Iman adalah membenarkan dengan hati. Yaitu tunduk patuh dan menerima perkara yang niscaya dari agama Sayyidina Muhammad saw. Yakni yang tampak dan masyhur yang diketahui oleh umum, seperti keesaan Sang Pencipta Yang Mahasuci, kenabian Muhammad saw., adanya kebangkitan manusia dari kubur, adanya balasan amal, wajibnya shalat, zakat dan haji, haramnya khamar, zina, riba dan lainnya.
Beriman secara utuh tentang hal-hal yang diterangkan secara menyeluruh dianggap cukup sebagai iman. Seperti mempercayai adanya para malaikat yang umum diketahui, mempercayai kitab-kitabnya dan para rasul-Nya. Namun untuk hal-hal yang diriwayatkan secara rinci, disyaratkan untuk beriman pula. Seperti mempercayai Jibril, Mika'il, Musa, Isa, Taurat, Zabur, Injil dan yang lainnya. Sehingga orang yang tidak membenarkan salah satunya saja setelah dia mengetahui bahwa keterangannya ada di dalam Al-Quran dan hadis, maka dia kafir.
Beriman kepada Allah dan rasul-Nya adalah tunduk patuh dan menerima semua yang dikabarkan Allah Ta'ala melalui lidah rasul-Nya dan tunduk patuh serta menerima semua yang disampaikan sang rasul dari-Nya.
Iman adalah amalan hati yang tidak berkaitan dengan lisan dan anggota badan.
Hanya saja, karena iman merupakan amal batin yang tidak dapat dilihat mata sehingga tidak bisa dikenai hukum-hukum syara, maka sang pemangku syariat membuat penanda bagi hal yang ada di hati seseorang, yaitu al-igrar bil-lisan (pernyataan lisan). Pernyataan lisan ini menjadi penanda bagi keyakinan hati sekaligus menjadi syara (landasan) untuk memberlakukan hukum-hukum dunia kepadanya, Seperti, shalat di belakangnya (boleh bermakmum kepadanya), boleh dishalati saat mati, dikubur di pekuburan muslim, darah dan harta bendanya dilindungi, boleh menikahi wanita muslimah dan lainnya.
Rasulullah saw. bersabda, “Aku diperintahkan memerangi manusia sampai mereka mengucapkan La ilah illaillah. Apabila mereka telah mengucapkannya, maka terpeliharalah darah dan harta benda mereka dariku, kecuali pelaksanaan kalimah itu, perhitungannya urusan Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud mengucapkan la ilaha illallah di dalam hadis itu bukan sekadar mengucapkan Ia ilaha illalah, melainkan disambung dengan muhammad rasulullah.
Sebab kesaksian la ilaha illallah menjadi batal bila tidak disertai kesaksian bahwa Muhammad adalah Rasulullah.
Simpulannya, iman adalah membenarkan dengan hati saja, dan baginya berlaku hukum-hukum akhirat. Sedangkan pernyataan lisan adalah syarat untuk memberlakukan hukum-hukum dunia. Barang siapa mengungkapkan pernyataan dengan lisannya tetapi tidak membenarkan dengan hatinya (beriman dengan lisan tetapi tidak dengan hati), maka dia adalah mukmin menurut kita dan kafir menurut Allah Ta'ala, dan dia menjadi ahli neraka. Barang siapa membenarkan dengan hati tetapi tidak mengungkapkan pernyataan dengan lisannya karena udzur, maka dia kafir menurut kita dan mukmin menurut Allah Ta'ala, dan dia menjadi ahli surga.
Sedangkan orang yang tidak mengungkapkan pernyataan dengan lisan dan tidak pula membenarkan dengan hatinya, maka dia adalah kafir menurut kita dan menurut Allah Ta'ala.
Para ulama telah sepakat bahwa bila pernyataan lisan itu dituntut, maka seseorang akan dihitung beriman hanya bila dia mengungkapkan pernyataan lisan. Apabila dia tidak mau mengungkapkan pernyataan lisannya karena sombong, dia sungguh kafir yang melawan. Inilah makna gaul ulama bahwa meninggalkan perlawanan merupakan syarat kebenaran iman.
Kesimpulannya, di dalam kebenaran dan ketegasan iman, pembenaran hati meliputi banyak hal yang bila dilanggar berarti melanggar iman. Di antaranya, bersujud kepada patung, membunuh nabi, menganggap remeh nabi, mushhaf atau Ka'bah. Apabila ada satu saja dari hal-hal itu di dalam diri seseorang, maka iman orang itu rusak, dalam pandangan kita dan Allah Ta'ala.
CATATAN
Ulama berbeda pendapat tentang kenyataan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Mazhab Jumhur Ahlus-Sunnah berpendapat bahwa iman bertambah dengan bertambahnya ketaatan dan berkurang dengan berkurangnya ketaatan.
Pendapat ini ditunjukkan oleh Al-Quran dan hadis-hadis yang shahih. Makna bertambah dan berkurangnya iman adalah menguatnya sebagian unsur iman hingga lebih kuat dari unsur iman lainnya di dalam tingkat keyakinan. Seperti, kenyataan bahwa satu sebagai setengah dari dua, lebih meyakinkan daripada kenyataan bahwa alam ini adalah sesuatu yang baru.
Allah Ta'ala berfirman, “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).
Allah Ta'ala berfirman, “...supaya orang yang beriman bertambah iman, nya... "
Allah Ta'ala berfirman mengisahkan Nabi Ibrahim, “Tetapi agar ha, liku tetap mantap (dengan imanku).” Maksudnya agar ketenangan hati. nya bertambah. Sebab ketenangan itu sudah ada pada hati Ibrahim Ayat ini juga menampakkan bahwa iman siapa pun tidak ada yang sesempurna iman Rasulullah Muhammad saw.
Iman Abu Bakr lebih kuat daripada iman umat Islam yang lain Hal ini ditegaskan di dalam sebuah hadis mauquf, “Abu Bakr mengungguli kalian bukan karena shalat atau puasanya. Dia mengungguli kalian dengan apa (iman) yang tertanam kuat di dadanya.”
Ibnu “Umar r.a. ditanya, “Apakah iman bisa bertambah dan berkurang?” dan dia menjawab, “Ya. Iman bertambah sampai orang yang memilikinya masuk surga. Iman juga bisa berkurang sampai pemiliknya masuk neraka.”
Para ulama berbeda pendapat apakah seorang mukmin boleh atau tidak untuk berkata, “Saya seorang yang beriman, jika Allah menghendaki.” Yang jelas, jika yang dimaksud dengan iman adalah murni iman sebagai keyakinan, maka tidak boleh ta'lig
(mengaitkannya dengan Jika Allah menghendaki), sebab dalam ke-kini-annya iman itu sudah ada. Namun jika yang dimaksud iman di sini adalah penentu keselamatan dan pahala, maka talliq diperbolehkan. Sebab, saat itu belum diketahui kepastian hasilnya. Tentang hal ini terdapat dua kelompok pendapat, sebagaimana diriwayatkan oleh al-'Allamah at-Taftazani.
Iman terdiri dari empat tingkatan. Pertama, iman orang-orang munafik, yakni iman yang hanya di lisan mereka, tetapi tidak dengan hati. Iman mereka hanya bermanfaat bagi mereka di dunia, untuk memelihara darah dan harta benda mereka. Sedangkan di akhirat, mereka seperti difirmankan Allah Ta'ala, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”
Kedua, iman kebanyakan orang mukmin. Mereka beriman dengan hati dan lisan, tetapi mereka berperilaku tidak sesuai dengan tuntutan-tuntutan iman. Pada diri mereka tidak tampak buah keyakinan. Mereka tidak sepenuhnya pasrah pada pengaturan dari Allah. Mereka merasa takut dan berharap kepada yang selain Dia, mereka berani menyalahi perintah dan larangan-Nya.
Ketiga, iman orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-Mugarrabn). Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berusaha menghadirkan simpul-simpul keimanan, dan batin mereka tercetak demikian. Mata hati mereka menjadi seakan- akan melihat segala sesuatu muncul dari sumber kuasa azali. Buah iman pun tampak pada diri mereka. Mereka tidak melihat sesuatu pun lebih tinggi daripada Allah.
Mereka tidak takut dan tidak berharap selain kepada-Nya. Sebab mereka mengetahui bahwa makhluk tidak memiliki kemanfaatan dan kemadharatan, tidak memiliki mati, hidup ataupun kebangkitan. Mereka tidak cinta kepada selain Allah. Sebab, bagi mereka tidak ada yang berbuat baik selain Allah. Karena itu asy-Syaikh Abu al-Hasan r.a. berdoa, “Anugerahilah kami iman sejati, hingga kami tidak lagi takut selain kepada-Mu, tidak berharap selain kepada-Mu, tidak mencintai selain diri-Mu dan tidak menghamba selain kepada-Mu.”
Mereka tidak sedikit pun menolak perbuatan-perbuatan-Nya, tidak pula hukum- hukum-Nya. Sungguh, mereka yakin Dia adalah al-Hakim (Yang Mahabijak). Mereka
melihat bahwa akhirat adalah tempat menetap abadi, maka mereka pun menempuh hidup dunia ini sebagai jalan menuju akhirat.
Keempat, iman orang-orang yang sudah fana di dalam tauhid dar tenggelam di dalam musyahadah (penyaksian Allah). Seperti yang tampak di dalam ungkapan Sayyidi 'Abdussalam, “Allah telah menenggelamkan aku di samudera kesatuan, hingga aku tidak melihat, tidak mendengar tidak mendapati dan tidak merasakan selain yang satu.” Sayyidi Abdussalam juga berkata, “Kumpulkanlah antara aku dan Engkau, dan pi. sahkanlah antara aku dan selain Engkau.” Maqam ini kadang didapat dan kadang terputus.
Iman model yang keempat ini juga tampak dalam ungkapan salah seorang “arif, “Aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku. Maka aku berkata: tidak ragu lagi Engkau adalah Engkau.” Atau seperti yang tampak dari ungkapan asy-Syaikh Abu al-Hasan,
“Sesungguhnya aku melihat Allah dengan mata keyakinan dan keimanan.”
Keterangan di atas sudah cukup bagi kami, sehingga tidak perlu lagi dalil dan bukti untuk menjelaskan kepada orang-orang. Apakah di dalam wujud ada sesuatu selain Allah Yang Haqq? Kita tidak melihatnya. Sekalipun ada, kita melihatnya laksana debu di udara yang saat Anda perhatikan dengan seksama, akan Anda dapati semua itu bukan apaapa. Tentang kenyataan ini ada seorang "arif yang berkata, “Pemandangan itu tampak besar di hadapanku hingga seakan-akan dia sungguh nyata, padahal ia sekadar angan-angan.”
Seorang “arif lainnya berkata,
Sejak aku mengenal Tuhan, aku tidak melihat selain Dia demikian pula yang selain Dia, bagiku terlarang
Sejak aku berkumpul, aku tidak khawatir berpisah sungguh, sekarang aku telah sampa: dan berkumpul
Ketahuilah bahwa iman merupakan anugerah nikmat yang paling utama di atas segalanya. Engkau mengerti bahwa Allah Ta'ala telah memuliakan Anda dengan nikmat iman hingga iman jadi menyenangkan bagimu, dan engkau tidak menyukai
kekufuran, kefasikan dan maksiat. Engkau juga paham bahwa nikmat ini murni merupakan anugerah dan nikmat dari-Nya, yang tidak seorang pun berhak mendapatkannya. Engkau mengerti bahwa dengan iman itu, Allah telah melebihkanmu dari kebanyakan orang sepertimu. Karena itu, nilailah nikmat iman sesuai dengan nilainya. Lalu laksanakan kewajiban mensyukurinya.
Sungguh, iman adalah modal dasar keselamatan dan kemuliaan. Iman sebagai modal keselamatan, sebab dengan iman akan diperoleh pertolongan Allah dari dahsyatnya siksa kubur, Hari Kiamat, timbangan amal, jembatan, neraka, pengusiran, pengasingan dan murka. Iman juga merupakan modal kemuliaan, karena dengan iman engkau akan memperoleh nikmat kubur, berupa perluasan ruang kubur, keramahan kubur dan pembukaan pintu ke surga untuk jalan ruhmu memasukinya dan menikmati berbagai kesenangannya. Dengan iman engkau bisa menikmati kesenangan surga: bidadari-bidadari, istana-istana, bermacam-macam pakaian, makanan dan minuman. Dengan iman pula engkau akan memperolah kenikmatan puncak, yakni memandang Wajah Mulia Sang Kekasih.
Di dalam satu riwayat disebutkan, “Tidak ada kalimat yang lebih disukai oleh Allah dan tidak ada ungkapan syukur yang lebih besar dalam pandangan-Nya daripada ucapan seorang hamba, “Segala puji bagi Allah Yang telah melimpahkan nikmat dan membimbing kami kepada Islam.”
Sayyidina Yusuf a.s. berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takbir mimpi. (Ya Tuhan), Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
Kalaupun dalam iman hanya ada keselamatan dari huru-hara Harj Kiamat, tentu hal itu sudah cukup dipandang sebagai nikmat terbesar, Sungguh, kedahsyatan pada Hari Kiamat telah membuat para nabi dan rasul selaan Muhammad saw. berucap, “diriku...
diriku... pada hari ini aku hanya bisa memohon untuk diriku kepada-Mu”, dan kalau pun seseorang memiliki amal sebanyak amal tujuh puluh nabi, dia akan mengira dirinya tidak akan selamat.
ISLAM
Islam adalah al-imtitsal wal-ingiyad (merealisasaikan dan tunduk patuh) pada semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., yang telah diketahui dari agama secara pasti. Yang dimaksud dengan al-imtitsal adalah pengakuan dan pernyataan lisan akan kebenaran semua yang disampaikan Nabi Muhammad saw., meliputi tetapnya keesaan Allah Ta ala dan kerasulan Muhammad saw. Pengakuan dan pernyataan lisan ini bisa dicapai (dianggap cukup) dengan mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Jadi, dalam kondisi apa pun, inti Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Tetapi Islam akan menyelamatkan hanya jika diikuti dengan kepatuhan hati yang merupakan bagian dari iman. Maka ketahuilah bahwa islam yang menyelamatkan dan iman adalah dua hal yang saling berkaitan erat (tak terpisahkan).
Ikrar keislaman memiliki syarat yang jika tidak dipenuhi, keislamannya tidak diterima.
Syarat itu adalah an-nafyi (penafian) dan al-tsbat (pengukuhan/penetapan). Dalam ikrar keislaman, seseorang dianggap tidak cukup islam bila hanya berucap, “Allah itu esa dan Muhammad adalah rasul-Nya.” Ini pendapat kebanyakan ulama, di antaranya para ulama Syafi'iyyah. Ada memang pendapat yang tidak mensyaratkan nafyi dan itsbat, yang penting pernyataan yang menunjukkan pengakuan akan keesaan Allah Ta'ala dan kerasulan Muhammad saw., dan ini pendapat yang dipegang oleh mazhab Maliki.
Menurut pendapat yang pertama, selain disyaratkan adanya nafyi dan itsbat, ikrar keislaman juga memiliki syarat sah lainnya. Di antaranya adalah menyertakan kata asyhadu (aku bersaksi) dan memahami makna ucapan yang dipersaksikannya, yakni dengan mengucapkan asyhadu al-la ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar- rasalullah disertai pemahaman maknanya, meski hanya makna umumnya saja.
Karena itu, bila seorang non Arab di-talgin mengucapkan dua kalimah syahadat dalam bahasa Arab, lalu dia mengucapkannya tanpa memahami maknanya, keislamannya belum bisa diterima.
Syarat lainnya adalah tertib. Pengucapan dua kalimah syahadat harus berurut secara tertib. Yakni, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar-rasulullah.
Jika pengucapannya dibalik menjadi asyhadu anna muhammadar-rasulullah wa asyhadu alla ilaha illallah, maka ikrar keislamannya tidak sah. Ini menurut pendapat yang paling kuat.
Selain menyertakan kata asyhadu, memahami maknanya dan tertib dalam pengucapannya, pengucapan dua kalimah syahadat sebagai ikrar keislaman juga harus beruntun. Apabila pengucapan kalimat syahadat yang kedua (asyhadu anna muhammadar-rasalullah) sampai terpaut dari syahadat yang pertama dalam jeda yang lama, maka keislamannya dianggap tidak sah, menurut pendapat yang paling kuat.
Syarat lainnya adalah baligh dan berakal. Ikrar syahadat keislaman seseorang yang belum baligh atau tidak berakal dianggap tidak sah. Statusnya hanya ikut-ikutan.
Selain itu, orang yang melakukan ikrar disyaratkan untuk tidak menampakkan hal yang menafikan kesaksiannya. Ikrar tidak sah dilakukan oleh seseorang yang sedang bersujud kepada berhala.
Ikrar keislaman juga harus berdasarkan kemauan sendiri. Tidak sah ikrar keislaman orang yang dipaksa. Kecuali bila dia kafir harbi atau orang yang murtad. Itu pun dengan syarat dia harus mengakui kembali apa yang sempat dingkarinya dan kembali dari kesesatannya.
IHSAN
Hakikat ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat. Nya, sebagaimana disebutkan di dalam hadis dari Jibril.
Al-Jalal al-Mahalli berkata, “Hakikat ihsan adalah merasa senantiasa diawasi Allah Ta'ala di dalam semua peribadatan yang meliputi iman dan islam, sehingga semua peribadatan sang hamba itu sampai pada tingkat kesempurnaan dalam keikhlasan.”
Ilmu (kesadaran) hamba akan kenyataan bahwa Allah senantiasa melihatnya, itu lebih sempurna di dalam tanzih (penyucian) daripada penyaksiannya terhadap al-Haqq.
Sebab, hamba hanya akan menyaksi. kan-Nya sesuai kadar akalnya, padahal Allah
Mahasuci dari semua citraan akal. Lain halnya dengan kesadaran hamba bahwa Allah Ta'ala senantiasa melihatnya. Apabila hamba beribadah kepada Tuhannya seakan- akan dia melihat-Nya, tentu dia akan mendapati bahwa perbuatan itu milik Allah, hamba sama sekali tidak memiliki andil apa pun dalam perbuatan itu. Hamba dihukumi berbuat hanya karena dia menjadi tempat pemunculan perbuatan itu, tiada lain.
Barang siapa telah menyaksikan kesaksian ini, berarti dia telah memurnikan amalnya kepada Allah, tidak menyekutukan Dia dengan dirinya dalam perbuatan itu.
Ketahuilah bahwa orang yang menduduki maqam zhsan, pada diri mereka tidak akan terbersit kemaksiatan selagi mereka berada dalam keihsanan. Karena itu para nabi senantiasa ma'shum (terjaga dari perbuatan maksiat). Hal serupa terjadi pula pada diri para wali, karena kediaman mereka dalam ihsan. Bedanya, para nabi senantiasa ihsan di semua keadaannya, sedang para wali tidak di semua keadaannya, tetapi hanya di sebagian besar keadaannya.
Ad-din, asy-syar', asy-syari'ah dan al-millah memiliki makna yang sama.
Yakni, hukum-hukum yang disyari'atkan oleh Allah Ta'ala melalui lisan Rasulullah Muhammad saw.
Apabila Anda bertanya, “Apakah orang yang menghina agama dihukumi kafir dan ikatan pernikahan dengan istrinya menjadi rusak (cerai)?” Kami jawab, “Ya.
Demikianlah hukumnya. Seperti halnya orang yang mengingkari perkara-perkara agama yang niscaya diketahui.”
Jika Anda bertanya, “Bagaimana hukumnya jika dia bertobat dan kembali kepada Islam, apakah istrinya kembali berada dalam perlindungannya atau tidak?” Aku jawab,
“Apabila dia bermazhab Syafi'i dan dia merujuk sang istri sebelum habis masa iddah- nya, maka sang istri kembali menjadi istrinya. Apabila dia bermazhab Maliki atau Hanafi, dia hanya bisa mengembalikan istrinya dengan akad dan mahar baru, tidak bisa dengan sekadar rujuk. Tidak ada perbedaan antara yang murtad itu suami atau istri. Keduanya berada di dalam hukum yang sama.”
QADHA' DAN QADAR
Qadha' adalah hubungan azali kehendak Allah dengan segala sesuatu apa adanya dalam kesinambungan sesuai ilmu-Nya, dan ini merupakan sifat Dzat. Sedangkan qadar adalah pewujudan sesuatu dengan ukuran tertentu dan arah tertentu yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala, dan ini merupakan sifat af al. Qadha' bersifat qadim, sedangkan qadar bersifat hadits.
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli kebenaran tentang kenyataan qadha' dan qadar sebagai bagian dari akidah yang wajib diimani. Karena itu, kita wajib meyakini bahwa ilmu dan kehendak Allah berhubungan di zaman azali dengan segala sesuatu apa adanya dalam kesinambungan. Kita juga harus yakin bahwa kuasa Allah berhubungan dengan segala sesuatu dalam kesinambungan sesuai hubungan ilmu dan iradah-Nya dengan segala sesuatu itu di zaman azali. Dengan demikian, tidak ada hal baru (apa pun yang selain Dia), entah yang baik maupun yang buruk, melainkan keluar dari kehendak dan kuasa-Nya, yang selaras dengan ilmu-Nya.
At-Tirmidzi meriwayatkan hadis dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang hamba tidak dikatakan beriman hingga dia beriman kepada qadar, terhadap yang baiknya maupun terhadap yang buruknya, dan hingga dia tahu bahwa apa yang telah menimpa dirinya itu menimpa dirinya bukan karena salah sasaran, dan apa yang tidak menimpa dirinya itu memang tidak untuk ditimpakan kepada dirinya.”
Sayyidina 'Ali r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Se. orang hamba tidak dikatakan beriman hingga ia beriman pada empat hal. Yakni, menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah: menyaksikan bahwa aku sungguh rasul Allah yang telah Dia utus membawa kebenaran, mengimani kebangkitan setelah kematian, dan beriman ke. pada qadar, yang baiknya maupun yang buruknya, yang manisnya maupun yang pahitnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad di dalam Musnad-nya. Diriwayatkan pula oleh at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim.
Ada kalanya seorang hamba yang kerdil berdalih bahwa jika kenyataannya demikian, si hamba bisa beralasan, “Mengapa Engkau menyiksa aku, sementara semua perbuatan adalah perbuatan-Mu?” Alasan ini ditolak. Allah Ta'ala mengetahui segala sesuatu apa adanya di azali secara rinci. Sebelum makhluk mewujud, Dia tahu
keburukan dan kebaikan yang akan diupayakan oleh hamba setelah mengada, dan Dia menuliskannya sesuai ilmu-Nya.
Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Abu al-Aswad ad-Duali berkata,
“Imran ibn Hushain berkata kepadaku, “Perhatikanlah apa yang diperbuat manusia pada hari ini, yang mereka usahakan dengan sungguh-sungguh. Apakah itu sesuatu yang telah diputuskan untuk mereka dan telah berlaku pada mereka dari qadar yang sudah lewat atau yang akan datang, apakah merupakan hal yang telah dikaparkan Nabi saw. dan hujjahnya tegas atas mereka?" Aku menjawab, Itu adalah sesuatu yang sudah diputuskan dan telah berlaku pada mereka." Dia bertanya lagi, “Apakah Dia (Allah) tidak zalim?' Aku kaget alang kepalang mendapati pertanyaan itu, lalu aku berkata, “Segala sesuatu diciptakan oleh Allah dan merupakan milik-Nya. Dia tidak dituntut tanggung jawab atas apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan dimintai pertanggungjawaban.' Lalu dia berkata kepadaku, Mudah-mudahan Allah memuliakanmu. Sesungguhnya apa yang aku tanyakan ini hanya untuk menguji akal dan pemahamanmu.”
Abu Dawud dan Ibnu Majah menutur satu riwayat dari Ibnu adDailami di dalam Sunan- nya. Ibnu ad-Dailami berkata, “Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatiku tentang qadar. Aku khawatir masalah ini akan merusak agamaku. Maka aku pun mendatangi Ubay ibn Ka'ab. Aku bertanya, “Wahai Abu al-Mundzir, ada yang mengganjal dalam hatiku, yakni masalah qadar. Aku khawatir masalah ini merusak agamaku.
Ceritakanlah padaku sesuatu tentang qadar, mudah-mudahan Allah memberiku manfaatnya.' Maka Ubay ibn Ka'ab pun berkata, Seandainya Allah hendak menyiksa semua penduduk langit dan bumi, Allah tentu akan menyiksa mereka, dan Dia tidak berbuat zalim kepada mereka. Seandainya Allah menyayangi mereka, sungguh bagi mereka rahmat-Nya itu lebih baik daripada amal mereka." Kalaupun engkau mempunyai emas sebesar gunung Uhud dan engkau nafkahkan semuanya di jalan Allah, itu tidak akan diterima sebelum engkau beriman kepada qadar dan engkau harus mengerti bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu dan yang luput darimu tidak akan menimpa dirimu. Sesungguhnya jika engkau mati tetapi tidak meyakini hal ini, engkau akan masuk neraka. Jika belum yakin, datanglah kepada saudara “Abdullah ibn Masud dan tanyakanlah kepadanya." Aku mendatangi Abdullah ibn Masud dan menanyakan hal yang sama seperti yang aku, tanyakan kepada Ubay.