Allah Ta'ala berfirman, “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.”
Allah Ta'ala berfirman, “...dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh anganangan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah, dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.”
Al-gharir adalah ketergantungan hati pada sesuatu yang sebenarnya tidak layak dijadikan pegangan. Seperti kebergantungan orang alim pada ilmunya, kebergantungan hakim pada kebijaksanaannya, kebergantungan seorang zahid pada kezuhudannya, kebergantungan si tukang maksiat pada penangguhan hukuman dari Allah terhadap dirinya, dan kebergantungan si kaya pada kekayaannya.
Di masyarakat umum sering terjadi kesalahpahaman antara al-ghurur (keterperdayaan) dan ar-raja' (pengharapan). Misalnya, mereka terus menerus melakukan perbuatan buruk sambil bergantung pada keluasan rahmat Allah Ta'ala dan banyaknya nikmat karena tidak memahami perbedaan antara raja' dan ghurir.
Padahal raja' hanya akan menjadi nyata saat ada sebab-sebab kebahagiaan dan kemenangan. Harusnya seorang hamba melakukan ketaatan, baru kemudian berharap amalnya diterima. Sedangkan al-ghurir terjadi saat tidak adanya sebab- sebah kebahagiaan dan kemenangan. Oleh karena itu, janganlah engkau men, jadi bagian dari mereka yang mencari akhirat tanpa beramal salih, lalu menunda-nunda tobat dengan angan-angan kosong. Jangan sampai engkau bicara dunia bak seorang zahid tetapi berbuat dengan amalan para pecinta dunia yang kalau pun diberi dunia, dia tidak akan kenyang, dan jika tidak diberi, dia tidak merasa cukup.
Dia mengharap keselamatan, tetapi dia tidak menempuh jalan-jalannya Padahal perahu takkan pernah bisa jalan di daratan
Keterperdayaan terbesar di antaranya adalah terus menerus melakukan perbuatan dosa karena memiliki harapan akan ampunan dari Allah, yang bahkan tidak disertai penyesalan. Yang lainnya adalah mengharap-harap dekat dengan Allah tanpa melakukan ketaatan. Mengharap panen surga dengan menanam benih neraka.
Mencari tempat orang-orang yang taat dengan melakukan maksiat. Allah Ta'ala berfirman, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.”? Yakni, orang-orang yang melakukan dosa dan amalan tercela itu menyangka bahkan kelak di akhirat mereka akan disamakan dengan orang-orang yang beramal shalih? Tidak mungkin! Buruk sekali apa yang mereka sangka itu.
Di dalam hadis gudsi disebutkan, “Betapa tak punya rasa malu orang yang demikian rakus menginginkan surga-Ku tanpa beramal salih. Bagaimana Aku akan berderma dengan rahmat-Ku kepada orang yang bakhil menaati-Ku?”
Ketahuilah bahwa di dalam syariat manapun cinta dunia merupakan hal tercela. Cinta dunia merupakan biang kejahatan dan sebab semua fitnah. Para 'arif berkata, “Cinta dunia adalah biang setiap kesalahan.” Apabila cinta dunia telah merasuki hati hamba, ia akan merusak dan menjadikan hati Jaksana tanah gersang yang tak menumbuhkan sedikitpun kebaikan.
Bila cinta dunia merupakan biang setiap kesalahan, maka benci dunia merupakan pokok pangkal ketaatan dan kebaikan. Karena itu jangan sampai urusan dunia membuat engkau jauh dari Allah. Barang siapa kepentingan dunianya hanya sesuatu yang bisa mencukupinya, maka yang sedikit sudah bisa mencukupinya. Sedangkan orang yang mencari kekayaan dari dunia ini, sungguh tidak ada sesuatu pun darinya yang bisa membuat dia kaya.
Seorang hamba hendaklah bersikap zuhud dalam dunia dengan tidak merasa gembira mendapati harta yang ada di tangannya dan tidak merasa sedih dengan harta yang luput darinya. Jangan sampai kesibukan mencari dunia dan bersenang-senang dengannya membuat dia lupa mengerjakan amal (ibadah) yang lebih baik baginya
menurut Allah Ta'ala. Hamba juga mesti membersihkan hatinya dari cinta kehor.
matan, sehingga baginya pujian dan celaan tiada beda, demikian pula penerimaan dan penolakan orang-orang terhadap dirinya.
Cinta kehormatan dan jabatan lebih berbahaya daripada cinta harta benda, meskipun keduanya merupakan penanda cinta dunia. Dunia adalah musuh manusia. Karena itu Allah tidak lagi memandang dunia sejak Dia menciptakannya.
Dunia menampakkan diri di mata para wali Allah dengan berbagai perhiasan dan gemerlapnya, sehingga para wali mesti rela menelan pahitnya kesabaran dalam memutuskan hubungan diri mereka darinya. Setiap hal yang menyibukkanmu hingga lalai dari Allah Ta'ala, itulah dunia. Sedangkan segala sesuatu yang membantumu menghadap kepada Allah itulah akhirat. Allah Ta'ala telah menerangkan hakikat dunia dengan firman-Nya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegahmegah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menJadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."
Juwaibir meriwayatkan dari Adh-Dhahak, “Ketika Allah menurunkan Adam dan Hawa ke alam dunia, keduanya mendapati aroma dunia dan kehilangan aroma surga hingga pingsan selama empat puluh hari. Keduanya pingsan selama itu karena demikian busuknya bau dunia.” Maka alangkah anehnya orang yang meyakini dan menginginkan rumah keabadian malah mengusahakan dunia yang menipu.
Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa mencintai dunia, dia telah memadaratkan akhiratnya. Dan barang siapa mencintai akhiratnya, dig telah membahayakan dunianya. Maka, kalian harus lebih mementingkar kehidupan yang akan kekal daripada kehidupan yang bakal sirna.” Maksudnya, dunia dan akhirat itu berlawanan.
Keduanya bagaikan dua madu, apabila Anda lebih condong pada istri yang satu, maka yang lainnya akan cemburu. Dunia dan akhirat laksana dua neraca timbangan, bila yang satu lebih berat maka yang lainnya akan terangkat. Dunia dan akhirat seperti
timur dan barat, bila yang satu mendekat yang lain akan menjauh. Dunia dan akhirat laksana dua ruang jam pasir, ruang yang satu akan terisi sebanyak pengurangan isi ruang yang satunya lagi.
Zaid ibn Tsabit r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Barang siapa niatnya akhirat, Allah akan menghimpunkan kekuatannya, menjadikan hatinya kaya, dan dunia akan mendatanginya dengan hina dina. Barang siapa niatnya dunia, Allah akan mencerai beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran di depan matanya, dan tidak ada dunia yang akan mendatanginya selain yang telah ditetapkan Allah untuknya.”
(HR. Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)
Jundab meriwayatkan bahwa suatu hari “Umar r.a. masuk ke rumah Nabi saw. Saat itu beliau sedang duduk di atas tikar yang selalu berbekas di punggung mulianya.
Melihat kondisi beliau, “Umar menangis. Lalu Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang telah membuatmu menangis, wahai Umar?” “Umar menjawab, “Aku teringat Kisra dan Kaisar serta gemerlap dunia yang mereka miliki. Tetapi engkau, ya Rasulullah, di punggungmu bahkan mengecap tapak tikar.” Rasulullah saw. menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang nikmatnya disegerakan di dunia ini. Sedangkan kita adalah orang-orang yang nikmatnya diakhirkan untuk akhirat kelak.” (HR. Al-Bukhari)
Sayyidina 'Ali r.a. berkata, “Aku mengkhawatirkan dua hal menimpa kalian, yaitu panjang angan-angan dan menuruti hawa nafsu. Sebab panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat, sedangkan menuruti hawa nafsu akan menghalangi kalian dari kebenaran. Sungguh, dunia terus pergi dan berlalu, sedangkan akhirat datang menghadap
Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak. Dan kalian, jadilah sebagai anak-anak akhirat. Jangan menjadi budak-budak dunia Karena di hari ini (dunia) hanya ada kesempatan beramal, tiada hisah, Sedangkan esok di akhirat hanya ada hisab, tiada lagi kesempatan ber. amal.”
Di dalam syair disebutkan,
Sesungguhnya kehidupan dunia ini sekadar perhiasan
yang memilihnya hanya si bodoh bin tolol
yang telah berlalu tidak akan kembali , dan yang diangankan belum tenty ada
dan yang kau punya hanya kesempatanmu saat ini Penyair lainnya berkata, Waktu dan hari-han terus berlalu menyisakan dosa untukku
utusan kematian datang menjemput saat hati lalai pada-Mu
Kesenanganmu di dunia adalah perdaya dan kesengsaraan Dan hidupmu di dunia tak mungkin abadi Ingatlah, segala sesuatu selain Allah adalah batil dan semua kenikmatan yang tak bertempat pasti akan lenyap Yang lain berkata,
Allah mempunyai hamba-hamba yang cerdas Mereka mencerai dunia dan mewaspadai fitnahnya Mereka menatap dunia, dan saat mereka tahu dunia bukan tempat menetap
mereka memandangnya sebagai lautan
Jalu mereka jadikan amal salih sebagai perahu untuk mengarunginya
Amal salih inilah perahu yang akan membawamu. Keinginan yang kuat padanya adalah lautanmu. Hari-hari adalah ombaknya. Tawakal adalah naungannya. Al-Quran adalah petanya. Menahan hawa nafsu adalah talitemalinya. Mati adalah pantainya.
Kiamat adalah tanah maga yang kau tuju, dan Allah adalah pemiliknya.
Sudah semestinya orang berakal menerima dengan rela hati bagian dunianya sekadar untuk menutupi kebutuhan. Jangan sibuk mengumpulkan dunia, tetapi sibuklah beramal untuk akhirat. Sebab akhirat adalah tempat menetap yang kekal, sedangkan dunia sungguh hina dan pasti berlalu. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih dibenci-Nya daripada dunia. Dan sejak menciptkannya, Allah tidak lagi memandangnya.” (HR. AlHakim)
Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya dalam penilaian Allah dunia ini sebanding dengan sayap seekor nyamuk saja, tentu Dia tidak akan memberikan seteguk pun darinya kepada si kafir.” (HR. At-Tirmidzi dan adh-Dhiya')
Rasulullah saw. bersabda kepada Ibnu "Umar, “Jadilah engkau di dunia ini laksana orang asing atau pengembara. Hitunglah dirimu dj antara orang-orang yang telah mati.
Saat berada di pagi hari, jangan kau ajak dirimu bicara tentang sore hari. Bila dirimu berada di sore hari, jangan kau ajak dirimu bicara tentang pagi hari. Ambillah bekal dari masa sehatmu untuk masa sakitmu, dari masa mudamu untuk masa tuamu, dari
keluanganmu untuk kesempitanmu, dan dari hidupmu untuk matimu. Sebab engkau tidak tahu bagaimana keadaanmu esok hari?” (HR. At-Tirmidzi)
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang beriman berada di antara dua hal yang mengkawatirkan, yakni di antara waktu yang telah berlalu dan tempo waktu yang masih tersisa yang tidak dia ketahui apa yang akan diperbuat Allah padanya (masa datang). Oleh karena itu, hamba seyogianya mengambil bekal dari dunianya untuk akhiratnya, dari masa mudanya untuk masa tuanya, dan dari hidupnya untuk matinya. Demi Dia Yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, setelah kematian tidak ada lagi orang yang menegur, dan setelah dunia ini tidak ada lagi rumah selain surga dan neraka.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihagi di dalam as- Syu'ab.
Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memasuki pagi hari dan dunia menjadi perhatian terbesarnya, maka tidak sesuatu pun akan didapatnya dari Allah. Selain itu, Allah akan membuat hatinya menderita empat hal: kegelisahan yang tiada terputus selamanya, kesibukan yang tiada henti, kefakiran yang tak berujung kaya dan cita-cita yang tidak akan pernah tercapai.” (HR. Ath-Ihabrani)
Ada syair mengatakan,
Tinggalkan kerakusan akan dunia Jangan tamak dalam hidup ini
Jangan kau kumpulkan harta sungguh engkau tidak tahu untuk siapa kau mengumpulkannya
Sebab rezeki itu sudah dibagi
Sementara berburuk sangka itu tidak bermanfaat Setiap orang yang tamak tentu fakir
Dan semua orang yang gana'ah pasti kaya " Wahai orang yang sibuk dalam urusan dunianya
Panjang angan telah menipunya Dan dia selalu dalam kelalaian
sampai ajal semakin mendekat kepadanya kematian datang tiba-tiba
dan kuburan adalah peti amal
Bersabarlah menghadapi gonjang-ganjing dunia Tidak datang kematian selain ajalnya telah purna
Suatu hari ada seorang lelaki berkata kepada “Ali ibn Abi TYhalib, “Terangkanlah kepada kami ihwal dunia!” Imam “Ali menjawab, “Apa yang perlu aku terangkan kepada kalian tentang rumah tempat si sehat tidak aman di dalamnya, tempat si sakit menyesal di dalamnya, tempat si fakir berduka dan orang yang merasa kaya tetap dicoba. Yang halalnya saja akan dihisab, sementara yang haramnya jelas menjadi siksa.”
"Usman r.a. berakata, “Gelisah dunia adalah gelap di hati. Gelisah akhirat adalah cahaya di hati.”
“Umar r.a. berkata, “Kemuliaan dunia dengan harta benda. Sedang kemuliaan akhirat dengan amal shalih.”
Ada syair mengungkapkan,
Kulihat pencari dunia meski usianya panjang
serta telah memperoleh kesenangan dan kenikmatan dunia dia seperti orang yang mendirikan bangunan,
yang setelah tegak berdiri bangunannya itu hacur Ingatlah, dunia hanya serupa mimpi orang tidur Tiada kebaikan hidup yang tidak akan pernah kekal
Renungilah, bila kemarin engkau telah memperoleh nikmat dan engkau telah pula memurnakannya
bukankah engkau hanya serupa pemimpi?
Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa mengeluhkan kesulitan hi. dupnya dia seakan-akan mengeluhkan Tuhannya. Barang siapa bersedih untuk urusan-urusan dunia, berarti dia telah menjadi orang yang marah kepada Allah. Barang siapa
berendah diri kepada orang kaya karena ke. kayaannya, maka dua pertiga agamanya telah lenyap.” (HR. ath-Thab. rani)
Rasulullah saw. bersabda, “Dunia sungguh terkutuk, demikian pula semua yang ada di dalamnya, kecuali yang diperuntukkan kepada Al. lah.” (HR Abu Na'im dan ath- Thabrani)
Bagi orang yang Allah kehendaki menjadi seorang wali, Dia akan membuatnya benci terhadap dunia, akan menolongnya melakukan ber. bagai amal shalih dan memudahkannya melakukan kebajikan. Seperti yang terjadi pada salah seorang di antara mereka. Suatu hari, dia pergi berburu di hutan. Tiba-tiba dia bertemu seorang pemuda yang mengendarai singa dan dikelilingi binatang buas. Ketika binatang buas itu melihatnya dengan cepat binatang itu menyerbu ke arahnya. Lalu si pemuda segera menenangkan binatang buas itu dan berkata, “Kelalaian macam apa ini?
Apakah engkau sibuk dengan hawa nafsumu lalu meninggalkan urusan akhiratmu.
Apakah engkau sibuk dengan kesenangan hingga lupa mengabdi kepada Tuanmu.
Dia memberimu dunia untuk kau gunakan sebagai penopangmu dalam pengabdian kepada-Nya. Tetapi engkau malah menjadikannya sebagai media untuk bersenangsenang hingga lupa Tuanmu.” Kemudian muncul seorang perempuan tua membawa segelas air untuk si pemuda. Setelah minum, si pemuda itu menarik lelaki yang tadi berburu. Si pemburu bertanya kepada si pemuda tentang perempuan tua renta itu. Si pemuda menjawab, “Dia adalah dunia. Ia telah disuruh melayani aku.
Apakah belum sampai kepadamu bahwa saat menciptakan dunia, Allah berfirman kepada dunia, “Siapa yang mengabdi kepada-Ku, maka layanilah dia. Dan barang siapa berkhidmat kepadamu, perbudaklah dia.”
Setelah peristiwa tersebut, si pemburu itu keluar dari dunia dan menempuh jalan spiritual hingga menjadi seorang wali abdal.
Tidakkah kau lihat bagaimana siang dan malam membuat kita usang Sementara kita terus bermain-main dalam sepi di keramaian
Jangan sampai engkau merasa senang dengan dunia dan kenikmatannya Sebab negeri kita di dunia bukan negeri abadi
Beramallah untuk dirimu sebelum datang kematian Banyak kawan dan saudara jangan sampai menipumu
Di dalam satu riwayat atsar disebutkan, “Perumpamaan seorang mukmin di dunia seperti janin di perut ibunya. Saat keluar dari perut ibunya, dia menangis karena harus keluar dari dunia lamanya. Namun ketika sudah melihat terang cahaya, dia tidak ingin kembali ke perut ibunya. Demikian pula halnya seorang mukmin, dia menderita teror maut. Namun ketika sampai kepada Tuhannya, dia tidak akan mau kembali ke dunia, seperti janin yang tidak akan mau kembali ke dalam perut ibunya.” Ini bagi mukmin yang berpaling dari dunia dan menyongsong akhirat.
Suatu ketika Ibrahim ibn Adham r.a. dimintai nasihat, “Berilah kami nasihat yang bermanfaat untuk kami.” dia menjawab, “Apabila kalian melihat orang-orang sibuk dengan urusan dunia, sibukkanlah diri kalian dengan urusan akhirat. Apabila mereka sibuk menghiasi lahiriah mereka, sibuklah kalian menghiasai batin kalian. Apabila mereka sibuk meramaikan kebun dan gedung, sibuklah kalian meramaikan kuburan.
Apabila mereka sibuk dengan aib orang lain, maka sibuklah kalian dengan aib diri kalian masing-masing. Apabila mereka sibuk mengabdi kepada makhluk, maka sibuklah kalian mengabdi kepada Sang Pencipta, Tuhan semua makhluk.”
Saudaraku, ketahuilah bahwa malam dan siang terus berlalu dan takkan kembali.
Kesempatan beramal takkan terulang, si pencarinya demikian bergegas. Siang dan malam silih berganti demikian cepat me. rusak dirimu, menggerogoti usiamu dan menghabiskan tempo ajalmu. Janganlah engkau merasa tenang sebelum engkau tahu di mana tempat tinggalmu kelak, ke mana engkau kembali dan menetap. Lihatlah dirimu, tunaikanlah kewajiban yang telah engkau tinggalkan, laksanakanlah urusanmu yang mesti engkau penuhi di kekinianmu seakan-akan kiamat sudah terjadi.
Esok semua jiwa akan memenuhi apa yang diusahakannya Si penanam kan menuai tanamannya
Apabila mereka telah berbuat baik, sungguh mereka telah berbuat baik untuk diri mereka sendiri
Dan jika mereka telah berbuat buruk, sungguh buruk apa yang mereka perbuat Allah mempunyai rahmat dan kemurahan, meski kita tidak tahu
sungguh rahmat-Nya amat luas
ya Rabb, catatlah kami hari ini dalam golongan mereka
yang berpegang teguh kepada Alkitab dan mengambil manfaat darinya Berilah kami kecukupan dan ampunan dari kejahatan kami
Anugerahilah kami keamanan, karena kami sungguh berendah diri padaMu
Saudaraku, selagi hidup, usahakanlah bekal yang akan kau dapati manfaatnya setelah engkau mati. Sebab jika orang sudah mati, terputuslah pahala amalnya, terputus pula angan-angannya, sementara penyesalannya menjadi nyata, lalu kesedihan dan kesusahannya berlarut-larut. Maka dahulukanlah amal shalih yang bermanfaat bagimu.
Saudaraku, ketahuilah bahwa dirimu akan ditikam masa yang amat panjang saat engkau berada di bawah tanah. Dan engkau tidak bisa mendekatkan diri kepada Tuhanmu dengan sesuatu pun. Sungguh, masa itu hadir di hadapanmu, meski usiamu demikian panjang. Sepanjang apa pun usiamu, ia berlalu bahkan lebih cepat dari kedipan, membawa pergi semua kenikmatannya. Seakan-akan usia panjangmu itu sekadar kilasan mimpi.
Jiwa menangisi dunia, padahal dia tahu bahwa selamat dari dunia adalah dengan meninggalkan apa yang ada di dalamnya
Tidak ada tempat tinggal bagi seseorang setelah mati selain apa yang telah dia bangun sebelum mati
Bila dia membangunnya dengan kebaikan, maka rumahnya akan baik
Jika dia membangunnya dengan keburukan, maka rugilah orang yang membangunnya
Mana para raja yang sok kuasa hingga dia diminumi gelas kematian Harta kita, untuk para pewaris kita kumpulkan
Dan rumah-rumah kita, kita bangun untuk dihancurkan waktu
Berapa banyak kota di jagat ini telah dibangun untuk kemudian hancur dan penghuninya dibinasakan maut
bagi setiap jiwa, meski ta takut akan mati, ada cita dari angan yang ditunaikannya manusia menggelar angan-angan, sementara masa akan mencekalnya
jiwa membentangnya, sementara kematian melipatnya
MENGINGAT MATI
Wahai saudaraku, ingatlah bahwa kematian pasti terjadi pada kita semua, lalu kuburan akan mengurung kita, kiamat akan menghimpunkan kita, dan Allah akan menghakimi kita. Sungguh, Dia hakim terbaik.
Pada pasal ini kami akan menyampaikan sekelumit riwayat tentang mengingat mati untuk melembutkan hati kalian. Agar kalian mengingat, yang tidak akan melupakan kalian, agar kalian merenungkan hal-hal yang pasti akan menjumpai kalian. Agar kalian tahu bahwa kuburan adalah tempat kembali kalian, agar kalian segera waspada hingga tidak terperdaya dunia, dan agar kalian bisa mengambil pelajaran darinya, Allah Yang telah menyempurnakan penciptaan kalian telah mengingat. kan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”
Allah Ta'ala berfirman, “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah, Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”
Allah Ta'ala berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Allah Ta'ala berfirman, “Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan."
Allah Ta'ala berfirman, “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Allah Ta'ala berfirman, “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”