Takhliyah adalah mengosongkan diri dari akhlak dan sifat-sifat yang buruk.
Sedangkan tahliyah adalah menghiasi diri dengan perilaku yang terpuji.
Wahai para murid, setelah engkau bertobat engkau harus mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela. Sebab, sifat tercela adalah najis maknawi. Seorang hamba tidak akan bisa mendekat ke hadirat Allah Yang Mahasuci dengan jiwa yang masih dilekati sifat-sifat tercela, sebagaimana dia tidak akan bisa mendekati (melaksanakan) ritual ibadah kepada Allah dengan badan yang bernajis. Oleh karena itu, seorang penempuh jalan spiritual harus membersihkan dirinya secara total dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.
Sifat-sifat tercela itu di antaranya adalah dengki, dendam, sombong, bangga diri, bakhil, riya, cinta pangkat dan jabatan, bermegah-megahan, marah, menggunjing, mengadu domba, dusta, banyak bicara dan lainlain.
1. Dengki (al-hasad) Hasad atau dengki adalah perasaan tidak senang terhadap nikmat Allah Ta'ala yang didapat orang lain dan merasa senang jika nikmat ity lenyap darinya. Dengki merupakan salah satu sifat tercela yang paling buruk. Sifat ini hanya bisa diputus dari batin secara total dengan me. nempuh jalan tasawuf. Rasulullah saw.
bersabda, “Hasad akan melalap kebaikan laksana api membakar kayu bakar.” (HR.
Ibnu Majah)
Tidak ada kejahatan yang lebih berbahaya daripada dengki. Sebah kedengkian akan menjerumuskan pelakunya ke dalam lima siksaan se. belum kesengsaraan menimpa orang yang didengkinya. Pertama, dia akan mengalami kegelisahan yang tidak berkesudahan. Kedua, mengalami musibah (kesengsaraan) yang tidak berpahala.
Ketiga, tercela karena dengki sama sekali tidak terpuji. Keempat, dibenci Allah.
Kelima, pintu hidayah tertutup untuknya.
Al-Hasan al-Bashri r.a. berkata, “Wahai anak Adam, mengapa engkau mendengki saudaramu. Jika yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya itu merupakan pemuliaan
dari-Nya, mengapa engkau mendengki orang yang telah dimuliakan Allah Ta'ala. Dan kalaupun yang diberikankan Allah kepadanya itu bukan merupakan pemuliaan dari- Nya, mengapa pula engkau mesti mendengki orang yang natinya akan kembali ke neraka.”
Salah seorang 'arif berkata, “Ada tiga orang yang doanya tidak akan dikabulkan, yakni orang yang makan makanan haram, orang yang banyak menggunjing dan orang yang di dalam hatinya penuh dengan kedengkian terhadap saudaranya sesama muslim.”
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai anakku, jika engkau mampu menjalani pagi dan sore hari tanpa sedikit pun ghisysy di dalam hatimu terhadap seorang pun, maka lakukan .”
Hadis serupa diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang shahih, juga oleh al- Baihagi dan perawi lainnya.
Abdullah ibn “Umar berkata, “Rasulullah saw. ditanya, “Ya Rasulullah, siapa manusia yang paling utama?” Rasulullah saw. menjawab, “Setiap orang yang hatinya makhmum dan lisannya jujur.” Para sahabat bertanya, “Kalau lisan yang jujur kami paham. Tetapi apa yang dimaksud makhmum al-qalb, ya Rasulullah?” Rasulullah saw.
menjawab, “Dia yang bertakwa dan bersih, tidak jahat, tidak zalim dan tidak dengki.”
Ketahuilah bahwa hasad yang tercela menurut syara adalah berharap lenyapnya nikmat Allah Ta'ala dari orang lain. Selaras dengan firman Allah Ta'ala, “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?”
Adapun hasad yang hanya berupa keinginan untuk mendapatkan nikmat yang serupa didapat orang lain tanpa dibarengi dengan keinginan agar nikmat tersebut lenyap dari orang lain, itu tentu baik bila nikmat tersebut merupakan kebaikan ukhrawi. Allah Ta'ala berfirman, “...dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.”
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh hasad selain dalam dua hal. Iri terhadap lelaki yang telah dikaruniai Al-Quran oleh Allah lalu dia membacanya siang dan malam, dan
iri terhadap lelaki yang dikaruniai harta yang banyak oleh Allah Ta'ala lalu dia menafkahkannya di dalam kebaikan sepanjang siang dan malam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ketahuilah bahwa mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela ini membutuhkan bimbingan seorang guru yang sempurna. Tanpa guru yang sempurna, seseorang tidak akan bisa mengosongkan diri dari sifat-sifat tersebut, meskipun telah demikian maksimal dalam beribadah. Kecuali bila Allah Ta'ala membimbingnya langsung dengan hembusan rahmat dari-Nya.
2. Dendam (al-hiqd)
Al-higd atau dendam adalah menyimpan rasa permusuhan, kebencian, atau memutuskan hubungan persaudaraan. Ini sungguh mery, pakan sifat buruk yang tercela. Karena dendam akan memunculkan kedengkian, sikap menjauhi dan memusuhi serta mencari-cari aib orang lain.
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim men, jauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Barang siapa menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari, dia akan mati lalu masuk neraka.” Tentu selama orang yang dijauhinya itu bukan orang yang berbuat maksiat secara terang-terangan dan tidak mau berhenti setelah mencegahnya.
Ibnu “Umar r.a. berkata, “Rasulullah naik mimbar, lalu berucap dengan suara yang keras, “Wahai orang-orang yang berislam hanya de. ngan lisannya tanpa iman menancap di hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslim, jangan mengganggu mereka, jangan mematamatai aurat mereka. Sesungguhnya orang yang memata- matai aurat saudaranya yang muslim, Allah akan memata-matai auratnya. Kalau Allah memata-matai auratnya, maka orang yang auratnya dimata-matai Allah, tentu Allah akan mencemarkannya, meski dia berada di dalam rumahnya sendiri” (HR. at- Tirmidzi)
3. Sombong (al-kibr)
Al-kibr atau sombong adalan rasa diri agung yang muncul karena memandang diri berada di atas orang lain. Allah Ta'ala berfirman, “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda- tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” Yakni, Allah akan mencegah mereka dari kesanggupan untuk merenungi penciptaan langit dan bumi serta tanda-tanda dan pelajaran yang ada padanya.
Allah Ta'ala berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.”
Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan tidak akan masuk surga, meski kesombongannya itu hanya sebesar atom.” (HR. Muslim)
Di dalam satu ungkapan disebutkan, “Tidak akan sombong selain orang yang hina.
Dan tidak ada yang tawadhu' selain orang yang mulia.” Sungguh, sombong merupakan maksiat pertama yang dengannya Allah dimaksiati. Allah Ta'ala berfirman,
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis: ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”"
Barang siapa bersikap sombong, hampir bisa dipastikan dia akan bersama-sama Iblis dalam menerima hukuman pengusiran dari rahmat Allah dan mengalami siksa yang tidak berkesudahan. Orang yang sombong juga terancam mengalami akhir yang buruk dan mati mengenaskan (sii al-khatimah).
4. Bangga diri (al-ujb)
Al-ujb atau bangga diri adalah merasa diri agung yang muncul di dalam batin karena menghayal tentang kesempurnaan ilmu atau ama| dirinya. Alujb juga ditafsir dengan makna pengagungan nikmat dan me. rasa nyaman dengannya sambil melupakan penyandaran nikmat itu ke. pada Allah Ta'ala.
Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hal yang amat merusak: kikir yang dipelihara, hawa nafsu yang diikuti dan bangga diri.” (HR. ath. Thabrani, al-Bazzar dan al- Baihagi)
5. Bakhil (al-bukhl)
Al-bukhl atau bakhil adalah enggan memberi kepada yang lain karena takut hartanya berkurang. Allah Ta'ala berfirman, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di Hari Kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Rasulullah saw. bersabda, “Berhati-hatilah kalian agar jangan sampai bakhil.
Sungguh, kebakhilan telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, telah menyebabkan mereka mengalirkan darah (berperang/ membunuh) dan menghalalkan hal-hal yang haram.” (HR. Muslim)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil jauh dari surga, jauh dari manusia, dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah daripada tukang ibadah yang bakhil.” (HR. Al-Baihagi, ath-Thabrani dan yang lainnya)
Al-Ashfahani meriwayatkan hadis marfu', “Ingatlah, sesungguhnya semua orang yang dermawan pasti masuk surga, kepastian dari Allah, aku jamin. Dan ingatlah, sesungguhnya setiap orang yang bakhil akan masuk neraka, kepastian dari Allah, aku jamin.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa orang yang dermawan dan siapa
orang yang bakhil?” Beliau menjawab, “Orang yang dermawan adalah orang yang dengan senang hati memenuhi hak-hak Allah di dalam harta bendanya. Orang yang bakhil adalah orang yang menahan hak-hak Allah dan bersikap kikir terhadap Allah.
Orang yang dermawan itu bukan orang yang mengambil melalui cara yang haram dan menafkahkan harta secara berlebihan.”
Ath-Thabrani meriwayatkan sebuah hadis marfu', “Sesungguhnya Allah telah memurnikan agama ini untuk diri-Nya, dan tidak ada yang cocok bagi agama kalian ini selain kedermawanan dan kebaikan budi pekerti. Ingatlah, hiasilah agamamu dengan kedermawanan dan kebaikan budi pekerti.”
Ath-Thabrani juga meriwayatkan hadis marfu', “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala mengutus Jibril kepada Ibrahim a.s., “Wahai Ibrahim, sesungguhnya aku mengangkatmu sebagai khalil (kekasih) bukan karena engkau adalah hamba-Ku yang paling banyak beribadah. Tetapi Aku sudah meneliti hati orang-orang yang beriman, dan Aku tidak mendapati hati yang lebih dermawan dari hatimu.”
Asy-Syaikh Muhyiddin ibn al-'Arabi ditanya tentang hakikat israf (berlebihan/boros), dia menjawab, “Israf adalah kemurahan yang luas melebihi batas dan ukuran. Namun karena biasanya pelaku israf ini tidak bisa konsisten dalam kemurahannya, bahkan dia sering menyesal atas harta yang telah dikeluarkannya ketika dia mengalami kondisi sulit, maka Allah Ta'ala menetapkan bahwa sikap 'israf merupakan perbuatan yang tercela. Sikap yang terpuji adalah sikap pertengahan, tidak pelit dan tidak boros.
Barang siapa ingin berakhlak dengan akhlak ini, hendaklah dia menempuh suluk dengan sungguh-sungguh dan ikhlas dalam bimbingan seorang guru yang benar dan sempurna. Sang gury akan mendekatkannya ke hadirat Allah “Azza wa Jalla. Dengan demikian keyakinannya kepada Allah akan bertambah kuat, dan dia akan menafkahkan setiap harta yang didapatnya. Berbeda halnya dengan orang yang jauh dari hadirat Allah. Karena lemahnya keyakinan kepada Aj. lah, dia akan sanga sulit memberi sesuatu kepada orang lain. Allah Ta'ala memberikan petunjuk pada hamba yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.
6. Pamer (ar-riya”)
Ar-riya' atau pamer adalah usaha meraih tempat di hati manusia dengan menampakkan perilaku yang baik. Allah Ta'ala berfirman, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”8 Maksudnya, jangan ingin dilihat orang dengan amalnya.
Rasulullah Muhamad saw. bersabda, “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan akan menimpa diri kalian adalah syirik kecil, yakni riya. Di hari kiamat Allah berfirman kepada orang yang riya ketika Allah membalas amal manusia, “Pergilah kalian kepada orang-orang yang untuk mereka kalian pamerkan amal kalian ketika di dunia. Lihatlah, apakah kalian akan mendapati balasan kebaikan dari mereka.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad yang jayyid.
Orang yang ingin mengosongkan diri dari sifat riya yang amat tercela ini membutuhkan guru yang sempurna, untuk menuntunnya berjalan dijalan gaib lalu mengantarkannya ke hadirat Allah Azza wa Jalla. Sebab, orang yang tidak menempuh jalan Thariqah biasanya tidak akan bisa memasuki hadirat al-ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seolaholah melihat-Nya. Dia akan senantiasa bersama dirinya sendiri dan orang lain di dalam amal-amal ibadahnya.
Kalau saja seseorang telah memasuki hadirat al-ihsan, tentu dia akan menyaksikan bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala, Dialah Sang Pelaku bagi semua amalnya. Dialah yang menciptakan dan mewujudkan amalamal itu. Dengan demikian si hamba akan melihat bahwa dirinya hanyalah sekadar tempat sandaran amal-amal itu, dan dia diberi balasan karena mematuhi hukum dan kewajiban, bukan karena yang lain.
Barang siapa telah menyadari hal ini, dia tidak akan mendapati amal sebagai miliknya, dan dia akan terbebas dari riya dan bangga diri, bahkan tidak akan meminta pahala dari Allah Ta'ala untuk amalnya. Karena, dia menyaksikan ternyata anggota tubuhnya sekadar alat yang digerakkan, dan dia mendapati bahwa yang menggerakkannya itu adalah Allah Ta'ala, dengan memberinya potensi dan kekuatan. Bukan dirinya sendiri yang berbuat dan beramal. Oleh karena itu, jangan sampai engkau berbuat riya.
Sebab riya akan merusak amal, membatalkan pahala, menghadirkan murka dan siksa.
Al-Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan sebuah hadis marfa', “Sungguh, barang siapa dari umat ini (umat Muhamad) yang beramal untuk kepentingan dunia, maka tidak ada baginya bagian di akhirat.”
Ath-Thabrani dan lainya juga meriwayatkan sebuah hadis marfu', “Barang siapa berhias dengan amal akhirat padahal dia tidak menghendaki akhirat dan tidak pula mengusahakan akhirat, maka dia akan dilaknat di langit dan di bumi.”
Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan hadis mursal, “Allah tidak akan menerima amal yang di dalamnya terdapat riya, walau hanya sebutir atom.”
Riya ada dua macam. Pertama, riya murni, yaitu beramal dengan amal akhirat hanya untuk mendapat manfaat duniawi. Kedua, riya cam. puran, yaitu beramal untuk mendapatkan manfaat dunia dan manfaat akhirat. Kedua-duanya merupakan riya dan dapat melebur pahala, na adzu billahi min dzilik.
7. Cinta Pangkat dan Jabatan
Yang dimaksud cinta pangkat dan jabatan adalah bernafsu untuk menjadi populer dengan reputasi baik. Sifat ini sungguh tercela dan memutuskan jalan kebenaran. Lain halnya dengan orang yang dipopulerkan oleh Allah Ta'ala untuk menyebarkan agama- Nya. Tidak ada orang yang selamat dari cinta pangkat dan jabatan selain orang-orang yang benar imannya (ash-Shiddiqun).
Rasulullah saw. bersabda, “Cukuplah keburukan bagi anak Adam bila sampai dia dituding dengan jari dalam agama dan dunianya, kecuali orang yang dijaga dari dosa oleh Allah Ta'ala.” (HR. Ath-Thabrani)
Abi Yazid al-Busthami berkata, “Aku telah menanggung beban beribadah selama tiga puluh tahun. Lalu aku melihat seseorang berkata kepadaku, Wahai Abi Yazid, sungguh lemari Allah telah penuh dengan ibadah. Jika engkau ingin sampai kepada- Nya, engkau mesti menempuh adz-dzillah wa al-iftiqar.”
Al-Mutawalli r.a. berkata, “Kondisi si faqir di dunia ini laksana orang yang duduk di kamar kecil (wc). Jika pintunya ditutup, dia menunaikan hajatnya dan keluar dalam
keadaan tertutup sehingga, tidak ada yang melihat auratnya. Apabila pintunya dibuka, tersebarlah auratnya dan rusaklah rahasianya, dan orang-orang yang melihatnya pun akan mengutukinya.”
Dalam kondisi bagaimanapun, apabila hati si salik condong pada cinta pangkat dan jabatan, maka dia akan terputus dari jalan menuju Allah Ta'ala.
8. Tafakhur
Tafakhur adalah berbangga diri dengan berbagai kemuliaan, entah kedudukan, nasab, ataupun yang lainnya. Ini adalah sifat tercela dan terlarang. Rasulullah saw.
bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian semua berendah diri, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri di atas orang lain dan tidak seorang pun berbuat zalim terhadap siapa pun.” (HR. Muslim)
Berbangga diri ini bisa dengan banyaknya harta benda, atau dengan kehormatan orang tua, atau dengan amal ibadah.
9. Marah (al-ghadhab)
Marah adalah didih darah hati untuk menuntut pelampiasan (pembalasan). Rasulullah saw. bersabda, “Marah berasal dari setan. Setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah dia mandi.”
(HR. Ibnu 'Asakir)
Di dalam satu khabar disebutkan bahwa Allah Ta'ala berfirman, “Wahai anak Adam, ingatlah Aku jika engkau marah, maka aku akan mengingatmu saat Aku marah, sehingga Aku tidak akan membinasakanmu bersama orang-orang yang binasa.”
Amal yang paling utama adalah bermurah hati saat marah dan bersabar ketika sangat menginginkan sesuatu. Bermurah hati sejatinya bukan saat ridha tetapi murah hati itu saat marah Rasa takut kepada Allah Ta'ala bisa meredakan marah. Perhatikanlah orang-orang! Mereka marah hanya karena mereka terhijab dan tidak menyaksikan Allah Ta'ala sebagai pelaku bagi semua yang muncul dj alam wujud. Karena keterhijaban itu mereka hanya bisa melihat perbuatan sebagai perbuatan dari sesama jenisnya. Padahal bila saja mereka menempuh jalan tarekat, tentu mereka akan
mendapati bahwa perbuatan adalah milik Allah Ta'ala. Dengan demikian dia tidak akan mendapati siapa pun yang layak dijadikan sasaran kemarahannya. Bah. kan dia akan mendapati bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam wujud ini adalah sumber hikmah.
Seorang 'arif berkata,
Jika engkau melihat Allah sebagai pelaku dalam segala, engkau akan melihat semua yang wujud ini adalah bagus dan jika engkau tiada melihat selain fenomena ciptaan-Nya engkau sungguh tertabir, dan yang bagus menjadi tampak buruk
Benar, orang yang sempurna adalah orang yang tidak marah selain karena Allah Ta'ala, yakni apabila kehormatan-Nya dirusak. Tetapi bukan atas dasar keyakinan bahwa maksiat itu adalah perbuatan Allah Ta'ala, melainkan perbuatan itu dinisbatkan kepada si hamba. Dari sini Anda tahu bahwa seseorang tidak akan bisa membebaskan dirinya secara sekaligus, selamanya.
Al-'Arif asy-Sya'rani menuturkan bahwa al-Imam asy-Syafi'i r.a. terkenal sebagai orang yang berakhlak mulia. Orang-orang yang dengki mencoba memancing kemarahannya, namun tidak ada yang mampu membuatnya marah. Suatu hari, mereka menyogok tukang jahit yang membuatkan baju untuk Imam asy-Syafi'i.
Mereka menyuruh penjahit jtu menyempitkan lengan kanannya agar asy-Syafi'i kesulitan mengeluarkan tangannya, sedangkan lengan kirinya dijahit amat longgar.
Ketika melihat bajunya selesai dijahit seperti itu, asy-Syafi'i berkata, “Mudah-mudahan Allah memberimu balasan yang baik karena engkau telah menyempitkan lengan kanan bajuku, sehingga aku tidak perlu kerepotan menyingsingkannya saat menulis.
Dan engkau telah melonggarkan lengan kiri bajuku agar aku bisa leluasa membawa kitab.”
Ada pula riwayat yang menceritakan tentang orang-orang dengki yang berusaha memancing kemarahan al-Junaid. Suatu ketika di hari Jum'at, para pendengki itu menyiramkan air bekas cucian ikan kepada al-Junaid yang hendak berangkat shalat Jumat, sehingga air itu membasahi seluruh tubuh dan bajunya, mulai dari kepala
sampai ujung bawah bajunya. Namun beliau malah tertawa, lalu berkata, “Orang yang berhak masuk neraka layak disiram air seperti ini, tidak perlu marah.” Lalu beliau kembali ke rumahnya dan meminjam pakaian istrinya, kemudian melakukan shalat.
Para salaf shalih berkata, “Tingkatan-tingkatan derajat manusia dihitung berdasarkan akhlak baiknya. Maka, orang yang akhlak baiknya lebih dari dirimu, berarti derajatnya lebih luhur darimu.”
Simpulannya, semua berdasarkan akhlak ilahiah. Bila Allah Ta'ala marah, maka marah-Nya demi yang selain Dia, bukan karena diri-Nya. Sebab, seandainya Allah Ta'ala menuntut balas untuk diri-Nya, niscaya Allah akan menghancurkan seluruh makhluk dalan sekejap. Pahamilah!
10. Menggunjing (al-ghibah)
Al-ghibah atau menggunjing adalah engkau menceritakan saudaramu dengan sesuatu yang ada padanya, yang jika saudaramu itu men, dengarnya tentu dia tidak akan menyukainya. Entah sesuatu itu tentang badannya, perkataannya, pekerjaannya, agamanya, masalah dunianya, bajunya, rumahnya atau kendaraannya.
Apabila engkau menceritakan saudaramu dengan hal-hal itu dan sesuatu itu memang ada padanya maka perbuatanmu itu disebut ghibah. Jika sesuatu yang engkau cerita, kan itu ternyata tidak ada padanya, maka perbuatanmu disebut buhtin (tuduhan), dan ini lebih berat daripada ghibah. Allah Ta'ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, se. sungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu menca. ri-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah saw. bersabda, “Berhati-hatilah jangan sampai kalian menggunjing. Sebab menggunjing itu lebih berat daripada zina. Seorang lelaki yang berzina lalu bertobat, tobatnya bisa langsung diterima oleh Allah. Sementara orang yang menggunjing tidak akan diampuni oleh Allah sebelum orang yang dia gunjing memaafkannya.” (HR. Ibnu Abi ad-Dunya)