• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Eksposisi (Paparan)

BAB III BENTUK- BENTUK KARANGAN

3.1 Bentuk Eksposisi (Paparan)

Eksposisi atau paparan merupakan salah satu jenis karangan yang berusaha untuk menuangkan atau menjelaskan pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan orang yang membaca uraian tersebut (bistok, dkk, 1985:151). Tujuan ekposisi seperti yang tertera di atas ialah untuk memberi penerangan atau penjelasan tentang sesuatu kepada pembaca. Bisa pula dengan paparan, seorang penulis ingin mengembangkan gagasan yang dimilikinya melalui pengung- kapan yang mudah dicerna, terurai, dan tentu saja sistematis atau teratur.

Dalam praktek kehidupan sehari-hari bentuk eksposisi banyak digunakan. Misalnya, segala macam resep atau tata cara membuat makanan dan minuman, petunjuk pemakaian suatu alat, petunjuk tentang cara melakukan penanggulangan kecelakaan atau musibah, penjelasan tentang cara membuat ramuan atau obat tradisional, atau- pun hal-hal lain yang bersifat praktis. Karena itu, sering kita dapati bahwa eksposisi itu pendek dan sederhana. Walaupun demikian, sebuah paparan dapat saja panjang, seperti uraian seorang guru/

dosen dalam memberikan pelajaran/perkuliahan di depan kelas.

Uraian itu tentu telah disiapkan atau telah dibagikan kepada siswa/

mahasiswa.

Paparan harus berisi fakta dan gagasan yang lengkap dan logis.

Susunan penyajiannya pun mencerminkan suatu proses kerja dan berpikir yang mudah diserap. Karena itu, tiap-tiap bagian karangan harus merupakan kesatuan dan mencerminkan kesinambungan yang saling mendukung.

Jika kita ingin membuat paparan, maka sebagaimana lazimnya lebih-lebih dahulu kita tentukan topik yang akan kita paparkan.

Apakah kita ingin memaparkan suatu benda, proses pembuatan, dan petunjuk pemakaian benda? Ataukah kita hendak memaparkan suatu gagasan? Dengan demikian, kita tetapkan tujuan pemaparan itu secara

jelas agar hasilnya tidak mengecewakan pembaca. Setelah itu kita buatkan kerangka yang cukup terinci sehingga tinggal mengembang- kan saja. Karena biasanya paparan tidak terlalu panjang, maka topiknya harus betul-betul dibatasi agar dengan keterbatasan itu, dapat lebih dalam dan lebih jelas mengemai hal-hal yang disampaikan.

Eksposisi atau paparan itu banyak ragamnya. Kita bisa mene- mukannya dalam majalah dan surat kabar, seperti resep makanan, kegunaan suatu barang, dan keistimewaan bahan makanan.

Berikut ini merupakan contoh eksposisi yang berisi tentang cara meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia lisan.

Beberapa Cara untuk Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Indonesia Lisan

Sebagai warga negara Indonesia dan pemakai bahasa Indonesia, kita berkeinginan agar dapat menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Hal itu merupakan suatu kewajaran dan dapat dikatakan suatu keharusan. Kemampuan berbahasa Indonesia demikian tidak akan diperoleh begitu saja, tetapi memerlukan tekad dan upaya yang nyata.

Dalam uraian ini akan dikemukakan beberapa cara yang dapat kita terapkan dalam rangka meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia lisan.

a. Melalui Kegiatan Membaca

Kegiatan membaca di sini lebih ditekankan pada membaca nyaring(bersuara) untuk kesempurnaan pelafalan bunyi bahasa Indone- sia. Di samping itu, dengan membaca kita dapat menambah ilmu pengetahuan (yang mungkin akan kita ungkapkan secara lisan kepada orang lain) dan melatih daya nalar atau pikiran ke arah berpikir yang teratur dan sistematis.

Seseorang dapat berbahasa Indonesia lisan secara baik banyak ditunjang oleh bacaan yang pernah dibacanya. Dengan kata lain, makin banyak ia membaca, maka kemungkinan besar makin baik bahasa lisannya; paling tidak ia tidak akan merasa gagap atau macet jika menyampaikan informasi kepada orang lain.

b. Melalui Kegiatan Menulis

Tidak sedikit mereka yang gemar menulis merasakan bahwa kemampuan berbahasa lisannya menjadi semakin baik karena seringnya dia menyelesaikan suatu tulisan. Kita mengetahui bahwa bahasa tulis cenderung lebih hati-hati daripada bahasa lisan. Karenanya pekerjaan menulis cukup sulit untuk dikuasai.

Hal yang terpenting di sini ialah bahwa antara kegiatan menulis dengan berlisan (berbicara) mempunyai hubungan yang erat. Untuk latihan pengucapan (pelafalan), kita dapat membaca tulisan kita secara lisan; dan hal demikian biasa dilatih melalui forum diskusi (kalau kita sebagai penyaji kertas kerja atau pembaca makalah).

c. Melalui Kegiatan Menyimak (Mendengarkan)

Cara yang paling mudah dan murah jika kita ingin meningkatkan bahasa lisan ialah melalui menyimak atau mendengarkan. Kita bisa menyimak siaran dari TVRI, khususnya penyampaian warta berita dan acara-acara resmi, termasuk acara Pembinaan Bahasa Indonesia yang diadakan sekali seminggu. Kita dapat mencontoh lafal yang mendekati lafal standar.

Selain mendengarkan siaran-siaran tersebut, kita dapat memanfaatkan pidato-pidato atau ceramah-ceramah umum yang lebih banyak mengarah pada penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar (sebab ada ceramah yang menggunakan bahasa daerah).

Dengan mendengarkan perkataan orang lain yang kita anggap lebih baik bahasa Indonesianya, kita bisa memperbaiki diri, dalm arti mengoreksi kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan dengan penuh keterbukaan.

d. Melalui Cara Berpikir Sebelum Berkata

Cara yang keempat ini agak aneh dan abstrak atau kurang operasional.

Maksud berpikir sebelum berkata adalah melatih diri kita untuk tidak berkata “asbun” (asal bunyi). Kita mencoba menilai kata-kata yang akan kita ucapkan sebelum menjadi kalimat (kewaspadaan merangkai atau menyusun kata-kata). Tentu saja dalam prakteknya kita tidak akan mengartikan bahwa kita harus memberi waktu bagi mulut kita untuk beberapa saat. Kalau kita berlatih “berpikir sebelum berkata”, ini akan menjadi otomatis (terjadi sendiri) tanpa harus berbicara berhenti-henti.

Hal itu pun berkaitan langsung dengan bekal banyak sedikitnya pengetahuan atau informasi yang akan kita sampaikan, termasuk pengalaman membaca yang kita miliki.

Demikianlah, dengan cara atau melalui kegiatan membaca, menulis, menyimak (mendengarkan), dan berpikir sebelum berkata, kita dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia lisan. (Dikutip dari Banjarmasin Post, 27 Juli 1987).

Kutipan di atas termasuk eksposisi karena memiliki ciri yang biasa kita temukan dalam eksposisi, seperti adanya semacam petunjuk, penuntun, dan hal yang dapat diterapkan atau nilai praktis. Dalam

kutipan itu, walaupun berisi gagasan, ia merupakan acuan sederhana tentang cara agar kemampuan berbahasa Indonesia secara lisan bisa lebih ditingkatkan. Cara untuk peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia lisan itu ada empat, yaitu dengan: kegiatan membaca, kegiatan menulis, kegiatan menyimak (mendengarkan), dan dengan cara berpikir sebelum berkata.

Kita tentu dapat menemukan banyak karangan yang tergolong eksposisi. Bisa kita cari di berbagai majalah, surat kabar, ataupun brosur-brosur serta ikaln-iklan tertentu.

Satu hal yang perlu kita camkan bahwa kita akan menulis karangan yang titik beratnya atau terkategori ke bentuk eskposisi, maka harus ada perasaan ingin menguraikan atau menjelaskan hal yang dikarang itu dengan sejelas-jelasnya agar mudah dicerna oleh pembaca. Dengan demikian, kita berusaha untuk menggunakan ungkapan yang wajar, logis, serta kata-kata yang terpilih. Jika ada kekaburan atau kekurangjelasan uraian, maka akibatnya dapat menghilangkan nilai praktis karangan. Dapat dibayangkan, betapa sulitnya mencari jalan keluar kalau petunjuk pemakaian alat tertentu tidak lengkap atau tidak dapat dipahami oleh pembaca yang akan menggunakan alat itu. Dari situ tampak bahwa berhasil tidaknya suatu eksposisi (paparan) sangat tergantung pada kejelasannya sehingga pembaca dapat memanfaatkannya.