1 Laksmana, A. Tb. , 2 Awaludin, N. , 3 Rahmat, H
Program Studi , Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran E-mail : [email protected]
PENDAHULUAN
Lokasi Ciletuh Unesco Global Geopark yang berada di wilayah pesisir selatan Kabupaten Sukabumi memiliki banyak potensi. Keragaman fenomena alam akibat proses geologi yang jarang ditemui di kawaasan lain, keragaman hayati dengan kawasan konservasi dan budi dayanya serta keragaman budaya dan masyarakat setempat, baik masa kini ataupun peninggalan budaya dari masa lalu. Sisi lain dari potensi yang menjadi perhatian adalah adanya potensi bahaya akibat bencana alam. Gempa bumi, tanah longsor, gerakan tanah dan tsunami adalah komponen komponen yang harus mendapat perhatian khusus. Selain gerakan tanah dan potensi terjadinya bencana longsor, gempa bumi tektonik dari proses subduksi di wilayah perairan Selatan pantai kawasan Palabuhanratu, Ciletuh, Ciracap dan Surade, serta sesar aktif Cimandiri sangat berpotensi menimbulkan bencana tsunami. Beberapa pihak telah mencoba untuk dapat melakukan mitigasi terhadap hal tersebut. Peta distribusi kebencanaan yang keluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, tim revisi peta kegempaan Indonesia atau pun hasil penelitian oleh peneliti dapat dijadikan acuan untuk menerapkan suatu Standar Operasi berskala Nasional dan Internasional di kawasan wisata alam geopark Ciletuh. Penerapan Standar Pelayanan Masyarakat Pariwisata Alam 2015 dan ISO 13810-2015 dapat dijadikan acuan pelaksanaan pengelolaan mitigasi kebencanaan di suatu kawasan wisata alam. Sehingga dapat meningkatkan daya jual kawasan tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Geopark
Kawasan geopark Ciletuh yang terletak di pesisir selatan Sukabumi saat ini dikenal sebagai salah satu geopark berskala internasional dengan diakuinya sebagai salah satu warisan dunia oleh Unesco. Predikat Unesco Global Geopark (UGG) yang disandangnya sejak 17 April 2018 hingga 16 april 2022, menjadi sebuah kebanggaan dan presasi tersendiri bagi pihak pihak terkait,
penggiat geowisata dan bangsa Indonesia. Suatu kawasan dapat dikategorikan sebagai Unesco Global Geopark bila memenuhi pedoman dan kriteria yang ditetapkan oleh Global Geoparks Network (GGN) /re branding UGG, 1 sebagaimana terpapar berikut :
• Sebagai suatu kawasan
Geopark merupakan sebuah kawasan yang berisi aneka jenis unsur geologi yang memiliki makna dan fungsi sebagai warisan alam.Di kawasan ini dapat
diimplementasikan berbagai strategi pengembangan wilayah secara berkelanjutan, yang promosinya harus didukung oleh program pemerintah.Sebagai kawasan, Geopark harus memiliki batas yang tegas dan nyata. Luas permukaan Geopark pun harus cukup, dalam arti dapat mendukung penerapan kegiatan rencana aksi
pengembangannya.
• Sebagai sarana pengenalan warisan Bumi
Geopark mengandung sejumlah situs geologi (geosite) yang memiliki makna dari sisi ilmu pengetahuan, kelangkaan, keindahan (estetika), dan pendidikan. Kegiatan di dalam Geopark tidak terbatas pada aspek geologi saja, tetapi juga aspek lain seperti arkeologi, ekologi, sejarah, dan budaya.
• Sebagai kawasan lindung warisan Bumi
Situs geologi penyusun Geopark adalah bagian dari warisan Bumi.Berdasarkan arti, fungsi dan peluang pemanfaatannya, keberadaan dan kelestarian situs-situs itu perlu dijaga dan dilindungi.
• Sebagai tempat pengembangan geowisata
Objek-objek warisan Bumi di dalam Geopark berpeluang menciptakan nilai ekonomi.Pengembangan ekonomi lokal melalui kegiatan pariwisata berbasis alam (geologi) atau geowisata merupakan salah satu pilihan.Penyelenggaraan kegiatan pariwisata Geopark secara berkelanjutan dimaknai sebagai kegiatan dan upaya penyeimbangan antara pembangunan ekonomi dengan usaha konservasi.
• Sebagai sarana kerjasama yang efektif dan efisien dengan masyarakat lokal
Pengembangan Geopark di suatu daerah akan berdampak langsung kepada manusia yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan. Konsep Geopark memperbolehkan masyarakat untuk tetap tinggal di dalam kawasan, yaitu dalam rangka
menghubungkan kembali nilai-nilai warisan Bumi kepada mereka.Masyarakat dapat berpartisipasi aktif di dalam revitalisasi kawasan secara keseluruhan.
• Sebagai tempat implementasi aneka ilmu pengetahuan dan teknologi
Di dalam kegiatan melindungi objek-objek warisan alam dari kerusakan atau penurunan mutu lingkungan, kawasan Geopark menjadi tempat uji coba metoda perlindungan yang diberlakukan.Selain itu, kawasan Geopark juga terbuka sepenuhnya untuk berbagai kegiatan kajian dan penelitian aneka ilmu pengetahuan dan teknologi tepat-guna.
Secara garis besar, Geopark adalah suatu kawasan yang memiliki keragaman fenomena geologi (geodiversity), dipadukan dengan keragaman hayati (biodiversity) dan budaya (cultural diversity).
Gambar 1. Ciletuh Palabuhanratu Geopark [sumber: http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/]
Geodiversity Menurut Grey (2004) diefinisikan sebagai kisaran keragaman karakteristik variasi dalam sifat abiotik dan penampakan geologi (batuan, mineral dan fosil); geomorfologi (roman muka bumi dan proses fisiknya); formasi batuan yang meliputi kumpulan, hubungan, sifat, interpretasi dan sistem dari karakteristik ini. Secara sederhana didefinisikan bahwa geodiversitas mencakup semua bahan (mineral, batuan, fosil, tanah dan air), struktur (pelipatan, sesar; dan bentang alam; hubungan antara rock units) dan proses (meliputi aktivitas tektonik, sedimentasi, pembentukan tanah /pelapukan, aktivitas vulkanik, dan lainnya) yang membentuk bumi.2
2Grey.M (2004), Department of Geography,Queen Mary, University of London, “Geodiversity
Geodiversity yang menjadi atraksi wisata Ciletuh adalah fenomena air terjun, landscape, pulau pulau kecil, bebatuan khas, gua laut, fosil, bebatuan langka, pantai dan geyser. 3
Keberadaan batuan melange yang merupakan singkapan batuan tertua di Jawa Barat menjadi salah bagian dari geoheritage Ciletuh. Batuan Melange di Ciletuh ini adalah batuan dasar berumur pra-Tersier yang ditutupi oleh ketidakselarasan sediemen Tersier, seperti Formasi Ciletuh dan Formasi Jampang (Haryanto. I, 2009). Selain di Ciletuh, di pulau Jawa batuan Melange ini hanya tersingkap di daerah Bayat dan Karang Sambung. Batuan melange ini disusun oleh:
• kerabat ofiolit (kelompok batuan ultra basa)
• kelompok batuan metamorfik
• kelompok batuan sedimen laut dalam
• kelompok batuan sedimen benua
Semua kelompok batuan tersebut terdapat sebagai bongkah-bongkah beraneka ukuran yang terkurung dalam matriks serpih tergerus, dengan kontak antar blok berupa tektonik yang memperlihatkan singkapan bagus dan jarang ditemukan di tempat lain.4
Gambar 2. Landscape Amphitheater Ciletuh Palabuhanratu Geopark [sumber: http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/]
valuing and conserving abiotic nature”.
3 http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/en/geo-diversity/
Tersingkapnya batuan pra-Tersier di suatu lembah besar Ciletuh, disebabkan oleh proses tektonik berupa pengangkatan (uplift) melalui mekanisme lipatan, sesar naik dan longsor besar.
Jejak-jejak longsoran ini dapat diamati dengan adanya bentuk gawir yang membusur menyerupai tapal kuda, sehingga terbentuk geomorfologi “Amphitheater” spektakuler yang menghadap ke teluk Ciletuh (gambar 2).
Biodiversity atau keragaman hayati adalah istilah yang diberikan untuk berbagai kehidupan di bumi. Didefinisikan sebagai suatu kesatuan kehidupan yang kompleks antara berbagai variasi yang ada di antara mahkluk hidup dan lingkungannya di suatu kawasan tertentu.
Mencakup semua spesies tanaman, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem tempat mereka hidup dan berinteraksi. Tiga tingkatan dalam biodiversity yaitu: keaneka ragaman genetik, keaneka ragaman spesies , keaneka ragaman ekosistem. Biodiversity yang menjadi atraksi di Ciletuh adalah kawasan konservasi dan budidaya.
Gambar 3. Wilayah konservasi Geopark Ciletuh [Sumber: Pusat Penelitan Geopark & Kebencanaan Geologi, Universitas
Padjajaran]
Culturaldiversity atau keragaman budaya diartikan sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara yang ada dalam kebudayaan kelompok atau masyarakat untuk mengungkapkan ekspresinya (Konvensi Unesco, 2005). Culturaldiversity yang merupakan atraksi di kawasan Ciletuh adalah situs sejarah dan budaya, kerajinan dan makanan tradisional serta tradisi dan seni.
Gambar 4. Cultraldiversity
[Sumber: Pusat Penelitan Geopark & Kebencanaan Geologi, Universitas Padjajaran]
Geopark Ciletuh-Palabuhanratu terdiri atas 3 (tiga) geoarena, yaitu Cisolok geoarena (bertema pergeseran zona magmatik kuno, evolusi busur muka), Jampang geoarena (bertema tinggian Jampang) dan Ciletuh geoarena (bertema terangkatnya batuan batuan dari zona subduksi).
Meliputi wilayah seluas 126,100 Ha atau setara dengan 1,261 Km2. Dan terdapat tujuh puluh empat (74) Desa yang tersebar di delapan (8) Kecamatan, dengan jumlah penduduk 111.788 jiwa5. Dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang sedemikian, kawasan geopark Ciletuh memiliki banyak potensi yang terdiri atas6 :
• Potensi pengembangan wisata : geowisata; agrowisata; wisata budaya; wisata petualangan; wisata laut
• Potensi untuk pengembangan / peningkatan produksi pertanian (sawah, ladang, buah‐buahan, bawang, dll)
• Potensi perikanan – kelautan (sudah ada 2 tambak udang milik swasta;
pembudidayaan sidat, lobster oleh biofarma)
• Potensi peternakan (Sapi, domba/kambing), rencana introduksi banteng dan badak di kawasan SM Cikepuh (BKSDA)
• Potensi bahan tanaman obat? (cengkeh, jahe merah, sereh wangi, kunyit, dll)
• Potensi budidaya flora‐fauna langka dan endemic khususnya di kawasan Cagar,
5 https://sukabumikab.bps.go.id/statictable/2018/11/24/70/jumlah-penduduk-berdasarkan-jenis-kelamin-menurut-kecamatan- dikabupaten-sukabumi-tahun-2017-registrasi-.html
Suaka dan Taman Nasional
• Potensi perkebunan (karet, kelapa→ mulai digantikan oleh sawit)
• Potensi konflik masyarakat (pesisir (nelayan),daratan (petani) dan penambang (PETI) dengan pendatang sebagai wisatawan atau sebagai pengembang (investor)
• Potensi tinggalan budaya (situs megalitik), tinggal kolonial, kampung adat (kasepuhan banten kidul (cipta gelar, sirnaresmi, ciptamulya)
• Potensi bencana alam : tsunami, tanah longsor, banjir, gempa bumi, kebakaran hutan (saat kemarau panjang).
Kebencanaan
Sepanjang pulau Jawa merupakan daerah rawan gempa bumi (Puslitbang Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2004 dalam Soehaimi. A, 2008). Secara geografis, kawasan geoapark Ciletuh diapit oleh Samudera Hindia di bagian Selatan – Barat Daya-Barat dan jalur pegunungan Selatan Jawa Barat di bagian Utaranya. Dengan posisi tersebut kawasan Ciletuh terletak di daerah rawan bencana alam tsunami, gempa bumi, longsor akibat gerakan tanah yang setiap saat dapat terjadi. Tumbukan lempeng oseanik IndoAustralia dengan lenpeng benua Eurasia yang terjadi di Samudera Hindia lepas pantai Selatan Sukabumi sangat berpotensi menimbulkan bencana gempa bumi yang dapat diikuti oleh tsunami. Risiko dari akibat yang ditimbulkan oleh gempa bumi sangat ditentukan oleh kepadatan jumlah penduduk dan infrastruktur di suatu wilayah yang telah dinyatakan rawan bencana. Kajian seismotektonik yang berbasiskan asal-usul kejadian gempa bumi (seismogenetik), penentuan wilayah-wilayah potensial terdampak serta bahaya yang ditimbulkan ditampilkan pada peta sebaran wilayah potensial bencana (gambar 5).
Gambar 5. Peta rawan bencana gempa bumi Indonesia
[Sumber: Pusat Penelitan & Pengembangan Geologi, 2004]
Dalam peta rawan bencana gempa bumi Indonesia tersebut, dapat dilihat bahwa bagian pesisisir Selatan Sukabumi di daerah Palabuhanratu-Ciletuh-Cirarap-Surade merupakan daerah rawan gempa dengan intensitas MMI (Modified Merchalli Intensity) antara IV, V, VI, VII dan diatas VII. Skala MMI adalah skala kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa. Skala MMI memiliki besaran mulai dari satu (1) hingga ke dua belas (12).
Tabel 1. Skala kerusakan gempa Modified Merchalli Intensity [Sumber: BMKG, April 2016]
uhanratu-Ciletuh-Ciracap-Surade, juga dipengaruhi oleh adanya beberapa sesar aktif diantaranya adalah sesar Cimandiri yang memanjang dari pantai Selatan hingga menuju ke Utara Pulau Jawa, (penampang A – A’, Barat daya menuju Timur laut)
Gambar 6. Sesar Cimandiri
[Modifikasi: Haryanto, 2009, dan Soehaimi, 2007]
Hasil pencatatan kegempaan selama kurun waktu tahun 1897-2009 di wilayah Indonesia , telah terjadi lebih 14.000 kejadian gempa dengan magnituda M > 5.07 (Tim revisi peta gempa
7Ringkasan hasil studi tim revisi peta gempa Indonesia, 2010).
Indonesia,2010). Beberapa aktifitas gempa besar di Indonesia yang telah menelan korban ribuan jiwa, kerusakan dan keruntuhan ribuan infrastruktur dan bangunan, serta dana trilyunan rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi adalah : gempa dan tsunami Aceh, 2004 (Magnitude
= 9,2 Richter) ; Gempa Nias, 2005 (Magnitude = 8,7 Richter) ; Gempa Jogya tahun, 2006 (Magnitude = 6,3 Richter) ; Gempa Tasikmalaya, 2009 (Magnitude = 7,4 Richter) dan Gempa Padang, 2009 (Magnitude = 7,6 Richter).
Gambar 7. Data episenter di Indonesia untuk magnituda, M > 5.0 (1900-2009).
[Sumber: Tim revisi peta gempa Indonesia,2010]
Gambar 8. Peta kawasan bencana gempa bumi wilayah Jawa Barat (inset Ciletuh) [Modifikasi: BNPB,2014]
Gambar 9. Peta kawasan bencana gerakan tanah wilayah Jawa Barat (inset Ciletuh) [Modifikasi: BNPB,2014]
Peta kawasan bencana gempa bumi, gerakan tanah untuk wilayah Palabuhanratu–
Ciletuh–Ciracap-Surade, diperlihatkan pada gambar 9 dan 10. Untuk peta distribusi bahaya tsunami di kawasan pesisir Sukabumi, telah dihitung dengan metode Analytical Hierarchy Process, (Oktariadi. O, 2009).
Gambar 10. Peta peringkat bahaya tsunami di wilayah pesisir Sukabumi [Sumber: Oktariadi,2009]
Distribusi potensi gempa bumi, gerakan tanah serta tsunami di pesisir Sukabumi dan kawasan Ciletuh menunjukan tingkat bahaya yang bervariasi. Namun secara umum wilayah pesisir Sukabumi dan Ciletuh ini ada dalam tingkatan beresiko tinggi. Di peta distribusi gempa (gambar 9), didominasi oleh warna merah muda yang berarti wilayah Ciletuh ini sangat beresiko tinggi terdampak bahaya gempa. Walaupun masih menyisakan daerah yang beresiko gempa terdampak sedang (warna kuning).
Pada peta distribusi bencana gerakan tanah (gambar 10), hanya sedikit potensi tinggi untuk bencana gerakan tanah (warna merah muda). Sebagian besar memiliki resiko menengah dan rendah (wanra kuning dan hijau).
Pada peta distribusi peringkat bahaya tsunami (gambar 11), Sebagian besar termasuk kedalam daerah terdampak tsunami rendah (warna hijau muda). Sedangkan darah yang berpotensi terdampak bahaya tsunami sedang dan tinggi umumnya adalah daerah pesisir.
Tabel 2. Tingkat Bahaya Tsunami wilayah pesisir Sukabumi
[Sumber: Oktariadi,2009]
Penerapan Standarisasi Kebencanaan
Dalam konteks perkembangan yang signifikan dari kegiatan pariwisata industri, para profesional perlu menerapkan pendekatan kualitas untuk layanan mereka, memberi mereka visibilitas yang lebih besar dan meningkatkan kepercayaan diri pengunjung. Tujuan dari Standar Internasional ini adalah untuk memberikan daftar komitmen kualitas layanan, yang umum untuk semua industry kawasan pariwisata, terlepas dari jenis penyedia layanan atau karakteristik teknis dari kawasan terkait. Standar pelaksanaan pariwisata alam digunakan untuk sebagai pedoman bagi pihak terkait untuk dapat melaksanakan kegiatan di luar ruangan dengan terap memperhatikan faktor faktor : keselamatan dan keamanan; kualitas pelayanan; terpeliharanya fungsi ekosistem dan sumber daya alam; efisiensi sumber daya dan energi; ramah terhadap lingkungan; ada pembelajaran dan memperhatikan peran serta masyarakat sekitarnya.8
Sistem manajemen mutu akan memberikan jaminan bagi pelanggan bahwa perusahaan mempunyai tanggung jawab tentang mutu dan mampu menyediakan produk dan jasa sesuai
dengan kebutuhan mereka (Suardi, 2003 dalam Mukhoyyaroh,2010). Begitu pula dengan penerapan standar mutu penanggulangan permasalahan keamanan dan keselamatan kebencanan di kawasan wisata alam adalah adalah suatu bentuk tanggung jawab manajemen pengelola. Dalam hal ini unsur unsur keselamatan dan keamanan terhadap bencana alam yang terjadi dan harus menjadi perhatian adalah :
• tersedianya mekanisme dan prosedur untuk keselamatan pengunjung
• adanya sarana dan prasana untuk keselamatan dan keamanan
• terdapatnya sumber daya manusia (SDM) yang memadai (jumlah dan kompetensi) untuk keselamatan pengunjung.
Kawasan Ciletuh yang dikelilingi oleh melimpahnya potensi bencana alam, sudah pasti harus menerapkan suatu standar prosedur pelaksanaan penanganan kebencanaan yang baik, terorganisir dan kontinyu. Hal hal tersebut bukanlah hal yang dapat dilaksanakan dengan mudah, bila tidak terdapat kesadaran, koordinasi dan kerjasama antara pihak pihak pemangku kepentingan terkait. Untuk dapat melaksanakannya dengan baik, yang harus dilakukan adalah dengan menerapkan dan mengaplikasikan standar standar tersebut dalam yang terangkum sebagai berikut9,
• Mentaati peraturan terkait keamanan, kesehatan dan keselamatan, - Keselamatan Pengunjung
- Keamanan pengunjung - Perlindungan kesehatan
• Memperhatikan keberlangsungan kawasan
• Aksesibilitas terjaga
Dalam penerapan standar pelaksanaan terhadap kebencanaan, haruslah sejalan dengan pihak terkait. BPNB yang menangani permasalahan penanggulangan kebencanaan memiliki kebijakan strategis (revisi 2015-2019).
Gambar 11. Kebijakan strategis BNPB 2015-2019 [Sumber: BNPB.go.id]
Kontribusi suatu kawasan wisata alam terhadap kebijakan dari lembaga berwenang tersebut dapat di terapkan khususnya di poin nomer 2,3,4 dan 6, dan dapat dikelola lebih lanjut dalam pelaksanaannya dengan menerapkan standart prosedur ISO 13810-2015. Dengan menerapkan standar prosedur yang berkualitas baik akan meningkatkan nilai jual suatu kawasan wisata.
SIMPULAN
Anugrah dari Yang Maha Kuasa terhadap wilayah Indonesia ini harus disyukuri dan dirawat dengan baik. Sebagai wilayah yang kaya dengan geodiversity, biodiversity serta culturaldiversity menjadikan wilayah ini memiliki potensi yang tidak terbatas untuk menjadi kawasan geowisata. Sebagai konsekuensinya, segala potensi tersebut harus kita kelola dengan baik, termasuk potensi potensi bencana alam yang senantiasa mengintai setiap saat. Hasil penelitian pihak terkait mengenai potensi kebencanaan di Indonesia dapat menjadi acuan untuk mempersiapkan penanggulangan saat terjadi bencana tersebut. Potensi gempa bumi berskala M > 5 di wilayah Ciletuh sangat mungkin terjadi, akibat tumbukan lempeng oseanik IndoAustralia terhadap lempeng benua Eurasia di lepas pantai Sukabumi. Yang sangat mungkin dapat mengaktifkan sesar Cimandiri yang terbentang arah Utara-Selatan dari teluk Ciletuh berarah ke Utara Pulau Jawa. Demikian pula dengan potensi bencana alam tsunami di kawasan Ciletuh. Penelitian tsunami yang dilakukan oleh peneliti dari Pusat Lingkungan Geologi, Badan Geologi memberikan kesimpulan tentang tingkat potensi bahaya desa terdampak tsunami, yaitu terdampak tinggi, sedang dan rendah. Standar Operasional Prosedur yang bertaraf baik (Nasional dan Internasional) merupakan suatu mekanisme untuk membimbing pelaksanaan suatu kegiatan. Dalam hal penerapan SPA Wisata Alam 2015 dan ISO 13810-2015 untuk penanganan bencana di kawasan wisata alam seperti geopark, maka harus bersinergi dengan regulasi yang ada dan terkordinasi baik dengan pihak yang berkompeten. Keuntungan lain dari penerapan Standar Prosedur Nasional / Internasional seperti SPA Wisata Alam dan ISO 13810 di kawasan Ciletuh Unesco Global Geopark adalah terciptanya sinergi antara dua merek besar yang telah dikenal baik (Co-Branding).
BIBLIOGRAPHY
Gray, M. (2004), Department of Geography, Wueen Mary, University of London. Geodiversity valuing and conserving abiotic nature. John Wiley and Sons , Ltd, 2–8.
Bappeda. (2016). Rencana Besar Pengembangan Destinasi Wisata Kelas Dunia Provinsi Jawa Barat. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat
https://sukabumikab.bps.go.id/statictable/2018/11/24/70/jumlah-penduduk-berdasarkan- jenis-kelamin-menurut-kecamatan- dikabupaten-sukabumi-tahun-2017-registrasi- .html
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. Data Kunjungan Wisatawan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2016. Badan Pusat Statistik. (Tersedia di www.jabar.bps.go.id, diakses pada 15/06/2019)
Global Geopark Network (2010). Guidelines and Criteria for National Geoparks seeking UNESCO's assistance to join the Global Geoparks Network (GGN), 3-8.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2014). Laporan Kinerja Badan Geologi Tahun 2014., 82-83.
Oktariadi, O. (2012). Geopark dan Penataan Ruang. Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.(Slide).
Geopark Ciletuh – Palabuhanratu Menuju Unesco Global Geopark bagaimana Unpad berkontribusi (2016). Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi Universitas Padjajaran.
Standar Pelayanan Masyarakat. (2015). Standar Pelayanan Masyarakat Pariwisata Alam., Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan., Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
International Standart. (2015), ISO 13810, Tourism Services-Industrial Tourism-Service Provision., ISO 13810:2015(E).
Rosana, M. et.al. (2006). Geologi Kawasan Ciletuh, Sukabumi : Karakteristik, Keunikan dan Implikasinya. Lokakarya Penelitian Unggulan dan Pengembangan Program Pascasarjana FMIPA UNPAD 3 April 2006.
Haryanto, I., Ramadian, A., Helmi, F. (2009), Tektonik Batuan Pra-Tersier Jawa Barat. Bulletin of Scientific Contribution, 7 (2), 82-90.
Tim Revisi Peta Gempa Indonesia. (2010). Ringkasan Hasil Studi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010, 1-44.
Soehaimi. A, (2008). Seismotektonik dan Potensi Kegempaan Wilayah Jawa. Jurnal Geologi Indonesia, 3 (4), 227-240.
Oktariadi. O, (2009). Penentuan Peringkat Bahaya Tsunami dengan Metode Analytical Hierarchy Process (Studi kasus: Wilayah Pesisir Kabupaten Sukabumi). Jurnal Geologi Indonesia, 4 (2),103-116.
Hardiyono. A. et.al. (2015). Potensi Geowisata di Kawasan Teluk Ciletuh, Sukabumi Jawa Barat, Bulletin of Scientific Contribution, 13 (2), 119-127.
Mukhoyyaroh. K, (2010). Pelaksanaan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 di SMA Negeri 1 Surakarta.Skripsi, FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.