Kasih Allah Menggerakkan Evangelisasi Diri
I. Bacaan Yoel 2:23-27
Pertemuan Ketiga
“Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan”
(Yl. 2:25)
Kasih Allah Menyelamatkan (Yl. 2:23-27)
Pertemuan ketiga ini menawarkan pembacaan perikop Yoel 2:23-27 dalam terang pengalaman hidup yang sedang memperbaiki diri dari keterpurukan, atau sebaliknya. Perikop ini memuat Firman Tuhan kepada umat-Nya yang sedang membangun keluarga, agama, dan bangsanya setelah sekian lama meninggalkan tanah airnya karena pembuangan. Sesampai di tanah leluhur mereka, meskipun kini telah bebas, mereka menemukan bahwa keadaan masih hancur dan sepertinya tidak menjanjikan harapan. Dalam Yl. 2:23-27, nabi Yoel meyakinkan mereka bahwa Tuhan Allah akan menyelamatkan mereka. Kata yang dipakai untuk menggambarkan tindakan Allah yang menyelamatkan itu adalah “memulihkan”. Keselamatan dipahami sebagai pemulihan, dan yang melakukan itu adalah Tuhan. Memulihkan dapat berarti mengganti rugi apa yang telah hilang atau rusak selama ini. Umat Allah menemukan bangsa mereka masih hancur dan rusak, dan keadaan itu akan dipulihkan oleh Tuhan.
Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu. ²⁶Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya. ²⁷Kamu akan mengetahui bahwa Aku ini ada di antara orang Israel, dan bahwa Aku ini, TUHAN, adalah Allahmu dan tidak ada yang lain; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya.
II. Penafsiran Bacaan II.I. Pengantar
Perikop Yl. 2:23-27 menjadi bagian dari bab 1–2. Kedua bab ini dibuka dengan ajakan untuk menyadari krisis kehidupan yang sedang dialami oleh umat beriman (1:2-3). Krisis ini begitu berat sehingga tidak ada bandingannya dengan krisis lain yang pernah terjadi dalam sejarah sebelumnya. Tepatnya, bangsa sedang mengalami kehancuran dan penderitaan; kekeringan melanda (1:15-18); api menghanguskan hutan dan ladang (1:19-20); musuh sudah mengancam (2:1-11). Menghadapi krisis ini, nabi Yoel mengajak para pembacanya untuk meratap dan menangis (2:12-14).
Ratapan dan tangisan adalah ungkapan pertobatan. Semua umat, terutama para imam dan pelayan-pelayan Tuhan, diajak untuk meratap. Ratapan pertobatan ini dilakukan dengan puasa (2:15-17) dan memanjatkan doa-doa. Para imam dan pelayan Tuhan menjadi orang terdepan dalam berdoa. Isi doa yang disampaikan berkaitan dengan permohonan akan keselamatan bangsa: “Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela” (2:17).
Ajakan untuk meratap diindahkan oleh umat. Tuhan Allah yang berbelas kasih menjawab seruan ratapan mereka dengan berjanji untuk menyelamatkan mereka (2:18-20). Mereka dikuatkan untuk dapat bersukacita dan untuk tidak menjadi takut (2:21-24). Ia sendirilah yang akan memulihkan keadaan umat-Nya sehingga mereka akan mengenal- Nya sebagai Allah mereka (2:24-27). Bahkan, mereka akan dipenuhi dengan kelimpahan berkat-Nya. Perikop 2:23-27 berbicara tentang janji Tuhan untuk memulihkan umat-Nya.
II.II. Pendalaman Bacaan
Allah sebagai Sumber Sukacita (ay. 23-24)
Secara manusiawi, orang sulit tersenyum bahagia saat mengalami krisis hidup dan penderitaan. Bila ia dapat bersukacita pastilah ia memiliki alasan mendasar, alasan yang jauh lebih kuat ketimbang situasi yang dialaminya. Nubuat Yoel dalam 2:23-27 dibuka dengan ajakan untuk bersukacita. Alasannya adalah Tuhan: “bersukacitalah karena Tuhan, Allahmu!” (ay. 23). Tuhan hadir dan telah melakukan sesuatu demi kepentingan umat-Nya.
Di tengah kesulitan, kadang orang menginginkan kehidupan yang lain. Akan tetapi, Nabi Yoel mengajak umat untuk bersyukur atas kehidupan yang sudah diperoleh sampai saat ini. Kehidupan saat ini merupakan kelanjutan dari masa lampau di mana Tuhan pernah menyelamatkan. Melihat karya Tuhan di masa lalu membantu orang masa kini untuk memiliki harapan. Menurut nabi Yoel, harapan itu adalah bahwa Tuhan akan mengirimkan ‘hujan’. Ia akan membalikkan
‘kekeringan’ dan memberkati umat-Nya dengan kemakmuran.
Kemakmuran berupa gandum, anggur, dan minyak akan berlimpah (ay.
24).
Rencana Tuhan yang Akan Memulihkan (ay. 25)
Setelah umat beriman mampu bersukacita karena Tuhan Allah, Allah sendiri memberi tanggapan dengan bersabda. Yl 2:25-27 memuat firman yang dikatakan oleh Tuhan sendiri. Firman tersebut mencakup dua hal. Pertama, Ia menjelaskan tentang apa yang akan Ia lakukan sehubungan dengan kesusahan umat-Nya. Kedua, Ia berjanji untuk memenuhi kebutuhan umat-Nya dan mengajak mereka untuk memahami diri-Nya secara benar.
Tuhan berjanji akan ‘memulihkan’ keadaan umat-Nya. Istilah
“memulihkan” (ay. 25), dalam kata Ibrani wešillamtî, memiliki arti restitusi, yaitu ‘membayar kerugian’ atau ‘pembayaran atas kerugian yang terjadi’.
‘Memulihkan’ searti dengan ‘mengganti rugi’ seperti yang ditemukan dalam Kel. 22:1 (“Apabila seseorang mencuri seekor lembu atau seekor domba dan membantainya atau menjualnya, maka ia harus membayar gantinya, yakni lima ekor lembu ganti lembu itu dan empat ekor domba ganti domba itu”). Dengan demikian, ketika Tuhan mengatakan: “Aku akan memulihkan kepadamu” (Yl. 2:25), Ia akan memberi kompensasi kepada umat-Nya atas kerugian mereka. Pemahaman ini dapat dibandingkan
dengan tindakan Tuhan terhadap Ayub; setelah anak-anaknya dan harta miliknya diambil darinya, Tuhan memberikan kompensasi kepadanya:
“Lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub… Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu” (Ayb. 42:10).
Kehancuran yang merugikan umat dan yang akan dipulihkan oleh Tuhan adalah “tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan” (Yl. 2:25). Yang dimaksud dengan “belalang pindahan” barang kali merujuk pada invasi tentara Babel yang telah menghancurkan kota Yerusalem dan penduduknya. Menurut nabi Yeremia, peristiwa kehancuran Yerusalem oleh tentara Babel di bawah pimpinan rajanya Nebukadnezar merupakan inisiatif Tuhan. Tuhan mengizinkan hal itu terjadi karena umat-Nya tidak mau bertobat (lih. Yer. 25:9). Nabi Yoel pun menegaskan demikian: “tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu” (2:25). Kehancuran dan penderitaan dalam peristiwa itulah yang dimaksud dengan ‘kerugian’. Sekarang kehancuran itu akan dibalik.
Tuhan akan memulihkan apa yang dihancurkan oleh “tentara-Ku yang besar”. Dengan cara ini nabi Yoel meyakinkan dan menghibur umat-Nya yang kembali ke tanah airnya dengan menegaskan janji Tuhan bahwa tanah itu akan kembali seperti keadaan semula dan mereka akan lebih bahagia.
Keadaan Mereka yang Dipulihkan (ay. 26-27)
Umat yang dipulihkan akan mengalami: kemakmuran, tidak lagi merasa malu, memuji Tuhan, dan mengenal-Nya secara lebih mendalam.
Bila dulu mereka kehilangan sumber makanan dan harta milik karena dimakan oleh belalang dan dilalap oleh api, kini mereka akan makan kenyang. Dahulu, kepada umat-Nya yang sedang berjalan di padang gurun, Tuhan pernah menjanjikan hal senada: “engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji Tuhan, Allahmu” (Ul. 8:10).
Pembalikan krisis oleh Tuhan akan membawa kehormatan baik bagi Tuhan sendiri maupun umat-Nya. Orang-orang akan memuji nama- Nya dan mengenali sumber rezeki mereka. Mereka akan memuji Tuhan dengan sukacita dan Tuhan menjadikan mereka terhormat sehingga mereka tidak lagi menjadi ejekan.
Dalam pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan demi umat-Nya, Tuhan menyatakan jati diri-Nya (bdk. 3:17). Melalui peristiwa pemulihan, Ia mengajak umat-Nya untuk mengetahui bahwa Ia ada dan hadir di tengah-tengah mereka; Ia menyertai mereka yang sedang dalam
kesusahan. Bahkan, pemulihan tersebut dilakukan untuk menyatakan karakter Tuhan sendiri bahwa Ia adalah Allah yang “pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (2:13) dan memiliki
“belas kasihan kepada umat-Nya” (2:18). Karena itulah, mereka harus tahu dan sadar bahwa tidak ada Allah lain selain Dia.
Selama ini, godaan terbesar yang sering membuat umat Allah jatuh ke dalam dosa yang mendatangkan kesengsaraan bagi diri mereka adalah menjadikan berhala atau patung buatan untuk disembah. Berhala, rejeki, dan kemakmuran adalah pemberian Tuhan, bukan Tuhan. Ketika manusia memilih untuk men-tuhan-kan pemberian dan melupakan sang Pemberinya, di sanalah dosa penyembahan berhala terjadi. Dalam hal ini, nabi Yoel mengingatkan supaya umat beriman hanya menyembah Allah saja; Allah semestinya tidak mempunyai rival! Dalam sejarah umat Allah dahulu (lih. Ul. 8:10-20), mereka telah diperingatkan tentang bahaya menjadi puas: melupakan Tuhan dalam kepuasan atau keangkuhan.
Demikian juga sekarang, hanya Tuhan-lah yang layak untuk disembah dan dipuji, bukan pemberian-Nya yang meskipun dapat menawarkan kepuasan hidup.
Dengan demikian, tujuan Tuhan memulihkan umat-Nya dengan membuat mereka makan kenyang dan makmur bukan sekedar diukur dari perut yang kenyang, lidah yang puas merasakan makanan, atau harta yang melimpah. Maksud Tuhan bagi orang-orang di zaman nabi Yoel dan bagi kita sekarang jauh lebih besar dari hal tersebut. Pemulihan, seperti kesehatan, keamanan, atau entah apapun wujudnya, bergantung pada hubungan yang benar dengan Tuhan. Inilah orientasi orang yang memiliki iman kepada Tuhan yang ada di tengah-tengah umat-Nya. Jenis orientasi hidup semacam ini diminta oleh Yesus sendiri: “carilah dahulu Kerajaan.
III. Pesan dan Penerapan
Bagi orang yang mengalami pengalaman terluka, kerugian atau keterpurukan di masa lalu, keselamatan dapat diartikan sebagai pemulihan hidup. Barangkali sebutan itu cocok bagi sebagian besar orang yang mulai kembali memasuki masa normal setelah sekian lama terkena dampak pandemi Covid-19. Jauh sebelum masa kita sekarang ini, nabi Yoel telah menubuatkan kepada umat yang memiliki pengalaman yang hampir sama dengan masa sekarang, yaitu bahwa Tuhan sendiri akan
memulihkan keadaan umat-Nya. Tuhan memulihkan keadaan Ayub yang dulu kehilangan keluarga dan kepunyaannya kini menerima dua kali lipat dari apa yang telah direbut darinya itu (lih. Ayb. 42:10).
Ide tentang pemulihan juga ditemukan dalam konteks mengikuti Tuhan Yesus. Ketika Petrus menanyakan kepada Yesus tentang upah mengikut-Nya: “Kami telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau”, Yesus menjawab: “setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya…
akan menerima Kembali lipat ganda pada masa ini juga” (Luk. 18:28- 30). Sebagai pengikut Yesus, keyakinan akan Allah yang menyelamatkan dengan cara memulihkan apa yang telah hilang atau rusak dalam hidup kita hendaknya dibarengi dengan keseriusan kita untuk mengikuti Yesus.
Bila kita mencuri atau korupsi lalu kita dihukum sekian tahun, itu karena dosa dan kita mesti bertobat. Akan tetapi bila kita rugi atau terluka bukan karena kesalahan kita, apalagi dalam rangka mempertahankan iman dan mengikuti Yesus, kiranya patut kita berharap bahwa Tuhan akan memulihkan hidup kita.
Mengapa kita boleh yakin bahwa Tuhan menyelamatkan dengan memulihkan keadaan kita? Itu bukan karena tidak ada jalan atau cara lain selain meminta bantuan Tuhan. Iman bukanlah pelarian dari sesuatu yang secara manusiawi kita gagal mendapatkannya. Itu semua karena kenyataan iman kita yang mengakui bahwa Tuhan itu ada dan hadir. Ia adalah Imanuel, artinya Allah yang menyertai kita. Setiap kali kita menerima Ekaristi dan sakramen-sakramen, di sanalah secara nyata Tuhan berkenan hadir dalam diri kita. Keberadaan dan kehadiran Tuhan itu bukan seperti patung yang diam membisu. Ia aktif bekerja memberdayakan dan membimbing kita untuk dapat menjadi pulih.
Seperti yang dikatakan dalam perikop Yl. 2:23-27, seringkali ide keselamatan dan pemulihan dari Tuhan dihubungkan dengan kemakmuran manusiawi. Siapa yang diselamatkan mendapat berkat manusiawi yang melimpah, atau sebaliknya, siapa yang mendapat berkat melimpah berarti ia diselamatkan Tuhan. Kitab Yoel mengingatkan bahwa pemulihan yang dilakukan oleh Tuhan itu mempunyai tujuan supaya umat mampu mengenal diri-Nya secara lebih mendalam. Kemamuran adalah berkat anugerah Tuhan, bukan Tuhan. Karena itu yang mesti disembah dan dicari pertama-tama adalah Sang Penganugerah atau Pemberi, bukan pemberiannya. “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).
IV. Pertanyaan Pendalaman
1. Apakah saat ini Anda memiliki pengalaman terluka atau keterpu- rukan yang dibawa dari masa lalu? Apa artinya Tuhan yang menyelamatkan hidup Anda dalam situasi tersebut?
2. Pernahkah Anda meninggalkan atau mengorbankan sesuatu demi mengikuti Yesus? Kalau iya, apakah saat itu Anda berpikir juga tentang balasan apa yang akan diberikan Tuhan?
3. Bagaimana Anda menyikapi kedudukan, jabatan, kemakmuran, atau harta milik? Apakah sebagai ‘tuhan’ yang disembah atau seba- gai pemberian Tuhan?
Pertemuan Keempat
“Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia”
(Yl. 2:28)
Kasih Allah Mempersatukan (Yl. 2:28-32)
Dalam Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa keluarga manusia, baik rumah tangga, suku, maupun bangsa, terpecah belah dan terkotak-kotak yang dipicu oleh kepentingan atau keegoisan ideologi tertentu. Keterpecahan mengancam persaudaraan, padahal persaudaraan merupakan wujud nyata dari komunitas umat beriman yang saling mengasihi. Karena ada kasih yang dihidupi itulah, Allah hadir, menyertai, dan menyelamatkan. Sebuah frase lagu berbunyi:
“Jika ada cinta kasih, hadirlah Tuhan”. Pertanyaannya adalah bagaimana keluarga manusia dapat bersatu? Perikop Yl. 2:28-32 memuat firman yang dikatakan oleh Tuhan sendiri yang menegaskan bahwa Ia akan mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia. Semua umat beriman dicurahi oleh Roh yang sama; Roh yang sama itu pula berdiam di atas mereka semua. Itulah salah satu cara Tuhan Allah menyatukan manusia.
Ia tidak menyatukan manusia dengan membuat mereka memiliki ide, pekerjaan, budaya, atau bangsa yang sama, tetapi melalui Roh-Nya sendiri yang kehadiran-Nya tidak memandang perbedaan manusia.