• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bacaan Yunus 4:1-11

Dalam dokumen Buku Allah Sumber Kasih dan Keselamatan (Halaman 33-41)

Kasih Allah Menggerakkan Evangelisasi Diri

I. Bacaan Yunus 4:1-11

¹Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.

²Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan- Nya. ³Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?” Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.

Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.

Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya:

“Selayaknyalah aku marah sampai mati.” ¹⁰Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. ¹¹Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

II. Penafsiran Bacaan II.I. Pengantar

Bila Yun. 1:1-17 menjadi bagian kesatuan dari cerita bab 1–2, perikop 4:1-11 merupakan bagian dari cerita bab 3–4. Setelah Yunus dimuntahkan oleh seekor ikan besar ke daratan, Tuhan memerintahkan kepadanya untuk kedua kalinya, perintah seperti dalam perutusan

pertama ketika ia menolak dengan melarikan diri: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu” (3:2; lih. 1:2). Akan tetapi terdapat juga perbedaan antara perintah pertama dan kedua ini, tepatnya mengenai alasan mengapa Yunus harus pergi ke Niniwe. Alasan pada perintah pertama adalah “karena kejahatannya [penduduk kota Niniwe] telah sampai kepada-Ku” (1:2), pada perintah kedua berbunyi: “sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu” (3:2). Penekanan perintah kedua ini adalah kewajiban untuk mematuhi perintah Tuhan, dari pihak Yunus, karena perintah tersebut merupakan firman Allah.

Seorang nabi semestinya melakukan persis seperti yang diperintahkan oleh Tuhan dan berjalan sesuai dengan firman-Nya.

Tanggapan yang diberikan oleh Yunus ketika menerima dua perintah Tuhan itu berbeda. Di perintah pertama, ia melarikan diri. Di perintah kedua, ia tunduk/taat dengan pergi ke Niniwe. Di perintah yang kedua ini, nampak nyata kasih Tuhan sebab Ia tetap bersikeras memanggil Yunus sebagai nabi-Nya meskipun sebelumnya Yunus pernah tidak taat dan malah melarikan diri. Isi firman Tuhan yang disampaikan oleh Yunus kepada orang-orang Niniwe adalah: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (3:4). Kata “ditunggangbalikkan” pernah disebut dalam Kej. 19:21, 25, 29 untuk menggambarkan kehancuran Sodom dan Gomora. Akan tetapi bila Sodom dan Gomora benar-benar ditunggangbalikkan, Niniwe tetap aman karena orang-orang Niniwe bertobat dan “percaya kepada Allah” (Yun. 3:5).

Yun. 4:1-11 lebih bercerita tentang pergulatan sang nabi sendiri setelah mewartakan pertobatan daripada tentang pertobatan orang- orang Niniwe. Bila di atas kapal, sikap Yunus yang ‘memberontak’

diperlawankan dengan sikap awak kapal yang ‘taat’ (Yun. 1); di Niniwe sementara orang-orang Niniwe bertobat (Yun. 3), Yunus memberontak untuk kedua kalinya (Yun. 4). Meskipun sang nabi menaati perintah Tuhan, belum tentu itu dilakukannya dengan sepenuh hati. Di sinilah pergulatan Yunus. Bila di atas kapal ia lebih memilih untuk dibuang ke laut daripada berseru kepada Allah (1:12), setelah Niniwe diampuni, ia memilih untuk mati daripada mengenal kebenaran Tuhan (4:3). Juga, sebagaimana awalnya ia menghindar untuk pergi ke Niniwe (1:3), setelah membuat orang-orang Niniwe bertobat, ia menolak untuk meninggalkan Niniwe dan kembali ke negerinya (4:5). Ia tetap tinggal di sebelah timur kota Niniwe dan mencoba untuk membuktikan kepada Allah bahwa

dirinya benar. Apa yang sebenarnya membuat Yunus menolak untuk mewartakan pertobatan (Yun. 1) dan seakan terpaksa melakukannya (Yun. 4)?

II.II. Pendalaman Bacaan

Allah Pengasih dan Kekesalan Yunus (ay. 1-4)

Kisah dalam Yun. 4 dibuka dengan pemberitahuan tentang si- tuasi hati Yunus, bahwa ia sangat kesal dan marah (4:1). Dalam Bahasa Ibrani, kata “kesal-mengesalkan” menggunakan kata ra˓ah, kata yang juga digunakan dalam 1:2 untuk menggambarkan “kejahatan” orang-orang Niniwe. Bisa jadi, saat Yunus melarikan diri dari perutusan pertama (1:2- 3), ia sudah menyimpan kekesalan ini. Juga, ketika ia kemudian berangkat ke Niniwe untuk mewartakan pertobatan, hatinya masih kesal. Apa yang membuat sang nabi menjadi sangat kesal?

Sebelum membicarakan kekesalan Yunus dalam 4:1, perikop membicarakan tentang Allah yang membatalkan murka-Nya terhadap oang-orang Niniwe karena mereka bertobat (3:9-10). Selanjutnya, Yunus menjelaskan mengapa ia melarikan diri:

“Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku?

Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya” (4:2).

Alasan Yunus menjadi kesal karena melihat apa yang dilakukan Tuhan Allah: Ia berbelas kasih dan tidak jadi menghukum! Doa Yunus dalam 4:2 mendengungkan kembali Kel. 34:6, yang juga diulangi dalam Kitab Yoel 2:13: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya”. Di sini ditemukan hal yang ironis lagi: sementara raja Niniwe mencintai kehidupan dan mengharapkan bahwa Allah berbelaskasihan dengan mengampuni dosa-dosanya dan dosa rakyatnya (Yun. 3:9), Yunus malah marah dan kesal karena mengetahui bahwa Allah itu pengasih dan penyayang (4:2).

Baginya, Allah itu semestinya bersikap adil, yaitu memberikan ganjaran setimpal kepada penduduk Niniwe dengan menghukum mereka karena mereka jahat, bukannya mengampuni.

Kekesalan Yunus ditumpahkan dengan meminta Tuhan untuk mencabut nyawanya. “Lebih baik mati daripada hidup”, ungkapnya (4:3).

Sebelum Yunus, juga pernah dikisahkan seorang nabi yang menginginkan untuk mati dalam rangka menjalankan perutusan dari Tuhan, namanya Elia. Setelah mengalahkan para nabi Baal di gunung Karmel, Elia diancam oleh Ahab, raja Israel, untuk dibunuh. Saat ia melarikan diri dari bahaya itu, ia meminta Tuhan untuk mengambil nyawanya karena merasa gagal (1Raj. 19:4). Terdapat persamaan dan perbedaan antara Elia dan Yunus.

Bila Elia ingin mati karena merasa misinya tidak berhasil, sebaliknya Yunus ingin mati karena justru misinya berhasil!

Nampaknya, pengampunan yang diberikan kepada kota Niniwe yang jahat merusak keyakinan Yunus. Ia lebih menginginkan keadilan dan menolak berdamai dengan cara Tuhan yang mengasihi dan mengampuni.

Saat di atas kapal, Yunus memilih mati daripada tunduk pada kehendak Tuhan yang mengutusnya (Yun. 1), sekarang pun ia kembali meminta untuk mati karena tidak senang dengan sikap Tuhan yang berbelas kasih.

Menanggapi sikap Yunus ini, Tuhan bertanya kepadanya: “Layakkah engkau marah?” (4:4). Pertanyaan ini mengungkapkan secara implisit penolakan Tuhan untuk memenuhi permintaan kematian Yunus. Tuhan yang menggerakkan orang-orang Niniwe untuk bertobat dari jalan yang jahat mengisyaratkan bahwa nabi-Nya harus bertobat dari kebenaran dan keyakinannya sendiri.

Allah Pengasih dan Pertobatan Yunus (ay. 5-11)

Menanggapi pertanyaan Tuhan: “Layakkah engkau marah?”

(4:4), Yunus menjawab dengan diam dalam tindakan: ia meninggalkan kota dan mendirikan sebuah pondok di luar kota untuk ditinggalinya (4:5). Alasan meninggalkan kota itu tidak dijelaskan. Akan tetapi perginya Yunus meninggalkan kota yang jahat mengingatkan akan keluarnya Lot beserta keluarganya meninggalkan kota Sodom dan Gomora yang akan dihancurkan oleh Tuhan karena penduduk kota itu sangat jahat (Kej. 19:15- 23). Dalam terang ini, tindakan Yunus mengikuti Lot yang meninggalkan Sodom dan Gomora yang akan diluluhlantakkan oleh Tuhan; dan dengan demikian bisa jadi Yunus masih mengharapkan Tuhan menghukum penduduk Niniwe sebagaimana Ia menghukum Sodom dan Gomora.

Namun Tuhan tidak meninggalkan Yunus. Ia tidak jemu-jemu memberi tanda-tanda supaya Yunus memahami diri-Nya yang pengasih dan kehendak-Nya untuk mengampuni orang berdosa. Sebelumnya, Ia

memberi tanda lewat angin badai laut dan seekor ikan besar (Yun. 1), kini Ia membuat tanda dengan menumbuhkan pohon jarak untuk menghibur nabi-Nya yang sedang sangat kesal terhadap-Nya. Lewat tanda ini, diketahui dalam diri Yunus bahwa hal dari Tuhan yang menyukakan dirinya membuatnya bersukacita, tetapi hal dari Tuhan yang tidak sama dengan pikiran dan keyakinannya membuatnya kesal (4:6). Meski Tuhan terus mendatanginya, Yunus tetap tidak dapat keluar dari kekesalan hatinya karena menemukan kenyataan bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Pengasih dan Penyayang kepada semua orang. Berhadapan dengan karakter Tuhan ini, sekali lagi, sang nabi bersikukuh dengan keinginannya: lebih baik mati daripada hidup, bahkan marah sampai mati (4:8-9).

Menanggapi pemberontakan dan protes dari nabi-Nya tersebut, Allah memberikan pernyataan yang terakhir tentang diri-Nya (4:9-11).

“Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (4:11).

Di ay.11 ini disebut kata “sayang” [“mengasihani”] dan kata ini dapat menjelaskan perbedaan antara Allah dan Yunus. Tuhan menerima pertobatan para pendosa, Ia juga memperhatikan orang-orang yang tidak tahu bahwa mereka berbuat dosa. Sifat belas kasihan Allah, yang ditentang oleh nabi ini, memiliki dua segi, yaitu: mengampuni dosa orang-orang yang bertobat dan berbelas kasihan kepada semua manusia karena mereka adalah makhluk hidup. Belas kasih Tuhan bagi ciptaan- Nya ini tidak merusak keadilan seperti yang dipikirkan oleh Yunus;

sebaliknya kasih menjadi komponen penting dalam melakukan keadilan.

Pergulatan Yunus antara menjadi seorang nabi yang mesti menjalankan perintah Tuhan dan keadaan diri yang tidak menginginkan untuk melaksanakan perintah itu, berkaitan dengan Allah yang begitu penuh kasih (4:2). Yunus tidak setuju dengan Allah yang tidak menghukum orang berdosa namun malah mengampuni. Sekarang, Tuhan membuatnya sadar akan martabat kehidupan yang mestinya dikasihi dan diampuni.

Pertanyaan retoris dari Tuhan (4:11) tidak membutuhkan jawaban. Karena itu Yunus diam tidak menjawab. Diamnya ini seakan menjadi penemuan dirinya bahwa ada perbedaan antara Allah dan dirinya; Allah sayang kepada orang-orang yang berdosa, sementara Yunus berfokus pada keyakinan akan Allah yang adil yang semestinya menghukum orang-orang

berdosa. Seperti kisah Ayub, kisah Yunus diakhiri dengan penyerahan diri setelah memberontak kepada Tuhan. Bila Ayub mengakhiri perjalanan imannya dengan mengakui kebenaran Allah secara eksplisit (“Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” [Ayub 42:6]), pengakuan Yunus terjadi dalam kediaman dan keheningan.

III. Pesan dan Penerapan

Karakter Tuhan Allah yang pengasih dan penyayang dalam Yun. 4 ditampilkan oleh Yesus saat Ia mengampuni orang berdosa. Injil Yohanes menceritakan, ketika para ahli Taurat dan orang Farisi mendapati seorang perempuan yang berzinah dan menurut mereka si perempuan itu harus dihukum dengan dilempari batu sampai mati, Yesus mengatakan kepada perempuan itu: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang” (Yoh. 8:11). Injil Lukas bab 19 mengisahkan Yesus yang mengampuni Zakheus, seorang pemungut cukai yang dianggap sebagai pendosa besar oleh masyarakatnya, karena ia bertobat. Bahkan Yesus memanggil Matius, seorang pemungut cukai sama seperti Zakheus, untuk menjadi murid-Nya (Mat. 9:9-13; par.).

Pada pertemuan ini, kita mendalami sosok Allah yang pengasih;

karena kasih-Nya itu Ia menggerakkan pertobatan baik orang-orang pilihan-Nya maupun siapa saja, terutama orang-orang yang memiliki kekuatan, kedudukan, dan mandat untuk menentukan kehidupan masyarakat umum sebagaimana orang-orang di Niniwe yang menjadi penguasa dunia saat itu. Mengenai tema pertemuan kita ini, ada dua hal yang dapat kita hayati dan terapkan dalam kehidupan kita, yaitu cara Allah menggerakkan manusia untuk bertobat dan pergulatan manusia untuk melakukan pertobatan.

Perikop Yun. 4:1-11 menunjukkan bahwa meski nabi Yunus sangat kesal menjalani perutusan, namun Tuhan mendampinginya terus menerus dengan setia dan kasih. Nabi-Nya telah melakukan tugasnya dengan berhasil, yaitu mewartakan pertobatan kepada orang-orang Niniwe dan mereka bertobat. Akan tetapi, kondisi hati dan batinnya belum berdamai. Nampaknya, Tuhan bukanlah sosok yang ‘memperalat’

manusia begitu saja demi tujuan-Nya sendiri; Ia memperhatikan kesejahteraan jiwa dan raga orang-orang yang menjadi alat-Nya. Ia tidak ingin membiarkan mereka mati dengan keadaan kesal hati, sebaliknya Ia

menghendaki mereka hidup dalam damai dan mengalami kegembiraan sebagaimana yang Ia lakukan untuk Yunus. Yunus juga seorang manusia yang rapuh, sama seperti kita, akan tetapi kerapuhan ini tidak menjadi alasan bagi Tuhan untuk menyalahkannya. Karena Ia adalah Tuhan pengasih dan penyayang, kerapuhan manusia justru menjadikan-Nya selalu hadir, menyertai, dan membimbing manusia untuk bertobat.

Kisah Zakheus dalam Injil Lukas dapat menjadi gambaran lebih jauh bagaimana Tuhan Yesus yang penuh kasih mendekati orang berdosa sehingga orang tersebut bertobat. Yesus-lah yang pertama kali menyapa Zakheus dengan memanggil namanya saat ia sedang di atas pohon ingin melihat-Nya lewat. Lalu Yesus mengatakan: “Aku harus menumpang [tinggal] di rumahmu” (19:5). Kehadiran Yesus di rumah dan keluarga Zakheus inilah yang membuatnya bertobat dengan cara tidak lagi korupsi dan bermurah hati dengan membagikan hartanya kepada orang miskin.

Kasih dan penyertaan Yesus menggerakkan orang untuk bertobat.

Dari pihak manusia sendiri, pertobatan adalah sebuah perjuangan. Butuh keberanian untuk bertobat. Seluruh ayat dalam bab 4 dari kitab Yunus menceritakan pergulatan Yunus menuju pertobatan.

Perjalanan Yunus yang menyimpang dari kehendak Allah bukan soal tindakan dosa seperti memeras atau membunuh, tetapi keyakinan dan pikiran yang menolak Tuhan yang menurutnya berbuat tidak adil. Tuhan itu semestinya menghukum orang berdosa, itu adil! Tapi kenyataannya, Tuhan menyatakan diri sebagai yang pengasih dan penyayang. Orientasi pertobatan Yunus mengarah pada persetujuan dirinya akan apa yang Allah lakukan untuk umat-Nya, dan ia dengan rela dan bahagia menjadi nabi- Nya. Hidup sepadan dengan kehendak Allah yang menyatakan diri-Nya, inilah pertobatan! Tentu saja, dalam kehidupan umat beriman, pertobatan tidak berhenti pada pemahaman seperti itu. Orientasi pertobatan Yunus dapat menjadi model pertobatan kita yang selanjutnya pertobatan itu kita wujudkan dalam tindakan nyata seperti yang dilakukan oleh Zakheus.

Kita semua dipanggil untuk menjadi nabi-nabi kasih Allah.

IV. Pertanyaan Pendalaman

1. Bila kita menemukan diri kita atau orang lain bertindak jahat merugikan diri kita dan atau sesama, dalam benak dan keyakinan kita, apa yang Tuhan semestinya lakukan untuk mereka?

2. Hal-hal apa saja yang menghalangi kita untuk dapat bertobat?

3. Sungguhkah Tuhan yang menyertai dan membimbing kita, bahkan hadir dalam diri kita melalui Sakramen Ekaristi yang kita terima, menggerakkan kita untuk bertobat?

4. Bagaimana kita memandang kerapuhan kita: Apakah sebagai alasan Tuhan menjauhi kita, atau kita menjauhi Tuhan?

Pertemuan Ketiga

“Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan”

(Yl. 2:25)

Kasih Allah Menyelamatkan (Yl. 2:23-27)

Pertemuan ketiga ini menawarkan pembacaan perikop Yoel 2:23-27 dalam terang pengalaman hidup yang sedang memperbaiki diri dari keterpurukan, atau sebaliknya. Perikop ini memuat Firman Tuhan kepada umat-Nya yang sedang membangun keluarga, agama, dan bangsanya setelah sekian lama meninggalkan tanah airnya karena pembuangan. Sesampai di tanah leluhur mereka, meskipun kini telah bebas, mereka menemukan bahwa keadaan masih hancur dan sepertinya tidak menjanjikan harapan. Dalam Yl. 2:23-27, nabi Yoel meyakinkan mereka bahwa Tuhan Allah akan menyelamatkan mereka. Kata yang dipakai untuk menggambarkan tindakan Allah yang menyelamatkan itu adalah “memulihkan”. Keselamatan dipahami sebagai pemulihan, dan yang melakukan itu adalah Tuhan. Memulihkan dapat berarti mengganti rugi apa yang telah hilang atau rusak selama ini. Umat Allah menemukan bangsa mereka masih hancur dan rusak, dan keadaan itu akan dipulihkan oleh Tuhan.

Dalam dokumen Buku Allah Sumber Kasih dan Keselamatan (Halaman 33-41)