014), geopark adalah wilayah yang didefinisikan sebagai kawasan lindung berskala nasional yang mengandung sejumlah situs warisan geologi penting yang memiliki daya tarik keindahan dan kelangkaan tertentu yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari konsep integrasi konservasi, pendidikan, dan pengembangan ekonomi lokal. Sebuah geopark mencapai tujuannya melalui pendekatan tiga cabang yaitu konservasi, pendidikan dan geowisata. Tiga pilar utama dalam pengembangan taman bumi, yaitu keberagaman geologi (geodiversity), keberagaman hayati (biodiversity), dan keberagaman budaya (cultural diversity).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kawasan geodiversity terbentang dari bagian pegunungan tinggi di Baratnya hingga kawasan pesisir pulau-pulau kecil di Timurnya. Memiliki cakupan total area pendugaan/penelitian 14.247,5 km2 (BPS Kab. Nunukan, 2016 – nunukankab.bps.go.id). Berbagai formasi batuan di Kabupaten Nunukan memiliki keragaman geologi yang berbeda dalam hal batuan, mineral, fosil, struktur geologi, geomorfologi, dan fitur bentangalam. Keanekaragaman geologi sebagian besar terjadi di berbagai eksposur alami di pantai landai berbatu dan tebing, puncak, gua, sungai, dan air terjun ataupun zona-zona lemah lainnya serta dalam lanskap geomorfologi secara megaview. Fitur-fitur geologi yang ada meliputi material, bentangalam, dan proses fisik.

Potensi ini diantaranya ada dalam hal kelimpahan, keragaman, dan kekayaan.

Sebaran dari fitur keragaman geologi atau tipe geodiversity adalah variabel yang digunakan dalam melakukan pendekatan distribusi geografis sebagai alat untuk melakukan pendeliniasian/zonasi/geoarea. Geoarea yang diusulkan di kabupaten Nunukan berjumlah 18 fitur geologi (geodiversity) secara luas. Dibagi ke dalam 3 kawasan administratif yang berbeda dan berjauhan, yaitu Dataran Tinggi Krayan dan pulau Nunukan & Sebatik. Geosite dikelompokkan menjadi 2 kelompok wilayah (geoarea) dengan tema sebagai berikut: (1) Geoarea Dataran Tinggi Krayan (bagian Barat-Utara): sebagai Plato Krayan atau Mikrokontinen Luconia (bagian samudera yang terangkat) dan (2) Geoarea Nunukan-Sebatik (bagian Timur – pulau-pulau kecil):

sebagai Gunungapi Purba.

Geoarea Dataran Tinggi Krayan menyajikan daerah pegunungan perlipatan tinggi di dataran tinggi Borneo. Menggambarkan evolusi tektonik mikro lempeng yang

semula berada di bawah samudera menjadi naik diatas rerata muka laut hingga menjulang membentuk pegunungan atau tinggian Krayan – yang termasuk ke dalam Tinggian Kuching, yang membentang pada jalur tengah pegunungan pulau Kalimantan.

Beberapa geosite di pulau Nunukan merepresentasikan fitur geologi yang mewakili keterjadian aktivitas vulkanik purba pada lingkungan transisi hingga laut yang diyakini berdampingan dengan proses pengangkatan pulau Nunukan.

Area Dataran Tinggi Krayan memiliki kelimpahan mataair garam yang unik karena tempatnya yang jauh sekali dari sumber garam pada umumnya yakni lautan, serta diyakini sebagai yang tertinggi di Indonesia pada ketinggian daratan 1074 mdpl.

Mata air asin ini menghasilkan produk geologi (geoproduct) unik yang secara umum bertolak belakang berdasarkan geografisnya, yakni garam di gunung. Garam gunung ini telah menjadi komoditas bahan pangan utama yang berhasil diproduksi. Di Dataran Tinggi Krayan, dari hasil inventarisasi setidaknya ada 38 geosite sederhana atau 8 geosite kompleks, yang juga didefinisikan sebagai kelimpahan geologi (geoabundance1).

Kawasan geodiversity Kabupaten Nunukan bagian Timur (pesisir) dipusatkan dan teridentifikasi pada Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik. Karakteristik geodiversity material dan bentangalam, dengan luasan persitus mulai dari belasan meter persegi hingga ratusan meter persegi. Geoarea pulau Nunukan-Sebatik, dari hasil penginventarisasian memiliki 10 geosite (homogen dan heterogen), yang juga didefinisikan sebagai kelimpahan geologi (geoabundance1). Penyebaran fitur geosite pada pulau Nunukan terplot merata di daerah Tengah hingga Utara-Timurlaut-Timur, terdiri dari 7 geosite. Di pulau Sebatik terdapat 3 geosite, masing-masing 1 titik geosite berada pada bagian ujung Timur, Selatan, dan Barat pulau yaitu di Tanjung Aru, Tanjung Karang, dan Liang Bunyu.

Di dalam kawasan ajuan geopark pulau Nunukan-Sebatik dan wilayah Dataran Tinggi Krayan terdapat situs keanekaragaman hayati yang telah ada sebelumnya dan telah memiliki batas-batas hukum nasional dan regional/internasional.

Situs ini dikonsepkan sebagai Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, yang telah diatur dalam UU No. 5 Thn 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, PP RI No. 68 Thn 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, dan peraturan perundangan turunan lainnya, serta

peraturan hukum lintas negara yaitu Declaration on the Hearth of Borneo Initiative Three Countries (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam), One Conservation Vision, 2007.

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang mempunyai peran sangat penting dalam mendukung produktivitas perikanan, melalui mekanisme peran yang dijalankan sebagai nursery ground dan spawning ground bagi ragam jenis biota air, dan memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan sistem jaring makanan di daerah pesisir. Disamping itu juga, sebagai penahan erosi pantai, pencegah intrusi air laut ke daratan, pengendali banjir, memproduksi oksigen melalui mekanisme fotosintesis/sebagai paru-paru kota, serta merupakan habitat dari beberapa jenis satwa liar (burung, mamalia, reptil dan amphibia). Ekosistem mangrove di Pulau Sebatik menyebar tidak merata di seluruh pesisir dengan luas 2.981 hektar.

Di Kabupaten Nunukan, saat ini usaha budidaya rumput laut berkembang pesat.

Jenis rumput laut yang dibudidayakan adalah Kappaphycus alvarezii (cottonii) dan sudah dilakukan oleh pembudidaya di perairan selat Sebatik dan perairan Pulau Nunukan. Besarnya potensi dan peluang ekonomi yang tercipta sejak berkembangnya usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan, menyebabkan hampir seluruh masyarakat pesisir yang awalnya bekerja sebagai nelayan penangkap ikan, beralih kepada usaha budidaya rumput laut.

SIMPULAN

Kebudayaan yang ada terdiri dari aspek berwujud dan nirwujud. Keberadaan kebudayaan dalam wilayah ajuan geopark dapat menjadi sakral. Keberadaan budaya sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam konsep ekonomi berkelanjutan dan merupakan sustainable development goals untuk masyarakat yang maju ekonominya melalui budaya. Di pegunungan Iban, jantung Borneo (HoB), dataran tingginya adalah rumah dari suku Dayak Lundayeh/ Lun Bawang, Sa’ ban, Kelabit, dan Penan. Tempat dimana geosite berada, Krayan secara keseluruhan, merupakan konfigurasi antara fitur geologi khusus dengan budaya dan keanekaragaman hayati.

BIBLIOGRAPHY

Abdullah, Fuad dkk. Potensi Sumberdaya alam Kars Kecamatan Tanjung Palas Kabupaten Bulungan. Bidang Geologi dan Sumberdaya Mineral Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Timur

BPS Provinsi Kalimantan Utara. (2015). Kalimantan Utara Dalam Angka 2015.

Fadhilah, Dzar M. (2015). Kajian Geopark Kawasan Ciletuh Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Kepariwisataan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2016). Potret dan Rencana Pengelolaan Ekosistem Karst Ekoregion Kalimantan. Balikpapan: Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Kalimantan

UNWTO. (n.d.). 2017 International Year of Sustainable Tourism for Development.

Diakses pada 25 November 2016, dari UN-WTO Official Website:

http://www2.unwto.org/tourism4development2017

UNWTO. (n.d). SDG Indicators for "Sustainable Tourism" A UNWTO Contribution to the IAEG-SDG. Diakses pada 25 November 2016, dari UN-WTO Official Website:

http://cf.cdn.unwto.org/sites/all/files/docpdf/unwtosdgtourismindicators02 032016.pdf

Yoeti, Oka A. (2008). Ekonomi Pariwisata: Introduksi, Informasi, dan Implementasi.

Jakarta: Kompas Gramedia

THE MARKETING COMMUNICATION STRATEGY OF

Dalam dokumen POTENSI PARIWISATA JAWA BARAT (Halaman 145-150)