Bab ini berisi uraian tentang sam'iyyat. Yakni hal-hal yang tidak bisa diketahui dan dipahami dengan akal semata, bahkan hanya bisa dikenal melalui informasi dari Al- Quran dan sunnah.
Wahai saudaraku, Anda sudah memahami dari bab terdahulu bahwa setiap orang mukallaf wajib mengimani semua yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.
Sungguh, tidak ada keraguan akan kerasulannya. Kerasulan Muhammad saw. bersifat umum bagi semua makhluk, dengan dalil-dalil yang pasti dan meyakinkan.
MALAIKAT
Setiap orang mukallaf wajib beriman kepada malaikat, secara global dan rinci.
Malaikat adalah jisim lembut bersifat cahaya dan mampu mewujud dalam beragam bentuk, ilmunya sempurna dan mampu melaksanakan amal-amal yang sangat berat.
Kesaksian dari Al-Quran dan sunnah tentang keberadaan malaikat sungguh banyak, tidak terhitung. Seperti firman Allah Ta'ala, “Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barang siapa yang enggan untuk menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.”
Allah Ta'ala berfirman, (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan ke, pada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang- orang yang telah beriman.”
Allah Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat. Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Beriman kepada malaikat secara total adalah meyakini bahwa Allah Ta'ala mempunyai malaikat-malaikat, yang tidak berjenis kelamin, tidak makan, tidak minum, tidak tidur dan tidak menikah. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan,
...yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya." Dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka selain Allah Ta'ala.
Para malaikat yang wajib diketahui secara rinci adalah Jibril sang penyampai wahyu, Mika'il yang diberi tugas mengatur rezeki, Israfil yang bertugas meniup sangkakala, Malaikat Maut yang bertugas mencabut ruh, Munkar dan Nakir yang bertugas menanyai mayat di dalam kubur, Ragib' dan 'Atid yang bertugas mencatat setiap yang dilakukan oleh hamba Allah, Malik yang bertugas menjaga neraka, Ridhwan yang bertugas menjaga surga, dan malaikat penyangga 'Arsy yang berjumlah delapan.
Barang siapa mengingkari keberadaan mereka, atau mengingkari keberadaan salah satu dari mereka, berarti dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Hanya saja mengingkari malaikat Munkar dan Nakir tidak sampai membuat seseorang menjadi kafir, melainkan fasik, karena adanya perselisihan tentang keduanya.
Kita mesti percaya dan yakin bahwa malaikat adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan, “Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Adapun cerita yang populer tentang Harut dan Marut, yang mengisahkan bahwa keduanya adalah malaikat yang mengajarkan ilmu sihir kepada manusia, dengan bumbu kebohongan tukang dongeng yang mengatakan bahwa keduanya disiksa dan dialih rupa karena perbuatannya, itu merupakan cerita bohong dan sesat. Tidak boleh dipercaya.
Tentang Harut dan Marut yang perlu kita percaya adalah keberadaannya. Jika keduanya bukan malaikat, maka perkara mereka mengajarkan sihir sudah jelas.
Sedangkan jika mereka berdua adalah malaikat, maka tindakan mereka mengajarkan sihir kepada manusia itu bukan untuk diamalkan, melainkan agar manusia yang diajarinya itu bisa menjaga diri dari serangan sihir, dengan mengetahui hakikat sihir dan memahami secara jelas keburukan dan siksanya. Karena itu Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Harut dan Marut, tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu
janganlah kamu kafir” Harut dan Marut mengajarkan sihir bukan untuk diamalkan, melainkan untuk menerangkan berbagai masalah seperti hakikat zina dan macam- macam riba, agar si mukallaf bisa menghindarkan diri darinya. Karena kejahatan dan keburukan dapat dihindari dengan pengetahuan tentangnya. Khudzaifah r.a. berkata,
“Orang-orang bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang kebaikan. Tetapi aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena aku takut terjerumus ke dalamnya.”
JIN
Berdasarkan kesepakatan para ulama, selain beriman kepada mala. ikat, kita juga wajib mempercayai keberadaan jin. Sungguh, keberadaan jin telah ditegaskan di dalam Al-Quran dan sunnah. Seperti di dalam firman Allah Ta'ala, “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api."
Allah Ta'ala berfirman, “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sang. gup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Allah Ta'ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan sekelompok jin kepadamu yang mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan-(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”.
Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.”
Jin adalah jisim lembut yang bisa mewujud dalam beragam bentuk dan bisa melakukan pekerjaan yang berat dan sulit. Di antara mereka ada yang taat dan ada yang pembangkang. Ada yang beriman dan ada yang kafir. Di antara mereka juga ada yang setan, yang kerjanya berbuat jahat dan menyesatkan, menjerumuskan manusia ke dalam kerusakan dengan merangsang sebab-sebab maksiat dan kenikmatan tubuh.
Tidak tertutup kemungkinan malaikat, jin dan setan itu bisa tampak pada waktu dan keadaan tertentu.
ALARSY, AL-KURSI, AI-LAUH AL-MAHFUZH DAN AL-QALAM
Hal lain yang wajib diyakini keberadaannya adalah al-Arsy, al-Kursi, al-Lauh al- Mahfuzh dan al-qalam. Al-Arsy adalah jisim yang besar nan agung bersifat cahaya, tinggi yang meliputi semua jisim. Menurut satu pendapat, bentuknya adalah bulat.
Menurut hadis yang masyhur, al'Arsy berupa Kubah yang amat besar yang sekarang disangga oleh empat malaikat, dan kelak di akhirat disangga oleh delapan malaikat, karena demikian agungnya tajalli Dzat Allah Ta'ala. Kita tidak perlu memastikan bentuk sejatinya, karena tidak ada pengetahuan tentangnya.
Al-Kursi adalah jisim yang besar nan agung bersifat cahaya, berada di bawah al-'Arsy, di atas langit ketujuh. Jarak antara langit ketujuh dan al-Kursi tak terukur, hanya Allah yang mengetahuinya. Kita tidak perlu memastikan bentuk sejatinya, karena tidak ada pengetahuan tentangnya. Di dalam riwayat dari Abu Musa disebutkan bahwa al-Kursi itu berupa intan. Sayidina “Ali dan Mugatil berkata, “Panjang masing-masing kaki al- Kursi sepanjang langit yang tujuh dan bumi yang tujuh.
Al-Lauh al-Mahfuzh adalah jisim bersifat cahaya, yang padanya dengan izin Allah—
al-Qalam (pena) menuliskan semua yang telah terjadi dan yang akan terjadi sampai Hari Kiamat.
Al-Oalam adalah jisim yang besar nan agung bersifat cahaya. Allah menciptakannya dan memerintahnya untuk menuliskan semua yang telah terjadi dan yang akan terjadi hingga Hari Kiamat.
Allah Ta'ala menciptakan keempat makhluk besar itu untuk hikmah dan faedah yang diketahui-Nya, meski akal kita terlalu kerdil untuk bisa memahaminya. Allah menciptakannya bukan karena Dia membutuhkannya. Allah menciptakan al-'Arsy bukan untuk bernaung seperti kita bernaung di bawah atap, atau menciptakan al-Kursi untuk tempat duduk-Nya. Allah menciptakan al-Oalam dan al-Lauh al-Mahfuzh untuk menjaga yang hilang atau ghaib dari ilmu-Nya. Sungguh, Allah Mahasuci dari semua itu. Allah Maha tinggi nan Maha agung.
KEMATIAN, BARZAKH DAN AKHIRAT
Salah satu hal yang wajib diimani keberadaannya adalah al-maw (kematian).
Kematian pasti akan menimpa setiap yang bernyawa, ber. dasarkan firman Allah Ta'ala, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Allah Ta'ala juga berfirman,
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).
Selain keterangan dari Al-Quran, banyak pula keterangan hadis yang menegaskan adanya kematian. Kematian merupakan hal yang wenang menurut akal dan dijelaskan oleh syara'. Karena itu keberadaannya wajib diimani.
Mati adalah putusnya hubungan yang terjalin di dunia antara ruh dan badan, keterpisahan dan keterhalangan antara ruh dan badan, pergantian dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan perpindahan dari alam ke alam lain. Di dalam khotbah
“Umar ibn “Abdul 'Aziz disebutkan, “Sesungguhnya kalian diciptakan untuk selamanya. Tetapi kalan akan berpindah-pindah dari satu alam ke alam yang lain.”
Keterangan tersebut absah dari “Utbah bin Ghazwan, seorang sahabat agung Rasulullah saw.
Kita harus yakin bahwa malaikat yang mencabut ruh, yaitu “Izra'il, pasti akan bisa mencabut semua ruh dengan izin Allah. Sungguh, Allah Ta'ala telah berfirman, Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”
Di dalam hadis tentang Malaikat Maut yang diriwayatkan oleh athThabrani disebutkan,
“Demi Allah, kalaupun ruh seekor nyamuk yang hendak aku cabut, niscaya aku tidak akan sanggup mencabutnya sebelum Allah mengizinkan.”
Ada ulama yang berpendapat, Allah Ta'ala sendiri yang mencabut ruh malaikat maut dan ruh para syuhada, begitu juga ruh orang yang selalu membaca Ayat Kursi setiap usai shalat dan orang yang ahli lapar (berpuasa) di dunia. Pendapat ini berdasarkan hadis.
Apabila Anda berkata, “Di dalam Al-Quran ada keterangan yang menyandarkan langsung pencabutan ruh kepada Allah, sedangkan pada ayat lainnya pencabutan ruh itu disandarkan kepada malaikat. Sebagaimana tampak pada firman Allah Ta'ala,
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” Pada ayat lain Allah Ta'ala berfirman, “...Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat- malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”
Jawabannya adalah: proses mematikan disandarkan kepada Allah karena pada hakikatnya Dialah sang pelaku, yakni Dialah yang menciptakan perbuatan mematikan itu. Sedangkan penyandarannya kepada Malaikat Maut karena dialah yang dipercaya oleh Allah untuk melakukannya, karena para malaikat adalah pembantu-pembantu- Nya.
Apabila banyak orang mati secara bersamaan di tempat yang ber. beda, bagaimana bisa Malaikat Maut mencabut semua ruh orang-orang yang mati itu sendirian? Tentu bisa. Karena baginya, dunia ini bagai piring di hadapan orang makan. Dia akan dengan mudah mengambi apa pun darinya yang dia kehendaki.
Anas ibn Malik berkata, “Suatu kali, Jibril menemui Malaikat Maut di sungai Faris (Persia), lalu bertanya, “Wahai Malaikat Maut, bagaimana engkau sanggup mencabut banyak nyawa ketika terjadi wabah penyakit Pada waktu yang bersamaan, di sini ada sepuluh ribu manusia mati, dj tempat lain juga demikian?” Malaikat Maut menjawab,
“Bumi ini di. dekatkan kepadaku seakan-akan berada di kedua pahaku. Aku tinggal mengambilinya dengan tanganku.”
Makna “Izra'il di dalam bahasa Arab adalah Abdul Jabbar. Malaikat “Izra'il adalah malaikat yang besar yang tampilannya amat menakutkan dan mengerikan. Makhluk yang ada dunia ini berada di depan matanya. Ia mempunyai pembantu yang sangat banyak. Jika mendatangi orang yang beriman, dia berwujud baik dan menyenangkan,
tidak menakutkan. Tetapi bagi orang yang tidak beriman, dia tampak dalam rupa yang amat mengerikan. Dan kematian akan terasa ringan bagi orang yang shalih.
Hal lain yang dapat meringankan kematian adalah bersiwak, sebagaimana dituturkan oleh ulama. Pendapat ini didasari dengan hadis “A'isyah di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim tentang kisah Nabi Muhammad saw. bersiwak sebelum wafat. Hal lain yang dapat meringankan kematian dan semua teror setelah kematian—sebagaimana dituturkan oleh al-MuHaqqig as-Sanusi dan lainnya—adalah shalat dua rakaat yang dilakukan tiap malam Jumat setelah maghrib, yang pada tiap rakaatnya membaca Surah az-Zalzalah lima belas kali usai membaca al-Fatihah.
Kita harus yakin bahwa dalam ilmu Allah Ta'ala, ajal semua yang bernyawa itu satu, tidak berbilang. Orang yang terbunuh tidak akan mati selain karena ajalnya yang—di dalam pengetahuan Allah Taala telah purna di saat dia terbunuh itu, yang kalaupun bukan karena sebab terbunuh, dia tetap akan mati pada waktu itu. Allah Ta'ala berfirman, “Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya. "
Ketahuilah bahwa ruh merupakan hal yang hanya diketahui oleh Allah Ta'ala, dan Dia tidak menyilakan seorang pun makhluk untuk bisa melihatnya. Allah Ta'ala berfirman,
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”? Yakni, ruh merupakan urusan yang hanya diketahui oleh Allah Ta'ala, untuk menunjukkan betapa lemahnya manusia hingga tidak dapat melihat hakikat dirinya padahal nyata adanya.
Allah mengembalikan pengetahuan tentang ruh itu kepada Diri-Nya disertai penegasan akan ketidakmampuan siapa pun untuk mengetahui sesuatu yang tidak Dia beri pengetahuan tentangnya.
Rasulullah saw. beranjak dari dunia ini setelah Allah Ta'ala memperlihatkan semua hal yang Dia samarkan bagi kita (termasuk di antaranya urusan ruh). Hanya saja Allah menyuruh beliau untuk menyembunyikan sebagian dan memberitahukan sebagian lainnya. Yang terbaik bagi kita adalah menahan diri agar tidak terlalu dalam membahas hakikat ruh. Kita tidak boleh membahasnya lebih dari sekadar mengetahui
bahwa ruh itu nyata adanya, karena Allah Ta'ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. ”Ini adalah sikap yang dipilih oleh Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama salaf. Mereka juga tidak berusaha memastikan tempat tertentu (satu bagian tertentu) di dalam badan sebagai tempat menetap ruh.
Ada memang kelompok lain yang berbicara tentang ruh, bahkan berusaha meneliti hakikatnya. Tetapi an-Nawawi berkata, “Pendapat yang dianggap paling unggul mengenai masalah ruh adalah pendapat Imam al-Haramain. Beliau mengatakan bahwa ruh adalah jisim halus nan lembut yang hidup dan menubuh di jasad kasar seperti air menubuh di kayu yang segar.”
Hal lain yang wajib diyakini oleh setiap mukallaf adalah kenyataan bahwa pada diri setiap hamba, sejak masa taklif ada malaikat yang bertugas mencatat amal perbuatan dan perkataannya, meski sekadar rintihannya saat sakit. Allah memberi tanda-tanda bagi amal hatinya agar malaikat dapat membedakan antara amal hatinya yang baik dan yang buruk. Tanda-tanda itu berupa bau wangi bila amal hatinya baik dan bau busuk bila amal hatinya buruk.
Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya, “Bagaimana malaikat bisa mengetahui bahwa si hamba bermaksud melakukan perbuatan yang baik atau buruk?” Beliau jawab,
“Apabila si hamba berniat melakukan amal yang baik, mereka mencium wangi misik.
Namun apabila si hamba berniat melakukan keburukan, mereka mencium bau busuk.”
Kenyataan adanya malaikat pencatat amal pada diri setiap mukallaf berdasarkan firman Allah Ta'ala, “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan- pekerjaan itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Keterangan ini juga diperkuat dengan hadis dan ijmak, kita wajib meyakininya. Barang siapa mendustakannya atau meragukannya, berarti dia kafir.
Bagi setiap orang ada dua malaikat, yang satu pencatat amal baik dan yang satu lagi pencatat amal buruk. Malaikat yang pertama (pencacat amal baik) sebagai pemimpin
bagi yang kedua (pencatat amal buruk). Malaikat pencatat amal buruk hanya akan menuliskan amal buruk si hamba bila amal buruk tersebut sudah berlalu beberapa saat tanpa diikuti dengan pertobatan atau perbuatan-perbuatan lain yang bisa menjadi kifarat baginya. Apabila di sela-sela perbuatan buruk itu si hamba membaca istighfar, malaikat pencatat amal baik akan menuliskan satu kebaikan baginya. Tetapi apabila perbuatan buruk itu sama sekali tidak disertai istighfar atau hal-hal lain yang bisa menjadi kifaratnya, maka malaikat pencatat amal baik akan berkata kepada malaikat pencatat amal buruk, “Catatlah (amal buruknya)! Semoga Allah mengistirahatkan kita darinya.”
Kedua malaikat itu tidak akan berpisah dari setiap hamba selama dia hidup, kecuali saat si hamba buang hajat dan menggauli istrinya. Karena itu si hamba dituntut meminta perlindungan kepada Allah ketika masuk kakus dan membaca basmallah ketika hendak besetubuh.
Apabila seorang hamba mati dan dia mati dalam keadaan mukmin, kedua malaikat penyertanya itu akan duduk di atas kuburnya dan memohonkan ampun kepada Allah hingga Hari Kiamat. Apabila hamba yang mati itu mati dalam keadaan kafir, maka kedua malaikat itu akan duduk di atas kuburnya sambil terus mengutuknya hingga Hari Kiamat
Jika Anda bertanya, “Bukankah kita tahu bahwa Allah tidak membutuhkan catatan amal.” Saya jawab: ada dua faedah pencatatan itu Pertama, bersifat duniawi, yakni mencegah maksiat di dunia. Apabila manusia tahu bahwa semua perbuatan dirinya akan dicatat oleh kedua malaikat itu, niscaya ia akan menjaga diri dari maksiat. Kedua, bersifar ukhrawi, yakni sebagai hujjah bagi mereka di Hari Kiamat kelak bila mereka mungkir dan berkata bahwa mereka tidak melakukan amal per. buatan itu.
Selain meyakini adanya dua malaikat pencatat amal hamba, kita juga mesti meyakini adanya pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir yang akan diterima si mayat di dalam kubur. Yakni, setelah usai penguburan dan para pengiring beranjak pergi. Allah akan mengembalikan ruh ke dalam mayat secara purna. Jalaluddin as-Suyuthi berkata di dalam salah satu syairnya, “Menurut jumhur ulama, semua(bagian diri)nya hidup, bukan hanya sebagian, berdasarkan hadits yang ma'tsur.”
Setelah mayat selesai dikubur, Allah Ta'ala akan mengembalikan panca indranya, akalnya dan pengetahuannya, yang dengan semua itu dia bisa memahami pertanyaan dan memberi jawaban saat Munkar dan Nakir menanyainya.
Al-Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari sahabat Anas dengan status marfu', “Sungguh, apabila seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur dan orang- orang yang mengiringnya telah pulang, dua malaikat akan segera mendatanginya, lalu mendudukkannya dan berkata, “Apa yang telah engkau katakan tentang Nabi Muhammad saw?' Hamba yang mukmin akan menjawab, "Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba dan rasul Allah.” Lalu dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat duduk di surga.' Kemudian si hamba yang mukmin itu melihat kedua-duanya. Sedangkan hamba yang kafir atau munafik akan menjawab, 'Aku tidak tahu. Aku telah berkata sebagaimana orang-orang mengatakannya.' Lalu dikatakan kepadanya, “Engkau tidak tahu dan tidak mengerti.” Kemudian dia dipukul dengan palu besi hingga menjerit-jerit karenanya, dan jeritannya itu bisa didengar oleh makhluk di sekelilingnya selain jin dan manusia.”
Abu Dawud meriwayatkan hadis serupa dengan redaksi yang berbeda. Abu Dawud meriwayatkan, “...lalu kedua malaikat itu bertanya kepadanya, "Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa laki-laki yang telah diutus kepada kamu itu?” Hamba yang mukmin akan menjawab, “Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan laki-laki yang telah diutus itu adalah Rasulullah saw.' Sedangkan hamba yang kafir akan menjawab tiga pertanyaan tadi dengan jawaban, “Tidak tahu.'”
Ketika menanyai mayat di dalam kubur, Munkar dan Nakir menyebut Rasulullah saw.
dengan sebutan 'hadzar-rajul (laki-laki ini)”, seperti tanpa penghormatan kepada beliau, karena dimaksudkan untuk menguji, guna membedakan antara orang yang benar imannya dan yang tidak benar. Hamba yang benar imannya akan bisa menjawab. Sedangkan yang tidak benar imannya akan berpikir, “Seandainya lelaki ini mempunyai derajat tinggi di sisi Allah Ta'ala sesuai pengakuannya di dalam kerasulannya, tentu malaikat ini tidak akan menyebutnya dengan sebutan seperti ini
(tidak hormat).' Dan saat itu dia akan berkata, “Aku tidak tahu.” —na udzu billah.
Kemudian dia akan disiksa dan mendapat kesengsaraan abadi.
Munkar dan Nakir menanyai mayat dengan bahasa si mayat. Keduanya pasti akan menanyai si mayat walaupun anggota tubuhnya telah remuk, atau dimakan binatang buas, atau diterbangkan angin. Sungguh, kuasa Allah Ta'ala bisa mengembalikan ruh ke tubuh si mayat meski anggota tubuhnya terpisah-pisah. Tidak sulit bagi Allah untuk melakukannya.
Keadaan mayat di dalam kubur saat ditanyai malaikat itu beragam.
Ada yang ditanyai oleh kedua malaikat secara bersamaan dan Sangar menekan. Ada pula yang hanya ditanyai oleh salah satunya saja, sebagai keringanan.
Apabila ada banyak orang meninggal di daerah berbeda dalam wak. tu yang bersamaan, Allah Ta'ala bisa saja memperbesar jasad kedua malaikat itu agar keduanya bisa menanyai semua mayat di kubur mereka masing-masing secara serempak dalam satu kali bertanya. Sementara al-Hafizh as-Suyuthi berkata, “Boleh jadi malaikat yang bertugas menginterogasi mayat itu banyak. Yang sebagian dinamakan Munkar, yang sebagian lain dinamakan Nakir. Lalu untuk masing-masing mayat dikirimkan dua malaikat dari mereka.
Proses interogasi di alam kubur ini tidak berlaku umum bagi semua mayat. Karena ada pengecualian bagi sejumlah orang yang disebutkan di dalam atsar bahwa bagi mereka tidak ada pertanyaan Munkar dan Nakir. Di antaranya adalah para nabi a.s., shiddiqan, orang-orang yang mati syahid, orang yang tiap malamnya membaca Surah Tabarak dan yang membaca Surah al-Mulk sejak ia mendapat kabar tentangnya, entah dia membacanya menjelang tidur atau sebelumnya. Juga orang-orang yang saat sakit menjelang kematiannya membaca Surat al-Ikhlish. Demikian pula orang yang mati karena sakit perut, atau mati saat terjadi wabah tha'un dalam keadaan sabar dan mengharap pahala Allah, entah dirinya ikut tarserang tha'un ataupun tidak. Atau mayat yang mati pada hari atau malam Jum'at, walaupun dikuburnya pada hari Sabtu.
Demikian pula orang yang mengalami kegilaan atau idiot sejak sebelum menginjak masa taklif.