BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Bank Syariah
Bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Islam, yaitu aturan perjanjian (akad) antara bank dengan pihak lain (nasabah) berdasarkan hukum islam dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
Dalam penjelasan atas UU no 21 tahun 2008 pada pasal 2 menyatakan bahwa kegiatan usaha yang berdasarkan Prinsip Syariah, antara lain adalah kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur :
a. Riba, yaitu penambahan pendapatan secara tidak sah (batil) antara lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (fadhl), atau dalam
Penerima Fasilitas mengembalikan dana yang diterima melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu (nasi’ah);
b. Maisir, yaitu transaksi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak pasti dan bersifat untung-untungan;
c. Gharar, yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah;
d. Haram, yaitu transaksi yang objeknya dilarang dalam syariah; atau e. Zalim, yaitu transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihak
lainnya.
Selain itu dalam Pasal 2 PBI No.10/16/PBI/2008 tanggal 25 September tentang Perubahan Atas PBI NO.9/19/PBI/2007 tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana Serta Pelayanan Jasa Bank Syariah yang menegaskan bahwa :
(1) Kegiatan usaha penghimpunan dana, penyaluran dana, dan pelayanan jasa bank berdasarkan prinsip syariah yang dilakukan oleh bank merupakan jasa perbankan.
(2) Dalam melaksanakan jasa perbankan melalui kegiatan penghimpunan dana, penyaluran dana, dan pelayanan jasa bank, bank wajib memenuhi prinsip syariah.
(3) Pemenuhan prinsip syariah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan dengan memenuhi ketentuan pokok hukuman Islam antara lain prinsip keadilan dan keseimbangan (‘adl wa tawazyn),
kemaslahatan (masalahah), dan universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung gharar,maisir, riba, zalim, dan objek haram.
Dalam penjelasan ayat (3) pasal 2 PBI di atas dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan:
‘Adl adalah menempatkan sesuatu hanya pada tempatnya, dan memberikan sesuatu hanya pada yang berhak, serta memperlakukan sesuatu sesuai posisinya.
Tawazan adalah keseimbangan yang meliputi aspek material dan spiritual. Aspek privat dan publik, sektor keuangan dan sektor riil, bisnis dan social, dan keseimbangan aspek pemanfatan dan kelestarian.
Maslahah adalah segala bentuk kebaikan yang berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif, serta harus memenuhi 3 (tiga) unsur, yakni kepatuhan syariah (halal), bermanfaat dan membawa kebaikan (tayib) dalam semua aspek secara keseluruhan yang tidak menimbulkan kemudaratan.
Alamiyah adalah sesuatu yang dapat dilakukan dan
suku, agama, ras, dan golongan, seusai dengan semangat kerahmatan semesta (rahmatan lil alamin).
Gharar adalah transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah.
Maisir adalah transasi yang digantungkan kepada suatu keadaan yang tidak pasti dan bersifat untung- untungan.
Riba adalah pemastian penambahan pendapatan secara tidak sah (batil) antara lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (fadhl), atau dalam transaksi pinjam-meminjam yang mempersyaratkan nasabah penerima fasilitas mengembalikan dana yang diterima melebihi pokok pinjaman karena berjalannya waktu (nasiah).
Zalim adalah transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihak lainnya.
2.2.1 Kegiatan Usaha Bank Umum Syariah
Menurut UU No.21 Tahun 2008 Perbankan Syariah pasal 19 ayat (1) menjelaskan bahwa bank umum syariah dapat melakukan kegiatan usaha, yaitu sebagai berikut :
a. Menghimpun dana dalam bentuk simpanan berupa giro, tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadi’ah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
b. Menghimpun dana dalam bentuk investasi berupa deposito, tabungan, atau bentuk lainnya dipersamakan dengan itu, berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
c. Menyalurkan pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad mudarabah, Akad musharakah, atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
d. Menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad murabahah,Akad salam, Akad istishna’, atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
e. Menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad qardh atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
f. Menyalurkan Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan Akad ijarah dan/atau sewa beli
dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
g. Melakukan pengambilalihan utang berdasarkan Akad hawalah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
h. Melakukan usaha kartu debit dan/atau kartu pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah;
i. Membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan Prinsip Syariah, antara lain, seperti Akad ijarah, musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah, atau hawalah;
j. Membeli surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank Indonesia;
k. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antarpihak ketiga berdasarkan Prinsip Syariah;
l. Melakukan Penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu Akad yang berdasarkan Prinsip Syariah;
m. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah;
n. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan Nasabah berdasarkan Prinsip Syariah;
o. Melakukan fungsi sebagai Wali Amanat berdasarkan Akad wakalah;
p. Memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi berdasarkan Prinsip Syariah; dan
q. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2.2.2 Produk dan Jasa Bank Syariah
Produk dan Jasa Bank Syariah yang ditawarkan kepada masyarakat terbagi menjadi 3 bagian yaitu :
A. Produk Penghimpunan dana
Produk pendanaan terdiri dari Giro (wadi’ah), Deposito (mudharabah mutlaqah, mudharabah muqayyadah) dan Tabungan (mudharabah, wadi’ah)
B. Produk Penyaluran Dana
Produk penyaluran dana bank syariah memiliki tiga pola utama yaitu dengan pola bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), dengan pola jual beli (murabahah, salam dan istishna’), dengan pola sewa operasional maupun finansial (ijarah) dan terdapat bentuk pembiayaan lainnya yang merupakan turunan langsung dari pola pembiayaan di atas yaitu pinjaman kebajikan (qardh).
C. Produk Jasa
Produk jasa terdiri dari wadi’ah yad dhamanah atau titipan (dalam
bank untuk bertindak mewakili nasabah), kafalah (jaminan yang diberikan seseorang untuk menjamin pemenuhan kewajiban pihak kedua), hiwalah (pengalihan dana/ utang dari depositor/ debtor ke penerima/kreditor), rahn (pinjaman dengan jaminan atau mortgage), dan sharf (jual beli mata uang).