H. Islah (reformasi)
I. Aulawiyah (skala prioritas)
Aulawiyah semakna dengan keutamaan atau prioritas, yaitu kemampuan mengidentifikasi hal ihwal yang lebih penting dan utama harus didahulukan untuk diterapkan dibandingkan dengan kepentingan yang bernilai lebih rendah.
Secara bahasa, aulawiyah adalah kata jama’ dari kata al-aula yang berarti penting atau lebih utama.184 Sedangkan secara istilah, aulawiyah adalah memahami apa yang paling utama dari beberapa perkara dari aspek pelaksanaan, dengan mengutamakan perkara yang semestinya didahulukan kepada perkara lain yang tidak utama
182 Ikrom Shaliadi, “Khawarij: Arti, Asal-Usul, Firqoh-Firqoh, dan Pendapatnya” Jurnal Islamuna, Voume, 2. No, 1, Juni 2015, 20.
183 Al-hafidz Ibnu Katsir, Tartib W a Tahdib Kitab Al-Bidayah Wa an-Nihaya, terj. Abu Ihsan Al-Atsari (Jakarta: Darul Haq, 2012), 632-649.
184 Fahmi Bin Abdul Khir, Kolej Kimuniti Gerik dan Perak Darul Rizdaun, “Fiqh Al- Aulawiyah, Konsep Serta Aplikasinya Masa Kini”, (Seminar-Anjuran Persatuan Ulama Malaysia (PUM) Cawangan Perak Dan Jabatan Agama Islam Perak (JAIPK), 10 April 2010.
sesuai masa dan waktu pelaksanaannya.185 Sedangkan Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa aulawiyah adalah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil dari segi hukum, nilai dan pelaksanaannya sehingga sesuatu yang tidak penting tidak didahulukan atas sesuatu yang penting, sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang lebih penting, sesuatu yang tidak (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang (rajih), sesuatu yang biasa-biasa saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama atau paling utama186
Aulawiyah dibahas dalam QS. Ar-Rahman ayat 7-9
َنْزَو ْ لا اوُميِق َ
أَو ِنايزِم ْ لا ِف اْوَغ ْطَت َّلَأ َنايزِمْلا َعَضَوَو اهَعَفَر َءامَّسلاَو
َنايزِمْلا اوُ ِسْ ُت لَو ِطْسِقْلاِب
Artinya: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan) agar kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”
Menentukan skala prioritas sama saja halnya dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan benar. Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT telah meletakkan keseimbangan dengan menciptakan alam semesta ini berjalan dengan teratur, kita juga harus meletakkan neraca keseimbangan di dalam hidup kita supaya terciptanya keteraturan di dalam kehidupan kita sebagaimana Allah SWT telah meletakkan neraca keseimbangan di dalam mengatur alam semesta ini.
Dengan demikian ayat di atas dapat menjadikan landasan bagi kita untuk dapat menentukan skala prioritas di dalam kehidupan sehari- hari, terdapat neraca keseimbangan yang menjadikan panduan dalam penskalaan tersebut, untuk itu beragama dengan ilmu merupakan
185 Sofyan Siroj, “ Mahafim Fiqh Al-Aulawiyah Wa Al-Muwazanat Fi Amali Al-Da’wah Wa Al-Jama’ah dalam Http;//www.qolbureengineeringfoundation.org, Diakses Pada 27 Mei 2021.
186 Yusuf Qardhawi, Fiqh Prioritas Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Quran Dan As Sunah, (Robbani Press: Jakarta, 1996), 5.
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran agam itu sendiri.
Dalam konteks ini, memprioritaskan ibadah adalah mendahulukan mengerjakan ibadah yang lebih penting dari pada ibadah yang lain, atau mendahulukan amalan yang wajib dari pada amalan yang sunnah.
Terdapat juga hadits yang ditemui untuk menjelaskan amal, nilai dan pembebanan mana yang lebih utama dikerjakan untuk menjelaskan letak posisi antara yang satu dengan yang lainnya yang memiliki tingkatannya masing masing. Sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan itu adalah sebagai berikut:187
)ةىلع قفتم( ةج رد نىرشعو عبسب )درف�ا( ذف�ا ة الص لضفت ةعامجلا ة الص Artinya: Solat berjamaah melebihi solat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat (Mutafaqun ‘Alaih)
Hadits di atas memperlihatkan bahwa ada sejumlah tolak ukur yang berkaitan dengan amalan, nilai dan kewajiban mana yang lebih utama, paling baik dan paling dicintai Allah jika kita melaksanakan yang lebih utama.
Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa salat berjamaah lebih baik dari pada salat sendirian. Dengan demikian, umat Islam lebih baik melaksanakan salat secara bejamaah dikarenakan dibalik itu semua terdapat karunia Allah SWT.
Contoh lain terkait aulawiyah, yaitu tentang prioritas fardhu ‘ain atas fardhu kifayah. Tidak dapat di perdebatkan lagi bahwa perkara fardhu harus diutamakan dari perkara yang hukumnya sunnah; tetapi perkara-perkara yang fardhu itu sendiri mempunyai bermacam-macak tingkatan. Kita meyakini betul bahwa fardhu ‘ain harus diutamakan dari fardhu kifayah, karena fardhu kifayah seringkali sudah ada orang yang melakukannya, sehingga orang yang lain tidak akan menanggung dosa karena tidak melakukannya. Sedangkan fardhu ‘ain
187 Suci Ramadhiona, “Konsep Yusuf Qardhawi Tentang Fiqih Prioritas” (Tesis, Pascasarjana IAIN Sumatra Utara, Medan, 2014).
tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena tidak ada orang lain yang boleh menggantikan kewajiban yang telah ditetapkan untuk dirinya.188
Banyak hadits Nabi yang menunjukkan bahwa kita harus mengutamakan fardhu ‘ain dari fardhu kifayah. Contoh yang paling jelas itu adalah perkara yang ada hubungannya berperilaku baik terhadap kedua orang tua dan berperang membela agama Allah, ketika perang termasuk dari fardhu kifayah, karena peperangan untuk mengambil alih suatu wilayah dan bukan mempertahankan wilayah sendiri; yaitu untuk mengambil alih suatu wilayah yang ditempati oleh musuh. Kita harus melakukan peperangan ketika terlihat adanya tanda-tanda musuh mengintai kita dan ingin merebut wilayah yang lebih luas lagi dari kita. Dalam hal ini hanya terdapat sebagian orang saja yang dituntut untuk melakukannya, kecuali apabila pemimpin negara menganjurkan untuk semua rakyatnya pergi berperang.
Dalam peperangan seperti ini, berbakti kepada kedua orangtua dan berkhidmat kepadanya adalah lebih wajib daripada bergabung kepada pasukan tentara untuk berperang. Dan inilah yang diingatkan oleh Rasulullah SAW. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Muhammad SAW. Dia meminta izin untuk ikut berperang. Maka Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah SAW bersabda, “Berjuanglah untuk kepentingan mereka.” Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW kemudian berkata, “Aku hendak berjanji setia untuk ikut hijrah bersamamu, dan berperang untuk memperoleh pahala dari Allah SWT.” Nabi Muhammad SAW berkata kepadanya: “Apakah salah seorang di antara kedua orangtuamu masih hidup?” Dia menjawab,
“Ya. Bahkan keduanya masih hidup.” Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Engkau hendak mencari pahala dari Allah SWT?” Lelaki itu menjawab,
“Ya.” Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda, “Kembalilah kepada
188 Yusuf Qardhawi, Fiqh Prioritas, (Jakarta: Robbani Press, 1996).
kedua orangtuamu, perlakukanlah keduanya dengan sebaik-baiknya.”
Diriwayatkan dari Muslim bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Aku kesini untuk menyatakan janji setia kepadamu untuk berhijrah, aku telah meninggalkan kedua orangtuaku yang menangis karenanya.” Maka Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis. “Diriwayatkan dari Anas r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW sambil berkata, “Sesungguhnya aku sangat ingin ikut dalam peperangan, tetapi aku tidak mampu melaksanakannya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apakah salah seorang di antara kedua orangtuamu masih ada yang hidup?” Dia menjawab, “Ibuku.”
Nabi Muhamad SAW bersabda, “Temuilah Allah dengan melakukan kebaikan kepadanya. Jika engkau melakukannya, maka engkau akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengerjakan ibadah haji, umrah, dan berjuang di jalan Allah.”
Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Jahimah bahwasanya Jahimah datang kepada Nabi Muhammad SAW kemudian berkata, “Wahai Rasulullah aku ingin ikut berperang, dan aku datang ke sini untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah bersabda, “Berbaktilah kepadanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kakinya.” Thabrani meriwayatkan hadits itu dengan isnad yang baik, dengan lafalnya sendiri Jahimah berkata, “Aku datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk meminta pendapat bila aku hendak ikut berperang. Maka Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Apakah kedua orang tuamu masih ada?” Aku menjawab, “Ya” Maka Nabi Muhmmad SAW. bersabda, “Tinggallah bersama mereka, karena sesungguhnya surga berada di bawah telapak kaki mereka.”