• Tidak ada hasil yang ditemukan

JAWA BARAT

Dalam dokumen POTENSI PARIWISATA JAWA BARAT (Halaman 132-145)

POTENSI SERTA DAMPAK LINGKUNGAN PARIWISATA

sebuah tujuan wisata dengan beragam pesona. Tangkuban Perahu, Ciater, aneka air terjun yang siap menyambut wisatawan dengan sejuta pesonanya. Tak ketinggan wisata sejarah, wisata religi hingga wahana pemancingan turut meramaikan jumlah destinasi wisata di Subang. Di Bagian Utara Subang hadir pemandangan pantai, seperti misalnya Patimban, Pondok Bali dan Cirewang. Sementara itu dibagian utara Subang terdapat beberapa pantai yang biasa dikunjungi wisatawan yaitu Pondok Bali, Cirewang dan Patimban. Selain itu, penangkaran buaya Blanakan juga menawarkan daya tarik berupa atraksi buaya raksasa yang tidak akan ditemukan di tempat wisata lain.

Dalam tulisan ini, ada perhatian terhadap kondisi pengelolaan sumber daya air di pantai Patimban Subang, Jawa Barat. Wilayah ini sedang dikembangkan menjadi area pelabuhan internasional. Pariwisata di kawasan ini telah ada dan berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan semestinya semakin meningkat di masa mendatang.

Pengembangan ini diharapkan memberi tekanan pemeliharaan pada sumber daya air.

Konsekuensi dari eksploitasi berlebihan dapat mengakibatkan penurunan permukaan air tanah serta kualitas air tanah yang memburuk, dan intrusi air laut. Ini, pada gilirannya, menentukan kondisi kehidupan di daerah pantai dan dampaknya akan terasa baik oleh populasi lokal dan industri pariwisata.

Dengan adanya tol Cipali yang dibuka sejak 2015 lalu diharapkan akan meningkatkan kembali angka kunjungan wisata ke Subang yang akan berdampak pada peningkatan PAD Kabupaten Subang2. Di masa depan, jika peningkatan jumlah wisatawan yang diharapkan terjadi, maka hasilnya dapat berkecenderungan pariwisata di daerah tersebut menjadi tidak berkelanjutan atau berdampak buruk pada perekonomian nasional hingga berimplikasi kepada lingkungan setempat. Oleh karena itu, pendekatan pengelolaan air yang mengikuti standar yang ditentukan sangatlah disarankan.

Pejabat Disparpora lainnya mengungkapkan bahwa kontribusi media ini sangat besar untuk menyampaikan potensi wisata yang dimiliki Subang. Ia merencanakan tahun depan akan lebih massif lagi untuk kerjasama dengan media3. Mengacu kepada

2 https://www.kotasubang.com/8739/setiap-tahun-jutaan-wisatawan-kunjungi-subang-termasuk-tertinggi-di- jawa-barat

3 http://www.tintahijau.com/rekreasi/wisata/14815-disparopra-klaim-kunjunagn-iisatawan-ke-subang-tembus- 150-juta-orang

situasi yang kondusif tersebut, penulis berusaha untuk melakukan pemetaan potensi pariwisata di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, dengan lebih spesifik analisa terhadap kehadiran perencanaan strategis nasional (PSN) Pelabuhan Internasional Patimban dengan menggunakan pendekatan sustainable tourism.

Dengan dukungan data jumlah wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di sekitar Subang, serta jumlah destinasi wisata yang ada di wilayah tersebut maka penulis akan mengembangkan analisa untuk menggali lebih dalam bagaimana potensi serta dampak lingkungan pariwisata berkelanjutan yang dimiliki oleh kawasan Pelabuhan Internasional Patimban di Kabupaten Subang. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan pentingnya pondasi data sebagai dasar pengembangan potensi suatu daerah, dalam konteks ini khususnya terkait potensi pariwisata berkelanjutan yang tidak lama lagi akan hadir dan berkembang dengan pesat di Kabupaten Subang dengan dibangunnya Pelabuhan Internasional Patimban yang ditargetkan gelar soft launching di akhir tahun 2019.

Landasan Teori dan Konsep

Definisi wisatawan mancanegara sesuai dengan rekomendasi United Nation World Tourism Organization (UNWTO) adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara di luar tempat tinggalnya, didorong oleh satu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjungi dan lamanya kunjungan tersebut tidak lebih dari 12 (dua belas) bulan. Definisi ini mencakup dua kategori tamu mancanegara, yaitu wisatawan (tourist) dan pelancong (Excursionist).

Konsep potensi wisata akan menjadi pembahasan kunci dalam tulisan ini. Potensi wisataadalah segala sesuatu yang dimiliki oleh daerah tujuan wisata, dan merupajan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke tempat tersebut (Mariotti dalam Yoeti 1996:160-162). Sedangkan pengertian potensi wisata menurut Sukardi (1998:67), potensi wisata adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh suatu daerah untuk daya tarik wisata dan berguna untuk mengembangkan industri pariwisata di daerah tersebut. Sementara itu, Sujali (dalam Amdani, 2008) menyebutkan bahwa potensi wisata sebagai kemampuan dalam suatu wilayah yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk pembangunan, seperti alam, manusia serta hasil karya manusia itu sendiri. Untuk pilihan konsep lainnya yang akan penulis gunakan dalam melengkapi pembahasan maka penulis terlebih dahulu akan mengajak untuk memahami apa yang dimaksud dengan

pembangunan berkelanjutan mengacu kepada The United Nations Environment Programme (UNEP). UNEP mengadopsi batasan pengertian :

Sustainable development is improving the quality of human life while living withinthe carrying capacity of supporting ecosystems. If an activity is sustaible, for all practical purposes it can continue forever (WTO, 1995: 30). (pembangunan yang berkelanjutan adalah usaha memperbaiki kualitas hidup manusia untuk jangka panjang dengan memanfaatkan daya dukung ekosistem yang ada).

Apabila kita melanjutkan pembahasan kepada pariwisata berkelanjutan, maka ada definisi tersendiri tentang pariwisata berkelanjutan yang dapat kita coba pahami sebagai berikut :

which meet needs present tourist and host region while protecting and enhancing opportunity for the future. It is envisaged as leading to the government of all resources in such a way that economic, social and aesthetic needs can be fullfiled while maintaining cultural integrity, essential ecological diversity and life support system ( WTO, 1995: 30). (Upaya memenuhi kebutuhan wisatawan dan sekaligus melindungi daerah wisata dapat meningkatkan peluang untuk masa depan.

Semua upaya ini mengarah kepada pemerintah yang diharapkan menjadi pihak yang tersepan dalam mengatur sumber daya dengan berbagai cara sehingga kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika dapat terpenuhi dengan tetap menjaga kepentingan integritas budaya, keanekaragaman ekologis dan sistem pendukung kehidupan)

Adapun yang dimaksud pariwisata berkelanjutan dari para ahli di bidang kajian ilmu pariwisata adalah mempertemukan kebutuhan wisatawan dan daerah tujuan wisata dalam usaha menyelamatkan dan memberi peluang untuk menjadi lebih menarik lagi di waktu yang akan datang (Yoeti 2008: 242)

Ketiga konsep tersebut diatas akan dipadupadankan dalam pembahasan atau analisa topik kajian kali ini. Dimulai dengan identifikasi wisatawan yang datang ke Subang, baik yang berasal dari turis domestik maupun mancanegara. Lalu pembahasan serta diskusi akan meluas dengan analisa kepada potensi pariwisata Subang, secara spesifik di wilayah Patimban, mengacu kepada data yang diperoleh dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta data utama yang berasal dari sumber Pemerintah Daerah Subang tentunya. Bagian akhir dari bagian pembahasan tentu saja akan secara tajam membahas tentang pentingnya pendekatan sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan) dalam pengelolaan potensi pariwisata Subang, tidak terkecuali dalam merespon kehadiran pembangunan Pelabuhan Internasional Patimban yang berada di Wilayah Kabupaten Subang. Multiple impact nya dapat dipastikan akan terasa

mempengaruhi kepada berbagai aspek kehidupan kelompok masyarakat di wilayah sekitar pelabuhan khususnya dan masyarakat Subang pada umumnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan uraian latar belakang di bagian pendahuluan, tak diragukan lagi apabila wilayah Subang telah dan sedang menjadi destinasi pariwisata yang berkembang. Data yang dikumpulkan dari hasil liputan media online maupun offline menjadi saksi dari fenomena tersebut. Dukungan pemerintah dalam hal ini juga cukup menjadi daya dorong yang signifikan dalam merespon situasi tersebut. Akan tetapi apabila ditelaah secara ilmiah tentu saja pandangan terkait hal ini akan menjadi lebih faktual. Untuk itu penulis akan menggunakan konsep-konsep yang telah diuraikan pada bagian landasan konsep dan teori untuk dapat mengkaji tulisan ini dari cara pandang yang ilmiah sehingga pemikiran, ide serta gagasan yang diusung dapat menjadi diskusi yang mengandung nilai-nilai universal.

United Nation World Tourism Organitazation (2013), menetapkan isu yang terkait dengan air, Tourism & Water: Protecting Our Common Future. Isu lingkungan perlu dikaji secara sinergis dalam pengelolaan bidang pariwisata. Lingkungan, khususnya air dalam kajian pariwisata dapat dimplementasikan ke dalam tiga hal. Pertama, perairan Indonesia tercatat memiliki sejarah terbaik di dunia pada masanya. Dikaitkan dengan hal tersebut, maka nenek moyang bangsa Indonesia (orang-orang Bajo, Bugis, Makssar, dan Mandar) yang dikenal sebagai pelaut andal sejak abad ke-5 jauh sebelum Cheng Hood an Colombus perlu diceritakan kembali dalam kemasan industri wisata.

Pengertian atau definisi wisatawan yang dikemukakan oleh United Nation World Tourism Organization (UNWTO) adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara di luar tempat tinggalnya, didorong oleh satu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjungi dan lamanya kunjungan tersebut tidak lebih dari 12 (dua belas) bulan. Definisi ini mencakup dua kategori tamu mancanegara, yaitu

1. Wisatawan (tourist) , yaitu setiap pengunjung seperti definisi di atas yang tinggal paling sedikit dua puluh empat jam, akan tetapi tidak lebih dari dua belas (12) bulan di tempat yang dikunjungi dengan maksud kunjungan antara lain berlibur, rekreasi, olahraga, bisnis, mengunjungi teman dan keluarga, misi, menghadiri

pertemuan, konferensi, kunjungan dengan alasan kesehatan, belajar, dan keagamaan

2. Pelancong (Excursionist) adalah setiap pengunjung seperti definisi di atas yang tinggal kurang dari dua puluh empat jam di tempat yang dikunjungi (termasuk cruise passenger yaitu setiap pengunjung yang tiba di suatu negara dengan kapal atau kereta api, dimana mereka tidak menginap di akomodasi yang tersedia di negara tersebut).

Dalam konteks pariwisata yang tengah berkembang di wilayah Subang dapat dipastikan adanya sejumlah wisatawan (tourist) mancanegara yang datang berkunjung dengan rmaksud berlibur, rekreasi atau melakukan olah raga maupun alasan lainnya yang melatarbelakangi tujuan wisatawan.

Hal ini dapat dilihat dari data yang bersumber kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Tempat untuk rekreasi seperti pemandian air hangat Ciater untuk meredakan penat atau tempat liburan semacam Tangkuban Perahu dan tidak ketinggalan track olah raga bermotor yang menjadi tujuan para bikers di Jawa Barat maupun di Indonesia.

Meskipun data wisatawan domestik nampak lebih dominan dibandingkan dengan data turis mancanegara di dua kategori tersebut diatas, akan tetapi fakta tersebut tidak akan menurunkan derajat potensi wisata suatu daerah yang sedang berkembang. Perbandingan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara akan selalu menjadi faktor pendorong bukan menjadi kendala atau hambatan dalam mendukung tumbuhkembangnya daerah wisata di suatu wilayah, berlaku juga bagi Kabupaten Subang yang sedang giat-giatnya berbenah di bidang pariwisata baik dalam aspek kualitas maupun kuantitas. Data yang dipaparkan di bawah ini merupakan gambaran fakta dalam bentuk angka.

Realita yang dihadapi pemerintah daerah sebelum hadir dan beroperasinya Pelabuhan Internasional Patimban. Dengan Perencanaan Strategis Nasional (PSN) yangt sedang dijalankan terkait pembangunan pelabuhan internasional Patimban maka dapat diprediksi apabila ke depannya perbandingan angka kunjungan turis domestik dan mancanegara akan semakin bersaing. Dominasi kunjungan wisatawan domestik akan tersaingi oleh terbukanya akses pelabuhan internasional yang semakin memudahkan bagi kunjungan turis mancanegara ke wilayah Subang.

Sebelum pembahasan menajam kepada potensi pariwisata berkelanjutan di Patimban, maka ada baiknya terlebih dahulu kita berpijak pada data wisatawan yang melakukan kunjungan ke Subang di kurun waktu tiga tahun terakhir (2016). Hal ini dapat menjadi pijakan sekaligus bahan prediksi ke depannya untuk menganalisa lonjakan angka turis yang akan berkunjung atau berwisata ke Subang. Kendala akses akan semakin tereliminir ke depannya tentu saja. Akan tetapi Patimban sebagai pintu masuk atau entry point Subang (Jawa Barat) harus bermegah diri dengan daya tarik yang semakin seksi agar dapat sekaligus menggenjot angka kunjungan wisatawan ke daerah-daerah potensial lainnya, bukan hanya di sekitaran Subang, akan tetapi juga bagi potensi pariwisata berkelanjutan di Provinsi Jawa Barat pada umumnya.

Dari data tersebut, ternyata ditemukan bahwa bukan hanya wisatawan domestik (nusantara) yang datang dan berkunjung ke destinasi wisata di Wilayah Subang.

Wisatawan mancanegara atau turis juga mulai menunjukkan angka yang signifikan.

Data di tahun 2016 ini dapat menjadi pijakan untuk melakukan analisa fluktuasi jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Subang hingga kurun waktu tiga tahun terakhir. Di tahun 2016 Subang ada di peringkat tiga kota/kabupaten dengan jumlah kunjungan wisata tertinggi di Provinsi Jawa Barat. Hal ini merupakan fakta yang perlu diperhatikan ke depannya, mengingat Pemerintah Subang juga giat melakukan upaya pengembangan jumlah destinasi wisata di wilayahnya. Keseriusan pemerintah tentu saja perlu daya dukung dari berbagai stakeholder yang terkait.

Seperti yang telah diuraikan di bagian pendahuluan dimana tiga tahun terakhir, Subang digadang-gadang memiliki jumlah kunjungan wisatawan yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan cukup bersaing secara angka dengan daerah wisata lainnya di Jawa Barat. Data lainnya menjadi temuan yang menguatkan analisa diatas dikemukakan oleh salah satu sumber yang akurat :

Cohen (1972) mengklasifikasikan wisatawan atas tingkat familiarisasi dari daerah yang akan dikunjungi, serta tingkat pengorganisasian perjalanan wisatanya. Atas dasar ini, Cohen menggolongkan wisatawan menjadi empat, yaitu :

Drifter, adalah wisatawan yang ingin mengunjungi daerah yang sama sekali belum diketahuinya, yang berpergian dalam jumlah kecil.

Explorer, adalah wisatawan yang melakukan perjalanan dengan mengatur perjalanannya sendiri, tidak mau mengikuti jalan-jalan wisata yang sudah umum melainkan mencari hal yang tidak umum.

Individual mass tourist, adalah wisatawan yang menyerahkan pengaturan perjalanannya kepada agen perjalanan, dan mengunjungi daerah tujuan wisata yang sudah terkenal.

Organized mass tourist, adalah wisatawan yang hanya mau mengunjungi daerah tujuan wisata yang sudah terkenal, dengan fasilitas seperti yang dapat ditemuinya di tempat tinggalnya, dan dalam perjalanan selalu dipandu oleh pemandu wisata Apabila mengikuti tingkat pengorganisasian yang diklasifikasikan oleh Cohen (1972) diatas, maka Subang berpotensi untuk meraih keberpihakan dari seluruh kategori wisatawan. Masalahnya adalah, apakah pengelolaan potensi pariwisata di Subang telah menerapkan pengorganisasian seperti yang dikemukakan oleh Cohen.

Apabila belum diterapkan, maka ada baiknya Pemerintah Daerah Subang mencoba melakukan kategorisasi terhadap ide Cohen agar target jumlah serta kelompok wisatawan yang menjadi sasaran akan lebih spesifik dan mendapatkan strategi yang tepat untuk dilakukan pendekatan dalam pencapaiannya.

Potensi wisata adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh daerah tujuan wisata, dan merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke tempat tersebut (Mariotti dalam Yoeti 1996:160-162). Subang memiliki lebih dari cukup daya tarik wisata, dari 45 titik yang diungkap dari data Pemprov Jabar di tahun 2016, ditambah dengan 29 titik wisata yang popular di Kabupaten Subang dari web http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/disc-det.php?id=14&lang=id serta dibuktikan dengan ulasan tripadvisor yang membahas destinasi wisata di Subang maka tidak ada alasan yang melemahkan temuan potensi wisata Subang. Terlebih dengan realita kehadiran pembangunan pelabuhan internasional Patimban di Subang.

Kebaruan tentang Subang sudah mulai menjadi pemberitaan di sejumlah media online, salah satunya dapat dibuktikan dari salah satu capture hasil penelusuran dari situs www.kotasubang.com. Artikel terkait di bawahnya hampir semua membahas headline tentang potensi Patimban. Wacana ini semakin penting dan tentunya akan semakin berkembang diperbincangkan ke depannya baik untuk kajian ilmiah maupun ulasan popular.

Menurut Sukardi (1998:67), potensi wisata adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh suatu daerah untuk daya tarik wisata dan berguna untuk mengembangkan industri pariwisata di daerah tersebut. Bukan hanya bicara daya tarik wisata, pengertian potensi wisata ini juga menggarisbawahi pengembangan industry pariwisata sebagai salah satu indicator atau penanda adanya potensi pariwisata di suatu wilayah. Apabila kita kaji lebih dalam berdasarkan pengalaman turun ke lapangan ada indikasi pengembangan industry pariwisata di Subang misalnya di Ciater dan Tangkuban Perahu. Kedua titik tersebut sudah mampu menggeliatkan perekonomian bagi masyarakat atau komunitas lokal yang hidup dan bertempattinggal di sekitar lokasi pariwisata.

Wilayah KAbupaten Subang dikaruniai potensi alam yang penuh pesona “The Heart of West Java…”4. Data dari www.kotasubang.com mencatat ada sekitar 45 daerah wisata yang sedang berkembang di Wilayah Subang.

Salah satu Pejabat Kadispora Subang, Ahmad Sobari, Jumat, 6 Januari 2016 optimistis kunjungan wisatawan mancanegara ke Subang akan terus bertambah. Selain didukung adanya akses jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali), ke depan akan ditunjang pula dengan hadirnya mega proyek Pelabuhan Internasional Patimban. Sehingga akan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Subang. "Kami optimistis sektor pariwisata Subang ke depan akan lebih baik dan berkembang pesat," disampaikannya kepada www.pikiranrakyat.com dalam satu kesempatan wawancara yang dimuat di tahun 2016.

Selain itu, lanjut Ahmad, saat ini kabupaten Subang memiliki 63 lokasi yang potensial dikembangkan menjadi tujuan wisata, mayoritas berada di wilayah selatan.

Lokasinya tak kalah dan lebih bagus dibanding dengan daerah lain. Walaupun ada sejumlah kendala, tetapi pihaknya akan berupaya mengembangkan potensi wisata.

"Ada sejumlah air terjun yang potensial dikembangkan di antaranya Cijalu, Cileat, Cigayonggong, Cibareubeuy dan Ciangin," ujarnya. Selain itu, keberadaan lima desa yang saat ini telah ditetapkan menjadi desa wisata ditambah satu desa budaya, masing- masing Desa Cibeusi, Cisaat, Bunihayu, Cibuluh, Cirangkong dan Sarireja terus dikembangkan dan dibenahi. "Kami berharap keberadaan desa wisata itu jadi daya tarik

4 https://www.kotasubang.com/10811/45-objek-wisata-di-subang-yang-wajib-dikunjungi

bagi wisatawan. Apalagi wisatawan asing, trendnya mengejar destinasi wisata alam dan etnik," ujarnya5.

Untuk melengkapi kajian tentang pemetaan potensi pariwisata di Subang tidak cukup hanya dengan gambaran data kekayaan pariwisata Subang. Analisa yang tajam dalam kajian ini harus pula menggunakan pilihan konsep atau pendekatan kontemporer di dunia kepariwisataan, yaitu konsep pariwisata berkelanjutan yang akan penulis gunakan dalam pembahasan selanjutnya. Penulis terlebih dahulu akan mengajak untuk memahami apa yang dimaksud dengan pembangunan berkelanjutan mengacu kepada The United Nations Environment Programme (UNEP). UNEP mengadopsi batasan pengertian :

Sustainable development is improving the quality of human life while living withinthe carrying capacity of supporting ecosystems. If an activity is sustaible, for all practical purposes it can continue forever (WTO, 1995: 30). (pembangunan yang berkelanjutan adalah usaha memperbaiki kualitas hidup manusia untuk jangka panjang dengan memanfaatkan daya dukung ekosistem yang ada).

Adapun yang dimaksud pariwisata berkelanjutan adalah mempertemukan kebutuhan wisatawan dan daerah tujuan wisata dalam usaha menyelamatkan dan memberi peluang untuk menjadi lebih menarik lagi di waktu yang akan datang (Yoeti 2008: 242). Pembangunan potensi yang dimiliki wilayah Subang dalam bidang kepariwisataan tidak akan merangkai dampak pembangunan berkelanjutan apabila mengabaikan implementasi konsep pariwisata berkelanjutan atau popular dengan sustainable tourism. Dengan angka optimis di 45 potensi destinasi wisata mengacu kepada up date data https://www.kotasubang.com/10811/45-objek-wisata-di- subang-yang-wajib-dikunjungi maka kajian selanjutnya harus pula sampai kepada eksplorasi potensi sustainable tourism di Subang.

Untuk mulai membahas potensi pariwisata dengan pendekatan sustainability tourism di Patimban, penulis mencoba menggali data informasi dari warga setempat.

Warsa, salah seorang warga yang berjualan di Patimban. Pada awalnya, sekitar tahun 2013 an, Namun sayang itu tak berlangsung lama, ternyata abrasi juga mengancam Patimban, hingga setahun kemudian batu-batu penahan gelombang mulai dipasang di sepanjang pantai Patimban. Sekarang para pengunjung yang berwisata ke Patimban

5 https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/01/06/tren-kunjungan-wisatawan-mancanegara-ke-subang-

lebih banyak untuk berwisata kuliner. Menikmati ikan bakar dipinggir Pantai, atau kalau cuaca mulai teduh pengunjung sekedar duduk-duduk di batuan penahan abrasi.

Warsa Sedang Memanggang Ikan Pesanan Pengunjung Sumber. www.kotasubang.com

Warsa melanjutkan penuturannya bahwa,“Nanti disini akan dibangun tempat wisata mirip Ancol, kalau lihat gambarnya (cetak biru) bagus banget,” Ujar Warsa antusias kala itu. “Nah, kalau sebelah sana itu lagi dibangun Pelabuhan Peti Kemas Internasional. Ya, mungkin 2015 sudah selesai semua lah,”. Banyak pihak yang mengharapkan semoga kedua proyek tersebut segera dapat terealisasi.

Sumber. https://ihategreenjello.com/daya-tarik-obyek-wisata-pantai-kelapa/

Apabila kita melanjutkan pembahasan kepada pariwisata berkelanjutan, maka ada definisi tersendiri tentang pariwisata berkelanjutan sebagai berikut :

which meet needs present tourist and host region while protecting and enhancing opportunity for the future. It is envisaged as leading to the government of all resources in such a way that economic, social and aesthetic needs can be fullfiled while maintaining cultural integrity, essential ecological diversity and life support

system ( WTO, 1995: 30). (Upaya memenuhi kebutuhan wisatawan dan sekaligus melindungi daerah wisata dapat meningkatkan peluang untuk masa depan.

Semua upaya ini mengarah kepada pemerintah yang diharapkan menjadi pihak yang tersepan dalam mengatur sumber daya dengan berbagai cara sehingga kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika dapat terpenuhi dengan tetap menjaga kepentingan integritas budaya, keanekaragaman ekologis dan sistem pendukung kehidupan)

Demikianlah uraian pembahasan mengenai potensi Pesona Keindahan Obyek Wisata Pantai Kelapa Patimban Pusaka negara di Patimban Subang Jawa Barat. Banyak hal yang dapat dikembangkan ke depannya dengan pendekatan sustainable tourism.

Besar harapan tulisan ini dapat menginspirasi dan semoga dapat memberikan bermanfaat bagi pembaca. Tulisan ini akan sangat terbuka untuk mendapatkan masukan, tambahan informasi ataupun kritik agar tulisan selanjutnya dapat lebih baik lagi dan tentu saja memberikan manfaat yang lebih luas baik untuk kajian ilmuah di bidang pariwisata maupun untuk wawasan yang lebih luas dalam ulasan popular.

SIMPULAN

Kajian pemetaan potensi pariwisata Subang sampai kepada beberapa simpulan yaitu benar adanya potensi pariwisata daerah subang dengan dukungan data dari pemerintah daerah maupun provinsi serta cross check dengan data liputan media.

Fluktuasi angka kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke Subang dinilai signifikan menjadi faktor yang membuktikan berkembangnya sejumlah titik potensial destinasi wisata di Subang.

Hasil pembahasan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa Subang memiliki cukup potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi salah satu destinasi wisata terdepan di Provinsi Jawa Barat. Dengan temuan tersebut diharapkan tulisan selanjutnya akan mengantarkan pembahasan kepada topik yang lebih spesifik membahas setiap titik destinasi wisata di wilayah Kabupaten Subang yang memiliki potensi untuk dikelola dan dibangun dengan konsep pariwisata berkelanjutan.

Berdasarkan temuan pada tulisan ini, maka penulis merasa terdorong untuk memberikan saran agar menajamkan ide serta gagasan kepada pembahasan yang lebih spesifik untuk menemukan sejumlah titik destinasi pariwisata di Subang yang memiliki potensi di masa depan untuk dikelola dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan.

Dalam dokumen POTENSI PARIWISATA JAWA BARAT (Halaman 132-145)