sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya.
Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48%
dari populasi, (Databoks.katadata.co.id 2019).
Pesatnya peningkatan pengguna internet, media sosial dan tingginya aktivitas dan bidang penggunaan media sosial, menjadi potensi besar untuk mendongkrak industri pariwisata dalam berbagai aspek. Hal ini mengingat kekuatan media sosial dalam membangun jejaring hubungan sosial, membentuk image tentang kawasan wisata dan keunikan wilayah dan masyarakat yang menjadi kunjungan wisatawan, serta peyedia aplikasi berbasis media sosial yang baika dalam membantu kelancaran wisatawan melakukan perjalanan.
Di samping itu, media sosial memiliki kekuatan dalam penyediaan layanan visual, teks, video stremaing dan video call, serta interaktivitas dengan aplikasi lain yang sangat bermanfaat dalam melakukan perjalanan wisata. Serta tentu yang paling disukai oleh para treveler atau wisatawan, media sosial menjadi saluran yang paling memudahkan mereka untuk megekspresikan kesenangan dan melaporkan perjalanan mereka di tempat wisata. Setidaknya unsur narsistik dan informatif dapat disampaikan dengan mudah melalui media sosial.
Menurut Icoz, dkk, (Icoz, Kutuk and Eylul 2018) media sosial, sebagai sumber informasi bagi para wisatwan, telah merevolusi kehidupan pegguna dalam satu dekade akhir sejak diperkenalkan kepada masyarakat. Ini secara bertahap disosialisasikan ke dalam rutinitas harian menjadi sumber informasi yang sangat penting, (Mukherjee dan Nagabhushanam, 2016). Media sosial adalah platform interaktif di mana pengguna mencari, mengembangkan, membagi, mengkomunikasikan serta mendiskusikan ide, pengalaman, serta pendapat para pengguna, (Shan et al., 2017).
Bagi perusahaan jasa wisata, perkembangan ini adalah peluang yang sangat besar untuk mengembangkan pasar secara global. Pada sisi penawaran pasar, saat ini media sosial adalah platform di mana perusahaan dapat menjual dan memasarkan layanan dan produk mereka kapan saja dan di mana saja (Llach et al., 2013).
Di lain pihak, Icoz, et al., (Icoz, Kutuk and Eylul 2018) menjelaskan bahwa ada beberapa pendekatan untuk mendefinisikan fenomena yang relatif baru ini.
menganggap media sosial sebagai alat yang menciptakan peluang untuk berinteraksi dengan orang lain mulai dari individu hingga kelompok. Demikian pula, Kaplan
mendefinisikan media sosial sebagai "sekelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideologis dan teknologi dan yang memungkinkan pembuatan dan pertukaran konten yang dihasilkan pengguna," (Kaplan 2015). Di samping itu, Allen, et al juga membuat definisi yang sama dengan mengatakan bahwa "media sosial itu adalah layanan online yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara sosial, membuat konten pribadi, aplikasi non-terpusat dengan sistem keanggotaan secara cuma-cuma", (Allen, et al. 2014).
HASIL DAN PEMBAHASAN
PERAN MEDIA SOSIAL BAGI IDUSTRI PARIWISATA
Pariwisata merupakan sektor unggulan yang sejak periode Presiden SBY terus digenjot. Hasilnya memang belum optimal jika mengukur pada kemampuan negara- negara tetangga seperti kawasan ASEAN. Indonesia masih kalah oleh Malaysia, Singapura dan Thailan dalam hal kunjungan wisatawan. Hal ini tentu bukan fenomena yang menggembirakan, dimana Indonesia memiliki kawasan wisata (alam, pantai, pegunungan, cagar budaya) dan keragaman etnis dengan jumlah yang lebih besar.
Masalahnya adalah selalu kembali pada aspek klasik seperti kurang pembinaan, birokrasi perjalanan wisata dan infrastruktur industri pariwisata yang tidak memadai.
Beberapa tahun terakhir, optimisme perkembangan sektor pariwisata di tahun- tahun akan datang cukup baik menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya. Perolehan devisa negara sektor pariwisata sejak 2016, mengalahkan migas dan sedikit di bawah CPO. Diperkirakan pada tahun 2019, sektor pariwisata menjadi penyumbang utama devisa utama Indonesia, (Kontan 2018). Selanjutnya disebutkan juga bahwa, target Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mengenai kunjungan wisata mancanegara di tahun 2019 adalah 20 juta kunjungan. Padahal data dari website bps.go.id sebelumnya diketahui bahwa 2011 hingga 2015 rincian tingkat kunjungan wisatawan mancanegara di tahun 2011 sejumlah 7,64 juta kunjungan, di tahun 2012 sebanyak 8,04 juta kunjungan, di tahun 2013 sebanyak 8,80 juta kunjungan, di tahun 2014 sejumlah 9,43 juta kunjungan, dan di tahun 2015 sebanyak 10,40 juta kunjungan, (Republika.co.id 2019)
Berdasarkan data tersebut asumsinya terdapat percepatan kinerja di Kementerian Pariwisata Republik Indonesia untuk mengejar target kunjungan 20 juta
hingga 2019. Branding Wonderful Indonesia mendapatkan banyak penghargaan.
Wonderful Indonesia dinobatkan sebgai brand nomor satu di Asia Tenggara beberapa waktu lalu. Indonesia terpilih sebagai negara ke-16 di dunia dengan nilai brand terbesar.
Seperti dikatakan Menteri Pariwisata Arief Yahya, nilainya 848 miliar dolar Amerika.
Saat ini citra pariwisata melalui Wonderful Indonesia merupakan penyumbang terbesar bagi Indonesian brand awareness. Peran citra pariwisata dalam meningkatkan kesadaran dunia terhadap Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan brand investasi maupun perdagangan. Beragam penghargaan yang diraih oleh citra Wonderful Indonesia juga memberi dampak yang signifikan bagi perkembangan pariwisata di Indonesia.
Alasannya, setiap 10 persen pertumbuhan branding nasional menghasilkan 11 persen pertumbuhan pariwisata. Itulah salah satu yang mengakibatkan pertumbuhan pariwisata di Indonesia bisa cepat. Saat ini Indonesia menempati posisi kesembilan sebagai negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat. Kecepatan pertumbuhan pariwisata Indonesia dikatakan mencapai tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya, (Republika.co.id 2019).
Strategi pengembangan komunikasi pariwisata memainkan peranan penting dalam memperkenalkan destinasi kawasan wisata. Salah satu yang menarik adalah media sosial. Media sosial telah membuat dampak besar pada industri pariwisata.
Konsumen terlibat dengan situs jejaring sosial untuk melakukan perjalanan jauh dalam berwisata, membuat keputusan berdasarkan informasi tentang perjalanan mereka dan berbagi pengalaman pribadi mereka tentang hotel, restoran, atau maskapai penerbangan tertentu. Media Sosial telah diterima secara luas sebagai sarana mempromosikan destinasi dan produk pariwisata secara populer organisasi pemasaran tujuan bagi para pengelola di satu pihak, serta media sosial menjadi sara paling mudah dan murah bagi para pengguna ketika menyusun recana perajalan wisata, (Mukherjee and Nagabhushanam 2016). Seperti hasil studi dari Icoz, et al., bahwa biasanya para TripAdvisor khususnya, memiliki pengaruh luas pada industri ini. Mereka memiliki 50 juta pengunjung unik setiap bulan yang secara aktif mencari informasi perjalanan dan saran dari sumber yang paling mereka percayai yaitu wisatawan lain dan pembuat liburan, (Icoz, Kutuk and Eylul 2018)
Di lain pihak, umpan balik yang lebih cepat, terbuka, direct dan jujur serta kriitis merupakan bagian penting dalam memabngun komunikasi antara penyedia jasa wisata
dengan pengunjung yang menggunakan media sosial. Gaya konten media sosial yang dibuat pengguna ini dilihat oleh komunitas online, dianggap lebih kredibel dan otentik.
Sehingga bagi banyak hotel, restoran, dan atraksi pengunjung, jika mereka tidak terdaftar di lima tempat teratas, mereka kalah besar-besaran dari pesaing mereka.
Dengan lebih dari 200 juta ulasan dan opini yang diposting di TripAdvisor hingga saat ini, dan lebih dari 800 juta pengguna aktif di Facebook memposting pembaruan dan berbagi gambar, media sosial mendominasi industri ini, (Icoz, Kutuk and Eylul 2018).
Kemampuan media sosial terletak pada kemudahan, kecepatan, dan keluasan jaringan dimana pengguna dapa melakukan komunikasi apapun yang berkaitan dengan aktivitas dan minatnya.
Sahin dan Sengun (Sahin and Sengün September 2015), menjelaskan bahwa, opportunities provided by the internet help executing the efforts on marketing communication and creating a comparative distinction (Babacan, Kamanlıoğlu & Yeniçeri, 2008). Social networking sites have an important efficiency as marketing tools and assume many functions. Social networking sites are important tools, where the consumers can get information regarding the goods and services, raise the awareness, have communication of word of mouth online in their opinions, behaviours, purchasing decisions, after purchase assessments and for the establishments they are the tools, where they can market their productions, strengthen their brands and use in their customer relations ( Albayrak, 2013).
Saat ini Facebook adalah jejaring sosial paling populer dengan 1,55 miliar pengguna bulanan dan lebih dari 450 juta pengguna setiap hari. Kemudian, 89%
pengguna Facebook adalah Milenial. Diperkirakan bahwa 37% pengguna Twitter akan membeli dari merek yang mereka ikuti. Sebuah temuan riset yang menarik jika ini digunakan dalam stretegi komunikasi pariwisata.
Facebook dan Twitter memungkinkan pengguna untuk berada di platform sosial di mana ada banyak klien potensial. Selain itu, sangat mudah untuk memanfaatkannya dan pengguna dapat membuat akun dengan sangat cepat. Melalui dua media sosial ini, hotel dengan mudah memberikan informasi yang relevan dan konsisten serta mereka dapat menjawab permintaan pengguna. Facebook dan Twitter adalah alat yang sangat baik untuk berinteraksi dengan pengguna yang mencari hotel dan mereka menganggap hotel yang ditawarkan melalui laman penngguna, sebagai pilihan.
Jangan diabaikan pula bahwa ketika perusaahan hotel atau layanan pariwisata lainnya, berinteraksi dengan pengguna yang mempublikasikan kiriman di laman hotel tersebut, akan meningkatkan peluang untuk mendapatkan visibilitas dan jumlah kunjungan. Setidaknya, mesin pencari akan menampilkan laman tersebut jika ada orang atau pengguna yang membutuhkannya. Bahkan, ketika mereka memposting sesuatu di website, media sosial atau laman blog perusahaan, akan muncul di newsfeed teman- teman mereka sehingga teman-teman atau relasi pengguna mungkin akan mengeksplorasi dan menyukai laman hotal tersebut.
Media sosial juga dapat digunakan sebagai layanan pelanggan di mana para tamu dapat mengajukan pertanyaan dan memberikan pendapat mereka mengenai servis atau layanan yang diberikan. Dalam hal ini umpan balik akan diberikan sebagai masukan megenai baik atau tidaknya dan layanan hotel yang diberikan. Saat ini, hampir sebagian besar laman atau website dari hotel, café, tempat wisata, restoran, dan layanan lain berupaya menyediakan menu umpan balik dalam kolom interaksi mereka. Jangan pernah lupa, bahwa umpan balik mereka sangat penting karena akan membantu perusahaan mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang harus tingkatkan. Pada akhirnya perusahaan hotel dan pengelola pariwisata dapat mempertahankan pelanggan dan menarik pelanggan baru.
Sebuah studi di Australia menunjukkan hasil yang menggembirakan tentang peranan media sosial pada berbagai web aplikasi media sosial seperti Face book, YouTube, Pinterest, Twitter, dan Foursquare. Studi ini dimulai dengan asumsi bahwa banyak negara menganggap media sosial sebagai alat penting untuk mempromosikan industri pariwisata mereka. Kantor Tourism Australia telah mendorong industri pariwisata Australia untuk secara positif memanfaatkan media sosial dalam mempromosikan bisnis mereka. Operator Australia ditawari kesempatan untuk mempromosikan bisnis pariwisata atau wilayah mereka tawarkan untuk kawasan wisata, (Zeng 2013). Komite Strategi Daring Nasional Australia mengembangkan paket tutorial “Tourism e-kit”, di mana “Media Sosial untuk Pariwisata” adalah komponen penting. Isi termasuk pengetahuan dasar media sosial, cara untuk terlibat, dan bagaimana langkah-demi-langkah menggunakan Face book, YouTube, Pinterest, Twitter, Foursquare, Pembelian grup dan aplikasi untuk menjangkau pelanggan di perangkat seluler mereka, serta bahan bacaan yang diperluas, (Zeng 2013). Dari upaya
tersebut, sangat menggembirakan dimana banyak komentar dan penialain positif tentang pengalaman para wisatawana saat kunjungan dilakukan. Aplikasi dan media sosial memberikan upaya yang sangat banyak dengan waktu dan biaya yang lebih efisien.
Demikian halnya platform media sosial yang bernama Discover Slovenia di negara Slovenia meberikan hasil yang baik, (Pak 2019). Badan Turis Slovenia telah hadir secara online termasuk inisiatif yang berhasil seperti melalui serangkaian kampanye Facebook untuk pasar-pasar utama. Upaya tersebut telah menghasilkan kesadaran tinggi, omset penjualan, dan kepuasan mitra. Inisiatif progresif tersebut sejauh menyangkut pendekatan media sosial bagi destinasi pariwisata melalui platform media sosial bersama bernama Discover Slovenia, (Pak 2019).
Perbincangan yang mengklaim bahwa media sosial memainkan peran yang semakin penting dalam perencanaan dan pemesanan liburan selalu didukung oleh peningkatan jumlah kunjungan ke situs web pariwisata. Namun, tetap menjadi pertanyaan apakah media sosial benar-benar dapat mendorong peningkatan atau konversi pada industri pariwisata dan meningkatkan jumlah dan lamanya kunjungan, serta kepuasan pengunjung dan jumlah kunjungan kembali. Pertanyaan ini lebih pragmatis dan langsung mempermasalahkan hasil dari sebuah upaya kampanye atau rencana komunikasi yang berkaitan dengan pembelian produk. Memang tidak perlu dipungkiri bahwa, hasil dari sebuah kampanye, komunikasi pemasaran, atau komunikasi strategi terletak pada perubahan perilaku dan pembelian produk atau layanan yang ditawarkan.
Seperti disampaikan oleh para ahli bahwa peran dari media pemasaran dan komunikasi pamasaran integrafif “Integrated communication is achieved through the creation and implementation of the various persuasive communication programs with current and prospective customers, so as to exert a direct influence on the behavior of the target customers”, (Balaure, Neageo and Stoica 2009). Selanjutnya dikemukakan juga bahwa, peran komunikasi dalam kegiatan pemasaran yang terintegrasi adalah membangun merk (brand equity) bagi pelanggan. Salah satu tantangan terbesar pemasar profesional adalah pengaturan dan pemeliharaan ekuitas merek, kegiatan ini memegang peran khusus dalam berbagai tindakan yang diambil oleh itu organisasi,
karena pada dasarnya, merek adalah janji pemasar untuk memastikan kinerja produk atau layanan yang dapat diprediksi, (Balaure, Neageo and Stoica 2009).
Sebuahn contoh menarik adalah kampanye “Pekerjaan Terbaik di Dunia” di Queensland. Ini salah satu kampanye pariwisata paling sukses yang pernah menarik lebih dari 7 juta pengunjung 200.000 pengunjung baru hanya dalam beberapa minggu singkat dari kampanye ke situs webnya, (Mohan, et al. 2011). Terlepas dari semua ini, jumlah wisatawan internasional yang bepergian ke Queensland sebenarnya turun 8%
pada tahun keuangan 2008-09. Meskipun banyak alasan di belakang, integrasi yang tidak sempurna dari beberapa komponen strategi pemasaran diyakini menjadi masalah utama, (Mohan, et al. 2011). Ini menunjukkan bahwa untuk menggunakan media sosial sebagai bagian dari strategi pemasaran terintegrasi. Conrad Advertising menyelidiki pengaruh media sosial pada pemesanan liburan dan menyarankan bahwa kehadiran media sosial berpengaruh tetapi tidak dapat mendorong penjualan jangka pendek, dan dampak media sosial pada manajemen pariwisata mungkin kurang penting daripada yang diperkirakan, (Mohan, et al. 2011).
Saat ini, tidak ada yang memiliki bukti kuat yang berasal dari analisis ekonometrik untuk menunjukkan kontribusi ekonomi positif dari media sosial terhadap industri pariwisata. Sehingga, ada tantangan dalam menggunakan media sosial dalam pariwisata. Negara dan bisnis yang berbeda memiliki realitas berbeda tentang media sosial yang digunakan untuk manajemen pariwisata. Di satu sisi, pentingnya pemasaran online belum sepenuhnya diakui dalam manajemen pariwisata. Diperkirakan bahwa hanya 1,55 persen dari total pengeluaran media tujuan dihabiskan untuk iklan internet pada tahun 2008, (Atiko, Sudrajat and Nasionalita 2016). Pada 2010, hanya 28% agen perjalanan di wilayah Asia-Pasifik menggunakan media sosial, (Atiko, Sudrajat and Nasionalita 2016) . Di sisi lain, industri pariwisata umumnya menghadapi tantangan besar dalam mengelola media sosial yang bergerak maju, seperti mengembangkan strategi yang jelas dan terukur, menunjukkan pengembalian investasi yang layak dan mengintegrasikan media sosial ke dalam proses bisnis.
Di balik kemampuan media sosial sebagian strategis dalam pengembangan industri pariwisata, tidak dapat dipungiri juga bahwa pemanfaatan media sosial tersebut harus diperhatikan oleh para penyusun strategi perencanaan komunikasi atau kampanye pemasaran wisata. Seperti sudah dijelaskan bahwa media sosial memiliki
kamampuan menyediakan saluran komunikasi antara pengguna dengan berbagai jaringan pengeola industri pariwisata, namun harus ditangani secara baik. Terutama bagi generasi milenial, dimana penggunaan media sosial begitu massif dan literer, mereka juga mampu mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap layanan pengelola pariwisata jika mendapatkan pengalaman yang kurang baik atau tidak menyenangkan. Seperti dijelaskan oleh Sahin, et al., (Sahin and Sengün September 2015), bahwa, “It is clear that the tourism preferences of young generation are affected by comments on social media and social media has positive and a negative effects on the tourism market. In summary, social media users who share their experiences have been largely influenced by comments when they make tourism preferences.
Studi lebih lanjut menggambarkan media sosial sebagai sarana menciptakan/
meningkatkan kesadaran akan tujuan, mencapai kepada massa, mendorong para pelancong untuk merencanakan perjalanan mereka, memperkuat citra lokasi wisata sebagai favorit tujuan, menargetkan pasar baru/spesifik, menyebar kata positif dari mulut ke mulut, peningkatan jumlah pengunjung, membuat buzz di sekitar tujuan, menambah jumlahnya basis penggemar Facebook/Twitter, mengubah daya tarik tujuan wisata di benak pengunjung, menciptakan citra merk, dan banyak lagi yang bisa dilakukan melalui media sosial, (Mukherjee and Nagabhushanam 2016).
SIMPULAN
Media komunikasi selalu memiliki kekuatan dalam menimbulkan pengaruh terhadap khalayak. Secara teoritis dan empirik hal ini sudah terbukti dalam berbagai proposisi ilmiah teori-teori komunikasi yang dikembangkan serta berbagai riset tentang pengaruh media. Bidang politik, kesehatan, budaya, dan agama telah benyak menghasilkan riset yang menunjukkan kekuatan pengaruh media dalam menggerakan khalayak terhadap sebuah tindakan tertentu. Surat kabar mampu mendorong partisipasi pembaca untuk hidup lebih bersih dan sehat, radio menjadi sumber informasi yang dicari untuk mengetahui kemacetan lalu lintas atau opini publik terhadap kenaikan BBM, serta televisi juga mendorong publik atau penonton terlibat secara emosional dalam berbagai isu pemerintahan, korupsi dan pemilihan kepala negara.
Ketika media sosial hadir dalam era konvergensi, dengan kemampuan yang lebih besar yang tidak dimiliki oleh media massa, tentu akan memberikan pengaruh yang
lebih kuat dibandingkan media pendahulunya. Kekuatan jaringan internet yang menyediakan pengguna membangun jaringan melalui platform media sosial, menjadi kekuatan utama media sosial. Sistem komunikasi menjadi lebih personal dan mengedepankan kebutuhan pengguna sebagai manusia yang aktif mencari informasi.
Jika selama ini mereka menerima berita dan isu publik satu arah dari media massa, maka dengan media sosial mereka memberitakan dunia mereka. Mereka menyajikan berita untuk untuk jaringan yang mereka miliki. Saling bertukar dengan interaktivitas yang tinggi serta kemampuan menyajikan pendapat mereka secara visual dan auditif serta konvergen yang menjadi kekuatan media sosial.
Dalam pengembangan industri pariwisata tentu kekuatan media sosial menjadi sangat strategis untuk membangun citra dan reputasi melalui berbagai platform media sosial yang ada. Pengelola industri pariwisata harus sanggup menyusun dan menyediakan saluran ini disertai dengan pengelolaan yang baik. Penyediaan website perusahaan, memantau isu dan review laman Facebook mereka dari pelanggan, mengembangkan tawaran layanan melalui Instagram dengan visual dan gambar yang menarik dan unik serta menyediakan testimoni dan deskripisi layanan mereka melalui Youtube telah menjadi kebutuhan para pengelola industri pariwisata. Prinsipnya adalah, kesiapan dan keberanian menginvestasikan pikiran, biaya dan tenaga pada media sosial adalah bagian integral yang tidak dapat ditawar lagi dalam perencanaan bisnis industri pariwisata pada era konvergensi.
BIBLIOGRAPHY
Allen, Kelly A., Tracii Ryan, DeLeon L. Gray, and Dennis M. McInerney4and Lea Waters. 2014.
"Social Media Use and Social Connectednessin Adolescents: The Positives and thePotential Pitfalls." The Australian Educational and Developmental Psychologist 31 (1):
18-31. doi:doi10.1017/edp.2014.2.
Atiko, Gita, Ratih Hasanah Sudrajat, and Kharisma Nasionalita. 2016. "Analisis Strategi Promosi Pariwisata Melalui Media Sosial oleh Kementerian Pariwisata RI (Studi Deskriptif pada Akun Instagram @Indtravel)." Jurnal Sosioteknologi 15 (3): 380-389.
http://journals.itb.ac.id/index.php/sostek/article/view/2428/1814.
Balaure, Virgil, Cristina Neageo, and Ivona Stoica. 2009. "The role of integrated marketing communication in building and maintaining, International Economic Conference."
Industrial revolutions, from the globalization and post – globalization in perspective. Sibiu
Romania: International Economic Conference.
https://www.researchgate.net/publication/305163790_The_role_of_integrated_marke ting_communication_in_building_and_maintaining_the_capital_of_a_global_brand.
Baruah, Trisha B. 2012. "Effectiveness of Social Media as a tool of communication."
International Journal of Scientific and Research Publications (IJRP) 1 (1): 1-10.
Databoks.katadata.co.id. 2019. "Demografi: Berapa Pengguna Media Sosial Indonesia?"
Databoks.katadata.co.id. 2.
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/02/08/berapa-pengguna-media- sosial-indonesia.
Icoz, Orhan, Anıl Kutuk, and Dokuz Eylul. 2018. "Social media and consumer buying decisions in tourism: The case of Turkey Orhan Icoz." PASOS. Revista de Turismoy Patrimonio Cultural JOurnal 16 (4): 1051-1066. doi:https://doi.org/10.25145/j.pasos.2018.16.073.
Kaplan, Andreas M. 2015. "Social Media, the Digital Revolution, and the Business of Media."
International Journal on Media Management 17: 197-199.
doi:https://doi.org/10.1080/14241277.2015.1120014.
Kontan, Majalah. 2018. Jumlah turis asing ke Indonesia capai 15,81 juta kunjungan selama 2018.
https://nasional.kontan.co.id/news/jumlah-turis-asing-ke-indonesia-capai-1581-juta- kunjungan-selama-2018.
McSweeney, K., and B. Jokisch. 2007. "Beyond Rainforests: Indigenous Urbanization and Emigration among Lowland Indigenous Societies in Latin America." Bulletin of Latin American Research 26 (2): 159-180. https://agoradigest.com/ethno-tourism-should-be- encouraged-to-what-extent-do-you-agree-with-this-claim/.
Mohan, Melissa, Kelvin Teoh, Nathan Daniel Morris, and Yeong Wei Wuen. 2011. Tourism queensland: the best job in the world campaign. Singapura: Marketing Institute of Singapura.
Mukherjee, Anwesha, and Manasa Nagabhushanam. 2016. "Role of Social Media in Tourism Marketing." International Journal of Science and Research (IJSR) 5 (6): 2026-2033.
doi:10.21275/v5i6.NOV164776.
Noviyanto. 2016. "Bisnis: Data Pertumbuhan Pengguna Sosial Media di Indonesia." Koinworks.
March. https://koinworks.com/blog/data-pertumbuhan-pengguna-sosial-media-di- indonesia/.
Pak, Maja. 2019. Slovenian Tourism. Slovenia: Tourism Office of Slovenia.
Ramle, A., I. Asmawi, A.S. Mohamad Hafis, R. Nur Hafizah, and M.R. Mohd Sukhairi. 2014.
"Pemuliharaan Hutan Dalam Kalangan Masyarakat Semaq Beri di Negeri Terengganu, Malaysia." Malaysian Journal of Society and Spaces 10: 113-124.
Republika.co.id. 2019. Pariwisata: Ini Keuntungan 'Wonderful Indonesia' Raih Banyak
Penghargaan. April 25.
https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/10/26/ph7rwz349-ini- keuntungan-wonderful-indonesia-raih-banyak-penghargaan.
Sahin, Gonca Guzel, and Gunce Sengün. September 2015. "The Effects of Social Media on Tourism Marketing: A Study." Management and Administrative Sciences Review 4 (5): 772- 786. http://oaji.net/articles/2015/352-1441613065.pdf.
Wisata, Aneka. 2017. Aneka Wisata. April. https://www.anekawisata.com/makanan-enak- khas-bandung-yang-paling-hits-dan-terkenal.html.