• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bacaan Yoel 2:28-32

Dalam dokumen Buku Allah Sumber Kasih dan Keselamatan (Halaman 48-59)

Kasih Allah Menggerakkan Evangelisasi Diri

I. Bacaan Yoel 2:28-32

Pertemuan Keempat

“Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia”

(Yl. 2:28)

Kasih Allah Mempersatukan (Yl. 2:28-32)

Dalam Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa keluarga manusia, baik rumah tangga, suku, maupun bangsa, terpecah belah dan terkotak-kotak yang dipicu oleh kepentingan atau keegoisan ideologi tertentu. Keterpecahan mengancam persaudaraan, padahal persaudaraan merupakan wujud nyata dari komunitas umat beriman yang saling mengasihi. Karena ada kasih yang dihidupi itulah, Allah hadir, menyertai, dan menyelamatkan. Sebuah frase lagu berbunyi:

“Jika ada cinta kasih, hadirlah Tuhan”. Pertanyaannya adalah bagaimana keluarga manusia dapat bersatu? Perikop Yl. 2:28-32 memuat firman yang dikatakan oleh Tuhan sendiri yang menegaskan bahwa Ia akan mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia. Semua umat beriman dicurahi oleh Roh yang sama; Roh yang sama itu pula berdiam di atas mereka semua. Itulah salah satu cara Tuhan Allah menyatukan manusia.

Ia tidak menyatukan manusia dengan membuat mereka memiliki ide, pekerjaan, budaya, atau bangsa yang sama, tetapi melalui Roh-Nya sendiri yang kehadiran-Nya tidak memandang perbedaan manusia.

barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan Tuhan; dan setiap orang yang dipanggil Tuhan akan termasuk orang-orang yang terlepas.

II. Penafsiran Bacaan II.I. Pengantar

Setelah Tuhan berencana untuk memulihkan kerusakan akibat belalang dan kekeringan (Yl. 2:23-27), kini Ia memberikan serangkaian janji yang lebih mendalam (2:28-32). Janji-janji tersebut meliputi pencurahan Roh Allah atas semua orang beriman (2:28-29), mukjizat- mukjizat di akhir zaman (2:30-31), dan keselamatan (2:32).

Janji Tuhan tentang pencurahan Roh-Nya disebut juga dalam kitab-kitab lain. Dalam kitab Yesaya, Tuhan berfirman: “Aku akan men- curahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu” (44:3). Kitab Yehezkiel memuat firman Tuhan demikian: “Mereka akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, Allah mereka… Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel” (39:28-29).

Sedangkan kitab Zakharia menuliskan: “Aku akan mencurahkan roh pengasihan… atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam” (12:10). Pencurahan Roh Tuhan dapat dihubungkan dengan pemberian berkat materi, atau dengan tujuan supaya umat semakin mengenal Allah dan menyembah-Nya. Berbeda dengan ketiga kitab di atas, kitab Yoel membicarakan Tuhan yang men- curahkan Roh-Nya supaya umat yang dicurahi mampu bernubuat dan mempunyai penglihatan. Pencurahan Roh adalah pemberian yang lebih lanjut dan mendalam setelah pemberian berkat jasmani dan materi (lih.

Yl. 2:23-27). Inilah berkat rohani. Artinya, bila merupakan kelanjutan dari rangkaian pemberian Tuhan dalam rangka memulihkan umat-Nya, tanpa penerimaan Roh, meskipun umat sudah menerima berkat rejeki dan jasmani, belumlah lengkap disebut sebagai pemberian Tuhan yang menyelamatkan.

Yl. 2:28-32 juga menghubungkan pencurahan Roh dengan

“mujizat-mujizat di langit dan di bumi” dengan ditandai oleh darah dan api. Ini menandakan penghakiman Tuhan di akhir zaman. Karena itu, kitab Yoel mengajak umat supaya bertobat. Bahkan, pertobatan

diperlukan sebelum Tuhan menyingkirkan kerusakan akibat belalang dan kekeringan. Dengan bertobat, manusia terhindar dari hukuman api. Bila manusia bertobat, Tuhan dengan murah hati mengerti kekrisisan umat- Nya dan memulihkan mereka. Di akhir zaman Tuhan akan mencurahkan Roh-Nya secara penuh ke seluruh umat-Nya dan membawa mereka ke dalam hubungan baru dengan-Nya. Kuasa Roh akan menarik mereka untuk memanggil nama-Nya dan dengan demikian mereka lolos dari penghakiman yang akan menimpa penduduk dunia.

II.II. Pendalaman Bacaan

Pencurahan Roh Tuhan (ay. 28-29)

Yl. 2:28-29 menyebut perkataan Tuhan sendiri yang akan mencurahkan Roh-Nya. Arti dasar dari kata Ibrani untuk Roh, rûaḥ, adalah

“angin”, juga “nafas”, dan kemudian “roh” atau “prinsip kehidupan”. Ketika rûaḥ dipahami sebagai “nafas”, itu diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan untuk menopang kehidupan manusia, atau untuk menguatkan tugas perutusan dari orang-orang yang dipilih-Nya (lih. Kel. 35:31; Hak.

3:10). Roh itu adalah miliknya Tuhan. Tuhan mencurahkan-Nya “ke atas semua manusia”, maksudnya semua umat Allah. Pencurahan Roh menjadi bukti nyata kehadiran Allah dalam diri semua orang beriman dan di tengah komunitas umat-Nya. Tempat tinggal Tuhan tidak hanya di surga namun juga, melalui Roh-Nya, di tengah dan dalam diri umat beriman. Berkaitan dengan periode krisis yang dialami oleh manusia, kehendak Tuhan untuk mencurahkan Roh-Nya menjadi bagian dari rencana-Nya untuk memulihkan atau membalikkan situasi itu; umat beriman bukanlah komunitas yang ditinggalkan oleh Allah-nya.

Semua orang, tanpa memandang jenis kelamin (laki-laki/

perempuan), usia (anak-anak/tua/pemuda), atau status sosial (hamba- pelayan), dicurahi oleh Roh Allah. Pencurahan ini sekaligus menjadi penyatu umat beriman. Tanpa membedakan umur, pekerjaan, suku, dll., mereka semua menjadi target kepada siapa Tuhan menganugerahkan hidup-Nya. Tuhan menginginkan mereka semua, karena sudah dicurahi dengan Roh, dapat bernubuat, mendapat mimpi dan penglihatan- penglihatan. Dalam tradisi Alkitabiah, nubuat, mimpi, dan penglihatan berhubungan dengan Tuhan yang mengkomunikasikan firman-Nya kepada seseorang, kemudian orang tersebut mengkomunikasikannya kepada orang lain. Contohnya: Allah menyampaikan firman-Nya melalui mimpi Yakub (Kej. 28:12-15), Yusuf (Kej. 37:5-10), Salomo (1Raj. 3:5-

15). Nubuat kenabian sering kali diperoleh dari penglihatan (lih. Yes.

1:1; Am. 1:1). Dalam Yl. 2:28-29, nabi Yoel menguatkan segenap umat beriman bahwa meskipun penampilan luar mereka hancur, Tuhan tidak berpaling menjauhi mereka, Ia tetap ingin menjalin komunikasi dengan mereka dan menyatakan diri-Nya kepada mereka. Roh yang dicurahkan memampukan mereka untuk menerima firman Tuhan, menyembah-Nya dan mewartakan nama-Nya.

Hari Tuhan, Hari Keselamatan (ay. 30-32)

Dalam 2:11, Yoel berbicara tentang kedahsyatan hari Tuhan, demikian: “Tuhan memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya.

Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana firman-Nya kuat. Betapa hebat dan sangat dahsyat hari Tuhan! Siapakah yang dapat menahannya?”.

Hari Tuhan di sini lebih menunjuk pada saat Tuhan menghakimi umat- Nya, saat penentuan di mana yang bertobat akan diselamatkan dan yang tetap tinggal dalam perbuatan dosa akan dimusnahkan. Penghakiman semacam itu pernah dialami oleh bangsa pilihan ketika mereka diserbu oleh tentara musuh dan terjadi kehancuran di mana-mana. Dalam 2:30- 31, Yoel menyebut kembali hari Tuhan dalam rangka mengajak umat beriman untuk memiliki pengharapan dan pertobatan. Di satu sisi, krisis yang sedang dialami mengantisipasi hari pemulihan dan keselamatan.

Di lain sisi, penghakiman akan terjadi, maka sebelum itu terjadi, orang- orang mesti bertobat supaya luput dari kehancuran.

Hari Tuhan adalah hari penghakiman. Kedatangannya bisa diketahui dalam tanda-tanda alam berupa darah, api, asap, dan gelap gulita. Tanda-tanda seperti tersebut pernah dibuat oleh Tuhan dalam bentuk tula-tulah untuk menghukum Firaun dan kerajaannya guna membebaskan umat-Nya dari perbudakan (lih. Kel. 7:14-24; 10:21-29).

Nabi Yoel bisa jadi hendak mengingatkan bahwa sama seperti Tuhan membebaskan umat-Nya dari penderitaan di Mesir, demikian pula sekarang Ia akan membawa pembebasan kembali bagi umat-Nya. Inilah hari saat Tuhan akan menyelamatkan. Tuhan lebih memilih untuk menyelamatkan daripada menghukum karena orang-orang bertobat dan menyerukan nama-Nya. Seandainya mereka tetap bersikukuh tidak mau mengubah jalan hidup seturut firman Tuhan, mungkin yang terjadi bukan keselamatan tetapi penghukuman seperti yang dialami oleh Firaun.

Nabi Yoel memberi sudut pandang lain untuk melihat malapetaka. Kehancuran dan krisis adalah tanda harapan. Harapan ini

dikuatkan dengan sikap yang terus “berseru kepada nama Tuhan” karena siapa pun yang mempraktikkan sikap tersebut akan diselamatkan.

Ungkapan “berseru kepada nama Tuhan” tidak berarti hanya memohon bantuan kepada Tuhan pada saat bencana. Ungkapan tersebut dapat berarti memuji Tuhan dalam ibadah (Kej. 12:8), mengakui-Nya di antara mereka yang beragama lain (Yes. 41:25), atau menyembah-Nya di tengah- tengah dunia yang tidak mengenal-Nya (Yes. 12:4; Mzm. 105:1; Zak. 13:9).

Dalam situasi kehancuran, “menyerukan nama Tuhan” itu dapat menjadi dorongan bagi mereka untuk kembali kepada Tuhan dengan harapan bahwa mereka akan diselamatkan dari kehancuran di hari Tuhan.

Nabi Yoel mengingatkan akan keberadaan gunung Sion dan Yerusalem. Keberadaan kedua tempat ini juga menjadi tanda harapan karena tempat tersebut merupakan pusat dari janji-janji yang pernah dibuat oleh Tuhan kepada umat-Nya. Meskipun sekarang umat Tuhan berada dalam situasi suram, Ia pasti selalu ingat akan janji-Nya.

Sebagaimana janji itu dimulai oleh-Nya sendiri dengan memanggil mereka untuk menjadi umat-Nya, mereka yang berseru kepada Tuhan adalah orang-orang yang akan dipanggil-Nya sebagai milik-Nya yang dikasihi dan diselamatkan.

III. Pesan dan Penerapan

Keegoisan dapat menjadi lawan dari ‘kasih’. Yang pertama bersifat menuntut dan dapat memecah belah keluarga manusia, yang kedua bersifat memberi dan dapat menyatukan. Karena kasih-Nya, Tuhan Allah memberikan Roh-Nya dengan mencurahkan-Nya kepada semua manusia. Tuhan tidak membedakan orang untuk dicurahi.

Roh Tuhan memampukan mereka untuk bernubuat. Maksudnya, mengkomunikasikan firman-Nya kepada sesama.

Hubungan pencurahan Roh dan nubuat dalam Yl. 2:28-29 dapat diperjelas bila kita membaca surat Paulus kepada jemaat di Korintus yang pertama. Kepada jemaat yang terpecah-pecah dalam fanatisme kelompok- kelompok yang berbeda (lih. 1Kor. 1:10-12), Paulus menegaskan bahwa dalam jemaat terdapat rupa-rupa karunia yang berbeda, tetapi berasal dari Roh yang sama. Roh mengaruniakan kepada masing-masing orang untuk mengadakan mukjizat, bernubuat, menyembuhkan, dll. Semua karunia yang berbeda-beda itu diberikan oleh Roh yang sama untuk membangun jemaat yang sama dan satu (1Kor. 12:1-11). Membaca Yl. 2:28-29 dalam

terang surat Paulus tersebut akan menghantar kita untuk menemukan bahwa bila umat beriman berpegang pada Roh yang sama, mereka akan bersatu. Akan tetapi bila mereka hanya melihat karunia atau pemberian saja, mereka dapat berbeda-beda dan bahkan terpecah. Kitab Yoel ditulis untuk meyakinkan umat bahwa Tuhan akan memulihkan umat-Nya.

Demikian juga, umat manusia sekarang butuh pulih dari pertengkaran dan kebencian. Bahwa ada orang yang memerintah rakyat, atau berkata- kata untuk orang banyak, atau memiliki kedudukan tertentu secara politis dalam negara – sebagai orang beriman itu semua mesti dipahami sebagai karunia atau pemberian yang digunakan untuk membangun bangsa, pemberian untuk mengkomunikasikan firman Tuhan yang benar, bukan malah memecah belah keluarga manusia dengan menonjolkan perbedaan karunia dan meninggikan miliknya sendiri.

Pernyataan Yl. 2:32, “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” digunakan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (10:13). Di sini Paulus menambahkan bahwa Tuhan yang disembah dan yang menyelamatkan adalah Allah yang satu dari semua orang. Meski orang dapat berbeda-beda, suku, bahasa, pendidikan, dll., tetapi mereka mempunyai Allah yang satu dan sama. Kriteria untuk diselamatkan oleh Tuhan bukanlah kaya atau miskin, guru atau pedagang, agamawan atau politisi, dll., tetapi berseru kepada Tuhan. Tuhanlah yang menyelamatkan, bukan keunikan pemberian Tuhan yang dianggap lebih unggul atau lebih baik dari yang lain. Dalam menyerukan nama Tuhan, kita semua adalah keluarga yang bersaudara karena kita mempunyai Allah yang satu dan sama.

IV. Pertanyaan Pendalaman

1. Bagaimana Anda mengenal bimbingan dan anugerah Roh yang telah dicurahkan atas diri Anda sejak dibaptis?

2. Dalam keluarga, Gereja, masyarakat, dan bangsa, pasti terdapat bermacam-macam perbedaan: perbedaan hobi, bakat, pekerjaan, tugas, peranan, pilihan politis, dll. Bagaimana Anda melihat perbedaan-perbedaan tersebut?

3. Pemulihan hidup terwujud antara lain bila keluarga manusia menjadi bersatu dan bersaudara dalam kasih. Kesulitan-kesulitan apa saja yang membuat keluarga, masyarakat dan bangsa kita saat ini untuk bisa menjalin persaudaraan sejati?

Theresia Vita Prodeita, M.Hum Richard Johanes Rantung

Theresia Kustanti Dewi

SUMBER KASIH DAN KESELAMATAN ALLAH

BKSN23 20

BulanKitabSuciNasional

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa

Tim Penyusun

Pertemuan Pertama

Kasih Allah Menggerakkan Evangelisasi Diri

(Yun. 1:1-17)

Deskripsi Situasi dan Tema

Fasilitator membuka pertemuan dengan membacakan deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema BKSN 2023.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, tema besar Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) tahun 2023 adalah Allah Sumber Kasih dan Keselamatan. Pasca Pandemi Covid-19, ketika aktivitas dan perjumpaan fisik telah kembali normal, banyak orang tetap mempertahankan ke- biasaan hidup selama pandemi, terutama dalam hal pemanfaatan media komunikasi. Kita mengalami apa yang menjadi kekhawatiran Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ (Terpujilah Engkau) bagaimana dunia digital “…kadang-kadang justru menghalangi kita untuk kontak langsung dengan kesusahan, kecemasan, dan sukacita orang lain dan kompleksitas pengalaman pribadinya” (No. 47).

Pada pertemuan pertama ini, kita diajak untuk melihat ke da- lam diri kita pribadi dengan mendalami subtema, "Kasih Allah Meng- gerakkan Evangelisasi Diri." Berhadapan dengan segala perubahan dan keterpurukan pasca pandemi, kita ditantang untuk masuk dalam pengalaman dan mengakui Allah yang penuh kasih dan pengampunan.

Pengalaman perjumpaan dengan Allah inilah yang menggerakkan kita untuk mengevangelisasi diri kita sendiri sehingga pada gilirannya kita siap untuk terlibat dalam rencana penyelamatan Allah.

PEMBUKA

Setelah deskripsi singkat terkait situasi dan tema disampaikan, fasilitator lalu mengajak peserta untuk memulai pertemuan pertama dengan ritus pembuka.

Lagu Pembuka

Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

Tanda Salib

P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U: Amin.

P: Tuhan beserta kita.

U: Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar

Fasilitator menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pem- bacaan teks Kitab Suci.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada perte- muan pertama ini, kita akan membaca, mendalami, dan mere- nungkan teks dari kitab Yunus (Yun. 1:1-17). Perikop ini meng- gambarkan pergulatan dan pemberontakan Yunus ketika Tuhan mengutusnya pergi ke Niniwe, ibu kota Asyur, untuk mempertobatkan penduduknya. Alih-alih pergi ke Niniwe, Yunus berusaha lari dari Tuhan ke arah sebaliknya, yaitu ke kota Tarsis. Akan tetapi, Tuhan Sang empu- nya langit tetap mencari Yunus untuk dijadikan alat kasih-Nya. Melalui pengalaman menjauh dari Allah, Yunus ditantang untuk taat pada ren- cana kasih Allah. Pada akhirnya, kasih Allah inilah yang mendorong Yu- nus untuk mengakui Tuhan di tengah-tengah bangsa asing sebagai ben- tuk dari penginjilan terhadap dirinya sendiri.

Doa Pembuka

P: Marilah kita berdoa.

Allah sumber rahmat dan kekuatan kami, kami sungguh menyadari bahwa terkadang rencana-Mu bukanlah rencana kami, jalan-Mu ber- seberangan dengan jalan kami. Ajarilah kami untuk dengan rendah hati membuka telinga, hati, dan pikiran kami serta menundukkan diri kami pada kehendak dan rencana-Mu dalam hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.

U: Amin.

PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks

Fasilitator meminta dua orang peserta yang hadir (laki-laki dan perem- puan) untuk membaca Yun 1:1-17 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil melihat Alkitab masing-masing.

Yun. 1:1-17

1Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, 2“Pergilah segera ke Niniwe, kota yang besar itu, serukanlah peringatan terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” 3Tetapi, Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. Ia pergi ke Yafo dan mendapati di sana sebuah kapal, yang akan berang- kat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. 4Namun, TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir saja hancur. 5Awak kapal ketakutan, masing- masing berteriak-teriak kepada ilahnya. Mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Sementara itu, Yu- nus telah turun ke bagian kapal yang paling bawah, berbaring di situ, dan tertidur nyenyak. 6Datanglah nakhoda menemuinya dan berkata:

“Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berse- rulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan memperhatikan kita, sehingga kita tidak binasa.” 7Kemudian mereka berkata satu sama lain,

“Marilah kita membuang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa malapetaka ini menimpa kita.” Mereka pun membuang undi dan undi itu jatuh pada Yunus. 8Kata mereka kepadanya, “Beritahukanlah kepada kami, karena siapa malapetaka ini menimpa kita. Apa pekerjaanmu dan dari mana asalmu? Apa negerimu dan dari bangsa mana engkau?” 9Sa- hutnya kepada mereka, “Aku orang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah Semesta Langit, yang menjadikan lautan dan daratan.” 10Orang-orang itu sangat ketakutan dan berkata kepadanya, “Apa yang telah kaulakukan?”

Orang-orang itu mengetahui bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN, sebab hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. 11Mereka bertanya, Apa yang harus kami lakukan padamu, supaya laut mereda terhadap kami?” 12Sahutnya kepada mereka, “Angkatlah aku campakkan aku ke dalam laut supaya laut mereda dan tidak menyerang kamu lagi.

Sebab aku tahu bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.”

13Orang-orang itu justru mendayung untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora me- nyerang mereka. 14Mereka berseru kepada TUHAN, katanya, “Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini.

Janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehen- daki.” 15Kemudian mereka mengangkat Yunus, dan mencampakkannya

ke dalam laut. Laut pun berhenti mengamuk. 16Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan kurban sembeli- han kepada TUHAN serta mengikrarkan nazar. 17Atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar untuk menelan Yunus. Yunus pun tinggal di dalam perut ikan itu selama tiga hari tiga malam.

Dalam dokumen Buku Allah Sumber Kasih dan Keselamatan (Halaman 48-59)