• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTENSI PARIWISATA JAWA BARAT

N/A
N/A
Ikhtiar Putra Pratama

Academic year: 2024

Membagikan "POTENSI PARIWISATA JAWA BARAT"

Copied!
332
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

POTENSI PARIWISATA JAWA BARAT

Editor :

Ute Lies Siti Khadijah Evi Novianti

(3)

Copyright @2019, Evi Novianti, dkk Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.

Dilarang mengutip atau meperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Cetakan 1, Agustus 2019 Diterbitkan oleh Unpad Press

Graha Kandaga, Gedung Perpustakaan Unpad Jatinangor, Lt I

Jl. Raya Bandung – Sumedang (Ir. Soekarno) KM 21, Jatinangor – Sumedang 45363 – Jawa Barat-Indonesia

Telp. (022) 84288888 ext 3806, Situs: http://press.unpad.ac.id

email:[email protected]/[email protected]/ [email protected] Anggota IKAPI dan APPTI

Editor : Evi Novianti, Ute Lies Siti Khadijah

Editor Ahli/ Reviewer : Pawit M. Yusup, Agus Rusmana Editor Bahasa : Lutfi Khoerunnisa

Tata Letak : Lutfi Khoerunnisa,Sendi Rustandi, Sri Mulyati Desainer Sampul : Sendi Rustandi

Katalog

Novianti, Evi dkk

Manajemen Pengetahuan / Ute Lies Siti Khadijah dkk; Pawit M.

Yusup dan Agus Rusmana, - Cet.1.Bandung; Unpad Press; 2019 <vi+278> h. ; 18 x 26 cm

ISBN : 978-602-439-647-3

I .Potensi Pariwisata Jawa Barat II. Ute Lies Siti Khadijah dkk

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr Wb

Alhamdulillahirobbil alamiin. Puji syukur hanya untuk Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia kepada kita semua, khususnya dalam penyelesaian penyusunan Book Chapter dengan judul Potensi Pariwisata Berkelanjutan Jawa Barat . Book Chapter ini merupakan sebuah buku yang berisi kumpulan artikel hasil penelitian maupun kajian pustaka hasil karya mahasiswa dan dosen di lingkungan Universitas Padjadjaran yang membahas mengenai topik Potensi Pariwisata berkelanjutan yang ada di wilayah Jawa Barat. Book chapter pariwisata berkelanjutan Jawa Barat ini merupakan pengembangan dari book chapter sebelumnya dengan judul pariwisata berkelanjutan, yang mana saat ini pembahasan atau topiknya khusus membahas mengenai potensi parwisata yang ada di Jawa Barat. Dengan selesainya penyusunan book Chapter ini, penyusun berharap dapat memberikan khazanah pengetahuan baru dalam bidang Pariwisata Berkelanjutan.

Namun demikian, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam pengerjaan penulisan Book Chapter ini. Untuk itu, penyusun menyampaikan maaf kepada segenap pembaca dan mengharapkan saran serta kritik yang membangun untuk kami gunakan sebagai perbaikan di masa yang akan datang. Terima kasih

Wassalamualaikum Wr. Wb

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii DAFTAR ISI ... iv 1. Ethnotourism di Jawa Barat ... 1

Atwar Bajari

2. Ecotourism : Perencanaan dan Pengembangan Destinasi Berkelanjutan ... 15 Eka Susanto

3. Potensi Wisata Berkelanjutan Melalui Kegiatan Citarum Adventure, Art & Tours .. 32

1 Iriana Bakti, 2 Priyo Subekti

4. Pengembangan Potensi Wisata Pantai Pangandaran Untuk Meningkatkan Kepuasan Wisatawan ... 42

1Priyo Subekti , 2Iriana Bakti

5. Pengaruh Media Sosial dalam Industri Pariwisata ... 51 Atwar Bajari

6. Tinjauan Penerapan Standar Prosedur Nasional dan Internasional dalam

Pengelolaan Mitigasi Bencana di Kawasan Geopark Ciletuh ... 63

1 Laksmana, A. Tb. , 2 Awaludin, N. , 3 Rahmat, H

7. Pengembangan Objek Wisata Berbasis Lingkungan oleh Karang Taruna Di

Citumang Pangandaran ... 78

1 Priyo Subekti , 2 Aat Ruchiat

8. Potensi Desa Wisata dalam Menunjang Pariwisata Berkelanjutan di Jawa Barat .... 87

1 Santi Susanti , 2 FX Ari Agung Prastowo

9. Penerapan Rumus “3 A” dalam Mengembangkan Destinasi Wisata di Jawa Barat 95 Uud Wahyudin

10. Creative Tourism ... 104 Muhammad Iqbal Maulana

11. Menerapkan Model Pentahelix dalam Membangkitkan Ekowisata Alam Hutan Produksi Indonesia ... 116

Uud Wahyudin

12. Potensi Serta Dampak Lingkungan Pariwisata Berkelanjutan Pantai Kelapa

Patimban Pusaka Negara di Patimban Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat ... 125

1 R. Hendro S. Arlianto , 2 E. Novianti , 3 C. Endayana

(6)

13. Aspiring Geopark Kalimantan Utara ... 138

1 R. Willy Ananta Permadi , 2 Sapari

14. The Marketing Communication Strategy Of Village Tourism In Indonesia: ... 143 Ilham Gemiharto

15. Kegiatan Daur Ulang Sampah Gelas Plastik Sebagai Wisata Edukasi Di Kampung Wisata Pancer ... 155

1 Arfah Sahabudin, 2 Rusdin Tahir, 3 Mohamad Sapari Dwi Hadian

16. Taman Air Mancur Sri Baduga Situ Buleud Kabupaten Purwakarta Sebagai

Destinasi Wisata Budaya Kolaborasi Tradisional Dan Modern ... 166

1 Ghea Madinatu, 2 Evi Novianti, 3 Rusdin Tahir

17. Kegiatan Dokumetasi Taman Tematik Untuk Mengembangkan Pariwisata Kota Bandung ... 178

Ute Lies Siti Khadijah

18. Pesona Nagara Padang Ciwidey: Analisis Potensi Pariwisata di Kabupaten

Bandung ... 187

1Heru Ryanto Budiana, 2FX. Ari Agung Prastowo

19. Wisata Budaya Ritual Kebo-Keboan Sebagai Local Branding Masyarakat

Banyuwangi ... 197 Evi Novianti

20. Strategi Komunikasi Wisata Masyarakat Purwakarta Dalam Mengembangkan Kearifan Lokal Budaya Sunda ... 207

Evi Novianti

21. Potensi Destinasi Wisata Halal Di Jawa Barat ... 219 Yustikasari

22. Pengembangan Kawasan Wisata Budaya Betawi Setu Babakan Sebagai Upaya Konservasi Budaya Betawi Dan Menjadi Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Di Kota Jakarta ... 229

1 Febrianti, D. , 2 Suganda, D. , 3 Nugraha, A.

23. Menemukenali Tipologi Wisatawan Guna Mendukung Keberlanjutan Destinasi Pariwisata Jawa Barat ... 244

Rifki Rahmanda Putra, Ute Lies Siti Khadijah, Cecep Ucu Rakhman

24. Dari Mass Tourism Menuju Quality Tourism: Perspektif Heritage Tourism Dalam Pengembangan Pariwisata Cirebon Masa Depan ... 257

Dudi Andre Setiawan

(7)

25. Pengembangan Wisata Edukasi Berkelanjutan Di Museum Pendidikan ... 270

1 Tita Juwita, 2 Novianti , 3 Rusdin Tahir

26. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Dan Pengembangan Potensi Desa Jatiroke Sebagai Aset Pariwisata Kabupaten Sumedang ... 279

1 Muhammad Ifan, 2 Edwin Rizal

27. Gunung Geulis Sebagai Aset Parawisata dalam Pemberdayaan Masyarakat Jatiroke ... 294

1 Raja Intan Kemalasari, 2 Edwin Rizal

28. Potensi Pariwisata Budaya Kota Cimahi ... 305 Cecep Ucu Rakhman

(8)

ETHNOTOURISM DI JAWA BARAT

MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL DALAM MEMBANGUN PARIWISATA BERKELANJUTAN

Atwar Bajari

Program Studi , Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran E-mail : [email protected], [email protected]

PENDAHULUAN

Jawa Barat memiliki keragaman kultur dalam berbagai dimensi. Teknologi lokal, sistem nilai, kepercayaan, kerajinan, kesenian, bahasa dan sistem pertanian, yang seluruhnya beragam, merupakan varian penunjuk bahwa hal itu sangat eksis dan berkembang dengan baik. Misalnya, secara umum, masyarakat Jawa Barat dikenal dengan etnik Sunda dan berbahasa Sunda. Namun demikian, penciri utama bahasa Sunda tidak lantas memiliki keseragaman pada seluruh wilayah. Setiap wilayah, termasuk kabupaten dan kota memiliki kekhasan dalam jenis, perangkat bahasa, gaya dan tatalaku berbahasa. Sehingga kita memiliki sebutan atau pemilahan berbahsa kepada setiap wilayah. Misalnya, mengapa kita bisa mengatakan bahwa orang Bogor, Bekasi dan Depok cenderung disebut sebagai berbahasa Sunda “kasar” dibandingkan dengan bahasa Sunda yang digunakan orang-orang yang berasal dari Tasikmalaya, Sumedang dan Bandung. Karena, memang kita memiliki perbedan dalam gaya dan dialek yang khas. Seperti yang dikatakan oleh Arifin (Arifin 2016) dan Fadillah (Fadillah 2016), bahasa ibu orang Sunda adalah bahasa Sunda. Namun, karena secara geografis wilayah Sunda terdiri atas beberapa kabupaten dan kota, timbul pertanyaan berikut;

Bahasa Sunda seperti apa yang digunakan oleh masyarakat Sunda yang tinggal di daerah Priangan (Bandung, Cianjur, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis)?

Apakah wujud bahasa Sunda Dialek Priangan sama dengan bahasa Sunda Dialek non- Priangan, seperti Dialek Cirebon, Dialek Banten, dan dialek-dialek Sunda yang lain?

Demikian halnya dengan adat dan kepercayaan yang berkembang di kawasan Jawa Barat. Secara umum dan identitas kesukuan, orang Sunda diidentifikasi sebagai masyarakat beragama Islam. Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh orang Jawa Barat. Namun demikian tidak berarti bahwa di Jawa Barat tidak ada sistem

(9)

kepercayaan lain dengan ritualitas yang unik atau khas. Di Kabupaten Kuningan, dan Cimahi terdapat sistem kepercayaan Sunda Wiwitan yang berkembang dengan baik dan dipercayai oleh sejumlah anggota kelompok masyarakat. Di Kabupaten Sukabumi, Garut, Bogor dan beberapa wilayah lain terdapat sub-etnik dengan struktur masyarakat yang berbeda, sistem pertanian yang mengutamakan keseimbangan lingkungan, bahkan sistem kepercayaan yang khas yang berkembang dalam lingkungan mereka.

Seperti dijelaskan oleh Muttaqien (Muttaqien 2013), bahwa banyak kalangan masyarakat Indonesia tidak mengetahui agama lokal sebelum kedatangan agama

„resmi”, masuk ke Indonesia. Setiap daerah memiliki agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten; Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur Kuningan, Sunda Wiwitan di Cimahi serta beberapa penamaan lain pada beberapa wilayah.

Di samping itu, dalam masyarakat Sunda berkembang teknologi pengolahan makanan atau pangan yang bersumber dari keragaman hayati dan teknologi pertanian.

Jika di Korea kimchi menjadi daya tarik wisatawan untuk mencoba menyantap dan membuat secara langsung di pabrik pengolahan, Jawa Barat atau masyarakat Sunda tidak kalah dengan keanekaragaman pangan tersebut. Tengok saja bagaimana industri makanan lokal di Jawa Barat seperti gethuk, karedok, dan aneka pepes yang berbahan dasar lokal, adalah petunjuk adanya keanekaragaman cara pembuatan dan jenis makanan tersebut. Jenis makanan di Kota Bandung misalnya, terdapat 43 jenis makanan yang menjadi menu wajib di coba jika traveling ke kota Bandung, dari mulai seblak, tutug oncom, nasi kalong sampae aneka minuman, (Wisata 2017).

Demikian halnya dengan pengobatan tradisional yang menjadi warisan leluhur, telah berkembang dengan baik di Jawa Barat. Pengembangan obat-obat herbal berbasis tumbuhan atau tanaman pekarangan serta intervensi non-medik seperti pemijatan, pengurutan, serta rekonstruksi patah tulang, telah dikenal dengan baik di Jawa Barat. Juga demikian dengan pengobatan tradisional seperti terapi bekam yang sudah diakui di Jawa Barat. Jumlah klinik pengobatan alternatif ini telah mencapai 300 lembaga pengobatan yang telah berkembang dan tersertifikasi, (Djoyonegoro 2014). Di samping itu, ada pengobatan tradisonal untuk patah tulang dan persendian dengan yang teknik pemijatan turun temurun diserta pemberian obat herbal di Buahdua

(10)

Sumedang yang terkenal. Pasien berdatangan dari berbagai wilayah Jawa Barat, Sumatera dan lain-lain. Jika diperhatikan hampir setiap hari pasien berdatangan dan memenuhi ruang dan pusat pengobatan.

Keanekaragaman dan keunikan yang dimiliki sebuah etnik, merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan oleh industri pariwisata. Keunggulan pariwisata tidak harus selalu berbasis pada pemandangan alam dengan kelebihan lansekapnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa daya tarik kekayaan alam merupakan tujuan utama bagi para wisatawan untuk berkunjung. Namun demikian, keunikan budaya juga aspek lain yang dapat ditawarkan sebagai alternatif pengembangan pariwisata dan industrinya.

Tingginya angka kunjungan wisatawan ke Korea, Jepang, Thailand dan China, salah satu daya tariknya adalah kemampuan menawarkan keaneka-ragaman budaya sebagai destinasi para wisatawan. Sebagai contoh, ketika penulis melakukan kunjungan ke Korea dan Thailand, sacara terpaksa walaupun akhirnya menyenangkan, sebelum melakukan kunjungan ke tempat-tempat wisata sesuai agenda utama perjalanan, rombongan diajak untuk mengenal teknik pengobatan tradisional, obat-obatan tradisonal dan produksi makanan lokal yang terkenal dalam serial televisi Korea dan Jepang. Agenda tambahan tersebut bukan hal yang tidak direncanakan, tetapi sudah menjadi bagian yang diwajibkan oleh kementerian pariwisata masing-masing negara tersebut untuk melakukan kunjungan yang wajib dilakukan oleh para agensi lokal.

Perkawinan antara pengenalan budaya lokal secara empatetis melalui penjelasan oleh trevel guide yanga fasih berbahasa para pengunjung dengan kekayaan budaya lokal, melahirkan pemahaman yang mendalam. Bahwa wisatawan sebagai orang asing, memahami asal-usul, klasifikasi dan makna dari setiap kultur yang dikunjungi melalui perjalanan singkat. Kunjungan model empatetis dan partisipatoris tersebut memberikan pemahaman yang mendalam terhadap para wisatawan. Bahkan jika direnungkan, akan memberikan rasa apresiasi dan toleransi atas keragaman diantara pengunjung dengan yang dikunjungi. Model perjalanan wisata seperti ini disebut dengan Ethnotourism.

Menurut Miller dalam Vidal (Vidal 2012), Ethnoturisme adalah sebuah konsep yang menawarkan gagasan saling pemahaman antara pengunjung dengan yang dikunjungi. Selanjutnya, Bartholomey, dkk., (Bartholomew, et al. 2016), menggambarkan pertemuan identitas budaya, sebagai kondisi dimana setiap individu

(11)

menerima dan menghargai perbedaan dan kearifan lokal serta mengakui hak atas perbedaan. Orang yang memiliki identitas budaya yang kuat bersedia untuk menerima keberagaman budaya dan mampu untuk mengadakan kontak dengan budaya lain tanpa menghilangkan budayanya sendiri.

Melihat pada kekayaan budaya Sunda yang ada Jawa Barat serta pesatnya industri pariwisata di Jawa Barat, tawaran model Ethnotourism untuk saling mendekatkan diri antara pengunjung dengan masyarakat dan wilayah yang dikunjungi menjadi sangat strategis. Setidaknya ada dua hal yang dapat diperoleh dari pengembangan model tersebut. Pertama, lebih mendekatkan dan membangun loyalitas wisatawan ketika medapatkan pemahaman yang mendalam secara partisipatoris mengenai masyarakat Sunda khususnya dan masyarakat Jawa Barat pada umumya.

Kedua, memelihara keanekaragaman dan kaunikan masyarakat lokal melalui tawaran partisipatoris dan empatetis ketika melakukan kunjungan sehingga mampu menerima perbedaan kekayaan, keunikan, kepercayaan dan bahasa yang akan membangun keberlanjutan (sutainable) budaya lokal tersebut serta industri pariwisata itu sendiri.

Seperti dikatakan Wu (Wu 2000) bahwa; “The awareness of the relationship between the development of tourism and the development of local communities has been increasing, leading to growing efforts to bring about ‘sustainable tourism development’."

HASIL DAN PEMBAHASAN KONSEP ETHNOTOURISM

Pariwisata merupakan bagian dari upaya mempromosikan budaya, tradisi dan warisan masyarakat di suatu negara. Secara historis, pariwisata yang melibatkan aspek komunitas lokal telah menjadi salah satu industri pariwisata yang penting pada berbagai wilayah, (Polukhina 2018). Salah satu bentuk pariwisata yang berkembang adalah Ethnotourisme yang memiliki keberpihakan pada pemilik budaya, tradisi, dan alam serta lingkungan yang di jadikan tujuan wisata.

Ethnotourism terdiri dari dua konsep yakni etnografi dan tourisme, (Bajari 2018).

Etnografi sendiri menekankan pada pemahaman etnik secara mendalam, dialogis, dan empatik dimana pemahaman bahasa menjadi utama, (Bajari 2018). Biasanya Etnografi berkembang dalam dunia riset Antropologi, Sosiologi, dan Ilmu-ilmu sosial yang membahas tindakan manusia seperti komunikasi, (Bajari 2018). Di lain pihak “tourism

(12)

merupakan aktivitas perjalanan untuk mengetahui budaya, tradisi dan wariasn lain (alam dan lingkungannya) pada masyarakat lain. Pariwisata adalah sektor layanan yang mengutamakan pada keahlian yang menghasilkan dampak. Seperti yang dikatakan Bansal, dkk., (Bansal, Kansal and Walia 2018) bahwa “Tourism as a service sector helps people to develop a variety of skills and with its cross cutting impact on various sectors like agriculture, construction and handicrafts it creates millions of business and employment opportunities.” Di samping itu, dalam aktivitas pariwisata terdapat keterkaitan antara berbagai faktor, “… between three main dimensions of CBTI i.e. perception, cost and benefit across to dependent variables; i.e. economic contribution and overall development,”

(Bansal, Kansal and Walia 2018).

Model pariwisata budaya, atau Ethnotourism lebih mengutamakan pada upaya membangun pemahaman pengunjung terhadap masyarakat yang dikunjungi, pengelola serta dinamika masyarakat yang dikunjungi. Di samping itu, masyarakat yang dikunjungi berusaha menampilkan keunikan mereka untuk dipahami dan dimaknai. Perjalanan wisata menjadi komunikasi dialogis dan interaksi simbol yang membangun pemahaman dari kedua belah pihak.

Menurut Polukhina, (Polukhina 2018) dan Bolnick dalam Vidal (Vidal 2012) model pariwisata dialogis dan partisipatori dikenal dengan Ethnotourism. Dimana, dalam model seperti ini, peran atau keterlibatan masyarakat lokal dalam pariwisata dipelajari secara luas serta didefinisikan sebagai kegiatan yang berfokus pada karya-karya berbasis manusia daripada alam untuk memberikan wisatawan pemahaman tentang gaya hidup masyarakat lokal. Model pengembangan pariwisata seperti ini lebih menumbuhkan loyalitas dan keberkesanan pengunjung atau para traveler.

Selain itu, Ethnotourism menyediakan kegiatan pertukaran budaya dengan masyarakat setempat. Akibatnya, minat dan keterlibatan masyarakat lokal harus dipertimbangkan sebagai salah satu persyaratan penting untuk memastikan rencana pariwisata menjadi efektif dan sukses. Misalnya, di Kenya dan beberapa negara Afrika lainnya, keterlibatan masyarakat lokal dalam pariwisata berbasis margasatwa, menjadi sangat penting untuk meraih pariwisata berkelanjutan yang diinginkan (sustainable tourism), (Bolnick 2003). Ini mungkin menekankan bahwa pariwisata yang sukses dapat dicapai secara berkelanjutan melalui partisipasi masyarakat setempat. Pada dasarnya, industri pariwisata diakui sebagai industri penting bagi kesejahteraan ekonomi negara.

(13)

Pariwisata dapat memberikan keuntungan bagi wisatawan dalam hal pengetahuan, pengalaman dan kepuasan.

Menurut Bolnick (Bolnick 2003), Ethnotourism adalah "istilah sempit yang menggambarkan setiap perjalanan, yang berfokus pada karya manusia daripada alam, dan upaya untuk memberikan turis pemahaman tentang gaya hidup masyarakat lokal".

Dari evolusi dan spesialisasi wisata budaya, dan sebagai bagian utama dari wisata budaya, terdapat mode baru yang berorientasi pada pengetahuan tentang tradisi dan adat setempat, juga pengembangan kegiatan pertukaran budaya dengan penduduk asli di daerah yang dikunjungi

McSweeney dan Jokish, (McSweeney and Jokisch 2007) mencatat bahwa, Ethnotourism yang diterapkan secara efektif memiliki kecenderungan untuk memfasilitasi pertukaran budaya dan menyediakan sumber pendapatan dan kemakmuran yang berkelanjutan kepada masyarakat miskin. Selain bahwa, Ethnotourism memiliki dampak ekonomi dan budaya potensial pada wisatawan dan masyarakat lokal dalam konteks pemanduan, penyediaan sarana, transportasi, dan lain- lain.

Menurut konsorsium internasional, pariwisata Etnotourism juga telah didefinisikan secara formal dalam pertemuan nasional pariwisata etnis "Pengalaman dan Perspektif Pengembangan Wilayah Ethno Masyarakat Adat di Chili" (Chile, 2000).

Pertemuan itu menjelaskan bahwa Ethnotourism sebagai kegiatan wisata yang berpusat pada budaya etnis saat ini dan masa lalu, sebuah kelompok sosial yang berbeda dari nasional masyarakat, diekspresikan melalui manifestasi material dan spiritual yang meriah, dengan akar dan lokasi lebih disukai di daerah pedesaan.

Ethnotourism secara langsung berkaitan dengan revaluasi budaya klasik/kuno, sebagai cara untuk membangun hubungan dekat dengan budaya awal yang cara hidupnya sering berbeda secara dramatis dari masyarakat Barat. Hal ini adalah alternatif baru dalam pariwisata internasional, yang meskipun masih belum terlalu dijelajahi.

Sangat menarik untuk tingkat interaksi yang didapatkan pengunjung dengan kelompok yang dikunjungi, serta berkomunikasi dengan mereka dan berbagi pengalaman hidup.

Konsep Ethnotourism dalam ilmu pegetahuan dan riset ilmiah relatif masih baru;

dengan demikian, pendekatan metodologis terperinci masih dalam tahap pengembangan. Sebagian besar kajian dan pembelajaran Ethnotourisme merujuk pada

(14)

deskripsi praktis tentang wisata budaya saja. Ethnotourism didasarkan pada minat yang dimiliki wisatawan dalam kehidupan otentik masyarakat, tradisi, kerusuhan, kerajinan dan budaya mereka. Dalam dunia kontemporer, seseorang mencari jati diri, mencoba menemukan dan mempelajari asal etnisnya agar merasa agak istimewa, memiliki sejarah panjang dan tradisi budaya pribadi. Kesadaran akan budaya lain dan fitur etnis memungkinkan kita untuk membuat pemahaman yang lebih baik, lebih jelas tentang dunia beragam orang dan bangsa, yang semuanya unik dalam identitas mereka masing- masing. Ethnotourism mempromosikan hubungan yang lebih erat antara perwakilan masyarakat, baik pengunjung dan penduduk, dan memfasilitasi masukan dari budaya mereka dalam warisan budaya dunia yang cenderung tergerus globalisasi.

Ethnotourism adalah perjalanan yang berfokus pada eksplorasi etnik asli dan budaya serta tradisi masing-masing. Ethnotourism biasanya mencari tahu lebih banyak tentang penduduk asli dan mata pencaharian mereka. Meskipun keaslian adalah kuncinya, semakin banyak wisatawan etnik yang datang untuk selalu mencari hal-hal seperti dan perlahan-lahan memperhitungkan keasliannya. Hal ini disebabkan, industri pariwisata sudah sangat eksploitatif, dan para pengunjung yang mencari pengalaman etnis asli, seringkali secara tidak sengaja lokasi wisata menjadi kurang asli. Ketika masyarakat adat menyadari peluang keuangan yang dapat diperoleh dari wisatawan, acara dan tradisi menjadi lebih koreografis, manipulatif dan artifisial. Bahkan makanan yang tersajipun menjadi instant disajikan dan disantap. Hali itu, semua dilakukan karena beorientasi pada kepuasan pengunjung yang datang yang telah membelanjakan uang mereka.

Menurut Guevara dalam Ethnotourism.org (Ethnotourism.org 2017), Ethnotourism merupakan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan perjalanan, di mana wisatawan berpartisipasi secara aktif dan terlibat pada sebuah ¨ jalur¨ yang mengartikulasikan elemen nilai sejarah budaya, keyakinan dan kegiatan sehari-hari yang mewakili mereka. Dalam upaya tersebut, terdapat sebuah kemauan untuk menciptakan suasana komunikasi yang lebih dialogis diantara pengunjung dan yang dikunjungi. Wisatawan tidak perlu canggung untuk bertanya dan lebih aktif mengeksplorasi kekayaan budaya dan keluasan filosofis dari orang dikunjungi. Sementara masyarakat yang dikunjungi juga memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan apa yang mereka miliki.

(15)

Pengembangan Ethnoturism, berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan.

Bahkan dapat juga disusun proposisi bahwa Ethnotourism merupakan strategi pembanguna wisata berkelanjuta. Tujuan Ethnotourism menjadi bagian bagian ari pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, yakni:

1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuknya di mana-mana

2. Menghentikan kelaparan, capai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik, dan promosikan pertanian berkelanjutan

3. Memastikan kehidupan yang sehat dan promosikan kesejahteraan untuk semua usia di segala usia

4. Memastikan pendidikan berkualitas inklusif dan adil dan mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua

5. Menupayakan kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan

6. Memastikan ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua

7. Memastikan akses ke energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua

8. Mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif dan berkelanjutan, pekerjaan penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak untuk semua

9. Membangun infrastruktur tangguh, promosikan industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan, dan bina inovasi

10. Mengurangi ketimpangan withing dan antar negara

11. Memnjadikan kota dan permukiman manusia inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan

12. Memastikan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan

13. Mengambil tindakan segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya

*

14. Konservasi dan pemanfaatan sumber daya laut, laut, dan laut secara berkelanjutan untuk pembangunan berkelanjutan

15. Melindungi, memulihkan, dan mempromosikan penggunaan ekosistem terestrial yang berkelanjutan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi

(16)

penggurunan, dan menghentikan serta membalikkan degradasi lahan dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati

16. Mempromosikan masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses keadilan bagi semua dan membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua tingkatan

17. Memperkuat cara implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan

Memahami Pengetahuan Lokal dan Tatacara Tradisional dalam Ethnoturism

Kekuatan utama membangun Ethnoturism adalah kesediaan masyarakat lokal berbagi, memahami keunikan, kelemahan dan kekuatan mereka, serta mampu mengartikulasikan ke dalam bahasa yang mudah dipahami. Komunikasi menjadi penting dalam membangun Ethnoturism karena semua bisa bertemu dan saling memahami pada saat even komunikasi terjadi. Namun tentu saja, sebelum even komunikasi berlangsung literasi masyarakat lokal tentang sumber dan jenis pengetahuan tradisional (PT) dan tata laksana lokal yang mereka miliki harus dipahami dahulu.

Pengetahuan tradisional (PT) atau juga dikenal sebagai pengetahuan ekologi lokal (PEL) melibatkan keterlibatan masyarakat setempat. Pengetahuan tradisional didefinisikan sebagai pengetahuan serta kepercayaan tentang hubungan makhluk hidup satu sama lain atau dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan ini juga diakui sebagai pengetahuan yang diwarisi dari generasi ke generasi di mana pengetahuan tersebut mencakup pengetahuan tradisional tentang hutan, komponen-komponen, ekologi, dan margasatwa (Bartholomew, et al. 2016).

Pengetahuan tradisional biasanya diberikan secara lisan kepada generasi muda atau dipelajari dari para tetua. Masyarakat adat sangat dikenal sebagai komunitas dengan pengetahuan tradisional mereka sendiri dalam banyak aspek. Misalnya orang Sunda dalam balajar bahasa, teknik bercocok tanaman, dan berbagai aturan yang berlaku dalam masyarakat Sunda, secara umum mereka peroleh pengetahuan itu melalui banyak cara, seperti observasi, imitasi, belajar dari mentor tertentu (tokoh lokal) dan yang paling penting adalah melalui pengalaman langsung yang biasanya diperoleh ketika terlibat dalam upacara adat, pesta perkawinan, ritual agama dan kepercayaan serta saat bergerak masuk dan keluar dari hutan, (Bartholomew, et al. 2016). Contoh

(17)

dari pengetahuan tradisional asli adalah pengetahuan tentang memanen dan mengumpulkan sumber daya hutan, bertahan hidup saat masuk dan keluar dari hutan, melakukan kegiatan ekonomi seperti membuat kerajinan tangan, melakukan perburuan tradisional satwa liar, menggunakan berbagai jenis sumber daya hutan sebagai obat dan pengetahuan di alam semesta.

Ada banyak jenis sumber daya hutan yang penting bagi mata pencaharian masyarakat adat yang telah dicatat terkait dengan pengetahuan tradisional mereka.

Sumber daya terdiri dari berbagai jenis tanaman dan hewan yang secara historis digunakan sebagai makanan, obat-obatan, hewan peliharaan, tanaman hias, dan peralatan. Idealnya, penting untuk melestarikan pengetahuan tradisional masyarakat adat dan mendokumentasikan pengetahuan tradisional mereka dengan benar sebagai catatan untuk penggunaan dan manfaat di masa depan.

Pengetahuan tradisional sangat penting untuk penggunaan perencanaan masa depan dari setiap kegiatan pembangunan karena, pengetahuan tradisional yang dipelajari dapat diekstrapolasi sehingga dapat bermanfaat bagi generasi saat ini (Lohani 2008). Melalui pelestarian pengetahuan tradisional, budaya dan warisan pengetahuan asli dapat dipertahankan dan dilestarikan dengan baik. Ini dapat dicapai ketika ada transfer pengetahuan yang terus-menerus dari yang lebih tua ke generasi muda.

Pewarisan teknologi dan nilai menjadi mata rantai penting dalam pemeliharaan pengetahuan tradisional. Mengembalikan peran dari tokoh dan aktor sosial yang memiliki wawasan pengetahuan tradisional yang kuat adalah upaya penting. Mereka menguasai dan memahami asal-usul pengetahuan tersebut.

Penggunaan sumber daya alam sebagai makanan dan obat-obatan adalah bagian dari pengetahuan ekologi tradisional masyarakat adat. Pengetahuan tradisional dipraktikkan dengan baik untuk memastikan keberlanjutan mata pencaharian mereka.

Seperti yang dikatakan Azliza tentang Temuan Suku Asli yang memiliki pengetahuan yang menarik tentang pengobatan tradisional yang menggunakan 47 spesies tanaman, dan 12 spesies hewan (Azliza 2012). Mereka menggunakan sumber daya alam untuk mengobati berbagai jenis penyakit seperti diabetes, hipertensi, asma dan pilek. Selain itu, pengetahuan tradisional masyarakat adat juga mencakup praktik, kepercayaan, dan budaya mereka. Mereka telah mempraktikkan budaya mereka yang diwariskan dari leluhur mereka sampai hari ini di mana praktik-praktik tersebut mencerminkan identitas

(18)

asli mereka sebagai masyarakat asli. (Ramle, et al. 2014).Demikian halnya tabu atau kepercayaan dalam masyarakat Sunda untuk keluar atau bepergian pada hari-hari tertentu dan larangan bagi anak perempuan untuk menyantap makanan tertentu saat mereka hamil adalah sebuah kekayaan lokal dan pengetahuan tradional yang harus digali.

Masyarakat Sunda juga sangat percaya pada ruh-ruh halus yang memberi perintah kepada mereka dan manusia “super” yang bertanggung jawab melindungi semua sumber daya di hutan. Semua tabu harus dipatuhi, sehingga mereka tidak memprovokasi roh untuk mencegah bencana yang tidak terduga. Bahkan dalam dunia pengobatan ruhaniah juga berkembang kepercayaan untuk pergi ke dukun dan mempercayai jimat atau “ajian sebagai bagian dari kehidupan yang banyak dipercayai.

MEMAHAMI MASYARAKAT SUNDA

Pemahaman mendalam terhadap kultur, karakter manusia dan lingkungan dari para pengunjung atau wisatawan dengan partisipatoris, mendalam dan keterbukaan pada keunikan mereka, adalah ciri utama dari Ethnotourism. Demikian halnya dengan pengembangan pariwisata di Jawa Barat, memahami masyarakat Sunda melalui perjalanan wisata, itu adalah salah satu upaya membangun Ethnotourism yang berkelanjutan. Di samping mengenal alam parahyangan dengan keragaman dan kekayaan yang dimiliki, berusaha mengenalkan dan mendapatkan makna dari masyarakat Sunda dan interaksinya dengan keindahan alam tersebut perjalanan wisata etnografi.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan ketika melakukan perjalanan wisata etnografi pada masyarakat Jawa Barat, ditunjukkan oleh beberapa penelitian, misalnya oleh Indrawardana. Karakteristik masyakarat Sunda dengan budaya dan lingkungannya menurut Indrawardana (Indrawardana 2012), sebagai berikut:

1. Orang Sunda atau Jawa Barat dekat dengan alam, seperti pegunungan. Keterikatan masyarakat Sunda dengan alam seringkali diposisikan sebagai “seolah tunduk”

terhadap alam. Namun masyarakat Sunda yang nota bene umumnya petani telah menyesuaikan diri dengan alam yang membentuk mentalitas manusia Sunda (para petani masa lalu).

(19)

2. Orang Sunda, terutama yang hidup di pegunungan memiliki kepercayaan yang mendalam sehingga membentuk aturan yang disusun dalam mitos. Secara empirik lingkungan tempat tinggal dibagi dalam batasan lingkungan alam: (1) disucikan yang disebut dengan kabuyutan, (2) lahan yang boleh digarap atau dimanfaatkan untuk kehidupan namun tidak boleh ditinggali, misalnya lahan huma (3) wilayah yang diperbolehkan untuk mendirikan tempat tinggal.

3. Sehubungan dengan hutan atau leuweung, orang Sunda membagi hutan menjadi Leuweung Kolot dan Leuweung Geledegan, Leuweung Sampalan dan Leuweung Titipan.

Leuweung Geledegan yaitu hutan yang lebat yang masih ditumbuhi oleh pohon- pohon besar dan kecil yang tua. Leuweung Sampalan adalah jenis hutan yang dapat dieksploitasi manusia secara luas. Leuweung Titipana dalah hutan yang diakui oleh semua warga adat kasepuhan sebagai hutan kramat.

4. Adat Sunda memiliki ruang tradisi yang dikaitkan dengan dengan jagat alit (mikro kosmos) dan jagat ageung (makro kosmos).

Nilai-nilai kearifan lokal yang ada pada masyarakat Sunda, menurut Sukmayadi (Sukmayadi 2016), tercermin dalam :

a. Kesenian yang menunjukkan karakter lembut, teratur, efisiensi, dan disiplin.

b. Pepatah Sunda yang menunjukkan karakter saling menyayangi, saling menjaga, dan saling mengajari.

c. Pandangan hidup masyarakat yang meliputi bagian-bagian pribadi, hubungan manusi dengan manusia/masyarakat, hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dan religiusitas dan manusia dengan alam.

SIMPULAN

Industri pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki konstribusi terhadap peningkatan kesejahteraan dan masyarakat. Kawasan wisata memiliki peluang untuk memberikan nilai ekonomi terhadap penduduk sekitarnya. Namun demikian, bagi industri pariwisata yang berelanjutan yang memberikan nilai tambah ekonomi kepada penduduk dalam jangka yang panjang, tentu harus ada upaya merawat, memelihara dan menggali kebaruan yang menjaga keberlangsungan kawasan wisata tersebut. Misalnya, nilai-nilai keunikan dan kelebihan budaya, kawasan dan warisan yang ada diharapkan tetap lestari demi keberlanjutan tersebut.

(20)

Demi mendukung upaya demikian, pariwisata yang menekankan pada hubungan baik dan saling memahami, maka Ethnotourism merupakan salah satu upaya merealisasikan visi tersebut. Sebuah pendekatan pengembangan industri wisata berbasiskan pelestarian, dialogis, penguatan nilai-nilai lokal, kelangengan dalam aspek keunikan dan diferensiasi serta keberpihakan pada masyarakat untuk lebih sejahtera.

BIBLIOGRAPHY

Arifin, Zaenal. 2016. "Bahasa Sunda Dialek Priangan." Pujangga 2 (1): 1-44.

Azliza, M.A, Ong, H.C., Vikineswary, S, Noorlidah, A. and Haron, N.W. 2012. "Ethno- medicinal Resources Used by the Temuan in Ulu Kuang Village." . Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine. 6: 17-22.

Bajari, Atwar. 2018. "Model Etnoekologi Dan Etnografi Komunikasi Konstruksi Metodologis Interaksi Manusia Dengan Lingkungan." In Etnometodologi Komunikasi, by Yenrizal Tarmizi, Agus Rakhmat, Atwar Bajari and Johan Iskandar, 263-287. Yogyakarta: Phoenix.

Bansal, Sp, Purva Kansal, and Sandeep Walia. 2018. "Sustainable Developmental Implications of Community Based Tourism Initiatives In Himachal: An Empirical Study." Journal of Tourism XIX (1): 59-70.

Bartholomew, Candyrilla Vera, Mohd Tajuddin Abdullah, Ramle Abdullah, and Gopalasamy Reuben Clements. 2016. "Ethno-Tourism: A Review On Natural Resources Use Pattern By Indigenous Community In Peninsular Malaysia." In ECOTOURISMS POTENTIALS IN MALAYSIA. Terengganu: University Malaysia Terengganu.

Bolnick. 2003. Effectiveness and Economic Impact of Tax Incentives in the Southern Africa Development Community (SADC) Region. Botswana: MSI Group to the SADC Tax Subcommittee. https://agoradigest.com/ethno-tourism-should-be-encouraged- to-what-extent-do-you-agree-with-this-claim/.

Djoyonegoro, Ngadiman. 2014. 300 Terapis Bekam di Jabar Telah Bersertifikat. March Saturday.

https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2014/03/27/18975/300- terapis-bekam-di-jabar-telah-bersertifikat.html.

Ethnotourism.org. 2017. Essay. http://Ethnotourism.org/en/Ethnotourism/.

Fadillah, Efi. 2016. "Bahasa Sunda Dan Penggunaannya Dalam Interaksi Jual Beli Di Pasar Sindang Kabupaten Cirebon." SASDAYA, Gadjah Mada Journal of Humanitie 1 (1): 71-86.

(21)

Indrawardana, Ira. 2012. "Kearifan Lokal Adat Masyarakat Sunda Dalam Hubungan Dengan Lingkungan Alam." Komunitas 4 (1): 1-8.

https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas.

Lohani, U., Rajbhandari, K. and Shakuntala, K. 2008. "(2008). Need for Systematic Ethnozoological Studies in the Conservation of Ancient Knowledge Systems of Nepal - A review." Indian Journal of Traditional Knowledge 7 (1): 634-637.

McSweeney, K., and B. Jokisch. 2007. "Beyond Rainforests: Indigenous Urbanization and Emigration among Lowland Indigenous Societies in Latin America." Bulletin of Latin American Research 26 (2): 159-180. https://agoradigest.com/ethno- tourism-should-be-encouraged-to-what-extent-do-you-agree-with-this-claim/.

Muttaqien, Ahmad. 2013. "Spiritualitas Agama Lokal (Studi Ajaran Sunda Wiwitan Aliran Madrais Di Cigugur Kuningan Jawabarat)." Al-AdYaN VIII (1): 89-102.

Polukhina, Anna N. 2018. "Ethno-tourism in Russian Regions: Challenges and Prospects for Development." Athens Journal of Tourism 5 (3). doi: doi=10.30958/ajt.5-3-3 . Ramle, A., I. Asmawi, A.S. Mohamad Hafis, R. Nur Hafizah, and M.R. Mohd Sukhairi.

2014. "Pemuliharaan Hutan Dalam Kalangan Masyarakat Semaq Beri di Negeri Terengganu, Malaysia." Malaysian Journal of Society and Spaces 10: 113-124.

Sukmayadi, Trisna. 2016. "Kajian Tentang Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Pada Masyarakat Adat Kampung Kuta Kecamatan Tambaksari Kabupaten

Ciamis." Jurnal Civics 13 (1).

https://journal.uny.ac.id/index.php/civics/article/download/11079/pdf.

Vidal, Yuliza Curvelo. 2012. Ethno-Ecotourism: A Sustainable Development Tool To Construct Governance With The Wayuu People In La Guajira, Colombia. Wahington:

School of Marine and Environmental Affairs University of Washington.

Wisata, Aneka. 2017. Aneka Wisata. April. https://www.anekawisata.com/makanan- enak-khas-bandung-yang-paling-hits-dan-terkenal.html.

Wu, Xiaoping. 2000. "Ethnic Tourism -- A Helicopter from "Huge Graveyard" to Paradise? Social impacts of ethnic tourism development on the minority communities in Guizhou Province, Southwest China." Hmong Studies Journal 3: 1- 33.

(22)

ECOTOURISM : PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN DESTINASI BERKELANJUTAN

Eka Susanto

Program Studi , Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran E-mail :

PENDAHULUAN Pengertian Ecotourism

Ecotourism merupakan sebuah konsep pendekatan pariwisata yang sudah lama diterapkan dalam mengembangkan kegiatan pariwisata dan masih sangat relevan digunakan untuk mengembangkan pariwisata di area-area konservasi atau area-area yang memiliki keunikan tersendiri. Menurut Fennel (1999) ecotourism adalah sebagai kegiatan perjalanan ke kawasan alami yang relatif tidak atau belum terganggu dan memiliki tujuan khusus, seperti mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, binatang dan tumbuhan liarnya, serta manisfestasi terhadap budaya yang ada (baik masa lampau maupun masa kini) yang ditemukan dikawasan tersebut. Dengan demikian pengertian tersebut menjelaskan bahwa kegiatan ecotourism merupakan sebuah kegiatan atau perjalanan wisata ke suatu kawasan atau area yang masih alami dan relatif belum terganggu seperti area terpencil atau kawasan konservasi dengan tujuan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman tentang keunikan yang dimiliki area tersebut.

Selain itu, Fennel dalam Dowling and Page (2002) lebih luas menjelaskan bahwa:

Ecotourism is a sustainable form of natural resource-based tourist that focuses primarily on experiencing and learning about nature, and which is ethnically managed to be low impact, non-consumptive, and locally oriented (control, benefits, profits, and scale).

It typically occurs in natural areas, and should contribute to the conservation or preservation of such areas.

Pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa ecotourism merupakan sebuah pendekatan pengembangan pariwisata yang bertanggungjawab terhadap lingkungan, selain itu pendekatan ecotourism juga secara langsung maupun tidak langsung akan aktif melakukan konservasi terhadap ekosistem. Ecotourism juga merupakan kegiatan wisata yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian sumber daya pariwisata. Hal tersebut dijelaskan oleh Masyarakat Ecotourism Internasional (TIES) yang

(23)

mendefinisikan ecotourism sebagai “responsible travel to natural areas that conserves the environment and improves the well-being of local people” atau perjalanan wisata alam yang bertanggung jawab dengan cara mengkonservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal (TIES, 2000).

TIES (2000) mengidentifikasikan prinsip-prinsip ecotourism sebagai berikut:

1. Mengurangi dampak negatif berupa kerusakan atau pencemaran lingkungan dan budaya lokal akibat kegiatan wisata

2. Membangun kesadaran dan pengharagaan atas lingkungan dan budaya dalam destinasi wisata, baik pada diri wisatawan, masyarakat lokal, maupun pelaku wisata lainnya

3. Menawarkan pengalaman-pengalaman positif bagi wisatawan maupun masyarakat lokal, melalui kontak budaya yang lebih intensif dan kerjasama dalam pemeliharaan atau konservasi ODTW

4. Memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi keperluan konservasi melalui kontribusi atau pengeluaran ekstra wisatawan

5. Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat lokal, dengan menciptakan produk wisata yang mengedepankan nilai-nilai lokal 6. Meningkatkan kepekaan terhadap situasi sosial, lingkungan dan politik di

daerah tujuan wisata

7. Menghormati hak asasi manusia dan perjanjian kerja, dalam arti memberikan kebebasan kepada wisatawan dan masyarakat lokal untuk menikmati atraksi wisata

Beberapa pengertian yang telah dijelaskan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ecotourism adalah pendekatan pariwisata yang cenderung lebih menaruh perhatian kepada lingkungan dan ekosistemnya. Ecotourism akan memberikan kontribusi dalam menjaga ekosistem (flora, fauna dan habiatatnya) dan secara langsung memberikan kontribusi kepada kegiatan konservasi maupun secara tidak langsung memberikan pendapatan yang cukup bagi masyarakat setempat untuk menghargai dan kemudian melindungi kawasan liar sebagai sebuah sumber daya pariwisata.

(24)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Konsep Pengembangan Ecotourism

Konsep pengembangan ecotourism mencakupi produk ecotourism, pengelolaan dan pasar ecotourism.

1. Produk Ecotourism

Pengembangan produk ecotourism perlu dilakukan terhadap seluruh komponen produk. Secara umum produk wisata merupakan suatu bentukan yang nyata dan tidak nyata, dikemas dalam suatu kesatuan rangkaian perjalanan yang hanya dapat dinikmati, apabila seluruh rangkaian perjalanan tersebut dapat memberikan pengalaman yang baik bagi orang yang melakukan perjalanan tersebut (Inskeep, 1991).

Produk ecotourism merupakan suatu produk wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya tetapi juga mempunyai tujuan yang lebih spesifik seperti penelitian, menikamati keindahan dan melestarikan flora dan fauna, dan dapat memberikan edukasi bagi wisatawan terhadap ekosistem lingkungan yang ada di suatu kawasan. Hal tersebut dijelaskan oleh Boo (1991) “Nature of ecotourism is that consist in travelling to relatively understurb of contaminated nature area with specific objective of studying, admiring, enjoying and it plants, animal as well as any existing cultural manifestation(both past and present) found these areas”.

Sementara itu, menurut Beeton (1998); Dowling and Page (2002) karakter produk ecotourism harus memiliki:

a. Nature based

“Nature based refers to both the flora and fauna of an area, and can be associated with environments that have been modified by man”. Berdasarkan teori tersebut menjelaskan bahwa karakter produk ecotourism harus terdapat daya tarik berbasis alam yang dalam pengembangan ecotourism akan lebih cenderung kepada flora, fauna dan ekosistem lingkungan yang harus dikelola dan dikembangkan dalam pengembangan produk ecotourism.

b. Education and Interpretation

“…with the increase interest in nature-based documentaries on television and in the other parts of the media, as well as a shift in education towards the environment, many people are becoming more socially and environmentally aware”. Kegiatan

(25)

ecotourism harus dapat memberikan suatu pengetahuan tentang alam dan ekosistemnya kepada wisatawan dengan begitu diharapkan akanmenumbuhkan kepedulian wisatawan terhadap kelestarian lingkungan.

c. Sustainable Management

“Sustainable management means managing the physical stresses on the environment, such as number of people and the way they behave, by introducing minimal impact techniques of waste disposal and minimization, and minimization of energy use”. Pengelolaan yang berkelanjutan mencakup semua aspek yang harus ada dalam setiap pengembangan pariwisata tidak terkecuali dengan pengembangan ecotourism. Hal tersebut bertujuan mampu mengoptimalkan sumber daya dan mengurangi semaksimal mungkin kerusakan lingkungan.

d. Ecologically sustainable

Semua kegiatan pariwisata harus berkelanjutan secara sosial budaya, ekonomi dan lingkungan.

e. Environmentally educative

Karakteristik edukatif dari ecotourism merupakan elemen utama yang membedakannya dengan nature-based tourism. Edukasi lingkungan dan interpretasi adalah alat yang sangat penting dalam membuat sebuah pengalaman ecotourism dapat dinikmati dan memberikan nilai manfaat.

f. Locally benefiticial

Keterlibatan masyarakat lokal tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan.

g. Tourist satisfaction

Kepuasan pengunjung dalam perjalanan jangka panjang industri ecotourism.

Dalam pengembangan Ecotourism, diperlukan adanya pengembangan fasilitas dan aktifitas wisata yang sesuai dengan karakteristik produk ecotourism itu sendiri.

Sedangkan menurut Honey (1999) The real ecotourism harus memenuhi tujuh karakter produk ecotourism sebagai berikut:

1) Involves travel to natural destinations 2) Minizes impact

3) Build environmental awareness

4) Provides direct financial benefits for conservation

(26)

5) Provides financial benefits and empowerment for local people 6) Respects local culture

7) Supports human rights and democratic movements

Berdasarkan karakter yang telah dijelaskan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengelola dalam mengembangkan produk ecotourism harus memperhatikan keberlangsungan dan keseimbangan ekosistem lingkungan. Sementara itu, kegiatan ecotourism merupakan suatu sarana untuk memberikan edukasi bagi wisatawan serta memperhatikan kepentingan masyarakat dan budaya setempat.

Menurut Bovy (1998;5) “Tourism product are an amalgam of resources, facilities/amenities/services and accessibilities”. Berdasarkan teori tersebut, terdapat tiga elemen yang membentuk sebuah produk wisata yaitu daya tarik, aksesibilitas, fasilitas/ amenitas. Adapun penjelasan produk ecotourism adalah sebagai berikut:

a. Atraksi Wisata

Atraksi wisata merupakan dasar bagi kepariwisataan. Tanpa adanya suatu atraksi di suatu area/daerah tertentu, kepariwisataan sulit untuk berkembang (Inskeep, 1991). Masih menurut Inskeep (1991) menjelaskan bahwa daya tarik wisata yang dimiliki oleh suatu atrakdi merupakan dasar pengembangan pariwisata dan merupakan elemen penting dari produk wisata. Daya tarik wisata atau atraksi dibedakan menjadi tiga kategori yaitu:

1) Atraksi Alam

Yang dimaksud dengan atraksi alam merupakan daya tarik yang berbasis pada bentuk-bentuk lingkungan yang bersifat alami seperti iklim, pantai, gunung, marine area, flora dan fauna, area konservasi, scenic beauty, dan special environmental features.

Berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa daya tarik yang dapat ditawarkan dalam pendekatan ecotourism adalah cenderung kepada alam dengan spesifik objek seperti flora dan fauna dan mempelajari ekosistem lingkungan dan kebudayaan setempat.

Adapun aktivitas wisata yang dapat dilakukan berdasarkan daerah tujuan wisata dan sesuai dengan konsep ecotourism antara lain penelitian, trekking, menikmati pemandangan, berkemah, memahami flora dan fauna, mengkonservasi, memahami budaya setempat dan lain lain.

(27)

2) Atraksi budaya

Berdasarkan kepada man activities seperti mengunjungi tempat-tempat bersejarah, mempelajari kebudayaan dan seni, aktivitas masyarakat desa (wisata desa), kerajinan tangan, festival budaya, museum, archeology, historical and culture sites dan lain-lain.

3) atraksi buatan manusia

Merupakan sesuatu yang sengaja dibuat oleh manusia untuk kegiatan wisata seperti hotel atau resort yang berklasifikasi green hotels, tempat-tempat untuk memproses bahan bekas (daur ulang), alat transportasi yang ramah lingkungan dan lain-lain.

b. Amenitas

Di dalam pengembangan ecotourism jenis fasilitas yang disediakan, harus sesuai dengan karakteristik ecotourism, di mana dalam membangun fasilitas-fasilitas wisata, kualitas lingkungan harus menjadi pertimbangan utama. Salah satu cara untuk tetap menjaga kualitas lingkungan dengan cara membuat peraturan mengenai desain fasilitasnya seperti pembangunan fasilitas tidak boleh permanen, bahan-bahan dasar harus ramah lingkungan, arsitektur disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat. Berikut ini beberapa contoh fasilitas yang sesuai untuk digunakan dalam kegiatan ecotourism menurut Beeton (1998); Inskeep (1991):

1). Eco-resort

2). Purpose-built campsites 3). Guest houses

4). Backpacker hostels

5). Education, Information, and Interpretations centre 6). Sanctuaries

7). Outdoor museum providing natural as well as cultural heritage 8). Look out post

9). Post security 10). Treking

11). Medical centre 12). Shelter

c. Aksesibilitas

Pada umumnya, pengembangan kepariwisataan memiliki hubungan linear dengan aksesibilitas. Aksesibilitas atau keterjangkauan yang tinggi akan

(28)

meningkatkan perkembangan suatu ODTW. Aksesibilitas berkaitan dengan sarana transportasi. Tersedianya alat transportasi yang cukup dan beragam menjamin keselamatan sangat membantu kelancaran perjalanan wisatawan. Hal yang sangat penting dalam alat transportasi ini adalah jaminan keselamatan.

Kondisi dan keadaan akses juga sangat mendukung bagaimana tahap dan proses yang akan dilakukan dalam upaya pengembangan ODTW. Kebanyakan wisatawan menjadikan aksesibilitas sebagai halangan utama mereka untuk berwisata, kondisi jalan yang baik akan menjadi pertimbangan untuk datang.

Berbagai jenis aksesibilitas yang penting fungsinya antara lain adalah jaringan jalan (jalan raya, jalan akses dan jalan setapak), moda transportasi, rambu-rambu jalan dan kemudahan informasi.

Kemudahan pencapaian objek, yang ditandai dengan akses yang baik merupakan elemen penting dalam pengembangan suatu produk wisata. Ketersediaan infrastruktur dasar seperti jalan, moda transportasi serta sistem transportasi yang jelas, dapat memberikan pengaruh terhadap motivasi pasar dalam melakukan perjalanan wisata. Dalam pengembangan produk ecotourism, Beeton (1998) mengungkapkan bahwa rute, bentukan jalan maupun moda transportasi internal harus disesuaikan dengan karakteristik produk tersebut. Di Indonesia moda transportasi yang dapat digunakan seperti sepeda, becak, perahu, rakit, kuda, dan moda transportasi tradisional yang disesuaikan dengan karakter produk, medannya dan yang paling penting ramah lingkungan. Salah satu contoh seperti di Taman Nasional Bromo-Tengger yang menggunakan kuda dan jenis mobil 4WD untuk moda transportasinya. Hal ini perlu dilakukan dalam upaya untuk meminimalisasi dampak yang mungkin akan ditimbulkan terhadap produk itu sendiri.

2. Pengelolaan Ecotourism

Dalam pengembangan ecotourism memerlukan suatu pengelolaan yang optimal sehingga kerusakan ekosistem lingkungan dapat sekecil mungkin dihindari.

Beberapa teknik yang dapat diterapkan dalam pengelolaan ecotourism diantaranya adalah:

a. Zonasi

(29)

Pengertian zonasi adalah membagi area dalam suatu tapak ke dalam beberapa zona/area yang sesuai dari suatu tata guna lahan (Hainim, dalam Marsongko, 2000). Fungsinya untuk menghindari konflik masing-masing aktivitas dan fasilitas, pertimbangan daya dukung lahan, mengoptimalkan penggunaan suatu lahan dan meyakinkan bahwa pengembangan telah dilakukan secara terencana.

Banyak sekali konsep zonasi yang dapat digunakan dalam perencanaan, jenis-jenis zonasi yang umum digunakan dalam pengembangan daerah liar atau kawasan lindung (McKinnon,1992 dalam Marsongko, 2000):

1) Santuary Zone

Zona di mana pengunjung sama sekali tidak diijinkan masuk, kecuali bagi petugas atau peneliti dengan jumlah yang sangat terbatas. Fasilitas yang mungkin terdapat dalam zona ini hanya fasilitas penunjang pengelolaan dan penelitian, misalnya pemadam kebakaran dan alat-alat monitor bagi keperluan pengawasan.

2) Wilderness Zone

Jumlah pengunjung yang sangat terbatas masih diperbolehkan, tetapi tujuan utama dari pengelolaan adalah mempertahankan keadaan alam tanpa ada gangguan, atau mengutamakan keseimbangan alam atau menginginkan keadaan alam seperti apa adanya.

Kegiatan rekreasi dibatasi, misalnya hanya dengan menyediakan jalan setapak yang sangat alami dan kadang-kadang lahan atau lokasi perkemahannya sangat sederhana.

3) Semi intensive Visitor Use Zone

Pada zona ini pihak pengelola akan memperhatikan kebutuhan pengunjung dengan memberikan kesempatan yang optimum dalam melihat atau menikmati keindahan alam atau mempelajarinya. Fasilitas seperti jalan setapak, tempat berteduh, atau bentuk bangunan fisik lainnya tetap dibatasi, aspek alami tetap merupakan tujuan utama.

4) Wildlife Management Zone

Pada zona ini pihak pengelola mungkin melakukan manipulasi terhadap kondisi alami yang ada, misalnya memagari area tertentu dengan alasan melindungi area tersebut dari gangguan, membersihkan air dari rumput air untuk melindungi ikan, dan lain-lain.

(30)

5) Intensive Use Zone

Merupakan zona rekreasi intensif, termasuk penyediaan fasilitas pelayanan bagi pengunjung. Zona ini relatif lebih kecil atau sempit dibanding zona-zona lainnya dan akan terbagi kepada sub-sub zona tergantung dari kebutuhan dan fungsi, seperti:

a) Special Use Zone

Pada zona ini terdapat bangunan pengelola, area pelayanan, tempat parker, kegiatan rekreasi pengunjung cukup tinggi, fasilitas wisata lainnya seperti perkemahan dan lain-lain.

b) Recovery Zone

Suatu zona yang ditentukan secara khusus untuk memulihkan keadaan tertentu ke kondisi aslinya. Misalnya suatu daerah yang rusak karena kegiatan industry perkayuan dan lain-lain.

c) Fishing Zone

Zona di mana kegiatan memancing diijinkan.

d) Historic site

Lahan khusus di dalam kawasan lindung yang memiliki nilai sejarah, seperti peninggalan megalitik, gua prasejarah dan lain-lain.

e) Traditional Use Zone

Zona di mana masih terdapat aktivitas suku asli yang masih tradisional, yang pola kehidupannya tergantung pada lingkungan alam sekitarnya.

f) Buffer Zone

Peruntukan zona ini khususnya sebagai pembatas antara area yang dilindungi dengan area lain yang tidak sesuai, seperti pertanian dan pemukiman. Zona ini juga berfungsi mengurangi gangguan dari aktivitas lain b. Teknik Pengelolaan Pengunjung (Visitor Management Techniques)

Menurut Mitland dan Davidson (1997) “VMT sebagai proses yang dilakukan sebagai upaya mempertemukan kebutuhan yang berbeda antara pengunjung, sumber daya/tempat/destinasi dan masyarakat/komunitas”. Pengelolaan pengunjung dilakukan sebagai upaya untuk mempertemukan semua kebutuhan berbagai pihak khususnya wisatawan agar mendapatkan pengalaman yang optimal. Selain itu, untuk mencapai ecotourism yang berkelanjutan, salah

(31)

satunya adalah dengan mengatur dan mengendalikan dampak yang ditimbulkan oleh pengunjung. Marion and Farrell (1998) menjelaskan sebagai berikut : “one measure of both the success and sustainability of ecotourism is the management of visitor impacts to ensure the long-term protection of natural and cultural resources, as well as continued visitor enjoyment and use”.

Terdapat beberapa indikasi yang menunjukan bahwa perlu dilakukan suatu pengelolaan pengunjung (Marion and Farrell, 1998):

1) Visitor use can negatively affect vegetation, soil, water, and wildlife resources, as well as quality of visitor experiences. Wisatawan yang berkunjung menginginkan suatu pengalaman yang menarik dari daerah atau tempat yang dikunjunginya jadi secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi terhadap vegetasi, ekosistem lingkungan, flora dan fauna yang ada di dalam kawasan tersebut

2) Visitor crowding and conflict can reduce the quality of visitor experiences.

Penumpukan wisatawan yang disebabkan oleh banyaknya wisatawan yang masuk ke kawasan akan menyebabkan beberapa permasalahan bagi suatu kawasan konservasi dan akan mengurangi tingkat kepuasan terhadap wisatawan.

3) Environmental attributes such as vegetation and soil resistance and resiliency, influence the type and severity of visitor resource impacts.

4) The use/impact relationship limits the effectiveness of visitor use reduction and dispersal strategies. Pembatasan jumlah wisatawan merupakan cara yang paling efektif untuk mengurangi kerusakan lingkungan dalam menjaga ekosistem lingkungan di kawasan tersebut.

5) Decision-making frameworks can provide an explicit and flexible means of managing visitor impact.

6) Indirect management strategies are often less to implement and are preferred by visitors. Pengelolaan yang cenderung lebih menguntungkan wisatawan akan mengakibatkan ekosistem lingkungan terabaikan dan berdampak terhadap kerusakan lingkungan dini.

Pengelolaan pengunjung muncul karena semakin meningkatnya kesadaran akan dampak yang timbul akibat pengembangan pariwisata terhadap lingkungan dan

(32)

aspek sosial budaya dan keinginan akan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan (Mitland dan Davidson, 1997)

Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh melalui penerapan pengelolaan pengunjung antara lain:

• Menambah pengalaman pengunjung

• Menambah citra Destinasi

• Menciptakan lingkungan yang baik

• Maksimalisasi peluang ekonomi dari pariwisata

• Minimalisasi dampak, baik alam (area sensitif) maupun masyarakat local

• Memperpanjang lama tinggal

• Memperpanjang waktu wisata

• Meningkatkan kebanggaan lokal

Menurut Cole (1987) dalam Marsongko (1996) beberapa teknik pengelolaan pengunjung yang bisa diterapkan dalam pengembangan ecotourism adalah pembatasan jumlah area yang digunakan, penyebaran area yang disediakan bagi pengunjung, pemusatan area/pemusatan penggunaan, pembatasan lama tinggal, pemanfaatan area secara bergantian/musiman, pembatasan jumlah pengunjung, rambu-rambu, penentuan harga tanda masuk, dan pengaturan pola arus pengunjung.

Dalam hal ini, pengelolaan pengunjung dirasakan perlu untuk meningkatkan pengalaman wisata dari pengunjung, sekaligus juga mengurangi dampak negatif yang diterima oleh lingkungan/sumber daya sekitar.

c. Interpretation Techniques

IUCN/UNEP (1990) memberikan tentang pelayanan interpretasi sebagai sebuah proses komunikasi yang didesain untuk menampakan arti dan hubungan dari peninggalan budaya dan alam yang dimiliki terhadap masyarakat melalui keterlibatan dari tangan pertama terhadap objek, artifak, pemandangan alam atau tempat.

Tilden di dalam Seabrooke & Miles (1993); Marsongko (1996) menjelaskan bahwa interpretasi merupakan aktivitas pendidikan yang bertujuan mengungkap arti dan pemanfaatan hubungan antar objek-objek asli disuatu tempat, melalui pengalaman langsung dan media ilustrasi, bukan hanya sekedar mengkomunikasikan hal yang sesungguhnya.

(33)

Maksud utama dari penyediaan pelayanan interpretasi adalah:

• Memberikan pengalaman yang menyenangkan dan pengalaman pendidikan kepada pengunjung

• Meningkatkan apresiasi dan pemahaman pengunjung terhadap kawasan

• Meningkatkan daya dukung kawasan dan meminimalisasi dampak negative pengunjung

• Memberikan pemahaman bagi pengelola

Beberapa teknik pelayanan interpretasi yang dapat diterapkan adalah (IUCN/UNEP,1990; Cole, 1987; Mackinnon, 1992):

• Brosur dan leaflet

• Pemandu wisata khusus

Self guided trails

Guided tours

• Jalan setapak alami

Visitor Center dan Visitor Management Center

• Pusat pendidikan

• Taman Botani

• Pendekatan informal dengan pengunjung

• Umpan balik berdasarkan opini pengunjung.

B. Pasar Ecotourism

Pasar dalam persepsi masyarakat sering diartikan sebagai tempat dimana terjadi transaksi pejualan antara produsen dan konsumen. Cravens (2003) mendeskripsikan pasar sebagai berikut Markets are groups of people with particular needs and wants and one or more products can be satisfy buyers needs and buyers must be willing and able to purchase of product that satisfies their needs and wants who have that ability and willingness to buy something because they have a need for it“.

Definisi tersebut mengandung arti bahwa pasar merupakan sekumpulan orang yang memiliki kebutuhan dan keinginan tertentu dengan satu atau beberapa produk yang dapat memenuhi harapan dari pembeli, dan juga memiliki kemampuan dalam membeli produk yang memenuhi kebutuhan dan keinginan yang mereka inginkan.

Untuk dapat memahami kebutuhan/keinginan pasar, maka diperlukan sebuah pendekatan untuk melihat pasar secara lebih mendalam.

Secara umum, pengelompokan pasar berdasarkan karakteristik kebutuhan dan keinginan yang sama sangat diperlukan dalam pemasaran suatu produk wisata. Hal ini ditegaskan oleh The Netherland and National Tourist Office (NNTO): As more detailed

(34)

information regarding tourism behavior and preferences becomes available, the possibilities for segmentation will increase (Yoeti, 2001). Maksudnya bahwa dengan melihat kepada perilaku dan preferensi wisatawan dapat memudahkan pemasar dalam mengelompokan atau mensegmentasikan pasar, sehingga dengan mengetahui keinginan, kebutuhan dan harapan pasar, pemasar dapat menyesuaikan bauran produk untuk masing-masing segmentasi.

Kotler (2000) membagi pasar dalam beberapa segmen berdasarkan karakter masing-masing pasar, yaitu:

1. Segmentasi geografis

Dividing an overall market into homogeneous groups on the basis of their locations. Its provides useful distincitions when regional preferences or need exist. Segmentasi geografis membagi pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda, seperti negara, propinsi, dan kota. Bentuk segmentasi ini mampu menterjemahkan kebutuhan dari pasar wisata berdasarkan karakteristik wilayahnya.

2. Segmentasi demografis

Defines consumer groups according to demographic variables such as gender, age, income, occupation, education, house hold size, and stage in the family life cycle. Dalam segmentasi demografis, pasar dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan variabel-variabel demografis seperti usia, ukuran keluarga, jenis kelamin, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, generasi, dan lain-lain. Alasan penggunaan segmentasi demografis adalah karena keinginan, preferensi dan tingkat pemakaian sangat berhubungan dengan variabel demografi.

3. Segmentasi psikografis

Divides a population into groups that have similar psychological characteristics, values, and lifestyles. Consumers lifestyles are composites of their needs, motives, perceptions, and attitudes.

Ecotourism sebagai bentuk wisata khusus, dalam aktifitasnya tentu saja memiliki segmen pasar dengan karakter yang khusus juga. Pasar ecotourism atau yang biasanya disebut ekowisatawan, merupakan segmen pasar yang memiliki motif, minat dan ketertarikan pada hal-hal yang khusus di di daerah tujuan wisata, terutama pada kegiatan konservasi alam dan budaya yang menjadi pusat kegiatannya. Pasar ecotourism secara spesifik dijelaskan sebagai pasar yang dalam perjalanannya sangat sensitif dan

(35)

peduli terhadap lingkungan, sehingga hanya memanfaatkan sumber daya ecotourism menurut fungsinya masing-masing. Dalam perjalanannya, pasar ecotourism “contributes to the visited area through labour or financial means aimed at directly benefiting the conservation of the site” (Ziffer dalam Orams, 1995).

Pada dasarnya, segmen pasar ecotourism sangat menekankan kepada pengalaman baru yang diperoleh sebagai bentuk interaksi, baik dengan masyarakat maupun dengan sumber daya yang ada. TIES (2000), memetakan karakteristik pasar ecotourism sebagai berikut :

1. Berusia produktif / menengah, atau berkisar antara 35-54 tahun

2. 50 persen dari pasar ecotourism merupakan perempuan, dengan perbedaan distribusi untuk setiap kegiatan. Hal ini mengartikan bahwa ecotourism bukan merupakan dominasi kaum laki-laki lagi

3. Pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi 4. Melakukan perjalanan secara berkelompok

5. Perjalanan dilakukan dalam durasi yang cukup panjang

6. Tingkat pengeluaran dan pembelanjaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wisatawan biasa

7. Unsur penting dalam perjalanan ecotourism adalah kawasan alam bebas, kehidupan satwa liar, dan kegiatan treking

8. Motivasi utama perjalanan ini adalah menikmati pemandangan alam, dan mencari pengalaman baru.

Dalam melakukan kegiatan ecotourism, ada beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan pasar dalam memilih produk ecotourism yaitu:

1. Aspek pendidikan dan informasi

Wisatawan biasanya mempelajari terlebih dahulu latar belakang sosial dan budaya masyarakat sebelum mereka memilih daerah tujuan wisata.

2. Aspek sosial budaya daerah tujuan wisata

Wisatawan menaruh perhatian besar pada budaya masyarakat di daerah tujuan wisata.

3. Aspek lingkungan

Aspek lingkungan alamiah pada produk wisata menjadi tujuan utama sebagian besar wisatawan.

Gambar

Gambar 1. Gambaran Kepuasan wisatawan mengenai fasilitas umum di Pangandaran  Sumber: hasil penelitian 2019
Gambar 1. Ciletuh Palabuhanratu Geopark          [sumber: http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/]
Gambar 2. Landscape Amphitheater Ciletuh Palabuhanratu Geopark  [sumber: http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/]
Gambar 3. Wilayah konservasi Geopark Ciletuh  [Sumber: Pusat Penelitan Geopark &amp; Kebencanaan Geologi, Universitas
+7

Referensi

Dokumen terkait

tugas akhir berupa skripsi yang berjudul “ Analisis Manajemen Pengelolaan Obyek Wisata Dalam Mewujudkan Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan Melalui Badan Usaha

Bagi Kabupaten Tanah Datar, pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata alam yang berbasis budaya ( culture-based ecotourism ). Dengan kondisi fisik dan biologi yang

Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Indikator pembangunan berkelanjutan adalah dapat

Dari data yang berhasil didapatkan dari Kabupaten Lampung Barat, pengelolaan pariwisata Kabupaten Lampung Barat juga mendasarkan pembangunan dan pengembangan

Adapun alur pikir dalam membahas penelitian Evaluasi Pengelolaan wisata di Pantai Alam Indah Kota Tegal dilihat dari perspektif pembangunan pariwisata berkelanjutan

pembangunan perwilayahan pariwisata Kota yang diarahkan untuk pengembangan daya tarik wisata sejarah dan budaya, alam perkotaan, dan ilmu pengetahuan berdaya saing

Piagam pariwisata berkelanjutan dalam Rusito, 2017 menekankan juga bahwa pariwisata haruslah didasari kriteria yang berkelanjutan seperti di dukung oleh pembangunan ekologi jangka

Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Indikator pembangunan berkelanjutan adalah dapat