PENDAPATAN NEGARA
2.1 Pendahuluan
2.1.2 Perkembangan Penerimaan Negara Bukan Pajak Tahun 2017 – 2021 dan
2.1.2.1 PNBP SDA
PNBP SDA merupakan salah satu komponen utama PNBP yang bersumber dari SDA migas dan SDA nonmigas. Selama periode tahun 2017–2020, PNBP SDA memberikan kontribusi rata-rata sebesar 36,5 persen tiap tahun terhadap total PNBP. Apabila dilihat dari pertumbuhannya, PNBP SDA tumbuh rata-rata sebesar negatif 4,4 persen selama periode 2017–2020. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2017 dengan pertumbuhan sebesar 71,2 persen, sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2020 yang terkontraksi sebesar 37,2 persen.
311,2
409,3 409,0
343,8 357,2 333,2
18,8 31,5
(0,1) (15,9) 3,9 (6,7)
2017 2018 2019 2020 Outlook 2021 RAPBN 2022
GRAFIK 2.6
PERKEMBANGAN PNBP, 2017-2022 (triliun rupiah)
Penerimaan SDA PKND PNBP Lainnya Penerimaan BLU Pertumbuhan (%) Sumber: Kementerian Keuangan
Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh dampak lebih rendahnya harga komoditas utama dunia terutama harga minyak dan batubara di tahun 2020.
Dalam outlook tahun 2021, PNBP SDA diperkirakan mencapai sebesar Rp130.936,8 miliar tumbuh 34,7 persen dari realisasi tahun 2020. Pertumbuhan tersebut didukung baik dari pendapatan SDA migas maupun nonmigas, terutama sejalan dengan tren peningkatan harga minyak dan pertambangan mineral serta batubara pada pasar internasional.
PNBP SDA dalam RAPBN tahun anggaran 2022 ditargetkan sebesar Rp121.950,1 miliar atau terkontraksi sebesar 6,9 persen apabila dibandingkan dengan outlook tahun 2021.
PNBP SDA tersebut terdiri dari pendapatan SDA migas sebesar Rp85.900,6 miliar dan pendapatan SDA nonmigas sebesar Rp36.049,5 miliar.
Pendapatan SDA Migas
Perkembangan pendapatan SDA migas selama periode 2017–2020 mengalami pergerakan yang cukup dinamis dengan pertumbuhan rata-rata sebesar negatif 5,5 persen.
Pertumbuhan ini sejalan dengan volatilitas harga minyak bumi di pasar internasional yang sangat berpengaruh pada pendapatan SDA
migas. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2017 dengan pertumbuhan sebesar 85,6 persen, sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2020 yang terkontraksi sebesar 43,0 persen akibat ICP yang lebih rendah yaitu sebesar US$40,4 per barel.
Pada tahun 2021, realisasi pendapatan SDA migas diperkirakan sebesar Rp94.942,8 miliar atau tumbuh sebesar 37,4 persen dibandingkan realisasi tahun 2020. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya penerimaan SDA minyak bumi sebagai dampak dari meningkatnya rata-rata ICP tahun 2021 yang diproyeksikan berada di kisaran US$55,0–US$65,0 per barel, lebih tinggi jika dibandingkan rata-rata realisasi ICP di tahun 2020. Grafik 2.7 memperlihatkan perkembangan pendapatan SDA migas pada tahun 2017–2022.
Dalam RAPBN tahun anggaran 2022, pendapatan SDA migas ditargetkan sebesar Rp85.900,6 miliar, terdiri atas pendapatan minyak bumi sebesar Rp64.563,6 miliar dan pendapatan gas bumi sebesar Rp21.337,1 miliar. Target pendapatan SDA migas tersebut turun 9,5 persen dari outlook tahun 2021. Penurunan ini utamanya disebabkan oleh adanya perubahan skema perhitungan SDA migas yang disebabkan lebih
81,8
142,8
121,1
69,1 94,9 85,9
2017 2018 2019 2020 Outlook 2021 RAPBN 2022
GRAFIK 2.7
PERKEMBANGAN PNBP SDA MIGAS, 2017-2022 (triliun rupiah)
Minyak Bumi Gas Bumi
Sumber: Kementerian Keuangan
rendahnya Government share migas di tahun 2022, sehingga walaupun proyeksi asumsi harga minyak lebih tinggi dibandingkan tahun 2021, pendapatan SDA migas mengalami penurunan.
Upaya yang yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mengoptimalkan pendapatan SDA migas, antara lain: (1) mengendalikan cost recovery KKKS, dengan mengedepankan prinsip efektivitas dan efisiensi atas pengembalian biaya operational expenditure (opex) dan capital expenditure (capex), termasuk unrecovered cost;
(2) menjaga optimalisasi split bagi hasil Pemerintah baik untuk skema kontrak cost recovery maupun skema kontrak gross split;
dan (3) mengendalikan dampak penurunan penerimaan gas bumi dengan proses yang selektif dan evaluasi yang ketat atas industri pengguna gas bumi tertentu sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 jo.
Peraturan Presiden Nomor 121 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Gas Bumi. Untuk tetap mengamankan serta mengoptimalkan pendapatan SDA migas, dalam RAPBN tahun anggaran 2022 Pemerintah menerapkan beberapa kebijakan teknis, antara lain:
1. Meningkatkan lifting migas, antara lain melalui penyederhanaan dan kemudahan perizinan untuk meningkatkan investasi hulu migas, dengan peningkatan dan perluasan kebijakan pelayanan satu pintu, transformasi sumber daya ke cadangan, mempertahankan tingkat produksi existing yang tinggi, mempercepat chemical Enhanced Oil Recovery (EOR), serta melakukan eksplorasi untuk penemuan cadangan besar (giant discovery).
2. Mendorong pelaksanaan kontrak bagi hasil dan pengendalian biaya operasional kegiatan usaha hulu migas, antara lain melalui skema bagi hasil pengusahaan hulu migas yang ada saat ini didorong agar
pelaku usaha dapat menjalankan usahanya secara lebih efektif dan efisien.
3. Menyempurnakan regulasi baik berupa peraturan maupun kontrak perjanjian.
4. Meningkatkan monitoring dan evaluasi, pengawasan, dan transparansi pemanfaatan serta penggalian potensi melalui pemanfaatan teknologi.
5. Menerapkan kebijakan penetapan HGBT, melalui paket kebijakan stimulus ekonomi untuk mendorong pertumbuhan industri dalam negeri, sesuai Peraturan Presiden Nomor 121 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi.
Pendapatan SDA Nonmigas
Pendapatan SDA nonmigas berasal dari pertambangan mineral dan batubara, kehutanan, perikanan, dan panas bumi.
Selama periode 2017–2020, pendapatan SDA nonmigas tumbuh rata-rata sebesar negatif 1,3 persen. Pertumbuhan SDA nonmigas tersebut terutama dipengaruhi oleh harga dan volume produksi pertambangan mineral dan batubara. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2017 dengan pertumbuhan sebesar 40,8 persen, sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2020 yang terkontraksi sebesar 16,7 persen dimana HBA mencapai titik terendahnya yaitu sebesar US$58,2 per ton.
Pada outlook tahun 2021, pendapatan SDA nonmigas diperkirakan mencapai Rp35.994,0 miliar atau tumbuh 27,9 persen bila dibandingkan tahun 2020. Pertumbuhan tersebut sebagai dampak dari meningkatnya harga komoditas dunia terutama batubara yang diperkirakan sebesar US$81,3 per ton atau lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 yang sebesar US$58,2 per ton.
Pendapatan SDA nonmigas pada RAPBN tahun anggaran 2022 diperkirakan sebesar Rp36.049,5 miliar, tumbuh 0,2 persen dibandingkan outlook tahun 2021.
Pertumbuhan ini didukung oleh membaiknya PNBP sektor kehutanan, perikanan, dan panas bumi, sementara sektor pertambangan minerba diperkirakan akan mengalami perlambatan dibandingkan tahun 2021. Perkembangan pendapatan SDA nonmigas selama 2017–2022 disajikan dalam Grafik 2.8.
Pendapatan SDA pertambangan mineral dan batubara sebagai kontributor paling besar terhadap pendapatan SDA nonmigas, mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar negatif 3,8 persen dalam periode 2017–2020.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh perkembangan harga komoditas batubara dan mineral lainnya, serta volume produksi, dimana di tahun 2020 harga komoditas batubara mencapai titik terendahnya dalam empat tahun terakhir.
Pada outlook tahun 2021, realisasi pendapatan SDA pertambangan minerba diperkirakan mencapai Rp28.978,5 miliar, tumbuh 36,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan harga dan produksi batubara. Tahun 2021 produksi batubara diperkirakan mencapai 625 juta ton
lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi tahun 2019 sebesar 616 juta ton setelah sempat turun di tahun 2020 yang mencapai 563 juta ton. Begitu pula dengan HBA yang diperkirakan terus mengikuti tren positif harga komoditas walau diperkirakan cenderung melandai di akhir tahun 2021. Perkembangan HBA dan produksi batubara dapat dilihat pada Grafik 2.9.
Pada RAPBN tahun anggaran 2022, pendapatan pertambangan minerba diproyeksikan sebesar Rp28.011,3 miliar atau turun 3,3 persen dari outlook tahun 2021.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya proyeksi harga dan produksi batubara pada tahun 2022 dibandingkan tahun sebelumnya. HBA diproyeksikan sebesar US$67,3 per ton lebih rendah dari HBA tahun 2021 yang sebesar US$81,3 per ton, sedangkan volume produksi batubara diproyeksikan sebesar 550 juta ton, lebih rendah dari volume produksinya di tahun 2021 sebesar 625 juta ton. Untuk mengamankan target tersebut, Pemerintah mengambil berbagai kebijakan teknis, antara lain:
1. Penguatan pengawasan penerimaan negara, antara lain: (a) audit kewajiban wajib bayar; (b) pemanfaatan data pembayaran PNBP melalui integrasi aplikasi e-PNBP Minerba dengan aplikasi SIMPONI;
29,3
37,8
33,8
28,1
36,0 36,0
2017 2018 2019 2020 Outlook 2021 RAPBN 2022
GRAFIK 2.8
PNBP SDA NONMIGAS, 2017-2022 (triliun rupiah)
Minerba Kehutanan Perikanan Panas Bumi Sumber: Kementerian Keuangan
(c) penguatan pengawasan pembayaran melalui verifikasi dan/atau audit, serta penagihan kewajiban keuangan atas temuan audit dan joint analysis yang dilakukan;
dan (d) pemberian sanksi penghentian layanan dan pencabutan izin bagi perusahaan yang masih mempunyai tunggakan kepatuhan pembayaran/piutang PNBP/penerimaan negara.
2. Peningkatan koordinasi antar instansi, antara lain: (a) peningkatan kerja sama Kementerian ESDM/Kementerian Perdagangan/Kementerian Perhubungan/
Kementerian Keuangan (DJA, DJBC, LNSW, dan DJP) untuk penguatan pengawasan data ekspor dan transaksi dalam negeri, koordinasi dan supervisi dengan KPK; (b) peningkatan koordinasi dengan pemda provinsi untuk penataan perizinan dan kepatuhan perusahaan dalam memenuhi kewajiban; dan (c) pelaksanaan joint business process, joint analysis, dan joint audit kewajiban sektor minerba.
3. Peningkatan penyuluhan dan kepatuhan, antara lain: (a) memberlakukan kewajiban penggunaan NPWP sebagai identitas tunggal dan hasil verifikasi dari Kemen ESDM untuk persyaratan kelengkapan dokumen pengapalan; (b) mengharuskan pembayaran kewajiban PNBP melalui Aplikasi e-PNBP Minerba;
dan (c) melakukan bimbingan teknis tata cara pemungutan, penghitungan, serta pembayaran PNBP.
Pendapatan SDA kehutanan selama periode tahun 2017–2020 memperlihatkan perkembangan yang fluktuatif dengan rata- rata pertumbuhan sebesar 2,4 persen.
Dalam periode tersebut, pendapatan SDA kehutanan mencapai realisasi tertinggi sebesar Rp5.007,3 miliar di tahun 2019. Tingginya pendapatan SDA kehutanan pada tahun 2019 disebabkan oleh kenaikan penerimaan Penggunaan Kawasan Hutan (PKH). Dalam outlook tahun 2021, realisasi pendapatan SDA kehutanan diperkirakan mencapai Rp4.613,3 miliar tumbuh sebesar 4,8 persen dibandingkan tahun 2020. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume produksi kayu serta peningkatan PKH.
Pada RAPBN tahun anggaran 2022, pendapatan SDA kehutanan direncanakan sebesar Rp4.857,0 miliar atau tumbuh 5,3 persen dari outlook tahun 2021. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan volume produksi kayu dari 49,1 juta m3 di tahun 2021 menjadi 52,3 juta m3 pada tahun 2022.
Kebijakan teknis yang dilakukan oleh Pemerintah dalam mengoptimalkan pendapatan SDA kehutanan, antara lain:
461,4 557,8 616,2 563,0 625,0
550,0
85,9 99,0
77,9
58,2 81,3 67,3
2017 2018 2019 2020 Outlook 2021 RAPBN 2022
GRAFIK 2.9
PERKEMBANGAN HBA & PRODUKSI BATUBARA, 2017-2022
Produksi Batubara (juta ton) HBA (US$/ton) Sumber: Kementerian Keuangan
1. Penyempurnaan regulasi, antara lain penyederhanaan dan penyesuaian regulasi bidang lingkungan hidup dan kehutanan (LHK) dan revisi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang petunjuk teknis (juknis) tata cara pengenaan, pemungutan, dan penyetoran PNBP SDA kehutanan.
2. Optimalisasi produksi dan perbaikan harga, antara lain: (a) pencadangan areal untuk hutan tanaman (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman Industri/IUPHHK-HTI);
(b) peningkatan produktivitas hutan alam dan pengurangan emisi; (c) optimalisasi pemanfaatan hasil hutan (hasil hutan bukan kayu/HHBK dan jasa lingkungan/Jasling);
(d) meningkatkan pendapatan masyarakat dalam usaha komoditas HHBK; dan (e) melakukan evaluasi berkala harga patokan untuk Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) serta Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) setiap enam bulan.
3. Penguatan kerja sama dan perbaikan administrasi, antara lain: (a) peningkatan peran stakeholder dalam kerjasama pemanfaatan dan pengelolaan hutan produksi di tingkat tapak; (b) peningkatan tertib penatausahaan hasil hutan dan iuran kehutanan; (c) optimalisasi PNBP dengan cara peningkatan kegiatan audit lapangan kepatuhan wajib bayar;
(d) peningkatan kapasitas sistem pembayaran dan pengawasan secara online yang terintegrasi dengan SIMPONI;
(e) optimalisasi penagihan PNBP terutang;
dan (f) peningkatan koordinasi antar instansi lain melalui penyusunan kajian, joint process business, dan joint analysis sektor kehutanan.
Sementara itu, pendapatan SDA perikanan pada periode 2017–2020 mengalami pertumbuhan yang positif dengan pertumbuhan rata-rata 6,9 persen. Pertumbuhan positif tersebut terutama didukung oleh penggunaan Sistem Informasi Izin Layanan Cepat (Silat) sehingga mempermudah dan mempercepat proses pengajuan perizinan perikanan tangkap dari semula 14 hari menjadi 1 jam di tahun 2020.
Dalam outlook tahun 2021, realisasi pendapatan SDA perikanan diperkirakan mencapai Rp957,2 miliar atau tumbuh 59,4 persen dari realisasinya pada tahun 2020. Kenaikan ini disebabkan adanya revisi Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis PNBP yang berlaku pada Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pada RAPBN tahun anggaran 2022, pendapatan SDA perikanan direncanakan sebesar Rp1.627,8 miliar atau tumbuh 70,1 persen dari outlook tahun 2021. Peningkatan tersebut sejalan dengan rencana perubahan basis tarif dari jumlah kapal ke komoditas perikanan yang didaratkan. Berbagai kebijakan teknis yang akan diambil Pemerintah agar dapat meraih target tersebut, antara lain:
1. Perubahan kebijakan, antara lain:
(a) perubahan batasan ukuran kapal (semula dibatasi sampai dengan 150 GT);
(b) pengembangan armada sampai dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Laut Lepas; (c) penggunaan alat tangkap yang lebih produktif, dan (d) penetapan Harga Patokan Ikan (HPI) yang baru.
2. Peningkatan Produksi Perikanan Tangkap, antara lain: (a) pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing; (b) peningkatan sarana dan prasarana penunjang produksi perikanan;
dan (c) pemindahan daerah penangkapan
ikan dari wilayah padat tangkap ke Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang potensial.
3. Peningkatan kepatuhan atas pelaporan hasil tangkapan ikan, antara lain: (a) peningkatan pelaksanaan log book penangkapan ikan;
(b) pelaksanaan observer di atas kapal perikanan; (c) penambahan petugas/
enumerator pelaporan hasil tangkapan ikan; dan (d) validasi pembayaran serta optimalisasi penagihan PNBP.
4. Peningkatan pelayanan dan kapasitas SDM, antara lain peningkatan pelayanan perizinan dan pemantauan secara online pelatihan dan pembinaan maupun penambahan petugas;
5. Peningkatan koordinasi antar instansi, antara lain melalui penyusunan kajian proses bisnis sektor perikanan.
Selanjutnya, pendapatan SDA panas bumi dalam periode 2017–2020 mengalami pergerakan yang cukup dinamis dengan tumbuh rata-rata 28,1 persen. Pada tahun 2018–2019, terjadi pertumbuhan yang signifikan sebagai dampak dari kebijakan pemindahbukuan saldo cadangan reimbursement PPN di Rekening Panas Bumi ke Rekening Kas Umum Negara sebesar Rp632,8 miliar dan Rp550,3 miliar. Selain itu, terdapat penundaan kegiatan operasi panas bumi pada tahun 2020 karena kebijakan PSBB selama pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan biaya operasional sehingga meningkatkan setoran bagian Pemerintah.
Dalam outlook tahun 2021, realisasi pendapatan SDA panas bumi diperkirakan mencapai Rp1.445,0 miliar, terkontraksi 26,3 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2020.
Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya setoran bagian Pemerintah dari pengusahaan panas bumi.
Pada RAPBN tahun anggaran 2022, pendapatan SDA panas bumi direncanakan
sebesar Rp1.553,5 miliar atau tumbuh 7,5 persen dari outlook tahun 2021. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh bertambahnya setoran bagian Pemerintah serta berproduksinya wilayah kerja baru antara lain Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Rantau Dedap dan WKP Sokoria. Berbagai kebijakan teknis diupayakan Pemerintah agar dapat meraih target tersebut, antara lain:
1. Penyempurnaan regulasi, antara lain: (a) penerapan perizinan online;
(b) penyelesaian regulasi panas bumi; dan (c) penyederhanaan perizinan di bidang kehutanan dan di Pemerintah Daerah.
2. Penguatan tata kelola, antara lain:
(a) mempercepat pelelangan WKP;
(b) penugasan ke BUMN dan Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE);
(c) koordinasi dengan PT. PLN;
dan (d) regulasi pemanfaatan di zona konservasi.
3. Peningkatan upaya efisiensi, antara lain melalui mitigasi risiko kegiatan hulu panas bumi dan upgrade penggunaan teknologi untuk produksi dan kegiatan pembiayaan eksplorasi.
4. Penguatan data dan informasi, antara lain: (a) pemutakhiran data potensi;
(b) pengembangan teknologi informasi untuk monitoring produksi dan pengawasan PNBP; dan (c) integrasi dan kolaborasi sistem pengelolaan.
2.1.2.2 Pendapatan dari Kekayaan Negara