• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V BAHASA DALAM KARANGAN

5.4 Ragam Bahasa

Bahasa sebagai alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan diwujudkan dalam bentuk tulisan dan lisan. Kedua bentuk itu merupakan pertanda adanya dua ragam bahasa, masing-masing mem- punyai perbedaan atau ciri. Bila kita berbicara tentang ragam bahasa, maka terdapat ragam tulisan dan ragam lisan. Ada yang menyatakan bahwa ragam tulis (bahasa tulis) merupakan pemindahan dari ragam lisan (bahasa lisan). Hal itu tidak dapat diterima begitu saja sebab keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Pernyataan itu ada juga benarnya karena memang bahasa lisan lebih dahulu muncul dan dikuasai manusia. Bahasa tulis baru ada setelah manusia mengenal tulisan.

Bahasa tulis atau sebagai ragam tulis dalam penerapannya lebih terikat pada kaidah-kaidah bahasa. Seorang penulis tidak mungkin dapat sumbangan menulis suatu kalimat, tanpa ada memerhatikan unsur-unsur pokok terbentuknya sebuah kalimat, seperti adanya subjek dan predikat. Sekali keluar kalimat dari pikirannya kemudian tertuang ke dalam tulisan maka berarti telah tersimpan dan sulit diralat, apalagi bila dalam karangan yang telah beredar. Urutan pikiran yang dikemukakan tentunya sesuai dengan wujud kalimat yang ada dalam tulisannya karena merupakan wakil pikiran penulis.

Ragam lisan sebagai wujud bahasa pertama sangat terikat pada keadaan dan waktu, tetapi agar longgar keterikatannya dari kaidah- kaidah bahasa. Hanya saja kadang-kadang ada unsur pokok dalam kalimat yang bisa ditinggalkan. Ragam lisan memerlukan orang kedua sebagai lawan bicara maupun sebagai pendengar saja seperti dalam ceramah dan pidato, tanpa teks. Keefektifan ragam lisan sangat tergantung pada kualitas suara dan penampilan pembicara.

Suatu hal yang perlu kita perhatikan ialah bawah ada ragam tulis yang dilisankan, dan sebaliknya ada ragam lisan yang dituliskan.

Ragam tulis yang dituliskan mempunyai ciri-ciri bahasa tulis dan kaidah bahasanya sangat berperan. Berikut ini contoh ragam tulis yang dilisankan.

Disiplin nasional itu hanya berlaku dalam kehidupan bernegara saja, akan tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Ini berarti panggilan tugas bersama tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka masyarakat kita, dari semua kalangan dan lapisan. Apabila dalam Pancakrida Kabinet Pembangunan V dinyatakan bahwa aparatur negara

harus merupakan pelopor dalam menegakkan disiplin nasional, maka hal itu mencerminkan adanya tanggung jawab moral dan tanggung jawab formal aparatur negara yang tugasnya memang untuk melayani bangsa dan masyarakatnya. Kepeloporan di sini berarti bahwa aparatur negara harus menjadi kekuatan pendorong yang memberi teladan yang baik, dengan menegakkan disiplin dalam dirinya sendiri dan dalam pelayanan terhadap masyarakat. Dengan demikian, aparatur negara sekaligus me- mainkan peranan yang aktif dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Dalam rangka semua itu telah diambil langkah awal untuk membudayakan dan melaksanakan pengawasan melekat yang kini sedang giat-giat nya dilancarkan di kalangan aparatur negara. (Dikutip dari “ Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia. Soeharto, tanggal 16 Agustus 1988”, yang dimuat dalam surat kabar jawa pos terbitan 16 Agustus 1988).

Selanjutnya ialah contoh ragam lisan yang dituliskan, yang secara umum terdapat dalam karya sastra seperti cerpen dan novel.

“Apa kabar, wi?” sapa kamu tenang.

Dengan susah payah kutelan ludahku sebelum berkata terbata-bata,”Ba…

baik, La.”

Dari rumah?”

“I….iya, La.”

“Mari masuk,” kata kamu seraya menepi kan diri ke daun pintu.

“Terima kasih, La,”anggukku seraya melangkah dengan canggung.

“Kok, sendirian?” tanya kamu setelah kita duduk. “mana pacarmu?”

Uh, La. Jangan tanyakan itu, La. Dia bukan pacarku. Pacarku adalah kamu!. Maafkan aku. Terimalah aku kembali sebagai kekasihmu. Aku butuh kamu, La. Aku berjanji nggak akan mengecewakan kamu lagi. Aku janji nggak akan menyakiti hatimu lagi. Pokoknya aku janji nggak akan macam- macam lagi.

Mungkin karena aku diam terlalu lama, maka kamu berdiri.

“ aku buatkan minum dulu. O,iya, kamu mau minum apa? Teh? Kopi?

Sirup? Atau….”.

“Nggak usah, La”

Kamu duduk lagi sambil menghela napas. Lalu menunduk.

“La,a…aku datang kemari, mau…mau…”

Kamu mengangkat kepala.

“Mau meminta maaf atas perlakukanku yang lalu itu, La”

Kamu kembali menghela napas. “ Aku sudah memaafkan nya.”

“Aku menyesal, La.”

“Syukurlah,”kata kamu datar.

“Aku berharap… aku harap kamu bisa… bisa menerima aku lagi, La.”

“ Tak mungkin, Wi.”

Aku terhenyak.”Ke…kenapa, La?’

Aku sudah memperoleh penggantimu.”

(dikutip dari cerpen” duh, Gusti”karya Dian Imansyah dalam Anita Cemerlang edisi Juli 1988)

Istilah ragam tulis dan ragam lisan didasarkan pada perwujudan bahasa yang dipakai. Dari segi kebakuannya, ada ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku merupakan ragam yang telah dikenal dan diakui oleh sebagian besar pemakai bahasa serta senantiasa dapat dipertanggungjawabkan kemantapan kaidah yang digunakan.

Ragam tidak baku berarti pemakaian bahasa yang tidak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan terhadap kaidah yang berlaku.

Ragam baku meliputi ragam baku tulis dan ragam baku lisan.

Ragam baku tulis seperti pada buku-buku ilmu pengetahuan (walau- pun kadang-kadang terdapat pemakaian unsur bahasa yang tidak baku). Ragam baku lisan agak sulit diterapkan. Ciri ragam baku lisan ialah tidak adanya atau sedikit sekali pengaruh bahasa daerah pada saat seseorang menggunakan bahasa Indonesia.

Ragam bahasa yang muncul karena pergaulan sehari-hari, ada yang disebut ragam sosial. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan masyarakat, juga dengan bahasa dalam lingkungan kerja. Ragam yang patut kita perhatikan, khususnya bagi yang terjun dalam dunia tulis-menulis, ialah ragam profesional yang muncul dalam hubungan- nya dengan profesi, pekerjaan, serta dalam keilmuan dan teknologi, kebudayaan, keagamaan, kedokteran, hukum politik, ekonomi, kemiliteran dan sebagainya.

Dari ragam-ragam profesional itu melahirkan berbagai istilah bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa hukum, bahasa kedokteran, bahasa ekonomi, bahasa jurnalistik dan sebagainya.

Ragam demikian berkembang cukup pesat, terbukti dengan adanya kamus-kamus khusus seperti kamus politik, kamus ekonomi dan kamus hukum.

Untuk memperjelas pembicaraan tentang ragam bahasa, khususnya yang berhubungan dengan ragam profesional, maka berikut ini dikembangkan beberapa contoh.

Contoh bahasa dalam ragam ekonomi:

Inflasi dapat juga bersumber pada keadaan psikologi sekelompok orang. Perubahan-perubahan seperti itu dapat kita saksikan di bursa saham dan obligasi di Amerika Serikat, Eropa Barat dan Jepang. Perubahan politik, keberhasilan atau kegagalan seorang kepala pemerintahan dapat menurunkan atau menaikkan nilai saham. Kalau orang-orang menduga keadaan akan memburuk, maka harga saham akan turun, meskipun ternyata bahwa keadaan tidak memburuk. Sedikit banyak para pedagang saham di pasar bursa itu harus juga mengerti soal-soal politik dan perekonomian luar negeri. Keadaan psikologi seperti ini di Indonesia pun ada. Kalau diduga pemerintahan akan mengubah kebijaksanaan sedemikian rupa sehingga barang-barang akan langka, maka harga cenderung untuk naik, dan demikian sebaliknya. ( dikutip dari wacana yang berjudul “Inflasi dan Deflasi” oleh Prof. Ace Parta dalam buku Penuntun Bahasa dan Sastra Indonesia oleh Nani Sidarta).

Contoh bahasa dalam ragam keagamaan:

Satu hal yang paling menonjol dan penting ialah memantapkan iman dan keyakinan dalam hari dan jiwa kita bahwa kita ini adalah hamba Allah, sehingga kita harus tunduk patuh melaksanakan perintah-Nya serta menghayati sungguh-sungguh bahwa Allah Pencipta alam semesta selalu melihat, memerhatikan dan mengawasi tingkah laku, perkataan dan perbuatan kita makhluknya. Seorang yang ber puasa tidak berani menjamah makanan milik sendiri, mencampuri istrinya sendiri, membicarakan aib orang lain, berdusta, berlaku curang, dan sebagainya, walaupun di tempat yang sunyi sepi, terpisah jauh dari alat negara dan satu pun tidak ada yang melihat. (Dikutip dari Buletin dakwah, Juni 1987).

Contoh bahasa dalam ragam hukum:

Perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan yang lain itu berkewajiban memenuhi tuntutan itu; sedangkan perjanjian adalah peristiwa di mana seseorang berjanji kepada seseorang yang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Karena itu, perjanjian menimbulkan perikatan. Jadi, dengan demikian perikatan bersumber pada perjanjian, dan perjanjian bersumber pada persetujuan. Perikatan bersifat abstrak dan perjanjian sudah bersifat konkret, kemudian perjanjian dapat lagi dibedakan dengan kontrak karena kontrak adalah bentuk perjanjian yang bersifat tertulis. (Dikutip dari tulisan yang berjudul “Syarat Sah Sebuah Perjanjian” oleh Harun Utuh dalam majalah Vidya Karya terbitan 1987).

Contoh bahasa dalam ragam kedokteran atau kesehatan:

Ginjal adalah salah satu organ yang fungsinya membersihkan dan menyalurkan sisa-sisa metabolisme yang harus dibuang dari tubuh manusia. Secara umum, orang akan terkena sakit ginjal bila ginjal nya bekerja terlalu keras atau melebihi batas, kalau terkena infeksi dan lain- lain.

Ada dua gejala awal dialami orang yang terkena sakit ginjal. Pertama, gejala yang sama seperti sakit pada umumnya, yaitu demam, panas, lemah.

Kedua, gejala khusus berupa sakit pinggang di daerah ginjal, terasa sakit kita buang air seni, air seni yang keluar sedikit bahkan Cuma menetes, warnanya keruh atau bercampur darah, dan lain-lain. (Dikutip dari tulisan yang berjudul ”Kenapa Anda Sakit Ginjal” oleh dr. Abraham Tangyong dalam Femina, Juli 1988).

Dari keempat contoh tersebut (ragam ekonomi, ragam keaga- maan, ragam hukum dan ragam kedokteran), walaupun hanya seba- gian kecil yang tertangkap oleh kita, tampak adanya kekhasan pada masing-masing ragam bahasa yang berdasarkan keprofesian itu. Selain itu, masih banyak ragam bahasa yang terus berkembang di masya- rakat.

Seiring dengan berkembangnya ragam-ragam bahasa, untuk lebih memantapkan keberadaannya, kita lihat adanya media khusus seperti majalah dan tulisan lainnya yang memuat hal-hal yang ber- hubungan dengan ekonomi, kedokteran, hukum, dan sebagainya.

Ada majalah hukum, ada majalah sastra, dan majalah lainnya. Hal itu berkaitan langsung dengan pembinaan setiap ragam pemakaiannya.

Jangkauan yang dikehendaki melalui berbagai penerbitan itu tampak terbatas bagi mereka yang berminat untuk memperluas pengetahuan- nya dalam bidang-bidang tertentu.

Dalam rangka kegiatan tulis-menulis yang terpenting ialah penyesuaian antara bidang atau materi yang ditulis dengan bentuk karangan yang akan dimuat. Jika kita ingin menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi, maka kita harus berusaha mene- rapkan ragam bahasa dalam dunia ekonomi. Kita mencoba untuk mendalami segala istilah yang digunakan dalam bahasa ekonomi.

Kita mencoba untuk mendalami segala istilah yang digunakan dalam bidang itu. Bila kita hendak menulis artikel keagamaan, maka sudah sewajarnya kita mengetahui hal yang menjadikan ciri dari tulisan yang bernada mengajak atau semacam dakwah. Tulisan mengenai politik tentu berbeda dengan tulisan sastra. Dengan demikian, setiap

karangan yang materinya berbeda, ada kemungkinan ragamnya pun tidak sama. Namun, kita harus kembali memerhatikan ragam baku dan ragam tidak baku yang diungkapkan melalui tulisan dan lisan.

Sesuai dengan kepentingan kita untuk tulis-menulis, maka sedapat mungkin berusaha untuk menguasai ragam tulis baku. Kita tentu menginginkan agar karangan kita jelas, mudah diterima, dan sesuai dengan ragam profesional atau ragam fungsional. Selain itu, kita berusaha menerapkan ragam baku tulis, yang secara mendasar ialah adanya penggunaan ejaan dan istilah yang sudah baku. Jadi, perlu adanya penerapan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan istilah baku dalam karangan.

Dalam dokumen Buku Dasar-Dasar Menulis Dengan Penerapannya (Halaman 98-103)