• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V BAHASA DALAM KARANGAN

5.1 Pilihan Kata

Pilihan kata disebut juga diksi. Seluk-beluk pilihan kata meru- pakan hal yang mendasar dalam karang mengarang. Dari katalah akhirnya terangkat kalimat. Ketetapan dalam memilih kata akan menentukan sampai tidaknya kandungan makna atau maksud yang ada dalam kalimat secara utuh. Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat sesuatu yang diinginkannya, baik lisan maupun tulisan (Arifin, dkk.,1986:150). Kata merupakan bahan bakal untuk karangan (Poerwadarminta, 1979:19). Diksi yang

akan memungkinkan pengarang menyatakan pikiran dan perasaannya dalam suatu cara yang sesuai dengan maksudnya (Bistok, dkk., 1985:15).

Dalam memilih kata ada empat hal yang perlu diperhatikan yaitu: kelaziman, ketepatan, kesesuaian, dan keefekan.

Suatu kata dikatakan mempunyai kelaziman bila telah banyak dikenal dan digunakan orang. Hal itu juga berkaitan dengan waktu dan tempat penggunaannya. Dapat saja suatu kata hilang dari pemakaiannya di masyarakat. Jika sudah tidak digunakan lagi, bukan saja akan tidak lazim, tetapi malah menjadi mati atau usang. Karena itu, kita hendaknya memerhatikan kelaziman kata-kata yang disodor- kan kepada pembaca. Hal itu sangat penting agar kata sebagai penyampai konsep atau makna tertentu tidak terputus atau kabur.

Adanya kata yang tidak lazim mempunyai kaitan dengan gerak dan perkembangan masyarakat sebagai pemakai bahasa itu. Untuk melihat adanya kata yang tidak lazim, di sini di kutipkan sebagian cerita

“Hang Tuah”.

Maka sekalian orang pun datanglah menghadap masing-masing dengan persembahannya, maka dianugerahi oleh Baginda akan segala mereka itu. Maka mereka itu pun terlalu suka cita (Pamuncak, 1960:13).

Pengungkapan kutipan tersebut jika dipakai pada saat ini, sudah tidak biasa atau tidak lazim lagi. Pemakaian kata orang pun, persembahannya, baginda, dan dengan suka cita. Jadi, tampaknya ada kata-kata yang menjadi tidak lazim bila dirangkai untuk memberi ciri gaya penuturan masa lalu.

Kata-kata yang sudah tidak bisa dipakai lagi untuk saat ini cukup banyak terdapat dalam bacaan cerita lama dan buku ilmu pengetahuan yang terbit 50-an tahun yang lewat. Ada kata sebermula, syahdan, penggal (dalam arti jilid atau bagian), sang, nang, bersahaja, bersengatan, (dalam arti sengat), duli, (dalam duli tuanku), hulu- balang, berdatang (dalam berdatang sembah), titah, dan lain-lain.

Adapun kelompok kata yang tidak lazim lagi seperti: jikalau, berhimpun, sekalian mereka itu, akan yang kedua, tiada jadi, tiada ada, tiada sah, tiada pagi, dan pada menyatakan.

Ragam penuturan cerita yang ditulis masa lalu berbeda dengan yang ditulis zaman sekarang. Kalau dahulu ungkapan-ungkapan yang digunakan sangat terikat, tapi sekarang telah cukup bebas. Untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis saja, dahulu dan sekarang

berbeda. Untuk melukiskan keindahan alam, kata-kata atau ung- kapannya pun semakin bervariasi, tidak dari itu ke itu saja. Rupa kemajuan pola berpikir dan cara memandang alam sekitar mewujud- kan bentuk ekspresi baru dalam bahasa tulis. Seakan-akan para penulis sekarang bersepakat untuk mengubur kata-kata atau ung- kapan lama; untuk menggantikannya dengan yang baru, yang sesuai dengan kemajuan bahasa saat ini, dan yang sesuai dengan pandangan dan gaya hidup manusia sekarang. Jadi, suatu kata dapat saja sangat terkenal pada suatu masa dan tempat tertentu, tetapi berangsur- angsur dapat menjadi kurang dikenal (berarti juga kurang dipakai) dan akhirnya menjadi usang atau mati. Dari situ terdapat istilah atau kata-kata yang tidak lazim atau tidak patut lagi untuk dipakai dalam bertutur, baik untuk keperluan lisan maupun tulisan.

Seperti yang dikemukakan di atas kelaziman suatu kata tergan- tung pada masa dan tempat. Ada sejumlah kata atau ungkapan yang bila dipakai di Indonesia akan terasa asing, meskipun pada mulanya digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Contoh itu ialah dari bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia, yaitu pemakaian kata- kata seperti: penuang (pelindung), memperkatakan (membahas atau membicarakan), daripada (dari), dijemput (diundang), yang berhormat (yang terhormat, yang dihormati), palang gol (tiang gawang). Puluhan tahun yang lalu kata-kata itu masih dipakai di Indonesia, tetapi sekarang sudah tidak dipakai lagi, meskipun ada yang tetap digunakan untuk maksud atau makna yang berbeda. Tampak bahwa faktor tempat turut memengaruhi pemakaian suatu kata atau istilah.

Kata-kata yang tidak lazim sedapat mungkin akan dihindarkan oleh setiap penulis, jika ia berkeinginan agar pembaca tidak menga- lami kesulitan dalam mencerna isi karangan secara keseluruhan.

Namun demikian, masih ada kemungkinan untuk memakai suatu kata yang tergolong belum lazim (berbeda dengan tidak lazim) ke dalam tulisannya.

Akhir-akhir ini kita telah mengenal kata-kata seperti: pakar (ahli), mantan (bekas, eks), pemerhati (orang-orang yang memerhati- kan), sarasehan (pembicaraan, diskusi). Kata-kata itu belum mempu- nyai kelaziman, tetapi mengarah menjadi lazim. Karena itu, setiap penulis berkesempatan untuk memasukkan kata-kata itu ke dalam karangannya. Dari situ akan terlihat keadaan pemakai bahasa atau masyarakat untuk menerimanya. Semakin banyak yang mengguna- kannya, semakin besar pula kata-kata itu untuk disebut telah mempu-

nyai kelaziman. Jadi, bila suatu kata belum lazim, maka tampak adanya rasa asing terhadap kata itu. Namun, dengan adanya pema- kaian kata-kata itu secara terus-menerus, lama-kelamaan masyarakat tidak akan merasa asing lagi. Hal itu berhubungan dengan adanya kata atau istilah baru yang muncul sekarang, terutama yang dipra- karsai oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Selain kelaziman suatu kata yang menjadi pertimbangan penulis dalam memilih kata yang akan dipakainya, menjadi perhatian tentang ketepatannya. Kata dinilai mempunyai ketepatan bila dipakai dalam situasi dan tempat pemakaiannya. Pemilihan kata disesuaikan dengan jenis dan isi karangan. Kata-kata yang mengarah atau biasa digunakan dalam karya sastra. Dalam karya ilmiah sudah pasti tidak digunakan kata-kata yang bernapaskan sastra dan ungkapan-ungkapan yang menggerakkan perasaan. Ketepatan pemakaian suatu kata berarti ketepatan penempatan dalam suatu karangan. Dari situ muncullah istilah bahasa umum dan bahasa khusus.

Untuk menyebut angin dalam karangan umum, tidak perlu diganti dengan bayu; Hari Raya tidak disebut Hari Agung, ombak menenggelamkan kapal tidak akan disebut ombak menelan kapal;

menghasilkan pendapat bersama tidak akan disebut dengan menelur- kan pandapat bersama dan contoh lainnya.

Masalah ketepatan pemakaian kata menyangkut pula nilai rasa kata itu. Ada kata yang sama mempunyai makna dasar, tetapi jika dirangkai dalam kalimat, dapat menimbulkan tertentu bagi orang lain. Kita mengenal sejumlah kata atau ungkapan untuk menyatakan bahwa seseorang telah meninggal, seperti: wafat, mangkat, kemali ke hadirat-Nya, berpulang, gugur, meninggal dunia, menghembuskan napas yang terakhir, sampai ajal, mati dan mampus. Penggunaan kata atau ungkapan itu banyak sedikitnya harus memerhatikan atau mempertimbangkan orang yang meninggal. Apakah ia raja, ulama, orang besar, ataukah manusia biasa saja? Seorang prajurit yang me- ninggal di medan perang disebut gugur; seorang raja biasa dipakai mangkat; ulama yang meninggal disebut wafat; seorang penjahat telah patut disebut mampus. Pemakaian bahasa untuk keperluan tertentu telah menjadi sepakat, walaupun tanpa persetujuan resmi.

Bahasa kita banyak memiliki perwujudannya sebagai sarana penyam- pai konsep atau makna. Hanya yang perlu diperhatikan ialah cara mendayagunakannya agar tidak terjadi kejanggalan, apalagi dalam bahasa tulis.

Penulis yang baik tentu pandai memilih kata yang sesuai dengan situasi pemakaiannya. Ia selalu berkeyakinan bahwa ia akan melayani pembaca dengan sebaik-baiknya. Kapan ia menulis dengan gaya baha- sa sastra? Kapan ia menulis dengan gaya bahasa untuk keperluan karangan umum atau bukan sastra?

Kelaziman kata berarti bahwa kata itu telah banyak dipakai dan dikenal luas; ketetapan kata berarti bahwa kata itu telah sesuai dengan situasi pemakaian.

Yang ketiga ialah keserasian, yakni bahwa kata yang dipakai sesuai dengan maksud atau keinginan penulis/pembicara.

Keserasian pemakaian suatu kata erat hubungannya dengan keinginan penulis (dalam karangan) dan pembicara (dalam komunikasi lisan). Pemakaian kata disempurnakan tidak sama dengan digantikan atau diluruskan; ungkapan kurang sependapat tidak sama dengan tidak sependapat; kata diharapkan berbeda dengan dimintakan; kata berceramah berbeda dengan bercakap-cakap; kata pemugaran tidak sama dengan pembangunan. Jadi, keserasian pemakaian kata seiring dengan isi pikiran dan perasaan yang ingin disampaikan. Hal itu juga berhubungan dengan ketegasan maksud. Dengan demikian, tidak akan terjadi penafsiran yang beragam dan salah dari pembaca. Selain itu, dengan keserasian, akan dapat dihindarkan pernyataan yang bertele dan semu atau tidak jelas, yang sebenarnya diungkapkan penulis.

Istilah keserasian disebut pula keseksamaan. Seksama berarti serasi benar dengan apa yang hendak dituturkan (Poerwadarminta 1979:43). Dapat saja suatu kata telah menunjukkan keserasian sesuai dengan maksud penulis, tetapi ia tidak lazim dan penempatannya tidak tepat. Dengan demikian, kata itu harus dikeluarkan dari kalimat, kemudian dicarikan kata lain yang serasi, lazim, dan tepat penem- patannya. Keserasian, kelaziman, dan ketetapan memiliki hubungan yang erat dan menduduki posisi yang sama pentingnya. Karena itu, seorang penulis sebaiknya merumuskan lebih dahulu hal yang ingin diutarakannya kepada pembaca. Kita mengetahui bahwa bahasa tulis sangat terbatas, sehingga bila semuanya saja dikeluarkan maka karangan pun menjadi tidak komunikatif. Pembaca mudah jenuh dan kemungkinan besar ia tidak akan membaca sampai selesai.

Hal yang berikutnya yang perlu kita perhatikan ialah keefekan.

Keefekan berarti semacam dampak atau pengaruh pemakaian suatu kata dalam kalimat. Hal itu berkaitan dengan nilai rasa suatu kata.

Suatu kata dapat menimbulkan efek atau kesan negatif bagi pembaca bila tidak mengindahkan nilai rasa. Kata tolol tentu tidak begitu saja disamakan dengan bodoh . Kata tolol mengandung ejekan;

kata bodoh merupakan lawan dari kata cerdas. Dari kata atau ung- kapan yang dituturkan dalam karangan kadang-kadang dapat diberi ciri bahwa karangan yang ditulis oleh si anu bernada keras, kata yang digunakan terlalu bombastis atau kurang mencerminkan keso- panan.

Dari situ timbul istilah kata-kata atau ungkapan yang kasar.

Walaupun bahasa Indonesia (yang bersumber dari bahasa Melayu) tidak mengenal tingkatan pemakaian dalam berbahasa, masalah ke- efekan dan nilai rasa tetap ada.

Untuk menjaga agar efek kata atau ungkapan yang dikeluarkan sesuai dengan yang diinginkan, diperlukan kekayaan kosakata atau perbendaharaan kata. Dengan perbendaharaan kata yang cukup, penulis dapat memilih kata yang lazim, tepat, serasi, dan tidak menim- bulkan dampak negatif.

Dengan memerhatikan kelaziman, ketepatan, keserasian, dan keefekan kata, diharapkan agar isi dan maksud karangan dapat sampai dengan mudah dan tepat dipahami pembaca. Karena itu, seorang penulis tidak akan sembarangan memindahkan buah pikiran dan perasaannya, tanpa mempertimbangkan kata-kata yang akan dipakai.

Selain keempat hal tersebut, masih perlu kita perhatikan tentang adanya istilah kata dengan makna denotatif dan konotatif. Makna denotatif berarti makna yang berdasarkan kewajaran atau makna sebenarnya. Contohnya, kata garam dalam kalimat “Ibu menggulai sayur bercampur garam”. Garam pada kalimat itu berarti sejenis benda yang berwarna putih dan berasa asin. Namun, jika garam dalam kalimat “Orang itu sudah banyak makan garam”, maka kata garam di sini berarti pengalaman hidup; hal ini disebut makna kono- tatif, yaitu arti atau makna yang timbul kemudian, bukan arti sebe- narnya.

Pemakaian kata dengan makna denotatif dan konotatif harus sesuai dengan situasi dan letaknya dalam kalimat. Pada karangan ilmiah kata-kata yang digunakan harus bermakna denotatif, sama sekali tidak dibenarkan penggunaan kata yang menimbulkan arti ganda atau lebih dari satu. Penuturan dalam karangan ilmiah harus konsisten, jelas, sederhana, dan ringkas serta kuat efeknya kepada pembaca (Brotowidjoyo, 1985:75).

Dalam karya sastra banyak digunakan kata-kata yang mempu- nyai makna lebih dari satu atau makna ganda. Karenanya, jika kita membaca karya sastra (apalagi puisi), kita memerlukan daya rasa dan apresiasi yang tinggi. Wajar saja bila dikatakan bahwa karya sastra arahnya kepada perasaan, sedangkan karya bukan sastra arah- nya kepada pikiran.

Kita harus mampu menempatkan suatu kata pada tempatnya, baik untuk kepentingan karya keilmuan ataupun kesastraan. Penge- tahuan tentang makna denotatif dan konotatif akan dapat membantu kita agar suatu kata yang sesuai penempatannya, apakah untuk keper- luan karya sastra atau bukan? Dengan demikian, akan terawasi mak- na kata itu dari segala kekaburan dan kesimpangsiuran.

Khusus tentang arti konotatif, Di samping penggunaan kata secara satu per satu, termasuk di dalamnya pemakaian kata-kata secara gabungan. Ada gabungan kata atau ungkapan panjang tangan, ringan tangan, tangan kanan, kaki tangan, gelap mata, mata-mata, cendera mata, mata keranjang, berputih mata, mata hati, keras kepala, kepala batu, besar kepala, berkepala dingin, kepala kerja, sakit hati, berat hati, mengetuk hati, menyentuh hati, buah hati, lapang dada, mengurut dada, dan masih banyak lagi.

Penggunaan kata-kata yang berbentuk ungkapan dimaksudkan untuk menghidupkan karangan dan mengajak pembaca untuk menyimak lebih dalam terhadap nilai-nilai dan makna yang ditimbul- kan oleh ungkapan itu. Ungkapan ada beberapa macam, ada yang disebut persamaan (menyamakan dua hal), perumpamaan (hampir sama dengan persamaan, tetapi ada yang berbeda), metafora (persa- maan langsung, sebutan benda yang satu digantikan dengan sebutan yang lain), metonimia (mengecilkan suatu himpunan yang besar), personifikasi (menghidupkan benda atau hal tertentu seperti manusia), litotes (merendahkan diri dengan berlebih-lebihan), hiperbola (per- nyataan yang berlebih-lebihan), dan lain-lain.

Berikut ini dikemukakan beberapa contoh ungkapan-ungkapan tersebut.

1) persamaan

– Wajahnya yang manis dan menarik itu bagai bulan purnama – Gadis yang peramah itu seperti bunga Mawar di kampung

kami

2) perumpamaan

– Seperti telur di ujung tanduk – Seperti kejatuhan bulan 3) metafora

– Saya telah bertemu dengan si Jantan dari desa itu – Kita jangan sampai menjadi sampah masyarakat 4) metonimia

– Jono pulang-pergi dengan Garuda

– Jika Iwan tidak cidera, mungkin memperoleh emas dalam pertandingan itu

5) personifikasi

– Makam pahlawan itu memberi bukti betapa berat dan susahnya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah – Buku Aulia yang banyak itu menjadi saksi keberhasilannya

dalam menempuh studinya di perguruan tinggi 6) litotes

– Habis sudah air mata Wati karena sangat berduka ketika ibunya meninggal

– Jangankan gedung, gubuk pun aku tak punya 7) hiperbola

– Harapan Amin telah sirna sehingga badannya kurus tertinggal ualang

– Harga barang di pasaran telah mencekik leher

Ungkapan-ungkapan atau majas di atas banyak kita temukan dalam karya sastra dan karya umum yang digunakan untuk menghi- dupkan karangan. Jika dahulu ungkapan diwujudkan dengan bahasa yang agak terikat, sekarang telah berkembang, bervariasi, sesuai dengan kemajuan masyarakat dan perkembangan bahasa. Kata-kata yang dirangkai dalam kalimat yang bermakna kias dipilih sedemikian rupa sehingga mampu meninggalkan tersendiri bagi pembaca.

Selain itu, dalam hal pemilihan kata ada yang disebut sinonim, homonim, dan polisemi. Sinonim adalah kesamaan atau kemiripan makna dua buah kata atau lebih, tetapi bentuknya berbeda. Penggu- naan sinonim dimaksudkan untuk variasi dan agar tidak terjadi kebo- sanan. Untuk membuat variasi dalam bacaan atau tulisan, diperlukan penguasaan kosakata yang memadai, yaitu di antaranya dengan ba- nyak membaca.

Kosakata bahasa Indonesia banyak terdapat yang ber sinonim, baik dalam pengertian ber sinonim penih maupun yang hanya me- ngandung kemiripan. Kemiripan muncul di antaranya karena kata itu berjenis kata benda, kemudian dikaitkan dengan fungsi atau mak- na kata dalam kehidupan sehari-hari. Kata rumah, misalnya, ber sinonim dengan wisma, hotel, losmen, asrama, mess, aula, audito- rium, bangsal, gedung, sasana, balai, gubuk, pondok, lepau, dan kata lain yang mirip maknanya. Ada kata cahaya dan ada kata sinar.

Ada kata mati, adapula kata mangkat, meninggal, tewas, gugur, dan sebagainya. Ada kata bisa ada kata dapat. Arifin (1987:155) menyata- kan bahwa dalam pemakaiannya bentuk-bentuk kata yang bersinonim akan menghidupkan bahasa seseorang dan mengkonkretkan bahasa seseorang sehingga kejelasan komunikasi (lewat bahasa itu) akan terwujud.

Selanjutnya, homonim adalah dua buah kata yang sama wujudnya, tetapi maknanya berbeda. Contohnya, ada kata bisa yang berarti racun; ada pula kata bisa yang berarti dapat atau mampu.

Misalnya dalam kalimat berikut ini:

– Bisa ular itu sangat berbahaya

– Tak kusangka bahwa anak itu bisa mengangkat barang yang berat. (berarti dapat atau mampu).

Dari uraian itu yang dikemukakan pada bagian pilihan kata itu dapat disimpulkan bahwa untuk memilih dan menempatkan suatu kata dalam rangkaian kalimat harus diperhatikan beberapa hal, yaitu kelaziman, ketepatan, keserasian, dan keefekan. Selain itu, perlu juga dipahami tentang makna denotatif dan konotatif suatu kata dalam kaitannya dengan bentuk karangan yang sedang ditulis. Juga, pengetahuan mengenai sinonim dan homonim sangat berguna bagi penulis, sehingga kata-kata yang digunakan dapat bervariasi.

Dalam kaitannya dengan diksi atau pilihan kata kita harus memperhatikan dengan cermat, mungkin saja kita ada menggunakan kata-kata dari bahasa daerah yang belum menjadi milik umum.

Dengan kata lain, kita senantiasa berhati-hati dalam menggunakan bahasa tutur ataupun bahasa daerah agar tidak masuk ke karangan yang sedang dikerjakan. Kalaupun kita ingin juga memasukkannya, sebaiknya disertakan penjelasan atau persamaan dalam bahasa In- donesia. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari salah penafsiran dari pembaca. Bisa saja semua kata yang dipakai termasuk kosakata

bahasa Indonesia, tetapi strukturnya dipengaruhi oleh bahasa daerah.

Hal itu pun harus dihindari sedapat mungkin.