PENDAPATAN NEGARA
2.1 Pendahuluan
2.1.1.3 Belanja Perpajakan
nasional dan penguatan sektor strategis dalam rangka transformasi ekonomi, kebijakan bea keluar yang telah dilakukan dan akan dilanjutkan di tahun 2022 antara lain peningkatan kinerja logistik melalui pengembangan National Logistic Ecosystems, harmonisasi fasilitas fiskal lintas K/L, serta penguatan klinik ekspor/klinik Kementerian Keuangan untuk percepatan investasi dan daya saing.
Berbagai perubahan terkait kebijakan, benchmark, metodologi perhitungan, basis data, dan/atau asumsi pada Laporan Belanja Perpajakan tahun 2020 menyebabkan adanya penyesuaian besaran belanja perpajakan untuk tahun 2019 dan tahun-tahun sebelumnya.
Karena adanya penyempurnaan pada setiap laporan yang diterbitkan, maka analisis besaran dan tren belanja perpajakan antar tahun harus dilakukan dengan membandingkan estimasi pos belanja perpajakan pada publikasi laporan tahun yang sama.
Belanja perpajakan Indonesia diestimasi menggunakan revenue forgone method. Metode ini mengukur besaran belanja perpajakan dengan cara menghitung selisih antara penerimaan pajak akibat adanya ketentuan belanja perpajakan dengan penerimaan pajak tanpa ketentuan dimaksud, dengan asumsi bahwa tidak ada perubahan perilaku wajib pajak dan penerimaan dari komponen pajak yang lain. Estimasi besaran belanja perpajakan dilakukan melalui pendekatan makro dan pendekatan mikro, tergantung pada data yang digunakan. Pada Laporan Belanja Perpajakan 2020, estimasi belanja perpajakan mencapai Rp234.885,0 miliar, atau sekitar 1,5 persen PDB. Jumlah ini mengalami penurunan sekitar 13,7 persen dari tahun 2019 yang nilainya sebesar Rp272.111,0 miliar, atau sekitar 1,7 persen PDB.
Hasil estimasi belanja perpajakan dikelompokkan berdasarkan lima kategori, yaitu: (1) jenis pajak; (2) sektor ekonomi;
(3) subjek penerima; (4) tujuan kebijakan belanja perpajakan; dan (5) fungsi belanja pemerintah.
Apabila dikelompokkan berdasarkan jenis pajak, belanja perpajakan yang terbesar untuk tahun 2016–2020 adalah PPN dan PPnBM, yang mencapai 59,8 persen dari total estimasi belanja perpajakan tahun 2020 (Tabel 2.3).
Jumlah terbesar belanja perpajakan untuk PPN dan PPnBM berasal dari pengecualian kewajiban pengusaha kecil untuk menjadi Pengusaha Kena Pajak yang memungut PPN, serta pengecualian pengenaan PPN atas barang dan jasa tertentu yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat, seperti bahan kebutuhan pokok, jasa pendidikan, dan jasa kesehatan.
Tabel 2.4 menyajikan belanja perpajakan berdasarkan sektor perekonomian. Laporan belanja perpajakan tahun 2020 telah menyesuaikan kategorisasi sesuai sektor yang ada pada klasifikasi Produk Domestik Bruto, sehingga berbeda dengan laporan-laporan tahun sebelumnya. Apabila dilihat belanja perpajakan yang ditujukan secara spesifik pada sektor tertentu, sektor yang paling banyak menerima fasilitas perpajakan adalah sektor industri pengolahan, disusul dengan jasa keuangan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Nilai belanja perpajakan untuk sektor industri pengolahan yang tinggi bukan hanya berasal
2016 2017 2018 2019 2020
PPN & PPnBM 108,8 132,8 153,9 156,5 140,4
PPh 77,0 92,4 99,9 104,3 80,6
Bea Masuk dan Cukai 8,5 8,8 12,3 11,3 13,8
PBB sektor P3 0,02 0,1 0,1 0,1 0,1
Bea Materai 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Total 194,4 234,1 266,1 272,1 234,9
Sumber: Kementerian Keuangan
Berdasarkan Jenis Pajak Estimasi
Tabel 2.3
ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN JENIS PAJAK (triliun rupiah)
dari insentif yang ditujukan kepada industri besar, tetapi juga kepada industri UMKM dan pengolahan kebutuhan pokok. Adapun untuk sektor jasa keuangan memiliki nilai belanja perpajakan terbesar karena termasuk dalam jenis jasa dan barang yang dikecualikan sebagai jasa kena pajak (non-Jasa Kena Pajak/non- JKP). Demikian pula untuk sektor pertanian dan perikanan, sebagian besar barang yang dihasilkan oleh sektor ini merupakan barang yang dikecualikan dari barang kena pajak (non- Barang Kena Pajak/non-BKP).
Berdasarkan subjek penerima, belanja perpajakan dibagi menjadi dua, yaitu dunia usaha dan rumah tangga. Penerima dari dunia usaha dapat dibagi menjadi dua yakni UMKM dan dunia usaha secara keseluruhan baik UMKM maupun non-UMKM (multi skala). Sebagaimana disajikan pada Tabel 2.5, mayoritas belanja perpajakan tahun 2020 yaitu sekitar 40,8 persen diterima oleh rumah tangga.
Hal ini sejalan dengan fakta bahwa estimasi belanja perpajakan terbesar adalah untuk jenis pajak PPN dan PPnBM, yang merupakan pengenaan pajak atas konsumsi akhir. Belanja
2016 2017 2018 2019 2020
Spesifik Sektor
Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 24,6 27,8 34,3 35,5 31,4
Pertambangan dan Penggalian 2,3 2,1 2,3 3,2 4,1
Industri Pengolahan 48,3 53,5 63,6 64,3 57,2
Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas 23,8 5,7 6,4 6,6 6,4
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah dan Limbah 0,7 0,8 1,0 1,0 0,9
Konstruksi 3,0 3,4 3,7 4,1 1,5
Perdagangan 6,1 7,8 11,7 14,0 10,1
Transportasi dan Pergudangan 11,5 13,1 15,6 16,9 14,1
Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum 0,6 0,6 1,1 1,0 0,5
Informasi dan Komunikasi 1,6 1,0 1,2 2,0 1,7
Jasa Keuangan dan Asuransi 30,6 33,8 40,9 41,6 37,3
Real Estat 1,8 4,9 4,8 6,7 3,1
Jasa Perusahaan 1,6 2,0 2,6 2,8 1,7
Adm. Pemerintahan dan Jaminan Sosial Wajib 10,3 13,4 12,2 16,5 22,2
Jasa Pendidikan 13,2 15,4 18,6 19,0 16,7
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 2,0 2,5 3,7 3,7 6,6
Lainnya 2,9 8,9 10,4 11,8 10,1
Multi sektor 9,5 37,2 31,9 21,6 9,5
Total 194,4 234,1 266,1 272,1 234,9
Sumber: Kementerian Keuangan
Berdasarkan Sektor Estimasi
Tabel 2.4
ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN SEKTOR PEREKONOMIAN (triliun rupiah)
2016 2017 2018 2019 2020
Dunia Usaha
Multi Skala 74,7 64,5 72,3 80,2 79,2
UMKM 42,7 51,8 62,3 65,5 59,9
Rumah Tangga 77,0 117,8 131,6 126,4 95,8
Total 194,4 234,1 266,1 272,1 234,9
Sumber: Kementerian Keuangan
Berdasarkan Subjek Estimasi
Tabel 2.5
ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN SUBJEK PENERIMA MANFAAT (triliun rupiah)
perpajakan yang khusus ditujukan untuk UMKM berkisar sekitar 25,5 persen, sedangkan sisanya sekitar 33,7 persen merupakan belanja perpajakan yang dinikmati oleh dunia usaha secara umum.
Untuk kategori berikutnya, belanja perpajakan dibagi berdasarkan tujuan pemberiannya (lihat Tabel 2.6). Nilai terbesar belanja perpajakan adalah untuk tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa mayoritas kebijakan belanja perpajakan adalah untuk jenis pajak PPN dan PPnBM, yaitu dalam bentuk pengecualian barang dan jasa kena pajak seperti bahan kebutuhan pokok, jasa angkutan umum, serta jasa pendidikan dan kesehatan, yang ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Berdasarkan Tabel 2.7, sebagian besar belanja perpajakan tahun 2020 yaitu sekitar 55,7 persen digunakan untuk mendukung fungsi ekonomi, dimana fungsi ini bertujuan untuk mendukung
perekonomian secara umum, seperti fasilitas perpajakan untuk pengusaha kecil.
Selanjutnya, belanja perpajakan berdasarkan fungsi perlindungan sosial memiliki porsi yang cukup besar yaitu 21,3 persen, sejalan dengan proporsi belanja langsung pemerintah yang pada tahun 2020 difokuskan untuk melindungi masyarakat dari dampak pandemi. Belanja perpajakan yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah pengecualian atas barang kebutuhan pokok.
Total belanja perpajakan tahun 2020 sudah termasuk insentif perpajakan yang diberikan dalam rangka penanggulangan dampak pandemi Covid-19 sebesar Rp5.525,2 miliar sebagaimana diuraikan pada Tabel 2.8. Selain insentif perpajakan yang ada pada tabel tersebut, terdapat berbagai jenis insentif perpajakan lain yang tidak termasuk dalam definisi belanja perpajakan, karena sifatnya hanya menggeser pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak
2016 2017 2018 2019 2020
Mendukung dunia bisnis 19,8 30,6 33,5 39,2 26,8
Mengembangkan UMKM 42,7 51,8 62,3 65,5 59,9
Meningkatkan iklim investasi 45,2 21,2 27,1 25,8 28,6
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat 86,7 130,5 143,2 141,6 119,7
Total 194,4 234,1 266,1 272,1 234,9
Sumber: Kementerian Keuangan
Berdasarkan Tujuan Estimasi
Tabel 2.6
ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN TUJUAN KEBIJAKAN (triliun rupiah)
2016 2017 2018 2019 2020
Pelayanan Umum 16,3 19,4 22,9 24,0 21,4
Ekonomi 124,8 143,1 162,9 159,3 130,9
Perlindungan Lingkungan Hidup 1,9 1,6 1,8 2,2 3,0
Perumahan dan Fasilitas Umum 5,2 14,6 14,3 16,8 6,8
Kesehatan 1,6 2,0 3,0 3,0 5,8
Agama 0,1 0,1 0,1 0,1 0,2
Pendidikan 13,2 15,4 18,6 19,0 16,7
Perlindungan Sosial 31,3 37,9 42,4 47,7 50,0
Total 194,4 234,1 266,1 272,1 234,9
Sumber: Kementerian Keuangan
Berdasarkan Fungsi Belanja Pemerintah Estimasi
Tabel 2.7
ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN FUNGSI BELANJA PEMERINTAH
(triliun rupiah)
seperti pembebasan PPh Pasal 22, pengurangan angsuran PPh Pasal 25, serta pengembalian pendahuluan PPN.
2.1.2 Perkembangan Penerimaan Negara