BAB III BENTUK- BENTUK KARANGAN
3.5 Keterpaduan Bentuk Karangan
saja bila argumentasi disebut juga karangan beralasan, artinya ka- rangan yang memuat alasan-alasan untuk meyakinkan pembaca.
itu ditujukan untuk memperkuat dan mendukung alasan, pernyataan, dan pendapatnya. Dengan demikian, argumentasi semakin mapan;
para pembaca (penyimak, bila naskah dibacakan) semakin yakin dan terpengaruh terhadap hal yang disampaikan penulis. Akhirnya, penulis berhasil mempengaruhi sikap dan arah pikiran pembaca, sehingga pembaca melakukan hal yang diinginkannya atau berpendirian sama dengan yang dimaksudkannya.
Apa manfaatnya kita mempelajari ciri-ciri tiap bentuk karangan di atas? Manfaat yang nyata ialah kita dapat menempatkan pokok masalah yang dikarang dengan cermat. Di samping itu, kita tidak akan sampai melakukan penyimpangan dari tujuan yang telah kita kehendaki. Yang penting, jika kita ingin menulis karangan yang lebih mengarah pada argumentasi, kita tidak boleh tenggelam ke dalam ungkapan-ungkapan yang lebih mengarah pada bentuk narasi atau bentuk lainnya. Jadi, yang diandalkan tetap pada adanya argumen (alasan), bukti, dan hal-hal yang meyakinkan orang lain.
Kita tentunya pernah membaca makalah atas kertas kerja yang diseminarkan atau didiskusikan, isinya terasa tidak atau kurang ber- bobot. Seharusnya dalam makalah itu disajikan hal-hal yang dapat membangkitkan daya pikir dan tidak menyimpang dari pokok masalah serta tidak mengarah kepada karya satra. Namun, nyatanya banyak penyajian hal yang tidak penting, gaya bahasanya seperti orang
“bersastra”. Itu tidak tepat. Dalam makalah yang diseminarkan sewa- jarnya digunakan ungkapan dan gaya bahasa yang pantas, dalam arti tidak mengarah pada hal-hal yang menggerakkan emosi. Dengan kata lain, kata-kata yang digunakan harus logis dan satu makna.
Karena itu, pengetahuan dan penguasaan mengarang dengan bentuk- bentuknya yang berbeda-beda itu sangat penting bagi setiap penulis.
I
stilah ilmiah-tidaknya suatu karangan perlu kita pahami. Pada bagian ini tidak dibicarakan secara terinci tentang istilah-istilah yang berhubungan dengan keilmuan suatu karya tulis. Karena itu, di sini tidak dimaksudkan untuk memberikan petunjuk yang lengkap mengenai cara penyusunan karangan ilmiah.. Hal demikian selaras dengan inti penyajian dari buku ini, yakni sekadar memberi masukkan atau arahan dasar bagaimana pengetahuan dan praktik menulis.Dari uraian ini kita dapat mengenal karakteristik atau ciri-ciri suatu karangan: apakah tergolong ilmiah, non ilmiah, ilmiah populer atau tidak ilmiah? Hal itu sangat penting agar kita tidak sembarangan menilai terhadap setiap karangan yang dibaca. Kenyataannya menun- jukkan bahwa kadang-kadang orang dengan begitu saja mengatakan tidak ilmiah atau juga ilmiah populer terhadap suatu karangan. Jika ditanya, apa alasan yang mendasari pernyataan itu? Ternyata ia tidak dapat mengemukakannya. Yang lebih gawat lagi, bila penilaian itu disertai emosi yang meluap-luap. Seharusnya salah satu sikap ilmiah yang perlu diterapkan ialah pemakaian unsur pikiran, bukan gejolak perasaan. Dengan mengetahui keilmiahan suatu karangan, akan mem- beri kemudahan bagi kita untuk membuat karya ilmiah yang akan disajikan dalam kesempatan diskusi, seminar, ataupun pertemuan ilmiah lainnya.
BAB 4
Istilah Karangan Ilmiah, Karangan Nonilmiah Populer,
dan Karangan Tidak Ilmiah
4.1 Istilah Karangan Ilmiah
Pada dasarnya menulis karangan ilmiah tidak jauh berbeda dengan menulis karangan ilmiah, diperlukan kecermatan dalam proses penulisannya dan materinya harus betul-betul dapat dipertanggung- jawabkan serta adanya keterbukaan untuk menerima masukan atau kritikan. Penulis karangan ilmiah tidak sewajarnya mempertahankan diri dengan hal yang dikemukakannya, jika ternyata memang terdapat kesalahan atau penyimpangan
Brotowijaya menyatakan dalam buku Penulisan Karangan Ilmiah bahwa karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar (1958:8-9). Ada dua hal mendasar yang menunjukkan ilmiah tidaknya suatu karangan, pertama, adanya penyajian fakta umum; dan kedua, adanya ketepatan dan keteraturan metode penulisannya.
Yang dimaksud dengan fakta umum adalah fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat diuji sejauh mana fakta itu dapat diterima. Bila ternyata sebaliknya, maka berarti fakta itu gagal dan akan tersisih. Fakta umum ada yang bernilai tidak ilmiah, seperti
“Mobil itu berjalan berderet dua-dua” dan “Pesawat terbang itu jatuh di hutan lindung itu”. Fakta-fakta itu menunjukkan kebenaran, tetapi tidak dapat dipakai untuk membuat suatu pernyataan atau kesimpulan. Contoh fakta umum yang bernilai ilmiah ialah “Setetes air itu terdiri dari sejumlah molekul air yang tiap molekul terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen” (Brotowidjojo, 1985:4).
Fakta-fakta umum atau pernyataan-pernyataan yang ilmiah tidak diungkapkan begitu saja, tetapi sudah dipikirkan dan terbuka kemungkinan untuk diuji. Karena itu, segala pemikiran yang mengarah pada hal-hal yang bersifat mistik, jelas tidak akan termuat di dalamnya. Kebenaran yang dihasilkan dari suatu pembuktian atau pengujian pernyataan ilmiah biasa disebut dengan “kebenaran ilmiah”.
Untuk menyusun suatu karangan ilmiah, diperlukan prosedur dan tahap-tahap tertentu. Dalam hal ini Arifin (1987:7) mengemuka- kan, ada lima tahap, yaitu: 1) tahap persiapan, 2) tahap pengumpulan data, 3) tahap pengorganisasian dan pengonsepan, 4) tahap peme- riksaan atau penyuntingan konsep, dan 5) tahap penyajian atau pengetikan.
Dalam hal-hal yang termasuk ke dalam masing-masing tahap itu, Arifin menyatakan bahwa untuk tahap persiapan meliputi: a) pemilihan masalah atau topik, b) penentuan judul, c) pembuatan kerangka karangan atau ragangan. Tahap pengumpulan data terdiri atas: a) pencarian keterangan dari bahan bacaan, b) pencarian kete- rangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah yang akan digarap, c) pengamatan langsung ke objek, dan d) percobaan dan pengujian di lapangan atau di laboratorium. Tahap pengorganisasian dan pengonsepan meliputi: a) pengelompokan bahan, yakni pengelom- pokan bagian yang didahulukan dan yang dikemudiankan, b) pengonsepan, dan c) pemeriksaan atau penyuntingan konsep; yang kurang dilengkapi, yang tidak/kurang relevan dibuang. Yang termasuk ke dalam tahap penyajian ialah pengetikan hasil penelitian.
Dari uraian di atas jelas bahwa untuk menulis karangan ilmiah diperlukan persiapan yang matang, pengumpulan data atau bahan, baik melalui sumber tertulis maupun sumber lain di lapangan (ter- masuk di laboratorium). Data atau bahan yang terkumpul diolah sedemikian rupa, kemudian disajikan dengan teratur. Juga, data itu sudah disunting dan dikonsep sehingga dapat diperbaiki jika diper- lukan.
Wujud karangan ilmiah itu di antaranya: makalah, kertas kerja, skripsi, tesis dan disertasi. Penamaan itu didasarkan pada keluasan bahasan dan adanya karakteristik tersendiri bagi tiap-tiap karangan imiah itu.
Arifin (1985:23) memberikan penjelasan terhadap nama-nama karangan ilmiah tersebut, yaitu : makalah adalah karya ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif; kertas kerja (sama dengan makalah) adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan sesuatu berdasar- kan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Analisis dalam kertas kerja lebih sering dibandingkan dengan analisis dalam makalah, inilah perbedaannya. Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemu- kakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain; pendapat yang diajukan harus disertai data dan fakta yang empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung (observasi lapangan) maupun penelitian tidak langsung (studi kepustakaan). Tesis adalah karya tulis ilmiah yang bersifat lebih mendalam daripada skripsi. Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat
dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih dengan analisis yang terinci.
Jelaslah bagi kita bahwa penamaan itu diartikan sebagai sesuatu yang “ berjenjang naik dan ber tangga turun”. Karena itu kadang- kadang ada mahasiswa yang gagal dan mundur ketika mendapat tugas untuk membuat karangan ilmiah. Seharusnya hal itu tidak sampai terjadi jika kita betul-betul yakin dan siap sebelum menggarap tugas yang dibebankan kepada kita.
4.2 Karangan NonIlmiah
Keilmiahan suatu karangan ditentukan oleh adanya fakta umum dan penulisan yang benar. Apabila fakta yang disajikan ialah fakta pribadi, bukan fakta umum, serta ditulis berdasarkan metodologi yang benar, maka hasilnya disebutkan karangan non-ilmiah.
Apakah yang dimaksud dengan fakta pribadi itu? Brotowidjoyo, (1985:6) menyatakan bahwa fakta pribadi adalah fakta yang ada pada diri seseorang atau yang ada dalam batin seseorang, sifatnya subjektif, berupa sesuatu yang dipikirkan Apabila kita menyebarkan angket kepada responden, maka data yang terkumpul itu termasuk non ilmiah, walaupun telah diolah sedemikian rupa. Hal itu disebab- kan oleh adanya unsur subjektif atau yang berkenaan dengan batin.
Segala data yang diperoleh dari angket itu diorganisasikan dan ditulis berdasarkan metodologi yang benar, hasilnya disebut “karangan non- ilmiah yang ilmiah (disingkat menjadi “karangan non-ilmiah).
4.3 Karangan Ilmiah Populer
Istilah karangan ilmiah populer muncul karena cara penya- jiannya yang berbeda dengan karangan ilmiah. Penambahan kata
“populer” ditinjau dari segi kepada siapa karangan itu ditujukan.
Jelasnya, karangan itu ditujukan untuk masyarakat umum. Karena itu, bahasanya sederhana dan susunan kalimatnya cenderung dapat dipahami pembaca secara mudah.
Pertimbangan penyajian pada karangan ilmiah populer ber- dasarkan atas adanya pemikiran bahwa tujuan penyajiannya adalah untuk mereka yang tingkat berpikirnya beragam. Jika penyajiannya sama dengan karangan ilmiah, maka akan sulit untuk dipahami oleh
mereka yang tingkat berpikirnya beraneka atau berbeda. Contoh karangan itu dapat kita cari dalam majalah, surat kabar, dan buku- buku yang memang pengadaan nya untuk keperluan orang banyak atau masyarakat luas.
Tidak semua aturan atau metodologi penulisan karangan ilmiah diterapkan ke dalam karangan ilmiah populer. Unsur penceritaan (gaya narasi) sebagai pengantar atau pelengkap, juga sering digunakan agar pembaca merasa diarahkan dan dilibatkan secara berangsur- angsur ke masalah yang diungkapkan pengarangnya. Karangan ilmiah populer sering berkembang cukup pesat saat ini; seiring dengan kemajuan masyarakat yang sudah mulai menyenangi bacaan dalam kehidupannya sehari-hari.
4.4 Karangan Tidak Ilmiah
Suatu karangan dikatakan tidak ilmiah bila tidak ditulis berdasarkan metodologi penulisan yang benar. Artinya, walaupun yang disajikan dalam karangan itu fakta umum, tanpa ditulis dengan prosedur tertentu, tidak ilmiah-lah karangan itu. Penerapan cara penulisan merupakan kunci pokok bagi keilmiahan suatu karangan.
Dengan demikian, tuntutan agar karangan disusun secara sistematis, tidak bisa diremehkan sama sekali.
B
ahasa dalam karangan amat penting diperhatikan oleh setiap penulis. Hubungan antara penulis dengan pembaca ditentukan oleh bahasa yang dipakai dalam karangan. Segala gagasan atau buah pikiran yang dipindahkan ke bahasa tulis tidak sama dengan yang dipindahkan melalui bahasa lisan. Semua kejanggalan dan keran- cuan pada bahasa tulis terekam abadi dalam karangan, sampai ada ralat atau perbaikan yang dilakukan penulis. Kita dapat membayang- kan akibatnya jika suatu karangan tersaji dengan banyak kerancuan kalimat dan penampilan bahasanya yang tidak komunikatif. Hal itu tidak mudah diperbaiki. Bobot suatu karangan hanya ditinjau dari segi isi dan sistematis, bahasanya pun turut menentukan.Pembaca yang jeli akan dapat menilai bahasa yang digunakan penulis. Apakah bahasanya mudah dipahami; ataukah terlalu sulit dicerna? Adakah penulis mempergunakan gaya bahasa yang menarik sehingga pembaca dapat mengikuti bagian-bagian karangan dengan cepat, tanpa harus terhenti oleh adanya kata-kata yang tidak lazim dan keasing-asingan.
Bahasa dalam karangan merupakan alat penyampai gagasan atau buah pikiran penulis, yang mempunyai keterbatasan dibanding- kan dengan bahasa lisan. Keterbatasan itu terasa bila gagasan yang disampaikan tidak sepenuhnya dapat dibahasatuliskan. Karena itu, diperlukan pemakaian tanda baca dan upaya tambahan dari penulis, seperti adanya penjelasan yang lebih rinci terhadap istilah yang dike- mukakan. Di samping itu, kita mengetahui bahwa bahasa tulis meru- pakan bahasa kedua setelah bahasa lisan. Dengan kata lain, manusia terlebih dahulu mengenal bahasa lisan, kemudian muncul budaya tulis menulis. Sudah sewajarnya seorang penulis secara cermat me- merhatikan pengungkapan bahasa yang dituangkan ke dalam karyanya. Suatu hal yang mustahil bila penulis dalam mengarang
BAB 5
Bahasa dalam Karangan
tidak memikirkan pembacanya. Ini sekaligus berarti bahwa ia memi- kirkan alat penyampai gagasan, yaitu bahasa. Pada saat penulis menu- runkan kalimat demi kalimat tentu telah dipikirkan sedalam mungkin bahwa kalimat-kalimatnya itu sudah efektif. Penggunaan kalimat yang panjang dan bertele-tele akan dihindarkannya. Bukankah penggunaan bahasa yang baik dan benar merupakan cermin berpikir penulisnya?
Jelaslah bahwa dalam mengarang seorang penulis dituntut untuk dapat menata bahasa tulis dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, segala tuturan yang dituliskan tidak lepas dari arah, tidak asal tulis dan asal melancarkan pena. Semuanya diproses melalui pertimbangan.
Kepada siapa tulisannya akan disodorkan? Apakah kalimat atau ung- kapan yang ditulis sudah sarat dengan maksud yang ingin disampai- kan? Kepuasan penulis akan terasa bilamana tujuan yang ingin disam- paikannya dapat diserap pembaca. Demikian pula halnya pembaca, ia merasa memperoleh suatu yang berharga dari karangan yang diba- canya. Sebab, kita mengetahui bahwa hakikat yang terdalam dari pembaca ialah adanya rasa ingin tahu dan ingin menambah ilmu pengetahuan, termasuk santapan rohani. Semua itu harus dapat dipe- nuhi oleh penulis melalui karangan itu sendiri.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa pemakaian bahasa dalam karangan harus dapat bersambung atau komunikatif;
dengan kata lain, dapat dengan mudah dicerna dan diterima penikmat karangan. Selanjutnya, pembahasan tentang bahasa dalam karangan, di dalamnya tercakup hal-hal seperti: pemilihan kata dalam kalimat atau diksi, pembuatan kalimat yang efektif, paragraf atau alinea dan pengembangannya, gaya bahasa, ragam bahasa, dan pengungkapan lainnya yang merupakan manifestasi atau perwujudan pemindahan buah pikiran dan perasaan secara tertulis.
5.1 Pilihan Kata
Pilihan kata disebut juga diksi. Seluk-beluk pilihan kata meru- pakan hal yang mendasar dalam karang mengarang. Dari katalah akhirnya terangkat kalimat. Ketetapan dalam memilih kata akan menentukan sampai tidaknya kandungan makna atau maksud yang ada dalam kalimat secara utuh. Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat sesuatu yang diinginkannya, baik lisan maupun tulisan (Arifin, dkk.,1986:150). Kata merupakan bahan bakal untuk karangan (Poerwadarminta, 1979:19). Diksi yang
akan memungkinkan pengarang menyatakan pikiran dan perasaannya dalam suatu cara yang sesuai dengan maksudnya (Bistok, dkk., 1985:15).
Dalam memilih kata ada empat hal yang perlu diperhatikan yaitu: kelaziman, ketepatan, kesesuaian, dan keefekan.
Suatu kata dikatakan mempunyai kelaziman bila telah banyak dikenal dan digunakan orang. Hal itu juga berkaitan dengan waktu dan tempat penggunaannya. Dapat saja suatu kata hilang dari pemakaiannya di masyarakat. Jika sudah tidak digunakan lagi, bukan saja akan tidak lazim, tetapi malah menjadi mati atau usang. Karena itu, kita hendaknya memerhatikan kelaziman kata-kata yang disodor- kan kepada pembaca. Hal itu sangat penting agar kata sebagai penyampai konsep atau makna tertentu tidak terputus atau kabur.
Adanya kata yang tidak lazim mempunyai kaitan dengan gerak dan perkembangan masyarakat sebagai pemakai bahasa itu. Untuk melihat adanya kata yang tidak lazim, di sini di kutipkan sebagian cerita
“Hang Tuah”.
Maka sekalian orang pun datanglah menghadap masing-masing dengan persembahannya, maka dianugerahi oleh Baginda akan segala mereka itu. Maka mereka itu pun terlalu suka cita (Pamuncak, 1960:13).
Pengungkapan kutipan tersebut jika dipakai pada saat ini, sudah tidak biasa atau tidak lazim lagi. Pemakaian kata orang pun, persembahannya, baginda, dan dengan suka cita. Jadi, tampaknya ada kata-kata yang menjadi tidak lazim bila dirangkai untuk memberi ciri gaya penuturan masa lalu.
Kata-kata yang sudah tidak bisa dipakai lagi untuk saat ini cukup banyak terdapat dalam bacaan cerita lama dan buku ilmu pengetahuan yang terbit 50-an tahun yang lewat. Ada kata sebermula, syahdan, penggal (dalam arti jilid atau bagian), sang, nang, bersahaja, bersengatan, (dalam arti sengat), duli, (dalam duli tuanku), hulu- balang, berdatang (dalam berdatang sembah), titah, dan lain-lain.
Adapun kelompok kata yang tidak lazim lagi seperti: jikalau, berhimpun, sekalian mereka itu, akan yang kedua, tiada jadi, tiada ada, tiada sah, tiada pagi, dan pada menyatakan.
Ragam penuturan cerita yang ditulis masa lalu berbeda dengan yang ditulis zaman sekarang. Kalau dahulu ungkapan-ungkapan yang digunakan sangat terikat, tapi sekarang telah cukup bebas. Untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis saja, dahulu dan sekarang
berbeda. Untuk melukiskan keindahan alam, kata-kata atau ung- kapannya pun semakin bervariasi, tidak dari itu ke itu saja. Rupa kemajuan pola berpikir dan cara memandang alam sekitar mewujud- kan bentuk ekspresi baru dalam bahasa tulis. Seakan-akan para penulis sekarang bersepakat untuk mengubur kata-kata atau ung- kapan lama; untuk menggantikannya dengan yang baru, yang sesuai dengan kemajuan bahasa saat ini, dan yang sesuai dengan pandangan dan gaya hidup manusia sekarang. Jadi, suatu kata dapat saja sangat terkenal pada suatu masa dan tempat tertentu, tetapi berangsur- angsur dapat menjadi kurang dikenal (berarti juga kurang dipakai) dan akhirnya menjadi usang atau mati. Dari situ terdapat istilah atau kata-kata yang tidak lazim atau tidak patut lagi untuk dipakai dalam bertutur, baik untuk keperluan lisan maupun tulisan.
Seperti yang dikemukakan di atas kelaziman suatu kata tergan- tung pada masa dan tempat. Ada sejumlah kata atau ungkapan yang bila dipakai di Indonesia akan terasa asing, meskipun pada mulanya digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Contoh itu ialah dari bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia, yaitu pemakaian kata- kata seperti: penuang (pelindung), memperkatakan (membahas atau membicarakan), daripada (dari), dijemput (diundang), yang berhormat (yang terhormat, yang dihormati), palang gol (tiang gawang). Puluhan tahun yang lalu kata-kata itu masih dipakai di Indonesia, tetapi sekarang sudah tidak dipakai lagi, meskipun ada yang tetap digunakan untuk maksud atau makna yang berbeda. Tampak bahwa faktor tempat turut memengaruhi pemakaian suatu kata atau istilah.
Kata-kata yang tidak lazim sedapat mungkin akan dihindarkan oleh setiap penulis, jika ia berkeinginan agar pembaca tidak menga- lami kesulitan dalam mencerna isi karangan secara keseluruhan.
Namun demikian, masih ada kemungkinan untuk memakai suatu kata yang tergolong belum lazim (berbeda dengan tidak lazim) ke dalam tulisannya.
Akhir-akhir ini kita telah mengenal kata-kata seperti: pakar (ahli), mantan (bekas, eks), pemerhati (orang-orang yang memerhati- kan), sarasehan (pembicaraan, diskusi). Kata-kata itu belum mempu- nyai kelaziman, tetapi mengarah menjadi lazim. Karena itu, setiap penulis berkesempatan untuk memasukkan kata-kata itu ke dalam karangannya. Dari situ akan terlihat keadaan pemakai bahasa atau masyarakat untuk menerimanya. Semakin banyak yang mengguna- kannya, semakin besar pula kata-kata itu untuk disebut telah mempu-
nyai kelaziman. Jadi, bila suatu kata belum lazim, maka tampak adanya rasa asing terhadap kata itu. Namun, dengan adanya pema- kaian kata-kata itu secara terus-menerus, lama-kelamaan masyarakat tidak akan merasa asing lagi. Hal itu berhubungan dengan adanya kata atau istilah baru yang muncul sekarang, terutama yang dipra- karsai oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Selain kelaziman suatu kata yang menjadi pertimbangan penulis dalam memilih kata yang akan dipakainya, menjadi perhatian tentang ketepatannya. Kata dinilai mempunyai ketepatan bila dipakai dalam situasi dan tempat pemakaiannya. Pemilihan kata disesuaikan dengan jenis dan isi karangan. Kata-kata yang mengarah atau biasa digunakan dalam karya sastra. Dalam karya ilmiah sudah pasti tidak digunakan kata-kata yang bernapaskan sastra dan ungkapan-ungkapan yang menggerakkan perasaan. Ketepatan pemakaian suatu kata berarti ketepatan penempatan dalam suatu karangan. Dari situ muncullah istilah bahasa umum dan bahasa khusus.
Untuk menyebut angin dalam karangan umum, tidak perlu diganti dengan bayu; Hari Raya tidak disebut Hari Agung, ombak menenggelamkan kapal tidak akan disebut ombak menelan kapal;
menghasilkan pendapat bersama tidak akan disebut dengan menelur- kan pandapat bersama dan contoh lainnya.
Masalah ketepatan pemakaian kata menyangkut pula nilai rasa kata itu. Ada kata yang sama mempunyai makna dasar, tetapi jika dirangkai dalam kalimat, dapat menimbulkan tertentu bagi orang lain. Kita mengenal sejumlah kata atau ungkapan untuk menyatakan bahwa seseorang telah meninggal, seperti: wafat, mangkat, kemali ke hadirat-Nya, berpulang, gugur, meninggal dunia, menghembuskan napas yang terakhir, sampai ajal, mati dan mampus. Penggunaan kata atau ungkapan itu banyak sedikitnya harus memerhatikan atau mempertimbangkan orang yang meninggal. Apakah ia raja, ulama, orang besar, ataukah manusia biasa saja? Seorang prajurit yang me- ninggal di medan perang disebut gugur; seorang raja biasa dipakai mangkat; ulama yang meninggal disebut wafat; seorang penjahat telah patut disebut mampus. Pemakaian bahasa untuk keperluan tertentu telah menjadi sepakat, walaupun tanpa persetujuan resmi.
Bahasa kita banyak memiliki perwujudannya sebagai sarana penyam- pai konsep atau makna. Hanya yang perlu diperhatikan ialah cara mendayagunakannya agar tidak terjadi kejanggalan, apalagi dalam bahasa tulis.